Anime/manga : Noragami
Disclaimer : Adachitoka-sensei
Warning : typo bertebaran, boyslove, shonen-ai
3. be a good boy part2
.
.
Pagi berjalan seperti biasanya. Yato berdiri di balik kompor yang masih menyalah. Suara desisan garam yang mencair saat terkena minyak panas mewarnai pagi ini—mengisi kekosongan yang ada di ruangan sempit berbau telur goreng. Sedangkan pamuda pirang yang duduk di meja makan tampak sibuk dengan dasinya sendiri. Terlihat kerutan kesal di wajah pemuda itu karena dasinya tidak terjalin dengan benar. Mata kuning terangnya menatap Yato. Ragu-ragu ia membuka mulut—ingin mengatakan sesuatu. Namun, Yato sudah berbalik dan kini menatap Yukine dengan pandangan mengerti.
Tanpa bicara Yato menghampiri Yukine, berlutut di depan pemuda yang membuang wajahnya kesamping, lalu meraih dasi yang belum selesai terjalin itu. pelan-pelan Yato membuat simpul, seulas senyum terukir di bibirnya. Ia tidak bisa menahan senyumnya saat melihat Yukine dalam keadaan wajah memerah hebat.
"Perhatikan caraku membuat dasi." Yukine masih diam, tidak peduli dengan ucapan Yato kepadanya. "Atau sebenarnya kau ingin aku melakukan ini selamanya untukmu?" kini Yukine bereaksi, ia memelototi Yato yang tersenyum jahil di depannya. "Selesai!"
Yato berdiri dari posisinya, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya membuat sarapan. Yukine hanya menatap punggung Yato yang bergerak ke kanan dan kiri, kemudian tangannya bergerak menyentuh dasi yang berhasil dijalin Yato dengan rapi di lehernya.
"Yato…" panggil Yukine dengan suara pelan. Ia mengira Yato tidak akan mendengar ucapannya, namun pemuda bersurai hitam itu menengok ke arahnya.
"Ada apa?"
"Hm… bukan apa-apa." Yukine menundukkan kepalanya—mengindari tatapan bertanya yang diarahkan Yato untuknya.
"Jangan malu-malu kalau mau berterima kasih padaku, hahaa." Yato tertawa garing. Tapi tidak dengan Yukine, ia masih terdiam seperti memikirkan sesuatu yang berat. "Apa ada masalah?" tambahnya, kini menatap Yukine dengan tatapan serius.
Terlihat ragu-ragu, Yukine akhirnya membuka suara. "Hiyori… dia siapa?"
Yukine bisa melihat Yato sedikit terkejut saat ia menyebut nama gadis itu. pemuda bersurai hitam itu lalu menghampiri Yukine di meja makan sambil membawa dua porsi telur dadar dengan roti bakar di bawahnya. "Dia pacarku!"
"Hah!?" hampir saja Yukine tersedak susu hangat yang sedang diminumnya. Kedua matanya menatap Yato dengan tatapan tak percaya.
"Kau belum memilih club apa pun, kan?" Yato mengabaikan ekspresi terkejut Yukine di hadapannya. Ia memilih untuk segera menghabiskan sarapannya. "Bagaimana kalau kau bergabung dengan club berpedang?" tambahnya, lalu menyantap roti bakarnya lagi.
Yukine hanya menggangguk sebagai balasannya.
.
Bel pulang sudah berbunyi sejak 10 menit yang lalu. Siswa yang mengikuti ekskul akan menetap di sekolah hingga 10 menit sebelum gerbang tertutup. dojo milik club berpedang sudah dipenuhi oleh siswa yang akan berlatih hari ini. Hiyori dengan baju tradisonal khas jepangnya berdiri di tengah-tengah aula dengan membawa sebilah kayu sebagai pedang.
"Perhatia!" Hiyori berteriak keras. Semua anggota club yang tadinya asik dengan obrolan mereka pun diam dan menjadikan gadis bersurai hitam itu sebagai pusat atensi. " hari ini kita kedatangan anggota baru."
Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai arah. Mengabaikannya, Hiyori kembali berkata, "Silahkan, Yukine-kun."
Yukine masuk ke Dojo dengan wajah datar. Di sampingnya Yato berjalan sambil melepar senyum narsisnya.
"Silahkan perkenalkan namamu." Hiyori memepersilahkan Yukine untuk berdiri lebih ke depan.
"Aku Yukine, angkatan pertama. Mohon bantuannya." Ucap Yukine sambil sedikit membungkukan badannya, lalu mundur lagi beberapa langkah ke belakang. Ia melirik Yato yang berada di sebelahnya, pemuda itu masih saja tebar pesona dengan senyum aneh di wajahnya.
"Nah, sekarang kita mulai latihannya!"
Seluruh anggota club pun mencari pasangan berlatihnya. Ada juga yang berlatih dengan batang pohon di halaman dekat dojo, dan beberapa lagi tengah menghafal teknik-teknik bertarung.
Yukine masih berdiri di tempatnya—kebingungan dengan apa yang harus di lakukannya sekarang. Yato menepuk bahunya, lalu tersenyum cerah seperti biasa. "Hei! Akan kuajari beberapa teknik berpedang padamu." Yato menarik pergelangan tangan Yukine—membawanya ke tengah-tengah halaman, dimana mereka bisa bergerak bebas tanpa melukai anggota lainnya.
"Kau terlihat percaya diri, Yato."
Plak!
Tiba-tiba Yukine merasa seseorang telah memukul kepalanya dari belakang. Mengelus kepalanya yang terasa sakit, Yukine menngok dan melihat Hiyori dengan pedang kayu di bahunya. "Yato-senpai!" ucap Hiyori, lalu berjelan mendekati Yato. "Kali ini aku yang akan melatihmu, Yukine." Hiyori berdiri di sebelah Yato, lalu menendang pemuda itu hingga tersungkur di tanah.
"Hiyori!" Yato bangkit, lalu berjalan mendekati Hiyori. Ia berteriak tepat di depan wajah gadis itu—protes dengan apa yang telah dilakukan gadis itu pada dirinya. "Aku yang akan bersama Yukine!"
Hiyori memutar bola matanya bosan, lalu melirik Yukine dari sudut matanya. "Nah, Yukine. Sekarang kau memilih aku atau pria berkeringat menjijikan ini?"
Dengan cepat Yukine meunjuk Hiyori, dan Yato mulai mengamuk. "Oi! Yukine! Kenapa kau lebih memilih gadis gila ini dibandingkan aku!"
"Apa? siapa yang kau bilang gila?" Hiyori menarik kerah kimono yang dikenakan Yato, hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti sekarang.
"B-bukan maksudku—"
"Dasar baka-Yato!"
Buak!
Yukine memandang adegan kekerasan di depannya dengan wajah datar. Bibirnya bergerak pelan—mengucapkan kalimat yang seorang pun tidak dapat mendengarnya. "Mereka serasi sekali."
.
.
Sore pun datang dengan cepatnya. Dojo kini sudah rapi seperti sebelumnya. Semua anggota club pun berjalan melewati gerbang sekolah—bergegas menuju stasiun kereta. Yato, Yukine , dan Hiyori berjalan bersama di trotoar. Mereka akan berpisah di persimpangan jalan nanti. Hiyori melambaikan tangannya ke arah Yato dan Yukine—saling mengucapkan 'sampai jumpa'.
Yukine bejalan mendahului Yato, ia mengabaikan teriakan Yato yang memanggil namanya. Entah mengapa, sejak Yato mengatakan Hiyori sebagai pacarnya, ia menjadi tidak bersemangat. Yukine menggeleng-gelenggkan kepalanya cukup keras—berusaha membuyarkan kegalauan yang membebani kepalanya.
"Yukine!" suara Yato sudah sampai di samping telinganya, itu artinya Yato sudah berhasil megejarnya. "Kau aneh hari ini."
Yukine juga tidak tahu mengapa hari ini terasa aneh. Mengapa dia berasa begitu tak bersemangat? Yukine juga tidak tahu.
"Hei!"
Yato menarik lengan Yukine, lalu mendorongnya pada tembok gang yang mereka lalui. Pria bersurai hitam itu mengurung Yukin dengan lengannya, ia menatap Yukine yang lebih pendek darinya. Mata mereka bertemu dengan jarang yang terlampau dekat. Yukine melebarkan kedua matanya—tampak terkejut dengan serangan Yato yang tiba-tiba.
"Yato! Apa yang—"
"Hei, kau kenapa? Aku bertanya padamu!" Yukine membuang wajahnya ke samping untuk menghindari tatapan Yato yang mengintimidasinya.
"Aku tidak apa-apa." ucap Yukine sekenanya, yang dia ingin kan sekarang adalah mendorong Yato yang masih menahannya. Ohh, yukine sudah tak kuat lagi menatapa manik biru di depannya.
Tangan Yukine bergerak menyentuh dada Yato, mencoba mendorong tubuh yang lebih tinggi darinya itu.
"Kau menyukai Hiyori, kan?"
Gerakan tangan Yukine yang mencoba mendorong Yato pun berhenti akibat perkataan pria bersurai hitam itu. kini padangan mereka bertemu lagi, Yukine menatap Yato dengan pandangan terkejut, sedangkan Yato dengan tatapan dinginnya. Untuk pertama kalianya, ah tidak! Tatapan itu sama seperti tiga tahun lalu, saat dirinya melihat Yato membunuh Shion. Dia…
"Yato, aku…"
"Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku!" Yato bersikeras. Ia semakin menghimpin tubuh kecil Yukine, membuat pemuda itu semakin terdorong ke belakang.
"Bukan, aku tidak punya perasaan apa pun kepada Hiyori!" Yukine membalas tatapan tajam Yato yang terus menghujamnya. "Aku tidak bermaksud mencurinya darimu, Yato!" teriak Yukine tepat di depan wajah rupawan itu, wajah yang selalu menghantui mimpinya setiap malam.
"Aku tidak menyukainya…" Yukine berkata dengan lirih. Kedua tangannya yang tadi mencengkram kerah baju Yato pun melonggar. Ia tertunduk—lagi-lagi menghindari tatapan dingin di depannya.
"Baiklah, jika kau tidak mau mengatakan alasanmu bersikap aneh sejak pagi…" Yato menjauhkan tubuhnya dari Yukine—membebaskan pria pirang itu dari kurungan kedua lengannya, "…kau yang menyiapkan makan malam." tambahnya, lalu pergi meninggal Yukine yang tak bergerak dari tempatnya.
Setelah punggung tegap Yato menghilang dari pandangannya, Yukine mengacak pelan surai pirangnya hingga kusut. Ia berjongkok dan punggunya masih bersandar pada tembok di belakanya. Kepalanya mendongak—menatap langit yang mulai menggelap.
Kejadian tadi terus terbayang di kepalanya. Berbagai pertanyaan bermunculan di kepalanya. Apa Yato sebegitu cintanya pada Hiyori? Yukine merasa ia sudah tidak memiliki tepat lagi di hati pemuda bersurai hitam itu. ia pasti sudah dicap ingin merebut Hiyori dari Yato.
Yukine mengepalkan kedua tangannya erat, berusaha mengenyahkan rasa sakit yang meremas hatinya. "Mengapa aku harus mencintai orang yang sudah sangat mencitai orang lain?"
.
.
.
tbc
