Anime/manga : Noragami

Disclaimer : Adachitoka-sensei

Warning : typo bertebaran, boyslove, shonen-ai


4. should i?

Café modern dengan nuansa kekeluargaan yang sangat ketal menjadi tempat yang dipilih Yukine dari sekian café modern yang tersebar hampis di seluruh Kota Yokohama. Mata kuning terangnya memperhatikan sepasang kekasih yang sedang tertawa riang sembari menyantap makanan di atsa mereka. Sedangkan di meja yang lebih besar terdapat gerombolan orang yang lebih besar, sepertinya salah satu dari mereka sedang berulang tahun. Bisa dilihat dari dekorasi yang khusus dibuat disana, dan sebuah kue besar di tengah-tengah meja. Canda tawa memenuhi ruangan café yang didominasi warna coklat muda. Namun tak sedikit pula yang sendirian menikmati senja saat matahi mulai turun menuju cakrawala. Salah satunya adalah Yukine.

"Yato benar-benar marah padaku." Yukine menatap segelas soda dingin di depannya. Isinya masih penuh, tanda kalau dirinya belum menyentuh sedotan untuk meminum isinya. Pandangannya dia lempar ke arah jendela bening yang membatasi ruangan dengan dunia luar di sana. otaknya terus memutar kejadian kemarin seperti film rusak.

Saat dirinya sedang asik mengarungi pikirannya sendiri, seseorang menepuk bahunya dari belakang.

"Sendiri?" seulas senyum terbit di wajah cantiknya. Yukine pun mengangguk lalu mengajak orang itu untuk bergabung di meja bersamanya.

"Bertengkar dengan Yato?" Hiyori yang sudah rapi dengan pakaian santainya duduk di seberang Yukine. Kedua tangannya digunakan sebagai tumpuannya menyangga dagu, sedangkan manik indahnya menatap Yukine yang terlihat tak nyaman di kursinya. "Dia membullymu lagi?"

"B-bukan! Kami hanya bertengkar." Yukine memalingkan pandangannya ke arah apa saja selain Hiyori yang masih menatapnya intens. "Jangan menatapku seperti itu!" wajah Yukine sedikit bersemu dibuatnya, dan itu membuat Hiyori terkekeh geli.

"Hei, wajahmu manis sekali. Pasti sudah banyak gadis yang menyatakan perasaannya padamu." Hiyori mengerlingkan matanya jahil. "Kau sedang menunggunya di sini?"

Yukine menaikkan sebelah alisnya, raut bingung tampak jelas di wajah putih bersemunya, "Hah?"

Hiyori masih ternyum-senyum di seberang meja, mengabaikan kerutan di dahi Yukine yang makin dalam. "Pacarmu. Kau sedang menunggunya, kan?"

"Eh?! T-tidak! aku tidak punya pacar!" sanggah Yukine, wajahnya yang bersemu semakin memerah akibatnya. "L-lalu, kau juga sedang menunggu pacarmu, kan?" cepat-cepat Yukine mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin terus-terusan digoda gadis itu.

"Tentu saja!" ucap gadis itu bersemangat. Tanpa permisi, tangan berjari lentiknya meraih minuman bersoda milik Yukine, lalu meminumnya tanpa pikir panjang. Yukine terngaga dibuatnya.

"Hei! Apa yang kau lakukan?" Yukine memelototi Hiyori yang dengan santainya menghabiskan hampir setengah minumannya. "Sifat kalian sama! Pantas saja kalian bisa pacaran." Yukine memasang raut kesal sekarang.

"Hah?!" kini giliran Hiyori yang memasang wajah terkejutnya. Dia menatap Yukine dengan tatapan bertanya. " Kau tahu siapa pacarku?"

"Tentu saja." Yukine meraih gelas sodanya yang tadi direbut Hiyori, lalu memanggil pelayan untuk memesan minuman lagi.

"Kau masih bisa minum setengahnya!" Hiyori berkata setelah pelayan tadi menghilang sambil membawa gelas setengah penuh itu. "Kau tidak mau mencoba indirect kiss-ku?" godanya lagi, namun kali ini Yukine tidak menunjukan rekasi yang berarti.

"Setelah minumanku datang, kau harus cari tempat duduk lain." Yukine mengeluarkan ponselnya yang dari tadi bergetar di saku celanya. Ada beberapa panggilan tak terjawab, dan nama si pelaku pemanggilan membuatnya mengernyitkan alis.

"Kau bisa bergabung dengan kita di sini, dibanding sendirian di sebuah restoran keluarga. Itu malah membuatmu terlihat menyedihkan." Hiyori mengedarkan pandangannya ke sekeliling café. Tentu saat sore dan jam pulang kantor seperti ini lah yang menjadi titik puncak keramaian di café itu.

"Hmm, memangnya kapan Yato akan datang?"

"Eh?!" bukannya menjawab, Hiyori malah terkejut dengan pertanyann Yukine barusan. Sambil mengerutkan dahinya bingung, Hiyori menjawab, "Kenapa kau bertanya 'kapan Yato datang?' padaku?" dan itu tentu bukan suatu jawaban. Yukine menatap nama yang beberapa kali menelponnya tadi. Lalu kalau bukan Yato, siapa pacar Hiyori?

"Bukannya, kau dan Yato itu…" Yukine sengaja menggantungkan kalimatnya sembari memperhatikan perubahan ekspresi yang terpasang di wajah cantik Hiyori. "…pacarmu?"

"Huh! Hahahaaa…" Hiyori tertawa keras, sampai-sampai beberapa pengunjung di sekitar meja mereka menengok ke arahnya dengan tatapan bingung atau merasa terganggu. Yukine berusaha meredam tawa gadis itu, namun sia-sia karena Hiyori masih cekikikan sambil memegang perutnya yang sedikit sakit karena tertawa. "Kau lucu sekali, Yukine! Hahaaa…"

Yukine memiringkan kapalanya bingung, jika diingat-ingat dia tidak sedang membuat lelucon sekarang. "Berhenti mengatakan aku lucu."

"T-tapi… siapa? Kau bilang Yato pacarku?! Hahaa…" Lagi, Hiyori tertawa keras. "S-sejak kapan? Haha…"

Yukine mengkerutkan keningnya, "Yato bilang kalau kau itu pacarnya."

"Yaampun, anak itu ada-ada saja." Hiyori masih berusaha meredam tawanya, bahkan airmatanya sampai ikut keluar. "Kau sudah dibodohinya, Yukine." Ucap gadis itu sambil mengelap air mata di sudut matanya.

"Apa?!" Yukine berteriak keras, dan lagi-lagi mengundang tatapan penuh tanya dari pengunjung sekitar. Yukine berdiri dari kursinya, lalu menatap Hiyori yang tersenyum di depannya. "Lalu, apa maksudnya dia berkata seperti itu?" tanya Yukine yang hanya ditanggapi Hiyori dengan menaikkan kedua bahunya.

"Kemarin dia memarahiku." Yukine kembali duduk di bangkunya, kini pandangannya dialihkan dari Hiyori. "Dia bilang aku tidak boleh dekat denganmu."

"Kenapa?" Hiyori yang nampaknya sudah bisa mengendallikan diri lagi itu pun mendengar cerita Yukine dengan simpati.

"Cemburu. Yato cemburu jika aku dekat-dekat denganmu."

"Huh? Cemburu denganmu atau denganku?" sebuah seringai aneh muncul di bibir gadis cantik itu. Yukine semakin bingung dibuatnya. "Yato juga tahu tentang pacarku, bahkan mereka sekelas."

"Eh? Tentu dia cemburu dengan…" Yukine menatap Hiyori di depannya dengan pandangan terkejut. Ia sudah tak sanggup lagi menuntaskan kalimatnya. Sedangkan Hiyori mengganggukkan kepalanya—menyetujui kesimpulan apapun yang muncul di kepala Kouhainya itu.

"Sekarang kau bisa pulang dan bertemu dengannya. Lagi pula kekasihku sebentar lagi datang." Hiyori melirik segelas minuman bersoda milik Yukine yang baru saja tiba. "Dan itu bisa jadi milikku, kan?"

Mengabaikan ucapan Hiyori, Yukine langsung berdiri dari kursinya—berbalik menuju pintu keluar. Ia bisa mendengar teriakan Hiyori di belakangnya, namun rasa penasarannya terlalu besar sehingga mengabaikan apa pun yang ada di sekitarnya, bahkan beberapa bahu pegunjung yang kebetulan berpapasan dengannya disenggol begitu saja.

"Yato, sebenarnya kau itu kenapa?"

Yukine berlari menerjang kerumunan orang yang berjalan di terotoar. Tak peduli teriakan protes terdengar saat bahunya menyenggol orang-orang tersebut. Tujuannya sekarang adalah apartemen, tempat manusia berkeringat menjijikan itu berada.

.

Langit sudah gelap dengan sepurna. Hanya cahaya bulan yang meredup akibat awan mendung yang menghalangi menjadi teman langit malam saat ini. Yukine segera membuka pintu apartemen dengan kunci cadangan. Cahaya dari ruang tengah menerobos keluar dari pintu, itu berarti Yato sedang ada di rumah sekarang.

Melepas sepatunya, Yukine langsung menuju ruang tengah. Dia tidak menemukan siapa pun di sana, namun suara alat-alat berbahan stainless yang saling beradu terdengar dari arah lain. Dan di sanalah manik kuning cerahnya menangkap pemandangan Yato yang sedang melakukan sesuatu dengan bahan-bahan masakan di atas meja.

Pelan-pelan Yukine berjalan mendekati Yato. Sampai saat langkahnya hanya berjarak satu meter dari meja makan, Yato menengok dan mandapati Yukine sudah berdiri di depannya. Mereka saling bertatapan beberapa detik. Lalu spatula yang berada di tangan Yato sebelumnya kini sudah mendarat di kepala pirang bocah di depannya.

"Aku masih baik tidak melemparimu dengan pisau." Yato berdecih, kemudian bersidekap—ia menatap Yukine dengan tatapan kesal. "Mana ucapan 'aku pulang' darimu?"

Yukine yang masih bingung dengan situasi dihadapinya sekarang, hanya bisa mengikuti permintaan Yato. Pelan-pelan ia menggerakan bibirnya, lalu berkata dengan pelan, "A-aku pulang."

"Nah, kau mau makan apa sekarang? Aku punya udang dan brokoli. Bagaimana kalau dicampur? Apa rasanya aneh ya?" Yato kembali menyibukkan dirinya di dapur kecil itu. lalu tubuhnya kembali berbalik dan mendapati Yukine masih berdiri di sana—di dekat meja makan dengan pandangan kosong.

"Yato/Yukine…"

"EH/EH?"

Mereka sama-sama terkejut. Yato berbalik lagi menghadap Yukine, sedngakan pria bersurai pirang itu sudah menghadap Yato dengan tubuhnya yang mengegang.

"Kau duluan." Yato memberi Yukine kesempatan bicara terlebih dahulu. Namun, pemuda itu masih saja diam, dan kini mengabaikan tatapan Yato di depannya.

"Kemarin… kau marah padaku, kan?" rasanya bodoh sekali bertanya sesuatu yang jelas-jelas dia tahu jawbannya. "Kau menyukai Hiyori, kan?"

Yukine belum bisa menatap pemuda bersuari hitam itu sekarang. Padahal dia begitu penasaran dengan ekspresi yang Yato buat.

"Yukine…" akhirnya suara Yato sampi di gendang telinga Yukine. Beberapa saat pemuda bersurai pirang itu merasa dunia seakan berhenti saat Yato meanggil namanya. Dia berusaha menyiapkan hatinya, entah mengapa Yukine berasa kalau jawaban Yato akan benar-benar menghancurkan hatinya. Dan Yato benar-benar menyukai Hiyori padahal tahu kalau gadis itu sudah mempunya kekasih? Dan dirinya membuat semuanya makin sulit bagi Yato. Yukine benar0benar merasa bersalah sekarang."Aku cemburu."

Jawaban singkat Yato berhasil memperkuat kepalan kedua tangan di sisian tubuhnya. Yukine sudah menduga ini sebelumnya. Yato berpikir kalau dirinya akan merebut Hiyori. Atau sebenarnya Yato yang ingin merebut Hiyori dari kekasihnya sekarang?

Yukine masih menunggu pria bersurai hitam itu melanjutkan ucapannya. Namun, suara bawang merah yang ditumis di atas minyak panas membuatnya menegakkan kepalanya lagi—dia melihat Yato kembali melanjutkan acara memasaknya.

"Jadi kau cemburu padaku?" tanya Yukine. Ia memperhatikan punggung pria yang lebih tua darinya itu dari kejauhan. Tangannya dengan lihai menabur garam dan merica ke dalam daging tumisnya. "Atau cemburu pada hiyori?" gerakan tangan Yato berhenti. Yukine bisa melihat itu. namun, beberapa saat kemudian pria itu terlihat kembali menyibukkan diri di kompor yang tengah menyalah di depannya.

"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" ucap Yato tanpa membalikkan tubuhnya menghadap Yukine.

"Kau belum mengatakan hal yang ingin kau katakan tadi. Mungkin itu bisa jadi jawaban atas keambinguan ini, Yato." Yukine menarik kursi, lalu duduk diatasnya. Dari tadi matanya tak lepas-lepas menatap punggung Yato yang terus bergerak seiring dengan alat masak di tangannya.

"Keambiguan?" Yato mengambil dua piring di rak. "Bicaramu aneh sekali."

"Kau yang aneh, Yato!" Yukine menghela nafasnya sebentar, lalu menlanjutkan ucapannya, "Kau sudah tahu kan kalau Hiyori sudah punya kekasih?"

Yukine bisa melihat Yato menuangkan apapun yang dimasaknya sekarang ke dalam dua piring di atas meja. Pertanyaannya tadi tidak membuat pria bersurai hitam itu terkejut lagi. Dengan santainya ia berjalan menuju meja makan tempat Yukine yang duduk sambil menatapnya dengan tatapan 'Kau mencurigakan, Yato!'

"Kau tahu dari mana?" Yato berbalik bertanya. "Saking sukanya kau sampai menguntitnya?"

"Hah? Aku tidak akan melakukan hal itu!" sergah Yukine, kini ekspresi kesal muncul di wajahnya. "Hiyori yang mengatakannya sendiri kepadaku."

"Ohh." Yato menganggung mengerti, dan itu membuat Yukine makin kesal.

Pria pirang itu bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri Yato yang tengah melepas celemeknya. "Yato, sebenarnya kau menyukai Hiyori, kan? Dan kau sakit hati karena dia sudah memiliki kekasih? Dan…" Yukine menatap tajam manik biru yang terlihat tak secerah biasanya. sempat terlintas dipikiran Yukine tentang hal itu, namun segera ditepisnya dan memilih melanjutkan ucapannya sambil menatap perubahan ekspresi yang akan dibuat Yato sekarang. "…dank au berpikir akan mengambil Hiyori juga, kan? Otomatis rivalmu untuk merebut Hiyori jadi bertambah. Kau marah karena ini, kan?"

"Bukan…" kini giliran Yato yang menatap Yukine dengan manik birunya. "Kau salah, Yukine."

Yukine membulatkan kedua matanya, terkejut dengan jawaban Yato. Kalau bukan karena hal itu, lalu karena apa?

"Yang aku suka bukan Hiyori." Manik biru itu memancarkan cahaya redupnya, Yukine bisa melihat ekspresi yang sangat jarang ditunjukan Yato padanya. Ekpresi bersalah yang ditunjukan seseorang ketika melakukan kesalah. Ekspresi yang sama ditunjukan Yato saat terakhir bertemu dengannya. Tiga tahun yang lalu.

"Aku menyukaimu, Yukine."

.

.

tbc