Anime/manga : Noragami

Disclaimer : Adachitoka-sensei

Warning : typo bertebaran, boyslove, shonen-ai, Rate naik dikit menuju M ;)


5. say it again, please.

"Aku menyukaimu, Yukine."

Kejadian semalam terus berputar di kepala pria pirang yang tengah mengaduk-aduk sup kaleng di depannya. Dia sudah tak peduli lagi dengan supnya yang sudah mendingin, pria dengan surai hitam yang dikuncir itu begitu menarik atensinya. Tak lepas-lepas manik kuning cerah Yukine mengikuti gerakan-gerakan si pemilik surai hitam yang tengah mencuci piring di bak cuci.

"Kau membuatku takut, Yukine."

Yukine langsung tersadar ketika mendengar ucapan Yato kepadanya. Cepat-cepat dialihkannya pendangan ke arah lain—menghindari tatapan aneh Yato yang mengarah padanya. "A-aku berangkat duluan." Yukine langsung meraih tas selempangnya dan berjalan menuju pintu.

"Kau mau kemana?"

Yukine berhenti di depan pintu sebelum mendorongnya. "Tentu saja ke sekolah!"

"Hei, kau lupa kalau sekarang hari minggu?" Yato berjalan menghampiri Yukine yang membelakanginya.

"Hah?! Tapi, kenapa kau juga berseragam sekolah—"

Yukien langsung menghentikan ucapannya begitu kedua lengan Yato mengurungnya dari belakang. "Karena aku juga lupa, hehee…"

Yukine bisa merasakan nafas Yato yang membelai lehernya. "Y-yato, apa yang kau…?"

"Shh… kau ini bodoh atau apa sih?" mendengar ucapan Yato yang mengatakan dirinya bodoh, Yukien cepat-cepat membalikkan tubuhnya, ia ingin mengomeli Yato sekarang. Namun, wajah pria bersurai hitam itu terlalu dekat dengannya, dan berbalik adalah pilihan yang salah bagi Yukine. Yang terjadi sekarang adalah dirinya yang dihimpit Yato, hingga ia bisa merasakan punggungnya sudah menempel sempurna dengan pintu di belakangnya.

"A-apa yang kau inginkan?" Yukine berusaha menatap Yato tajam, namun ia sama sekali tak berhasil. Yang ia tunujukan malah tatapan takut bercampur malu. Yukine rasanya ingin mengutuk dirinya sendiri. Karena dia yakin, Yato akan semakin menjadi kalau dirinya memasang ekspresi itu.

"Yukine…" Yato memiringkan kepalanya—membuat sudut yang tidak menyebabkan hidung mereka saling beradu. "Aku menyukaimu." Wajah Yukine yang sudah bersemu sejak pertama kali Yato menghimpitnya semakin memanas, bahkan telinganya sudah memerah sekarang.

"Jangan macam-macam padaku, Yato!" Yukine memperingati, namun pria bermanik biru itu sepertinya tak peduli. "Kau bukan Yato yang kukenal!" kepala Yato yang bergerak mendekati wajah Yukine seketika berhenti. Manik birunya menatap Yukine dengan padangan terkejut. Dan Yukine menyadari ini lah kesempatannya untuk kabur dari Yato.

Yukine mendorong keras tubuh Yato dan membuat pria bersurai hitam itu tersungkur di lantai. "Yato…" Yukine menatap Yato yang masih tersungkur di lantai dengan pandangan terluka. "Mengapa kau menyukaiku?"

"Apa aku butuh alasan untuk menyukaimu?" Yukine membulatkan kedua matanya begitu mendengar pertanyaan aneh yang keluar dari mulut pria di depannya. "Haruskah aku punya alasan untuk menyukai seseorang?" Yato sudah berdiri tegak di depannya. Kedua manik birunya menatap Yukine. "Aku mencintaimu sejak pertama kali melihatmu, Yukine."

.

.

Flashback

"Yukine…" gelapnya malam yang disinari cahaya bulan purnama berhasil memperjelas raut wajah Yukine di mata Yato. Dia bisa melihat bocah pirang itu bergetar ketakutan. "Yukine…" panggilnya lagi. Namun, Yukine masih saja menatapnya dengan manik yang membulat sempurna.

"Kenapa kau…" bibir Yukine bergetar hebat, rasanya dia sudah tak mampu lagi melanjutkan kalimatnya.

Yato bergerak maju—berjalan mendekati Yukine yang pelan-pelan melangkah mundur seiring dengan gerakan Yato.

"Yukine aku…" Yato melepas pisau berlumuran darah yang dipegangnya dengan tangan kiri. Bau manis mulai menghampiri indra penciumannya. "Maafkan aku…" ucap Yato pelan—setengah yakin jika bocah pirang di depannya bisa mendengar ucapannya tadi.

"Kenapa kau lakukan ini?"

Yato menundukkan kepalanya. Dia berhenti saat melihat Yukine sudah terpojok dengan tembok di belakanganya. Jarak mereka hanya beberapa meter, namun Yato bisa merasakan tatapan kecewa dan marah manik kuning yang begitu dikaguminya.

"Aku tidak ingin kau bersedih." Yato mengepalkan kedua tangannya di sisian tubuhnya—berusaha meyakinkan diri untuk menatap manik kuning yang mulai tergenangi air mata. Tidak! Yato tidak ingin melihat Yukine menangis! Apa lagi alasan air mata itu berjatuhan karena dirinya. Karena kebodohannya.

Cepat-cepat Yato berlari ke arah Yukine—menerjang bocah yang tubuhnya lebih kecil darinya, dan mengabaikan darah yang ikut mengotori wajah manis itu.

"Y-yato! Lepaskan!" Yukine memberontak di dalam dekapan Yato. Namun pria bersurai hitam itu lebih kuat dan semakin mengeratkan dekapannya. "Yato, lepaskan!"

"Yukine!" Yato terus menegratkan dekapannya. Tubuhnya mulai terasa sakit akibat pukulan Yukine yang terus mendarat di tubuh bagian depannya, tapi Yato sama sekali tidak mempedulikan hal itu. yang ada di pikirannya hanya bagaimana cara agar Yukine bisa tenang dalam pelukannya, bukan menangis sambil memukulnya seperti ini.

"Yukine, jangan menangis…" Yato berbisik di dekat telinga Yukine yang sudah memerah. "Aku minta maaf karena semua perbuatanku padamu." Suara sesegukan Yukine membuat Yato melonggarkan dekapannya, dia ingin segera menghapus air mata Yukine.

Saat tangannya menyetuh pipi merah Yukine, cepat-cepat pria pirang itu menepis tangan Yato, lalu menjauh agar Yato tidak mendekapnya lagi.

Sambil menunduk Yukine mengeratkan kepalan tangannya, berusaha menguatkan diri untuk berbicara dengan pemuda bersurai hitam itu. "Yato.. kenapa kau membunuh Shion?"

"…" hanya sebuah tatapan kesedihan yang Yato berikan kepada Yukine sebagai jawabannya. Yukine bisa melihat pria bersurai hitam itu pelan-pelan melangkah mundur lalu pergi meninggalkan halaman belakang lewat pagar kecil setinggi pinggang orang dewasa. Dan cahaya bulan yang begitu terang membuat setiap langkah yang diambil Yato terlihat jelas di mata Yukine.

Angin kembali berhembus menyadarkan Yukine dengan pemandangan di depannya. Shion telah pergi, dan sahabat terbaiknya juga ikut pergi bersama angin malam.

"Kau masih membenciku karena Shion…"

"Cukup Yato!" potong Yukine. Jantungnya berdebar kencang ketika pikirannya kembali memutar memori beberapa tahun silam itu, saat dirinya membiarkan Yato dengan penyesalan di hatinya. "Harusnya aku sudah tau alasan semua hal yang telah kau perbuat."

Yato menundukkan kepalanya. Ya, harusnya Yukine sudah mengerti mengapa Yato sampai membunuh Shion. Pria bersurai pirang itu pun sebenarnya tahu resiko dari perbuatannya itu. semua sudah ditulis Yato dalam suratnya yang dia kirim setahun setelah kematian Shion. Mungkin lebih baik jika ia langsung mengatakan alasannya kepada Yukine. Namun, sikap Yukine saat ini sudah menunjukan kalau dirinya belum dimaafkan sepenuhnya.

"Yato, aku sama sekali belum bisa memaafkanmu." Yukine mengepalkan kedua tangannya, "Seharsunya pun aku memaafkanmu, tapi itu tiddak bisa."

"Kenapa?" rasa sakit mulai menjalar di hati Yato. Setiap kali dirinya membuat Yukine bersedih itu sama halnya dengan dirinya menyakiti diri sendiri. Yukine sudah seperti segalanya bagi Yato. Dia bukan sekedar adiknya, Yukine juga…

"…Juga mencintaimu."

"Hah?!" ekspresi bingun di wajah Yato dengan mudah dapat dilihat Yukine. Dia harusnya bisa lebih lama menahan diri untuk tidak tertawa, namun wajah bodoh Yato begitu mengusikanya.

"Hahahaaa…lihat wajahmu! Kau lucu sekali!" Yukine memegang perutnya, sedangkan satu tangannya terus menunjuk-nunjuk wajah Yato. "Yato, kau pikir aku serius membencimu?"

Masih bingung dengan apa yang terjadi, Yukine pun segera menghampiri Yato. Didekatinya pemuda bersurai hitam itu, lalu dengan gerakan cepat kedua tangan kurusnya sudah melingkari pinggang Yato dengan sempurna.

"Yukine…" aroma shampoo yang menguar dari surai pirang Yukine membuat Yato semakin sadar kalau ini bukan lah mimpi. Dia bisa merasakan Yukine yang semakin mengeratkan pelukannya sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah di depan dada Yato.

"Hei, katakan sesuatu!" Yukine sudah tak tahu lagi bagaimana wajahnya sekarang. Sungguh, dia begitu malu jika wajahnya sekarang dilihat oleh Yato. Apa lagi saat tangan berkeringat pemuda bersurai hitam itu mulai menyentuh kedua bahunya.

"Yukine…" pelan-pelan Yato mendorong tubuh Yukine yang menempel di dadanya. Dia ingin melihat wajah manis pemuda itu sekarang. Namun, Yukine terlalu malu untuk melakukannya. Sekali lagi, Yato membisikkan namanya tepat di dekat telinga Yukine yang memerah seperti tomat rebus. "Yukine aku… aku tidak bisa melihat wajahmu."

"A-aku tidak bisa." Yukine mengeratkan pelukannya, dan itu membuat Yato merasa sesak.

"Kau ingin membunuhku dengan pelukan mematikanmu itu?"

Sadar akan perbuatannya, Yukine segera membebaskan Yato dari pelukannya. Di sini lah kesempatan Yato untuk membalas perbuatan Yukine tadi. Dengan cepat, kedua lengannya mengangkat tubuh yang lebih kecil darinya itu.

"Hei! Apa yang kau lakukan?" Yukine mulai protes, sedangkan Yato tampak tak begitu peduli dengan teriakan Yukine yang meminta untuk diturunkan dari gendongannya.

"Ayo kita bersenang-senang!" sebuah senyum terbit di wajah Yato. Entah mengapa Yukine dibuat merinding karenanya. "Hari ini kau harus memanggilku kakak, karena aku akan memperlaukanmu sebagai adik kesayanganmu."

"Dasar mesum!"

Apa daya Yukine yang memilki tenaga sedikit ini melawan Yato dalam mode penuh tenaga. Baiklah, Yukine sudah pasrah diperlakukan apa saja oleh manusia berkeringat menjijikan itu sekarang.

"Kita punya banyak waktu. Kau mau ku apakan?"

Mendengar ucapan mesum Yato saja sudah membuat Yukine memerah hebat. Rasanya dia ingin meleleh sekarang.

"Yukine…" lagi, suara Yato mengusik pedengarannya. "Aku ingin menciummu, boleh kah?"

Yukine berusaha menenangkan jantungnya yang berpacu—memompa darah lebih cepat dari biasanya. Pelan-pelan dia menggerakkan kepalanya, membuat Yato sadar kalau pemuda pirang ini meyutujui keinginannya.

Yato beraih dagu Yukine—membawa wajah yang memerah itu mendekat ke arahnya. Jarak pun mulai terkikis begitu saja, Yato bisa merasakan nafas panas Yukine yang menerpa kulit wajahnya. Ohh, rasanya ia ingin bertarus apa saja demi melumat bibir mungil di depan matanya itu.

Kaki Yukine yang terangkat mulai melingkari tubuh Yato dengan erat. Dia benar-benar pasrah, kembali ke awal pun rasnya sudah tidak mungkin. Dan sebuah ciuman mungkin tidak begitu buruk kali ini?

Jarak pun telah sirna begitu kedua bibir yang haus akan nafsu itu saling bertemu—melumat satu sama lain, dan pertarungan lidah pun dimulai, awalnya pelan namun lama kelamaan semakin agresif. Salahkan Yato yang membuat Yukine mengeluarkan desahan keras. Sekali lagi, salahkan Yato!

Yukine mengakhiri ciuman panas mereka. Dia melihat benang saliva yang masih menghubungkan bibirnya dengan milik Yato. Sedangkan Yato yang nampak memburu oksigen itu tak henti-hentinya menatap Yukine yang sudah memerah semputnya. Imut sekali.

"Kau manis sekali." Ucap Yato sambil mendekatkan bibirnya ke leher putih Yukine. Dia meninggalkan beberapa bercak merah di sana.

"Apa yang—" sungguh, Yukine sudah sangat terlambat jika ingin kembali ke titik awal. Yato sudah menjerumuskannya terlalu dalam. dan apapun yang dilakukan Yato akan membuatnya kehilangan akal sehat.

"Kau merasakannya?" Yato bertanya dengan nada pelan dan sensual. Ohh, apa pun itu, Yukine sudah tak bisa berpikir lagi. Dia bisa merasakan 'adik kecil' Yato terbangun di sana. Lalu 'miliknya' pun tak mau ketinggalan.

"Yato…" Yukine merasa sudah tidak tahan lagi. Dia mencengkram bahu Yato dengan kuat—berusaha menahan diri atas keinginannya yang akan memuncak.

"Baiklah, Yukine…"

.

.

Tamat

Pliss ini apa? ini apa?

Siapapun yang baca, kasih komen ya, aku udah ga tau mau ngelanjutin ff ini kayak apa, jadi ya dibikin ending yang sangat tidak elit ini :D but, kali ada yang terhibur dengan ff ini, aku sangat bersyukur

Sekali lagi terima kasih sudah mampir, walau ini ff yang sangat tak berfaedah :')

Oke sampai di sini dulu… byeee