Family

Disclaimer : Furudate Haruichi.

Warning : OOC, Alur sedikit Gaje-segaje Hika-chan wkkk, typo dan lain-lain~

A/n : Hika-chan make nama kecil mereka dinama panggilannya, tapi untuk menjelaskan ceritanya Hika-chan make nama marganya ne~ *GajelasYa? (Tsuki: Hika-chan emang anaknya ga jelas harap maklumin./Au : Kurang ajar, bakalan Hika-chan buat lu jadi side Character juga disini*TertawaJahat.)

Sugawara membereskan piring-piring yang ada di meja makan. Ia menatap nanar piring yang berisi sarapan milik Hinata yang bahkan tak disentuh oleh anak bungsunya itu.

"Shoyo, maafkan Kaa-chan." gumamnya.

Sugawara bertekad mencari dan membujuk anak bungsunya itu untuk makan setelah membereskan ruang makan.

Sekitar lima belas menit, akhirnya urusannya di ruang makan selesai, kini Ia berjalan mencari anak bungsunya itu ke semua tempat.

Tanaka cs menatap Ibunya bingung.

"Kaa-chan mencari apa?" tanya Tanaka. Sugawara langsung manatap anak sulungnya.

"Shoyo, Kaa-chan mencari Shoyo. Ryu tahu dimana adikmu?" tanya Sugawara lembut.

"Tidak, memangnya Sho-chan kenapa?" kali ini yang bertanya adalah Nishinoya.

"Adik kalian itukan belum makan, Kaa-chan hanya ingin dia makan agar tidak sakit."

"Apa?! Shoyoku belum makan?" pekik Kageyama dengan kaget yang dibuat-buat.

"Bukankah Tobio tadi lihat sendiri adikmu lari saat sarapan."

"Oh, iya ya."

"Tunggu, Shoyo itu adik milikku. Bukan milikmu." sela Tsukishima tak mau adik kesukaannya diklaim Kageyama. Padahal Kageyama juga adiknya loh -_-.

"Tidak, Shoyo itu adikku! Milikku! Kami saja sudah tidur bersama!" sahut Kageyama keras.

'Ya iyalah tidur bersama, kalian kan satu kamar.' batin Sugawara meringis mendengar pendapat Kageyama yang berambigu.

"Dalam Mimpimu saja sana. Dia itu milikku!" Tsukishima tak mau kalah.

Sugawara melongo melihat kelakuan dua anaknya yang sama-sama menginjak bangku Sekolah dasar tingkat 2. Ingin menyela takut salah bicara dan membuat keduanya menangis. Haduuh, pokoknya pemuda berambut putih keperakan ini bingung mau apa sekarang.

"Diiiiaaaaaammmm." teriak Nishinoya. Sugawara menatap senang anak keduanya yang melerai pertengkaran dua adiknya.

Kageyama dan Tsukishima menatap kakak keduanya, penasaran dengan apa yang ingin dikatakan kakaknya setelah berteriak tadi.

"Yang benar itu Hinata adalah adikku yang paling manis~." ucap Nishinoya sembari menaruh kedua telapak tangannya pada pipi gembilnya sembari membayangkan wajah adik bungsunya yang imut nan lucu.

Sugawara yang tadinya bangga dengan aksi anak keduanya, langsung jatuh kelantai dengan tak elitnya, dan tak lupa bunyi gedubrak saat ia terjatuh.

"Kalian semua salah. Yang benar itu Hinata Adikku yang paling manis. Aku bersamanya sejak dia masih bayi! Jadi dia milikku!" teriak Tanaka.

'Tentu saja kau bersamanya sejak Hinata bayi, Kau kan Kakak tertua!' batin Sugawara miris melihat kelakuan anak-anaknya yang memperebutkan si bungsu.

"Sudah-sudah, Shoyo itu adik kalian semua. Jangan mengklaim adik kalian untuk kalian sendiri. Kalau kalian bilang Shoyo milik kalian, terus Ayah dan Ibu tidak memiliki Shoyo?" ucap Sugawara dengan wajah sedih yang dibuat-buat.

"Tapi Tobio mau Shoyo jadi pasangan Tobio." keluh Kageyama pada Kaa-channya.

'Dilarang Incest Tobio-kun!!!' raung Sugawara frustasi dalam hati.

"Tidak bisa sayang. Kau laki-laki, Sho-chan juga laki-laki. Jadi tak bisa." jawab Sugawara asal.

"Tapi Tou-chan dan Kaa-chan juga sama-sama laki-laki!!" ini yang protes bukan Kageyama tapi sijenius Tsukishima.

Sugawara tertohok. Ini anaknya pinter banget kalau menyangkut si bungsu.

"A. . itu. ." Sugawara gelapan.

"Dan sejak kapan Kaa-chan memanggil Shoyo dengan sebutan Sho-chan? Yang duluan manggil Shoyo dengan sebutan Sho-chan kan Yu, kenapa Kaa-chan juga ikut-ikutan?" Nishinoya ikutan protes.

"Jangan sembarangan Nii-chan, kami juga memanggil Shoyo dengan Sho-chan, bukan kau saja." sela Kageyama.

"Tapi yang duluan itu aku." Nishinoya tak mau kalah.

"Tidak, yang duluan memanggilnya dengan sebutan Sho-chan itu aku. Karena aku sudah lama bersamanya sejak dia lahir!" Tanaka angkat suara.

"KAMI JUGA BERSAMANYA SEJAK DIA LAHIR!!"teriak ketiganya melawan argumen si sulung Karasuno.

Akhirnya perdebatan tak terelakkan diantara keempatnya.

'Mulai lagi.' entah keberapa kalinya Sugawara meringis dalam hatinya.

"Ah bagaimana kita cari Shoyo saja sekarang?" Sugawara mengalihkan perhatian anak-anaknya agar berhenti meriuh ramaikan rumah. Mendengar nama sibungsu disebut mereka sontak berhenti berdebat dan langsung kompak satu sama lain.

"Ayay Kapten!" sahut mereka kompak.

Sugawara menghela nafas lega. Baru kali ini ia dibuat lelah oleh Kelakuan anak-anaknya.

Tanaka, Nushinoya, Tsukishima dan Kageyama mencari Hinata kemana-mana. Mulai dari ruang keluarga, Ruang bermain, Lemari, wastafel, hingga kedalam kulkas dan tak lupa juga didalam dispenser. Emang mereka pikir adiknya muat gitu masuk kesana.

Sugawara menatap prihatin kelakuan anak-anaknya ini.

Tanaka dan Tsukishima mendekatinya.

"Lapor, di kamar mandi tak ada Kapten!" lapor Tanaka.

"Didalam lemari juga tak ada Kapten!" lapor Tsukishima.

Sugawara ingin sekali menertawakan kelakuan anaknya ini sekarang. Mereka pikir Sibungsu itu apa? Pakaian sampai-sampai ada dilemari.

"Kita cari dikamarnya saja ne? Bagaimana?!"

"Ayay Kapten!!" sekali lagi Anak-anaknya teriak bersemangat.

'Aku ngidam apa saat mengandung mereka sih.' batin Sugawara miris mengikuti keempat anaknya ke arah kamar Kageyama dan Hinata.

"Sho-chan!!" pekik Kageyama berlari kearah Hinata yang tengah duduk memeluk lutut diatas tempat tidur.

"Nii-chan kagen kamu." Kageyama memeluk Hinata.

"Kagen? Bukannya kamu sering melihatnya." dengus Tsukishima.

"Hinata jangan mau di peluk sama dia. Sini sama Nii-chan saja!" Nishinoya mencoba menarik Hinata namun ditahan oleh Kageyama.

"Jangan, sana pergi. Kaa-chan~~!!" rengek Kageyama.

Hinata mengangkat wajahnya, terlihat wajah Hinata yang habis menangis. Mata sembab, Hidung yang memerah dan bibirnya yang ia gigit. Uuh menambah kesan Imut sibungsu.

"Kyaa.. Adik manisku yang Kawaii~" pekik Nishinoya.

Hinata mengabaikan semua itu. Ia melepas pelukan Kageyama dan berjalan menjauh ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang terlihat menyedihkan menurutnya.

"Raksasaku." Oh ternyata sikecil masih belum bisa melupakan raksasanya.

"Hiks.. Anak itu siapa sih. hiks.. merusak raksasaku dan melemparnya sembarangan hiks.. karena ini juga aku dimarahi hiks..aku lelah hiks.. lelah." gumam Hinata menangis..lagi.

Sugawara membuka pintu kamar mandi yang ada dikamar Kageyama dan Hinata. Menatap anaknya yang menangis sesenggukan didepan wastafel.

"Shoyo." Hinata tesentak kaget, buru-buru ia menghapus air matanya.

"Shoyo kenapa? Ma-"

"Bukan apa-apa." sahut Hinata datar.

"Sho-"

"Kaa-chan mau apa? oh mau memandikan Tobio-Nii ya? yasudah silahkan, Shoyo akan keluar sekarang kok." sahutnya cepat kemudian pergi meninggalkan Sugawara yang kaget bukan main.

'Oh tuhan, Kenapa lagi ini?!' batin Sugawara Frustasi.

Sugawara keluar dari kamar mandi dan menatap anak-anaknya yang merecoki Kageyama karena tadi memeluk Hinata dengan santainya.

Sedangkan Hinata, kini tengah duduk di meja belajar miliknya sembari membaca buku bergambar.

Sesaat Sugawara merasa ada jurang pemisah antara dirinya dengan sibungsu Karasuno yang tengah asik membaca bukunya.

"Shoyo." Gumam Sugawara.

*TBC

Wuahaha~ Dichapter ini masih belum terbongkar siapa anak yang menjahili Hinata. Mungkin di chapter depan? *Tehe haha

Terima kasih bagi yang mau membaca ini cerita buatan Hika-chan ini~

Maaf kalau masih ada kekurangan~ See You In Next Chap~

Chap selanjutnya akan Hika-chan Up Kalau Hika-chan gak sibuk sama urusan sekolah. Soalnya Hika-chan udah kelas 12 hihi. Soal Hiatus ntar ada kabarnya sendiri wkkk*Emang entar ada yang kangen gitu sama author? Kayaknya nggak ada huuu~