Family
Disclaimer : Furudate Haruichi.
Warning : OOC, Typo dan lain sebagainya :v
"Apa dengan tidak makan bisa membuat seseorang mati?" tanya Hinata lirih. Semua yang ada disana kaget. untuk apa Hinata menanyakan pertanyaan seperti itu.
"Ah ya Sayang. kare-"
"Kalau begitu Shoyo tak ingin makan. Shoyo ingin mati saja. Biar bisa bertemu dengan Kakek." ucap Hinata sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain.
'BRAK' meja digebrak kencang oleh Daichi.
"Apa maksudmu bicara seperti itu, Shoyo?!" teriaknya kencang. Hinata hanya diam dan menatap kearah lain.Sedangkan Sugawara dan Kakak-kakak Hinata tersentak kaget mendengar gebrakan tiba-tiba yang dibuat oleh Daichi.
"Daichi!" Sugawara mencoba menenangkan Daichi.
"Diam Koushi, aku tidak ingin kau menengahi kali ini. Shoyo sudah keterlaluan, kau tahu itu! Dan Kau Shoyo makan sekarang dan lupakan saja kata-katamu tentang kematian!" titah Daichi mutlak.
Hinata menghela nafas lelah. Ia salah bicara lagi kali ini. Sungguh ini melelahkan, dimarahi terus-menerus dalam satu hari itu sangat melelahkan.
"Shoyo makan dulu ya sayang." ucap Sugawara lembut.
"Hn." Hinata menyahutinya hanya dengan gumaman singkat lalu memakan makan siangnya dengan perlahan. Ingatkan dia masih lima tahun. Dan tak semudah itu menggunakan sumpit yang asli dengan tangan mungilnya, biasanya Ia menggunakan sumpit latihan yang pastinya mudah digunakan dan dijamin praktis.
"Makan sayurnya juga ya, Tanaka kau juga, jangan sisakan sayurnya." peringat Sugawara.
Daichi duduk dikursinya sembari menatap wajah anak bungsunya itu. Seberkas rasa bersalah bersarang dihatinya. Lihatlah sekarang wajah anaknya yang sedikit menyedihkan ini. Seakan menahan isak tangisnya sendiri.
"Shoyo sudah selesai. Shoyo ingin ke kamar." ucap Hinata pelan.
"Shoyo,kenapa makannya sedikit?" kali ini yang bertanya bukan Sugawara melainkan Daichi.
Hinata menatap Ayahnya lama kemudian mengalihkan pandang ke arah lain.
"Tidak apa-apa." sahutnya kemudian bersiap untuk turun dari kursinya yang tinggi.
'Ting Tong' bel rumah berbunyi.
"Ah Tu-"
"Biar Shoyo yang membuka pintunya!" seru Hinata yang sudah turun dari kursinya dengan selamat, dan berlari ke pintu rumahnya.
Hinata melompat kecil untuk menggapai gagang pintu yang lebih tinggi dari tinggi badannya dan membukanya.
"Ah Shoyo kah ini?" ucap Orang yang dibukakan pintu.
Hinata mengernyit heran menatap orang yang baru saja bicara. Orang itu memiliki rambut putih keabu-abuan mirip dengan warna rambut ibunya namun jujur Hinata tak tahu dia siapa.
"Paman siapa? Kenapa Paman bisa tahu nama Shoyo?" tanya Hinata takut-takut.
"Aduh keponakan paman ini, masa lupa sama paman. Ini Paman Bokuto. Lupa?" Ucap Bokuto berjongkok didepan Hinata. Hinata memiringkan kepalanya bingung. Ia tak ingat punya paman bernama Bokuto. Tapi sedetik kemudian Hinata tersenyum cerah dan memeluk Bokuto.
"Eh? Kenapa Shoyo? Kangen banget sama paman ya?" Hinata menggeleng dalam pelukan Bokuto.
"Lalu apa?"
"Shoyo suka paman. Paman baik, Paman memperhatikan Shoyo. Shoyo suka itu." ucapnya menatap wajah Bokuto.
"Paman suka melihatmu tersenyum seperti ini. Jadi terus tersenyum oke?" ucap Bokuto membelai rambut Keponakannya sayang.
"Bokut- Wah Shoyo sudah besar, Kau tambah imut ya." ucap Akaashi yang melihat keponakan tercintanya peluk-pelukan sama sang suami dan tak lupa mencubit pipi tembem Hinata.
Hinata melepas pelukannya dan hanya mengaduh kesakitan tak lupa juga tertawa kecil.
"Paman ayo masuk!" ajak Hinata
"Hn." sahut Akaashi.
"Tapi.. em.. Paman Bokuto bisa gendong Shoyo?" tanya Hinata malu-malu.
"Tentu saja. Apa yang tidak untukmu Sayang." ucap Bokuto sedikit gemas dengan tingkah Hinata.
"Yeay!" pekik Hinata senang dan kemudian Ia digendong oleh Bokuto.
"Yak Bokuto hati-hati. Nanti Shoyo jatuh." peringat Akaashi.
"Hn aku tahu, tenang saja." Sahut Bokuto kemudian memasuki rumah milik sang kakak.
"Ah Bokuto dan Akaashi kah kukira siapa" ucap Sugawara yang berada didekat ruang tamu.
"Ah Nii-chan, lama tak jumpa. Aku sengaja ikut kesini karena ingin melihat Keponakan ku yang imut ini." ucap Bokuto sembari mencubit pipi tembem Hinata.
"Ih paman sakit tau." ringis Hinata.
"Maaf maaf."
Sugawara hanya menatap sendu anak bungsunya. Jujur Ia iri, kenapa dengan adiknya itu Hinata bisa tersenyum cerah dan sedari tadi saat Hinata bersama mereka Hinata hanya diam dan tak tersenyum sama sekali.
'Ting Tong' lagi bel berbunyi.
"Ah kalian duluan saja keruang keluarga ne, aku akan membukakan pintu dulu." ucap Sugawara mempersilahkan adik dan adik iparnya.
"Ayo cepat paman!" rengek Hinata tak sabar bermain dengan Paman yang disukainya beberapa menit lalu.
"Iya sayang, sabar."
Sugawara hanya tersenyum kecut melihat itu semua,Ia lebih memilih membukakan pintu untuk melihat siapa yang menekan bel rumahnya.
"Ah Kuroo-kun dan Yaku-kun, ah lihat siapa yang ikut kesini." ucap Sugawara tersenyum melihat dua anak kecil. Yang satu anak dengan rambut seperti puding berwarna kuning dan sedikit kehitaman dan juga anak berambut putih keperakan dengan warna mata zamrudnya.
"Ahaha terima kasih sudah mengundang kami juga Nii-san, Hora, Kenma, Lev ucapkan salam." ucap Yaku pada Sugawara.
"Selamat siang Paman." ucap keduanya.
"Selamat siang ayo masuk. Semuanya sudah menunggu."
"Apa Shoyo ada didalam?!" ucap Kenma semangat.
"Ya, Shoyo sedang bermain dengan pamannya diruang keluarga." sahut Sugawara.
"Kalau begitu, permisi~" ucap Kenma, kemudian berlari masuk menuju ruang keluarga.
"Kalian juga ayo masuk."
Mereka masuk dan tak lupa mengucapkan permisi dan langsung menuju ruang keluarga. Bisa Mereka lihat Kenma yang sedang bermain dengan anak bungsu dari Kakak sepupu Kuroo.
"Lev ayo masuk kesini."
"Hn." sahut Lev malas.
Lev memasuki ruang keluarga dan tak berselang lama keluarga Karasuno juga telah lengkap. Dapat dilihat Asahi, Yamaguchi, Shimizu dan Yachi yang baru memasuki ruang keluarga.
Hinata yang tadinya asik bermain dengan Kenma tak sengaja menatap ke arah Keluarganya. Seketika mata Hinata membola ketika melihat anak yang tadi pagi merusak dan melempar Raksasanya.
"KAU!!" Pekik Hinata kesal sembari menunjuk kearah Lev.
"Ah Kau kan yang tadi pagi?!" kaget Lev.
"Kau! Dimana Raksasaku! Dimana Kau menyembunyikannya!" teriak Hinata tiba-tiba.
"Shoyo." ucap Sugawara langsung menggendong Hinata. Ia takut kalau-kalau anak bungsunya ini nantinya akan memukul anak dari sepupu Ayahnya itu.
"Hiks.. Kaa-chan Raksasaku. Dia.. dia merusak dan melempar Raksasaku hiks." Oke pecah sudah pertahanan Hinata.
"Ssstt sudah sayang. Mungkin Shoyo salah orang. tak mungkinkan, Sepupu Shoyo melakukan itu."
"Tapi memang itu yang terjadi! Dia me-"
"Shoyo! Jangan Asal menuduhnya! Dia Sepupumu!! lagipula apa bagusnya boneka gagakmu itu?! Ayah Bisa membelikanmu yang baru. Jadi diamlah." bentak Daichi.
Hinata hanya bisa tersentak kaget.Sungguh Hinata sangat tersakiti sekarang. Kalau Hinata bisa Ia ingin membuat sinetron berjudul 'Anak yang tersakiti'karena apa yang dilakukannya selalu salah.
Hinata memberontak didalam gendongan Sugawara, minta diturunkan. Sugawara tahu itu. Ia pun menurunkan Hinatanya perlahan.
"AKU MEMANG SELALU SALAH! AYAH EGOIS! AKU BENCI KALIAN!!" Teriak Hinata kemudian berlari menuju kamarnya dengan sang Kakak. Akaashi yang melihat hal itu langsung pergi menyusul Hinata.Takut-takut hal buruk akan terjadi dengan keponakannya itu.
Semua yang masih ada diruang keluarga hanya bisa terdiam membeku mendengar teriakan sibungsu yang terkesan sangat sakit hati. Lagi-lagi Daichi mengusap wajahnya kasar.
"Aku yang salah." gumamnya.
Kuroo menatap anak keduanya, kemudian berjongkok agar berhadapan dengan sang anak.
"Apa benar yang dikatakan Shoyo itu, Lev?" tanyanya. Lev hanya diam.
"Lev jawab jujur saja. Ayah tak akan marah."
"Ya Ayah, Itu benar. Itu Lev lakukan karena dia menabrak Lev. Tapi Sungguh, Lev tidak tahu kalau Shoyo adalah sepupu Lev. Paman, Lev minta maaf." ucap Lev menyesal.
"Sudah tak apa, nanti Lev minta maaf saja dengan Shoyo ya?" ucap Sugawara. Lev hanya mengangguk paham.
Lima belas menit kemudian Akaashi memasuki ruang keluarga, dapat dilihatnya semua orang disana terdiam. bahkan anak-anak. Menghela nafas perlahan, kemudian Ia mendekati sang Kakak Ipar.
"Nii-san, Shoyo sudah tak apa. Jadi kalian jangan murung seperti itu." ucap Akaashi mencoba menenangkan.
"Tapi kenapa dia bisa semarah itu?" tanya Daichi lelah.
"Itu karena boneka kesayangannya hilang bukan? Boneka gagak pemberian Nii-san saat ulang tahunnya. Dia bilang sangat menyukai dan menyayangi boneka itu karena itu pemberian spesial darimu Nii-san." jelas Akaashi.
Deg
Daichi dan Sugawara kaget, Mereka baru ingat pasal boneka itu.
"Ah.. benar itu hadiah ulang tahunnya saat berumur empat tahun." ucap Sugawara sendu. Akaashi hanya memutar bola matanya bosan melihat Kakak iparnya yang kini tampak menyedihkan.
"Paman Akaashi,Boleh Shoyo..." Suara Hinata menyapa pendengaran mereka ..
Dan...
*TBC
Terbongkar sudah bocah yang ngejailin Hinata~
Uhh~ Hinata sayang.. Jangan sedih masih ada Hika-chan kok disini.
Kalau Hinata lelah akan semuanya, Hinata boleh peluk Hika-chan kok *Plakk-Digeplak Sugawara.
Terima kasih bagi kalian yang mau menyempatkan diri untuk sekedar membaca cerita ini. Maaf kalau masih ada kekurangan ne~
Jangan lupa Reviews, Fav and Follow ya~
See You~ XOXO
