Family

Haikyuu! milik Furudate Haruichi-san, Hika-chan cuma pinjem Chara-nya.

Warning : OOC,Typo everywhere, dan lain sebagainya TT

"Ah.. benar itu hadiah ulang tahunnya saat berumur empat tahun." ucap Sugawara sendu. Akaashi hanya memutar bola matanya bosan melihat Kakak iparnya yang kini tampak menyedihkan.

"Paman Akaashi,Boleh Shoyo..." Suara Hinata menyapa pendengaran mereka. Dan secara serempak pula semua orang yang ada diruang keluarga menolehkan kepalanya pada Hinata yang kini tengah berdiri didepan pintu yang terbuka.

"Shoyo, kenapa hanya berdiri disana. Ayo kesini." ajak Akaashi melambai-lambaikan tangannya untuk menyuruh Hinata masuk keruang keluarga. Sedangkan Hinata hanya menatap Paman kesayangannya yang masih setia duduk di sofa dekat dengan Ibunya, Tak berselang lama Hinata menggelengkan kepalanya. Tanda bahwa Ia tak ingin masuk kesana.

Akaashi menghela nafas pelan melihat keponakannya seperti itu. Jujur, sejak tadi Akaashi menahan amarahnya ketika melihat keponakan lucunya itu dimarahi,namun apa boleh buat. Akaashi tak ingin Kakak iparnya itu semakin marah ketika Ia membela Hinata. Dan sekarang pilihan Akaashi tadi sungguh membuatnya menyesal sendiri. Lihatlah diambang pintu itu, melihat keponakan sendiri yang kini nampak telah kehilangan sinarnya,membuat seorang Akaashi sedih.

"Ayolah sayang, masuk saja. Tak apa, tak ada yang ingin menyalahkanmu disini." bujuk Akaashi. Hinata menggeleng cepat.

"Paman saja yang kesini."

"Apa Shoyo ingin bicara hal yang penting dengan Paman?" tanya Akaashi yang tentu saja membuat semua orang keheranan tiba-tiba. Hinata tersentak kaget, kemudian dengan cepat Ia menganggukkan kepalanya.

"Shoyo tau kapal itu tempat berhentinya dimana?" tanya Akaashi. Hinata hanya menganggukkan kepalanya, oh memangnya siapa yang tak tau dimana pemberhentian kapal itu.

"Dimana?" tanya Akaashi dengan senyuman lembutnya.

"Dipelabuhan." sahut Hinata menatap Akaashi yang masih duduk di sofa.

"Nah kalau kita umpamakan Shoyo adalah kapal yang ingin berhenti di pelabuhan dan Paman adalah pelabuhannya. Maka siapa yang akan mendekati siapa?" tanya Akaashi lagi. Akaashi bukannya lelah mendekati sikecil Karasuno itu, namun Ia hanya ingin membuat Hinata agar mau masuk ke ruang keluarga dan bermain bersama kakak dan sepupunya.

"Kapal yang harus mendekati Pelabuhan." sahut Hinata.

"Binggo! Jadi apa Paman yang harus kesana mendekatimu? Kau tahukan, Kapal yang mendekati Pelabuhan, bukan pelabuhan yang mendekati Kapal. Jadi harusnya Shoyo mendekati orang yang kau anggap penting, bukan menyuruhnya mendekatimu." jelas Akaashi panjang lebar.

"Hn.. Shoyo paham Paman." sahutnya kemudian memasuki ruang keluarga menuju ke arah Akaashi.

"Paman.. Main ke taman bunga yang ada dibelakang rumah yuk. Shoyo tak mau disini.." rengek Hinata sembari memeluk Akaashi. Akaashi menatap Daichi yang kini menampakkan wajah garangnya, oh mungkinkah Daichi merasa tersaingi sekarang.

'Nii-san!!! Jangan pandangi aku dengan tatapan tajam seperti itu!!' ringis Akaashi dalam hatinya yang palin dalam.

"Paman.." panggil Hinata menatap wajah milik Paman tersayangnya.

"Ah.. na.. nanti saja sayang.. cuaca sedang panas, nanti kalau kita kesana sekarang.. Shoyo nanti akan sakit. Bagaimana kalau bermain dengan Kakak-kakakmu dan juga Sepupumu?" bujuk Akaashi yang tadi diberi deathglare oleh Daichi agar tak membawa Hinatanya keluar rumah.

"Nggak mau.. hiks.. maunya sama Paman saja." rengek Hinata. Oh sungguh, ini mengejutkan. Ada apa dengan keponakannya ini sekarang, dia menjadi lebih manja pada Akaashi pikir Bokuto sejak tadi.

"Shoyo, main yuk!" ajak Kenma memegang tangan kiri Hinata. Hinata menggeleng tanda menolak.

"Shoyo, Ken-Nii sudah susah-susah mengajakmu loh, Shoyo tidak kasihan pada Ken-nii?" ucap Akaashi lembut. Hinata nampak berfikir, sedetik kemudian ia menatap kenma dan mengucapkan maaf.

"Ayo main!" seru Kageyama menarik tangan Hinata. Ia tak suka Hinatanya dipegang-pegang oleh orang lain.

"Tobio-Nii sakit." ucap Hinata berkaca-kaca.

"Maaf Sho-chan, nah yuk main bareng Nii-chan aja." ucap Kageyama yang telah melonggarkan pegangangannya.

"Hinata hanya mengangguk, Ia mengikuti kakak dan sepupunya. Bermain mobil-mobilan. Tapi yang menikmati itu hanya Kageyama dan Kenma. Hinata hanya menatap datar mobil-mobilan yang ada ditangannya.

Sugawara mengernyit heran, berbagai pemikiran bersarang diotak cerdasnya.

"Sho.. Sho-chan, Sho-chan tak apa bukan? Sho-chan sakit?" ucap Sugawara khawatir.

Hinata menatap sekilas Ibunya kemudian kembali menatap mobil mainan milik Kakaknya.

"A.. Anata.. Shoyo agak aneh, apa.. dia tak apa? Ja.. Jangan-jangan Shoyo kesambet." ucap Sugawara was-was. Akaashi hanya memutar bola matanya bosan. Ia paham akan apa yang dilakukan Hinata, Karena pekerjaan Akaashi adalah seorang psikolog anak.

"Tak apa Nii-san, Shoyo hanya merindukan mainannya."

"Hmm.. begitu." Ucap Sugawara tenang. Kemudian duduk kembali ke sofa sembari memperhatikan si bungsu Karasuno.

"Ah iya, bagaimana percobaannya? Apa berhasil?" tanya Daichi pada Bokuto tiba-tiba.

"A.. ah itu.. em.. gagal Nii-san. Tapi kami akan berusaha sebaik mungkin agar mendapatkan momongan." sahut Bokuto was-was, takut kalau sang istri sedih kembali karena tak bisa mengandung akibat keguguran beberapa bulan lalu.

"Maaf." ucap Daichi menyesal.

"Tak apa Nii-san Kami akan berusaha lagi." kini yang menjawab adalah Akaashi.

"Jadi Paman tak punya anak?" tanya Tsukishima yang duduk disamping Lev.

Hinata yang mendengar itu langsung menatap Paman tersayangnya.Ia langsung berdiri menghampiri Akaashi.

"Ya begitulah." sahut Akaashi tersenyum sendu, Hinata yang melihat Pamannya tersenyum seperti itu langsung berusaha naik kepangkuan sang Paman.

"Eh, Shoyo?" ucap Akaashi bingung dengan sikap sang keponakan.

"Paman jangan sedih. Tenang masih ada Shoyo, Shoyo mau kok jadi anak Paman, kalau paman mau." ucap Hinata membelai pipi kiri Akaashi. Oh Sungguh Akaashi sangat tersentuh sekarang. Bolehkah Ia membawa keponakannya ini pulang sekarang juga?

"Memangnya tidak ada yang marah kalau Shoyo jadi anak Paman?" canda Akaashi. Hinata menggeleng cepat.

"Tidak! Shoyo punyaku.. Paman tidak boleh membawanya." Kageyama protes.

"Ya! Shoyo itu anak Mama Koushi dan Papa Daichi!" Kenma ikut protes dengan memanggil ayah dan Ibu Hinata dengan sebutan Mama Papa.

"Eh? Ken-Nii kenapa memanggil Ayah dan Ibu dengan Mama Papa?" tanya Hinata menatap polos Kenma.

"Karena nanti saat kita sudah besar Ken-Nii akan menikahi Shoyo!" teriak Kenma dengan wajah polos tanpa dosa.

"e.. EEHHH?!"

"Tidak, Shoyo akan jadi pengantinku!" teriak Kageyama.

"Bukan Kau, tapi AKU!!" teriak Tanaka.

"No, No! Aku yang akan menjadi pendamping Shoyo nantinya!" Tsukishima ikut-ikutan.

Kemudian peperangan antar saudara pun terjadi diruang keluarga. Hinata hanya menatap Kakak-kakaknya datar. Membuat Akaashi yang melihat itu mengernyit heran.

"Sho-"

"Aku lelah." ucap Hinata lirih namun masih terdengar oleh Akaashi.

*TBC