Evil Vanquisher
.
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichie Ishibumi
.
Author hanya meminjam karakter dan beberapa hal. Tidak ada maksud untuk menjipak atau mengambil karakter.
Presented By
Ayato Amagiri a.k.a Nerdboys
.
Warning
AR, AU, Canon, Typo, OOC, Bahasa Amburadul, Typo, Bahasa Kotor, Bahasa Burik, etc.
Rate: M
.
Genre: Adventure, Friendship, Mystery, Humor, Horror, Slight!Romance, etc.
Pair: [Naruto] x [...], [Cao-Cao] x [...]
.
Summary:
Menjadi seorang Senshi bukan hal yang mudah. Mereka harus memiliki tekad dan mental yang kuat. Senshi siap untuk mengorbankan segalanya. Dari harta, keluarga, sampai nyawa. Namun, bukankah menjadi seorang Senshi itu menyenangkan? Memang menyenangkan. Yang paling menyenangkan adalah ketika para Iblis itu kehilangan kepalanya karena tak sengaja terpotong oleh pedangku. [Bad Summary]
.
.
Evil Vanquisher
Opening Theme: Sunflower - Post Malone ft. Swae Lee
.
Arc I - Serdin Kingdom
Chapter 2 - Let's Burn The Yakitori
"AYAH! IBU!"
"Pergilah, Naruto!"
"Carilah kebahagiaanmu, Nak!"
"TIDAKK!"
.
.
Seorang anak berusia sekitar 9 tahun membuka mata kecilnya. Ia mengusap-usap matanya dan seketika ia merasa pusing sedikit. Namun, ia memutuskan untuk bangun dari tidurnya dan duduk di tempat tidur. Menemukan bahwa dirinya berada di tempat yang tidak pernah ia ketahui. Aroma cendana menguar ke seluruh kamar serta tempat tidur putih yang halus nan empuk menjadi tempatnya beristirahat tadi. Suara decit pintu menarik perhatian anak kecil itu dan memunculkan sosok pria dewasa bersurai coklat cukup panjang yang sedang membawa sebuah nampan berisi sup beserta jus jeruk.
"Oh, kau sudah bangun, Nak?"ucap pria tersebut sambil tersenyum ke arah anak kecil itu. Sedangkan yang disenyumi hanya diam tidak membalas.
"Hoi Teme! Dia sudah bangun!"teriak pria itu kepada mungkin temannya yang disebut 'teme' itu.
"Berhentilah berteriak di rumah, Dobe!"suara dari luar membalas ucapan dari pria yang berada di depan anak kecil tersebut.
Sesosok pria muncul lagi dari pintu dan menampilkan pria yang seumuran dengan pria bersurai coklat tadi dan juga memiliki surai hitam panjang. Hanya saja, pria yang baru datang ini memiliki raut yang agak tidak bersahabat dibanding yang tadi serta mengeluarkan sedikit hawa mengerikan dari raut datar miliknya. Anak kecil itu menatap kedua pria tersebut.
"Jadi, siapa dirimu, Nak?"
Sontak perhatian anak itu beralih menuju si pria yang bersurai coklat. Anak itu diam sejenak mendengar pertanyaan yang dilontarkan kepadanya, ia terlihat sedang berpikir untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang mungkin ia rasa sangat sulit.
"Uhm... kau tidak mengerti?"tanya si pria bersurai coklat lagi ketika melihat yang ditanya sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan simpel tersebut.
"Kurasa ia tidak mengerti bahasa kita, Teme."
"Naruto. Namikaze Naruto."
"Oh, kau mengerti rupanya. Jadi Naruto, kau berasal darimana?"tanya si pria bersurai coklat itu lagi sambil tersenyum.
Naruto kecil terlihat berpikir keras kembali. Mencoba menemukan jawaban yang sesuai dari pertanyaan itu. Namun, akhirnya ia menyerah ketika tidak ada satupun frasa yang sesuai menjadi jawaban pertanyaan yang dilontarkan kepadanya tersebut. Ia menggeleng pelan.
"Huh, kau tidak tahu? Kalau begitu, siapa orang tuamu?"
Naruto mencoba berpikir keras kembali, tapi sama seperti sebelumnya. Hasilnya nihil. Tidak satupun yang ada di benaknya sekarang kecuali namanya yang hanya ia ingat. Ia menggeleng pelan kembali.
"Kurasa ia lupa ingatan, Teme."ucap si pria bersurai coklat kepada teman prianya yang bersurai hitam.
"Hn."
"Bisakah ucapkan kata lain selain 'Hn'?"
"Hm."
"Terserahlah. Baiklah err... Naruto. Namaku adalah Senju Hashirama sedangkan yang muka triplek di sebelahku ini adalah Uchiha Madara. Kau bisa memanggilku Paman Hashirama sedangkan temanku ini panggil saja ia triplek bangunan."ucap pria bersurai coklat yang diketahui bernama Hashirama sedangkan di sebelahnya adalah Madara.
"Hn."
"Err... Kau mengerti bahasaku kan?"
Naruto kecil mengangguk. Hashirama memasang senyum bahagia sedangkan Madara masih dengan raut datarnya. Naruto kecil pun ikut tersenyum tipis.
.
.
.
Sinar mentari muncul dari ufuk timur. Membawa kehangatan bagi penduduk bumi yang sedang bermalas-malas selama kurang lebih 8 jam ketika hari gelap. Dan pastinya, tokoh utama kita yaitu Naruto sudah bangun sebelum matahari itu sendiri bangun. Sementara temannya yang tidur di tempat tidur seberangnya masih mengarungi luasnya mimpi.
Naruto sendiri terbangun bukan karena ia rajin atau disiplin, melainkan ia ingin ke kamar kecil. Semenjak kembalinya ia dan Cao Cao dari misi menghancurkan kumpulan goblin itu, ia langsung beristirahat di asrama tanpa melapor misi terlebih dahulu. Yah, perjalanan dari Willow Creek menuju Ibukota Serdin cukup jauh jika hanya ditempuh dengan berjalan kaki. Rencananya ia dan Cao Cao akan melapor. Melapor seandainya Cao Cao bangun.
"Ini orang gak akan bangun bahkan ketika kemaluannya terpotong sekalipun."gumam Naruto sembari geleng-geleng kepala dan berjalan menuju kamar mandi.
.
o0o
.
"Nona Shizune, aku ingin melapor."
"Huh? Kau siapa?"
"..."
Suasana hening menghiasi bar pengambilan misi sekaligus pelaporan misi. Diisi oleh dua orang makhluk hidup berjenis kelamin berbeda. Dan pasti tahu mereka adalah Naruto dan Shizune.
"Aku orang yang kemarin."ucap Naruto sambil menunjuk wajahnya dengan telunjuk tangan kanan miliknya. Berharap orang di depannya mengingat sedikit mengenai wajahnya.
"Kemarin ada begitu banyak orang. Bisakah kau lebih spesifik?!"tanya Shizune dengan raut kesal.
"Orang yang kemarin Reigns-sama sarankan, bodoh!"sahut Naruto dengan raut yang kesal pula.
"Reigns-sama? Reigns-sama... Reigns-sama... OH! Reigns-sama! Jadi, misimu sudah selesai?"ujar Shizune dengan tiga raut yang seperti alur sebuah cerita. Diawali dengan raut bertanya-tanya. Kemudian berpikir keras seperti menemukan soal matematika dan yang terakhir kembali ke raut biasanya.
"Hn. Beres, ini laporannya."ucap Naruto yang kemudian menyerahkan selembar kertas yang berisi laporannya terhadap misi yang kemarin ia lakukan.
"Baiklah. Namikaze Naruto dan Cao Cao mengalami peningkatan medals sebanyak +80 dan ini hadiah emasnya."jawab Shizune sambil menyerahkan sekantung emas sebanyak 450 keping. Lumayan banyak karena misi tersebut tergolong misi untuk peringkat Silver ke atas.
"Terima kasih. Boleh aku ambil misi lagi?"tanya Naruto.
"Tentu. Namun, kali ini kau harus mengambil misi sesuai peringkatmu."
"Tidak. Beri aku misi yang seperti kemarin."
"Kau hanya membahayakan dirimu, bodoh! Lagipula kau hany,-"
SFX: BUGHH
"MENJAUH DARIKU, BRONZE JALANG!"
Suara kursi jatuh serta teriakan lantang mendadak menjadi pusat perhatian seluruh orang yang ada di guild. Pelakunya adalah seorang pria bersurai pirang dengan pakaian bangsawan. Di lehernya terkait kalung berwarna emas yang menandakan pria tersebut berada di peringkat Gold. Sementara yang menjadi korban adalah wanita bersurai biru tua panjang. Ia mengenakan kimono berwarna putih serta sebuah katana yang tergeletak di sebelahnya.
"KAU BERANI PADAKU, ANAK DARI DEWAN KERAJAAN? KAU SUDAH KEHILANGAN OTAK?"
Teriakan kembali menggema dan disambut riuh orang-orang di guild. Tidak luput juga dari bisik-bisik orang-orang sana yang entah menjadi provokator, pelerai, atau mungkin hanya penonton tanpa membayar. Sementara, Naruto yang tadi sedang mencoba bernegosiasi dengan Shizune malah berjalan menjauhi bar pengambilan misi dan menuju pusat keramaian.
"Oi! Kau jadi mengambil misi atau tidak?!"
Kembali lagi ke pusat perhatian, di sekitar tubuh pria pirang yang menjadi pelaku keributan tadi mulai mengeluarkan hawa panas. Pasalnya, api mulai menguar dari tubuhnya dan menaikkan suhu di sekitar secara drastis. Hal tersebut menandakan ia adalah seorang Mage.
"Jadi, kau ingin menyelesaikannya di Training Ground atau kau berlutut sekarang di hadapanku dan menjadi BUDAKKU selamanya?"
Ucapan pria pirang itu kembali disambut riuh oleh orang-orang di sekitar. Terlihat, para penonton mulai memberi jarak antara si pria pirang yang sedari tadi terus mengoceh bersama wanita yang sedang di ujung tanduk dan masih terlihat diam saja.
"TIDAK MENJAWAB RUPANYA!"
Pria pirang itu mengangkat tangannya kanannya ke atas dan dari telapaknya muncul sebuah lingkaran sihir yang penuh akan aksara kuno. Dari lingkaran sihir itu, sekitar beberapa detik kemudian muncul bola api yang cukup besar. Hawa sekitar menjadi lebih panas lagi.
"Ada kata terakhir?"
"..."
Pria pirang itu menyeringai. Dan tepat sebelum ia mengarahkan bola api itu ke arah wanita bersurai biru tua itu, sesuatu mengintrupsi pria pirang tersebut. Spesifiknya, sebuah kacang polong melesat kencang menuju tangan kanannya sehingga sontak lingkaran sihir beserta bola apinya hilang seketika.
"SIAPA YANG BERANI MENGANGGU?!"
Dari kerumunan penonton, seseorang mengangkat tangan kanannya. Ia keluar dari kerumunan itu dan ternyata itu adalah tokoh utama kita, Naruto Namikaze. Ia kemudian berbalik dan berkata, "Terima kasih kacang polongnya, Paman!"
Sontak seluruh orang yang ada di sana diam. Ada yang terkekeh kecil, sweatdrop, bahkan ada yang tersedak oleh bir akibat tertawa ketika sedang minum. Ada juga yang mendesah di lantai atas karena lantai atas merupakan tempat prostitusi. Oke kita abaikan yang di lantai atas.
"Kau berani juga. Apa kau ingin mati sama seperti wanita jalang di sana?"ucap si pria pirang sambil tersenyum menyeringai.
"Sejujurnya tidak. Karena aku tidak mungkin mati melawanmu."ucap Naruto santai.
Ucapan Naruto disambut riuh penonton. Hal yang membuat pria pirang di depannya semakin panas.
"Kheh, Bronze zaman sekarang tidak ada yang waras. Siapa namamu durian?"
"Naruto. Namikaze Naruto."
"Kheh. AKU. RISER PHENEX, PUTRA DARI DEWAN KERAJAAN SERDIN, PEWARIS DARI KELUARGA PHENEX, MENANTANGMU DALAM DUEL SATU LAWAN SATU!"
Suara lantang dari pria pirang yang bernama Riser Phenex itu membuat seisi guild menjadi ribut dan riuh. Setiap orang kegirangan karena pertama kalinya pengungkapan duel secara terbuka di guild. Bahkan kali ini, pesertanya adalah seorang Mage berperingkat gold yang merupakan pewaris Keluarga Phenex dan akan melawan pemuda biasa yang berperingkat Bronze.
"Kau memiliki banyak sebutan, Yakitori."sahut Naruto sambil tertawa kecil.
"Tertawalah sekarang, karena nanti kau akan menangis di hadapanku! Aku tunggu kau tengah hari di Gladiator's Arena."ucap Riser dan kemudian pergi dari kerumunan tersebut dan seketika mereka semua bubar seolah tidak pernah terjadi apapun beberapa detik yang lalu. Yang tersisa hanyalah Naruto beserta wanita yang masih duduk di lantai.
"Kau tak apa, Nona?"
Wanita bersurai biru tua itu menggeleng pelan. Ia bangun dari duduknya dan menatap Naruto dengan tatapan aneh.
"Apa kau sudah gila menerima tantangan duelnya?!"ujar wanita tersebut ke arah Naruto.
"Hoi, kita bahkan belum kenal. Namaku Namikaze Naruto."sahut Naruto sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Oh, kau benar. Aoi Kunieda."jawab wanita yang bernama Aoi Kunieda tersebut sembari menerima uluran jabat tangan tersebut.
"Baiklah, Naruto. Apa kau tidak waras?"
"Tentu saja aku waras."
"Tapi, kenapa?"
"Apa berbuat baik harus memerlukan alasan?"ucap Naruto dengan raut datar. Berbanding terbalik dengan ucapannya yang harusnya dibubuhi sesuatu seperti 'senyuman lembut'. "Tenang saja, aku akan membuatnya menjadi Yakitori sungguhan."jawab Naruto dan kemudian pergi dari sana meninggalkan Kunieda sendirian di sana.
.
.
Matahari berada di atas kepala. Menandakan bahwa terik matahari mengalami peningkatan suhu ke titik maksimal. Kebanyakan orang biasanya mencari tempat teduh untuk beristirahat atau mencari sebuah pondok minuman untuk menyegarkan diri ketika sinar matahari membuat kepala banyak orang menjadi panas dan pusing. Namun, di suatu tempat yang bernama Gladiator's Arena, banyak orang rela berpanas-panasan untuk menyaksikan duel.
Gladiator's Arena adalah tempat yang biasa digunakan untuk turnamen tahunan Highlander Cup, dimana para Knight dan Mage akan bertarung secara all out dalam area tersebut. Siapapun Knight atau Mage yang berhasil bertahan selama pertarungan, ialah pemenangnya. Tapi, Gladiator's Arena juga kerap digunakan untuk acara lain seperti festival atau duel terbuka seperti yang terjadi saat ini.
Orang-orang sudah melakukan taruhan di luar arena untuk menentukan pemenangnya. Dan sudah tentu kebanyakan akan bertaruh pada Riser Phenex. Penjual makanan dan minuman sudah berkumpul di luar arena. Bahkan salah dua dari Seven Conquerors ada untuk menyaksikan perhelatan tersebut. Siapakah mereka?
Sementara di sebuah ruang tunggu di Gladiator's Arena,
"NARUTO!"
Suara teriakan menggema di ruang tunggu Naruto.
"Ada apa?"
"Kenapa kau suka mencari masalah?"
"Dia yang mencari keributan duluan. Aku hanya menyalurkannya saja."ucap Naruto santai dan membuat orang di depannya semakin frustasi yang ternyata adalah Cao Cao.
"Bukan itu masalahnya, bodoh!"bentak Cao Cao.
"Huh? Lalu apa?"
"Kenapa kau tidak mengikutsertakan aku?!"
"..."
"Sudahlah, lupakan ucapanku tadi. Kalahkan ia Naruto!"ujar Cao Cao dan kemudian memberikan tinju ke arahnya. Naruto kemudian menyeringai dan membalas tinjuan tersebut.
"Aku akan memenangkannya dengan mudah..."
.
o0o
.
Dua pria sudah berada di arena. Keduanya merupakan pria pirang hanya saja, yang terlihat lebih tua menggunakan setelan jas ala keluarga bangsawan. Ia adalah Riser Phenex. Secara teori, ia diperkirakan akan memenangkan pertarungan ini dengan sangat mudah. Taruhan miliknya sudah mencapai 9 berbanding 1. Di depannya, pria pirang jabrik yang terlihat sangat santai dari gesture tubuhnya. Sama sekali tidak tertekan karena aura intimidasi dari Riser ataupun karena berada di antara ribuan orang yang menyaksikannya.
"Kukira kau akan kabur, pirang."ucap Riser sambil menyeringai.
"Pertama, aku tidak akan lari dari jalan yang sudah kupilih. Kedua, kau juga pirang, Yakitori!"sahut Naruto sambil terkekeh kecil.
"Kau... Kau... TAK AKAN KUAMPUNI SEDIKITPUN!"
"Tapi sebelum mulai, izinkan aku bertanya padamu, Phenex..."ucap Naruto yang kemudian menunduk sehingga poninya menutupi sorot mata miliknya.
"... Kau ingin hancur karna pukulanku atau terpotong oleh pedangku?"
Suara Naruto tiba-tiba menjadi berat disertai Killing Intens yang menguar secara deras dari tubuh Naruto dan membuat seluruh penonton merinding ketakutan karenanya. Riser sendiri mengalami guncangan sedikit tapi ia mengabaikan hal tersebut.
"HAHAHAHA! KAULAH YANG AKAN HANCUR, BRENGSEK!"
Riser mengarahkan kedua tangannya ke arah Naruto. Dari telapak tangannya muncul aksara kuno yang berubah menjadi lingkaran sihir. Dalam beberapa detik, sebuah bola api kecil yang dengan cepat membesar sehingga sekarang menjadi seukuran sebuah traktor tepat berada di depan Naruto. Sedangkan, Naruto masih tertunduk dan diam seolah tidak peduli oleh hawa panas yang dihasilkan bola api tersebut.
"DENGAN INI, MATILAH KAU MENJADI DEBU!"
[Fire Element: Gigantic Fireballs]
Bola api itu dengan cepat melesat menuju Naruto yang masih menjadi patung di tempatnya. Ia tidak bergeming dari posisinya walaupun tersisa sekitar 50 meter bola api itu darinya.
Naruto mengangkat kepalanya secara perlahan dan menampilkan ekspresi seorang psikopat yang menyeringai penuh kekejaman. Terlihat rautnya berubah 180 derajat dibanding ketika tadi bersama dengan Cao Cao. Ia mengangkat pedang yang sedari tadi ia bawa. Pedang biasa yang tidak memiliki corak apapun serta tidak terlihat istimewa layaknya pedang Knight lainnya. Bahkan pedang itu lebih buruk dari sebuah pedang kayu.
"Mari kita berdansa..."suara berat dengan frekuensi cukup rendah namun dapat didengar oleh semua orang yang ada di sana.
Naruto menghilang dari tempatnya berdiri tadi dan secara tak kasat mata, bola api besar itu terpotong secara vertikal dan meledak yang kekuatannya hampir setara dengan ledakan 3 bom atom yang diledakan secara bersamaan. Untungnya, sudah ada beberapa orang yang menjadi penjaga Arena yang bertugas membentu pelindung jika terjadi ledakan seperti tadi sehingga para penonton terlindungi dari hal tersebut.
Riser sendiri sempat tersenyum puas ketika ledakan itu sangat besar dan kemungkinan pasti mengenai pria tersebut. Namun, rasa takut tiba-tiba menjalari hatinya. Pria yang ia lawan masih berada di depannya dengan jarak sekitar 150 meter. Ia menatap Riser dengan pandangan yang bercampur menjadi satu antara menyeringai kejam, sedih, bahagia, dan putus asa. Namun, seperti biasa, ia mengabaikan rasa takut tersebut.
"KAU CUKUP BERUNTUNG BISA MENGHINDARI API KECIL ITU! BAGAIMANA KALAU KAU TERIMA INI?!"
.
Sementara di bangku penonton, tepatnya di tempat duduk khusus dimana salah dua dari Seven Conquerors menatap secara intens arena pertarungan. Terlihat Riser membentuk belasan lingkaran sihir dengan aksara rumit yang setelah beberapa detik memunculkan 5 misil pada tiap-tiap lingkaran sihir.
"Kurasa bocah api itu ketakutan terhadap musuh di depannya, Reigns."
"Kau benar. Bisakah kau berhenti menyebut gelar itu? Terlihat menjijikan ketikan kau menyebutkannya untukku, Jave."
"BUAHAHAHA! Aku hanya bercanda. Lagipula apa kau mengenal bocah pedang itu, Jiraiya?"
"Tentu. Aku mengenalnya kemarin."ujar Jiraiya sembari meneguk sloki berisi sake yang dibawanya hingga habis.
"Dibalik seringai mengerikan itu, ada sesuatu yang mengerikan juga? Apakah aku benar?"tanya salah satu Seven Conquerors yang bergelar Jave tersebut.
"Seperti biasa, tebakanmu selalu tepat, Azazel."
"Benarkah? Kahahaha..."
.
"TERIMA INI!"
[Fire Element: Dragonbreath Launcher]
Belasan, puluhan, entah berapa jumlah misil api berukuran sedang yang diluncurkan oleh Riser ke arah Naruto yang masih mematung di tempatnya. Tetapi, tokoh utama kita mulai melangkahkan kakinya secara perlahan. Memangkas jarak antara dirinya dengan Riser meter per meter sembari sedikit menghindar dari terjangan misil itu.
Entah itu keajaiban atau kesalahan Riser, hampir semua misil Riser berhasil dihindari oleh Naruto dengan langkah pelannya. Seakan-akan gerakan misil itu sudah terbaca jelas oleh Naruto. Beberapa dari misil itu ada yang terpotong hingga menjadi kepingan terkecil hanya dengan waktu sepersekian detik.
Riser sendiri sudah berkeringat dingin sedari tadi. Rasa ketakutan benar-benar menjalari hatinya saat ini. Ingin rasanya ia lari dari sini. Killing Intens musuhnya benar-benar begitu kuat dan menghancurkan mentalnya. Namun, ego tinggi darinya menolak opsi tersebut. Jaraknya dengan sang musuh hanya tersisa 50 meter lagi.
"KAU AKAN MATI, BRENGSEK!"
Riser mengeluarkan beberapa lingkaran sihir beraksara rumit yang mengelilingi Naruto. Sontak Naruto terdiam dengan masih menggunakan seringai kejamnya tersebut. Lingkaran sihir milik Riser itu kemudian bercahaya hanya dalam waktu sangat singkat sekitar 2 detik dan dibarengi oleh sebuah teriakan.
"PERGILAH KE NERAKA, SIALAN!"
[Fire Element: Ring of Death]
Lingkaran sihir yang mengelilingi Naruto dengan bentuk lingkaran itu bercahaya dan mengeluarkan semburan api yang cukup besar dan membakar Naruto hidup-hidup yang terlihat tidak bergeming dari sana.
"KAU SUDAH MATI! AKULAH PEMENANGNYA!"
Riser berteriak kencang dan disambut riuh penonton. Namun, semuanya kembali menjadi senyap ketika dari semburan api tersebut muncul puluhan gagak dan seketika semburan api itu berhenti dan menampilkan Naruto yang tidak mengalami luka bakar ataupun hangus sama sekali. Ia melanjutkan langkahnya yang tadi berhenti.
"Tidak... tidak... Itu tidak mungkin..."gumam Riser ketakutan. Jaraknya dengan Naruto saat ini tersisa 10 meter. Naruto menatapnya dengan seringai kejam bercampur sedih, benci, bahagia, dan putus asa di dalamnya. Runtuhlah, mental Riser yang selama beberapa menit tadi disokong oleh kesombongan dan ego tinggi miliknya. Ia seperti merasa berada di pengadilan kematian dimana ia diadili oleh sang Dewa Kematian.
Naruto menatap Riser yang sudah terduduk di tanah, menatapnya dengan pandangan ketakutan yang amat sangat dalam terhadapnya. Naruto mengangkat pedang miliknya dan mengarahkannya tepat di depan hidung Riser.
"Bagian mana yang harus kupotong terlebih dahulu...?!"
Suara berat yang menggema di seluruh arena itu seakan menjadi suara terompet kematian bagi Riser. Ia mengeluarkan air mata dari pelupuk matanya, ia tidak peduli lagi dengan harga dirinya. Riser mencakupkan kedua tangannya di depan kepalanya. Dengan menutup mata dan penuh akan air mata di wajah miris dan ketakutannya.
"Ku-ku-kumohon jangan bunuh a-aku."
Dan Naruto secara bersamaan menusukkan pedangnya bersamaan dengan menaikkan Killing Intensnya. Bukan perut ataupun wajah yang ia tusuk melainkan paha dari Riser dan bersamaan dengan itu pula, Riser pingsan dengan wajah ketakutan. Harga dirinya runtuh bersama egonya. Hati sombong nan keras miliknya tertembus oleh pedang biasa Naruto.
Seluruh penonton bersorak riuh tatkala Naruto dinyatakan memenangkan duel. Semua penonton memberikan tepuk tangan kepada pemuda Bronze yang menghancurkan musuhnya hingga ke titik dimana mentalnya tidak dapat dipulihkan dari trauma mungkin untuk beberapa bulan. Naruto sendiri yang menerima semua itu hanya diam dan mengembalikan rautnya menjadi seperti biasa.
.
.
.
Di ruang tunggu arena, terlihat dua orang pria berada di sana. Saat ini sudah 30 menit semenjak pertarungan berakhir. Di arena terlihat masih diramaikan oleh penonton. Riser sudah dibawa ke ruang kesehatan dan mungkin akan kembali sekitar beberapa bulan lagi.
"Kau berhasil, sobat!"
"Sudah kukatakan bahwa aku akan menang."
"Tapi, kau tahu. Kau tadi cukup mengerikan. Aku bagaikan menonton pertunjukan opera horror."ucap Cao Cao sambil menggeliatkan badannya bukan karena geli melainkan karena merinding mengingat pertarungan tadi.
"Itu ajaran dari guruku. Jadi,-"
Ucapan Naruto terpotong oleh suara ketukan dan decitan pintu yang terbuka dan menampilkan seorang wanita bersurai biru tua. Ia adalah Aoi Kunieda, wanita yang menjadi korban perundungan oleh Riser. Ia terlihat memegang sebuah kantung emas dan bersikap agak gugup terlihat dari tangannya yang meremas-remas kantong tersebut.
"Err... siapa kau? Ada perlu apa kemari?"tanya Cao Cao.
"Aku tidak punya urusan denganmu!"jawab Kunieda dan dengan cepat menyerahkan kantung emas itu kepada Naruto.
"Apa ini?"tanya Naruto ketika menerima kantung emas dari tangan halus Kunieda.
"Itu sebagian dari hasil misiku. Kau pantas menerimanya karena telah membantuku."ucap Kunieda sambil menatap ke arah lain dengan rona merah di pipinya.
"Kau tidak perlu memberiku ini. Sudah kukatakan aku melakukan ini tanpa alasan dan imbalan."ucap Naruto sambil meletakkan kantung emas itu pada meja di sebelahnya.
"Tapi,-"
"Tak perlu tapi. Anggap saja aku sedang berbaik hati sekarang."potong Naruto dengan cepat.
Suara decit pintu kebali terdengar dan menampilkan dua pria paruh baya. Pria yang pertama bersurai putih jabrik panjang dengan pakaian petapa serta sebuah gulungan besar di pinggang belakangnya. Sedangkan, di sebelahnya adalah pria berumur sama dengan sebelahnya dengan surai hitam namun diiringi surai pirang pada poni miliknya.
"Namikaze Naruto... aku mencarimu..."
.
.
.
TBC!
.
Dictionary!
Gladiator's Arena: Tempat dimana berlangsungnya Highlander Cup serta menjadi panggung terbuka untuk melakukan duel.
Highlander Cup: Ajang tahunan dari Senshi untuk melangsungkan pertarungan bertahan hidup dalam satu arena. Siapa yang bertahan, ia yang menang.
[Fire Element: Gigantic Fireballs]: Elemen api berwujud bola api besar.
[Fire Element: Dragonbreath Launcher]: Elemen api berwujud misil api sedang.
[Fire Element: Ring of Death]: Elemen api berupa perangkap berbentuk lingkaran yang akan mengeluarkan semburan api dan membakar musuh yang terjebak di dalamnya.
Yoo! Akhirnya update. Sebelumnya, terima kasih kepada semua review yang ditujukan untuk fic ini. Acies Adam-senpai, Swinzk-senpai, dan teman-teman lain, saya sangat terharu T-T
Okay mari kita bahas bersama-sama~
Pertama, ada Hashirama dan Madara di sana. Yap, mereka adalah pengasuh dari Naruto semenjak ia berumur 9 tahun. Tapi sebelum umur 9 tahun di manakah Naruto tinggal? Ada apa dengan Ayah dan Ibu yang disebut di awal? That's a mystery ^.^
Kedua, Aoi Kunieda! Yap, chara dari Beelzebub. Bayangin aja Kunieda yang versi manga-nya. Karena kalau versi anime agak aneh menurut author (gaje). Kenapa? Singkatnya, saya suka dia. Udah itu aja.
Ketiga, Naruto vs Riser. Pertarungan tanpa Naruto perlu mengeluarkan teknik atau jurus apapun. Yap, disini saya menerapkan konsep bahwa sebelum bertarung otot, kalahkan mentalnya terlebih dahulu. Dan ya, Naruto berhasil memenanginya tanpa adanya balasan yang berarti. Mental yang terganggu oleh musuh dapat menyebabkan kehilangan fokus bahkan pingsan. Dan tebak itu ajaran dari siapa?
Keempat, salah satu dari Seven Conquerors muncul lagi. Dan ia adalah Azazel a.k.a Jave. Apa keperluannya bertemu dengan Naruto? Hmmm... misteri-misteri-misteri-misteri dan misteri...
Kelima, ini mengenai saran dari Acies Adam-senpai, terima kasih sebelumnya untuk saran tersebut. Cukup menarik. Tapi mungkin, pada Job Mage itu akan dibagi menjadi beberapa Divisi atau Kelas. Itu masih mungkin. Saksikan kelanjutannya yah~
Keenam, eh ada lima saja rasanya... Maaf~
Intinya, kalau kalian merasa ada yang aneh dengan fic ini, atau ada kesalahan kata, penulisan, kesalahan jalan cerita, pengertian, bisa disampaikan di review. Jika kalian tidak suka, monggo diberikan kritik dan flame. Kalau kalian merasa fic ini sampah tinggal di klik tombol back, tombol backnya gratis kok. Sampaikan kritik dan saran dengan bahasa yang sopan dan santun :)) Terima kasih ^.^
Ayato Amagiri a.k.a Nerdboys Out
.
#tronjaltronjolmahaasyik
#McQueenYaQueen
#SmackQueenYaQueen
