Family

Disclaimer : Furudate Haruichi.

Warning : OOC, Typo dan lain sebagainya.

a/n : Hika-chan berusaha secepatnya menuntaskan cerita yang belum kelar sebelum Hiatus. Kalian bisa liat profil Hika-chan kalau mau tau Hiatus karena apa --"

Akaashi kini duduk disofa ruang tamu rumahnya dan Bokuto. Pikirannya sedikit campur aduk sekarang. Mulai dari sikap kakak iparnya pada Keponakan imutnya itu hingga perkataan Hinata yang lirih mengatakan 'lelah'.

"Sebenarnya Shoyo kenapa? Apa hal yang membuatnya mengatakan lelah?" gumam Akaashi sembari memikirkan banyak hal. Selama ini dia menjadi psikolog anak tak pernah merasakan yang namanya dilema dan keraguan. Tapi sekarang apa? Uhh bahkan Akaashi sangat bimbang antara ingin mendekati Hinata agar Ia tau sebab musababnya. Tapi apa Kakak iparnya itu tidak akan mencegahnya? Mereka sangat menyanyangi Shoyo bukan? bermacam pikiran menyerang Akaashi lagi.

"Hm? Kau kenapa Anata?" Suara barithone sang suami menyapa pendengaran Akaashi. Sedikit Tersentak kaget, Ia langsung menatap orang yang baru saja bersuara.

"Bokuto.."

"Kau kenapa? Kulihat sejak kita pulang dari rumah Koushi-Nii kau selalu melamun." ucap Bokuto mengambil tempat disamping orang yang sekarang menjabat sebagai istrinya tersebut.

Akaashi menatap wajah tegas namun tampan milik suaminya. Kemudian menghela nafas perlahan.

"Aku bingung.. Kau tahu, Saat peperangan antar saudara diruang keluarga Nii-chan dengan maksud memperebutkan Shoyo.. Shoyo mengatakan lelah. Aku bingung sungguh, Kenapa dia bisa mengatakan hal itu. Dan juga.. Sikap Daichi-Nii padanya nampak berbeda dengan sikapnya pada semua Nii-san Shoyo. Aku.. Aku sungguh bingung Bokuto." jelas Akaashi panjang lebar. Bokuto hanya diam, namun Ia juga berpikiran sama dengan Akaashi pasal kakaknya yang seperti membedakan sikapnya pada Hinata.

"Apa mungkin.. Nii-san ingin membuat Shoyo menjadi penerus keluarga? Kau tahu bukan, penerus perusahaan dan lain sebagainya. Jadi mungkin Nii-san ingin membuat Shoyo mandiri terlebih dulu?" ucap Bokuto tiba-tiba, mengejutkan seorang Akaashi.

"Penerus perusahaan? Bukankah seharusnya hal itu jatuh pada anak pertama? Kenapa harus Shoyo? Dan lagi dia masih kecil! belum saatnya Ia merasakan hal seperti itu. Bagaimana kalau Shoyo tertekan dan.. dan.. dia..." ucap Akaashi khawatir dan tak bisa melanjutkan perkataannya.

"Sayang tenang, itu hanya perkiraanku. Tapi Kurasa Nii-san menyayangi Shoyo. Tapi mereka seperti menyembunyikannya. Mereka menyayanginya dalam diam?" ucap Bokuto mencoba menenangkan Akaashi.

"Kalau yang kau lakukan sekarang untuk menenangkanku. Maka kau salah besar Bokuto. Kau tak bisa membohongiku."

"Astaga Istriku memang tak bisa dikelabui." canda Bokuto.

"Ah sudahlah.."

"Hei bagaimana kalau kita membeli rumah dekat rumah milik Nii-san. Jadi kita bisa melihat perkembangan Shoyo kedepannya. Bagaimana hm?" tawar Bokuto membuat Akaashi langsung menatapnya tak percaya.

"Ya, aku tahu kau sangat menyukai Shoyo bukan? Aku juga menyukainya. Bahkan sangat. Jadi mengapa tidak?"

"Apa kita tak bisa membawanya saja Bokuto? Aku ingin dia selalu bersama kita!" ucap Akaashi mulai tak jelas.

"HAH?! Apa yang kau maksud dengan membawanya Akaashi?!" kaget Bokuto.

"Kau tahu bukan, Kalau dia terus-terusan diperlakukan seperti tadi dia akan tertekan. Itu akan berdampak pada psikologisnya nanti. Jadi kenapa kita tak menjauhkannya saja dari hal itu. Kita bawa dia darisana. Kalau perlu keluar negeri sekalipun Bokuto!" Oke jujur setelah mendengar perkataan istrinya ini Bokuto bingung mau apa. Istrinya sekarang nampak sangat ingin menculik keponakannya sendiri.

"Tapi kalau ketahuan kita bisa dalam bahaya. Kau tahu bukan Daichi-Nii sangat mengerikan bila sudah marah."

"Aku tahu, tapi psikologis Shoyo lebih penting bukan?!" jawab Akaashi keras.

"Akaashi.. kita tak bisa melakukan itu. Itu sama saja dengan penculikan. Lebih baik seperti yang kukatakan tadi saja, Kita beli rumah didekat milik Nii-san. Dan kita bisa berkunjung setiap hari kerumahnya. Melihat perkembangan Shoyo. Bagaimana?"

"Baiklah.. tapi sungguh aku.. aku ingin Shoyo menjadi anak kita. Milik Kita." sahut Akaashi lirih diakhir.

"Aku paham sayang. Aku juga begitu." ucap Bokuto memeluk Akaashi sayang.

"Kalau begitu ayo culik Shoyo!!" pekik Akaashi semangat. Bokuto langsung tepok jidat.

oOo

Hinata menyiapkan alat-alat sekolahnya, Ia tak ingin terlambat hanya karena lupa menyiapkan alat sekolahnya saat pagi hari. Jadilah Ia menyiapkannya setiap malam.

Ah kalau paman Akaashi disini mungkinkah Ia membantuku menyiapkan alat sekolah seperti yang dilakukan Ibu dengan Nii-chan? pikir Hinata sendu.

Hinata dengan lihai memasukkan barang-barangnya kedalam tas berwarna kuning cerah miliknya. Kalau kalian tanya sebenarnya Hinata sekolah dimana tentu saja jawabannya adalah TK. Hinata masih sekolah di Taman Kanak-kanak milik Paman dan Bibinya. Paman Asahi dan Bibi Shimizu, Ah Hinata ingat saat pertama masuk ke tk milik paman dan bibinya menyambutnya dengan hangat. Tapi sungguh, Hinata tak percaya dengan sikap yang mereka berikan. Hinata merasa itu hanya sebatas formalitas saja.

Lima menit kemudian Hinata telah selesai menyiapkan alat tulisnya. Namun, ia tak segera tidur. Ia lebih memilih membaca buku di meja belajarnya. Sungguh tipikal anak rajin. Ia terus membaca hingga tak menyadari Ayahnya yang sedari tadi menatapnya dari ambang pintu.

Menghela nafas pelan Daichi kemudian menutup kamar milik Hinata dan Kageyama. Menuju kamar miliknya sendiri untuk menemui istri tercintanya.

"Kau darimana saja?" tanya Sugawara berbasa-basi.

"Memeriksa anak-anak apa sudah tidur atau belum."

"Lalu?"

"Semua sudah tidur, kecuali Shoyo."

"Kenapa tidak menyuruhnya tidur? ini sudah jam tidur miliknya bukan?"

" Shoyo sedang belajar. Sungguh aku merasa gagal menjadi seorang ayah hari ini. Aku memarahi dan membentaknya dengan kasar. Aku.. aku sungguh.. menyesal." Daichi mengusap wajahnya kasar.

"Sudahlah Daichi, Bukan kau saja yang merasa begitu. Aku juga merasa buruk, Daichi. Aku kadang lupa membawa piring sarapan miliknya. Seharusnya dia yang lebih dulu makan bukan? Dan kadang juga aku lupa menjemputnya karena terlalu sibuk. Apa.. aku pantas dia panggil Ibu sekarang?" sahut Sugawara lirih. Daichi langsung menarik istrinyanya kedalam pelukannya.

"Sudahlah sayang.. jangan bilang begitu. Kita masih belum terlambat bukan? Kita bisa merubah semuanya. Kita harus memperhatikannya lebih. Kalau tidak.. Ia bisa menjauh dari kita. Atau mungkin lebih buruknya ia lebih memilih Bokuto dan Akaashi."

"Aku tak ingin itu terjadi Daichi. Hiks.. Shoyo anak kita. Milik kita yang berharga." sahut Sugawara.

"Aku tahu sayang. Maka dari itu mulai besok. Kita fokus kepada anak-anak kita, tak ada perbedaan diantara mereka."

"Hn.."

*TBC

Hey hey hey! Chapter baru udah update yuhu~

Gimana?

Seru?

Menarik?

hehe.. maaf kalau masih ada kekurangannya ne~

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Author juga tak tau hahaha *Digeplak.

Gak lama lagi Sho-chan akan bahagia~ percaya deh sama Hika-chan ne~

terima kasih telah membaca.. Jangan lupa Review, Fav and Follow :)