Family

Disclaimer : Furudate Haruichi.

Warning : OOC, Typo dan lain sebagainya.. Sho-ai maybe..

A/n : Osu! minna-san~ (・ω・)ノ gomen kalau Hika-chan lama pake banget buat ngeupdate ffn ini, padahal Hika-chan bentar lagi Hiatus jiaahahaha.. Php ya? Udah jangan kesel.. kesel itu berat biar author aja " *UdahBasiOyy!

Happy Reading Minna-san~

Hinata tengah memakai seragam sekolahnya, memandang pantulan dirinya dicermin yang besar untuk dirinya.

"Seperti biasanya ya?" gumamnya masih menatap refleksi dirinya dicermin.

Menghela nafas, Ia mengambil tas sekolahnya dan kemudian berjalan keluar kamarnya. Sejak tadi Ia sudah sendirian, mungkin kakaknya, Kageyama sudah di ruang makan pikir Hinata tak ambil pusing.

Hinata bingung, apa Ia harus menuju ruang makan sekarang? Tapi bagaimana kalau ibunya lupa membuatkannya sarapan seperti sebelum-sebelumnya? memikirkan ini,Lagi.. Hinata menghela nafas kembali.

"Shoyo.." Suara barithone milik sanga Ayah menyapa indra pendengarannya. Sungguh, Hinata langsung berjengit kaget mendengar panggilan Ayahnya itu. Dengan gerakan kaku, Hinata berbalik menatap sang Ayah.

"Shoyo kenapa masih disini, ayo keruang makan." ucap Daichi lembut. Hinata hanya melongo mendengar kata-kata Ayahnya yang sangat lembut sekali. Apa Badai salju akan turun hari ini? pikir Hinata.

Daichi yang melihat anaknya terdiam tak ambil pusing, Ia tau pasti Hinata terkejut sekarang. Tanpa ragu Ia langsung menggendong Hinata yang masih melongo menuju ruang makan.

Sesampainya diruang makan Hinata telah sadar sepenuhnya. Ia kali ini dibuat takjub kembali, ketika melihat tempat yang biasa ia duduki sudah ada sarapan miliknya. Waw Ibunya kali ini tidak melupakannya.

"Shoyo ayo makan sarapanmu."ucap Sugawara tersenyum lembut. Untuk kali ini Hinata merasa agaknya ada yang mencurigakan dari kedua orang tuanya. Mungkinkah kemarin ada alien yang masuk kerumahnya, dan membuat kepala orang tuanya terbentur sehingga kali ini memperhatikan dirinya? Hinata makin berpikir keras kali ini sembari menatap sarapannya.

"Daichi dudukkan Shoyo dibangkunya." ucap Sugawara memerintah sebenarnya. Daichi menghela nafas. Kemudian mendudukkan anak bungsunya ke kursinya. Jujur Daichi tak ingin anak bungsunya duduk dikursinya sendiri. Ia ingin memangku Shoyonya dan menyuapinya seperti saat Hinata masih berumur 3 tahun.

"Ne~ Shoyo.. nanti Nii-san jemput ya?" kali ini Tanaka bersuara. Hinata mengernyit heran.. Apa maksud Ryu-nii dengan jemput? pikir Hinata.

"Tidak.. Jangan dengarkan dia Shoyo, Kei-Nii yang akan menjemputmu pulang sekolah nanti." ucap Tsukishima memegang tangan mungil Hinata yang duduk disampingnya.

"Eh?" Hinata bingung, lagi-lagi dia menyernyitkan keningnya.

'Tumben.. Biasanya juga gak ada yang mau jemput aku.. sampai-sampai aku harus pulang sendiri.' batin Hinata.

"Sudah-sudah.. makan dulu sarapan kalian.." Sugawara mencoba mencegah perang yang akan terjadi.

"U.. Umm.." Semua mengangguk, tak terkecuali Hinata.

'Ting Tong' bel rumah berbunyi, Daichi dan Sugawara saling pandang satu sama lain. Seingat mereka hari ini mereka tak ada janji temu atau apapun.

'Ting Tong' Lagi bel berbunyi kembali.

Hinata menghela nafas. Bukannya Ia tak suka makanannya atau apa tapi Ia tak suka kalau saat Ia makan ada suara-suara mengganggu seperti halnya sekarang.

"Biar Shoyo yang bukain pintunya." ucapnya setengah malas. Yang tentu saja diketahui oleh Orang tuanya kalau mood Hinata tengah turun.

Hinata melompat kecil untuk meraih gagang pintu dan membukanya.

Hinata menatap datar orang yang baru saja memencet bel.

"A.. Ah.. Ohayou Sho-chan.. Dimana Ayah dan Ibumu." ucap Yaku gugup karena ekspresi Hinata yang memandangnya datar. Seseorang mengintip dari balik tubuh Yaku, Hinata tau siapa dia.. Siapa lagi kalau bukan..

"Hora Lev, bukannya kau juga ingin bicara dengan Shoyo. Kau tadi saat dirumah sangat bersemangat ingin bertemu dengannya. Padahal disekolahmu nanti bisa." ucap Kuroo yang ada disamping Yaku. Yaku hanya terkekeh mendengar ucapan sang suami. Namun Hinata masih memasang wajah datarnya.

"Silahkan masuk paman,Lev-Nii dan ... Kenma-Nii?" ucap Hinata mempersilahkan keluarga Nekoma itu masuk kerumahnya, eh ralat maksudnya kerumah orang tuanya.

Belum sempat Ia menutup pintu Ia dikejutkan dengan kedatangan Akaashi dan Bokuto yang kini sudah memeluknya.

"Shoyo.. Paman kangen." ucap Bokuto memeluk sang keponakan erat.

"Paman.. se..sak." ucap Hinata hampir kehabisan nafas akibat pelukan maut Bokuto. Akaashi langsung menjitak sayang sang suami.

"Ittai.. Kenapa sih Akaashi!" pekik Bokuto.

"Shoyo hampir kehabisan nafas karena mu Baka!"

Melihat Kedua pamannya bertengkar membuat Hinata tak bisa diam untuk membungkam mulut keduanya. Awalnya sih Hinata pengen nyumpalin Mulut mereka pakai kaus kakinya. Tapi takut durhaka jadilah Hinata memilih untuk melerai dengan pelukan hangatnya.

"Tak apa Paman.. Shoyo juga Kangen kalian." ucap Hinata memeluk kedua paman yang paling Ia sayangi itu.

"Uhh~ Shoyo.. my son!" ucap Bokuto mulai ngalay.

"Andai Shoyo anak kita." kini Akaashi bergumam. Hinata hanya senyam senyom. Mungkin mereka kira Hinata tidak mengerti akan maksud 'My son' dan maksud kata-kata Akaashi tadi. Perlu diingatkan kembali, Hinata bukan anak bodoh. Ia jenius. Jadi hal seperti ini mudah Ia ketahui.

"Paman, Ayo keruang makan. Tadi Ayah dan Ibu Lev juga ada. Ayoo.." ajak Hinata memasang jurus puppy eyesnya. Yang tentunya membuat siapa saja ingin mengarungi anak bungsu Karasuno itu. Akaashi mati-matian melawan hasrat untuk menculik keponakannya itu.

"Ah Paman, tolong tutup pintunya ya?" ucap Hinata pada Bokuto Sedangkan Akaashi menggendong sayang Hinata.

"O.. Oke."

oOo

Hinata memasuki ruang makan bersama Akaashi. Ibunya yang asik bercanda diruang makan tak menyadari kehadiran mereka.

Hinata didudukkan oleh Akaashi di tempatnya.

"Shoyo kenapa lama?" tanya Daichi yang masih tak sadar ada Akaashi disana.

"Paman Akaashi dan Paman Bokuto juga datang karena itu Shoyo lama." sahutnya seadanya.

Mendengar nama Akaashi dan Bokuto, Daichi langsung menatap orang yang ada disebelah anak bungsunya.

"Ohayou Nii-san." ucap Akaashi sembari tersenyum. Mau marah juga tak mungkin kan? Jadi Orang tua Hinata hanya bisa tersenyum kikuk saat ini.

"Hm.. Shoyo sudah makan sarapannya.. yah, padahal Paman buatin sarapan juga buat Shoyo. Tak apalah.." ucap Akaashi sok sedih padahal enggak. Batin Daichi dan Sugawara berteriak histeris mendengar ucapan Akaashi tadi.

"Ah.. tapi.. Shoyo ini, Bento buatan Paman untukmu saat disekolah. Kau harus makan banyak biar cepat besar." ucap Akaashi memberikan bento buatannya yang sudah terbungkus rapi. Hinata memandang takjub ke arah bento buatan Pamannya itu.

"Terima kasih, Mama Akaashi!" pekik Hinata senang, saking senangnya Ia kini memanggil Akaashi dengan tambahan mama bukan Paman. Sugawara menggigit bibir bawahnya, Ia ingin meneriaki adik iparnya sekarang.

"Shoyo, ano.. emm.. etto.." Lev mencoba berbicara dengan Hinata. Hinata menunggunya berbicara.

"itu.. em.. Ini.. Bonekamu.. maafkan aku waktu itu sudah keterlaluan ya?" ucapnya Memberikan boneka gagak milik Hinata.

Sugguh ini kejutan yak terduga. Semua orang tampak memperhatikannya sekarang. Apa ini mimpi? tapi ini seperti nyata, pikir Hinata.

Hinata tersenyum mengambil boneka kesayangannya dari tangan Lev.

"Terima kasih, Lev-Nii!" pekiknya.

"Memang seharusnya begini." ucap Kenma tersenyum tipis.

"Ya, kau benar Kenma!" sahut Nishinoya semangat.

"Senyumnya sangat menawan." ucap Kageyama dan Tsukishima berbarengan.

"Ah maaf mengganggu pagi indah kalian, Nii-san!" ucap Bokuto baru memasuki ruang makan.

"Ta.. tak apa."

"Ah Shoyo kau imut sekali." ucap Bokuto yang melihat Hinata memakan sarapannya dengan lahap sehingga pipinya yang berisi semakin berisi.

Bokuto langsung memotret keponakan lucunya itu.

"Bokuto! Tadi Shoyo memanggilku mama!" pekik Akaashi senang, mengabaikan orang-orang yang ada disana.

"a.. ah begitu?"

"Umm.." Akaashi mengangguk senang.

"Shoyo sudah selesai. Shoyo berangkat sekarang ya?" ucap Hinata datar. Ia teringat kembali saat-saat tidak ada yang mau mengantarnya.

"Shoyo biar paman antar!/Biar Ibu antar" pekik Akaashi dan Sugawara berbarengan.

"Mama mau antar Shoyo?" ucapnya memandang Akaashi berbinar.

"Yatta! Ayo mama antar Shoyo sekarang!" Ah Akaashi bersyukur sepertinya Hinata tak mendengar ucapan Sugawara tadi.

"Ayo!" Akaashi dan Hinata keluar dari ruang makan, sebelum mereka keluar, dapat Sugawara lihat senyum meremehkan dari Akaashi pada dirinya. Sungguh sekarang Sugawara kesal level 999999!

Daichi memandang kesal pada Bokuto yang tak mengehentikan istrinya.

"Anak-anak.. kalau sudah sarapannya ayo kita berangkat biar paman yang mengantar kalian haru ini." ucap Kuroo mengalihkan perhatian anak-anak yang ada disana. Serempak mereka mengangguk dan mulai meninggalkan ruang makan. Kini tinggal Bokuto, Daichi dan Sugawara yang ada disana.

"Kenapa kalian ada disini? Bukankah kalian harusnya berada di Tokyo?" ucap Daichi.

"Kami pindah tugas kemari Nii-san. Oh iya? kami membeli rumah disamping. Jadi kita tetanggaan sekarang." ucap Bokuto tersenyum.

"Cukup, Sebenarnya kenapa kalian kemari? Ingin mengambil anakku?! Kau tau sendiri Shoyo anakku, Bokuto! Aku juga ingin mengantarnya kesekolah seperti Ibu lainnya! Kenapa kau tidak menghentikan Akaashi tadi?!" Kesal Sugawara.

"Ya, Ya!! Aku sangat menyayangi Shoyo seperti anakku sendiri. Mendengarnya memanggil Akaashi Mama membuat hatiku menghangat, Aku tahu dia anakmu. Tapi apa yang kalian lakukan selama ini? Akaashi bilang Shoyo tertekan! Apa kalian tau itu? APA KALIAN TAU!!"

"Diam Kau Bokuto!!"

"Kalian yang harusnya diam!! Pikirkan kesalahan kalian selama ini sehingga Shoyo dengan mudahnya memanggil Akaashi dengan sebutan mama!! Bukannya menyalahkannya pada kami."

"Tapi ini semua juga karena kalian selalu mencoba mengambil alih perhatiannya!"

"Itu karena kalian jarang memperhatikannya?!" Sahut Bokuto kesal.

"Kami selalu memperhatikannya!" balas Sugawara.

"Kalau begitu, bisa katakan apa makanan kesukaan Shoyo?" ucap Bokuto tersenyum.

"A.. ah itu.."

"Tak tau? Kalian tak tau bukan?! Memangnya apa yang kalian kerjakan selama ini?!"

"Ingat kata-kataku Nii-san, Kalau kalian tak ingin Shoyo pergi dan memilih bersama kami. Hilangkan sifat menyebalkan kalian ini. Oh iya aku lupa.. Tolong Pantau rekan kerjamu yang baru itu. Aku takut dia mencelakai Shoyo." ucap Bokuto meninggalkan ruang makan.

Daichi mengernyit heran, Ia bingung apa maksud dari Bokuto tentang rekan kerjanya. Tapi entahlah.. Ia tak ingin ambil pusing. lebih baik Ia memfokuskan dirinya untuk menbuat Shoyonya melihatnya tanpa rasa ketakutan dan juga menjadikannya pewaris utama keluarga.

*TBC

Hey hey hey! Apa apaan ini?!Perebutan ! aahaha..maaf kalau kurang menarik ya..terima kasih sudah berkunjung :D

See You in Next Chapter!