Family
Disclaimer : Furudate Haruichi.
Warning : OOC, Shounen-ai, typo dan lain sebagainya.
Hinata berjalan dengan digandeng oleh Akaashi menuju sekolahnya. Sesekali Ia melirik pamannya yang jauh lebih tinggi darinya. Wait berjalan? Tentu saja, karena letak sekolah Hinata dan rumahnya tak terlalu jauh. Berbeda dengan sekolah Nii-channya. (Au :Iyalah beda.. kan mereka udah Sekolah Dasar *plak.)
"Ada apa Shoyo? Kenapa daritadi memperhatikan terus?" tanya Akaashi yang kini menunduk menatap balik wajah sang keponakan.
"Mama, Sebenarnya.. apa itu keluarga?" tanya Hinata menatap lurus kedepan, sedangkan Akaashi mengernyit heran dengan tingkah keponakannya yang mulai terlihat agak pendiam sejak mereka keluar rumah tadi.
"Hm.. Keluarga itu tempat kita kembali, tempat kita beristirahat dan mengeluarkan segala apa yang telah terjadi. Keluarga itu berisi orang-orang yang kita sayangi dan yang menyayangi kita. Keluarga pula ya-"
"Lalu bagaimana bila yang terjadi adalah.. hanya kita yang menyayangi, sedangkan yang lain tidak?"
"Tidak ada yang tidak menyayangi didalam keluarga."
"Tapi Kaa-chan dan Tou-chan hanya menyayangi Nii-chan.. Shoyo tidak."
"Shoyo.. dengarkan paman,mereka pasti menyayangimu juga, tapi mereka menyembunyikannya. Mereka ingin Shoyo menjadi orang yang kuat, tegar dan mandiri. Jangan berpikir tidak ada yang menyayangimu, sayang." ucap Akaashi mensejajarkan dirinya dengan sang keponakan. Membelai pipi gembil Hinata lembut.
"Tapi kenyataannya memang begitu. Shoyo.. Shoyo bahkan berbeda dari mereka semua." ucap Hinata menunduk. Akaashi tersenyum memaklumi apa yang dikatakan Hinata. Memang, Hinata nampak berbeda dari segi fisik. Namun setelah Akaashi mengetahui hal yang paling penting dari silsilah keluarga. Ia menemukan bahwa dibalik perbedaan itu, adalah hal paling penting dan utama bagi keluarga besarnya. Pewaris utama keluarga Karasuno memang memiliki fisik yang berbeda dari yang lain dan secara turun temurun pewaris utamanya selalu bersurai jingga dan memiliki iris sewarna madu.
"Kalau kenyataan memang begitu, Kau tak perlu sedih. Masih ada Paman dan Paman Bokuto. Kami sangat menyayangimu dan mencintaimu." ucap Akaashi membelai surai jingga milik Hinata. Hinata sontak menatap tak percaya pada Pamannya tersebut.
"Em.. Jadi, apa paman marah Shoyo panggil Mama?" tanya Hinata lirih memalingkan wajahnya ke arah lain. Akaashi tersenyum kembali.
"Shoyo dengarkan Paman, Paman tidak marah. Bahkan sebaliknya, paman sangat senang kau memanggil paman dengan sebutan Mama. Kalau bisa.. Paman ingin kau terus-terusan memanggil Paman dengan sebutan Mama. Karena bagi Paman, Shoyo sudah seperti anak Paman sendiri." ucap Akaashi sedikit tersenyum miris.
Hinata yang mendengar itu membola. Ia senang, sangat senang. Sontak Ia memeluk erat Paman yang sudah Ia anggap sebagai Mamanya itu.
"Mama.. Mama.. hiks.. Mama." ucap Hinata berulang kali. Akaashi memeluk dan mengusap punggung Hinata menenangkan.
"Iya sayang.. jangan menangis. Shoyo kan anak laki-laki." ucap Akaashi menenangkan.
"Shoyo senang.. hiks.. Sejak dulu Shoyo terus memikirkan semua ini. Apa itu keluarga? Apa ada orang yang menyayangi Shoyo? hiks.. tapi sekarang Shoyo senang. Mama hadir untuk Shoyo. Terimakasih Ma." ucap Shoyo dan memberikan kecupan dipipi Akaashi.
Perasaan Akaashi sekarang sangat-sangat bahagia. Keponakan paling tersayangnya memanggilnya Mama dan itu untuk selamanya!
"Baiklah.. sekarang kita lanjutkan perjalanan kesekolahnya. Dan... Hup!" ucap Akaashi yang kini menggendong Hinata. Hinata hanya tersenyum dan memeluk leher Akaashi erat. Sesekali Ia tertawa senang hingga ia ingat sesuatu.
"Mama.. Mama tau sekolah Shoyo dimana?" tanya Hinata dalam gendongan Akaashi.
"Tentu saja. Mamakan ingin melihat bagaimana perkembanganmu. Makanya mama mencari tahu semua tentangmu." sahut Akaashi tersenyum lembut.
"Mama memang yang terbaik." ucap Hinata dan mencium pipi kiri Akaashi.
oOo
"Daichi, aku.. aku tidak ingin Shoyo memilih bersama dengan Bokuto." ucap Sugawara yang duduk di sofa yang ada didalam ruangan kerja Daichi.
"Haah.. aku juga tak ingin hal itu Koushi." sahut Daichi menatap map-map yang perlu ditanda tanganinya.
"Kita harus menghentikan mereka, Daichi."
"Hm."
Sugawara sedikit kesal dengan sahutan suaminya itu, Oh demi apa. Dia sedang dalam mode serius dan hanya disahuti seperti itu. Melihat tajam kearah sang suami yang tengah sibuk dengan map-map diatas mejanya. Sugawara langsung berdiri dan dengan langkah cepat Ia berjalan kearah sang suami.
'BRAK'
Meja kerja Daichi yang tak bersalah digebrak kencang oleh Sugawara.Daichi tentu saja terlonjak kaget karena tingkah mengejutkan istrinya itu.
"Oh astaga Daichi! Seriuslah sedikit. Anak bungsu kita lebih lengket pada adik iparmu sendiri apa kau tak merasa khawatir sama sekali?!" geram Sugawara.
"A.. ah maaf Suga.. aku.. aku.. salah." sahut Daichi takut-takut.
"Haah.. Aku tak ingin membuat kesalahan lagi, Daichi. Aku tak ingin anak bungsu kita semakin menjauhi kita. Sudah cukup melihatnya bahagia dengan orang lain. Aku sudah tak sanggup lagi." keluh Sugawara sendu.
"Koushi.. jangan bersedih oke? aku tahu perasaanmu. hm.. bagaimana kalau kita jemput anak-anak? Sekarang jam pulang bukan?" Sugawara yang tadinya sedih kini langsung semangat.
"Ayo!" pekiknya senang, Ia tak sabar ingin menjemput si bungsu.
"Hm.. tapi setelah aku menyelesaikan ini oke?"
"No, sekarang atau kau tidak dapat jatah selamanya." ancam Sugawara diikuti dengan tatapan tajamnya.
"Yak jangan begitu, Oke oke kita pergi sekarang!" pasrah Daichi.
oOo
Hinata duduk-duduk santai dibangku dekat pohon. Ia ingin membuktikan apa perkataan kakak-kakaknya benar-benar terbukti. Bahwa akan menjemputnya.
Cukup lama Ia duduk, dan itu membuatnya bosan yang amat sangat.
Demi menghilangkan rasa bosannya sesekali Ia menyenandungkan lagu anak-anak yang sedang popular, seperti Love hime diiringi dengan goyangan maut ala Hinata Shoyo dibawah pohon rindang tersebut.*Plak (Kageyama : Author bogee! Itu mah bukan lagu anak-anak Aho!/ Au: tapikan itu.. itu .. lagu lagi ngehits./ Tsukishima : Yakali ngehits, tapi sejak kapan adek gua lu cemarin buat ngapal lagu macam itu? Dia masih kecil tau!/ Au: elah.. ngakuin adik lo ternyata. / Tanaka : Hei hei.. kenapa Shoyo joget-joget sendirian? kenapa gak bareng aku?/ Au : Iyalah .. lu kan sekolah -_-"/ Nishinoya : Ya ya ya.. aduh jadi pengen joget juga, Tapi ini sudah basi, dasar ... author.. author./Au: Belum basi kok :v *plak)
Hinata yang tinggal sendirian disekolahnya itu asik dengan apa yang dilakukannya. Walaupun memang masih ada Satpam yang mengawasinya dari kejauhan karena suruhan dari pemilik sekolah yang tak lain dan tak bukan adalah paman dan bibi Hinata.
Seseorang mengawasinya dari kejauhan, sedikit menaikkan sudut bibirnya.
"Akhirnya kutemukan juga.." gumamnya.
oOo
Hinata masih asyik dengan kegiatannya, Satpam yang sedari tadi memperhatikannya pun agaknya sudah kelelahan melihat keaktifan bocah berusia lima tahun yang masih sibuk dengan nyanyian dan goyangan mautnya.
"Hei nak, kau sedang apa?" barithone milik seseorang menyapa pendengaran Hinata. Namun, Karena sedang asik dengan jogetan maut plus nyanyiannya Ia mengabaikan orang yang tadinya bersuara.
Merasa terabaikan orang itu kini terlihat sedikit kesal.
"Nak.. aku berbicara padamu."
"Nak?" ucap Hinata berbalik menatap orang yang tadi memanggilnya Nak. Mengernyit heran, ditatapnya intens pemuda yang kemungkinan seumuran dengan Ayahnya itu dari ujung kaki sampai kepala.
Jas kerja hitam mewah seperti milik Ayahnya, surai hitam kecoklatan. Dan sorot mata tajamnya berwarna cokelat mirip warna permen coklat kesukaan Hinata.
"Heeh.. paman mengganggu konserku. Dan lagipula Shoyo bukan anak paman. Kenapa manggil-manggil Shoyo 'Nak'? " sahut Hinata polos.
Orang yang dipanggil Paman, hanya melongo. Demi apa, Anak yang dihadapannya ini mengatakan sedang konser? Ditempat sepi dan sunyi? Tak ada orang sama sekali. Yah walau ada Satpam yang berada dipos dekat gerbang memperhatikan gerak-gerik bocah berambut jingga didepannya ini.
Dan demi apa? Kenapa memanggilnya Nak? Itukan karena memang dia masih anak-anak.
"Konser apa? Yang ada kau merusak pemandangan saja."
"Memangnya paman ini siapa sih, seenaknya saja mengatakan kalau Shoyo merusak pemandangan. Padahal sedari tadi Shoyo hanya goyang-goyang sambil nyanyi. Bukannya ngerusak pemandangan yang ada!" gerutu Hinata.
"Namaku Ushijima Wakatoshi, rekan bisnis Ayahmu. Dan Kau memang merusak pemandangan bocah."
"Jangan panggil aku bocah, Paman!" Ushijima langsung melongo. Mendengar Hinata mengucapkan itu, Ia teringat kartun yang sering ditonton adik sepupunya. Entahlah apa judulnya, Ushijima lupa.
"Kau.. namamu Sawamura Shoyo, bukan?" Hinata mengernyit heran.
"Darimana Paman tahu?!" Pekiknya Kaget.
"Itu.." tunjuk Ushijima pada name tag Hinata yang ada di bagian depan seragam. Padahal Ia memang tahu, karena Hinata adalah anak dari rekan bisnisnya.
"Oh.."
Bagai teringat sesuatu, Hinata langsung merubah posisinya keposisi bertahan. Tapi yang Orang itu lihat adalah Hinata sedang bergaya ala Power Rangers yang ingin bertarung.
"Hei tak perlu seperti itu, aku bukan orang jahat." Ushijima mendekati Hinata yang masih dalam posisi bertahannya.
"Paman mau apa?"
"Mau berbicara sebentar dengan paman? Ada yang ingin paman bicarakan denganmu."
"Tapi.. Paman terlihat mencurigakan! Paman mau menculik Shoyo ya?"
"Yak, tak mungkin aku melakukan itu. Aku rekan kerja Ayahmu. Untuk apa aku melakukan itu?"
"Untuk bisnis?"
"Kau masih kecil, memang tau tentang bisnis?" tanya Ushijima mulai ngawur.
"Tentu saja. Shoyo sering melihat Tou-chan bekerja. Dan beberapa kesempatan Shoyo melihat dan membaca beberapa hal tentang bisnis."
"Hee.. Kau ini. Jadi bisa bicara sebentar dengan Paman?"
"Hm.. tidak.. Mama pasti akan jemput Shoyo, kalau Shoyo tak ada nanti Mama sedih. Kalau mau paman bicara disini saja." Hinata beralasan.
"Baiklah.." Ushijima mengambil tempat dikursi yang ada. Hinata hanya mengikutinya tanpa berbicara. Hingga cukup lama waktu berlalu, dan itu membuat sebuah gelombang kecanggungan dari mereka berdua.
"Hm.. Kau kenapa belum dijemput?" tanya Ushijima tiba-tiba.
"Tak tau. Paman sendiri kenapa kemari? Anak paman sekolah disini? Tapi disini tinggal Shoyo sendiri. Yang lainnya sudah pulang."
"Ah aku tadi disuruh Papamu untuk melihatmu. Apa sudah pulang atau belum. Tapi kau bilang tadi mama mu akan menjemputmu, terus dimana dia sekarang?" Ushijima beralasan agar Hinata tak curiga padanya.
"Memang benar kok. Mama Akaashi akan jemput Shoyo!"
"Bentar-bentar.. maksudmu Akaashi istri dari Bokuto itu?" Hinata mengangguk seadanya.
"Kenapa jadi dia yang menjemputmu? bu-"
"Kaa-chan sibuk, Tou-chan juga. Tapi kalau untuk Nii-chan mereka tidak sibuk. Hanya hal yang bersangkutan dengan Shoyo mereka sibuk." potong Hinata menunduk memainkan jarinya sendiri.
"Jadi.. Ke-"
"Haah.. Pasti mama sibuk dan Tou-chan, Kaa-chan serta Nii-chan itu hanya membual dengan berkata ingin menjemputku."
"Sudah dulu ya paman, Shoyo mau pulang. Banyak pr." lanjut Hinata berdiri dari duduknya. Tersenyum cerah dan kemudian melambaikan tangannya pada Ushijima.
Ushijima melirik sebentar kearah pos satpam, yang mana pos itu terlihat kosong. Mungkin mereka sedang makan siang atau entahlah, Ushijima tak peduli.
Tersenyum tipis Ia langsung berdiri dan berlari kearah Hinata. Dengan cepat Ushijima menarik lengan Hinata.
"Eh?" Kaget Hinata, yang mana Ia langsung ditarik oleh Ushijima menuju mobilnya.
oOo
"Apa kau sudah menjemput dan mengantarkan Shoyo dengan selamat?" tanya Bokuto pada seseorang diseberang line teleponnya.
"Hm.. Mungkin? Kau tahu.. Sekian lama aku mengawasinya, kurasa dia kesepian. Di umur yang masih kecil dia berani pulang jalan kaki sendiri. Aku tak habis pikir apa yang dilakukan oleh Daichi." sahut lelaki yang ada diseberang telepon.
"Kau jangan salah sangka dulu. Mereka menyayangi Shoyo juga kok. Tunggu dulu tadi kau bilang Mungkin? Kau tidak mengantarnya pulang?!" sahut Bokuto agak kaget diakhir. Rasa cemas seakan menghantuinya kini.
"Tapi kau tahu? Dia lebih antusias saat menceritakan Akaashi daripada keluarganya. Dan haaah.. Tidak juga. Aku menjemputnya kok. Oh iya. Saat aku mau menjemputnya tadi aku melihat seseorang yang cukup mencurigakan."
"Haah.. Itu karena dia sering merasa diacuhkan, itu saja. Bicara yang jelas, Kau ini sebenarnya benar-benar menjemput dan mengantarkannya atau tidak? Jangan buat aku cemas."
"Haha Iya.. aku mengantarkannya dengan selamat kok. Dan aku ingin bilang.. Aku juga menyukai dan menyayangi anak itu. Entah kenapa dia sangat lucu."
"Tunggu dulu, aku tidak salah dengar bukan? Kau yang tidak suka anak-anak, tiba-tiba bilang menyukai dan menyayangi keponakanku? Yak jangan macam-macam dengan keponakanku! Tugasmu menjaganya kau ingat." sahut Bokuto panjang lebar. Takut-takut Orang yang sedang ia telepon ini melakukan sesuatu pada malaikat kecilnya.
"Haha..ini sungguhan Aho! Kau pikir aku bercanda apa? dan ya, tentu saja aku ingat. Memangnya kau pikir aku pikun apa!" sahutnya tak terima dengan perkataan Bokuto tadi.
"Haha..Baiklah-baiklah, Memang benar, tak ada yang bisa menolak pesona Shoyo. Aku hanya terkejut saja orang bermuka tembok sepertimu bisa luluh hanya karena melihat tingkah Shoyo." Bokuto sedikit terkikik geli.
"Hn.. Itu Karena Shoyo sangat imut. Dan Kau tenang saja. Kau bisa mengandalkanku dalam menjaganya."
"Terima kasih atas bantuanmu.. Ushijima."
*TBC
Hey hey hey!!
Tak terasa udah Chapter 9 aja ya..
Hm..
Gimana chap kali ini..
Absurd kan? dan... ngawur juga XD
Sedikit menambahkan tren 'hime hime' asikkan.. *Plak
Idenya ngalir gitu aja..
Hehe terima kasih sudah berkunjung..
Maaf kalau masih ada kekurangannya..
