Family
Disclaimer : Furudate Haruichi.
Warning : OOC, Shounen-ai, typo dan lain sebagainya.
A/n : Hai-hai~ hehe.. Hikari minta maaf kalo ngebuat kesel kalian. Hehe.. sudah jangan kesal, berat biar Author saja XD *plak
Happy Reading~
Hinata dengan perasaan yang sedikit ketakutan duduk diam disalah satu sudut ruangan.
Tubuhnya pun sedikit bergetar, entah karena apa. Tapi yang pasti setelah Ia di tarik oleh Ushijima tadi Ia dibawa ketempat yang tak diketahui sama sekali olehnya.
"Ma-Mama.. Shoyo takut." Gumamnya sembari memeluk dirinya sendiri.
'Cklek'
Suara pintu dibuka membuat Hinata kecil terlonjak dan langsung mengatensikan pandangannya pada pintu.
"Shoyo? Kamu kenapa?"
"Paman.. S-Shoyo mau pulang. Kenapa paman bawa Shoyo kemari?" Ucap Hinata dengan wajah ketakutan.
Ushijima mengernyitkan dahinya bingung. Sebentar, Shoyo tidak sedang merasa ketakutan bukan? Pikirnya.
"Shoyo."
"Paman."
Sahut mereka berbarengan. Kemudian tersenyum sedikit, Ushijima mendekati dan memeluk erat si kecil Hinata yang tengah berada disudut ruangan.
"Kau kenapa? Apa ada yang mengganggumu? Atau Kau takut padaku? Bukankah sudah kukatakan aku bukan orang jahat." Gumam Ushijima lembut. Hinata langsung menjawab dengan gelengan kepalanya.
"Katakan padaku, Shoyo sebenarnya kenapa? Sejak aku masuk seperti orang ketakutan." Tanya Ushijima lagi.
"Itu karena Paman.. me-menarikku kemari. Paman, antarkan aku pulang sekarang."
Ushijima melepas pelukannya, menatap intens mata sewarna madu yang ada didepannya.
Tadi Hinata bilang kalau dia ketakutan karena aku menarik dan tak mengantarkannya pulang melainkan membawanya kemari? Itukah maksudnya pikir Ushijima mulai berubah OOC, karena tidak cepat mengerti maksud Hinata.
"Sekarang?"
"U-Ung." Sahut Hinata mengangguk.
"Memangnya kenapa kau ingin segera pulang? Yang kutahu Akaashi jam seperti ini masih belum pulang, Bokuto juga." Ushijima memasang gerakan berpikirnya.
"S-Shoyo mau pulang karena banyak pr. P-paman tolong pulangkan Shoyo hiks.." kilah Hinata dan akhirnya Hinata menangis karena ingin dipulangkan. Padahal Ushijima sengaja membawanya agar bisa menghabiskan waktu bersama sikecil Karasuno itu.
"Memangnya kenapa?"
"S-Shoyo tak suka disini hiks.. Shoyo mau pulang hiks." Ushijima mengusap wajahnya kasar. Oh Ia frustasi dengan sikap Hinata yang menrengek minta diantar pulang.
Menatap Hinata yang masih terisak, kemudian Ushijima kembali memeluknya, mengelus punggung kecil Hinata lembut.
"Fine, kita pulang. Tapi.. jangan beritahu Mama, Papa, Kaa-chan dan Tou-chanmu. Paham?" Ucapan Ushijima dengan nada memerintahnya diakhir.
"Hn."
"Dan sebaiknya sebelum pulang.." Ushijima melirik meja yang ada diruang tersebut.
Hinata menatap wajah tegas Ushijima yang masih menggantungkan kata-katanya. Sedikit perasaan takut kembali menghantui Hinata.
"Habiskan makanannya. Aku sudah mau meluangkan waktuku hanya untuk makan siang berdua denganmu loh. Ayo dihabiskan dulu. Kalau kau melewatkan jam makanmu bagaimana kalau kau sakit nantinya." Ucap Ushijima panjang lebar memberikan nasehat dan tak lupa menyentil hidung milik Hinata. Hinata hanya melongo dan sedetik kemudian tertawa.
Ushijima mnggendong Hinata yang masih tertawa dan mendudukkannya kembali dikursi yang ada diruangan VIP sebuah restoran. Wait restoran? Ya, memang sejak Ushijima menarik paksa Hinata bagai penculik kelas atas, Ia membawanya kerestoran untuk makan siang. Dan ehem.. sedikit berbohong pada Bokuto dengan bilang sudah mengantarkannya sih, padahal belum diantar sama sekali.
"Shoyo habiskan oke? Dan tadi itu kau sebenarnya kenapa?"
Hinata berhenti tertawa dan menatap paman yang membawanya tadi, kemudian tersenyum.
"Tadi Shoyo sedang berlatih." Sahutnya.
"Berlatih?"
"Ung." Sahut Hinata menganggukkan kepalanya.
"Berlatih apa?"
"Berlatih peran sebagai anak yang diculik."
Mendengar itu Ushijima hanya bisa mengelus dadanya.
'Sabar.. sabar. Untung Shoyo cuma berlatih peran.' Batinnya meringis.
Kemudian membayangkan jika si kecil Karasuno itu sedang tidak berlatih peran dan benar-benar berpikir kalau Ushijima itu seorang penculik.
Penculik yang membawanya kerestoran cuma buat makan. Dan saat keluar nanti, Hinata akan berteriak minta tolong dan yang pastinya hal selanjutnya itu Ushijima yang dikerubung massa karena berani menculik anak dibawah umur.
'Plak'
Ushijima menampar-nampar pipinya. Hinata hanya mengernyit bingung.
'Ada apa dengan Paman itu?' Pikirnya. Namun sedetik kemudian Ia mengangkat bahu acuh dan lebih memfokuskan diri pada makanan yang Ia santap.
Ushijima akhirnya keluar dari khayalan tingkat tingginya. Memang terdengar berlebihan, tapi memang benar. Ushijima mengkhayalkan kalau Ia menculik Hinata dan berakhir dijeruji besi yang mana diisi oleh sekumpulan laki-laki berotot kekar.
"man.. PAMAN!!" Teriak Hinata.
"E-eh? Ya, Shoyo kenapa?"
"Paman kenapa? Sakit?"
'Iya sakit, sakit mikirin kamu!' Batin Ushijima keras.
"Tidak apa-apa. Sudah selesai?"
"Ung.. sudah Paman."
"Baiklah, sekarang ayo pulang." Hinata hanya menyahuti dengan anggukan kepala dan saat hendak turun dari kursi yang masih terbilang tinggi untuk ukuran Hinata, Ushijima langsung berinisiatif menggendong Hinata. Sedikit terkejut, Hinata hanya bisa menatap Ushijima.
"Kenapa?"
"Tidak ada apa-apa Paman." Sahut Hinata.
"Tapi.."
"Tapi apa Shoyo?"
"Jangan lupa bayar makanannya Paman." Sahut Hinata polos kemudian merebahkan kepalanya pada pundak milik Ushijima. Ushijima hanya bisa tersenyum.
"Hn.. baik tuan muda." Sahutnya.
oOo
Ushijima mengantarkan Hinata kerumahnya tepat pada pukul satu siang.
"Kita sudah sampai." Ucap Ushijima dengan sedikit tidak rela.
"Ung.. terima kasih Paman." Ucapnya sembari tersenyum manis.
Melepaskan seatbeltnya, dan hendak turun. Bagai teringat sesuatu, Hinata berbalik menatap Ushijima.
"Ada apa? Kenapa menatapku begitu?"
"Paman sini. Shoyo mau membisikkan sesuatu."
Mengernyit heran tapi tetap dilakukan juga oleh Ushijima. Sedikit menunduk agar lebih dekat dengan Hinata, bahkan sekarang Ushijima bisa mencium aroma wangi Hinata yang terkesan manis.
"Paman terima kasih atas hari ini, Shoyo senang." Ucapnya berbisik dan kemudian mencium pipi kiri milik Ushijima.
"Dah Paman hati-hati dijalan ya?" Ucapnya turun dari mobil milik Ushijima.
"Y-ya.." sahut Ushijima masih dalam posisi yang sama saat Hinata berbisik tadi.
Melihat Hinata sudah pergi dan memasuki rumah keluarganya. Ushijima menyentuh pipinya yang tadi dicium oleh Hinata.
"Oh astaga.. Kami-sama, jangan bilang kalau aku sekarang lolicon." Gumamnya. Setelah itu Ia membentur-benturkan kepalanya ke stir mobil dengan kekuatan yang bisa dibilang lemah.
"Jangan Ushijima, Shoyo masih kecil. Dia masih lima tahun." Ucap Ushijima berulang kali.
"ARGH.. kenapa dia sangat imut."
oOo
Hinata yang baru masuk kerumah dan tak lupa mengucapkan 'Tadaima' sedikit terkejut karena mendapat sahutan dari suara milik sang Kaa-chan, biasanya hanya maid yang dipekerjakan saat siang hari yang menyahutinya.
Sugawara berjalan menuju pintu masuk dan melihat anak bungsunya yang baru pulang.
"Dari mana? Tadi saat Kaa-chan dan Tou-chan menjemputmu, satpam disana bilang kalau kau sudah pulang. Dan kenapa lebih dulu Kaa-chan yang pulang bukannya Shoyo?" Ucap Sugawara dengan nada bicara sedikit tegas. Perasaan kesal masih ada. Ia tadi kesal karena saat menjemput Hinata, yang ada malah satpam. Dan satpam itu juga bilang Hinata sudah pulang dengan seorang lelaki. Dan dalam benaknya adalah Akaashi. Adik iparnya.
"Tadi Shoyo diajak makan siang bersama o-"
"Lalu bagaimana dengan makan siang yang Kaa-chan buatkan untukmu hm? Dibuang?" Kesal Sugawara.
"K-Kaa-chan.." ucap Hinata mulai takut. Ia tak pernah melihat Kaa-channya marah.
"Bisakah kau menghargai apa yang dilakukan oleh Kaa-chan untukmu?" Hinata hanya bisa diam. Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh anak berumur lima tahun sepertinya. Melawan? Tidak mungkin, Hinata bukan tipikal anak seperti itu, bukan.
"Kaa-chan sudah mencoba meluangkan waktu untukmu, tapi kenapa kau malah memilih lengket pada Akaashi?!"
Melihat sang anak terdiam, membuatnya semakin kesal.
"Sekarang masuk kedalam kamarmu. Pikirkan apa kesalahmu hari ini Shoyo, dan sebelum kamu sadar apa kesalahanmu jangan harap bisa keluar dari kamarmu."
'Kenapa lagi ini?' Batin Hinata masih tak mengerti.
"H-ha'i Kaa-chan." Sahutnya lirih.
Melepas sepatu dan menaruh sepatunya dirak, Hinata langsung berlari menuju kamarnya. Menjatuhkan tasnya begitu saja dan langsung duduk dimeja belajarnya.
"Tadi pagi baik.. sekarang? Memangnya aku salah apa? Bukannya kalau aku pulang terlambat juga karena mereka tidak menjemput? Dan lagi.. ARGH AKU TIDAK MENGERTI!" Teriaknya frustasi.
"Apa aku memang hiks.. tidak berharga untuk mereka? Hiks.. ternyata memang tidak mungkin.. Kaa-chan akan berubah secepat itu." Gumamnya.
"Hiks.. Kami-sama.. buat mereka berubah.. bukan menjadi rangers seperti difilm-film. Tapi.. buat mereka menyayangiku hiks.."
"Mencintaiku dan hiks.. buat mereka selalu ada untukku. Bukan hanya untuk Nii-chan saja hiks.." Hinata terus terisak dalam kamarnya dan Kageyama. Tak menyadari bahwa sedari tadi dibalik pintu Sugawara menguping dan mendengar semua ucapan si bungsu. Ia sadar, ia salah melampiaskan kemarahannya pada anak bungsu kesayangannya itu.
"Shoyo.. maaf. Kaa-chan tadi terlalu kesal mengingat kau selalu lengket pada Akaashi." Gumamnya sendu.
*TBC
Chap 10 yang sebenarnya hehe.. *plak.
Nii-chan Hinata belum dapat banyak scene *plak
Mungkin dichap selanjutnya..
Maaf kalau masih ada kekurangan.. maaf juga yang kesel karena april mop dari Hikari ne~
Terima kasih telah berkunjung.
