Family

Disclaimer : Furudate Haruichi.

Warning : OOC, Shounen-ai, typo dan lain sebagainya.

Kageyama mengernyit heran melihat ruang keluarga yang mana hanya ada Nii-channya sedangkan sang Otouto tercintanya tidak ada disana.

"Shoyo mana?" Tanya Kageyama pada Tsukishima.

"Hm? Entahlah, sedari tadi aku belum melihatnya." Sahut Tsukishima.

"Hm? Ah.." Kageyama langsung berlari keluar ruang keluarga, meninggalkan Tsukishima yang kini hanya menatap bingung kepergian adiknya tersebut.

Kageyama berlari menuju Kaa-channya yang tengah berada didapur, sedang membersihkan piring-piring kotor yang tadi mereka pakai untuk makan.

"Kaa-chan.. Kaa-chan!" Panggilnya.

"Ya, Tobio. Ada apa sayang?" Tanya Sugawara masih fokus pada piring-piring yang Ia bersihkan.

"Apa Kaa-chan tau dimana Shoyo? Tobio perhatikan sejak makan siang sampai sekarang, Tobio tidak melihatnya sama sekali." Tanya Kageyama menatap Kaa-channya. Sugawara berhenti mencuci piring, dan menatap balik Kageyama.

"Shoyo ada dikamar kalian memangnya dia kemana lagi kalau bukan disana, hm?" Sugawara mencoba tersenyum.

"Oo.. terima kasih Kaa-chan, sudah memberitahu Tobio." Kageyama kemudian berlari menuju kamarnya.

Mencoba membuka pintu kamarnya dan sang adik, namun gagal karena pintunya dikunci.

"Shoyo." Panggilnya.

"Shoyo, buka pintunya." Kageyama mulai menggedor pintu kamar.

"Shoyo."

Namun masih tidak ada jawaban dan juga tak ada gerak-gerik bahwa pintu akan dibuka.

"SHOYO!! NII-CHAN BILANG BUKA PINTUNYA!" Teriaknya kesal.

"BOGEE!! BUKA PINTUNYA!! INGAT INI KAMARKU JUGA. TIDAK SEHARUSNYA KAU MENGUNCIKU DARI DALAM!!" Teriaknya lagi.

Sugawara yang mendengar kegaduhan dari suara Kageyama pun segera mendekati asal suara.

"Ada apa Tobio? Kenapa kau berteriak begitu pada adikmu?" Ucap Sugawara.

"Dia mengunci pintunya. Sedari tadi Tobio sudah memanggilnya tapi tidak dibuka sama sekali olehnya."

"Tapi bukan berarti kau meneriaki adikmu seperti itu bukan? Bagaimana kalau adikmu tertidur hm?" Ucap Sugawara menasehati.

"Kaa-chan benar, Tobio yang salah."

"Nah nanti minta maaf pada adikmu, oke? Sekarang Kaa-chan ambilkan kunci cadangan kamarmu dulu, tunggu disini ya." Ucap Sugawara lembut dan hanya diangguki oleh Kageyama.

Sekitar lima menit berlalu, Kaa-channya kembali dengan membawa kunci cadangan kamar milik Kageyama dan Hinata.

"Cepat Kaa-chan." Desak Kageyama, Sugawara hanya tersenyum.

"Sabar oke?"

"Cepat."

"Iya."

Sugawara pun membuka pintu kamar milik Kageyama dan Hinata. Kageyama langsung masuk dan memeluk Hinata yang tengah berdiri ditengah ruangan erat. Namun pelukannya tidak dibalas oleh Hinata.

"Shoyo, maaf. Tadi Nii-chan meneriakimu dan menyebutmu bogee." Ucap Kageyama masih memeluk Hinata.

"Hn." Sahut Hinata singkat.

"Shoyo." Panggil Sugawara.

Kageyama melepas pelukannya dan ikut menatap Kaa-channya.

"Nani Kaa-chan?" Sahut Hinata dengan mimik tanpa ekspresi alias datar.

"Shoyo marah pada Kaa-chan?" Hinata hanya mengangkat bahunya acuh.

"Shoyo."

"Shoyo masih merenung. Dan masih belum menyadari apa kesalahan Shoyo. Jadi tinggalkan saja Shoyo." Sahutnya kemudian berjalan dan duduk dikursi belajarnya.

"Shoyo Kaa-"

"Kaa-chan dan Nii-chan bisa keluar saja. Shoyo bilang Shoyo masih merenung." Ucap Hinata menekankan kata 'merenung'.

"Sebenarnya ada masalah apa Kaa-chan?" Tanya Kageyama bingung. Namun tak disahuti oleh Kaa-channya.

"Shoyo?" Panggil Kageyama, meminta penjelasan.

"Tanya saja pada Kaa-chan ada masalah apa, kenapa bertanya pada Shoyo?" Ucap Hinata sarkas.

Deg

'Ada apa ini? Kenapa Shoyo malah berkata seperti itu?' Batin Kageyama.

"Shoyo jangan main rahasia-rahasiaan dong." Ucap Kageyama mencoba menguak apa yang sebenarnya terjadi.

"Rahasia? Siapa yang main rahasia-rahasiaan? Shoyo bilang tanyakan sama Kaa-chan, bukan?"

"Tapi.."

"Sudah, sebaiknya kalian keluar saja. Jangan ganggu Shoyo!"

Terkejut, hanya satu kata itu yang terjadi pada Kageyama. Ia tak pernah melihat adiknya yang seperti ini. Seperti marah dan jengkel akan sesuatu.

"Kamu ini kenapa sih? Tidak biasanya kamu marah-marah seperti ini." Ucap Kageyama menatap intens adiknya yang tengah duduk membelakangi dirinya.

Hinata berbalik, menatap Kageyama.

"Bukan urusan Nii-chan sana pergi."

"Kau mengusirku?"

"Ya!" Bentak Hinata tanpa sadar.

"Hei, ingat ini kamarku." Ucap Kageyama tak terima.

"Ini kamarku juga!" Sahut Hinata berdiri dan menatap Nii-channya tajam. Namun nyatanya gagal yang ada malah membuat wajah Hinata menjadi imut.

"Hei, memangnya siapa yang duluan lahir hah?!" Kageyama mulai kesal lagi pada adiknya.

"Tentu saja Ryu-Nii, siapa lagi kalau bukan Ryu-Nii!"

"Bukan itu, Maksudku memangnya siapa yang duluan lahir hah? Kau atau aku!"

"Tentu saja Nii-chan!"

"Nah jadi karena aku yang lebih dulu lahir, aku yang duluan menempati kamar ini bukan kamu!"

"Memang kenapa kalau bukan Shoyo yang menempatinya lebih dulu!"

"Karena bukan kau yang lebih dulu menempatinya. Kau yang harusnya keluar! Kau itu hanya menumpang dikamarku!"

"Tidak!"

"Anak-anak berhenti bertengkar." Ucap Sugawara mencoba menengahi.

"Ya! Kau hanya menumpang dikamarku!" Bentak Kageyama.

"Menum..pang?" Ucap Hinata tak percaya dengan perkataan Nii-channya yang seakan tak menyukainya sekamar dengan dirinya.

"Serendah itukah diriku dimatamu Nii-chan!!" Teriak Hinata. Ia sakit hati dikatakan seperti itu. Terkesan seperti Hinata hanya anak yang ditemukan ataupun diadopsi oleh keluarganya ini.

Sedangkan Kageyama hanya bisa diam menatap adiknya yang terlihat sakit hati.

"S-Shoyo."

"Serendah itukah hiks.. aku dimata kalian." Hinata kini menangis.

"Shoyo."

"Menumpang? Haha.. hiks.." gumam Hinata. Kageyama mendekat dan mencoba menyentuh lengan milik Hinata namun langsung ditepis oleh Hinata.

"Jangan sentuh aku!.. hiks."

Hinata menatap Kaa-channya yang sedari tadi hanya melihat dengan pandangan kecewanya.

"Shoyo rasa.. hiks.. Shoyo bukan dari keluarga ini, bukan? Shoyo pasti hanya anak.. hiks.. yang didapat didepan rumah ya kan?" Hinata mengusap air matanya yang mengalir kepipi gembilnya.

"Shoyo pasti hiks hanya Anak.. hiks.. yang tak diinginkan." Ucap Hinata sesenggukkan.

"S-Shoyo, bukan. Kau itu anak kandung Kaa-chan. Jangan berbicara seperti itu sayang." Ucap Sugawara mendekati Hinata dan memeluknya erat.

"Bukan hiks.. pasti bukan."

"Shoyo, yang diucapkan Kaa-chan itu memang benar. Kau adalah anak kandung Kaa-chan. Dan adikku." Ucap Kageyama mencoba meyakinkan. Ia juga merasa bersalah karena telah mengatakan hal yang membuat adiknya sakit hati.

"Bukan.. hiks.. bukan." Hinata terus mengucapkan bukan.

"Shoyo, percaya pada Kaa-chan sayang. Kau itu memang anak kandung Kaa-chan."

"BUKAN! Kalian hanya hiks.. berbohong. Tadi Tobio-Nii bilang Shoyo hanya menumpang." Hinata berontak dalam pelukan Sugawara namun Sugawara mampu menahan anak bungsunya itu.

Hinata berhenti berontak dalam pelukan Sugawara. Namun isakannya masih terdengar.

Sugawara terus mengelus punggung Hinata lembut. Mencoba menenangkannya.

Melihat sang adik sudah sedikit tenang Kageyama pun mendekati dan mulai angkat suara.

"Shoyo maaf, aku tadi tidak bermaksud me-" perkataan Kageyama terpotong karena melihat sang adik yang sudah terlihat tak sadarkan diri dalam dekapan sang Kaa-chan. Yang ada dipikirannya sekarang adalah, apa Kaa-channya itu terlalu erat memeluk Hinatanya?

"Kaa-chan, Shoyo." Ucap Kageyama. Sugawara menatap mimik Kageyama yang agak panik dan kemudian memeriksa si bungsu kesayangan keluarga itu.

"Shoyo?" Panggil Sugawara menepuk-nepuk pipi Hinata.

"Shoyo Kau kenapa? bangun sayang." Ucapnya.

"Tobio, cepat telphone Pamanmu."

"Ha-Ha'i." Sahutnya cepat dan langsung berlari menuju telphone rumah yang ada diruang tamu.

Sugawara memindahkan Hinata ke tempat tidur dengan penuh kehati-hatian. Sedikit senyum getir menghiasi bibirnya.

"Bukan.. Shoyo pasti bukan anak kandung kalian.. hiks." Hinata berucap lirih. Mendengar sang anak yang seakan mengigau itu hati Sugawara bagai tersayat-sayat.

Hinata anaknya, anak kandungnya. Anak yang selama sembilan bulan sepuluh hari Ia bawa kemanapun Ia pergi.

Hati Kaa-chan mana yang tak sakit mendengar anaknya tak percaya bahwa dirinya adalah anak kandungnya.

Sugawara menatap sendu anak bungsunya yang tengah pingsan.. entahlah yang pasti Sugawara berharap agar tak terjadi sesuatu yang buruk menimpa anak bungsunya itu.

"Shoyo. Itu tidak benar. Kau anak Kaa-chan dan Tou-chan." Gumamnya menahan isak tangis sembari mengelus wajah Hinata lembut.

"Kaa-chan ada apa?" Tanya Tsukishima yang tak sengaja melintas didepan kamar Kageyama dan Hinata yang ternyata sedari tadi pintunya terbuka.

"Shoyo, dia pingsan."

"S-Shoyoku pingsan?!" Pekiknya kemudian langsung berlari mendekat dan menaiki ranjang tempat Hinata berbaring.

"Shoyo." Panggilnya.

"Shoyo hanya tidur."

"Tapi Shoyo terlihat pucat, kenapa Shoyo sebenarnya Kaa-chan?"

"Kaa-chan! Tobio sudah menghubungi paman Yamaguchi. Ia bilang akan segara kemari."

"Hn. Jaga adik kalian dulu ya. Kaa-chan ingin memberitahu Tou-chan dulu."

"Oke/ baik Kaa-chan." Sahut Kageyama dan Tsukishima serempak.

oOo

Daichi berlari cepat menuju kamar anak bungsunya. Perasaan cemas menghinggapi hatinya sejak mendapat telephone dari sang ist-suami.

Begitu memasuki kamar sang anak, dengan cepat Ia menghampiri sang istr-suami dan adiknya.

"Koushi, Yamaguchi. Bagaimana keadaan Shoyo?"

"Dia hanya pingsan karena lelah saja Nii-chan. Dan juga.. em.. dia.."

"Dia apa, Yamaguchi?"

"Dia sedikit tertekan akan sesuatu Nii-chan." Sambung Yamaguchi.

"Koushi, kau tahu apa sebabnya?"

Tanya Daichi, Sugawara pun menceritakan apa yang terjadi hari ini.

"Astaga, kau.. dan.. oh setelah ini aku akan menyuruh orang membuatkan kamar untuk Shoyo." Ucap Daichi lelah.

"Dan Nii-chan, aku sarankan bawa Shoyo ke psikolog. Setidaknya Psikolog bisa membantu agar Shoyo tidak merasa tertekan." Saran Yamaguchi.

"Psikolog?" Ucap Sugawara dan Daichi berbarengan.

"Hn.. ah Akaashi-kun kan psikolog anak. Lebih baik ajak Shoyo periksa padanya. Setidaknya Ia bisa membantu dan bukankah Shoyo juga dekat padanya pasti akan mudah bukan?"

"Ah ya.. kau benar." Sahut Sugawara.

'Akaashi.. kah.'

*TBC

Aih.. kenapa lagi ini *plak

Shoyo sayang jangan begitu dong kan jadi bikin mewek para readers. *ngasih tisu

Idenya ngalir gitu aja. Rencana mau nambah scene untuk Nii-chan Hinata eh malah cuma dua yang muncul X"D *plak

Maaf kalau masih ada kekurangannya ne~

Terima kasih telah berkunjung~