Family
Disclaimer : Furudate Haruichi
Warning : OOC, Shounen-ai, typo dan lain sebagainya. Jadi diharapkan agar berhati-hati :v *plak
Happy reading minna-san~
Kageyama duduk diruang keluarga ditemani oleh Nii-channya yang memiliki postur tubuh yang tinggi, setinggi titan yang ada di salah satu anime. Tapi kalau di anime itu Titannya suka makan manusia kalau disini titan itu sukanya sama boneka dinosaurusnya. Dan jangan ditanyakan lagi siapa orang itu, Orang-orang juga kalau sekali lihat pasti tau, siapa lagi kalau bukan Tsukishima.
Sekitar lima belas menit mereka duduk bersebelahan dengan televisi yang tengah menyala atau memang sengaja dinyalakan di depan mereka yang tentunya sedang menayangkan acara kartun kesukaan mereka.
Sepi, Sunyi dan senyap. Hanya hal itu yang ada disana sekarang. Semakin lama, Suasana ruang keluarga semakin nampak tak mengenakan.
Bahkan kartun yang ditayangkan pada jam itu yang memang nyatanya lucu, tak membuat mereka tertawa. Jangankan tertawa, menarik sudut bibirnya barang seinci untuk membuat sebuah senyuman pun tidak.
"Haah~ sebenarnya apa yang telah terjadi?" Ucap Tsukishima akhinya, menghentikan kesunyian yang sedari tadi tercipta.
Kageyama diam, mengingat kembali kejadian yang tadi terjadi dikamarnya.
"Bukan apa-apa." Sahut Kageyama mengalihkan pandang pada Kartun yang masih tayang, walaupun sedari tadi terabaikan.
"Apanya yang bukan apa-apa?!" Ucap Tsukishima sedikit meninggi.
"Dia... pingsan. Dan sampai sekarang belum sadarkan diri." Tambah Tsukishima sedikit kesal.
"Aku salah bicara." Sahutnya menunduk. Perasaan bersalah menyerangnya lagi. Tsukishima mengernyit heran. Ia sedikit tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi.
"Memang apa yang kau ucapkan padanya?" Tanya Tsukishima lagi.
"Aku bertengkar dengannya karena Shoyo mengusirku keluar. Aku tidak terima dan akhirnya aku mengucapkan kata 'menumpang' pada Shoyo. Dia langsung menangis. Dan tak lama kemudian.. Shoyo.. dia hiks .. dia pingsan." Ucap Kageyama terisak diakhir.
Tsukishima yang melihat adiknya yang tengah terisak karena rasa bersalah pun memeluknya. Mencoba menenangkannya dengan cara mengelus punggung Kageyama pelan.
"Sudah jangan menangis.. Shoyo tidak mungkin marah padamu. Dia pasti telah memaafkanmu." Ucap Tsukishima menenangkan, namun hanya di sahuti oleh isakan.
"Sudah-sudah. Jangan menangis lagi, kau kan laki-laki dan lagipula menangis tak cocok dengan wajah menyeramkanmu ini." Ucap Tsukishima dan tentunya langsung mendapat pukulan dari Kageyama karena bilang kalau wajahnya menyeramkan. Tsukishima tentunya langsung lari keluar ruang keluarga agar selamat dari amukan si Ousama.
"Dasar Aniki Jahat!! Hiks.. adik sendiri lagi nangis ditinggalin gitu aja!!" Teriaknya.
Tsukishima mengabaikan teriakan adiknya itu. Mending dia kabur daripada nantinya kena marah.
Titan-titan begini, Tsukishima juga takut kalau kepergok bersama adiknya yang tengah menangis dan marah-marah oleh Orang tuanya. Terlebih Tou-channya, jika melihat ini pasti Tou-channya langsung berubah menjadi super menyeramkan.
Seperti saat itu, saat Hinata masih berumur empat tahun.
Tsukishima tengah duduk anteng didepan televisi sambil ngemil makanan yang ada. Dan saking fokusnya sama kartun dinosaurus, awalnya ia tak menyadari adanya seseorang diruang keluarga. Hingga.."Huwaa!!" Teriakan yang membahana badai terjadi diruang keluarga. Sontak Tsukishima menutup kedua daun telinganya dan melihat siapa yang baru saja teriak."Nii-chan.. hiks.. sakit.""Shoyo kenapa?" Ucap Tsukishima."Sakit.. hiks.. Shoyo jatuh gara-gara kelereng itu hiks." Tunjuk Hinata. Tsukishima menghembuskan nafas lelah. Kemudian mendekati Adiknya itu dengan tujuan membantunya berdiri tapi, belum sempat mendekati Tou-channya sudah memasuki ruang keluarga."Apa yang terjadi? Oh astaga Shoyo." Ucap Daichi kaget dan langsung menggendong Hinata yang masih terisak."Kei apa yang kau lakukan pada adikmu?" Tanya Daichi dengan mimik muka yang menyeramkan bagi Tsukishima."T-tadi.. Shoyo ja-jatuh. Dan jatuhnya karena ke-kelereng yang ada didekat kaki Tou-chan.""Kau bermain kelereng disini? Biasakan simpan kembali mainanmu. Untung Shoyo hanya terjatuh, kalau dia telan kelereng-kelereng mu itu bagaimana?!""Tidak mungkin Shoyo telan. Ini kan mainan bukan makanan Tou-chan." Sahut Tsukishima dengan segala kepolosannya."Terserahlah.. jangan lakukan lagi hal seperti ini." Ucap Tou-channya dengan mimik wajah seakan bilang 'awas kalau terulang kembali kau akan tamat.'
Menghela nafas sebentar karena telah teringat kejadian yang lalu.
"Lebih baik aku lihat keadaan Shoyo saja." Monolognya.
oOo
Daichi duduk disofa ruang tamu. Pikirannya melayang entah kemana. Setelah mencuri dengar pembicaraan kedua anaknya yang ada diruang keluarga tadi karena tidak sengaja lewat terus membuat pikirannya berkecamuk.
'Tou-sama.. aku harus apa kali ini?' Batinnya.
"Anata.." suara milik sang istri menyapa pendengarannya.
"Hn."
"Kau sedang apa? Sebaiknya kau bersihkan diri dulu. Aku sudah menyiapkan air hangat." Ucap Sugawara mendudukkan dirinya disamping sang suami.
"Ya, sebentar lagi. Bagaimana keadaan Shoyo? Apa dia sudah sadar?" Tanya Daichi menatap wajah cantik milik is-suaminya.
"Belum.. Shoyo belum sadar."
Keheningan tiba-tiba terjadi lagi, namun ditempat yang berbeda. Kalau tadi diruang keluarga, sekarang terjadi keheningan dadakan dari ruang tamu.
"Hn.. Baiklah. Aku akan mandi dulu dan.. apa makan malamnya sudah siap?" Tanya Daichi berbasa-basi. Ia tahu, istrinya ini pasti merasa bersalah akan apa yang terjadi pada Si bungsu. Dan tentunya Daichi tak ingin melihat istrinya semakin menyalahkan dirinya sendiri.
"Ya, sudah kok."
"Baiklah. Kalau begitu tunggu saja dimeja makan. Oh iya, aku cek Keadaan Shoyo dulu."
"Hn."
oOo
Hinata membuka perlahan kelopak matanya, sesekali mengerjapkan matanya untuk memperjelas penglihatannya.
Menatap kosong kearah langit-langit kamar.
'Cklek'
"Ah.. kau sudah bangun sayang. Apa ada yang sakit?" Barithone suara milik Tou-channya terdengar. Sontak Hinata kecil menatap arah suara. Dimana sang Tou-chan sedang berjalan memasuki kamar.
"Shoyo masih kesal?"
"Shoyo, sayang." Panggil Daichi lembut, namun lagi-lagi tak disahuti oleh Hinata.
"Shoyo masih kesal? Shoyo dengarkan Tou-chan. Kau itu anak Tou-chan, anak kandung Tou-chan dan selamanya akan tetap begitu. Kalau kau masih tidak percaya, Tou-chan bisa menunjukkan buktinya padamu." Ucap Daichi mengusap lembut pipi gembil Hinata yang masih setia berbaring, namun manik sang anak nampak enggan untuk menatapnya.
Sakit, Daichi merasakan sakit namun tidak berdarah melihat anaknya sendiri mengabaikannya.
"Kaa-chanmu marah tadi siang itu karena gagal menjemput Shoyo. Saat kami sampai kesekolahmu untuk menjemput, satpam disana bilang kalau Shoyo sudah pulang dan lagi dengan seorang lelaki."
"Kau tahu? Kaa-chanmu langsung mengamuk disana. Dan bilang seperti ini 'Seharusnya kalau kau melihat Shoyo akan dijemput oleh Orang yang nampak asing, hubungi kami dulu. Bagaimana kalau dia itu penculik' seperti itu yang diucapkan Kaa-chan pada satpam sekolah Shoyo." Jelas Daichi panjang lebar.
Melihat sang anak tak juga bersuara, tambah membuat hatinya sakit dan sesak disaat bersamaan.
"Kaa-chanmu mengira orang itu adalah Pamanmu, Akaashi. Kaa-chanmu itu iri dengan kedekatan Shoyo dengan Paman Akaashi. Karena itu Kaa-chanmu lepas kendali." Hinata langsung menatap manik hitam milik Ayahnya. Mencari kebohongan yang mungkin tersembunyi disana.
"Kaa-chanmu sedih dia tak bisa dekat denganmu. Dan ketika melihatmu dekat dengan Paman Akaashi dia.. sangat sedih. Bukan Kaa-chanmu saja. Tou-chan juga merasa seperti itu." Ungkap Daichi menahan isakan tangisnya didepan sibungsu yang masih menatapnya.
"Tou-chan.. kenapa?"
"Eh?"
Hinata langsung bangun dan merubah posisinya dari berbaring menjadi duduk dengan bersender di kepala ranjangnya.
"Kenapa baru kali ini Tou-chan peduli pada Shoyo? oh jangan-jangan karena Shoyo mempunyai penyakit mematikan? dan penyakit Shoyo sudah tak bisa disembuhkan lagi." Ucap Hinata memasang pose berpikir.
"Tidak, Shoyo tidak terkena penyakit apapun."
"Tapi di fil- ah tidak disinetron-sinetron seperti itu."
Terkejut, Daichi terkejut. Memangnya selama ini apa yang dilakukan maid yang ada dirumah saat anak bungsunya ini menonton televisi sampai-sampai anaknya ini terkena dampak sinetron.
Ah sepertinya Daichi harus menghancurkan pembuatan sinetron-sinetron yang ada agar anaknya tak tercemar terlalu jauh.
"Lalu kenapa Tou-chan berubah? Biasanya juga kalau sudah pulang sibuk bermain dengan Nii-chan." Ucapan Hinata menyadarkan Daichi dari pikiran-pikiran yang tadi telah menghampirinya.
"Eh?"
First Blood
"Dan kalau Shoyo menangis atau kenapa-kenapa juga dibiarkan saja. Dan malah dititipkan dengan maid yang bekerja disiang hari."
Double Kill
"Dan lagi Kageyama-Nii bilang kalau Shoyo disini hanya menumpang. Berarti Shoyo itu bukan anak kalian melainkan hanya orang yang menumpang disini."
Tripple Kill
Mendengar itu Daichi tak bisa berkata apa-apa. Sakit.. hanya itu yang dirasakannya. Jadi selama ini anaknya merasa sangat kesepian karena terabaikan?
"Shoyo."
"Tou-chan juga biasanya sibuk bukan? Kenapa tidak mengurus perusahaan Tou-chan saja sekarang? Nanti rugi lima ratus perak lagi karena menemani Shoyo yang bukan anak kandung Tou-chan disini." Ucap Hinata.
"Kau anak kandung tou-chan sayang. Jangan berpikiran seperti itu."
"Orang-orang yang melihatpun pasti tahu, Tou-chan. Dilihat dari segi fisik saja Shoyo berbeda. Sangat berbeda malah!" Sahut Hinata, dengan tatapan mata yang tentunya siap menumpahkan cairan beningnya.
Oh.. Daichi sekarang bingung. Anaknya ini sudah salah paham terlalu jauh.
"Shoyo, sayang. Mau tahu sesuatu? Sesuatu dibalik rahasia keluarga Kita?" Ucap Daichi menatap lembut Hinata yang kini tengah menundukkan kepalanya.
"Tidak perlu.. hiks.. lebih baik Tou-chan keluar saja sekarang. Bukannya Tou-chan orang yang sibuk. Lebih baik urus saja perusahaan Tou-chan itu."
"Shoyo."
"Keluar Tou-chan hiks.."
"Shoyo.."
"Keluar sekarang.. hiks. Nanti perusahaan Tou-chan rugi kalau terlalu menghabiskan waktu bersama Shoyo." Hinata menatap Tou-channya. Air matanya terus mengalir dari pelupuk matanya.
"Tidak, sayang. Kenapa kau berpikiran begitu? Sh-"
"Keluar sekarang !! Hiks." Teriak Hinata.
"Shoyo dengarkan Tou-chan!!" Ucap Daichi tak sengaja bicara dengan nada bentakan. Hinata terdiam seketika.
"Maaf membentakmu sayang, Maaf. Dengarkan apa yang Tou-chan katakan ini. Karena Ini rahasia tentang keluarga kita." Ucap Daichi memeluk Hinata.
"Hiks..Raha-sia?" Lirih Hinata.
"Hn.. Rahasia."
"Rahasia apa, Tou-chan?" Tanya Hinata penasaran. Saking penasarannya Ia lupa kalau tadi tengah emosi. Daichi yang melihat ini tersenyum seketika. Ah ternyata perhatian anak bungsunya mudah dialihkan.
Melepas pelukannya, Daichi kemudian menghapus jejak air mata yang ada di wajah sang anak.
"Disetiap keluarga pasti memiliki penerus keluarga. Dan kau tahu sendiri, keluarga kita termasuk keluarga yang terhormat selain, Nekoma, Fukurodani dan Shiratorizawa."
"Hm.. hm.." Hinata mengangguk antusias. Membuat Daichi menahan tawa karena ekspresi lucu anaknya itu.
"Setiap keluarga memiliki ciri khusus untuk penerus keluarga. Dan ini sudah berlaku sscara turun temurun."
"Hm.. lalu Tou-chan?"
"Khusus keluarga kita.. penerus keluarga utama yang memang harus dijaga dan dilindungi memiliki ciri khusus bersurai jingga dengan iris mata sewarna madu."
"Kenapa ciri-cirinya sama seperti Shoyo?"
"Hm.. singkat cerita, penerus keluarga ini tentunya akan mengambil alih perusahaan keluarga. Dan kenapa ciri-cirinya sama seperti Shoyo.. itu karena Shoyo adalah penerus berikutnya."
"Kalau Shoyo penerus berikutnya, lalu dimana yang sebelumnya?"
"Penerus sebelumnya adalah Kakekmu.. Kakek Kyu. Kakek yang paling kau sayang sejak kau umur satu tahun. Tapi karena beliau sudah meninggal saat kau berusia tiga tahun. Yang mengambil alih perusahaan keluarga adalah Tou-chan, mengingat Shoyo adalah penerus berikutnya."
"Oh astaga, Jadi.. benar apa yang dikatakan oleh.."
"Oleh Kaa-chanmu?" Potong Daichi.
Hinata menggeleng.
"Lalu?" Ucap Daichi heran.
"Berarti benar perkiraan Shoyo.. kalau Shoyo anak Kakek!!" Pekiknya kaget.
Oh astaga, mendengar ini Daichi rasanya seperti ingin loncat saja dari kaca jendela perusahaannya. Ia sudah tak kuat lagi menjelaskan pada putra bungsunya itu.
"Bukan sayang. Shoyo itu anak Tou-chan dan Kaa-chan. Shoyo memiliki ciri-ciri khusus penerus memang karena mungkin dari gen milik Kakekmu. Begini-begini Tou-chan masih memiliki darah Kakekmu."
"Hm.. begitu."
"Maafkan sikap Tou-chan selama ini ya? Maaf, Tou-chan tidak bermaksud mengabaikanmu, tidak."
Hinata menggeleng. Oh melihat ini hati Daichi terasa bagai teriris-iris. Anaknya tak ingin memaafkannya.
"Tidak Tou-chan, harusnya Shoyo yang bilang maaf pada Tou-chan, Shoyo salah dan maaf telah bekata kasar pada Tou-chan tadi. Maaf hiks.. maaf." Daichi hanya tersenyum dan kembali memeluk putra bungsunya itu. Setidaknya anaknya sudah tidak salah paham akan apa yang telah terjadi.
Mereka terus berprlukan, Tanpa mereka sadari sedari tadi ada seseorang yang tengah melihat interaksi keduanya.
*TBC
Fiuuh.. 2k word :v
Udah panjang belum? :v
Kalau belum entar deh dipanjangin haha*plak
Gimana chap kali ini ? :v
Sepertinya kurang menyentuh.. atau hanya perasaan Hika-chan aja?
Maaf kalau masih ada kekurangan.. maaf juga kelamaan Up.. soalnya sibuk *sibuk main MOBA --plak XD
Gak deh, gak terlalu sibuk main MOBA juga sih, tapi sibuk ngurus syarat-syarat buat daftar kuliah :v
Just information.. kalau kalian perhatikan WP Hikari, disana Fict ini udah Up :v kenapa bisa gitu?
ya, soalnya..Hikari males buka FFn sering kena flame sih wkk *digeplak-oke abaikan
Terima kasih telah berkunjung~
