Family
Disclaimer : Furudate Haruichi.
Warning : OOC, Sho-ai, typo dsb (dan saya bingung :v) *plak
Happy reading~~Sugawara langsung berlari menghampiri Hinata yang terbaring di halaman rumah dekat dengan pohon yang ada dihalaman rumahnya.
Jantungnya berdegup kencang, perasaannya pun dilanda kekhawatiran.
Mengangkat dan mendekap sibungsu, sesekali Ia menggoyangkan lengan Hinata untuk membangunkannya.
"Shoyo.. bangun sayang. Kamu kenapa bisa terbaring ditanah." Ucapnya.
Entahkenapa perasaannya seakan bilang kalau hal buruk akan terjadi jika Ia berlama-lama berada di luar rumah.
"Shoyo?" Panggilnya, namun Hinata tak bergeming sedikit pun.
"Shoyo jangan buat Kaa-chan cemas, ayo bangun sekarang."
Hinata tak menunjukkan tanda-tanda akan terbangun, membuat rasa kekhawatiran muncul dihati Sugawara.
"Shoyo, sayang. Jangan bercanda. Ini tidak lucu, ayolah bangun sekarang." Ucapnya lagi sembari menggoyangkan tubuh si bungsu.
"Sho-"
"Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan Sho-chan?!" Barithone milik seorang lelaki yang nampak berumur menyapa pendengarannya.
Sugawara berbalik dan seketika itu pula matanya membola.
"K-Kakek." Ucap Sugawara menatap Kakek dari Suaminya, Ikkei Ukai.
Lelaki yang sudah berumur itu nampak menatap intens Sugawara, meminta penjelasan atas apa yang terjadi pada cicit imutnya.
"Apa yang terjadi pada Shoyo?!" Ucapnya lagi. Sugawara diam, Ia juga tak tahu apa yang terjadi pada anak bungsunya itu.
"Hei-"
"Ah Ikkei Nii-sama!!" Berbalik menatap yang baru saja bicara, lagi-lagi membuat Sugawara terkejut. Adik Kakeknya, Yasufumi Nekomata. Melihat ini Sugawara gugup luar biasa. Sudah-sudah Kakeknya yang kejam namun tidak jika berhadapan dengan Si bungsu Karasuno ada dihadapannya. Dan sekarang harus bertambah lagi dengan adik Kakeknya itu.
'Astaga, habislah aku.' Batin Sugawara gugup.
"Eh? Apa yang terjadi? Kenapa Sho-chan tidur dipangkuanmu?" Tanya Yasufumi berjongkok untuk melihat wajah damai cicitnya itu. Cicitnya? Terserah Yasufumi dong mau bilang Hinata apa, toh masih keluarga.
Ikkei Menatap sekitar, lelaki itu melihat kearah pohon besar yang ada didekat mereka. Haah.. melihat ini saja Ia sudah tahu apa penyebabnya. Kemungkinan si bungsu itu tadi terjatuh dari pohon.
"Sini, biar aku yang menggendongnya." Ucap Ikkei mengambil Hinata yang tadinya berada di pangkuan Sugawara.
"Eh, Nii-sama! Biar aku saja! Aku sudah lama tidak menggendong Sho-chan!" Ucap Yasufumi yang memang ingin menggendong Si bungsu.
"No, aku juga sudah lama tidak menggendong Cicit imutku ini."
"Tapi aku ingin menggendong Shoyo."
"Hubungi saja Yaku-kun, suruh dia membawa anaknya kemari kemudian kau gendong mereka apa susahnya?" Ucap Ikkei dengan luwesnya.
Mereka berdua pun bertengkar bagai anak-anak yang sedang memperebutkan mainan.
Sugawara hanya menatap mereka dengan diiringi senyum mirisnya. Oh anak bungsunya yang malang. Kenapa harus dia yang selalu diperebutkan didalam keluarga. Mulai Nii-channya, Pamannya bahkan sekarang Kakeknya juga ikut-ikutan. Oh Sugawara tak habis pikir.
'Kau harus kuat, Shoyo.' Batinnya bagai menyemangati anak bungsunya.
"Begini saja, bagaimana kalau kita main gunting batu kertas saja untuk menentukan siapa yang menggendong Shouo? Pertandingannya cuma satu kali! Bagaimana?" Saran Yasufumi.
"Oke, kalau kalah jangan mengelak. Deal?"
"Deal."
Mereka berdua pun melakukan gunting batu kertas.
Dan akhirnya dimenangkan oleh Ikkei yang mengeluarkan gunting sedangkan Yasufumi kertas.
"Kau kalah."
"Tidaaaakk!! Sho-chanku!!" Teriak Yasufumi OOC parah.
Sugawara rasanya ingin menonjok mereka berdua yang sudah kelewat OOC tapi itu langsung diurungkannya karena mengingat jika Ia menonjok lelaki berumur apalagi itu Kakeknya. Ia akan mendapat dosa. Dan kalau mendapat dosa bisa sulit masuk surga. Nah kalau sulit masuk surga entar Dia malah terpisah dengan anak-anaknya yang lucu dan baik hati serta tidak sombong itu.
Ikkei menggendong dan kemudian berlalu meninggalkan istri dari cucunya itu bersama dengan Yasufumi yang masih merengek meminta untuk bergantian menggendong Hinata. Ia memasuki rumah dan sedikit mengernyit ketika melihat Lev yang ada di ruang keluarga.
"Oii Yasufumi, itu cicitmu. Gendong sana." Ucapnya dengan nada memerintah.
"Hei bagaimana kalau Nii-sama saja yang menggendong Lev dan aku menggendong Shoyo?" Usulnya dan langsung ditolak mentah-mantah oleh Ikkei.
Yasufumi Menghela nafas lelah, sedangkan Ikkei melanjutkan perjalanannya menuju kamar si bungsu.
"K-Kakek kenapa kesini?" Tanya Sugawara yang mengikuti Kakeknya yang tiba-tiba saja berkunjung. Mencari Yasufumi? Oh Yasufumi sudah duduk disamping Lev yang masih nonton kartun di ruang keluarganya.
"Kenapa? Memangnya ada yang salah jika aku mengunjungimu?"
Menaruh Hinata ke tempat tidur dan sedikit memeriksa bagian tubuh Hinata, takut-takut kalau cicit imutnya itu terluka.
"A-apa yang Kakek lakukan?!" Tanya Sugawara yang kaget ketika melihat Kakeknya itu membuka pakaian si bungsu.
"Hah, sudah kuduga. Ini lihat, anakmu terluka." Ikkei menunjuk memar yang ada dibagian punggung Hinata.
"Eh? Bagaimana bisa?!"
"Kau bertanya padaku? Bukankah seharusnya yang lebih tau itu kau sendiri?" Sahut ikkei dengan mata memicing tajam.
"A-ano tadi itu Koushi sedang didapur, jadi.."
"Didapur atau menemani Lev?" Ucap Ikkei lagi dengan pandangan menyelidiknya.
"D-di dapur, Kakek."
"Jadi kenapa kau meninggalkan Shoyo kedapur? Memang apa yang kau lakukan?!"
"A-aku me-membuat cemilan untuk Shoyo dan Lev yang tadinya sedang menonton." Sahut Sugawara was-was.
"Menonton? Darimana Shoyo menonton?! Lihat ini memar bekas terjatuh. Ia pasti tadi terjatuh dari pohon. Bagaimana bisa kau membiarkannya bermain sendiri tanpa pengawasan?!"
Sugawara terdiam, Ia tahu ia salah. Tapi disaat bersamaan juga, Sugawara tak tahu kalau Hinata bermain keluar rumah sendirian.
"Kau ini.. sebenarnya memang menyayanginya atau tidak? Kalau kau memang menyayanginya kenapa kau tidak memperhatikannya dengan baik?!"
Sugawara menunduk, mendengarkan si kakek yang memang sedikit posesif terhadap cicit-cicitnya.
"Aku sudah memperhatikan kalian selama ini. Kalau kalian tak bisa menjaga Shoyo dengan baik. Kenapa tidak membiarkan Akaashi dan Bokuto saja untuk merawat Shoyo? Kurasa mereka lebih baik dalam menangani Shoyo daripada kalian yang orang tuanya sendiri."
Deg
Mendengar penuturan sang Kakek yang mengatakan untuk membiarkan Akaashi dan Bokuto yang merawat Hinata membuat hati Sugawara terasa sesak.
"K-kenapa Kakek bilang begitu? Kakek tahu sendiri kalau Shoyo anak kami. Tentu saja kami tidak akan melakukan hal itu."
"Kurasa mereka lebih baik dari kalian yang mengabaikan Shoyo. Terlebih kau tahu sendiri. Akaashi tak bisa mengandung lagi. Biarkan mereka merasakan rasanya menjadi orang tua." Ucap Ikkei dengan santainya. Sugawara langsung meneteskan air matanya.
"Tidak.. hiks.. tidak bisa. Shoyo hiks.. Shoyo anak kami. Kami sangat menyayanginya." Ucap Sugawara terisak.
"Lalu? Kalau kalian menyayanginya kenapa selalu mengacuhkannya?" Sahut Ikkei memicingkan matanya. Mendengar ini, kembali hati Sugawara merasa tertohok.
"Kuharap kau memikirkan saranku tadi. Tidakkah kau kasihan dengan adikmu sendiri? Ia tak bisa merasakan rasanya menjadi Ayah." Ucap Ikkei kemudian berlalu.
"Ah aku lupa. Besok kita sekeluarga akan piknik ditaman dekat danau. Aku akan menjemput kalian semua." Tambah Ikkei sebelum benar-benar keluar dari kamar Hinata dan Kageyama.
'Tidak.. aku tidak ingin mengalah jika menyangkut anak-anakku!' Batin Sugawara mengepalkan tangannya.
oOo
Besoknya Ikkei benar-benar menjemput mereka. Diikuti oleh mobil milik keluarga Fukuro dan Nekoma dibelakangnya.
"Heeh~ ini benar-benar piknik keluarga." Ucap Daichi sembari melihat sepupunya yang lain.
"Tou-chan.. kita mau kemana?" Tanya Tanaka penasaran dengan mobil-mobil yang banyak terparkir didepan rumah mereka.
"Kita akan piknik, bersama mereka." Tunjuk Daichi.
"Hn.. berarti makan-makan! Yeay!!" Pekik Nishinoya semangat.
Sugawara tersenyum melihat tingkah dua anaknya itu.
"Tou-chan, boleh bawa dino?" Tanya anak berambut blonde, Tsukishima. Daichi mengangguk menandakan bahwa Tsukishima boleh membawa boneka kesayangannya itu.
"Kalau bola voli?" Kali ini yang bertanya adalah anaknya yang berambut raven, Kageyama.
"Boleh sayang." Sahut Sugawara gemas. Mengangguk mengerti mereka pun mengambil barang yang ingin mereka bawa.
"Bagaimana keadaan Shoyo?" Tanya Ikkei tiba-tiba. Daichi dan Sugawara terpekik kaget saking tiba-tibanya.
"A-ah iya Kakek. Shoyo sudah lebih baik. Dan.. em.. Maafkan kesalahanku kemarin kakek." Ucap Sugawara membungkuk.
"Ah ya.. lagipula sudah terjadi. Lalu dimana dia sekarang?"
"Dia-"
"Mama!!" Teriak Hinata yang melihat Akaashi bersama dengan Bokuto.
"Disana." Ucap Sugawara mengecil. Ikkei menatap kearah Akaashi, Bokuto dan Hinata yang asik bercengkrama. Sedikit senyum tipis tercipta dari bibirnya.
"Hn.. ah biarlah. Ayo cepat kita harus segera berangkat." Ucapnya menjauh dan memberi kode ke yang lain agar segera bersiap untuk pergi ke taman dekat danau yang dimaksud.
Dengan mobil mereka masing-masing mereka menuju taman secara beriring-iringan.
"Shoyo, badanmu bagaimana sekarang? Apa masih ada yang sakit?" Tanya Sugawara lembut. Hinata hanya menggeleng dan tersenyum kemudian melihat keluar jendela mobil, memperhatikan pemandangan yang mereka lalui.
'Kuharap tetap seperti ini.' Batinnya.
oOo
Hinata berlari-larian kesana kemari sejak mereka sampai ditempat tujuan. Ia senang bisa piknik bersama keluarga besarnya. Terlebih Orang tuanya, Mama dan Papanya juga memperhatikannya terus menerus.
"Mama!! Ayo kesini." Teriak Hinata yang tertuju pada Akaashi. Semua anggota keluarga hanya terdiam dan menatap ke arah Akaashi dan Sugawara secara bergantian. Mereka bingung siapa yang dipanggil oleh Hinata. Karena setahu mereka, Hinata memanggil Sugawara dengan sebutan 'Kaa-chan'.
Melihat sang Mama tak kunjung bergerak menuju dirinya. Ia pun berlari mendekati Akaashi. Dan ini tentu saja membuat beberapa anggota keluarga mengernyit heran dan juga kaget.
"Mama ayo, ada yang ingin Shoyo tunjukkan." Ucapnya menarik telapak tangan Akaashi. Akaashi hanya tersenyum.
"Memangnya apa yang ingin kau tunjukkan hm? Kenapa tidak disini saja biar yang lain juga bisa lihat." Akaashi mengelus surai jingga Hinata.
"Ehm.. oke. Ini Shoyo pelajari saat disekolah. Em.. dan juga karena Mama selalu ada untuk Shoyo. Shoyo akan mempersembahkannya, jadi lihat baik-baik ya?" Ucap Hinata malu-malu.
"Hm.. tentu saja. Oh bolehkan mama merekamnya?" Hinata langsung mengangguk lucu.
'Kawaii.' batin anggota keluarga yang lainnya.
Akaashi serta yang lainnya pun mengeluarkan kamera mereka. Bersiap untuk merekam apa yang akan dilakukan si imut Karasuno.
"Nyan-nyan~ Ni hao nyan~" Hinata mempraktekkan tariannya diiringi nyanyiannya. Oh tak lupa juga gerakan yang menirukan gerakan kucing membuat keluarga besar Nekoma berusaha mati-matian menahan diri agar tidak mimisan. Sedangkan Tanaka, Nishinoya, Tsukishima serta Kageyama melihat sang adik yang luar biasa imutnya langsung berebut untuk mendekati sibungsu.
Sugawara dan Daichi bahkan tak berkedip melihat penampilan anaknya yang luar biasa imut dan bisa membuat banjir darah tiba-tiba.
'Anakku memang luar biasa!' Batin mereka bersamaan.
*TBC
Nge Up lagi asek-asek
1886 word.. WOW
Gimana kali ini?
Udah panjang bukan? Hehe..
Hm.. sepertinya akan tercipta pihak DaiSuga dan BokuAka haha *plak
Oke, terima kasih sudah berkunjung. Dan.. maaf kalau masih ada kekurangan.
-OMAKE-
Bokuto terkikik pelan menatap layar ponselnya. Akaashi yang berada disampingnya pun sedikit minder. Takut-takut jika sang suami sudah mulai gila.
"K-kau kenapa? Sakit?" Tanya Akaashi menyelidik.
Bokuto menatap Akaashi dan tak lupa cengirannya.
"Hehe.. tidak. Ini aku sedang mengerjai Ushijima."
"Ushijima?" Ucap Akaashi heran.
"Hm.." Bokuto mengangguk kemudian tersenyum puas saat apa yang dilakukannya terkirim.
"Memangnya kau mengirimkan apa? Sampai-sampai tertawa jahat seperti itu?"
"Hanya video imut calon anak kita."
Mengangguk paham, Akaashi sontak diam saja. Ia tak ingin ikut campur. Mungkin suaminya itu hanya ingin pamer pada Ushijima tentang Hinata yang imutnya gak ketulungan.
"Anak kita Bokuto, bukan calon." Ucapnya lagi, mengoreksi ucapan sang suami tadi.
"Ya, ya. Anak kita."
Sedangkan ditempat Ushijima.
Ia tengah fokus menandatangani berkas-berkas ditemani oleh asistennya.
'Drt.. drt.' Ponselnya bergetar.
Mengernyit heran, Ia pun membuka pesan masuk tersebut.
"Pesan video?" Gumamnya.
Sedikit penasaran, Ia pun memutar video yang diterimanya dari Bokuto.
Sedetik kemudian Ia tersenyum, membuat asistennya mengernyit heran sekaligus penasaran dengan apa yang dilihat oleh Bos nya itu.
Mendekat dan melihat dari samping, bisa Ia lihat bosnya itu sedang menonton video anak kecil berambut jingga sedang menari dengan sangat imut.
"Ugh.. tisu. Aku perlu tisu!" Ucap Ushijima menutup hidungnya dengan tangannya.
Asistennya pun sontak terkejut dan gelabakan melihat sang bos yang entah sejak kapan sudah mimisan parah. Ah mungkin karena Ia juga fokus menonton video tadi.
'Bokuto sialan.. awas kau nanti. Eh tapi lumayanlah bisa melihat tingkah lucu Shoyo.' Batin Ushijima sembari menyimpan video tersebut diponsel pintarnya.
