[CHAPTER 02 - PURPLE STRAWBERRY]


"And after that, you would never know that you've already fall for him ... but still, you deny it."


Kaki jenjang Chanyeol melangkah melintasi koridor SoPA, terus berlanjut menaiki tangga untuk mencapai lantai empat. Sebenarnya, pria dengan tubuh menjulang itu bisa saja menggunakan lift. Tapi pikirannya terlalu penuh dengan Kyungsoo hingga kaki panjangnya melangkah seakan memiliki pemikiran sendiri.

Seperti biasa, setelah sepulang sekolah Chanyeol akan menjemput Kyungsoo dari kelasnya, kemudian mereka akan pulang bersama-sama menggunakan mobil Chanyeol.

Lantai empat adalah jejeran kelas II A hingga C, dengan kategori jurusan vokal utama dan akting. Kelas itu diurutkan berdasar kualitas suara. Kategori A untuk mereka yang memiliki bakat akting dan suara diatas rata-rata, sementara kategori B untuk yang memiliki kualitas menengah, dan kategori C untuk yang terendah. Chanyeol begitu bangga karena Kyungsoo menempati kelas II A. Tidak mudah untuk menempati kelas itu. Hanya orang-orang yang memiliki suara emas yang bisa masuk. Terlebih, seleksi yang dilakukan untuk masuk ke jurusan vokal utama dan akting sangatlah ketat.

Meski memiliki kelas dengan kualitas masing-masing, jangan pernah remehkan mereka yang masuk ke jurusan vokal dan akting. Sungguh, entah itu kelas II A, II B, maupun II C, sebenarnya kualitas suara yang mereka miliki sudah sangat tinggi.

Chanyeol sendiri masuk ke kelas II D yang terletak di lantai tiga, jurusan instrumen dan vokal. Di jurusan itu, lebih menekankan kepada alat musik, meski mereka juga akan berlatih mengenai vokal—namun tidak seketat pelatihan di jurusan vokal dan akting.

Pria bermanik hitam gelap itu akhirnya sampai di pintu kelas II A. Belum sempat suara baritonnya memanggil nama Kyungsoo, seorang pria dengan tulang pipi tinggi dan rambut noodle flip berwarna cokelat madu keluar dan menabrak Chanyeol. Wajahnya mencium dada bidang Chanyeol dengan sangat keras hingga pria itu sendiri merasa kepalanya pusing.

"Ah, hidungku," keluh pria itu.

Chanyeol menatap pria itu kesal. Namun setelah mengenali siapa yang ia tabrak, pria itu segera tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi.

"Jongdae!" seru Chanyeol heboh, melantunkan nama pria itu keras-keras.

Siapa pula tak kenal Kim Jongdae—atau ia sendiri senang memanggil dirinya Chen. Sebagai seorang peraih skor vokal tertinggi dalam ujian semester tahun lalu—terlebih karena ia bisa mencapai nada tinggi dan nada rendah dengan sangat baik, membuatnya mendapatkan julukan terhormat Prince Chensing Machine.

Chanyeol berteman baik dengan Chen lantaran ketika audisi tahun pertama untuk menentukan jurusan, kedua pria itu gagal telak alias mendapatkan skor terendah dalam kelas menari. Mengingat hal itu, Chanyeol tersenyum miring. Menari benar-benar bukan dirinya.

Chen merintih. "Astaga Chanyeol, kau yakin itu dadamu? Kenapa aku serasa menabrak papan? Astaga itu keras sekali."

Pria tinggi itu mendengus, namun masih tersenyum lebar. Tampaknya, penderitaan Chen menjadi hiburan tersendiri untuknya. "Aku tidak punya banyak waktu, Jongdae. Apa kau lihat Kyungsoo? Mana Kyungsoo?" Chanyeol berjinjit untuk melongokkan kepalanya ke dalam kelas—yang sebenarnya tidak perlu dilakukan lantaran Chanyeol sudah sangat tinggi bak tiang listrik.

"Hei!" teriak Chen kesal, "Sudah kubilang jangan panggil aku dengan nama Koreaku! Panggil aku Chen! Chen-Chen!" pria yang lebih pendek dari Chanyeol itu mengangkat tangannya dan berusaha untuk memukul kepala Chanyeol, namun Chanyeol lebih sigap menghindar.

Ia mendecih. "Yang benar saja. Kau bahkan bukan orang Cina. Namamu Kim Jongdae, dan kau orang Korea asli!"

"Aku tidak peduli!" cicit Chen sembari berkacak pinggang dengan kesal. "Chen memang bukan nama asliku, tapi nama itu bagus! Dalam bahasa Cina Chen berarti bintang. Dan aku memang seorang bintang!"

Chanyeol memutar bola matanya jengah. Chen dengan mulut cerewet dan kepercayaan dirinya yang terlalu tinggi. "Baiklah, Chen." Kata Chanyeol akhirnya. Meski setengah hati, ia lebih memilih untuk mengalah pada si tulang pipi tinggi itu. "Dimana Kyungsoo? Kelas kalian sepi sekali."

"Aku bosan sekali melihat wajahmu tiap pulang sekolah." Chen memutar bola matanya. "Kyungsoo sudah pulang, Chanyeol."

Chanyeol terkekeh layaknya orang idiot, but still in a charming way, if you know what I mean. "Aku akan pulang bersamanya, seperti biasa." Lalu ia tersadar. "Apa?" katanya lagi dengan mata membulat. "Sudah pulang? Dengan siapa?"

Rasa panik menyergap Chanyeol. Sementara Chen terdiam agak lama, air mukanya tampak menimbang-nimbang sesuatu. "Sendirian." Jawab Chen akhirnya.

"Benarkah?" Chanyeol menaikkan sebelah alisnya. "Aneh." Ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Uh, baiklah Jongdae. Terima kasih."

Pria itu sebenarnya kesal karena Chanyeol kembali memanggilnya Jongdae, alih-alih Chen. Ia ingin melayangkan tangannya untuk memukul kepala Chanyeol, namun ia urungkan niat tersebut tatkala matanya menangkap ekspresi Chanyeol yang langsung berubah drastis. Pria bersurai cokelat madu itu merasakan rasa bersalah menyergap hatinya. Sungguh pemandangan yang sangat langka melihat seorang Park Chanyeol dengan wajah murung alih-alih dengan wajah penuh senyum lebar layaknya orang-idiot-namun-tampan-nya.

Chanyeol berbalik pelan, pundaknya terturun lesu. Kentara sekali sehingga Chen merasa terenyuh. Pria itu mulai berjalan mendekati tangga, berniat untuk turun ke lantai tiga.

"Chanyeol!" Chen berteriak, memanggil nama si pria tinggi.

Chanyeol berbalik dan menatap Chen bingung. "Apa?"

"Uh," Chen memintal ujung seragam SoPA-nya yang tidak dimasukkan ke dalam celana, sementara ekspresinya nampak ragu. Ia menggigit bibir pelan. Kemudian, ia menghela napas berat. "Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi kupikir kau harus tau. Maafkan aku, Chanyeol, aku hampir saja berbohong padamu."

Dahi Chanyeol berkerut tak mengerti. "Apa maksudmu?"

"Kyungsoo pulang dengan Kai. Kyungsoo berkata padaku bahwa aku seharusnya tidak boleh memberitahumu, tapi, yah ... kupikir kau harus tahu." Chen menunduk, tak berani bertemu manik hitam jelaga milik Chanyeol.

Sebuah tangan besar menepuk bahu Chen. Ketika Chen mendongak, ia mendapati wajah Chanyeol nampak tersenyum lebar, deretan giginya yang rapi dan cemerlang tampak sangat jelas.

"Terimakasih, Jongdae-ya. Aku berhutang padamu." Kata pria dengan tubuh menjulang itu, masih sambil tersenyum lebar, lalu mengedipkan sebelah matanya kepada Chen.

Senyum itu lagi. Senyum idiot yang selalu ia tampilkan. Senyum yang mengatakan bahwa ia tampak baik-baik saja. Namun kenyatannya, kita tahu tidak begitu.

Mulut Chen terngaga lebar, tak mengerti dengan sikapnya. Apa-apaan si Park Chanyeol ini? Pria itu tahu pasti bahwa Chanyeol menyukai Kyungsoo sejak lama—tapi apa ini? Pria ini tersenyum layaknya tak terjadi apa-apa?

"A-apa kau tidak marah? Apa kau marah padaku, Chanyeol?"

Tawa Chanyeol meledak. "Tentu saja tidak. Sekali lagi terima kasih. Jika kau butuh sesuatu, kau bisa meminta bantuanku. Jangan sungkan."

Dan dengan kalimat itu, Chanyeol berbalik pergi dengan langkah lebar, meninggalkan Chen sendirian penuh dengan tanda tanya.


Dalam tiga kali nada tunggu, pria itu akhirnya menjawab telponnya.

"Yeobseo?"

"Yeobseo, Chanyeol-ah?"

"Kyungsoo, kau dimana?"

"Aku sudah di rumah. Maafkan aku karena aku pulang lebih dahulu hari ini. Kau pasti khawatir."

"Ya, tentu saja aku mengkhawatirkanmu. Apa kau sampai dirumah dengan selamat? Dengan siapa kau pulang?"

Kyungsoo tertawa pelan. "Aku baik-baik saja, Chanyeol-ah. Aku pulang sendiri. Jangan khawatir."

"Baiklah. Kututup dulu."

"Um. Daaah."

Chanyeol tersenyum. Jenis senyum yang membuat hatimu terenyuh dan kau merasakan rasa iba. Untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, Kyungsoo berbohong kepadanya.

Lelah. Mungkin kalimat itulah yang menggambarkan perasaan Chanyeol sekarang. Siapa yang patut disalahkan? Mungkin dirinya. Chanyeol hanyalah seorang pengecut yang tidak berani menyatakan perasaannya kepada orang yang ia sukai.

Lihatlah, Chanyeol, bukankah kau melukai dirimu sendiri?


Baekhyun bersenandung ria.

Rumah ini benar-benar sempurna. Ia menyukai semua fasilitas mewahnya. Meski terdengar sedikit lancang karena ia segera masuk ke salah satu kamar dan langsung mencari kamar mandi.

Si mungil itu tidak peduli lagi. Ia hanya ingin mandi, melepas segala penatnya.

Namun ada satu kejanggalan yang sedari tadi memenuhi otaknya. Rumah ini sepi. Terlalu sepi untuk bisa dibilang sebuah rumah. Baekhyun tahu pasti bahwa tuan rumah sedang tidak ada, namun bukankah di rumah orang kaya selalu ada pelayan?

Sejauh mata memandang, yang Baekhyun lihat hanyalah perabotan mahal, berbagai lukisan antik, alat-alat elektronik mutakhir, sofa-sofa beludru yang empuk dan berbagai benda yang pria mungil itu tak pernah bayangkan sebelumnya.

Tapi yang anehnya, tidak ada seorang pun di sini.

Tidak seorang pun.

Perlahan, bulu kuduk Baekhyun meremang. Pria mungil bersurai cokelat keunguan itu memiliki imajinasi yang sangat kreatif. Ia selalu membayangkan hal-hal yang biasanya akan dianggap tidak terlalu penting oleh orang normal.

Bagaimana jika ternyata ia masuk ke portal dunia lain? Lalu terjebak di rumah sepi ini selamanya? Lalu bagaimana jika ia bertemu dengan seorang wanita berambut panjang, yang bahkan kakinya tidak menjejak ke tanah?

Hiiiiiii.

Si mungil merinding ngeri, lalu menggeleng kuat-kuat, membuat rambut basahnya yang berwarna ungu gelap mencipratkan air ke segala tempat.

Ia menggembungkan pipinya, lalu mulai berjalan keluar kamar mandi hanya dengan mengenakan bath robe. Ia bahkan tidak tahu bath robe yang ia kenakan ini milik siapa. Selama dirasanya masih layak pakai, ia akan memakai benda tersebut tanpa pikir dua kali.

Baekhyun membiarkan kaki mungilnya berkeliling kamar luas itu. Ia melihat satu foto berukuran medium tengah terduduk manis di atas meja belajar. Sebuah potret lucu seorang anak kecil dengan telinga mencuat dan seorang wanita cantik yang tengah memeluk si anak kecil. Selain foto itu, tidak ada foto lain di sana.

Ruangan kamar itu nampak luas dan mewah, tetapi terasa sangat kosong dan dingin. Berbeda dengan kamar Baekhyun dulu, meski tidak seluas ini, selalu ada kehangatan yang melingkupinya. Ada kasur king size lengkap dengan empat tiang berkelambu putih terletak di tengah-tengah ruangan. Di hadapan kasur itu, ada sebuah televisi berukuran giant yang menempel rata dengan dinding. Belum lagi lemari, meja belajar, dan studio rekaman mini di sudut ruangan.

Di sana ada gitar, drum, keyboard dan alat musik lainnya.

Baekhyun berdecak kagum. Pemilik kamar ini pasti orang yang sangat keren. Baekhyun sendiri bisa memainkan keyboard, meski tidak terlalu mahir. Ia belajar memainkan piano dan keyboard dari ayahnya.

Ayah.

Ayah lagi. Dimana pria itu sekarang?

Pria mungil itu mendesah letih. Ia kemudian berjalan pelan menuju kasur, segera merebahkan tubuh mungilnya di sana. Ia tersenyum ketika merasakan tekstur kasur yang empuk segera menyambutnya.

Mendadak, matanya berat. Pikirannya damai, dan dia hampir terlelap.

Tak heran pula jika si mungil itu tidak mendengar suara derapan kaki dari luar ruangan.

Dan ketika si mungil bersurai cokelat keunguan itu hampir sepenuhnya terlelap, seorang pria dengan tubuh menjulang tinggi masuk ke kamar dan terbelalak kaget.

"SIAPA KAU?!" suara baritonnya membuat Baekhyun terlonjak kaget. Ia melompat dari kasur dengan bath robe yang hampir tersingkap sepenuhnya, menampakkan sedikit kulit pundaknya yang halus.

Pria mungil itu memandangnya tidak fokus, kesadarannya belum kembali seutuhnya. Ia mengucek-ucek matanya, lalu kembali memandang kepada si pria tinggi.

"A-aku .." cicit Baekhyun terbata-bata.

Si pria tinggi memandangnya was-was dengan manik hitam jelaganya yang tampak mengerikan. Entah sejak kapan—Baekhyun tidak memperhatikannya—di tangan si pria tinggi telah bertandang manis sebuah tongkat baseball.

"Apa kau pencuri?!" teriak si pria tinggi dengan marah.

"Bukan!" jerit Baekhyun segera, sembari berjalan mundur dengan teratur.

Pria itu mendecih, meremehkan Baekhyun dengan tatapannya. "Yah, kurasa pepatah itu memang benar. Tidak ada pencuri yang mau mengaku!"

Sementara Baekhyun berjalan mundur, pria itu berjalan maju mendekatinya, tampak begitu berbahaya.

"Aku bukan pencuri!" kata Baekhyun takut-takut. "Dengarkan aku dulu!" Baekhyun merasakan sesuatu yang keras menyentuh punggungnya, dan ia menyadari bahwa itu adalah dinding. Habislah sudah. Ia terjebak, tidak bisa mundur lagi.

Kemudian, tanpa aba-aba, pria itu berlari. Berlari mendekatinya sembari mengayunkan tongkat baseball—tepat membidik kepala mungil Baekhyun. Ia sontak memejamkan mata. Mempersiapkan diri kalau-kalau tongkat baseball itu menghantam telak kepala mungilnya.

Namun, sejurus kemudian, yang pria mungil itu rasakan hanyalah sapuan hangat napas seseorang, tepat di depan wajahnya.

"Katakan padaku," bisik pria itu dengan suara beratnya, "siapa kau?"


Pada saat momen Chanyeol mengendarai mobilnya memasuki gerbang, perasaannya sudah tak menentu. Meski ia sendiri tidak bisa menjelaskan apa itu. Mungkin ini efek patah hati yang Kyungsoo lakukan padanya. Mungkin saja. Namun setelah bertahun-tahun hidup dalam kesendirian, Chanyeol tahu bukan perasaan sakit hati yang kini tengah mengusiknya.

Sepi?

Ya. Rumah ini memang sepi karena Chanyeol yang menginginkannya. Pengurus rumah dan tukang kebun biasanya hanya akan datang ketika subuh dan pulang sebelum Chanyeol bangun di pagi hari. Itu sendiri karena ia yang menghendakinya. Ia tidak suka orang asing berada di rumahnya.

Orang tua? Tidak. Chanyeol tidak ingat kapan terakhir kali ia menyebutkan kata 'Ayah' atau hanya sekedar berteriak 'Ibu' karena lapar. Orang tua mereka bercerai hampir tujuh tahun yang lalu, dan semenjak hal itu terjadi, Chanyeol merasakan ada lubang besar dalam dirinya yang berusaha ia tutupi dengan senyum cerah. Semua sifat yang ia tunjukkan—segala sifat ceria, humoris dan menyenangkan—semuanya hanya topeng.

Bahkan jika ia sendiri boleh jujur, ia membenci semua yang pernah terjadi dalam hidupnya.

Setelah orang tua mereka bercerai, Chanyeol hidup bersama ibunya yang bahkan tidak peduli dengan keadaannya. Terlahir sebagai anak orang kaya mungkin memang bukan sesuatu yang buruk. Namun Chanyeol lebih memilih hidup sebagai orang yang berkecukupan namun memiliki orang tua yang utuh dan keluarga yang bahagia. Lee Young Ri—Ibu Chanyeol—adalah orang yang sangat perfeksionis. Ia seorang workaholic.

Chanyeol bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia melihat wajah keras Ibunya, atau bahkan hanya mendengar suaranya. Makan di satu meja yang sama dan saling berbicara layaknya keluarga normal? Lupakan. Chanyeol tidak bisa mengingatnya. Lagipula, ia tidak berniat untuk menemuinya. Dimana ia sekarang, pria jangkung itu tidak peduli. Yang pasti, wanita dingin itu tidak akan pulang dalam jangka waktu yang sangat lama. Dan itu tidak akan membebani Chanyeol. Semuanya akan jauh lebih baik jika wanita itu tidak bersamanya. Lee Young Ri mungkin sedang dalam perjalanan bisnis. Hongkong, atau Tokyo, mungkin? Chanyeol tidak ingat dan tidak akan pernah peduli. Perusahaan adalah aset berharga yang paling disayanginya.

Amat berharga hingga anak tunggalnya, yang sesungguhnya hanyalah seonggok makhluk rapuh, tidak cukup penting untuk mendapatkan secuil perhatiannya.

Oh, mungkin sebenarnya wanita itu peduli. Toh jika tidak, ia tidak akan mengirimkan begitu banyak uang ke dalam rekening Chanyeol tiap bulannya. Diam-diam, pria jangkung itu tertawa meremehkan. Ia masih ingat rupanya bahwa ia punya seorang anak. Meski Chanyeol pikir di mata Ibunya ia hanyalah hama rakus pemakan uang. Tidak masalah. Ia jelas akan bersenang-senang dengan uang itu.

Oh, tentu saja. Ia sangat diajarkan dengan baik bagaimana cara menghabiskan uang.

Bagaimana dengan ayah?

Persetan. Ia membenci pria itu sebanyak masa eksistensinya selama tujuh belas tahun. Pria laknat itu harus di labeli sebagai ayahnya. Yang benar saja. Ada DNA pria itu dalam diri Chanyeol. Dan itu malah membuatnya makin membenci dirinya.

Jika mencari seseorang yang harus di salahkan, pria itu adalah dalangnya. Chanyeol tidak tahu kenapa, tapi bukankah seorang ayah harusnya melakukan semua tanggung jawab dalam keluarga? Di masa krisis keluarganya, pria itu hanya mengemaskan beberapa koper dan mengangkut koper itu lalu segera hengkang dari rumah. Bahkan tanpa menoleh ke belakang, dimana Chanyeol menangis tersedu-sedu dalam pelukan ibunya.

Mengingat hal itu Chanyeol malah memaki dirinya.

Pria itu tidak pantas mendapatkan tangisan berharga dirinya. Ia mungkin membenci ibunya—ah, tidak. Chanyeol tidak membenci wanita itu, hanya saja, beberapa tahun terakhir ini membuat mereka seperti dua orang yang tidak saling mengenal. Baik Chanyeol maupun Lee Young Ri merasakan atmosfer asing ketika bersama. Itu mungkin akan jauh lebih baik. Toh ibunya jarang pulang dan Chanyeol akan baik-baik saja ketika sendiri. Jika memang harus membenci seseorang, ayah Chanyeol patut mendapatkannya.

Dulu, Chanyeol mungkin begitu muda hingga ia sama sekali tidak mengerti bahwa akan ada kehancuran yang menunggunya di masa mendatang hanya karena kedua orang tuanya bercerai. Chanyeol tidak tahu apa masalahnya hingga mereka memutuskan untuk bercerai.

Ketika ia cukup dewasa, ia akhirnya mengerti. Mengerti bahwa semua bukan urusannya. Ia hanya akan hidup dalam kesendiriannya. Tidak perlu Ibu atau bahkan Ayah. Apa yang terjadi di antara kedua orang tuanya, Chanyeol hanya akan membiarkannya seperti itu. Ia tidak akan mencari tahu atau bahkan untuk sekedar peduli.

Itu semua bukan urusannya.

Ia hanyalah seorang Park Chanyeol. Tidak lebih.

Namun, sepertinya, mengesampingkan semua itu, bukan keadaan rumah yang sepi yang mengusik hatinya.

Ada sesuatu yang lain.

Meski begitu, ia membiarkan kaki jenjangnya memasuki rumah. Membuka sepatunya dengan kasar dan membiarkannya tergeletak di samping lemari sepatu. Baru berjalan beberapa langkah, akhirnya pria jangkung dengan surai kecokelatan itu menyadari sesuatu.

Pintu rumahnya.

Tidak terkunci.

Dan ketika ia menoleh kebelakang untuk melihat ke arah rak sepatu, kening Chanyeol berkerut samar sebagai responnya. Sebuah sepatu asing duduk manis di atas rak sepatu. Tersusun dengan sangat rapi.

Pria jangkung itu tidak ingat bahwa ia memiliki sepatu converse berwarna soft pink. Tidak, ia bukan penggemar converse, ia tidak memakai sepatu merek itu. Dan lihat warnanya! Soft pink? Hah, membuat mata sakit saja. Tidak. Ini salah. Seseorang pasti berada di sini. Tapi orang itu jelas bukan sekuriti milik keluarga Park atau bahkan ahjumma yang biasa membersihkan rumah. Gila saja. Ahjumma mana yang mungkin memakai converse dengan warna soft pink dengan model kekinian seperti itu?

Tukang kebun milik Ibunya? Bunuh saja ia jika memang kau melihat tukang kebun tengah memotong rumput liar menggunakan converse berwarna soft pink alih-alih menggunakan sepatu boot karet demi keselamatan kakinya.

Kemudian, layaknya sebuah jawaban, Chanyeol mendengar bunyi derap kaki dari lantai dua. Meski tidak kentara, bunyi itu terdengar cukup kuat di dalam rumah sepi nan luas itu. Dengan sigap dan gerak-gerik yang penuh kehati-hatian, Chanyeol membiarkan kakinya melangkah menaiki tangga.

Ia berusaha untuk berjalan dalam diam, dan ternyata tidak sulit untuk dilakukan. Jantungnya berdegup dengan sangat cepat hingga ia sendiri merasa akan meledak. Apakah ada orang jahat menyusup masuk ke rumahnya? Berbagai pertanyaan mengalir deras dalam kepalanya. Namun ia tidak kehilangan akal sehat. Orang jahat mana yang akan merampok rumahmu menggunakan sepatu converse berwarna soft pink? Terlebih ia menyusun dengan sangat rapi sepatu bodoh itu di atas rak sepatu.

Meski demikian, tidak ada salahnya untuk waspada bukan?

Chanyeol mendengar derap kaki itu lagi. Kali ini lebih kuat. Berasal dari kamar dengan cat pintu yang berwarna biru tua. Chanyeol memaki pelan. Itu kamarnya. Apa yang pencuri sialan itu lakukan di kamarnya? Demi apapun Chanyeol benci ketika seseorang memasuki daerah pribadinya.

Ia memutar grendel pintu perlahan, sembari tangannya yang lain meraih tongkat baseball dari dalam kotak panjang di samping pintu, tempat dimana tongkat berat itu diletakkan bersama beberapa payung.

Ia berhasil menyusup tanpa suara. Namun kemarahannya meledak begitu saja ketika ia melihat seseorang tengah berbaring di atas kasurnya, hanya menggunakan bathrobe. Bathrobe miliknya.

"SIAPA KAU?!" Chanyeol berteriak. Suaranya yang berat menggelegar di dalam ruangan itu.

Orang asing itu terlonjak kaget, bergumam takut-takut. Chanyeol begitu marah sehingga ia tidak bisa mendengar apa yang orang itu katakan. Apa yang orang sialan ini lakukan di sini? Rambutnya berwarna magenta, tampak basah dan tubuhnya hanya dibaluti bathrobe. Apa ia baru saja mandi dari kamar Chanyeol? Apa orang ini sinting?!

Chanyeol berkata lagi, "apa kau pencuri?"

Orang itu sontak berteriak, "bukan!" lalu ia berjalan mundur ketakutan.

Chanyeol tidak peduli lagi. Sumpah serapah berkumandang nyaring dalam benaknya. Orang itu tampaknya gelapan dan berkata sesuatu. Tapi Chanyeol tidak peduli dan segera berlari mendekatinya. Ia mengayunkan tongkat baseballnya sementara orang asing itu menutup matanya kuat-kuat dan bersandar ketakutan pada tembok dinding yang berwarna krem. Tubuhnya bergetar ketakutan.

Chanyeol kemudian tersadar begitu jarak dirinya dan orang asing itu hanya beberapa senti. Sesuatu membuatnya berhenti. Ia melempar tongkat baseballnya ke atas kasur dan memerangkap orang yang tubuhnya jauh lebih kecil itu dengan kedua tangannya.

Chanyeol menunduk dan menatapnya tajam. "Katakan padaku, siapa kau?"

Mata orang itu terbuka dan tatapan mereka saling bertemu. Wajah Chanyeol hanya beberapa jarak dari wajahnya yang mungil.

Kemudian, sebelum Chanyeol sempat menyadarinya, orang itu telah mendorong dada Chanyeol dengan begitu kuat hingga pantat pria itu mencium lantai. Dan bunyi 'buk' teredam terdengar. Pria jangkung itu mengaduh. Apa tulang ekornya baik-baik saja?

"YA! KAU MESUM!"

Apa?

Chanyeol melongo. Ia mendongak dan menatap orang dengan rambut magenta itu bingung. Amarahnya naik ke ubun-ubun. Yang benar saja. Apa yang orang brengsek ini katakan?

Masih belum pulih dari efek terkejutnya, orang itu melanjutkan dengan nada membentak, "sial kau membuatku takut! Setidaknya biarkan aku memakai bajuku dulu!"

Apa?! Apa yang baru saja si brengsek ini katakan?

Chanyeol segera bangkit dan meraih kerah bathrobe-nya yang tersingkap. "Kau, makhluk sialan." Ancamnya dengan suara penuh bahaya. Ia hendak mengepalkan salah satu tangannya untuk meninju wajah cantik orang itu, tapi sekali lagi aksinya terhenti karena sesuatu.

Mata cokelat cerah itu. Ada apa di sana? Ada sesuatu di dalam mata cokelat cerah itu.

Chanyeol menghembuskan napasnya kasar dan segera menyentakkan kerah bathrobe orang itu dengan sangat kuat, membuat orang itu berjengit kesakitan. Bahkan orang bodoh pun tahu hanya dengan sekali lihat bahwa ia tidak memakai sehelai benang pun di balik bathrobe kebesaran milik Chanyeol itu.

"Cepat pakai bajumu, sialan." Kata Chanyeol kasar. Ia mendengus, mengerinyit saat aroma lembut stroberi memasuki indera penciumannya.

Orang itu, dengan kecepatan kilat cahaya, lantas meraih bajunya yang ia letakkan serampangan di depan pintu kamar mandi dan segera masuk ke sana untuk berpakaian.[]


A/N : CHAPTER 2 IS UP! Gimana chapter ini? btw aku ngambil sisi polos Baekhyun jaman wolf era dulu, bcs his purple hair is my fave! Hbu gaiss? Review pls?^^