[CHAPTER 03 - SWEET HUGS]


"A combination of a warm hug and a sweet strawberry fragrant: It's driving you crazy."


"Cepat pakai bajumu, sialan." Kata Chanyeol kasar. Ia mendengus, mengerinyit saat aroma lembut stroberi memasuki indera penciumannya.

Orang itu, dengan kecepatan kilat cahaya, lantas meraih bajunya yang ia letakkan serampangan di depan pintu kamar mandi dan segera masuk ke sana untuk berpakaian.

Tak sampai lima belas menit, orang itu keluar dari kamar mandi. Kali ini telah berpakaian lengkap. Sementara Chanyeol bersandar di depan pintu kamarnya, berjaga-jaga jika si brengsek itu segera berlari kabur begitu keluar dari kamar mandi. Syukurlah, kamar mandinya tidak memiliki jendela. Satu-satunya jalan keluar adalah pintu kamar dan jendela kaca berukuran tinggi di dekat kasur king size-nya.

Kening Chanyeol berkerut. Lagi-lagi, harum stroberi menyeruak, membelai indera penciumannya. Oh, yeah, apa Chanyeol sudah berkata bahwa ia seorang pria? Yah, ia seorang lelaki yang tampaknya seumuran dengan Chanyeol. Atau bisa jadi lebih muda. Ia lebih pendek dari Chanyeol, matanya sipit dengan pipi berisi dan rambut berwarna cokelat keunguan.

Chanyeol berbalik dan mengunci pintu kamarnya, lalu mencabut kunci itu dan mengamankannya ke dalam saku celana seragam sekolahnya. Ia menatap pria pendek itu tajam. Baekhyun memakai celana jins selutut—Chanyeol menaikkan sebelah alisnya ketika melihat kaki pria itu ternyata mulus—sebuah kaus putih kedodoran dan jaket denim. Chanyeol mendengus. Pria ini tampak cukup menarik jika saja Chanyeol tidak dalam fase menjadi pria brengsek saat ini. Matanya buta akan amarah, hingga ia tidak melihat kulit seputih susu dan wajah manis dengan senyum menawan di hadapannya.

"Nah," kata Chanyeol dingin, "kau boleh mulai menjelaskan."

Chanyeol duduk di atas meja belajarnya, menyilangkan kaki sembari bersedekap dan memandang tajam pria berambut magenta itu.

"Aku ..." pria itu memulai, "namaku Byun Baekhyun."

Chanyeol mendengus kasar. "Brengsek. Aku tidak bertanya tentang namamu."

Oke, baiklah. Byun Baekhyun. Baekhyun. Pikir Chanyeol. Si bodoh dengan aroma stroberi ini bernama Baekhyun.

Pria bernama Byun Baekhyun itu mendongak ketika Chanyeol berkata kasar. "Hei, apa kau harus berbicara seperti itu? Apa aku bahkan melakukan kesalahan padamu?" ia menyipitkan matanya dan memandang Chanyeol marah.

Mendengar itu, Chanyeol malah tertawa sarkastik. "Astaga, kau lucu sekali. Kau menyusup ke rumahku, memakai barang-barangku, berbaring dengan nyaman di atas kasurku. Apa kau masih punya harga diri? Setidaknya seorang penyusup memiliki sedikit harga diri, bukan?"

Pria itu mengetatkan rahangnya. "Aku bukan penyusup! Dan kau harus memperbaiki kalimatmu!"

Chanyeol memaki dalam hati. Si brengsek ini benar-benar lihai dalam mempermainkan emosinya. Pria jangkung itu bukan orang yang gampang meledak dan marah-marah lalu bertindak kasar seperti ini. Ia biasanya mencintai ketenangan terlebih ketika ia tengah menulis lagu—salah satu hobinya dari kecil. Namun, siapa yang tidak akan meledak seperti bom atom jika keadaannya seperti ini? Ia sudah cukup mengalami hari yang buruk dan semuanya bertambah runyam karena pria mungil bermulut tajam dengan nama Byun Baekhyun merangsek masuk dalam kehidupannya.

Sontak, pria jangkung itu berdiri. "Apa katamu?! Katakan sekali lagi brengsek! Apa katamu?!"

Pria yang jauh lebih mungil membulatkan matanya karena kaget. Meski demikian, ia berkata, "aku tidak takut padamu! Dan berhentilah mengataiku brengsek! Namaku Byun Baekhyun dan sudah kubilang aku bukan penyusup! Aku bisa menjelaskan semuanya padamu!"

Byun Baekhyun mungkin tampak seperti orang yang cukup berani. Tapi bahkan tubuhnya sendiri mengkhianati ucapannya. Ia berjalan mundur beberapa langkah sebagai buktinya.

Gertakan. Chanyeol paham benar gerak-gerik sok berani seperti ini. Pria jangkung bersurai hitam itu mendecih. "Persetan!" makinya kuat-kuat. Manik matanya yang hitam jelaga menatap tajam sosok Baekhyun.

Dengan tangan gelagapan, pria dengan rambut magenta itu merogoh saku celana jinsya. Ia menarik tali sepatu berwarna putih yang telah diikat dengan sebuah kunci. Ia menggantung benda itu tepat di depan wajah Chanyeol. "Bagaimana mungkin kau menyebutku penyusup, ketika bahkan memiliki akses?!" ujar pria itu kesal.

Chanyeol menatap lamat-lamat sebuah kunci yang menggantung dari tali sepatu itu. Bagaimana mungkin?

Chanyeol melayangkan tangannya dan merampas kunci itu dengan sangat kasar, membuat Baekhyun berjengit karena tepisan tangan Chanyeol yang besar. "Darimana kau mendapatkannya? Bagaimana mungkin?! Apa kau mencurinya?!"

Pertanyaan ketiga memang agak tidak masuk akal. Duplikat kunci rumah hanya ada tiga. Satu dipegang oleh Chanyeol, satunya lagi dipegang oleh Ibunya, dan satunya yang lain lagi diberikan kepada pengurus rumah.

"Aku—"

"Apa kau anak Tuan Go?" tanya Chanyeol, menyebut marga keluarga yang biasa mengurusi rumahnya.

Baekhyun menggeleng lucu. Makin lucu ketika ia mengedipkan matanya beberapa kali.

"Lalu dari siapa kau mendapatkannya?!" kali ini, Chanyeol membentak keras, membuat pria berambut magenta yang tadinya tengah menatap Chanyeol bingung kini terlonjak kaget.

Baekhyun menatap Chanyeol tak suka. Ia menghela napas berat, berusaha menahan seribu kejengkelan dalam hatinya. Apa sebenarnya masalah pria tiang ini? Apakah sangat sulit untuk bertanya baik-baik dalam suara yang bersahabat?

"Kunci ini dikirim bersama sebuah paket kerumah bibiku. Aku tinggal bersamanya beberapa bulan terakhir ini." kata pria bersurai magenta itu pelan. Terserah saja jika memang pria jangkung ini mau berteriak atau bahkan memaki. Ia tidak peduli lagi.

Kening Chanyeol berkerut. "Paket? Apa isinya? Dari siapa?"

Baekhyun mengangkat bahunya. "Hanya sebuah kotak kecil berisikan kunci ini." Baekhyun terdiam sebentar, "oh! Dan sebuah kertas berisikan alamat dan sedikit pesan." Pria mungil berwajah manis itu kembali merogoh salah satu saku jinsnya dan mengeluarkan secarik kertas yang telah ronyok dan lusuh.

Syukurlah, mungkin karena rasa ketertarikan yang amat tinggi, kali ini Chanyeol tidak merampas kasar kertas itu. Alih-alih kasar, ia hanya meraih pelan kertas itu dan segera membacanya.

Baekhyun-ah! Apa kabar? Kau pasti bertanya-tanya tentang paket ini, dan kau mungkin tidak mengenaliku. Tapi, apa kau mau tinggal di rumahku? Kupikir aku benar-benar berhutang budi dan hanya ini yang bisa kulakukan untukmu. Dan—oh, sampaikan salamku padanya. Memikirkan tentang masa lalu masih membuat jantungku berdebar begitu cepat! Omong-omong, di balik kertas ini, aku akan menuliskan alamatnya. Jadi kau tidak perlu khawatir! Selamat datang di rumah baru, Baekhyun-ah.

xoxo

Young Ri, Lee

Mata Chanyeol membulat. Apa-apaan ini? Apa ini sebuah candaan? Jika memang benar, ini salah satu gurauan memuakkan yang pernah Chanyeol alami.

Young Ri, Lee?

Sial, yang benar saja.

Ibunya?

Wanita dingin gila kerja itu? Chanyeol mungkin akan tertawa hingga organ dalamnya meleleh karena surat menggelikan yang tengah ia pegang saat ini. Bagaimana mungkin wanita gila itu menulis sesuatu seperti ini? Apa kau mengharapkan sesuatu yang menyenangkan dan terkesan hangat keluar dari seseorang dengan hati yang beku? Kau pasti bercanda.

Dan sialnya, tiap-tiap kalimat yang tertulis di kertas itu menunjukkan seakan-akan Lee Young Ri adalah sahabat lama Baekhyun—yang jelas-jelas tidak mungkin. Chanyeol tidak akan menerimanya. Orang gila mana yang akan mengirimkan sebuah paket berisikan sebuah kunci rumah dengan mudahnya? Terlebih lagi sebuah surat konyol dengan ajakan—atau perintah—untuk tinggal dirumahnya?

Chanyeol mendongak dan matanya bertemu pandang dengan manik cokelat cerah milik pria berambut ungu yang kini tengah menatapnya antusias penuh rasa ingin tahu.

Karena Chanyeol tak kunjung berbicara, Baekhyun berinisiatif untuk tersenyum. "Nah," katanya, "sekarang kau mengerti, kan? Aku bukan penyusup. Apa Nyonya Lee juga menyuruhmu tinggal di sini?" kemudian si mungil itu terkekeh. "Kau pasti terkejut karena mendapat teman serumah, benarkan?"

Chanyeol melongo lebar. Tidak percaya akan kalimat sinting yang barusan ia dengar. Apa pria bernama Byun Baekhyun ini memiliki otak terbelakang? Atau ia hanya kelewat polos?

Pilihan yang pertama lebih meyakinkan.

"Kau," geram Chanyeol, "kau percaya dengan surat ini? Apa kau bodoh?"

Baekhyun menggeleng, tidak sadar dengan nada meremehkan milik Chanyeol. "Tentu saja aku percaya. Bukankah aku sampai di rumah ini dengan selamat? Lagi pula aku sudah berbicara dengan Nyonya Lee—"

"Tunggu." Chanyeol menyipitkan matanya. "Apa?"

"Aku berbicara dengan Nyonya Lee." Jawab Baekhyun lalu menganggukkan kepalanya lucu.

"Kau, berbicara ... dengannya?"

Baekhyun mengangguk lagi.

"Bagaimana mungkin?" Chanyeol tidak menyadari kegetiran yang seketika itu meluncur bebas dari bibirnya ketika ia mengucapkan kalimat tersebut.

"Aku ..." Baekhyun tampak terdiam sebentar. "Aku tidak tahu. Dia yang menghubungiku."

Tidak cukup hanya dengan satu kejutan, kalimat barusan memberikan kejutan lain yang lebih mengerikan. Amarahnya terkuras habis dan ia lelah. Ibu macam apa dia? Apa semua ini bahkan masuk akal?

Tubuhnya yang jangkung seakan linglung. Ia mundur beberapa langkah dalam keterkejutan dan ketidakpercayaan. Ia membiarkan dirinya bersandar pada tepian meja belajar dan menunduk dalam diam. Berbulan-bulan tanpa kabar, tanpa sebuah panggilan atau pesan untuk Chanyeol, dan wanita itu dengan mudahnya menghubungi pria ini? Seberapa penting pria bernama Byun Baekhyun ini untuk Ibunya? Apa ia sebuah tambang emas yang tidak bisa habis?

Baekhyun mengeluarkan ponselnya dan membuka riwayat panggilan, lalu ia melihat sebuah nomor tak dikenal yang enggan ia hapus dan segan pula ia simpan. Ia kemudian menekan tombol hijau dan menyodorkan ponsel itu kepada Chanyeol.

"Apa kau masih tidak percaya padaku?" tanya pria itu. "Coba saja berbicara dengannya."

Chanyeol mendongak dan melihat uluran tangan Baekhyun yang halus.

Benaknya berkata bahwa tidak ada salahnya mencoba.

Maka ia meraih ponsel itu dalam diam dan mengapitnya di telinga. Nada tunggu terdengar cukup lama, sebelum akhirnya sebuah suara familiar menyambut indera pendengaran pria jangkung itu. Sebuah suara menyenangkan yang dulunya sering ia dengar.

"Yeobseo, Baekhyun-ah?"

Chanyeol ingin memaki, dan mungkin menangis dalam saat yang bersamaan. Begitu mudah baginya untuk menerima panggilan dari orang lain. Kegetiran dalam diri Chanyeol berubah menjadi amarah yang meletup-letup.

"Baekhyun?"

Suara itu lagi.

Chanyeol mendesah berat dan tertawa sarkastik. "Hai, Ibu. Sayang sekali ini bukan orang yang kau sebutkan barusan. Apa kau kecewa?" Katanya dingin. Ia sengaja memberi begitu banyak penekanan pada kata 'Ibu'.

Di hadapan Chanyeol, pria mungil bersurai magenta itu terkesiap. Ia tidak menyangka bahwa pria jangkung di hadapannya ini adalah ... oh tidak. Hidupmu mungkin akan benar-benar tamat, Byun Baekhyun.

Dari seberang telepon, helaan napas berat terdengar. "Chanyeol." Katanya.

Chanyeol tertawa nyaring, berusaha menyembunyikan rasa sakitnya yang luar biasa. "Wah, aku sangat terkejut sampai-sampai aku tidak bisa berkata apapun lagi saat ini."

"Aku tahu ini akan terjadi." Kata suara yang tak lain dan tak bukan adalah Lee Young Ri. "Chanyeol, dengarkan aku baik-baik. Aku tahu aku tidak sempat memberitahukan hal ini, tapi kau harus melakukannya. Jaga Baekhyun. Jangan melakukan sesuatu yang bodoh seperti—oh, Tuhanku, dimana Baekhyun? Kau apakan anak malang itu? Chanyeol aku bersumpah—"

Chanyeol menggeram kuat dan akhirnya berteriak. "KENAPA AKU HARUS?! KATAKAN KEPADAKU KENAPA AKU HARUS MELAKUKANNYA?! KAU PIKIR SIAPA DIRIMU BENAR-BERANINYA MENYURUHKU MELAKUKAN HAL SIALAN SEMACAM ITU?!"

Baekhyun terlonjak kaget, secara otomatis mundur beberapa langkah. Ia menatap pria jangkung itu takut.

Kembali, helaan napas setengah hati terdengar. "Chanyeol, aku percaya padamu. Ibu percaya padamu."

Pria jangkung itu tertawa, membuat Baekhyun berpikir bahwa pria jangkung ini mungkin saja seorang psycho yang mengerikan. "Apa? Apa yang barusan kau bilang? Ibu? Kau Ibuku? Kau pasti bercanda!"

Kemudian, sebuah suara sakit hati dan sedih terdengar. "Maafkan aku, Chanyeol-ah. Aku harus pergi. Aku berjanji akan menjelaskan semuanya padamu nanti. Kumuhon, jaga Baekhyun untukku. Kau harus melakukannya, Chanyeol-ah. Aku ... aku percaya padamu."

Lalu begitu saja, telepon itu terputus hanya dalam beberapa detik bahkan sebelum Chanyeol menyadarinya, sebelum otaknya memproses semua perkataan tak masuk akal yang wanita itu tuturkan.


Lee Young Ri menghempaskan ponselnya kuat-kuat ke atas meja kerjanya. Ia menengadahkan kepalanya ke belakang kursinya—sebuah singgasana besar, yang menurutnya merupakan tempat yang lebih baik ketimbang rumahnya sendiri.

Perjalanan bisnisnya telah berakhir lebih dari dua hari yang lalu, dan ia sama sekali enggan pulang. Terlebih, ia tak sanggup melihat wajah keras anak tunggalnya, Park Chanyeol.

Anak keras kepala itu patut membencinya, ia sadar betul itu. Lee Young Ri mungkin bukan seorang Ibu yang baik, namun demikian, seorang Ibu tetaplah Ibu. Ia menyayangi Chanyeol, namun tidak berani menunjukkan apa yang ia rasakan. Ia terluka, dan ia yakin begitu juga dengan anak tunggalnya itu.

Chanyeol ... kapan terakhir kali ia mendengar dan memandang wajah anak itu?

Bahkan untuk lidahnya, nama tersebut terdengar asing.

Ia merindukannya. Namun, mendengar nada yang ia pakai dalam percakapan telepon tadi, anak itu sepertinya marah. Ia akan marah besar dan mengamuk. Lee Young Ri sungguh berharap bahwa ia akan bersabar setidaknya untuk beberapa bulan ke depan.

Setelah bercerai, Young Ri kembali kepada marga keluarganya, Lee, dan membuang jauh-jauh marga Park. Meski Chanyeol harus tetap memakai marga itu karena marga itu adalah marga yang sah. Ia kemudian mulai membangun semua pondasi dan tembok besar kasat mata yang membuatnya jauh dari anaknya sendiri. Mungkin itu akan jauh lebih baik. Ia senang menenggelamkan diri dalam berkas-berkas perusahaan hingga larut malam, membuatnya lupa akan semua kesedihan dan keterpurukannya. Ia tidak akan menyerah. Setelah semua perusahaan cabangnya sukses, ia berjanji akan kembali seperti dulu—seperti Lee Young Ri yang pantas. Ia akan menunjukkan kepada Park Seung Hoon bahwa ia bukanlah seorang wanita lemah.

Namun, situasi tampaknya berubah menjadi baik akhir-akhir ini.

Seorang teman lama menghubunginya. Young Ri paham betul bahwa orang ini sedang tertimpa masalah, dan ia tidak yakin bisa membantu. Meski demikian, teman lama tersebut menitipkan seorang anak padanya. Byun Han adalah teman sekolah sekaligus sahabat masa kuliahnya. Sayangnya, saat ini pria itu tidak dalam kondisi yang baik. Ia sangat ingin bertemu dengan pria itu, namun bertemu dengan seseorang yang tengah di cari dan di waspadai oleh seluruh penduduk Korea Selatan saat ini bukanlah hal yang bagus.

Terlebih, ia tidak bisa terlibat skandal.

Meski demikian, Young Ri dengan senang hati membantu apapun yang Byun Han minta. Lagi pula, pria itu tidak meminta hal yang muluk-muluk. Ia hanya meminta Young Ri untuk setidaknya menjaga anaknya.

Byun Baekhyun.

Diam-diam, wanita itu tersenyum. Entah kapan terakhir kali ia melihat Byun Baekhyun kecil dengan pipi gemuk yang terlelap dalam buaian Ibunya. Ia penasaran bagaimana rupa anak itu sekarang. Ia lahir di tahun yang sama seperti anaknya, Chanyeol. Hanya berbeda bulan saja, dan Baekhyun beberapa bulan lebih tua. Sayang sekali anak seperti Baekhyun harus kehilangan sosok Ibu di usia yang terbilang cukup muda. Terlebih, posisi ayahnya yang tidak jelas, ia hidup sebatang kara.

Young Ri menyuruh sekretaris kepercayaannya untuk mencari anak itu, yang ternyata tidak sulit untuk dilakukan. Sama seperti Chanyeol, ia masih bersekolah dan saat ini tinggal bersama bibinya. Ia bekerja paruh waktu di tiga tempat, mulai dari pulang sekolah hingga larut malam.

Sungguh, Young Ri tidak bisa membayangkan remaja semuda Baekhyun melakukan pekerjaan begitu banyak. Ia tidak seharusnya bekerja untuk membiayai hidup.

Lalu, ide itu muncul begitu saja.

Ia akan menyuruh Baekhyun untuk tinggal di rumahnya. Sebelum itu, ia tentu perlu mendapat persetujuan Byun Han. Pria itu menyetujui usul tersebut dengan mengucapkan beribu terima kasih kepada Young Ri.

Baekhyun juga tidak bodoh. Orang mana yang akan percaya dengan ajakan untuk tinggal di rumah orang asing? Lagipula, Young Ri hanya pernah bertemu Baekhyun setidaknya dua kali, ketika ia masih balita. Baekhyun jelas tidak akan mengenalinya. Maka, Young Ri menyuruh Byun Han untuk membujuk anak itu agar ia percaya. Young Ri percaya bahwa Baekhyun tentunya akan langsung menyetujui hal yang berkaitan dengan ayahnya.

Tebakan Young Ri ternyata benar. Sepertinya ia tiba di rumah hari ini, dan sudah dapat dipastikan ia telah bertemu dengan si batu karang sekeras baja bernama Park Chanyeol.

Young Ri hanya berharap mereka akan akur. Karena ia tidak akan kembali ke rumah untuk waktu yang cukup lama.

Semakin lama, Byun Han makin sulit dihubungi. Entah kemana pria itu bersembunyi kali ini. Ia percaya bahwa seorang Byun Han bukanlah orang yang seperti itu, dan Byun Han sendiri telah mengakui semuanya kepada Young Ri sewaktu-waktu mereka berbincang di telepon. Ia difitnah, dan tidak seorang pun percaya kepadanya.

Lee Young Ri mendesah dalam. Dadanya terasa sesak, dan ia ingin bertemu dengan anak semata wayangnya. Hanya saja harga dirinya terlalu tinggi untuk hal itu.

Wanita setengah baya itu tahu bahwa Chanyeol mungkin akan bersikap lebih kasar kepada Baekhyun. Maka, ia meraih ponselnya dan menyuruh sekretarisnya untuk mengawasi Chanyeol dan Baekhyun. Terdengar tidak etis memang. Tapi bagaimana pun caranya, Baekhyun harus tetap berada di rumah itu.

Mungkin, mengirim Baekhyun ke rumah sepi itu bukanlah hal yang buruk. Ia percaya bahwa Baekhyun setidaknya bisa mencairkan sedikit sifat keras kepala Chanyeol.

Ya, semoga saja.


Baekhyun awalnya ingin berlari. Ia ingin pergi jauh-jauh dari hadapan pria jangkung itu. Namun sesuatu menahannya untuk pergi—sebuah isakan halus.

Tubuh Chanyeol terhuyung ke belakang. Ia menggunakan tepian meja sebagai tumpuan, sementara kedua tangannya ia tangkupkan di wajahnya. Ya, Chanyeol menangis, bulir-bulir air matanya—meski telah berusaha ia tutupi dengan kedua tangannya—tetap tampak dan mengalir menuruni dagunya, hingga tetes-tetes itu jatuh ke lantai marmer seputih susu.

Pria mungil bersurai cokelat keunguan itu tidak mengerti. Sungguh. Namun ia tahu pasti bahwa pria di hadapannya ini marah, dan menurut seorang Byun Baekhyun, menangis bukanlah sesuatu yang patut kau permalukan, bahkan bagi seorang pria sekalipun.

Maka, kaki mungilnya memutuskan untuk mendekati sosok jangkung itu. Entah apa yang merasukinya, ia menarik halus leher pria itu, lantas mengeliminasi jarak tubuh keduanya, dan memeluknya begitu saja. Lengannya dengan mudah melingkar di leher si pria jangkung. Baekhyun benci melihat sesorang menangis, namun tentu saja, ini baru pertama kalinya ia melihat seseorang menangis dengan sebegitu sedihnya hingga ia juga ikut merasa sesak.

"Tidak apa-apa," bisik Baekhyun halus, ia menepuk belakang kepala pria itu dengan lembut. "Tidak apa-apa."


Chanyeol tidak pernah menangis lagi sejak saat ayahnya mengemas koper dan meninggalkan ia dengan Ibunya. Ia menyimpulkan bahwa tangisan tidak bisa membuat segalanya menjadi lebih baik. Tidak pula bisa membuat ayahnya kembali pulang dan membuat keluarga mereka seperti sedia kala. Hatinya sekeras baja, ia yakin itu.

Namun, hari ini adalah pengecualiannya. Ia mematahkan segala janji yang ia buat untuk dirinya. Hatinya tidak pernah merasa sesakit ini sebelumnya. Dan semuanya terjadi begitu saja. Air mata itu mengalir tanpa bisa dicegah. Sebanyak apapun Chanyeol memerintahkan otaknya untuk menghentikan tangis sialan itu, kantung air matanya tetap tidak mau menutup dan genanangan itu tidak lantas menyurut.

Lalu, tiba-tiba saja, ia merasakan sebuah sentakan halus. Dan tahu-tahu saja, tubuhnya sudah membungkuk turun untuk menyesuaikan dengan tubuh seseorang yang lebih pendek darinya. Keningnya mendarat di pundak seseorang, dan Chanyeol merasakan tepukan halus di belakang kepalanya.

Untuk sepersekian detik—yang entah mengapa terasa seperti berabad-abad—Chanyeol tidak bisa berpikir jernih.

Ia merasakan lengan seseorang melingkari lehernya. Tepukan-tepukan halus itu masih pula ia rasakan. "Tidak apa-apa," bisiknya halus, "tidak apa-apa."

Lagi-lagi, kombinasi antara wangi stroberi dan sedikit wangi seperti bedak bayi menyeruak indera penciumannya. Chanyeol harus mengakui ia langsung menyukai bau itu. Meski terdengar feminim, bau itu sama sekali tidak menggambarkan seorang perempuan. Ketika bau itu menyeruak indera penciumanmu, kau hanya akan berpikir tentang seorang bayi yang manis. Untuk sesaat, ia terfokuskan dengan sebuah pelukan hangat dan halusnya kulit pipi seorang Byun Baekhyun, sehingga tangisnya hampir berhenti.

Hampir.

Karena seketika itu juga, amarahnya kembali naik ke ubun-ubunnya. Ia menetapkan hatinya untuk menjadikan Baekhyun sebagai orang yang paling ia benci. Baekhyun menyusup ke rumahnya, mencuri perhatian Ibunya, dan sekarang makhluk ini berani-beraninya menyentuh dirinya?!

Chanyeol mengangkat kedua tangannya dan segera menolak tubuh Baekhyun dengan sangat keras, membuat si mungil itu terlonjak kaget hingga bokongnya menghantam lantai dengan bunyi 'duk' teredam yang sangat keras.

"Brengsek." Desis Chanyeol marah. "Kau pikir apa yang kau lakukan?!"

Baekhyun mengaduh sakit, mengusap tulang ekornya. "Aku ... eh, maafkan aku. Tapi kurasa—"

"Cukup." Potong Chanyeol sembari berbalik. Entah karena alasan tertentu, wajah Chanyeol berubah menjadi merah, dan ia tidak ingin Baekhyun melihatnya. Sesuatu terasa seperti akan meledak dari dalam dadanya. "Keluar dari kamarku. Oh, tidak. Keluar dari rumahku."

Mata sipit Baekhyun membulat. "Tapi ... bagaimana mungkin? Aku tidak punya tempat tinggal. Aku—"

"Kubilang keluar sekarang, brengsek!"

Mendengar bentakan itu, Baekhyun ciut dan kaki pendeknya otomatis berlari menuju pintu, namun ketika ia memutar grendel pintu itu, pintunya sama sekali tidak mau terbuka. Si mungil berambut magenta itu berbalik dan menatap Chanyeol takut-takut.

"Pi-pintunya," ia mencicit dan tergagap, "pintunya terkunci."

Chanyeol menggeram dan meremas surai hitamnya dengan frustasi. "Minggir!" Bentaknya. Patuh, Baekhyun melakukannya tanpa banyak mulut.

Chanyeol merogoh kunci pintu dari dalam saku seragam celana sekolahnya, lalu membuka pintu itu kasar. Ketika bilah pintu terbuka, Baekhyun dengan cepat melesat pergi, meninggalkan seseorang yang tercengang di belakangnya. Pria jangkung itu kemudian menutup pintu kamar dan bersandar di baliknya. Ia menengadahkan kepalanya, lalu mengangkat tangannya ke dada.

Sesuatu berdentam sangat keras di dalam sana.

Aroma stroberi. Kulit pipi yang halus. Rambut cokelat keunguan.

Park Chanyeol, kau pasti sudah gila.[]


A/N : Haloooo i'm back!~~ firstly, aku mau terimakasih banget sama yang udah baca dan rela nyempatin diri buat review. Seriusan aku kaget ternyata ada yang banyak ngerespon ff amatiran ini. Tadinya ngira ga ada yang bakalan ninggalin sepatah kata di kolom review wkwk yah malah curhat. Anywaaay Baek is soooo damn cuteeee kan yaaakkk! Hehe. Chanyeolnya juga sok garang gitu minta ditampol.

Last but not least, another review for this chap, please? Oh and yes, I love you guys so damn much.