[CHAPTER 04 - CHALLENGE]
"You're the most annoying person ever! But why you always stuck in my head?"
Chanyeol merogoh kunci pintu dari dalam saku seragam celana sekolahnya, lalu membuka pintu itu kasar. Ketika bilah pintu terbuka, Baekhyun dengan cepat melesat pergi, meninggalkan seseorang yang tercengang di belakangnya. Pria jangkung itu kemudian menutup pintu kamar dan bersandar di baliknya. Ia menengadahkan kepalanya, lalu mengangkat tangannya ke dada.
Kemudian, hembusan lega terdengar dari bibir Chanyeol. Chanyeol menetapkan hatinya. Ia akan membenci Byun Baekhyun mulai hari ini. Ia akan membenci Byun Baekhyun selamanya.
Lantas, kenapa Chanyeol tidak bisa menjelaskan sesuatu yang berdentam dengan sangat cepat dari dalam dadanya?
Sepeninggal Baekhyun, Chanyeol harus menekan dadanya kuat-kuat karena, untuk sebuah alasan tidak masuk akal, pria jangkung itu takut jika seseorang bisa mendengar bunyi detak jantungnya yang berdentam kuat.
Sejak kecil, Byun Baekhyun tidak pernah diajarkan untuk membenci seseorang. Sebaliknya, ia akan langsung menunjukkan afeksinya kepada orang lain, bahkan jika mereka baru saja bertemu. Itu pula yang membuatnya menjadi remaja tujuh belas tahun dengan sifat yang kelewat polos, mungkin juga naif.
Ibunya seorang wanita yang penuh kasih, yang sayangnya harus kembali ke sisi Yang Maha Penguasa ketika Baekhyun baru berusia empat tahun. Ia tidak menyesali apapun. Ia selalu berpikir bahwa Tuhan mungkin terlalu mencintai Ibunya, sehingga wanita hebat itu harus kembali bahkan sebelum bisa melihat Baekhyun tumbuh dan berkembang. Setidaknya, ia masih memiliki Ayahnya. Meski sekarang ia tidak tau dimana pria itu berada.
Baekhyun tidak membenci ayahnya atas tindakan yang dilakukannya. Kasarnya, pria itu bisa saja disebut menelantarkan anaknya sendiri. Tapi tidak. Baekhyun yakin pria itu punya alasan yang mungkin sulit dijelaskan. Meski Baekhyun telah bertanya berkali-kali, kenapa pria itu harus hidup dalam bayang-bayang, pria itu tidak pernah menjawab. Ia berkata bahwa semua ini untuk kebaikan dirinya sendiri. Mungkin ayah memang benar.
Setidaknya, pria mungil itu yakin bahwa ia akan baik-baik saja. Tidak masalah jika memang ia hanya akan hidup sebatang kara. Lagi pula suatu saat nanti, ketika Ayahnya benar-benar meninggalkannya, ia tidak punya pilihan lain selain mengandalkan diri sendiri, menjadi seseorang yang lebih mandiri.
Dengan suara pelan, Baekhyun mendesah sedih. Kepalanya tertunduk lemah. "Sepertinya aku harus pulang kerumah Bibi. Lagi." Katanya, lalu mengusap rambut keunguannya yang masih basah dengan penuh sesal. Kakinya menapaki lantai, menuruni tangga satu persatu dan segera meraih koper yang ia biarkan di ujung tangga. Dengan langkah gontai, ia menyeret kopernya setengah hati. Jujur saja, ia menyukai rumah ini, meski hawa dingin aneh selalu membuatnya merasa sepi. Saking fokusnya berjalan dengan kepala yang tertunduk, ia tidak sadar bahwa seseorang tengah duduk di ruang tamu rumah itu dengan sikap tenang.
"Byun Baekhyun?"
Baekhyun menoleh. Lalu menatap orang itu bingung. Ia seorang pria, mungkin berusia antara tiga puluhan, memakai setelan jas rapi dengan dasi bermotif bunga yang terikat terik, serta rambut lurus yang diminyaki lalu disisir kebelakang dengan sangat rapi.
"Siapa ..." Baekhyun menggantung kalimatnya di udara ketika melihat pria itu berdiri. Posturnya sedikit bungkuk, wajahnya bersih dengan kacamata persegi membingkai tegas area matanya.
Ia mengulurkan tangannya. "Namaku Yoon Bae Im, tapi kau bisa memanggilku Sekretaris Yoon." Katanya sambil tersenyum, lalu Baekhyun meraih uluran tangan itu setengah hati. "Aku sekretaris Nyonya Lee, dan mulai hari ini, aku yang akan mengurus segala keperluan Chanyeol dan juga kau."
Baekhyun melongo. "Apa—tapi tidak—aku—"
"Apa yang kau lakukan di sini, Sekretaris Yoon? Bagimana kau bisa masuk?"
Baik Baekhyun maupun Sekretaris Yoon menoleh, mendapati sesosok tiang hidup yang berdiri di pertengahan anak tangga, menatap Sekretaris Yoon tajam. Pria tinggi itu bersedekap, menuntut segala jawaban.
Demi celana dalam dewa neraka, Baekhyun segera membenci sikap bossy pria jangkung ini. Yeah, tidak heran sebenarnya. Mengingat dia anak orang kaya.
"Aku melihat bahwa gerbang utama tidak dikunci, Tuan Muda. Juga ketika sampai di pintu utama, pintunya juga tidak terkunci." Pria paruh baya itu tersenyum, lalu melanjutkan, "terkait dengan perjalanan bisnis yang akan dilakukan oleh Nyonya Lee, aku diberi tugas untuk memenuhi segala keperluan kalian berdua. Kau dan tentunya, Baekhyun."
"Lucu sekali. Kenapa baru sekarang? Menyebalkan. Mana wanita itu?"
"Aku," pria itu berhenti sebentar, nampak menimbang jawaban yang akan dikatakannya, "maafkan aku, tapi aku tidak bisa memberitahumu, Tuan Muda. Aku hanya diberi tugas untuk mengawasi dan mengurus keperluan kalian berdua."
Chanyeol mendengus. "Maksudmu keperluan makhluk ini?" ia menunjuk Baekhyun dengan dagunya bahkan tanpa menatap pria mungil itu. Chanyeol tertawa sarkastik, lalu tatapannya beralih kepada Baekhyun. Ia berusaha meredam sesuatu di dalam dadanya ketika matanya bertemu pandang dengan mata cokelat Baekhyun. "Kau masih disini, rupanya, pendek. Kenapa kau tidak pergi? Masih ingin mencuri sesuatu di sini?"
Baekhyun memutar bola matanya, bibirnya ia majukan beberapa senti dengan gestur merajuk, membuat wajahnya kian tambah manis. "Aku bukan pencuri, dasar kau tiang listrik psycho." Katanya lelah.
Chanyeol sudah hendak menuruni anak tangga ketika mendengar hinaan 'tiang listrik psycho' tersebut, namun suara Sekretaris Yoon kembali terdengar. "Tidak bisa, Tuan Muda." Potong Sekretaris Yoon cepat. "Nyonya tidak mengijinkannya. Baekhyun akan tetap tinggal di sini."
Chanyeol menggeram rendah. "Siapa kau berani-beraninya?!"
Anehnya, Yoon Bae Im sama sekali tidak terganggu dengan cara bicara Chanyeol yang jelas kurang ajar. Masih dengan senyum diplomatisnya, pria itu menyahut, "Aku telah diberi wewenang oleh Nyonya Lee. Suka atau tidak, baik Tuan Muda maupun Baekhyun akan berada di bawah pengawasanku."
Sebenarnya, Baekhyun tidak masalah jika pria ini yang mungkin nanti akan mengurus segala administrasinya. Ia jelas tidak keberatan. Memikirkan sifat Nyonya Lee yang sangat ramah terhadapnya dan sikap Chanyeol yang seratus delapan puluh derajat berkebalikan, membuat Baekhyun bergidik ngeri.
Mungkin, Chanyeol memang benar-benar seorang psycho.
"Baekhyun, naik ke lantai dua. Kamar paling ujung sebelah kiri dengan pintu abu-abu adalah kamarmu." Sekretaris Yoon menunduk dan berbisik, "lari dengan cepat, oke?"
Baekhyun melongo sebentar, lalu akhirnya mengangguk.
"Tidak! Jangan! Sekretaris Yoon, aku bersumpah jika kau—"
"Maafkan aku, Tuan Muda. Aku hanya berusaha menjalankan tugasku. Jangan mempersulit tugas seseorang." Pria itu dengan cepat memotong perkataan Chanyeol, membuat Chanyeol menelan bulat-bulat amarahnya.
Pria mungil itu mereguk ludah dengan susah payah. Ia menggengam kopernya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, kemudian segera berlari—tidak cukup kuat sebenarnya. Begitu tubuh mungilnya berpas-pasan dengan tubuh raksasa Chanyeol di pertengahan tangga, pria mungil itu mengerut takut. Meski demikian, ia tetap memperlambat larinya.
Chanyeol mengerutkan dahi. Ia memaki dalam hati lantaran aroma lembut stroberi itu kembali tercium, meski hanya sekilas. Entah kenapa, Chanyeol memiliki perasaan buruk tentang aroma lembut stroberi itu. Buruk, bukan berarti baunya tidak nyaman. Hanya saja Chanyeol mulai berpikir bahwa harum lembut antara kombinasi stroberi dan bedak bayi itu mulai meracuni pikirannya. Dan itu jelas tidak boleh terjadi.
Ketika sampai di lantai dua, ia mencari pintu kamar berwarna abu-abu, persis seperti yang telah dijabarkan oleh Sekretaris Yoon. Baekhyun bergumam pelan, berkata dengan ngeri bahwa jarak kamarnya dan kamar Chanyeol mungkin hanya beberapa meter. Pemikiran itu membuat bulu kuduknya meremang. Dengan gerakan tergopoh, ia memutar kenop pintu abu-abu itu dan segera masuk ke dalam kamar, mengunci pintunya dari dalam.
Lalu ia meletakkan kopernya sembarang dan segera merebahkan tubuhnya di kasur dengan seprai krem.
Sebuah desahan lega keluar dari bibir ranumnya.
Sungguh, hari ini sangat melelahkan untuk si mungil Byun Baekhyun. Ia yakin hidupnya akan menjadi seperti neraka untuk beberapa hari kedepan. Chanyeol tentu tidak akan melepaskannya semudah itu.
Baekhyun menggeleng lucu, sehingga surai keunguannya ikut bergerak dan akhirnya menjadi sedikit berantakan. Ia tidak mengerti. Memangnya, apa salahnya kepada si tiang bendera itu?
Baekhyun kelaparan.
Setengah mati kelaparan. Namun di saat yang bersamaan, ia juga merasakan kantuk yang luar biasa. Mungkin ini efek kelelahan.
Sayangnya, seorang makhluk mengerikan yang menjelma sebagai Park Chanyeol tidak membiarkan Baekhyun tidur nyenyak malam itu. Jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun bunyi drum dan alat musik lainnya terdengar begitu nyaring, membuat kepala Baekhyun serasa hendak pecah.
Sebenarnya, Baekhyun tidak masalah jika alat musik tersebut dimainkan dengan benar. Masalahnya, tiang listrik bodoh itu dengan sengaja menabuh drum-nya dengan sangat tidak beraturan dan keras—dan Baekhyun yakin ia melakukannya dengan sengaja untuk membuat Baekhyun merasa tak nyaman.
Baekhyun menggeleng kuat-kuat dan menyembunyikan kepalanya di bawah bantal, lalu menekan bantal tersebut ke wajahnya. Namun sejurus kemudian ia melepaskan bantal itu dengan wajah memerah lantaran kekurangan oksigen.
"Si Park Bodoh itu, astaga." Maki Baekhyun.
Ia menahan diri untuk tidak keluar, karena sejujurnya ia sendiri tidak berani. Ia tidak berani bertemu pandang atau menatap wajah Chanyeol—oke baiklah. Si tiang psycho itu sebenarnya sangat tampan—Baekhyun melakukan gestur seakan hendak muntah ketika ia memikirkan hal ini—hanya saja sikapnya terlalu mengerikan terhadap Baekhyun, membuat pria mungil itu memasukkan Chanyeol ke dalam daftar 'Orang Yang Harus Dihindari Versi Byun Baekhyun'.
Terlebih, memori di dalam kepala Baekhyun memutar sesuatu, bagai kepingan kaset rusak yang entah bagaimana tak kunjung hilang.
Bagaimana kepala Chanyeol jatuh di pundaknya dan ia merasakan sedikit beban yang entah kenapa terasa menyenangkan. Bagaimana lembutnya surai gelap Chanyeol ketika ia menepuk halus belakang kepala pria itu. Dan bagaimana harum khas tubuh Chanyeol yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata seketika itu membuatnya jatuh hati.
Tunggu dulu.
Jatuh hati?!
Byun Baekhyun kau harus segera menyadarkan dirimu!
Si mungil memukul pelan kepalanya. Sekali lagi, ia mencoba untuk tidur dengan bunyi berisik dan perut yang keroncongan. Meski sulit, Baekhyun akhirnya jatuh terlelap.
Ketika Baekhyun bangun pagi itu, keadaan rumah menjadi lebih sepi dari biasanya. Meski tidak perlu diingatkan lagi bahwa rumah itu memang tak berpenghuni—selain Chanyeol dan oh, dirinya sekarang.
Kamar yang ia tempati tidak seluas kamar milik Chanyeol, namun Baekhyun menyukainya hanya dengan sekali pandang. Dindingnya berwarna krem, dengan satu lemari, meja belajar dan kasur berukuran sedang. Bahkan Baekhyun memiliki kamar mandi sendiri. Di samping sebelah kiri ruangan, terdapat dua jendela berukuran besar dengan kaca bening dan gorden biru laut.
Baekhyun meregangkan badannya, berjalan pelan menuju jendela. Ia membuka tingkap jendela itu dan menghirup rakus-rakus aroma embun pagi yang menyegarkan. Sesekali, ia akan menguap sembari mengusap kedua matanya. Lalu ketika ia ia menegakkan kepalanya, matanya menatap halaman belakang rumah keluarga Park yang cukup luas. Ada ayunan, air mancur dengan ikan hias di dalamnya, sebuah pohon yang sangat besar, serta rerumpunan beberapa bunga.
Jam berapa sekarang?
Ia tidak terlalu bisa memprediksikan karena meski langit tampak cerah, matahari enggan keluar dari balik awan. Perutnya bergemuruh. Ia kelaparan. Kapan terakhir kali ia makan? Byun Baekhyun tidak bisa mengingatnya. Ia mungkin belum makan dari kemarin.
Lalu kemudian ia teringat bahwa tadi malam ia juga mengeluhkan hal yang sama, namun sayang sekali ia tidak berani keluar kamar—salahkan tiang listrik yang menjelma sebagai Park Chanyeol.
Ia berjalan lagi menuju kasur. Duduk di tepian kasur layaknya orang linglung. Lalu ia meraih telepon genggamnya yang tergeletak di atas nakas. Matanya agak memicing ketika memandangi layar dengan cahaya putih itu.
"Setengah enam?" gumamnya pelan, hampir kepada diri sendiri. "Masih sangat awal."
Pria mungil itu kemudian mengacak surainya yang keunguan, tersadar karena mulai hari ini ia harus bersekolah. Baekhyun bangkit dan mengusak isi kopernya yang berantakan. Ia merasa begitu lelah semalam sehingga ia hanya membuka koper itu untuk mengambil piyama. Ia menemukan barang yang dicarinya: sebuah handuk dan sikat gigi.
Lalu masih dalam langkah linglung, ia memasuki kamar mandi di sudut kamar.
Chanyeol mendengar bunyi air dari dalam kamar itu. Ia menyeringai senang. Byun Baekhyun pasti tersiksa semalam. Benar-benar tersiksa. Apa dia tidur dengan nyenyak? Chanyeol meragukannya. Orang gila macam apa yang bisa tidur nyenyak dengan bunyi berisik yang ia timbulkan tadi malam?
Omong-omong sebenarnya Chanyeol hanya berniat untuk berlatih saja. Namun rasa usil untuk membuat Baekhyun terganggu mendadak muncul dan jadilah—Chanyeol membentuk sebuah band rock yang hanya memiliki satu member: dirinya sendiri.
Chanyeol menatap pintu abu-abu itu lamat-lamat. Ia ingin sekali menerjang pintu di hadapannya ini. Meski energinya telah terkuras habis karena ledakan emosi semalam. Tidak masalah jika memang Ibunya menginginkan si bodoh itu untuk tinggal di sini. Lihat saja seberapa lama dia akan bertahan. Chanyeol bersumpah akan membuat Baekhyun melarikan diri dari rumah ini seperti orang gila dalam satu minggu.
Bukan hal yang sulit. Ia akan menyebutnya sebagai 'Misi Satu Minggu'. Terdengar menyenangkan. Mengerjai si bodoh itu hingga ia menangis dan memohon untuk hengkang dari rumahnya.
Diam-diam, Chanyeol terkekeh mengerikan. Pemikiran tentang mengerjai si bodoh itu membuatnya senang bukan kepalang, tentu saja. Kalau di dalam kartun atau manga Jepang, aura gelap mungkin akan berpendar-pendar di sekeliling tubuhnya yang tinggi itu, sementara kilatan halilintar bermain-main di belakangnya sebagai background.
"Ehm."
Suara dehaman yang sangat keras itu membuat kepala Chanyeol menoleh dengan sangat cepat.
"Sudah siap, Tuan Muda?"
Chanyeol memutar bola matanya, mendapati sosok bungkuk dengan kacamata persegi dan rambut klimis yang disisir ke belakang serta setelan jas rapi tengah berdiri di hadapannya. "Kapan kau sampai?" kata Chanyeol, hampir-hampir berupa bentakan. "Menganggung saja."
Sekretaris Yoon melirik jam tangannya. "Lima belas menit yang lalu, Tuan Muda. Omong-omong, apa yang kau lakukan disini?" Lalu ia tersenyum diplomatis, menatap sosok Chanyeol yang telah rapi mengenakan seragam SoPA-nya. Jas SoPA yang berwarna kuning tidak ia kenakan, hanya ia sampirkan di punggung sehingga kemeja putih berlengan panjangnya terekspos dan nampak melekat di tubuhnya dengan sempurna.
Meski begitu, pria jangkung itu tersenyum miring. "Hanya mengecek apakah si Byun masih bernapas atau tidak. Turns out, sepertinya dia masih hidup. Ah, sayang sekali." Lalu sosoknya yang tinggi berjalan melewati Sekretaris Yoon dengan sikap acuh.
Sekretaris Yoon berbalik. "Tuan Muda, apa kau berniat pergi sendiri?"
Chanyeol tersenyum lebar. "Tentu saja. Aku akan membawa mobilku sendiri." Lalu ia meraih kunci mobilnya dan menggantungkan benda tersebut tepat di depan wajah si pria bungkuk.
Sekretaris Yoon tersenyum, tidak terpengaruh oleh sifat Chanyeol yang sejujurnya sedikit menjengkelkan. Chanyeol jelas jauh lebih muda, tapi dia dengan sesuka hatinya menggunakan bahasa non-formal kepada pria tua itu. Meski begitu, Sekretaris Yoon memakluminya. Keluarganya turun-temurun menjadi sekretaris terpercaya bagi keluarga Park. Yoon Bae Im telah menjadi sekretaris andalan Nyonya Lee bahkan ketika Chanyeol belum bisa berjalan. Ia paham watak anak itu. "Aku juga akan mengantar Tuan Byun ke sekolah. Mulai hari ini ia akan bersekolah di sekolah yang sama dengan Tuan Muda. Apakah sebaiknya kita pergi bersama saja? Lebih hemat bahan bakar dan tentunya dapat mengurangi polusi udara, bukan?"
Mendegar itu, Chanyeol tertawa sarkastik. "Tidak, terimakasih Sekretaris Yoon. Si bodoh itu milikmu. Lakukan apapun yang kau inginkan. Adios!" Chanyeol memberi hormat kepada pria itu, setengah mengejek lalu pergi begitu saja.
Tak lama setelah itu, Sekretaris Yoon mendengar deru mesin keluar dari dalam garasi menuju halaman utama.
Yoon Bae Im menggeleng tak habis pikir, lalu senyum tipis mengihasi wajahnya, membuat kulit di sekitar matanya sedikit mengerut. Dalam hati, ia berpikir, kapan terakhir kali ia melihat Chanyeol dengan wajah seperti itu jika pulang kerumah? Pria jangkung itu selalu memasang wajah murung, namun sepertinya hari ia ia ... well, bagaimana mengatakannya? Agak lebih hidup? Ya, kira-kira seperti itu. Binar jahil di matanya tentu tidak dapat disembunyikan, dan Sekretaris Yoon bisa melihat itu dengan jelas.
Apakah Byun Baekhyun alasannya?
Jika memang benar begitu, maka Byun Baekhyun adalah orang yang benar-benar menarik.
Baekhyun keluar kamar mengenakan pakaian kasual, membuat alis pria paruh baya itu sedikit berkerut. Namun Sekretaris Yoon tetap tersenyum, lalu berkata, "sudah siap berangkat ke sekolah, Tuan Byun?"
Baekhyun mengangguk. "Errr ... panggil saja aku Baekhyun."
Yoon Bae Im menyeringai. "Baiklah, Baekhyun-ssi."
Baekhyun melirik lorong itu takut-takut. Ia melihat pintu kamar yang lain di hadapannya, tidak terlalu jauh sehingga ia dapat melihat bilah pintu yang tertutup rapat. Sepertinya dikunci.
Seakan mengerti jalan pikiran si mungil, Sekretaris Yoon menyahut. "Tuan Muda sudah pergi terlebih dahulu."
Baekhyun mendelik kesal. "Aku tidak bertanya tentang dia." Katanya pelan.
Pria paruh baya itu tidak bisa menahan diri untuk tidak menyeringai. Meski begitu, si mungil itu akhirnya membuang napas lega. "Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu." Baekhyun berjalan melewati Sekretaris Yoon.
"Tapi Baekhyun-ssi, mulai hari ini aku yang akan mengantarmu."
Baekhyun berbalik dan matanya sedikit membulat. "Benarkah?"
"Ya." Jawab Sekretaris Yoon pasti. "Bukankah sudah kukatakan bahwa aku akan mengurus keperluan kalian berdua? Hanya saja Tuan Muda memilih untuk pergi sendiri."
Baekhyun menganggukkan kepalanya pelan. Tidak tertarik jika si pak tua ini kembali membicarakan tiang listrik gila itu.
"Ngomong-ngomong, Baekhyun-ssi," kata Sekretaris Yoon lagi, "apa kau akan pergi ke sekolah menggunakan pakaian seperti ini?"
Kepala magenta itu mengangguk, lalu menunduk menatapi kausnya yang kedodoran, berlengan panjang dengan motif garis hitam putih, celana jeans dan sepatu kets hitamnya. "Aku belum mendapatkan seragam. Di formulir tertulis bahwa aku akan mendapatkan seragam jika aku telah lulus tes."
"Ah, ya." Angguk pria paruh baya itu. "Seoul Of Performing Arts memang bukan sekolah sembarangan. Jadi kau akan menghadapi tes hari ini, Baekhyun-ssi?"
Lagi, Baekhyun mengangguk. Kali ini agak sedikit lebih semangat.
"Apakah kau gugup?"
Si mungil menggigit bibirnya, setengah berpikir. "Sedikit." Lalu ia tersenyum hangat.
"Baiklah kalau begitu, kau tidak ingin terlambat di hari pertamamu melakukan tes, bukan? Ayo pergi."
"Jika aku boleh menyarankan, tolong jangan terlalu membenci Tuan Muda, Baekhyun-ssi."
Kalimat ini membuat kepala mungil Byun Baekhyun menoleh dengan cepat ke arah pengemudi. Ia tidak bisa berkata-kata, jadi ia diam saja. Bahkan, mulutnya berhenti mengunyah sandwich daging asap yang tadi diberikan oleh pria paruh baya itu. Sekretaris Yoon berkata ia tidak bisa memberikan sarapan yang layak untuk hari ini. Meski begitu ia sangat mensyukurinya. Sandwich daging asap untuk sarapan pagi lebih baik ketimbang tidak sama sekali, bukan?
Sekretaris Yoon tengah mengemudikan mobil sedan hitamnya melintasi hiruk-pikuk jalanan beraspal yang dipenuhi orang-orang sibuk. "Ia anak yang baik, meski sikapnya benar-benar ..." pria itu menggantung kalimatnya, lalu kemudian, "sedikit kurang ajar. Yah, aku yakin kau mengerti."
Baekhyun menelan potongan sandwich itu susah payah. Mendadak, rasanya menjadi agak hambar.
"Tuan Muda sungguh anak yang malang, Baekhyun-ssi. Sungguh. Aku sudah mengawasinya dari kecil. Ia—dulunya, anak yang benar-benar senang sekali menebar tawa. Hanya saja sekarang ia agak sedikit terpuruk. Ibunya ..."
"Ya, Sekretaris Yoon. Aku mengerti." Sahut Baekhyun cepat.
Meski begitu, pria paruh baya dengan kacamata persegi itu tersenyum lebar. "Kau mendaftar di sekolah yang sama dengan Tuan Muda, benar? Ia sungguh berbakat dalam bidang musik."
Pria mungil di belakang kemudi terdiam. Ia tidak tahu harus menyahut apa. Jadi ia hanya tersenyum lembut, meski Sekretaris Yoon tidak bisa melihatnya.
Chanyeol ... mungkin apa yang dikatakan Sekretaris Yoon benar. Lihatlah tingkah anak berandal itu kepada pria tua ini semalam. Namun Sekretaris Yoon masih bisa membicarakan si tiang listrik itu dengan senyum bangga seperti ini?
Chanyeol pasti orang yang benar-benar baik. Setidaknya dulu.
Baekhyun bukan seorang detektif. Tapi ia bisa menyimpulkan bahwa hubungan Chanyeol dan Ibunya tidak harmonis.
Kesunyian akhirnya membawa Baekhyun dalam sebuah lamunan panjang.
Sebelum akhirnya sebuah suara halus menyadarkannya kembali.
"Baekhyun-ssi, kita sudah sampai."
Dan si mungil melihat keluar jendela mobil yang berfilm gelap, melihat bangunan SoPA yang sangat megah dan besar. Kepala mungilnya mengangguk. "Terimakasih, Sekretaris Yoon." Ucapnya lalu meraih daun pintu mobil.
"Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Jika kau sudah pulang, kirimi saja aku pesan dan aku akan menjemputmu. Oke?"
Baekhyun tersenyum, membuat parasnya tampak begitu manis. "Tentu. Terimakasih, Sekretaris Yoon."
"Semoga beruntung untuk tesmu hari ini."
Baekhyun memberikan senyuman terakhirnya lalu mulai berjalan pelan menapaki gerbang. Sekolah tampak ramai, membuat nyalinya sedikit ciut lantaran terus-menerus mendapatkan tatapan menusuk dari orang lain.
Baekhyun tampak berbeda dan tampak mudah dikenali karena bajunya yang teramat santai. Terlebih karena surai keungannya, membuat orang bertanya-tanya siapa si mungil berparas manis ini. Menghiraukan tatapan itu, ia masih berjalan pelan, dengan kepala yang agak menunduk, melintasi koridor panjang.
Dimana ia harus memulai?
Ah, ruang guru. Tentu saja.
Tapi dimana?
"Apakah kau murid pindahan?"
Sebuah suara membuat kepala Baekhyun berputar cepat. Ia melihat seorang pria pendek dengan rambut hitam yang agak kecokelatan, tersenyum ramah kepadanya. Wajahnya agak berisi dengan mata yang tidak terlalu sipit, kulitnya seputih porselen. Ia memeluk erat beberapa kertas dan dokumen.
Tidak yakin bahwa pria itu tengah berbicara kepadanya, Baekhyun hanya menatapnya dalam diam.
"Kurasa aku benar." Kata pria itu lagi lalu tersenyum, berjalan mendekat dan kemudian mengulurkan tangan kanannya dengan kepayahan lantaran tubuhnya yang agak kecil itu harus memeluk beberapa tumpuk kertas di tangan kiri. Koridor masih ramai lantaran anak-anak dengan seragam kuning sedang berlalu-lalang, namun syukurlah sepertinya mereka tidak memperdulikan Baekhyun lagi. "Hai, namaku Kim Junmyeon. Aku ketua OSIS di sini."
Baekhyun menyambut uluran tangan itu dan mengangguk paham. Pantas saja beberapa anak yang melintas membungkukkan sedikit badannya dan tersenyum ramah kepada pria ini. "Byun Baekhyun." Jawab si mungil.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Junmyeon sembari melepas uluran tangannya dari Baekhyun dan kembali memeluk tumpukan kertas itu.
Baekhyun diam sejenak. "Aku ..."
"Ah!" sahutnya cepat, tampak mengerti sesuatu. "Kau mencari ruang guru?"
Tersenyum, Baekhyun menangguk semangat.
Bersamaan dengan itu, seorang pria dengan rambut hitam kelam dan wajah yang agak tirus melenggang melewati mereka.
Junmyeon memanggil pria itu. "Yixing!"
Si pria bersurai hitam arang itu berhenti berjalan lalu tersenyum begitu matanya bertemu pandang dengan Junmyeon. "Oh, hai Junmyeon. Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak masuk kelas?"
Baekhyun mengamati pria bersurai gelap itu lamat-lamat. Wajahnya tampan dan manis, kulitnya bersih, dan ketika ia tersenyum lesung pipi nampak di salah satu pipinya.
Junmyeon menggerutu kepada dokumen yang dipeluknya. "Ada beberapa hal yang harus kukerjakan. Aku harus menyelesaikan dokumen ini secepatnya. Ngomong-ngomong, kau belum berniat masuk kelas kan?"
Yixing menggeleng. "Belum. Ada apa?"
Junmyeon menunjuk Baekhyun yang berada di hadapannya dengan dagunya. "Siswa pindahan. Ia mencari ruang guru. Bisa kau tunjukkan? Tadinya aku berniat melakukannya tapi sepertinya aku tidak punya waktu lagi ..."
"Tentu!" jawab Yixing segera lalu mendorong bahu kecil Junmyeon untuk menjauh. "Pergilah, Junmyeon. Selamat bekerja, semoga harimu menyenangkan."
Junmyeon kemudian berjalan dengan tergesa-gesa. "Terimakasih, Yixing. Hari ini aku yang akan traktir makan siang."
Yixing tertawa. Baekhyun mendapati tawa pria ini sungguh menyenangkan untuk di dengar. "Tentu." Lalu ia menoleh kepada Baekhyun dan tersenyum hangat. "Hei, anak pindahan. Ayo ikut aku."
Pria berwajah tirus itu menuntunnya melewati koridor, lalu berbelok ke arah kanan untuk menaiki tangga ke lantai dua. Mereka berbincang-bincang sebentar, saling memperkenalkan diri. Baekhyun bahkan berani bertanya tentang ras pria itu, karena Baekhyun mendapati bahwa cara ia berbicara agak aneh. Yixing menjawab pertanyaan Baekhyun dengan tawa yang bersahabat lalu menjelaskan bahwa ia memang asli keturunan Cina dan belum lama ini menetap di Korea.
"Pantas saja," kata Baekhyun, kini berani berjalan bersisian dengan pria itu meski tatapan tak mengenakkan masih mengikutinya sepanjang ia melintasi koridor.
Yixing mengangguk dan tersenyum. Lesung pipinya langsung tampak, membuat Baekhyun berpikir bahwa pria ini sangat manis. "Omong-omong," kata Yixing, "kau berniat mengambi jurusan apa, Baekhyun?"
"Aku? Mmm, aku menulis jurusan vokal utama dan akting di formulirku. Bagaimana denganmu, Yixing, jurusan apa yang kau pilih?"
Yixing berhenti berjalan dan menatap Baekhyun. "Aku di kelas II D, instrumen dan vokal. Woah, salah satu dari kelas tiga besar?! Bagaimana mungkin tubuh mungil ini bisa memiliki nyali yang begitu besar, huh?"
Mau tidak mau, Baekhyun mendongak dan balas menatap mata sipit Yixing, jelas tak mengerti perkataan pria Cina ini. "Apa maksudmu?"
Pria itu membalasnya dengan senyum. "Ah, tidak. Kau tahu, sebenarnya kita sudah sampai. Ini ruangannya. Selamat datang di SoPA, Baekhyun." Yixing menunjuk pintu dobel kaca di hadapan mereka dengan dagunya.
"Oh." Gumam Baekhyun kecil. "Terimakasih."
Pria bersurai gelap itu mengangguk. Senyum manis berlesung pipi tak pernah hilang dari wajahnya yang tampan. Kemudian ia berbalik dan mulai berjalan. Namun, belum beberapa langkah menjauh dari Baekhyun, ia berbalik lagi menghadap si mungil. "Semoga beruntung, Baekhyun. Dan, yah, omong-omong aku suka rambutmu."
Baekhyun sempat melongo sebentar sebelum akhirnya wajahnya memerah. Ia sibuk menunduk untuk menyembunyikan wajah idiotnya dari Yixing, ia bahkan tidak sadar bahwa pria itu telah berlalu. Apa-apaan itu tadi? Apa pria Cina itu baru saja menggodanya? Cih, yang benar saja.
Mungkin ada baiknya Baekhyun berhati-hati mulai dari sekarang.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai memasuki ruangan itu. Dari luar, ruangan guru memang nampak tak seberapa. Tapi begitu Baekhyun masuk, barulah ia menyadari bahwa ruangan itu luas, dengan dekorasi yang cukup mewah. Meja-meja dengan banyak dokumen dan komputer tertata dengan rapi.
Meski demikian, ruangan guru lumayan sepi ternyata. Apa pelajaran sudah dimulai?
Baekhyun melihat seorang wanita dengan rambut digelung tinggi, kemeja putih dan rok sepan berwarna hitam yang di setrika hingga licin menghampirinya. Ia memiliki ekspresi tegas, dan kacamata persegi membingkai wajahnya.
Wanita itu berjalan mendekatinya. "Murid pindahan?" ia memegang beberapa lembar kertas di tangannya, lalu menatap Baekhyun dan formulir itu bergantian. Memastikan bahwa foto yang terdapat di kertas formulir dan seseorang yang berada di hadapannya ini adalah orang yang sama. "Byun ... Baekhyun. Benar?"
"Ya, benar." Jawab Baekhyun.
Wanita itu mengangguk. "Ayo, kemari."
Ia membawa Baekhyun ke salah satu meja yang agak panjang dan mereka duduk berhadapan. Wanita itu membetulkan letak kacamatanya dan Baekhyun melihat sebuah papan nama yang terbuat dari kayu lalu di cat mengkilap di atas meja. Tertulis 'Song Hyo Min' di sana. Sepertinya ia yang mengatasi bagian kesiswaan.
Song Hyo Min menghidupkan laptopnya. "Aku tidak akan berbasa-basi. Kami sudah menerima formulir, profil dan berbagai data dari sekolah lamamu. Tahun ini kau duduk di bangku kelas dua, benar?" Ia men-scroll down beberapa data Baekhyun di dalam laptopnya. "Kau meraih peringkat pertama selama dua tahun berturut-turut, dengan pitch yang sempurna. Nilai A+ dalam vokal, teknik vokal, dan nilai A untuk instrumen. Dengan nilai seperti ini sebenarnya mudah bagi kami untuk langsung menerimamu, kan?"
Baekhyun melongo, sejujurnya ia sedikit tidak mengerti jadi ia hanya mengangguk sebagai balasannya.
"Tapi," sela Hyo Min cepat, ia membaca ulang formulir Baekhyun, "kau memilih jurusan vokal utama dan akting, kategori A di sekolah ini. Seandainya kau memilih jurusan lain, kami mungkin akan menerimamu langsung tanpa tes, Byun Baekhyun."
Alis Baekhyun terangkat. "Apa maksud Anda saya tidak punya harapan untuk memasuki kelas paling elite di sekolah ini?"
Ujung bibir wanita itu melesat ke atas. Senyumnya tampak sedikit culas. "Kelas A, B dan C bukan kelas sembarangan, Baekhyun-ssi. Kami hanya menerima sepuluh murid untuk kelas A, dan lima belas murid untuk kelas B dan C. Dengan sedikitnya jumlah murid perkelas, kau tentu tahu alasannya, bukan? Kelas A, B dan C merupakan kelas tiga besar, Byun. Tentu, untuk memasuki kelas ini juga tidak mudah. Seleksi yang dilaksanakan juga sangat ketat. Hanya mereka yang pantas yang bisa memasuki kelas tiga besar ini."
Baekhyun sama sekali tidak merasa nyalinya ciut atau bahkan merasa takut begitu mendengar penuturan Song Hyo Min. Ketatnya seleksi dan sedikitnya orang yang berhasil diterima membuat semangatnya berkobar. "Sayang sekali, saya rasa saya tidak akan mengubah pilihan saya, Miss Song."
Lagi, senyum culas itu tampak, malah kini makin melebar membentuk sebuah seringai. "Apa kau yakin? Kau bisa masuk ke kelas lain kecuali kelas tiga besar dengan mudah, sebenarnya, jika mau. Aku menyarankanmu II D, instrumen dan vokal."
Baekhyun menggeleng. "Tidak."
"Baiklah kalau begitu," ujar Song Hyo Min. "Kau tahu tentunya tidak mudah, bukan? Jika kau masih bersikeras, kau harus menjalani sebuah tes."
Sudut bibir Baekhyun melengkung ke atas, membentuk senyum manis. Si mungil berambut magenta itu mengangguk perlahan. Jawaban semacam ini yang sangat ingin ia dengar. Bagi Baekhyun, tidak masalah jika ia tidak berhasil melewati tes nantinya. Yang terpenting adalah bahwa ia telah mecurahkan semuanya untuk melakukan tes tersebut.
"Tes macam apa yang harus saya hadapi?" tanya Baekhyun.[]
A/N : Chanyeol is so damn perfect. Yaudah sih itu aja. Anywaaaay how about this lame chap? Maaf jika mengecewakan dan moment Chanbaek yang belum banyak. Ugh, I tried my best, guys. Seriously. Last but not least, lemme know what you think di kolom review ya! Lots of love!~~
