[CHAPTER 05 - MY TURN TO CRY]


"There's no turning back. This is it. It's now or never."


Sudut bibir Baekhyun melengkung ke atas, membentuk senyum manis. Si mungil berambut magenta itu mengangguk perlahan. Jawaban semacam ini yang sangat ingin ia dengar. Bagi Baekhyun, tidak masalah jika ia tidak berhasil melewati tes nantinya. Yang terpenting adalah bahwa ia telah mecurahkan semuanya untuk melakukan tes tersebut.

"Tes macam apa yang harus saya hadapi?" tanya Baekhyun.

"Karena kau memilih jurusan vokal utama dan akting—atau seperti yang kau katakan barusan, jurusan paling elite di sekolah ini—maka tesnya pun tidak sederhana. Kami tidak akan memberikan tes tertulis. Kau tahu, tes ini lebih seperti audisi casting untuk masuk perusahaan. Kepala sekolah, guru vokal dan beberapa staff sekolah yang lain akan melihat kemampuanmu secara langsung."

Mata sipit Baekhyun yang dihiasi eyeliner tipis kemudian membulat. "Maksudmu, aku akan bernyanyi di depan orang-orang penting?"

Kepala Song Hyo Min mengangguk sedikit. "Kurang lebih seperti itu. Persyaratan yang kami ajukan tidak rumit. Kau boleh menampilkan jenis musik ataupun lagu yang kau inginkan, termasuk menggunakan instrumen apapun yang kau bisa. Singkatnya, kau hanya perlu tampil. Sisanya, kami yang akan menentukan. Apakah kau memang pantas, atau malah tidak sama sekali."

Baekhyun tersenyum. Ia tidak bermaksud besar kepala, tapi ini terlalu mudah. Si mungil bersurai magenta itu tidak bisa menghentikan seringainya dan berkata, "hanya semudah itu?"

Nampak puas karena Baekhyun terjebak muslihatnya, Song Hyo Min tersenyum culas. "Semudah itu, tentu saja. Sedikit tips untukmu, Byun Baekhyun," Song Hyo Min berdiri dari kursinya sembari merapikan beberapa dokumen, "jangan gagal dan jangan mempermalukan dirimu sendiri. Oh, dan jangan terlalu senang karena persyaratan yang mudah. Kau tahu, orang-orang yang akan menjadi jurimu benar-benar sangat pemilih."

Uh-oh. Sepertinya kau tertangkap basah, Byun Baekhyun.

Kali ini, si mungil meneguk ludahnya dengan kasar.

Song Hyon Min mengangkat tangan kirinya dan melirik jam tangannya. "Lima belas menit lagi jam sembilan. Kau harusnya bersiap-siap. Karena keputusan yang kita ambil sudah bulat, audisimu akan dilakukan di gedung pertunjukkan."

Pemuda berambut cokelat keunguan itu diam, malah mengangguk sebagai balasannya. Ia menggigit bibir sesekali, mengatasi rasa gugup yang mulai merambati tubuhnya. Yang benar saja. Siapa yang akan menyangka bahwa semuanya akan terjadi secepat ini? Dalam lima belas menit, Byun Baekhyun, pemuda berusia tujuh belas tahun, akan mulai menentukan mimpinya.

Woah. Lima belas menit.

Ia sungguh berharap Ayahnya akan disini. Ia tidak akan meminta yang muluk-muluk. Asalkan pria itu bersamanya dan mengatakan bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja, atau berkata betapa bangganya ia kepada Baekhyun—seperti yang sering ia ucapkan dulu. Ya, setidaknya dulu. Sebelum ia menghilang tanpa jejak seperti ini. Parahnya, pria itu berkata bahwa mereka tidak perlu lagi untuk saling berhubungan, entah apa maksudnya. Mengapa ia menghindar? Kesalahan bejat macam apa yang Baekhyun lakukan hingga pria itu menyuruh Baekhyun untuk berhenti menghubunginya?

"Apa yang kau lakukan, Byun Baekhyun?! Berdirilah! Kita harus ke gedung pertunjukkan sekarang! Kau menghabiskan tiga menit yang berharga dalam hidupmu hanya untuk melamun!" suara melengking Song Hyo Min terdengar dari depan pintu ruangan.

Oke. Dua belas menit. Mimpi seorang Byun Baekhyun akan mulai dalam dua belas menit. Ironis sekali.

Kepala Baekhyun dengan cepat berputar dan mendapati wanita itu tengah berdiri dengan gerak-gerik tak sabaran di depan pintu. Sejak kapan ia berada di situ? Pikir Baekhyun.

"Oh?" untuk sesaat Baekhyun sempat bingung. Namun akhirnya ia berdiri dan mengekori Song Hyo Min layaknya anak ayam yang patuh.

Mereka melintasi koridor yang sama, beberapa anak yang lalu lalang berhenti lalu membungkukkan badannya sedikit di hadapan Song Hyo Min, yang kemudian hanya membalasnya dengan sebuah anggukan kecil. Baekhyun berjalan di belakangnya dengan wajah sedikit menunduk takut. Ia mulai panik, dan sesuatu membuat pikirannya tak karuan.

Entah karena alasan apa, Byun Baekhyun mulai merasakan firasat yang buruk merambati jiwanya.

Song Hyo Min kemudian membawanya turun melintasi lapangan luas yang berada di tengah-tengah bangunan, menuju ke sebuah gedung bercat putih yang terpisah dari bangunan induk sekolah. Pintu dobel kaca dengan tinggi hampir tiga meter menyambutnya ketika ia sampai.

Alih-alih bergabung dengan bangunan induk sekolah, gedung pertunjukan adalah bangunan putih yang terpisah. Sesuai dengan namanya, gedung itu cukup luas dengan fasilitas yang memadai: mulai dari pendingin ruangan, kursi-kursi yang tertata rapi, sebuah podium dan panggung berukuran sedang. Sepertinya Baekhyun harus unjuk gigi di atas panggung itu.

"Kau boleh menunggu di sana sementara staff sekolah membereskan kursi dan memasang pengeras suara." Song Hyo Min menunjuk sebuah bilik kecil di samping panggung, yang sepertinya merupakan bilik ganti atau tempat untuk bersiap-siap bagi para pemain sebelum mereka menaiki panggung.

"Kim Junmyeon!" Baekhyun menoleh ketika suara melengking Song Hyo Min terdengar, memanggil nama yang sepertinya tidak asing. Ah, Si Ketua Osis. Pikir Baekhyun.

Pria itu baru saja memasuki gedung, diikuti beberapa pria dan wanita paruh baya yang langsung sigap membenahi beberapa kursi serta mengambil alih pengeras suara di atas panggung, melakukan pengecekan ulang apakah mike berfungsi atau tidak.

Pria itu tersenyum. Ia berjalan mendekat. "Ya, Miss?" ia menoleh sebentar kearah Baekhyun. "Halo murid pindahan. Kita bertemu lagi."

Baekhyun tersenyum tipis sebagai balasannya, tidak melupakan budi pria itu tadi pagi. Beserta Yixing, tentu saja.

"Katakan kepada Yeri, untuk memberitakan hal ini. Cepat, sebelum makan siang berakhir."

Kim Junmyeon mengangguk patuh. "Baik, Miss Song."

Baekhyun lalu membungkuk sedikit kearah Song Hyo Min dan mulai berjalan menjauh, memasuki bilik kecil di samping panggung.

Tak lama kemudian, sebuah suara perempuan yang kelewat cerita menggema dari pengeras suara. Baekhyun, yang tadinya tengah larut dalam pikiran sendiri, memilah-milah lagu yang hendak ia tampilkan nanti, tiba-tiba saja terkejut. Bukan suara wanita itu yang membuatnya terkejut. Tapi pengumuman yang ia siarkan.

"Selamat siang, murid terbaik SoPA! Maafkan aku karena menganggu makan siang kalian. Kami baru saja mendapatkan informasi mendadak! Murid pindahan akan melakukan casting di gedung pertunjukkan setelah makan siang, jadi jangan lewatkan pertunjukkannya! Terimakasih atas perhatiannya, salam, Yeri dari kelas I C."

Berakhirnya pengumuman itu, maka Baekhyun merasa berakhir pula-lah detak jantungnya. Karena seorang Byun Baekhyun, memiliki stage fever yang sangat parah. Baekhyun memaki dalam hatinya. Sekarang ia mengerti perkataan Song Hyo Min. Semuanya tidak akan semudah itu. Baekhyun mengelap keringat dinginnya yang tiba-tiba mengucur deras. Tantangannya adalah tampil di depan orang banyak. Baekhyun tadinya mengira bahwa ia hanya akan tampil di depan tigaatau empat orang. Siapa tahu ternyata jadinya akan seperti ini?

Tampil di depan orang banyak bukanlah hal yang mudah, Baekhyun tau itu. Sekarang, ada kemungkinan gedung pertunjukkan akan dipenuhi oleh seluruh siswa SoPa.

Sekali lagi, Baekhyun menarik napas dalam. Kali ini, ia berpikir, hanya kali ini. Ia menyadari sesuatu. There's no turning back. This is it. Now, or never.


Chanyeol sedang menggigit sandwich-nya dengan perasaan campur aduk ketika pengumuman itu menggema di seluruh sekolahan. Suara Yeri, anak kelas satu dengan kategori C itu terdengar ceria, seperti biasa. Murid SoPA biasanya tidak akan heran karena Yeri memang selalu menyiarkan berita-berita seperti ini. Lagipula, ia penyiar utama di radio sekolah, maka dari itu suaranya tidak asing di telinga para murid.

Seharian ini, Chanyeol berusaha sebisa mungkin menghindari Kyungsoo. Ia belum siap, dan ia tidak ingin meledak di hadapan Kyungsoo. Chanyeol bisa-bisa kelepasan dan memaki pria itu.

Bahkan, Sehun dan Luhan yang tengah ber-lovey-dovey—saling menyuapi yogurt—di hadapannya pun berhenti melakukan kegiatan tololnya ketika pengumuman itu menggema di seluruh penjuru sekolah. Sial. Chanyeol rasanya ingin muntah saja.

"Murid pindahan?" Kris bersuara, "wah, siapapun ia, murid pindahan itu jelas memiliki nyali baja."

Sehun mengangguk, membenarkan opini Kris. "Bukankah tes casting sangat jarang dilakukan? Apakah murid pindahan itu berniat memasuki jurusan 'tiga besar'?" Seperti biasa, Sehun akan meletakkan dagunya di pundak Luhan dengan sikap malas, sementara Luhan akan tersipu manis.

Sungguh, Luhan sepertinya harus mengganti kelamin menjadi seorang gadis saja. Bagaimana mungkin seorang pria nampak begitu cantik ketika ia tersipu?!

Omong-omong, Luhan dan Kris adalah murid tingkat akhir di SoPA. Luhan menempati kelas III B, dan Kris di kelas III E. Suatu keberuntung bagi Oh Sehun, karena pria itu lebih muda dari Luhan. Rasanya sangat lucu bagaimana cinta bisa membuat seseorang tidak pandang bulu, bagimana Luhan bisa jatuh cinta kepada si idiot Oh Sehun, meski Chanyeol harus mengakui Sehun sangat tampan dan skill menarinya sungguh mengerikan. Ugh, menyinggung topik menari benar-benar membuat Chanyeol jadi naik darah.

Dulu, ia pernah meminta Sehun untuk mengajarinya free style dance demi membuat Kyungsoo terkesan. Chanyeol pikir Kyungsoo akan jatuh hati ketika ia melihatnya menari. Namun bahkan, Oh Sehun pun mengibarkan bendera putih kepadanya. Ia berhenti mengajari Chanyeol pada hari ketiga. Dan ketika ia menunjukkan dance absurdnya kepada Kyungsoo, pria itu hanya menatapnya bingung dengan matanya yang bulat bekel dan bertanya, "Chanyeol, apa kau mempelajari gerakan senam baru?"

Dan Kyungsoo tidak pernah tahu bahwa harga diri Chanyeol terluka sangat parah pada saat itu.

Baiklah, kembali ke topik awal, bukan pula suatu kebetulan jika tes casting jarang dilakukan. Tes itu teramat istimewa sehingga biasanya murid pindahan yang bernyali sebesar biji kacang tidak akan berani.

Kris mengangguk kecil kemudian menggigit sandwich-nya, lalu berucap dengan mulut penuh, "kurasa begitu."

Mulut Luhan membentuk 'O' kecil. "Haruskah kita menonton?" tanyanya kemudian menoleh kearah Chanyeol.

Baik Kris maupun Sehun juga menoleh untuk menatap Chanyeol, yang sedari tadi hanya diam. Matanya menerawang menembus jendela kafetaria, lebih jauh lagi seakan matanya sedang menatap menembus awan. Tatapan matanya kosong. Dengan sengaja, Kris menyenggol sedikit lengannya. Pria jangkung dengan telinga lebar itu terlonjak sedikit, lalu menatap ketiga temannya dengan tatapan bodoh dan bingung. "Apa?" katanya.

Kris mendesah. "Kau tidak mendengarkan ya?"

"Apa kau dan Kyungsoo masih bertengkar?" tembak Luhan langsung.

Chanyeol menggeleng, lalu meletakkan sandwich-nya yang hanya ia gigit dua kali ke meja kafetaria dengan enggan. Selera makannya hilang. "Kami tidak bertengkar. Hanya saja, yah. Begitulah."

Sehun memutar bola matanya. "Astaga, hyung. Kalau kau menyukainya, kenapa tidak kau nyatakan saja perasaanmu. Apakah sesulit itu?" katanya, setengah frustasi setengah merendahkan.

Chanyeol tertawa getir. "Entahlah, aku tidak tahu, Sehun-ah. Kurasa aku hanya bodoh, seorang yang sangat idiot dan pengecut. Menyedihkan."

Kris dan Luhan bertukar pandang dengan cemas. Biasanya Chanyeol akan marah-marah layaknya badak liar ketika harga dirinya di cemooh. Tapi pengecualian untuk hari ini. Hal tersebut membuat sahabatnya sedikit cemas, karena Chanyeol tidak bisanya seperti ini.

Dengan cepat, Luhan sengaja menyikut tulang selangka Sehun. Pria yang lebih muda itu mengaduh. "Astaga, Lu! Kenapa kau me—"

"Diamlah Oh Sehun atau aku akan membunuhmu!" ancam Luhan berbisik dengan hawa pembunuh keji. Si manis itu kemudian berdeham, lalu tersenyum cerah kepada Chanyeol. "Tidak apa-apa, Chanyeol. Aku yakin akan ada saatnya tiba. Tenanglah!"

Chanyeol mendongak dan membalas senyum manis Luhan. "Thanks, Lu." Lalu ia menoleh kepada si pirang dengan ekspresi dingin di sampingnya, "omong-omong, hyung, soal perkataanku tentang kau dan Tao kemarin, aku minta maaf."

Kris tersedak milkshake-nya. Jarang sekali seorang Park Chanyeol berbicara seperti itu. Meski demikian, Kris akhirnya tertawa. Ia menepuk pundak Chanyeol pelan. "Tenanglah, bocah. Aku malah berniat untuk berterimaksih. Makianmu semalam sepertinya berubah menjadi mantra yang terbalik."

Chanyeol menyeringai. "Benarkah? Apa Tao menghubungimu?"

Kris mengangguk lalu tersenyum lebar. "Ia menghubungiku lalu meminta maaf karena telah egois dan meninggalkanku sendirian. Tapi tenanglah, kami sudah baik-baik saja sekarang."

Baik Sehun maupun Luhan tersenyum. "Senang mendengarnya, hyung. Sampaikan salamku padanya, dan katakan padanya untuk mampir kerumahku sesekali ketika ia kembali ke Seoul." Balas Chanyeol.

Kepala pirang Kris mengangguk. "Tentu, Chanyeol." Lalu ia bangkit, menarik seragam Chanyeol sedikit, "ayo. Kalian tidak ingin melewatkan pertunjukkan yang menghibur, bukan?"

Sehun ikut-ikutan berdiri, disusul oleh Chanyeol dan akhirnya Luhan. Yang termuda, Sehun, menyeringai lebar. "Yup. Mari kita lihat seberapa beraninya murid pindahan itu."

Mendengar itu, mendadak wajah Chanyeol berubah cerah. Tentu saja ia tahu siapa murid pindahan dengan nyali sok itu. Si bodoh Byun Baekhyun. Si bodoh dengan aroma stoberi yang memabukkan dan kulit halus yang—tunggu dulu. Apa?!

Sial. Park Chanyeol. Apa yang barusan kau pikirkan?

"Chanyeol," panggil Luhan ketika melihat pria jangkung itu menggeleng dengan sangat keras, berusaha menghalau pemikiran bodoh tentang Byun Baekhyun yang, omong-omong, tidak bisa membuatnya tidur semalam, "apa kau baik-baik saja?"

Chanyeol mendongak dan merasa malu luar biasa, karena entah karena alasan apa, Chanyeol merasa Luhan seperti sedang menangkap basah dirinya tengah memikirkan Baekhyun—oh tidak. Jangan sampai. "Oh, ya. Aku baik-baik saja."

"Ayo." Ajak Kris akhirnya, membuat mereka berjalan bersamaan menuju gedung pertunjukkan.

Awalnya Chanyeol merasa bahwa ia bisa membunuh seluruh umat di bumi ini ketika Sekretaris Yoon berkata bahwa Baekhyun akan bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Namun Chanyeol mulai berpikir, jika si bodoh itu dalam jarak yang bisa ia jangkau, maka misinya akan terlaksanakan dengan sempurna.

Hanya saja, ada satu permasalahan.

Chanyeol tidak ingin murid lain mengetahui bahwa mereka tinggal satu rumah. Hal itu tidak boleh terjadi. Ia bertekad untuk membungkam mulut Baekhyun, apapun yang terjadi.

Maka, seringai yang makin lebar pun menghiasi wajah prankster Chanyeol yang tampan.

Ya, misinya akan berlangsung dengan sempurna. Ia akan mengacaukan hidup Byun Baekhyun hingga si pendek itu merasa layaknya hidup di neraka, dan ketika saat itu tiba, Chanyeol yakin bahwa Baekhyun sudah akan lari tunggang langgang, menghilang dari hadapannya, menghilang dari hidupnya.

Sehun menyikut Luhan ketika mereka berempat telah sampai di depan pintu utama gedung pertunjukkan, sembari berucap kecil, "sepertinya Park Chanyeol dan senyum idiotnya telah kembali."

Luhan tertawa kecil. Lalu mengangguk antusias. "Kurasa begitu."


Baekhyun memilih sebuah piano sebagai instrumen yang akan dimainkannya, dan memilih At Gwanghwamun sebagai lagu yang hendak dibawakannya nanti.

Ia berkali-kali mengulangi kalimat ini dalam kepalanya: hitung sampai sepuluh, kendalikan emosimu, jangan melakukan hal-hal bodoh seperti ... um, muntah di atas panggung atau malah lebih parah, bernyanyi dengan sumbang.

Ia harus memenangkan ini. Ia harus masuk ke dalam sekolah ini dan lolos. Setidaknya ia harus mencobanya. Karena jika tidak, Baekhyun tidak akan tahu sejauh mana kemampuannya.

"Baekhyun-ssi, kau bisa mulai sekarang." Seorang gadis membuyarkan lamunannya, kemudian menunjuk arah panggung.

Baekhyun menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan. Ia berdiri. Gadis itu memberinya sebuah mike, lalu berucap sembari tersenyum, "semoga berhasil" kepadanya. Oh, Baekhyun jelas membutuhkan semua keberuntungan saat ini. Namun ia percaya pada dirinya sendiri.

Tangannya berkeringat, begitu juga dengan pelipisnya.

Langkah pertama memasuki panggung melewati area samping membuat kakinya bergetar hebat. Kursi penonton telah penuh dengan murid berseragam kuning, serta terdapat tiga kursi paling depan yang tampaknya sengaja dibuat khusus untuk orang yang tentunya khusus pula.

Kursi pertama di duduki oleh Im Chang Wook, pria dengan rambut hampir botak yang menjabat sebagai kepala sekolah SoPA. Kursi kedua di duduki oleh Jang Dae Sung, salah satu guru vokal pria ternama di Korea, sekaligus guru vokal tetap di SoPA. Dan di kursi ketika, duduklah seorang wanita dengan rambut yang digelung ketat serta ekspresi yang tajam, Song Hyo Min.

Baekhyun tersedak ludahnya sendiri.

Kemudian, langkah kedua mulai membuatnya sedikit rileks. Langkah ketiga, kepalanya terasa ringan dan ia merasakan kepercayaan diri memenuhi rongga dadanya. Namun, begitu sampai di pertengahan panggung, Baekhyun tidak sengaja terjatuh, tersandung kakinya sendiri.

Mike-nya terlepas begitu saja dari tangannya, kemudian berguling di lantai, menimbulkan suara yang membuat orang-orang berjengit ngeri. Suara terkesiap memenuhi ruangan luas itu.

Sontak, senyum mengejek menghiasi wajah penonton, membuat kepercayaan Byun Baekhyun turun menjadi nol persen. Bahkan, ada yang terang-terangan tertawa dengan sangat keras. Beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik dengan tatapan mencemooh. Sementara di barisan paling depan—tiga kursi khusus yang ternyata adalah kursi para juri—Kepala Sekolah Im menggelengkan kepalanya tak senang. Sementara Song Hyo Min tersenyum meremehkan—seperti biasa.

Dengan gerakan cepat, Baekhyun merangkak meraih mike-nya dan segera berdiri, lalu membungkuk sedikit sembari menggumamkan kata maaf dengan kalimat formal.

Ia berdehem kecil, kemudian duduk di depan piano hitam mengkilat, berusaha menenangkan debar jantungnya yang mulai berantakan. Dalam hati, ia mengutuk kebodohannya sendiri. Ia bisa merasakan berpasang-pasang mata menatapnya remeh, seakan-akan ia adalah seseorang yang tidak layak. Keringat dingin masih mengucur, membuat rambut cokelat keunguannya menempel di dahi.

Kemudian, Baekhyun teringat sesuatu. Ayah. Pikirnya. Meski ia marah, Baekhyun tidak bisa berbohong bahwa ia merindukan pria itu. Maka, ia menaikkan jemarinya di atas tuts piano, sementara kenangan masa lalu tentang sebuah lagu yang ia sering nyanyikan bersama ayahnya memenuhi kepalanya. Baekhyun menarik napasnya, dan mulai memainkan melodi yang telah beratus kali ia mainkan bersama ayahnya.

Berbagai konsep yang telah ia susun sebelum menaiki panggung seketika itu buyar. Awalnya ia berniat menyanyikan At Gwanghwamun, namun konsep itu tergantikan oleh sebuah lagu sederhana yang dibuat sendiri oleh Ayahnya—ditujukan untuk Ibunya yang telah meninggal.

Lalu, suara selembut kapas bak lantunan seorang malaikat menggema di seluruh penjuru gedung itu. Suara terkesiap terdengar lagi. Kali ini, semuanya tampak takjub dengan kemampuan seseorang yang sedang duduk di balik piano mewah itu.

"Hu ... hu-uh, woah, huuu ...

Remember geudaega, himdeul ddaemyeon hangsang

Nunmureul usseumgwa bakkwojyo

Na eobneun gosseseon uljimayo don't cry

Nunmuri mandeon geudaereoseo, oh

It's my turn to cry naega halkeyo

Huuu, hu woah-woah ...

It's my turn to cry naege matkyeyo

Geu nunmulkkaji ...

This time ..."

Dan ketika Baekhyun menyelesaikan melodi terakhirnya, seluruh ruangan dipenuhi atmosfer yang terasa sangat janggal, namun entah mengapa terasa begitu menyenangkan untuk dirinya. Perutnya mengalami sensasi geli, sekujur tubuhnya seakan dialiri listrik, bahkan keringat dinginnya masih mengucur deras. Baekhyun menggigit bibir, mendongakkan kepalanya dan memberanikan diri untuk menatap jejeran bangku penonton yang kini menatapnya balik dengan hening. Sebagian dari mereka membuka mulutnya lebar-lebar—Park Chanyeol salah satunya, karena tubuh tiangnya memang sangat mudah untuk dikenali, terlebih ia duduk di bangku yang jaraknya tidak terlalu jauh oleh panggung—menatapnya tak percaya.

Hening.

Hening yang entah kenapa terasa begitu mendebarkan.

Lalu, tepuk tangan menggema. Menggema dengan begitu keras hingga Baekhyun berkali-kali menyakinkan dirinya bahwa itu sama sekali bukan mimpi.


Awalnya, pria jangkung itu sudah bersiap-siap untuk tertawa melihat si bodoh Baekhyun tersandung hanya karena sebuah lantai. Astaga yang benar saja! Belum apa-apa dia sudah mempermalukan dirinya. Chanyeol bersorak dalam hati. Jika begini, kemugkinan besar Baekhyun tidak akan diterima di SoPA, dan tentu saja, Chanyeol akan hidup dalam damai.

Lalu, sesuatu berdentam dengan sangat keras di dalam sana, berdetak tak karuan ketika Byun Baekhyun mulai bernyanyi. Memori tentang pipi yang halus dan aroma stroberi dengan mudahnya menyeruak indera penciuman Chanyeol, seakan-akan orang beraroma stroberi itu sedang duduk di dekatnya—yang mana sebenarnya mustahil karena yang bersangkutan sedang bernyanyi dengan indah di atas panggung sana. Ingatan tentang sebuah pelukan hangat dan tepukan halus di belakang kepalanya berputar bagai kepingan kaset rusak. Chanyeol menggigit bibirnya, gelisah. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Pemikiran ini pula yang membuat Chanyeol terjaga semalaman suntuk.

Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?

Persetan. Ia tidak tahu dan tidak akan mau tahu! Chanyeol mengusir pemikiran itu jauh-jauh dari dalam kepalanya dan mulai memfokuskan inderanya pada lantunan sebuah piano dan suara selembut kapas.

Bukan lagu terkenal, pikir Chanyeol. Dan ia belum pernah mendengar lagu ini sebelumnya. Apa ini lagu buatannya sendiri? Kalau begitu, Chanyeol harus mengakui bahwa Byun Baekhyun adalah seorang genius. Chanyeol sendiri hobi membuat lagu, namun ia tidak tahu bahwa sebuah lagu yang sederhana jika dipadukan dengan suara merdu yang manis akan bisa menyampaikan begitu banyak pesan. Chanyeol merasa bahwa lagu ini cocok untuk Baekhyun. Sangat pas dan sangat mempesona, sejujurnya. Dia tidak yakin jika si Tulang Pipi Tinggi Bermata Unta yang menjelma sebagai Kim Jongdae—baiklah, Chen—yang menyanyikan lagu ini maka hasilnya pasti tidak akan sebagus Baekhyun.

Selama masa eksistensinya, Chanyeol tidak tahu bahwa seseorang bisa bernyanyi seperti itu. Chanyeol tidak berbohong ketika berkata bahwa Kyungsoo memiliki suara yang bagus, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa seseorang bisa menyalurkan perasaannya lewat sebuah bait lagu. Entahlah, Chanyeol tidak bisa menjelaskannya. Yang pasti, ia merasakan sesuatu. Lagu itu seakan-akan memberitahunya sebuah rahasia paling menyakitkan.

Merindukan seseorang. Chanyeol menangkap pesan rahasia itu, meski ia sendiri tidak tahu bagaimana.

Hati kecil Chanyeol mulai berbisik gundah, siapa sebenarnya yang dirindukan si pendek itu? Orangtuanya? Atau, kekasihnya?

Sial. Untuk apa pula aku memikirkan hal semacam ini? Maki Chanyeol dalam hati.

Tak jauh dari bangku Chanyeol, Luhan, Sehun dan Kris, ada bangku Kyungsoo, Kai dan Chen. Oh, serta si Ketua Osis Kim Junmyeon dan kekasihnya yang berdarah Tionghoa, sekaligus teman sekelas Chanyeol, Zhang Yixing.

"Sepertinya kau akan memiliki pesaing lagi, Jongdae." Bahkan dari jarak yang lumayan jauh itupun Chanyeol bisa mendengar ejekan Junmyeon kepada Chen.

Chen menggerutu malas. "Sudah cukup Kyungsoo, Luhan dan kau, hyung. Sekarang si kepala ungu itu lagi? Sial. Kurasa tahun ini akan menjadi persaingan tersulit."

Kyungsoo manggut-manggut. "Sulit untuk menolak si Murid Pindahan. Ia jelas akan diterima di kelas tiga besar." Kemudian ia menyikut Chen lalu tersenyum lebar, "persaingan tersulit ya? Ingat, tetap harus sportif."

Wajah masam Chen berubah makin masam.

"Tapi harus kuakui suara Baekhyun benar-benar indah. Aku penasaran hingga sejauh mana nada tinggi yang bisa dicapainya." Yixing tersenyum lembut.

Sementara Kai hanya menatapi Kyungsoo layaknya orang idiot sembari tersenyum aneh. Ada apa dengan si bodoh berkulit hitam itu? Melihatnya Chanyeol makin geram saja. Tanpa sadar, Kyungso menoleh ke samping dan tatapan matanya bertemu dengan Chanyeol. Ia terkejut sebentar, lalu mengangkat tangannya untuk melambai dan memaksakan seulas senyum.

Kenapa Chanyeol baru sadar kalau Kyungsoo sering tersenyum seperti itu akhir-akhir ini? Senyum yang tampaknya tidak diniatkan. Tidak tulus. Hatinya bergejolak lagi, dan Chanyeol dengan cepat membuang muka tanpa membalas sapaan Kyungsoo. Kyungsoo tersentak, namun lebih memilih seakan tidak terjadi apa-apa.

Kalau sudah seperti ini, siapa yang patut disalahkan?

Baiklah, Chanyeol mengakui bahwa ia yang memulai perang dingin ini terlebih dahulu. Ini semua karena Kyungsoo membohonginya. Tidak ada yang lebih buruk daripada itu. Namun kenapa Kyungsoo tidak pernah berusaha meraihnya? Chanyeol baru sadar sekarang, bahwa Kyungsoo memang tidak pernah merespon apapun. Mereka sahabat, tidak lebih.

Sejujurnya, pria jangkung itu lelah. Lelah karena terus-terusan mengejar dan mencoba untuk menggapai Kyungsoo. Lelah bersembunyi dari seorang pengecut—dirinya sendiri.

Chanyeol menggelengkan kepalanya lagi, berusaha menghalau pikiran tentang Kyungsoo barang sedetik saja. Ia memfokuskan matanya pada seonggok daging dengan kepala berwarna ungu di tengah panggung, yang kini tampak kikuk hanya karena tepuk tangan yang menggema di penjuru ruangan.

Wajahnya memerah, membuatnya menjadi sangat kontras dengan kulit putih susunya. Ia berjalan dengan wajah menunduk, tersandung lantai beberapa kali hingga tubuhnya ditelan oleh pintu di samping panggung.

Chanyeol menyeringai lebar. Si bodoh itu gampang sekali tersandung. Apa kakinya terbuat dari jeli? Yang benar saja, Chanyeol harus menahan gelak tawanya ketika Baekhyun terjatuh saat memasuki panggung dan mike-nya berguling di lantai. Lalu ia merangkak bagai orang bodoh demi meraih mike-nya.

"Apa dia bodoh? Kenapa dia mudah sekali tersandung?" cibir Chanyeol namun sebuah seringai masih melekat sempurna di bibirnya.

Luhan menggeleng tidak setuju. "Ia hanya sedikit kikuk, namun kurasa sebenarnya ia tampak sangat manis. Omong-omong siapa namanya? Rambut ungunya lucu sekali."

"Byun Baekhyun."

Mereka bertiga serempak menoleh kearah Chanyeol. Sementara Chanyeol didera rasa panik dan berniat untuk mengubur dirinya sendiri di dalam tanah. Bagaimana mungkin nama itu bisa meluncur dengan mulus dari bibirnya?! Terlebih, nada yang Chanyeol gunakan ketika menyebut nama itu seakan-akan Chanyeol adalah orang tua yang bangga terhadap anaknya sendiri. Sial, jika terus kelepasan seperti ini, Chanyeol benar-benar akan berada dalam masalah.

Kris mengangkat alisnya dan menatap Chanyeol curiga. "Kau mengenalnya?"

Chanyeol berusaha untuk tidak menggubris pertanyaan Kris lalu tertawa renyah. "Tentu saja tidak!" kata Chanyeol—hampir-hampir berupa bentakan. Lalu Chanyeol tertawa sumbang lagi. "Uh, kurasa aku harus pergi. Perutku mendadak mulas." Dan dengan kalimat barusan, pria jangkung itu melesat dengan kecepatan cahaya, meninggalkan ketiga temannya dengan penuh tanya.

"Itu," kata Sehun pelan sembari memicingkan mata, mengobservasi kepergian Chanyeol dengan gaya setingkat Sherlock Holmes, "sangat mencurigakan."

Kris mengangguk setuju. Ia menyisir rambut pirangnya ke belakang, gerakan mematikan yang biasa ia lakukan ketika ia merasakan sesuatu yang aneh. "Kurasa ia menyembunyikan sesuatu. Brengsek sekali Si Park itu. Kita harus mengawasinya lebih sering mulai sekarang."

Sementara Kris dan Sehun tertawa, Luhan malah menoleh kepada Sehun yang tengah tertawa di sampingnya, bibirnya mem-pout lucu. "Hun, bagaimana kalau aku mengganti warna rambutku menjadi ungu seperti itu? Rambutnya lucuuuu sekali, apa kau berpikir warna magenta cocok untukku?"

Sehun menoleh dan tersenyum lembut—merasa begitu senang ketika Luhan melakukan aegyo-nya—meski sebenarnya Luhan pasti tidak sadar bahwa ia sedang melakukan aegyo—lalu menepuk sayang surai cokelat madu Luhan. Ia menahan dorongan kuat untuk tidak merangsek maju dan mengecup bibir Luhan saat itu juga. Luhan tampaknya tidak keberatan ketika Sehun menepuk kepalanya—mengingat Luhan lebih tua dari Sehun dan gestur itu tergolong hal yang kurang ajar. "Tentu saja, Lu. Warna apapun tentunya akan cocok untukmu. Tapi aku suka rambut cokelat madumu. Kau tampak seperti rusa kecil yang cantik." Lalu senyum lebar yang tampan menghiasi wajah Sehun.

Tidak terima, Luhan memukul pelan kepala Sehun, sementara Sehun terkekeh senang. "Aku tidak cantik!"

"Mmm, ya. Kau cantik."

"TIDAK!"

"Ya!"

"Oh Sehun! Aku tidak cantik!"

"Tapi kau memang cantik!"

"Sudah kubilang aku tidak cantik! Oh Sehun aku bersumpah jika sekali lagi kau—"

Kris, yang berada tepat di samping kedua pasangan itu, memutar bola matanya jengah, lalu dengan cepat memotong, "uh, guys. Aku ada disini. Tolong jangan abaikan aku karena itu akan sangat melukai harga diriku." Kris meletakkan kedua tangannya di dada, membuat gestur yang sangat berlebihan seakan ia mengalami serangan jantung. "Oh, aku merindukan Zitao-ku."


Baekhyun harus mengipasi wajahnya berkali-kali. Atau memukul kepalanya, atau mencubiti pipinya, atau yang lebih parah: menghantamkan kepalanya ke dinding bilik toilet.

Begitu Baekhyun turun dari panggung, Kepala Sekolah Im langsung menyambutnya dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Baekhyun. Senyum lebar terukir di wajah pria itu. Dan ketika Kepala Sekolah Im selesai dengan segala pujiannya, giliran Song Hyo Min, wanita culas dengan sanggul terik yang kemudian memberinya kata sambutan yang terasa sangat luar biasa.

"Selamat datang di SoPA, Byun Baekhyun. Kelas II A akan menjadi kelas barumu."

Lalu rasanya tubuh mungil Baekhyun seperti hendak melayang layaknya balon gas. Masih setengah linglung, Song Hyo Min sepertinya menegaskan segalanya dengan membawa Baekhyun ke ruang kesiswaan. Disana, seorang wanita dengan senyum hangat menyambutnya. Song Hyo Min menyuruh wanita itu untuk mengukur ukuran tubuh Baekhyun, mulai dari kemeja putih berlengan panjang, blazer, rompi dan sweater kuning yang sangat identik dengan SoPA, celana katun panjang berwarna hitam, dan segala tetek bengek lain mulai dari seragam wajib, seragam musim dingin dan musim panas, serta seragam olahraga.

Song Hyo Min kemudian memberikan segala jenis seragam tersebut kepada Baekhyun, dan berkata bahwa Baekhyun sudah mulai bisa memakai seragam musim panas keesokan harinya.

Jadi, setelah meletakkan seragam tersebut ke dalam loker barunya, yang omong-omong berada di lantai empat dekat dengan kelas II A, si mungil berambut magenta itu langsung berderap ke kamar mandi terdekat dan bertanya-tanya apakah ini semua benar-benar nyata atau hanya mimpi belaka.

Ia berteriak sedikit sembari terkekeh ketika ia mencubit pipinya. "Sakit," gumamnya geli, "ini nyata, Byun. Ini nyata."

Kemudian ia merogoh saku celana jeans-nya dan menekan nomor yang belakang ini tidak pernah aktif. Meski begitu, ia tetap menelpon nomor tersebut meski mesin wanita yang menjawab panggilannya. Seperti biasa, sejumlah panggilan tak terjawab itu akan teralihkan ke kotak pesan suara.

"Um, hai, Ayah." Baekhyun memulai dengan suara pelan, namun dari nada biacaranya, orang bodoh pun tahu bahwa pria berparas manis itu tengah bahagia. "Bagaimana keadaanmu? Aku berharap kau selalu baik-baik saja. Well ... ini bukan hal yang besar, tapi aku lulus tes dan aku diterima di SoPA. Di kelas tiga besar yang Ayah inginkan." Kemudian ia terdiam sebentar. "Ayah, aku ... senang sekali. Kuharap Ayah ada di sini dan kita bisa makan siang bersama untuk merayakannya." Lalu nada suaranya berubah sendu, "Ayah kumohon pulanglah."

Lalu ia menghentikan pesan suara tersebut dan menggigit bibirnya. Byun Baekhyun sangat sensitif dan mudah sekali emosional jika hal-hal yang bersangkutan dengan ayahnya. Meski begitu, ia menarik napas dalam-dalam dan mengulangi kalimat yang sama: semua akan baik-baik saja.

Senyum manisnya kembali, dan kemudian ia tersadar bahwa ia sudah mendekam terlalu lama di dalam toilet. Memikirkan itu membuatnya bergidik jijik. Yang benar saja. Bagaimana jika orang-orang yang masuk ke toilet ini mengira bahwa ia kelainan atau semacamnya.

Tidak. Tidak boleh terjadi. Jangan sampai merusak imej baikmu, Byun. Pikir si mungil sembari menggelenggkan kepalanya, membuat surai cokelat keunguannya sedikit berantakan—yang anehnya, malah membuat si mungil itu menjadi semakin manis.

Ia kemudian berdiri dari toilet duduk, menyentuh kenop pintu dan keluar dari bilik kecil itu. Kemudian, ia terkesiap pelan.

Karena, tepat ketika ia keluar, ia melihat sosok jangkung tengah membasuh wajahnya di atas wastafel sembari memejamkan mata, di hadapannya. Sosok itu kemudian menekankan kedua telapak tangannya di depan kaca wastafel, masih sambil terpejam, ia membentur-benturkan kepalanya dengan pelan ke kaca. Sosok jangkung dengan surai gelap itu lalu menggumamkan sesuatu dengan sangat pelan, namun entah mengapa masih terdengar cukup jelas di telinga Baekhyun.

"Keluar dari kepalaku, bodoh. Kau harus keluar dari kepalaku. Astaga stroberi bodoh itu."

Lalu mata si pria jangkung terbuka, dan tatapan mereka terkunci, melihat sosok satu sama lain dari balik pantulan kaca. Mata sipit Baekhyun melebar, begitu juga dengan mata si pria jangkung.[]


A/N : Hai! Aku kembali membawa chapter limaaa~~

Btw gimana chapter ini? Membosankan ya? Iya banget. Oh iya udah pernah nonton solo performance Baekhyun di TLP? Dia nampil solo pake piano, nyanyiin lagu My Turn To Cry. Dan itu sumpah, kena banget ke ati. Kalo belum nonton, coba deh capcus ke yutub dulu. Liat gimana menghayatinya Baekhyun nyanyiin lagu itu pake ritme mellow menyayat hati gitu huhu. Ceritanya disini bayangin deh dia nampil pake piano trus nyanyiin lagu itu sama kaya di TLP *TOO MUCH FEELS*

Lah kebanyakan ngomong akunya. Haha. Review, please? Love you!~


I know this is too damn late, but big thanks to:

[lightlyb] [nit] [hunhankid] [SHINeexo] [exobaeolchabae] [amandaerate] [AkaSunaSparKyu] [chanbaekssi] [pisang] [Aya] [guest22.09.15] [wind] [ikakai] [chanbaek'slove] [parklili] [meliarisky7] [bluebble] [ssnowish] [614] [ByunElelelele] [hunniehan] [BabyCrong] [HyunBee] [byunkkaebb] [dee175]

LOVE LOVE LOVE YOU BABY BABY WOOO~