My Little Brother

Disclaimer : Furudate Haruichi.

Warning : OC, OOC, Incest, Sho-ai, Typo everywhere.

Hinata tampak terkejut ketika ada mobil yang berlawanan arah mengarah ke arahnya dengan cepat. Ia pun membanting stirnya ke kanan. Dan. . .

'CKIIIITT' Suara ban mobil bergesekan kasar dengan aspal jalan.

'BRAAK'

Mobil milik Hinata sudah bertabrakan dengan pembatas jalan dengan keras.

"Shoyo. . Shoyo jawab nak Shoyo!" ucap Tou-channya khawatir.

'Tuut Tuut Tuut" suara panggilan terputus.

oOo

Hinata dibawa menggunakan ranjang rumah sakit menuju ruang ICU.

"Bagaimana dokter?"

"Pasien kehabisan banyak darah, Kita harus melakukan transfusi darah secepatnya!"

"Ha'i."

ruangan ICU kala itu nampak ribut karena gugup menangani anak pemilik rumah sakit.

"Shoyo-sama bertahanlah." rapal seorang perawat disana.

"Dia pasti kuat."

oOo

Yamaguchi berlari panik kearah ruang rapat, rapat hari ini digantikan oleh Seiya sendiri karena sang anak tak kunjung datang.

'BRAKK'

Pintu dibuka dengan kasar, menampakkan wajah Yamaguchi yang panik dengan nafas ngos-ngosan.

"Yamaguchi tak bisakah kau masuk de-"

"Shoyo-sama. . Shoyo sama kecelakaan!" ucap Yamaguchi dengan nada paniknya.

"Kau pasti bercanda kan?"

"Tidak Tuan. . dan keadaan Shoyo-sama. . . sedang kritis"

"Di. . dimana dia sekarang?!"

"Rumah sakit Tokyo, ruang ICU"

"ICU?. . .tidak-tidak. ." ucap Seiya dan langsung berlari keluar.

oOo

Seiya langsung menuju tempat ruang ICU setelah sampai di rumah sakit. Kenapa? Tentu saja sang anak sedang kritis, anak tersayangnya yang setahun terakhir selalu ia bentak. Ia membentak Hinata bukan karena tak menyanyanginya, tapi karena Hinata begitu keras kepala saat ia menyuruh untuk mengambil cuti.

"Maaf pak anda masih belum boleh masuk. Mohon tenang sedikit." ucap seorang perawat di depan ICU.

"Kenapa tidak bisa?! Aku pemilik rumah sakit ini! Dan bagaimana aku bisa tenang ?! anakku berada didalam!" sahut Seiya.

"Saya tahu anak anda sedang ada didalam namun saya mohon sekali lagi, agar tuan tenang dulu." sahut perawat itu.

"Shoyo Tou-chan mohon, bertahanlah demi Tou-chan." gumam Seiya sembari menatap pintu ruangan.

oOo

Hinata berdiri di padang bunga yang nampak sangat indah.

"Dimana. . aku?" monolognya.

Ia melihat ke sekelilingnya, padang bunga itu nampak sangat luas. Sedetik ia merasa tenang melihat pemandangan yang indah didepannya.

"Kaa-chan?" ucapnya tak percaya saat melihat seseorang yang nampak seperti Kaa-channya. Kaa-channya kandungnya. Sontak saja ia langsung berlari untuk menghampiri sang Kaa-chan yang sangat dicintainya.

"Kaa-chan." panggilnya.

"Ha'I Sho-chan." sahut seorang Wanita dengan surai berwarna cokelat yang ada didepannya.

"Kaa-chan. . . ini benar-benar Kaa-chan hiks. ."

"sst. . loh Sho-chan. . Sho-chan kenapa menangis?"

"Kaa-chan. . hiks. . . Shoyo rindu dengan Kaa-chan. . hiks. . jangan tinggalkan Shoyo lagi hiks." ucapnya sembari memeluk erat Kaa-channya dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya.

"Kaa-chan juga rindu dengan Sho-chan." sahut sang Kaa-chan sembari memberikan belaian sayang.

"Kaa-chan. . . Kaa-chan hiks." gumamnya.

"Shoyo. . . tenanglah ne~~"

"Hm." sahutnya sembari menikmati pelukan hangat sang Kaa-chan.

oOo

Tsukishima berlari cepat menuju ruang ICU setelah Tou-channya tadi memberikannya kabar bahwa adik tersayangnya kecelakaan.

"Tou-san. . ." ucapnya yang melihat sang Tou-chan yang duduk di kursi tunggu didepan ruang ICU.

"Kei. . Shoyo. . Shoyo hiks. . ."

"Tenanglah Tou-san. . Shoyo pasti baik-baik saja."

"Semoga saja hiks . . ini salahku. . hiks. . kalau saja saat itu aku tak menelponnya. . hiks."

"Stt. . Tou-san sudah. . jangan terlalu dipikirkan. . . yang terpenting sekarang adalah keadaannya kan?" ucap Tsukishima mencoba menenangkan.

"Ya, kau benar.. lalu dimana Kaa-san?"

"Dirumah, Kaa-chan bilang ia akan kemari secepatnya."

"Hm. . ."

Pintu ruang ICU terbuka, mengeluarkan para dokter yang sedari tadi mengurus Hinata.

"Bagaimana keadaan Shoyo, Kageyama-sensei?" Tanya Seiya pada salah satu dokter yang memang telah menangani Hinata semenjak Kaa-chan Hinata meninggal.

"Shoyo, em. . . ah Seiya-san bisa keruangan saya." ucapnya

"Ano. . . bisa saya menjenguk adik saya?" Tanya Tsukishima.

"Adik?"

"Ah Kageyama, kau lupa? Dia anak dari istriku sekarang, jadi. . dia adalah nii-sannya Shoyo."

"Ah maaf aku lupa."

"tak apa, jadi apa boleh?"

"Ya.. kau bisa menjenguknya."

"terima kasih" Tsukishima membungkuk sebentar kemudian memasuki ruang ICU untuk menjaga Hinata, adik tersayangnya.

"Jadi. . . anda bisa ikut saya keruangan saya dulu sebentar."

Seiya mengikuti Kageyama keruangannya. Kini mereka tengah duduk, entah kenapa Seiya merasa Kageyama sangat serius kali ini.

"Ano. . jadi bagaimana keadaan Shoyo?" tanyanya menghapuskan keheningan yang sedari tadi tercipta.

"Karena kecelakaan tadi ia kehabisan banyak darah, dan yah untung kami punya stok darah yang sesuai dengannya tapi. . mungkin karena adanya benturan keras yang terjadi kemungkinan Shoyo akan mengalami gegar otak ringan, yah ini belum bisa dipastikan. Kita bisa memastikan Shoyo mengalami gegar otak atau tidak saat ia sadar nanti. . ."

"Kapan dia akan sadar? Dia pingsan hanya karena pengaruh obat dari kalian kan?" Tanya Seiya, Kageyama menggeleng cepat membuat Seiya merasa was-was.

"Lalu. . . sebenarnya. . . apa yang kau coba jelaskan?" Tanya seiya.

"Shoyo. . . sedang dalam keadaan Koma." sahut Kageyama.

"Tidak. . kau bercanda kan? Tidak mungkin hal itu terjadi"

"Mungkin saja! Anda tak tahu bagaimana kondisinya saat dibawa kemari kan?! Darahnya dimana-mana! Mungkin juga efek benturan dikepalanya yang membuatnya koma!" sahut Kageyama mencoba menyadarkan Seiya yang mulai keras kepala baginya.

"Tidak. . Sho-chan ku." gumam Seiya

Ooo

Tsukishima mendudukkan dirinya disamping tempat tidur Hinata. Ia sekarang merasa sakit melihat adiknya yang terbaring dengan infuse dan alat-alat medis lainnya.

"Shoyo. . maafkan aku ya. . mungkin kalau aku tidak memandangmu dengan tatapan yang kau anggap tatapan benci, mungkin aku masih bisa melihatmu tersenyum dan bermain denganmu" ucapnya sambil membelai rambut adiknya yang basah.

"Cepat bangun ya. . aku akan merubah sikapku untukmu. . aku hanya ingin adikku yang manis ini memandang dan tersenyum padaku. Hanya padaku. . ."

oOo

Sudah satu minggu Hinata terbaring koma di rumah sakit, tubuhnya yang memang putih seputih susu jadi bertambah putih dan sekarang mulai cenderung ke putih pucat. Tsukishima dan Tou-sannya sering bergantian menjaganya setiap hari demi ketika Hinata membuka matanya yang pertama ia lihat adalah anggota keluarganya.

"Shoyo bangunlah, kau tidak capek berbaring terus." ucap Tsukishima.

"Shoyo bangun ya. . Nii-sanmu bahkan sangat khawatir padamu." ucap Yuki.

"Shoyo bangunlah. . Oh Kouko kumohon jangan bawa Shoyo." gumam Seiya memandang sendu sang anak yang tengah terbaring.

Kaa-chan Hinata atau yang dikenal dengan Hinata Kouko tengah duduk dibawah pohon dengan anaknya yang memmbaringkan kepalanya dipaha milik sang Kaa-chan.

"Sho-chan tak ingin pulang?" Tanya Kaa-channya.

"Hn? Tidak Shoyo tidak ingin pulang. . kalau Shoyo pulang Tou-chan akan memarahi Shoyo lagi. Shoyo tidak mau itu" sahutnya cepat.

"Shoyo. . . Shoyo tak boleh begitu. . ."

"Tapi Kaa-chan. . Shoyo tidak mau. . Shoyo inginnya bersama Kaa-chan."

"Shoyo. . Kau tidak bisa bersama kaa-chan terus. . . Karena-"

"kaa-chan. . . mengusir Shoyo?" ucap Hinata yang kini telah dalam keadaan duduk menatap kaa-channya dengan mata yang mulai meredup.

"Tidak Shoyo. . Kaa-chan tidak mengusirmu. . tapi. . . sekarang bukan saatnya. . ."

"Lalu Kapan? Kapan aku akan bersama Kaa-chan lagi? Kapan?!" ucap Hinata menahan tangis.

Kaa-channya hanya diam dan menatap sang anak lembut lalu memeluknya.

"Shoyo. . . kalau waktunya tiba nanti kita pasti bertemu lagi kok." ucap sang Kaa-chan.

"Jadi. . . relakan Kaa-chan ne~ dan kembali ke Tou-chan ya. . . jangan nakal, jangan terlalu banyak berpikir, jangan sampai kau kelelahan dan. . ."

"Dan apa Kaa-chan?" ucap Shoyo.

". . . Dan bersikap baiklah pada Kaa-san dan Nii-san barumu ne~." ucap Kaa-channya.

"Tapi Kaa-chan Me-"

"Tidak ada tapi-tapian Sho-chan." potong Kaa-channya mutlak.

"Wakatta~." ucapnya

"Nah kalau begitu Shoyo. . . Tutup matamu ne~ Kaa-chan sayang padamu. Dan tenang saja Kaa-chan selalu bersamamu disini." ucap Kouko sambil menunjuk hati Hinata.

Hinata tersenyum lembut dan kemudian ia melihat sinar yang sangat terang.

"Kaa-san. . tangannya . . . tangan Shoyo bergerak!" ucap Tsukishima tiba-tiba, membuat sang Tou-chan dan Kaa-chan segera mendekat.

Tangan Hinata bergerak kembali dan tak lama ia membuka matanya, menampakkan mata kuning madu yang sangat indah.

"Kaa-san. . Shoyo sudah sadar!" pekik Tsukishima.

Dengan cepat Seiya menekan tombol darurat yang ada di ruangan milik Hinata.

"Shoyo, syukurlah kamu sudah sadar nak." ucap Yuki terharu.

Kageyama memasuki ruangan dan menatap Shoyo lembut.

"Kalian bisa keluar sebentar? Aku ingin melakukan pemeriksaan sebentar." ucap Kageyama yang langsung di setujui oleh Tsukishima, Seiya dan Yuki.

Setelah mereka keluar, Kageyama mendekati Hinata yang masih menatap langit-langit rumah sakit.

"Shoyo. . Kau dengar aku?" Tanya Kageyama.

Hinata menghela nafas lelah, lalu menolehkan kepalanya kearah sang dokter.

"Ya. . Dan. . . kenapa juga aku masih ingat. . . aku berharap saat aku bangun aku lupa ingatan." ucap Hinata.

"Yak jaga ucapanmu!" ucap Kageyama menjitak sayang Hinata.

"Yak! Dasar dokter kurang ajar. Aku ini pasienmu! Dan lagi aku baru bangun tahu!"

"Oke oke. . aku ingin Tanya lagi. . menurutmu sudah berapa hari kau telah tertidur? Dan apa ingatan terakhir yang kau ingat?"

"satu hari kan? Dan emm. . yang kuingat terakhir itu sebuah mobil yang mengarah pada mobil yang sedang ku kendarai, dan aku langsung membanting stir. Itu yang kuingat kenapa?" ucap Hinata masih merajuk karena habis di jitak oleh dokter yang ada didepannya ini.

"Hmm. . kau ingin tahu berapa lama kau tidur? Kau sudah seminggu tertidur disini"

"a. . APA?! Bagaimana keadaan Resort milikku!" pekik Hinata kalang kabut.

"Yak! Tou-chanmu sudah mengurus itu semua!"

"hn. . ."

"Sudah ya. . aku akan keluar sekarang syukurlah kau tidak lupa ingatan."

"Tidak kumohon. . . tetap disini." cegat Hinata menahan lengan Kageyama.

Kageyama menatap lengannya yang dipegang erat oleh Hinata.

"Baiklah. ." ucap Kageyama kemudian duduk dikursi yang ada disamping kasur Hinata,

"Terima kasih." ucap Hinata sembari memberikan senyumnya.

"Untuk?" Kageyama mengernyit heran.

"Untuk tetap disini?" ucap Hinata lebih ke nada pertanyaan ditambah wajah imut hinata.

"Apa maksudmu sih." ucap Kageyama mengacak-acak surai milik hinata.

"Hehe hanya ingin bersamamu, Ups." sahut Hinata.

"Shoyo. . apa maksudmu?"

"Ti. . tidak, bukan apa-apa." elak Hinata.

"Mulai suka padaku eh?" goda Kageyama.

"Ti. . tidak." elak Hinata lagi namun kini rona merah nampak jelas dipipi putihnya.

"Ya. . sejak kapan kau jadi tsundere begitu hm?"

"Aku tidak tsundere! Hmph." Hinata ngambek.

Kageyama yang melihat Hinata ngambek dengan memanyunkan bibirnya dan tak lupa menggembungkan pipinya itu membuat Kageyama tak tahan.

Kageyama mendekatkan wajahnya disamping wajah Hinata hingga ia bisa mencium wangi pemuda yang ada dihadapannya sekarang.

"Shoyo." panggil Kageyama.

Hinata yang merasa dipanggil pun memalingkan wajahnya kearah Kageyama, tapi yang terjadi adalah bibirnya yang berbenturan dengan bibir Kageyama.

Hanya sekilas, kemudian Kageyama menjauhkan wajahnya dari wajah Hinata yang tampak masih shock.

"Kageyama. . . san." ucap Hinata.

"Tobio, panggil aku Tobio. Shoyo~" ucap Kageyama di daun telinga Hinata, sedangkan Hinata merasa geli karena hembusan nafas Kageyama mengenai bagian tengkuknya.

"Ah ya, ke. . kenapa kau menciumku?"

"he? Bukankah kau yang menciumku."

"Ah ta. .tapi."

"Hehe becanda, itu karena kau sangat lucu, Shoyo." sahut Kageyama.

"Ah begitu."

"Kalau begitu aku keluar dulu ya, keluargamu pasti khawatir. Dan, kalau kau ingin kecupanku lagi datang ke kantorku saja." goda Kageyama.

"Yak! Tobio mesum!" pekik Hinata., membuat Kageyama tertawa terpikal-pikal.

Baru saja Kageyama ingin keluar dari ruangan Hinata, Tsukishima masuk dengan wajah datarnya. Kageyama yang melihat itu hanya mengernyit heran.

"Shoyo." panggil Tsukishima. Hinata hanya menatap datar Tsukishima dengan menggembungkan pipinya.

"Hn. . ." sahutnya singkat.

"Aku keluar dulu ne~ Kalau ada apa-apa kau bisa panggil aku." ucap Kageyama sembari menatap Hinata lembut. Tsukishima yang melihat adik imut tersayangnya diperlakukan seperti itu tentu saja kesal. Tentu saja Karena Cemburu.

"Jangan~ Temani aku saja disini Tobio." rengek Hinata.

"Tapi sudah ada Nii-chanmu disini Shoyo."

"Aku tidak peduli, aku maunya Tobio."

"Shoyo, biarkan Kageyama-sensei bekerja. Jangan buat dia kerepotan." ucap Tsukishima yang jengah melihat Kageyama dan Hinata yang sangat dekat.

Iri? tentu saja. Hell siapa yang tidak iri kalau adik tersayang dan yang dicintainya itu lebih suka pada yang lain bukan dirinya?

"Baiklah, jangan lupa terus menjengukku ya Tobio." ucap Hinata memberikan senyum cerahnya. Kageyama hanya tersenyum dan kemudian keluar dari kamar inap Hinata, namun sebelum keluar dari kamar inap Hinata, Kageyama sempat memberikan senyuman meremehkan pada Tsukishima.

*TBC