[CHAPTER 06 - RAINBOW CREAM]
"Sweet and fluffy as cotton candy, yet dangerous and confusing as hell. Yes, that's you, B."
Chanyeol tidak pernah menyangka bahwa sebuah mantra yang barusan ia lantunkan akan menyerangnya balik, langsung, seketika itu juga. Ia berdoa agar setidaknya Tuhan membiarkan Byun Baekhyun keluar dari kepalanya—karena memikirkan si pendek dengan rambut magenta itu membuatnya pusing, hampir setengah hari ini. Kemungkinan besar juga teman-temannya sudah menaruh kecurigaan besar kepadanya.
Chanyeol bukan seseorang yang mesum—tapi sial! Rambut cokelat keunguan, mata sipit, pipi halus yang berisi, bahkan harum stroberi terus berputar di dalam kepalanya. Rasanya pria tinggi itu ingin berteriak lepas di tepi gunung demi melepaskan rasa frustasinya. Ia benci mengakuinya, tapi ia menemukan satu fakta lagi tentang Byun Baekhyun hari ini: si pendek itu mempunyai suara yang sangat luar biasa. Ia hanya tidak habis pikir bagaimana mungkin seseorang diperbolehkan memiliki suara selembut kapas seperti itu?
Terlebih, bagaimana bisa seseorang tercipta dengan sangat manis seperti itu? Melihat Byun Baekhyun mengingatkan Chanyeol terhadap permen kapas berwarna magenta yang berdiri di antara permen kapas lain yang berwarna pink, ia tampak begitu mencolok dan berbeda—unik, fluffy, manis, dreamy, menarik, menawan—dan itu membuat pikiran Chanyeol menjadi tidak waras.
Ini tidak bisa terjadi. Apapun itu, Chanyeol harus tetap menuntaskan 'Misi Satu Minggu'-nya. Ia harus membuat Baekhyun pergi. Harus. Karena si bodoh itu telah merenggut semuanya. Mengesampingkan wajah polosnya, ia hanyalah iblis jahat yang berusaha merebut kehidupan Chanyeol. Ia berusaha merebut Ibunya.
Chanyeol membasuh wajahnya sekali lagi, berusaha membuat pikirannya kembali lurus. Ia membentur-benturkan kepalanya di kaca wastafel, sembari menggumamkan mantra yang menjadi andalannya seharian ini. Namun malang sekali, kemujuran tidak berpihak kepadanya—malah, mantra itu menyerangnya balik dengan sangat mengejutkan.
Ketika ia membuka mata, yang nampak hanyalah pria mungil yang kini tengah menatapnya balik dari pantulan kaca—dengan wajah agak terperangah. Sepertinya ia juga tidak mengharapkan kehadiran Chanyeol saat ini. Byun Baekhyun tengah menatapnya. Si bodoh itu berada di depan—baiklah, di belakang tubuhnya sekarang, menatapnya balik dari kaca.
Sial. Park Chanyeol, sial.
Baekhyun memakai baju bermotif vertikal hitam putih, yang tampak kebesaran di tubuh mungilnya. Bahkan lengan bajunya yang panjang menutupi hampir telapak tangannya—membuat Chanyeol mulai berpikir yang tidak-tidak, karena ia tampak sangat imut.
Sweet and fluffy as cotton candy, yet dangerous and confusing as hell.
Dengan gaya yang sangat tidak cool, Chanyeol membalikkan badannya dan bersedekap, bersandar di tepian wastafel lalu menatap Baekhyun remeh. Ia harus bisa berakting saat ini, menutupi keterkejutannya agar Baekhyun tidak curiga. Wajah dan surai hitamnya masih agak basah, membuat si mungil dihadapannya sulit mengalihkan pandangannya dari wajah pria jangkung itu. Malah, alih-alih berusaha untuk mengalihkan wajahnya, Baekhyun tanpa takut membalas tatapan remeh Chanyeol.
"Kau disini rupanya, pendek." Cibir Chanyeol, menatap Baekhyun intens. "Apa kau berniat untuk mencuri juga di sekolahan ini?"
Anehnya, Baekhyun malah tersenyum—seketika membuat mata bulat Chanyeol melebar. Ia menggulung lengan bajunya yang kepanjangan. "Hai, tiang listrik psycho. Dan, tidak. Aku disini untuk bersekolah, bukan untuk mencuri." Sahut Baekhyun lalu berjalan ke samping Chanyeol untuk membasuh tangannya di atas wastafel.
Chanyeol menggeram rendah, lalu menyeringai senang. Berani sekali si pendek ini. "Dengar, pendek." Kata Chanyeol dengan suara berbahaya, namun Baekhyun tidak gentar dan malah mengacuhkan Chanyeol, tetap mencuci tangannya dalam diam. "Aku peringatkan kau. Tidak ada satu jiwa pun yang boleh tahu bahwa kau tinggal dirumahku. Aku bersungguh-sungguh. Jika kau—"
"Tenang saja, Chanyeol." Potong Baekhyun cepat sembari mengibaskan tangannya dan menoleh kepada Chanyeol, tepat menatap matanya. Dan untuk sepersekian detik, jantung Chanyeol seakan berhenti. Ini adalah kali pertama Baekhyun memanggil namanya, meski mereka belum berkenalan secara resmi. Malah, pertemuan pertama mereka tidak bisa dibilang normal. "Aku tidak akan membuka mulutku. Kau bisa hidup dengan tenang. Anggap saja aku hantu." Baekhyun tersenyum lembut. Matanya berubah menjadi lengkungan setengah bulan yang imut. "Omong-omong, permainan drum-mu kemarin keren sekali." Baekhyun memutar bola matanya kesal ketika ia mengatakan ini, namun meski begitu senyum manis tetap melekat di wajahnya.
Kening Chanyeol berkerut. Ada apa dengan si pendek hari ini? Bukankah semalam wajahnya tertekuk erat karena kesal ketika bertatap wajah dengan Chanyeol? Bagaimana mungkin ia bisa bersikap selembut itu sementara Chanyeol terus menerus memuntahkan kata-kata kasar untuknya?
"Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi sungguh. Aku tidak berniat untuk menjadi musuhmu." Si mungil bersurai magenta itu melanjutkan.
Meski begitu, Chanyeol berulang kali berkata bahwa ia tetap harus menjalankan 'Misi Satu Minggu'-nya. Tidak peduli apapun itu. Jadi Chanyeol tersenyum miring—senyum prankster-nya yang tampan. "Jangan merasa dirimu segala-galanya hanya karena kau baru diterima di sini, pendek."
Baekhyun mengangkat bahunya dan mengedipkan matanya berkali-kali—nampak seperti anjing kecil yang lucu.
"Apa kau pikir aku akan tetap membiarkanmu hidup dengan tenang? Kalau kau memang berpikir demikian, maka kau salah besar."
"Tapi aku sudah bilang bahwa—"
"Selamat datang di neraka, Byun. Akan kupastikan hidupmu sulit untuk beberapa hari kedepannya." Potong Chanyeol cepat, lalu si jangkung itu mengedipkan sebelah matanya kepada Baekhyun, dengan seringai nakal menghiasi bibirnya.
Baekhyun terperangah untuk sementara waktu, membiarkan Chanyeol berjalan pelan meninggalkannya dengan kedua tangan terselip ke dalam saku celana.
Chanyeol tidak berminat untuk masuk kelas selanjutnya. Jadi ia memilih untuk membolos. Mendadak saja semuanya terasa menjadi begitu membosankan. Omong-omong, ketika ia kembali, gedung pertunjukan sudah sepi dan bel masuk sudah berbunyi. Luhan sebagai anak kelas tiga yang taat tentunya tidak akan membolos, dan Kris—ia biasanya hanya akan ikut-ikutan saja, tapi batang hidung mancungnya sama sekali tidak kelihatan—namun ia tahu, Oh Sehun tidak akan membiarkannya sendirian.
Jadi Chanyeol turun ke lantai satu dan segera berdiri di depan kelas I C hanya untuk mendapati Oh Sehun tengah duduk manis di bangkunya. Chanyeol menggeleng pelan. Pengaruh rajin seorang Xi Luhan sepertinya berefek juga untuk Sehun. Namun tidak untuk hari ini, karena ia tahu bahwa Sehun pasti akan mendengarkannya.
"Psst!" Chanyeol memberi aba-aba kepada Sehun, melambai-lambaikan tangannya di depan kelas dengan gaya sembunyi-sembunyi, berusaha agar guru yang mengajar tidak memergokinya, namun juga berusaha agar aba-aba tersebut tetap tersampaikan dengan jelas kepada Sehun.
Sepertinya hal tersebut berhasil karena kepala Sehun yang tadinya menunduk—ia tampak sok khimad mendengarkan penjelasan sang guru, padahal Chanyeol tau ia hanya mengantuk setengah mati—kemudian terangkat dan matanya bertemu pandang dengan mata Chanyeol.
"Ruang rahasia, sekarang." Bisik Chanyeol tanpa suara. Seakan memiliki telepati, Sehun mengangguk mengerti dan seketika wajah mengantuknya berubah menjadi jauh lebih cerah.
Seperti biasa, Oh Sehun akan berakting dengan sangat berlebihan.
"Ah! Ah! Tidak!" teriak Sehun tiba-tiba—memegang perutnya dengan gaya meliuk-liuk—membuyarkan seluruh konsentrasi umat manusia dalam kelas tersebut. "Mr. Kang! Sepertinya aku perlu ke toilet! Oh tidak! Dia akan keluar sekarang! Dia keluar oh tidak!"
Baiklah, itu menjijikkan. Sepertinya seluruh teman kelas Sehun juga berpikir demikian karena sebagian dari mereka mengernyitkan dahi sebagai respon, ada pula yang terang-terangan melemparkan tatapan jijik, bahkan ada seorang gadis yang berteriak, "eeewww!" dengan nyaring. Oh, itu Yeri ternyata, si gadis ceria yang bekerja sebagai penyiar radio sekolah.
Sementara Park Chanyeol hanya berusaha untuk tidak menyemburkan tawanya dari depan pintu kelas I C. Habislah sudah reputasi Prince Charming Sehun. Chanyeol berpikir bahwa sebenarnya hal tersebut tidak buruk juga, karena kini semua manusia di SoPA akan mengetahui kedok Oh Sehun yang sebenarnya—seperti Chanyeol dan kedua sahabatnya yang lain, yang paham benar bagaimana kepribadian seorang Oh Sehun. Sehun mungkin boleh saja memiliki rupa tampan dengan gaya dingin dan wajah datar, tapi Chanyeol lebih tahu bahwa ia hanyalah bocah ingusan yang bodoh, yang sangat gemar menari sejak kecil, dan bagaimana si idiot itu kini tengah jatuh sejatuh-jatuhnya untuk seorang pria manis bernama Xi Luhan.
Chanyeol menyeringai senang. Sekarang dunia tahu betapa idiotnya Oh Sehun. Ia hanya menyembunyikan keidiotannya di balik wajah datarnya yang tampan.
"Oh Sehun!" tegur Mr. Kang, "cepat keluar dan selesaikan bisnis menjijikkanmu!"
Menyeringai senang, Sehun berjalan keluar dari jeretan bangkunya—masih sambil meliuk-liuk dan memegang perutnya—lalu membungkuk sedikit di hadapan Mr. Kang. "Terimakasih, Mr. Kang."
Begitu keluar dari kelas I C, Chanyeol menepuk kepala Sehun, sementara yang empunya kepala kini tengah menyeringai jahil. "Kerja bagus, nak. Aku bangga padamu." Lalu mereka berdua terbahak-bahak layaknya orang idiot.
Baiklah, Park Chanyeol. Kau baru saja mengatai sahabatmu idiot, padahal dirimu tak kalah idiotnya dari Sehun. Bahkan mungkin, ketika Chanyeol dan Sehun bersatu—oh, dan jangan lupakan pria pirang asal Kanada—maka di dunia ini tidak ada yang waras. Satu-satunya yang normal hanyalah Luhan.
Menyadari bahwa mereka belum jauh dari kelas I C, Sehun sontak meletakkan telunjuknya di atas bibir. "Diam, hyung!"
"Kau yang diam, bocah!" bisik Chanyeol sengit.
Meski begitu, mereka tertawa lagi, namun kali ini diiringi dengan lari yang kian melaju, menuju sebuah ruangan terbengkalai yang mereka sebut dengan ruangan rahasia.
Menyebut ruangan tersebut sebagai ruangan rahasia sebenarnya agak berlebihan. Karena ruangan itu, tak kurang dan tak lebih hanyalah sebuah ruangan kosong di ujung koridor lantai satu, terasingkan dan jauh dari kelas lain. Ruangan yang tidak terpakai, namun sebenarnya masih dalam kondisi layak pakai—yang anehnya, ruangan tersebut juga tidak direnovasi oleh pihak sekolah.
Hanya saja, ketika bosan, ruangan tersebutlah yang akan menjadi markas Chanyeol, Sehun, Kris dan Luhan—oke, Luhan pernah mengancam untuk memberitahukan ruangan membolos itu kepada guru piket sekolah, namun hingga saat ini semua itu hanyalah ancaman kosong belaka. Toh pada akhirnya, ketika sama bosannya, Luhan juga akan datang kesini. Untuk menemui Sehun, tentunya.
Chanyeol bahkan pernah memergoki mereka hampir berciuman. Dan ia menceramahi si mungil nan manis dan si idiot Oh Sehun selama hampir satu setengah jam karenanya.
Omong-omong, jika dipikir lagi, dulunya ini juga markas Kyungsoo. Hanya saja semenjak naik ke kelas dua, Kyungsoo agak mengurangi 'jatah membolos'-nya dengan Chanyeol. Dan lama-kelamaan, Kyungsoo malah tidak pernah membolos lagi. Yang anehnya, setelah Chanyeol sadari, membuat Kyungsoo semakin jauh darinya.
Entahlah. Ia tidak ingin memikirkan hal tersebut.
Chanyeol membuka pintu ruangan tersebut dengan kunci yang ia pegang. Tentunya, Kris, Sehun dan Luhan juga memiliki duplikat kunci ruangan ini. Lagi pula, tidak sulit untuk memanipulasi juru kunci sekolah—omong-omong, yang satu ini adalah ulah Chanyeol. Entah bagaimana ia bisa meyakinkan juru kunci sekolah yang terkenal mengerikan tersebut untuk memberikan kunci ruangan ini secara sukarela kepadanya. Dan yang pastinya, Chanyeol berjanji bahwa ia tidak akan merusak properti yang ada, dan hanya meminjam kelas tersebut untuk keadaan genting.
Tentu saja, yang dimaksud dengan keadaan genting adalah keadaan seperti ini: bosan setengah mati dengan guru dan pelajaran sekolah.
Sayang sekali, juru kunci sekolah yang malang namun mengerikan tersebut harus terperosok ke dalam tipu muslihat seorang Park Chanyeol yang licik.
"Hyung," keluh Sehun, "bagaimana jika Luhan memergokiku?! Aku akan dikuliti hidup-hidup!"
Chanyeol mendengus sembari duduk di jejeran meja panjang yang telah ia gabungkan sehingga membentuk sebuah tempat yang nyaman untuk berbaring. "Jangan berkilah! Padahal kau sudah siap tertidur ketika mendengar penjelasan Mr. Kang tadi. Aku menyelamatkanmu, bocah. Jadi berterimakasihlah."
Meski begitu, Sehun terkekeh dan segera berbaring di atas sofa. "Baiklah, kuakui kau benar. Hanya saja, jangan sampai Luhan tahu. Aku tidak ingin membuatnya kecewa. Dia berharap banyak padaku."
Chanyeol tersenyum sembari meraih gitarnya. Lalu mengangguk sebagai balasannya.
Semenjak Chanyeol dan ketiga temannya menjadi penghuni tak resmi ruangan ini, mereka mulai membenahinya sedikit-sedikit. Setidaknya mereka menjadikan tempat itu sebagai tempat yang layak pakai untuk markas membolos. Kris bahkan dengan sukarela menambahkan sebuah sofa panjang dan karpet bulu, sementara Chanyeol selalu menyimpan salah satu gitarnya disini, dan Luhan yang memperbaiki gorden sehingga aksi membolos mereka tidak akan ketahuan, sementara Sehun menempatkan kaca berukuran 2x2 meter di dalam ruangan ini hanya untuk berlatih.
Sehun gemar menari, tentunya. Dan biasanya ketika ia bosan, ia akan menyetel lagu keras-keras dan mulai menggerakan tubuhnya dengan brutal di depan kaca, sementara Luhan hanya akan menatapnya dengan tatapan penuh pemujaan sembari tersipu-sipu.
Jangan tanya bagaimana komplotan itu bisa membawa barang-barang mustahil sedemikian rupa tersebut ke dalam ruang rahasia. Semua ini tak lain dan tak bukan adalah selalu ulah Park Chanyeol. Pokoknya, jika sudah melakukan tindakan-tindakan berbau kriminalitas seperti ini, otak dan dalangnya selalu Chanyeol.
Nah, Chanyeol sudah pernah menipu juru kunci sekolah itu satu kali. Maka, pasti selalu ada kemungkinan kedua, bukan? Chanyeol menyeringai mengingat bagaimana mereka mengangkut semua barang tersebut pada suatu malam menuju sekolah. Dan pada saat itu, Kyungsoo masih sering berkumpul bersama mereka.
Mengingat Kyungsoo mendadak membuatnya gusar lagi. Dulu ketika masih bersekolah di SoPA Junior High School, satu-satunya teman Chanyeol hanyalah Kyungsoo. Tapi ketika mereka menginjak kelas dua, ia bertemu Sehun untuk pertama kali, dan kemudian Kris. Sementara Luhan, ia baru mengenalnya ketika ia memasuki tahun pertama di SoPA Senior High School. Dan satu tahun setelahnya, ketika ia memasuki tahun kedua dan Sehun memulai tahun pertamanya, pada saat itulah mereka mulai dekat. Sementara Sehun, Kris, Chanyeol dan Luhan sering berkumpul bersama, Kyungsoo yang mulai semakin menjauh.
Lucu juga bagaimana Sehun langsung mengetahui perasaan Chanyeol kepada Kyungsoo ketika Chanyeol menginjak tahun ketiga di SoPA JHS dan Sehun menginjak tahun keduanya. Chanyeol memang tidak pernah mengutarakan perasaan itu, namun kadang ia berpikir, orang lain saja bisa melihat hal tersebut dengan jelas, tapi kenapa Kyungsoo tidak?
Hal itu pula yang membuat Sehun menjadi agak lebih spesial di hati Chanyeol. Mereka bersahat dan Chanyeol sudah menganggap Sehun sebagai adiknya sendiri, karena Sehun lebih muda setahun darinya, tentu saja. Meski ia memiliki Kris dan Luhan sekarang. Chanyeol menghargai mereka semua sebagai sahabat, namun kadang hanya kepada Sehun ia mudah untuk berbicara tanpa beban.
"Tapi hyung," panggil Sehun, menatap Chanyeol dengan mata dipicingkan, "kau sungguh mencurigakan hari ini. Ketika di gedung pertunjukkan tadi, kau menyebut namanya seakan kau kenal dengan si murid pindahan."
Chanyeol berusaha untuk memasang ekspresi sedatar mungkin, meski tangannya sudah mulai berkeringat dan menganggu aktivitasnya dalam bermain gitar. Jangan tanya perihal Byun Baekhyun lagi. Bisik si jangkung dalam hatinya. "Aku tidak mengenalnya."
"Sungguh? Lalu kenapa kau bisa mengetahui—"
"Tutup mulut, Oh Sehun."
"Tidak. Kau sungguh mencurigakan, kau tahu? Dan apakah kau tidak tahu aku mengorbankan harga diriku agar bisa menemanimu disini? Sekarang teman sekelasku akan memanggilku Si Menjijikkan Oh Sehun!" protes Sehun berlebihan, mengingat ia selalu dilihat sebagai pria tampan dengan wajah datar. Sekarang tampaknya reputasi itu hancur seketika. Mungkin sekarang seluruh murid SoPA akan mengenalnya sebagai 'pria tampan dengan wajah datar yang senang melakukan hal menjijikkan di toilet'.
"Baiklah. Tutup mulutmu dan kau akan mendapatkan bubble tea gratis besok. Sepuasnya."
Merayu Oh Sehun bukanlah hal yang sulit bagi Park Chanyeol. Hanya ada dua hal sangat dicintai bocah ingusan itu: Luhan dan bubble tea.
"Call." Sahut Sehun cepat sembari menyeringai, memperlihatkan sederetan gigi yang rapi dan putih cemerlang.
Namun, sejurus kemudian ia kembali berkicau. "Omong-omong, hyung. Apa kau akan tetap seperti ini kepada Kyungsoo?"
Chanyeol berhenti memetik gitarnya. "Aku ..." ia terdiam sebentar. "Aku tidak tahu."
Sehun memutar bola matanya, kemudian menyisir surai kecokelatannya ke belakang, frustasi. "Sebenarnya, apa yang terjadi di antara kalian?"
Chanyeol terdiam agak lama, berusaha menimbang apakah sebaiknya ia mengatakan yang sejujurnya atau malah bungkam saja. Namun akhirnya, ia berkata dalam suara pelan dan rendah, "Kyungsoo membohongiku, Sehun. Dan kupikir ia yang terlebih dulu berusaha menghindariku." Jawab Chanyeol sembari meletakkan gitarnya. Mendadak ia tidak bernafsu melihat alat musik favoritnya itu. Jadi ia meluruskan kakinya dan berbaring, menjadikan kedua tangannya sebagai sanggahan kepalanya sendiri. Melihat Sehun yang tidak menjawab dan serius mendengarkan, Chanyeol melanjutkan, "kemarin aku berniat untuk pulang bersamanya, seperti biasa. Ketika aku menjemputnya di kelas, Jongdae berkata ia sudah pulang duluan."
"Lalu?" tanya Sehun, sebelah alis tebalnya terangkat.
"Jongdae melihat ia pulang dengan Kai, namun Kyungsoo berkata bahwa Jongdae tidak perlu memberitahukan hal ini kepadaku. Aku sungguh berhutang banyak, kau tahu, kepada Jongdae. Karena pada akhirnya ia yang memberitahuku yang sebenarnya. Ketika aku menelponnya, Kyungsoo tetap berbohong dan berkata bahwa ia pulang sendirian. Ironisnya, ia malah meminta maaf karena telah pulang terlebih dahulu."
Hening.
Sehun menatap Chanyeol lama. "Sungguh, hyung? Astaga. Aku sungguh tidak habis pikir."
"Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, Sehun-ah. Bukankah dengan melakukan hal semacam ini, sudah jelas bahwa Kyungsoo sebenarnya ingin menjauhiku?" Chanyeol mendesah kemudian tersenyum getir.
Sehun yang tadinya berbaring malas, mendadak menegakkan badannya untuk duduk dan menatap Chanyeol serius. "Apa kau sudah bertanya kepada Kyungsoo? Setidaknya kau harus tau kebenaran yang sesungguhnya!"
"Tidak." Balas Chanyeol cepat. Ia menggeleng lemah. "Aku tidak siap mendengar jawaban jenis apapun darinya. Kupikir tidak ada salahnya untuk menjauh sementara. Menjernihkan pikiranku."
Sehun kemudian sontak berdiri tegak dan menuding Chanyeol marah. "Aku tidak tahu kenapa kau begitu bodoh, hyung! Kau menyukainya selama ... selama ... entahlah! Kau selalu berkoar-koar bahwa kau menyukainya sejak dulu. Apakah kau tidak merasa bahwa semuanya menjadi sia-sia sekarang?!"
Sementara pria jangkung yang dituding hanya tetap berbaring tanpa merasa risih dengan kenaikan nada bicara orang yang lebih muda darinya. Malah, Chanyeol membalasnya dengan tawa sarkastik. "Benar, aku hanya seorang pecundang."
"Hyung, ayolah kau bisa—"
"OH SEHUN!"
Belum sempat Sehun menyelesaikan kalimatnya, seseorang sudah berteriak lantang dan memotong ucapannya.
Serentak, kepala Chanyeol dan kepala Sehun menoleh ke arah pintu yang menjeblak terbuka, menampakkan sosok manis dengan pipi memerah yang tengah menatap berang kepada Sehun—Xi Luhan.
Dengan kaki menghentak, pria mungil nan manis itu berderap kearah Sehun dan seketika ia menghantamkan tinjunya ke atas kepala Sehun. Sehun menjerit tertahan dengan suara beratnya—sementara seseorang bernama Park Chanyeol tentu saja sudah tertawa terbahak-bahak melihat adengan penyiksaan yang tentunya sangat menyenangkan tersebut.
"Sudah kubilang jangan membolos lagi! Bel pulang sudah berbunyi lebih dari lima menit yang lalu dan kau tidak kunjung menjemputku dari kelas! Apa kau tahu aku berkeliling sekolah demi mencarimu?!"
Itu menjelaskan kenapa wajah putih Luhan memerah. Pria manis itu rupanya berlarian panik kesana-kemari mencari pacarnya yang idot di seluruh penjuru sekolah. Sehun tidak menjawab racauan marah Luhan dan hanya berjongkok sembari memegangi kepalanya, lalu berkali-kali mengaduh kesakitan. Seketika itu, Luhan terkesiap dan amarahnya surut. "Astaga, Sehunnie? Apa aku memukulmu terlalu keras? Sehun? Astaga, Sehun-ah!" pria bersurai cokelat madu itu menunduk dan menangkup kepala Sehun dengan hati-hati, namun ketika Sehun mendongak, pria itu malah menyeringai dan mendorong tubuhnya untuk mengecup bibir Luhan sekilas. Lalu ia tersenyum lembut—sangat lembut hingga membuat Luhan meleleh dan semua amarahnya hilang tak berbekas. "Hai, Lu. Kau sungguh manis ketika kau marah."
Luhan terpaku dengan rona merah yang merambati pipinya. Sehun kembali mengambil kesempatan tersebut dengan bergerak maju lagi, mengecup ujung hidung si mungil yang kini tampak terperangah tak percaya. "Baiklah, aku salah. Maafkan aku, oke? Kau boleh pukul aku lagi jika kau mau." Sehun meraih kedua tangan Luhan dan meletakkannya di kepalanya sendiri, memberi gestur bahwa Luhan boleh memukulinya lagi.
Kini, bagi Park Chanyeol, adegan di depannya menjadi tidak lagi menarik.
Alih-alih kembali meledakkan amarahnya, Luhan malah menarik kedua tangannya dan menangkupkan kedua tangan tersebut ke wajahnya yang memerah. Lalu ia berbisik halus, "brengsek kau, Oh Sehun."
Dan Sehun tertawa sebagai responnya. Kemudian, dalam sekali rengkuh, tubuh mungil Luhan jatuh ke dalam pelukannya. Sementara wajah Luhan bersembunyi di balik dada bidang Sehun, Sehun malah tersenyum lembut. Kali ini, seratus kali lebih lembut dengan tatapan mata yang teduh dan sarat akan cinta. "Kau boleh menyembunyikan wajahmu di sana untuk sementara, Lu. Mungkin benar, aku Oh Sehun yang brengsek, dan aku mencintaimu—sangat. Jadi, maafkan aku."
Sementara itu, di atas bangku yang berjejer, seseorang bernama Park Chanyeol hampir mati karena tengah dicekik rasa jengkel. Barulah ketika sosok tinggi dengan rambut pirang dan wajah dingin muncul di depan pintu, Chanyeol mulai merasa seakan kembali hidup.
"Hyung! Kau datang! Astaga kau tidak tahu betapa bahagianya aku melihat wajah idiotmu!" sambar Chanyeol sembari menatap pria jangkung itu dengan mata berbinar.
"Apa-apaan ini?!" bentak si pria pirang asal Kanada dengan raut kesal. "Apa kalian semua—makhluk tak berguna—membolos lagi?! Brengsek, kenapa kalian membolos sendirian dan tidak mengajakku?!" Kemudian si pria jangkung dengan surai pirang itu mengepalkan tangannya ke atas, membuat gestur seakan ia hendak terbang dengan gaya Superman, "rasakanlah amukan dari Kris Wu, Sang Penguasa Galaksi!"
Lalu, bagaikan dalam sebuah adegan film action, pria jangkung itu masuk ke dalam ruangan sembari berlari dan melakukan satu kali salto.
Jika memang itu adalah film action, maka Chanyeol harus mengakui bahwa itu adalah adegan film action yang paling bodoh yang pernah ia saksikan. Alih-alih melakukan lompatan salto seperti pesilat dalam film kungfu, Kris Wu malah melakukan adegan salto yang bisa disebut gagal total dan sangat memalukan. Karena ketika ia hendak melompat, kakinya terpeleset dan ia jatuh dengan sangat tidak elit ke atas karpet—kepalanya menghantam lantai lebih dulu dengan badan yang seakan seperti terlipat, sementara kaki panjangnya entah bagaimana mencuat ke atas—untunglah hanya karpet dan tampaknya si pria pirang dengan wajah dingin namun ternyata idiot itu tampak baik-baik saja—mengesampingkan jeritan dan segala keluhannya tentang pinggang yang serasa patah, tentunya.
Wajah seorang Kris Wu boleh tampak dingin dan berwibawa. Namun siapa sangka bahwa kepribadian yang sesungguhnya menyerupai anak SD dengan tingkah kekanak-kanakan yang menyebalkan?!
Lalu tawa heboh seketika memenuhi ruangan itu. Chanyeol tertawa hingga perutnya sakit, bahkan Luhan yang tadinya memerah akibat kecupan ringan Sehun, kini ikut berguling-guling di atas karpet sembari memegangi perutnya. Sementara Sehun tidak tertolong lagi. Ia tertawa sama parahnya seperti Chanyeol—sampai-sampai perutnya nyeri.
Chanyeol berpikir, kenapa ia harus memiliki teman-teman yang sangat absurd seperti ini? Kutukan jenis apa yang membuat hari-hari Chanyeol harus terjebak dengan mereka? Yah, setidaknya memiliki teman-teman yang tidak waras membuat Chanyeol senang. Karena segila apapun mereka, mereka tetaplah sahabatnya. Untuk sesaat, meski dalam tawa yang membahana, Chanyeol mengucapkan beribu syukur dalam hatinya karena ia memiliki teman-teman seperti Sehun, Kris dan Luhan.
Lagi pula, siapa bilang kalau Park Chanyeol itu waras? Ia sama gilanya dengan teman-temannya. Malah mungkin, ia bisa menjadi lebih gila kalau situasinya sedang mendesak.
Baekhyun tidak melakukan apapun hampir sepanjang hari itu. Lagi pula, Song Hyo Min berkata bahwa ia boleh tidak memasuki kelas hari ini. Karena secara resmi, Baekhyun baru benar-benar bersekolah besok. Wanita culas itu juga berkata ia tidak ingin menimbulkan kericuhan di kelas II A hanya karena penampilan Baekhyun yang agak membuat sakit mata.
Mungkin, arti dari membuat sakit mata itu sendiri adalah kenyataan bahwa Baekhyun mengenakan pakaian kasual ke sekolah alih-alih seragam rapi.
Si mungil berambut magenta itu berjalan di sepanjang koridor sembari memegangi perutnya. Bel pulang sekolah sudah berbunyi hampir lebih dari lima menit yang lalu, dan berbagai murid dengan seragam yang dibalut blazer dan rompi kuning berlalu-lalang di sepanjang koridor itu. Ia berusaha untuk mengenyahkan rasa perih di dalam perutnya—ia sudah merasa kelaparan entah sejak kapan, namun efek tegang yang ditimbulkan akibat tes tadi membuatnya melupakan rasa lapar itu.
Dan sekarang, perutnya nyeri bukan main, sedikit rasa pening mulai menghantam kepalanya. Jelas sekali bahwa ia masuk angin. Baekhyun baru teringat bahwa ia hanya menyentuh sandwich daging asap dari Sekretaris Yoon tadi pagi, dan selebihnya ia sama sekali tidak menyentuh apapun lagi. Si mungil itu membawa sedikit uang hari ini, namun kakinya tidak mau bergerak menuju kafetaria hanya untuk semangkuk makan siang. Lagi pula, kalau memang ia memiliki keberanian sekalipun, ia tidak akan melakukannya. Sebentar lagi ia harus pergi ke Rainbow Cream untuk bekerja.
Awalnya, Baekhyun bekerja paruh waktu di tiga tempat. Namun karena ia berniat bersekolah di SoPA dan SoPA bukanlah sekolah sembarangan, maka ia memberhentikan diri di dua tempat kerjanya yang lain—seorang pelayan restoran dan kasir di mini market—dan memfokuskan diri untuk belajar saja, seperti yang diamanatkan Ayahnya. Ia memilih untuk tetap menjadi kasir di Rainbow Cream—sebuah kedai es krim yang sederhana namun cukup terkenal, karena selain gajinya juga sedikit lebih tinggi daripada dua pekerjaan yang lain, disana juga ada rekan kerjanya, Minseok.
Kim Minseok beberapa tahuh lebih tua darinya, dan selama satu tahun terakhir ini ia selalu menjadi seorang yang cukup berarti untuk Baekhyun. Setidaknya ketika Baekhyun mengalami kesulitan dalam masalah finansial, pria itu selalu dengan baik hati meminjaminya beberapa uang. Lagi pula, ia juga tidak berniat untuk berpisah dari Minseok. Walau Minseok hanyalah seorang peracik es krim di balik konter, Baekhyun sungguh mengagumi kegigihan pria itu.
Mungkin karena untuk beberapa alasan, mereka agak mirip. Minseok yatim piatu dan ia dibesarkan di panti asuhan, sementara Ibu Baekhyun meninggal ketika ia berumur empat tahun dan Ayahnya sekarang menghilang entah kemana. Mereka sama-sama tidak memiliki dukungan orang tua, yang sebenarnya terasa begitu ironis. Baekhyun masih memiliki Ayah, namun arti kata memiliki, tidak berarti dia selalu ada disisimu.
Ekspresi Baekhyun berubah ngeri ketika ia melihat jam yang tertera di ponsel genggamnya. Ia terlambat!
Sambil berusaha mengenyahkan rasa nyeri yang terus bermain di perutnya, Baekhyun kemudian berlari di sepanjang koridor. Ia menyempatkan diri untuk menelpon Sekretaris Yoon dan berkata bahwa pria itu tidak perlu menjemputnya, karena ia akan naik bus menuju tempat kerjanya. Beruntunglah, jarak antara Rainbow Cream dan SoPA tidak terlalu jauh.
Ketika ia menjejakkan kakinya di Rainbow Cream, jam menunjukkan pukul setengah satu. Meski agak terlambat, setidaknya ia sampai dengan selamat. Ada pepatah yang mengatakan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?
Jadi Baekhyun bernapas lega, sembari berusaha meredam napasnya yang agak memburu.
"Ya, kau, Byun!"
Baekhyun segera melompat dan berlari kepelukan Minseok ketika pria itu muncul dari balik konter, kini siap dengan seragam khas Rainbow Cream-nya—kemeja putih berlengan pendek dan celana panjang berwarna cokelat, lengkap dengan name tag dan celemek berwarna-warni yang semakin menegaskan nama kedai tersebut, rainbow.
"Hyung!" panggilnya manja dan Baekhyun melingkarkan tangan ke bahu Minseok. Ia sengaja menumpukan seluruh berat tubuhnya ke tubuh Minseok, karena sejujurnya ia lelah sekali. Sangat lelah.
"Aish jangan memelukku!" umpat Minseok sembari menggertakkan giginya. Minseok sedikit agak lebih pendek dari Baekhyun, tubuh dan pipinya agak sedikit berisi, dengan mata bulat berkelopak tunggal yang ujungnya agak naik ke atas, hidung kecil mancung dan bibir tipis yang ranum. Ia terlihat sangat manis dan lucu, serta tentunya sangat imut. Baekhyun kadang berpikir bahwa Minseok selalu terlihat lebih muda daripada umur yang sebenarnya. "Kau berkeringat dan keringatmu menempel di badanku!"
Baekhyun merengek. "Jangan bunuh aku karena aku terlambat, hyung. Kumohon."
Minseok memukul pelan kepala magenta Baekhyun, sementara Baekhyun masih bersandar malas kepada pria itu. "Bodoh." Katanya, "aku sudah menduga semua ini. Lagi pula bukankah kau mulai bersekolah di sekolah barumu hari ini? Tentu saja aku memakluminya."
Lalu Minseok memutar bola matanya yang berwarna cokelat cerah, hampir-hampir seperti hazel, tatkala Baekhyun mengeratkan pelukannya dan berseru, "oh hyung aku mencintaimu!" lalu terkekeh kecil sembari mengeluarkan aegyo terbaiknya.
"Baiklah, baiklah." Kata Minseok lalu mendorong tubuh Baekhyun kuat-kuat demi melepaskan pelukannya, sementara Baekhyun cemberut. "Ganti bajumu, kita harus segera bersiap-siap. Jam makan siang hampir selesai, dan kau tahu betapa sibuknya kita kalau jam makan siang usai."
Baekhyun bergeming dan tetap cemberut. Ia merasa terluka karena Minseok tidak memperhatikan aegyo-nya.
Kembali, sembari memutar mata, Minseok mencubiti pipi Baekhyun dengan gemas. "Baiklah, Baekhyunie-ku. Kau sangat menggemaskan hari ini. Kalau begitu, cepat ganti bajumu, ya? Kita harus segera bergegas. Kau mengerti?" Minseok mengatakan kalimat ini lebih lembut dari sebelumnya, karena ia tahu Byun Baekhyun senang diperlakukan dengan manja. Lalu sebagai sentuhan terakhir, Minseok menepuk kepala Baekhyun dengan sayang. Senyum seketika itu merekah di bibir ranum Baekhyun, lalu dengan semangat, si mungil bersurai magenta itu mengangguk.
"Siap, hyung!" ujar Baekhyun lalu segera berlari masuk ke dalam ruang karyawan untuk mengganti bajunya dengan seragam khas Rainbow Cream.
Sementara Baekhyun sibuk mengganti baju, Minseok berusaha untuk menyibukkan diri, kemudian ia menggeleng dan tersenyum lembut. Tidak habis pikir dengan tingkah manja yang selalu Baekhyun perlihatkan kepadanya. Orang bodoh pun mengerti bahwa Baekhyun senang melakukan hal tersebut karena ia menganggap Minseok sebagai kakak tertuanya. Lagi pula, Minseok sama sekali tidak keberatan. Hadirnya Baekhyun membuatnya kembali mengingat akan hangatnya memiliki seseorang dalam keluarga—sesuatu yang sebelumnya belum pernah ia miliki.
Tidak apa-apa jika dia tidak memiliki orang tua, toh ia memiliki adik kecil dengan rambut cokelat keunguan yang menggemaskan. Tentu saja tak lain dan tak bukan adalah Byun Baekhyun.
Namun, Kim Minseok tidak pernah tahu bahwa nanti, seseorang akan selalu memperhatikannya dari jauh, diam-diam menguntitnya karena penasaran yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Dan nanti, mungkin, setelah Minseok tahu siapa orang itu, Minseok akan merasakan sesuatu yang lebih dari hanya sekedar kehangatan keluarga.
Sesuatu yang orang sebut-sebut sebagai jatuh cinta.
Seperti yang telah di duga oleh Minseok, sehabis makan siang, Rainbow Cream dipenuhi oleh pelanggan tetap, mulai dari anak-anak hingga orang tua sekalipun. Meski begitu, mereka menjalani hari itu dengan lumayan baik. Minseok melirik jam dinding besar dengan bentuk seperti pelangi di samping kirinya, dan tertegun begitu melihat jam yang tertera di sana. Setengah tujuh. Waktu sungguh cepat berlalu.
Kemudian, ia teringat bahwa ia harus membeli beberapa keperluan. "Baekhyun-ah." Minseok memanggil ketika pria yang lebih muda darinya itu tengah sibuk berkemas, membersihkan beberapa meja karena sebentar lagi mereka akan tutup. "Aku akan ke mini market di ujung perempatan sebentar. Tidak apa-apa jika kutinggal?"
Baekhyun menoleh dan tersenyum, lalu mengangguk layaknya anak anjing manis yang lucu. "Baiklah, hyung. Aku akan membereskan sisanya. Hati-hati."
Tidak menunggu lama, Minseok segera pergi berjalan kaki menuju mini market yang tidak jauh dari kedainya, masih lengkap dengan tubuh berbalutkan seragam Rainbow Cream. Ketika ia sampai, ia segera memilih-milih beberapa keperluan yang ia harus beli, mulai dari tisu toilet hingga beberapa jenis mi instan dan—oh, obat penambah darah. Minseok harus selalu meminum obat tersebut karena ia memiliki penyakit anemia yang cukup parah. Ia baru teringat kalau persediannya akan habis minggu ini. Ia berhenti di depan sebuah rak yang berisikan merk-merk obat, lalu meraih satu kotak penuh obat yang biasa diresepkan dokter untuknya. Dokter berkata bahwa Minseok tidak perlu jauh-jauh mencari obat tersebut ke apotek karena obat itu bisa didapatkan dengan mudah di mini market.
Ketika ia hendak berbalik, wajahnya menabrak lengan seseorang di sampingnya dan ia jatuh terjengkang. Berjalan menunduk adalah salah satu kebiasaan buruk Minseok, meski ia sudah sering mendengar Baekhyun mengomelinya dengan suaranya yang cempreng, berkata bahwa suatu saat berjalan dengan kepala menunduk itu pasti akan mendatangkan petaka.
Sekarang Minseok mengerti petaka semacam apa yang dimaksud Baekhyun.
Karena di hadapannya kini, berjongkok seorang pria tampan dengan surai gelap yang dinaikkan ke atas, tersenyum lembut kepadanya. Ia memiliki senyum yang menawan dengan tulang pipi tinggi yang menonjol, dan tatapan mata teduh yang membuat Minseok terbuai untuk sementara waktu. Ia masih mengenakan seragam sekolah, dan Minseok seharusnya sadar karena pria itu lebih cocok menjadi adiknya.
Lalu, pria itu berucap. "Apa kau tidak apa-apa, dik?"
Minseok terperangah untuk sementara. Dik? ADIK? Yang benar saja! Pria ini tentunya masih bersekolah, kenapa ia berani-beraninya menyebut Minseok seperti itu? Seakan Minseok adalah bocah kecil yang tersesat.
Jadi, Minseok memutar bola matanya dan mendongak, menatap pria tampan itu galak.[]
A/N : HUNHANKU LALALALA KUKANGEN KALIAAN~~~~ INI XIUCHEN NYEMPIL DIKIT NGGAK PAPA KAN YA?
Btw apa aku udah bilang kalau ini official pairing-nya EXO? Ada yang nggak suka ya sama official pairing? Kalo aku sih suka aja, mau crackpair juga sukaaa, ato bahkan EXO x OC juga suka. Selama ceritanya bagus trus kena di hati sih. Curhat bentar deh. Aku kangen banget sama Hunhan. Ya Allah. Siapa sih yang nggak kangen sama mereka huhu. Oh iya, panggil aku Fira aja ya, jangan author atau Unnie, tapi terserah kalian si wkwk.
Kalo ada yang mau nanya tentang ff ini, coba deh cus ke akun twitter aku: galexowufan.
Yep, that's it. Thank u so much ya, love you gais. Review please?
Once again, big thanks to my precious little babies:
[lightlyb] [nit] [hunhankid] [SHINeexo] [exobaeolchabae] [amandaerate] [AkaSunaSparKyu] [chanbaekssi] [pisang] [Aya] [guest22.09.15] [wind] [ikakai] [chanbaek'slove] [parklili] [meliarisky7] [bluebble] [ssnowish] [614] [ByunElelelele] [hunniehan] [BabyCrong] [HyunBee] [byunkkaebb] [dee175] [CYDestiny] [cybbh] [KaiSooCouple] [noname]
LOVE LOVE LOVE YOU BABY BABY WOOO~
