[CHAPTER 07 - LOVE VIRUS]
"When you worried too much about someone, beware! It means that love virus has already infected you!"
Bagaikan sebuah takdir yang telah terlukis di atas selembar kertas putih tak bernoda, Kim Jongdae pertama kali bertemu pria mungil dengan bentuk mata yang sangat menarik itu di sebuah mini market.
Hari itu merupakan hari yang biasa, dengan cuaca dan keadaan yang biasa pula. Matahari sudah terbenam dan Jongdae baru saja pulang dari sekolah sehabis latihan vokal tambahan. Omong-omong, setelah pulang dari latihan vokal, Jongdae segera menuju salon terdekat dan mengubah gaya rambutnya (lagi)—well, bukan Kim Jongdae namanya kalau ia tidak tampil dengan unik yang menjurus ke nyentrik. Jika kemarin rambutnya bergaya noodle flip dengan warna cokelat madu, maka hari ini ia menggantinya dengan gaya undercut slick dengan warna rambutnya yang asli, hitam. Dengan gaya rambut yang dinaikkan ke atas tersebut, membuat sosok Jongdae tampak lebih tampan dari sebelumnya. Sejujurnya, Jongdae selalu cepat merasa bosan akan sesuatu, bahkan hal-hal kecil seperti gaya rambutnya. Ia baru sadar bahwa rambut noodle flip itu membuatnya kelihatan seperti orang idiot.
Sembari memasuki mini market, ia berjalan santai lalu berhenti di depan sebuah rak dan meraih sekotak susu rasa pisang serta cemilan rumput laut. Kemudian ia berjalan lagi sambil bersenandung pelan menuju kasir, melewati jejeran rak yang dipenuhi oleh berbagai macam jenis produk yang disusun sedemikian rupa hingga tampak rapi. Lalu, bagaikan sebuah keajaiban tanpa peringatan, begitulah pria itu muncul.
Ia bertubuh pendek dengan pipi yang chubby, mengenakan seragam khas pelayan, atau mungkin pekerja restoran—kemeja putih berlengan pendek, celana panjang cokelat, dan celemek berwarna-warni yang sangat mencolok. Jongdae juga bisa melihat name tag tersemat di dada kirinya, namun dari jarak yang sebegini jauh, ia sama sekali tidak bisa melihat tulisan name tag itu.
Pria pendek itu kemudian berhenti di depan sebuah rak obat-obatan, melihat jenis produk obat legal dengan tatapan menimbang. Mulutnya agak sedikit terbuka, sesekali ia akan mengatupkan bibirnya lalu menggigit-gigitnya kecil. Tanpa sadar, sebuah senyum lepas dari bibir Jongdae. Ia nampak sangat manis dan imut. Berapa umurnya? Dengan tubuh pendek dan wajah imut seperti itu, ia pasti lebih mudah dari Jongdae.
Jadi, sembari berpura-pura melihat jejeran rak, Jongdae berjalan mendekat. Ia berusaha untuk melakukannya senatural dan sepelan mungkin supaya pria pendek itu tidak curiga. Jongdae melirik sedikit dan melihat tangan mulusnya meraih sekotak obat yang ia kenali sebagai salah satu obat untuk penderita anemia. Berbagai pertanyaan mulai bermunculan dari benak Jongdae. Pertanyaan yang tidak penting namun membuat Jongdae penasaran setengah mati seperti: kenapa dia mengambil obat itu, apa dia sakit parah, dimana dia bekerja, apa yang sedang dilakukannya, atau kenapa ia tidak bersekolah, atau bahkan yang sangat membuat Jongdae frustasi adalah, siapa nama pria ini?
Ketika jarak antara bahu mereka hanya beberapa senti, bahkan mungkin hampir bersentuhan, Jongdae berusaha untuk mencuri pandang kepada name tag-nya, lalu mendapatkan 'Kim Minseok' sebagai jawabannya.
Senyum lebar mengambang di bibir Jongdae.
Kim Minseok.
Nama itu berenang bebas di benak Jongdae selama beberapa saat, dan Jongdae sama sekali tidak berniat untuk mengusirnya.
Kemudian, yang terjadi selanjutnya adalah hal yang sangat mengejutkan—pria pendek itu berbalik ke arah Jongdae lalu berjalan sembari menundukkan kepalanya, berkomat-kamit dan menggerutu tentang sesuatu—ia menabrak Jongdae lalu jatuh terjengkang di lantai keramik.
Mata Jongdae melebar ngeri. Ia segera berjongkok, mencari-cari mata pria pendek itu. "Apa kau tidak apa-apa, dik?" tanyanya Jongdae, tidak tahu apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Namun begitu ia menatap keseluruhan wajah pria mungil itu, ia sadar bahwa pria mungil itu tampak seperti anak-anak, dan ia yakin si pria mungil pasti lebih muda darinya.
Sembari mendongak, si pria pendek bernama Minseok itu menatap Jongdae tajam. "Dik?" tanyanya tak senang, lalu memutar bola matanya dan menggigit bibirnya. "Kau bahkan masih mengenakan seragam sekolah dan kau berani memanggilku 'dik'? Yang benar saja!"
Jongdae terhenyak ketika pria itu berbicara agak keras dengan kalimat non-formal kepadanya. Masih tak mengerti, Jongdae mengedipkan matanya berkali-kali, karena untuk beberapa detik yang berlangsung lama, ia seakan terhipnotis dengan mata bulat berkelopak tunggal dengan warna cokelat cerah itu. Ia harus mengakui bahwa meski tengah marah sekalipun, pria di hadapannya ini sungguh menarik.
Jongdae hampir gila karena terus-menerus menatap pipi Minseok yang berisi, serta bagaimana bibir Minseok bergerak-gerak karena menggurutu.
Ya Tuhan, pikir Jongdae, ia sangat imut. Luar biasa imut.
Jongdae jadi berpikir bagaimana jika pria ini tersenyum. Pasti akan menjadi potret yang luar biasa indah.
"Halo? Apa kau mendengarkanku?" kata si pria pendek sembari menjentik-jentikkan jarinya di depan wajah Jongdae yang pasti kini tengah melongo dengan sangat tidak tampan. Sial, kesan pertama yang buruk karena pasti si mungil bernama Minseok ini tengah menatap wajah idiotnya.
"Huh?" Jongdae mengedip-ngedipkan matanya lagi. "Ah, ya. Maafkan aku." Lalu Jongdae bangkit dan mengulurkan tangan, berniat untuk membantu si pendek itu berdiri.
Namun Minseok tidak menyambut uluran tangan tersebut dan malah berdiri sendiri. Ia menepuk-nepuk kemeja dan celemeknya pelan, memastikan tidak ada satu noda pun yang menempel. Minseok kemudian berdeham kecil. "Ya, tidak apa-apa."
Lalu dengan begitu saja, Minseok berjalan melewati Jongdae seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Tidak mau kalah, Jongdae mengekorinya menuju kasir. Ketika giliran Minseok selesai untuk membayar, pria itu degan cepat meraih bungkusannya dan berderap keluar dari mini market itu.
Ketika giliran Jongdae tiba, ia melihat karyawan yang bekerja sebagai kasir di hadapannya dengan tatapan tak sabar. "Cepatlah." Bisiknya kepada karwayan itu. "Oh, tidak. Jangan. Tidak usah dibungkus. Berikan saja susunya!" lalu ia merampas snack rumput laut dan susu kotaknya tanpa dibungkus dan segera berderap keluar untuk mencari sosok mungil itu.
Jongdae mendapati pria itu tengah berjalan di perempatan di ujung jalan, lalu segera berlari untuk menyusul pria itu. Ia menyisakan jarak beberapa meter di antara mereka. Jongdae harus bersembunyi beberapa kali ketika Minseok membalikkan badannya. Ia yakin bahwa sebenarnya Minseok sadar tengah diikuti oleh seseorang. Dalam diam, ditemani keremangan lampu jalan, Jongdae menapak aspal dan senyum tampan tidak berhenti lepas dari wajahnya. Dari jarak yang agak jauh, ia mempelajari sosok Minseok dari belakang dalam penerangan minim itu. Bagaimana surai hitam legamnya yang agak panjang bergoyang tertiup angin malam, bagaimana caranya berjalan, posturnya yang kecil, serta bagaimana cara pria mungil itu berbalik dan menatap sesuatu di belakangnya dengan tatapan tajam, dan Jongdae harus segera bersembunyi di pohon atau tong sampah terdekat.
Dan jadilah hari itu, hari biasa yang berubah menjadi hari yang tidak biasa, dimana seorang pria bernama Kim Jongdae, untuk pertama kali dalam masa eksistensinya selama tujuh belas tahun, tengah menguntit seseorang bernama Kim Minseok menuju sebuah kedai es krim sederhana bernama Rainbow Cream.
Itu menjelaskan semuanya. Pikir Jongdae.
Lalu sebuah ide terbit di benaknya. Ia akan berkunjung ke Rainbow Cream, kali ini bukan sebagai penguntit, namun sebagai pelanggan. Malah, jika perlu, ia akan menjadi pelanggan tetap kedai es krim itu. Jongdae bertekad bahwa ia harus melihat wajah bulat dengan mata yang cantik itu sekali lagi.
Sembari meneguk susu rasa pisangnya, Jongdae mulai menyusun rencana di dalam kepalanya. Ia tersenyum lebar sekali, kemudian berbalik menuju arah yang berlawanan dan mulai berjalan menjauh, sembari sesekali menoleh hanya untuk sekedar melihat kedai es krim tersebut.
Tapi, ia tidak mungkin pergi sendiri, bukan?
Bagaimana jika mengajak seseorang? Seseorang yang bisa disebut sebagai partner in crime?
Tapi Jongdae tidak memiliki terlalu banyak teman. Namun ia tahu satu orang yang bersedia melakukan apapun untuknya. Jongdae masih ingat, bahwa orang itu berhutang kepadanya.
Park Chanyeol.
Entah itu setrikaan atau Park Chanyeol, sejujurnya sangat sulit untuk dibedakan. Mungkin lebih pantas disebut sebagai tiang yang kini menjelma sebagai setrika. Setrika dengan wajah tampan bersurai segelap malam dan dengan tinggi yang lebih dari rata-rata orang kebanyakan.
Ada satu alasan kenapa Chanyeol kini lebih mirip setrikaan alih-alih tiang listrik psycho, salah satu julukan favorit Baekhyun untuk pria jangkung itu. Chanyeol sedang berjalan mondar-mandir di lorong lantai dua di rumahnya, mungkin telah lebih dari tiga puluh menit yang lalu. Ia akan mulai berjalan dengan wajah serius mulai dari depan pintu kamarnya yang terletak di mulut lorong hingga mencapai pintu abu-abu yang terletak di ujung lorong—kamar Baekhyun.
Jam telah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, dan si pendek bodoh itu belum pulang.
Khawatir?
Chanyeol tertawa keras sembari merutuki dirinya.
Apa kau khawatir?
"Tidak." Chanyeol menjawab mantap sebuah suara di kepalanya sekaligus menyeringai sadis. "Aku tidak khawatir." Ia mengulanginya.
Kemudian ia berjalan lagi, dengan rute yang sama, bolak-balik hingga ia kehilangan kesabarannya. Merasa kakinya pegal, Chanyeol dengan sengaja merebahkan diri di tengah-tengah lorong. Napasnya agak terengah-engah, dadanya naik turun dengan frekuensi cepat, padahal ia sama sekali tidak melakukan pekerjaan berat. Matanya menatap kosong pada langit marmer seputih susu. Kemudian ia mengangkat tangannya ke dada, merasakan sesuatu berpacu di dalam sana.
"Aku," ulang Chanyeol, hampir-hampir seperti sebuah permohonan dan doa, "tidak khawatir." Kemudian ia mengangkat lengannya untuk menutupi mata, lalu memaki pelan. Ia tidak mengerti, sejujurnya. Sama sekali tidak mengerti. Entah sudah berapa kali ia mengulangi kalimat yang sama, namun semuanya terasa tidak benar. Ada sesuatu yang salah, dan semua ini membuatnya gelisah bukan main.
Kau hanya khawatir.
Chanyeol tersenyum miring. Darimana suara-suara itu datang? Ini mengerikan. Bisikan-bisikan itu tidak berhenti terdengar, bergaung di kepalanya layaknya lebah jahat. Sesorang pasti memainkan ilusi di kepalanya, lagi. Pikiran kacau balau itu selalu terjadi di kepalanya ketika ia memikirkan Baekhyun. Dan Chanyeol tidak mau mengakuinya.
Seakan-akan, hanya dengan sebuah nama, seluruh sistem di kepalanya porak-poranda dan ia kehilangan akal sehatnya. Chanyeol benar-benar benci mengakui ini. Untuk pertama kalinya ia merasa seperti orang idiot. Yang lebih menggelikan lagi, ia bahkan belum lama mengenal Baekhyun. Bertemu dengan si pendek itu adalah satu dari sekian kejadian yang tidak menyenangkan untuk Chanyeol. Lagipula, Chanyeol hanya selalu menganggap Baekhyun sebagai pengganggu yang menyebalkan.
Sekarang, kasta Baekhyun sepertinya sedikit lebih meningkat. Kalau sebelumnya Baekhyun adalah penganggu yang menyebalkan, maka sekarang, Baekhyun menjelma menjadi makluk penganggu yang menyebalkan yang selalu terjebak di kepala Chanyeol hingga membuat pria jangkung bersurai gelap itu frustasi setengah mati. Dan itu, jelas, bukanlah sesuatu yang bagus.
Setelah pulang sekolah tadi, Chanyeol merasa uring-uringan bukan main. Ia menemukan berbagai jenis hidangan rumah yang telah disiapkan salah satu pelayan di meja makan—ahjumma mungkin membuatkannya ketika ia bersekolah dan langsung pulang begitu selesai memasak—namun selera makannya hilang entah kemana. Jadi ia mengemas makanan tersebut ke dalam lemari pendingin dan berderap naik ke atas untuk mengganti seragamnya dengan sebuah sweater abu-abu dan jins hitam. Lalu ia menyadari bahwa keadaan rumah terlalu sepi.
Well, bukan suatu kejutan, memang. Rumah itu selalu sepi. Chanyeol hanya mengijinkan para pengurus rumah bekerja selagi ia sekolah, atau ketika matahari belum terbit. Hanya saja, Chanyeol sama sekali tidak merasakan hawa kehidupan di sekitarnya. Untuk menegaskan dugaannya, Chanyeol turun ke lantai bawah dengan kaki berjinjit, seakan-akan takut dipergoki oleh seseorang. Kemudian ia merutuk sebal dan mengatai dirinya sendiri bodoh karena hal itu sangat konyol. Bukankah ini rumahnya sendiri? Memangnya siapa yang akan memarahinya kalau ia membuat keributan besar? Byun Baekhyun? Hah, si pendek itu tidak akan berani memaharinya. Chanyeol berani bertaruh kalau ia mengancam Baekhyun dengan tongkat baseball (lagi), si bodoh itu pasti akan merapat ke dinding dengan tubuh gemetar ketakutan.
Ah, ya. Tentu saja. Byun Baekhyun. Kemana dia?
Chanyeol berjalan pelan menuju pintu utama dengan kedua tangan yang terselip di dalam saku jins, dan mendapati rak sepatu kosong. Tidak benar-benar kosong sebenarnya. Ada sepatu nike favoritnya. Namun selain sepatu nike milik Chanyeol, tidak ada sepatu lain lagi di sana. Ia menatap rak sepatu itu tajam. Dimana sepatu converse dengan warna soft pink? Atau mungkin, pertanyaan yang lebih tepat adalah, dimana pemilik sepatu converse berwarna soft pink tersebut?
Masih belum yakin, Chanyeol kembali berderap ke lantai dua dan kemudian berhenti di depan pintu berwarna abu-abu. Chanyeol menunduk dan menempelkan telinganya yang mencuat lebar ke pintu tersebut.
Hening.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Ia berusaha menggedor pintu itu, memainkan kenopnya, menendang-nendangnya kasar, tapi sama sekali tidak ada reaksi dari balik pintu.
Jadi, ia belum pulang. Pikir Chanyeol.
Dan itulah awal dari semua tindakan mondar-mandir di sepanjang lorong lantai dua yang dilakukan Chanyeol saat ini.
Kau mengkhawatirkannya, Chanyeol.
"Baiklah!" pekik Chanyeol pada udara kosong dengan tiba-tiba, sontak berdiri dan kemudian meremas-remas rambut gelapnya dengan marah. Ia memutuskan untuk membenarkan bisikan-bisikan halus di dalam kepalanya. "Aku mengkhawatirkannya! Lalu kenapa?! Lalu apa masalahmu, brengsek?!" Ia terdiam sebentar, lalu memukul kepalanya sendiri sembari menggumamkan beribu kata 'brengsek.'
Kalau ada orang yang kebetulan lewat dan tidak sengaja melihat tingkah laku Chanyeol, sudah dapat dipastikan bahwa orang tersebut akan berasumsi bahwa Chanyeol adalah tahanan rumah sakit jiwa yang tengah melarikan diri.
Chanyeol kemudian duduk bersila di lantai lorong dan menangkupkan kedua tangan ke wajahnya. "Brengsek." Makinya. Kemudian, satu ide terlintas di benaknya. Ia merogoh telepon genggamnya dari dalam saku celana jins, dan segera mencari nomor telepon Sekretaris Yoon. Ia akan bertanya saja. Mungkin setelah bertanya kepada pria tua itu, Chanyeol akan sedikit lebih tenang. Lagipula ia tidak sudi jika disuruh bertanya kepada orang yang bersangkutan—cih, memikirkannya saja membuat kepala Chanyeol berdenyut. Terlebih, Chanyeol sebenarnya tidak memiliki nomor telepon Baekhyun. Ini juga salah satu faktor penyebab kenapa si jangkung bersurai gelap itu tampak seperti orang gila sekarang.
Bahkan, dalam sekali pandang, Chanyeol juga tahu bahwa Baekhyun itu bodoh dan kikuk. Ia polos dan terlalu naif. Bagaimana jika dalam perjalanan pulang sekolah ia dihadang oleh preman-preman brengsek dan preman itu menculiknya? Lalu mereka membawanya keruangan gelap, lalu menjual organ tu—TIDAK! HENTIKAN!
"ARRRRGGGHHHHHHH!" Chanyeol berteriak dengan suara baritonnya sembari meremas kepalanya lagi, berguling-guling di lantai koridor dengan gemas.
Lalu ia berhenti dan menatap satu kontak yang tertera di layar ponselnya.
Tinggal tekan saja.
Suara itu berujar lagi.
Hanya tinggal sekali tekan, dan kau akan langsung terhubung. Lalu kau bisa bertanya dimana Baekhyun.
Chanyeol meneguk ludahnya kasar, menatap nomor telepon Sekretaris Yoon dengan penuh minat. Ini sangat menggoda. Benar-benar menggoda. Mendadak saja, jantungnya berdegup dengan sangat cepat. Bibirnya terasa kering, dan ia merasakan keringat mengaliri keningnya. Sesekali, ia akan menggigit pipi bagian dalamnya. Manik gelapnya menatap ponsel tersebut dengan serius, seakan seluruh hidupnya bergantung di sana. Seakan jika ia salah mengambil keputusan, seluruh hidupnya akan hancur, luluh lantak, rata dengan tanah. Kening Chanyeol berkerut-kerut gusar, sementara jempolnya mulai bergerak maju menuju layar datar ponselnya, berniat untuk menyentuh tombol berwarna hijau.
Ayolah, Park. Sedikit lagi.
"Brengsek. Diamlah." Maki Chanyeol kepada udara kosong. Ya, Chanyeol pasti sudah benar-benar gila sekarang.
Tepat ketika jempolnya menyentuh layar, Chanyeol mendapat panggilan masuk. Nama Kris Wu tertulis besar-besar di layarnya, dan Chanyeol menggeram frustasi. Ia kemudian menggeser tombol hijau dan segera menyalak marah, "apa yang kau inginkan?!"
Di seberang telepon, Kris mendengus. Chanyeol bisa mendengar suara kasak-kusuk lain, yang ia yakini sebagai Sehun dan Luhan. Kemudian terdengar teriakan samar yang berbunyi 'berhenti memelukku Oh Sehun, kau bodoh!' disusul teriakan marah Kris. "Ada apa dengan sikap kalian, para maknae? Perangaimu dan Sehun semakin hari semakin buruk. Apa seperti ini kalian menjawab teleponku sekarang?! Tidak sadar siapa yang menelponmu? Aku Kris Wu! Sunbae dan hyung favorit-mu di sekolah sekaligus pria terhormat di Cina! Kalau kau terus berulah seper—"
"CEPATLAH BICARA HYUNG APA YANG KAU INGINKAN?!" Chanyeol menyalak marah lagi. Mungkin di lain waktu pria jangkung itu boleh mengikuti kontes menyalak dan bersaing dengan anjing-anjing yang menyeramkan. Karena saat ini dia terlihat begitu berantakan dan mengenaskan. Mengesampingkan wajah tampannya, tentu saja.
"Sialan." Maki Kris dari seberang telepon, sementara dada Chanyeol naik turun karena amarah dan kesal—yang sebenarnya sangat mengejutkan ketika ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya begitu marah. "Kami di depan rumahmu. Sekarang turunlah ke bawah dan bukakan pintu sialan ini!"
Chanyeol sontak berdiri tegak. Oh, tidak. Ini masalah besar. Benar-benar petaka besar.
Teman-temannya tidak boleh datang pada saat seperti ini. Bagaimana jika Baekhyun tiba-tiba pulang dan semua temannya mati karena shock?! Mereka tidak boleh tahu bahwa Baekhyun tinggal satu atap dengannya!
Jadi, sembari melontarkan beribu makian dalam benaknya, Park Chanyeol berlari turun menuruni tangga dengan wajah panik. Ia tersandung dan jatuh di ujung tangga, lalu meringis sembari melompat-lompat dengan tangan yang mengusap salah satu lututnya yang terasa nyeri.
Sial.
"Kita harus kerumah Chanyeol, sekarang." Adalah kalimat pertama yang menyembur dari bibir sempurna milik Kris Wu ketika Luhan membukakan pintu rumahnya—jangan lupakan Sehun yang berada di belakang pria manis itu sembari memeluk pinggang ramping Luhan erat dengan wajah yang malas dan kesal. Pria jangkung bersurai pirang itu mengenakan kaus putih dengan jaket denim dan celana jins yang senada, lengkap dengan kaca mata hitam dan topi fedora-nya. Yang benar saja. Orang gila mana yang mau memakai kacamata hitam di malam hari—oh, tentu saja ada. Orang gila itu adalah Kris Wu.
Ketiga orang itu tampak begitu kontras karena pakaian yang mereka kenakan. Kris yang tampak seperti model majalah terkenal, sementara Sehun dan Luhan tampak seperti remaja kebanyakan—Sehun yang hanya memakai kaus putih polos dan celana jins navy-nya, sementara Luhan dengan sweater biru bergambar bambi kedodoran dan celana trainingnya.
"Hun, astaga lepaskan aku." Bisik Luhan tak nyaman, berusaha melepaskan diri dari pelukan lengan kokoh Sehun.
"Tidak." Bantah Sehun, menatap Kris penuh permusuhan. Alih-alih melepaskannya, pria itu malah mengetatkan pelukannya dan menunduk untuk menjatuhkan keningnya di pundak Luhan, menghirup tamak-tamak aroma manis tubuh si mungil. Hari ini harusnya menjadi hari yang sempurna untuknya dan Luhan. Karena mereka akan melakukan movie marathon, menonton film sepanjang malam di rumah Luhan karena orangtua Luhan sedang berada di Beijing dan baru akan kembali Senin depan. Pria itu sudah merencanakan semuanya—sekantong film horor yang membuat Luhan melompat ketakutan dan akhirnya akan berakhir dengan Luhan yang memeluknya sepanjang malam, lalu popcorn caramel favorit Luhan, bahkan selimut hangat untuk mereka berdua. Semuanya benar-benar sempurna—tentu saja sebelum pria menyebalkan bernama Kris Wu datang dan mengutarakan kalimat bodoh dengan mengajak mereka kerumah Chanyeol.
Sehun hanya memiliki beberapa hari, mengingat bahwa hari ini adalah hari Kamis, dan semua waktu yang ia lalui bersama Luhan selalu terasa singkat. Ia tidak pernah merasa cukup jika itu berkaitan dengan si mungil miliknya. Mendadak saja Sehun selalu merasa serakah.
"Sehun-ah," bisik Luhan gusar, pipinya memerah lucu, "ada Kris disini." Lalu suaranya mendadak makin kecil seakan di telan angin. Mendegar bisikan malu-malu itu, Sehun menyeringai senang. Kemungkinan besar, Luhan malu karena Sehun memeluknya terang-terangan dari belakang seperti itu. Ia mungkin berpikir bahwa mereka agak terlalu intim. Astaga si mungil ini, apa jadinya Sehun tanpa Luhan-nya?
Gemas akan tingkah menggemaskan Luhan, Sehun menunduk dan mengigit kecil telinganya, lalu berbisik dengan suara menggoda, tepat di telinga Luhan. "Lalu kenapa? Aku bahkan sering menciummu di depan umum. Lagipula dia hanya penganggu, Lu. Usir saja." Sehun mencibir, sementara Luhan terpaku di tempat lalu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sekarang merah total.
"Ya kau, Oh Sehun!" kali ini Kris yang bersuara. Ia menjitak kepala Sehun kuat-kuat sehingga pria yang lebih muda itu mengaduh sakit, sementara Luhan berteriak kaget. "Dasar bocah brengsek!" maki Kris lagi, "kau berbicara seakan-akan aku tidak ada di sini. Kau dan si Park Chanyeol bodoh itu sama saja. Aku hyung-mu, kau tahu! Sopanlah sedikit!"
"Tapi kau mengacaukan segalanya, hyung! Malam ini aku dan Luhan seharusnya—"
"Baiklah-baiklah!" potong Luhan panik, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar di depan tubuh tinggi Sehun untuk menghentikan Kris yang mencoba untuk kembali melayangkan kepalan tangannya menuju kepala Sehun. "Jangan pukuli Sehunnie. Tunggulah sebentar. Aku dan Sehun akan segera berkemas dan kita akan pergi kerumah Chanyeol sekarang juga." Kadang Luhan berpikir bahwa Kris juga kekanak-kanakan. Ia juga harus selalu menjadi penengah, bukan hanya karena ia paling tua—lebih tua beberapa bulan dari Kris—namun juga karena Kris dan Chanyeol tidak akan sanggup untuk menentang omongannya, apalagi Sehun. Yah, apa boleh buat. Luhan memang yang paling normal diantara mereka bertiga.
"Lu!" protes Sehun tak senang. Ia cemberut sembari mengusap kepalanya yang berdenyut nyeri bekas hantaman kuat tangan Kris. "Tapi kita a—"
Luhan berbalik dan meletakkan kedua telapak tangannya di dada Sehun, menenangkan pria yang lebih muda itu dengan tatapan teduh. "Kita pergi, oke?" lalu Luhan tersenyum lembut, menatap mata Sehun penuh permohonan.
Sehun memutar bola matanya, lagi-lagi merasa kalah, lalu luluh begitu saja tanpa perlawanan. "Baiklah." Jawabnya, meski wajahnya masih masam.
Luhan tersenyum senang, lalu berjinjit kecil untuk mengecup lembut bibir Sehun. "Ayo, ambil mantelmu." Kata Luhan kemudian, membiarkan Sehun menikmati sisa-sisa sensasi seperti kembang api yang seketika itu memenuhi seluruh dunianya, bahkan ketika kecupan itu telah berlalu lama.
Tidak menunggu lama, bahkan tanpa mengganti celana trainingnya, Luhan dan Sehun kembali muncul di mulut pintu. "Ayo." Kata Luhan lalu tersenyum cerah, menyeret pria yang kembali bermuka masam di belakangnya. Meski begitu, Sehun melepaskan mantel tebalnya dan memakaikan mantel tersebut ke tubuh kecil Luhan. Ia tampak lucu dan menggemaskan, karena separuh tubuhnya hampir tenggelam karena mantel Sehun yang besar.
"Kenapa kau memakaikannya padaku?" tanya Luhan bingung. Ia hendak melepaskan mantel itu, namun Sehun menahan pergelangan tangannya.
"Pakai saja." Perintah Sehun lalu tersenyum. "Kau hanya memakai sweater, Lu. Itu tidak cukup hangat."
Luhan memutar bola matanya. "Lalu bagaimana denganmu? Apa kau bodoh? Kau hanya memakai kaus tipis!" si mungil bersurai cokelat madu itu kembali mencoba untuk melepaskan mantel tebal Sehun, namun dengan sigap Sehun kembali mencengkram kedua lengannya dan segera menyeret Luhan tanpa banyak bunyi.
"Ayo, hyung." Kata Sehun kepada Kris, berusaha untuk menghiraukan gerutu dari mulut Luhan yang terus berkicau bahkan ketika mereka telah menaiki mobil. Kris yang membawa mobil malam itu, dan dalam gelap malam, melewati jalan raya Seoul yang penuh dengan manusia-manusia sibuk, bahkan ketika malam sudah menjelang. Seoul seakan tidak pernah istirahat.
Mereka sampai kurang dari tiga puluh menit, memasuki kompleks elit di daerah Gangnam yang hanya dihuni oleh orang-orang dengan ekonomi menengah ke atas. Keluarga Park adalah salah satunya. Kris mengemudikan mobil tepat di depan gerbang, lalu turun dari mobil untuk membuka gerbang yang tidak dikunci itu sendiri.
Kris menggerutu kesal, memaki kebodohan Park Chanyeol. Tentu saja ketiga sahabatnya tahu bahwa Chanyeol menyukai ketenangan dan tidak suka jika orang asing berada di rumahnya, maka dari itu pelayan selalu bekerja ketika ia sekolah atau sebelum matahari terbit. Namun apa salahnya membiarkan salah satu sekuruti untuk menjaga gerbang? Kalau sudah begini, hanya akan membuat tamu terhormat seperti dirinya repot, karena harus turun sendiri untuk membuka gerbang silver setinggi lima meter itu. Ah, tamu terhormat yang tidak diundang dan tidak diinginkan kehadirannya, kalau boleh dikoreksi.
Meski begitu, mereka berhasil memasuki jalanan beraspal yang membawa mereka ke sebuah rumah megah, mirip sebuah mansion.
"Sebenarnya," suara halus Luhan terdengar, "apa yang akan kita lakukan di sini, Kris?"
"Untuk mengawasi Chanyeol, tentu saja." Jawab Kris malas, seakan-akan pertanyaan Luhan adalah hal teridiot yang pernah ia dengar.
Sehun menangkap sarkasme dalam kalimat Kris, dan ia memutar bola matanya kesal. Ia menyelipkan kepalan tinjunya di dalam saku jins navy-nya. Kalau saja Sehun tidak menganggap Kris sebagai hyung dan sahabat yang berarti, kepalan tinju itu sudah melayang dari tadi, mendarat mulus di wajah dingin sekaligus idiot Kris. Tapi Sehun masih tahu diri. Ia paling muda di dalam kumpulan itu, sekaligus paling tampan, tentunya. Setidaknya ia berpikir seperti itu. Terkadang Kris bisa menjadi begitu menyebalkan dan tangan Sehun gatal untuk meninju mukanya sekali-kali, seperti sekarang ini.
'Tapi kenapa?" tanya Luhan lagi, sama sekali tidak memperdulikan sarkasme Kris.
Kris mendengus. "Tidakkah kalian lihat? Dia berperilaku aneh. Si Park bodoh itu menyembunyikan sesuatu dari kita. Dan darah Sherlock Holmes-ku tidak membiarkan ini terjadi. Kita harus menyelidikinya."
Tawa Sehun hampir menyembur. "Kau brengsek, hyung."
Kris menoleh ke belakang dan mendapati Sehun tengah menyeringai senang kepadanya. "Diam kau bocah. Aku masih marah padamu, kau tahu?!"
"Oh, c'mon!" ujar Sehun tak terima, mengangkat bahunya kesal. Ia berjalan dan segera merangkul Kris, telah melupakan keinginannya untuk meninju wajah Kris dan tatapan permusuhan yang tadi ia lontarkan. "Aku ikut dalam penyelidikanmu, hyung. Aku Dr. Watson-mu!"
Kini giliran Luhan yang menatap kedua pria bodoh di hadapannya ini dengan tatapan jengah. si mungil manis itu bahkan hampir memaki. Sungguh menggelikan. Bukankah tadi mereka bertindak seakan hendak membunuh satu sama lain?
Jadi, demi melampiaskan kekesalannya, Luhan berjalan mendekati kedua pria tinggi yang saling merangkul satu sama lain dengan gaya akrab itu dari belakang, dan segera menaikkan tangannya untuk menjambak rambut keduanya, lalu menariknya hingga kedua pria tinggi itu harus menekuk lutut untuk menyejajarkan tingginya dengan Luhan. Meski pendek, jangan sekali-kali membuat seorang Xi Luhan marah atau kesal. Terkadang, orang yang tidak pernah marah, akan menjadi guntur petir yang mengerikan jika ia murka.
"Auuwww!" lengkingan berat ini keluar dari mulut Kris.
"Baby Lu! Astaga apa yang kau—"
"Kalian berdua idiot!" maki Luhan lalu melepaskan jambakkannya dari rambut Kris dan Sehun. Pipinya memerah karena kesal, dan si mungil itu menatap tajam kedua pria jangkung di hadapannya.
"Mengerikan." Bisik Kris sembari mengusap rambut pirangnya, balas menatap Luhan sebal.
Berkebalikan dengan Kris, Sehun malah tertawa kencang sekali, seakan-akan apa yang dilakukan Luhan barusan adalah hal terlucu dan terimut yang pernah ia saksikan, alih-alih menganggapnya sebagai sebuah siksaan fisik yang menyakitkan. "Baby Lulu sangat menggemaskan ketika ia marah!" serunya lalu menangkup kedua wajah mungil Luhan di tangannya yang besar dan hangat.
Memang, orang yang tengah dimabuk cinta, akan benar-benar buta. Kau tahu, ketika kau mencintai seseorang dengan sangat tulus, kau tidak peduli dengan kekurangan orang tersebut. Karena kau mencintainya, maka ia sempurna untukmu. Seperti Luhan yang sempurna untuk Sehun.
Menghiraukan Sehun yang mencoba untuk membujuk Luhan, Kris meraih ponsel genggamnya dan segera menelpon Chanyeol, yang segera menjawab telepon itu dalam dua kali nada tunggu, dengan suara galak dan mengerikan. Setelah melewati beberapa ceramah Kris tentang maknae mereka yang kian hari makin tidak bermoral kepada yang lebih tua, serta bentakan Luhan kepada Sehun yang menyuruhnya untuk berhenti memeluknya, Chanyeol muncul dari balik pintu besar bercat emas. Bajunya kusut, begitu juga mukanya, dan rambutnya acak-acakan.
Bahkan, Luhan dan Sehun berhenti melakukan kegiatan bodohnya lalu terpaku menatap keadaan mengenaskan seorang Park Chanyeol.
"Ugh, kau terlihat mengerikan, hyung." Ujar Sehun sembari memasang wajah sejijik mungkin. Bukan Oh Sehun namanya kalau ia tidak berlebihan dalam mengekspresikan sesuatu. Padahal Chanyeol tidak seburuk yang ia gambarkan. Meski tampak sedikit berantakan, ia terlihat cukup menggoda dengan rambut acak-acakan seperti itu.
Berkebalikan dengan Sehun, Luhan segera menghambur lari dan bersembunyi di belakang tubuh besar Chanyeol. "Chanyeol-aaaaah!" seru Luhan manja (yang segera mendapatkan tatapan setingkat psikopat pembunuh berbahaya dari Sehun), "selamatkan aku dari dua pria idiot ini! Mereka membuatku sebal bukan main. Aku sama sekali tidak mengerti, beberapa detik yang lalu mereka seperti hendak bisa membunuh satu sama lain dan aku harus menjadi penengah, lalu beberapa detik kemudian mereka kembali akrab dan mereka melupakanku!"
Mau tak mau, Chanyeol menyeringai. Seketika itu, kekhawatirannya hilang, setidaknya untuk sementara. "Baiklah, Lu-ge. Aku akan melindungimu malam ini." lalu Chanyeol berbalik dan membuat gestur seakan hendak memeluk Luhan, namun sebenarnya ia sama sekali tidak melakukannya. Hanya saja jika dilihat dari belakang, lengan lebar Chanyeol seakan melingkar di pundak Luhan, padahal sama sekali tidak.
Tentu saja, hal ini dilakukan demi memberi pelajaran kepada si idiot Sehun.
"YA HYUNG!" Sehun menyalak marah dan segera menerjang Chanyeol dari belakang, sementara Chanyeol mendengar Kris mengomel, "dasar pengkhianat! Teman makan teman!"
Belum sempat terjangan Sehun mengenai tubuh Chanyeol, Chanyeol telah lebih sigap dan segera mengelak ke samping, membuat Sehun hampir terjatuh karena kakinya oleng. Namun Luhan melemparkan dirinya kepada Sehun, sehingga Sehun menjadikan Luhan sebagai tumpuannya agar tidak terjatuh. Mereka berakhir dengan saling memeluk satu sama lain. Tapi kemudian, Sehun menatap tajam Luhan dan segera melingkarkan lengan kirinya ke leher Luhan.
"Kau melakukannya dengan sengaja, kan?" bisik Sehun berbahaya.
Luhan tersenyum kecil. Lalu menggeleng manis. "Um, tidak." Balasnya.
"Kau melakukannya dengan sengaja." Bisik Sehun lagi, kali ini jauh lebih rendah demi menegaskan pernyataannya. "Aku bersumpah, baby Lu. Kau tidak akan tidur nyenyak malam ini."
Mata Luhan melebar. "A-apa yang akan kau lakukan padaku?!" ujarnya panik.
Sehun tersenyum sadis. "Kita lihat saja nanti, Lu. Dan aku bersumpah aku tidak akan mengampunimu."
"Ta-tapi, Sehun—aku,"
Chanyeol dan Kris menatap kedua pasangan itu bosan. Mereka tidak akan ambil pusing dengan apa yang dimaksud 'tidak akan tidur nyenyak malam ini' versi Sehun. Percuma saja memikirkannya. Jelas akan membuat sakit kepala. Jadi, kedua pria jangkung itu membiarkan Sehun mengerjai Luhan yang segera memojokkannya ke dinding rumah Chanyeol dan meninggalkan mereka. Well, jangan berpikir yang aneh-aneh dulu. Meski kata 'mengerjai' sedikit memiliki konotasi buruk, Sehun sebenarnya hanya memojokkan tubuh Luhan ke tembok dan memerangkap tubuh kecilnya, lalu—ehm—menciuminya dengan agak sedikit bersemangat.
"Segera ke ruang tengah kalau kalian sudah selesai," kata Chanyeol malas, lalu berjalan terlebih dulu, meninggalkan Kris yang ternganga melihat maknae-nya yang ternyata cukup buas.
Seseorang harus mencegah mereka berdua, karena jika tidak, mereka mungkin akan berlanjut ke tahap yang lebih mengerikan.
Jadi, Kris segera berbalik tanpa memperdulikan panggilan Chanyeol yang segera menyuruhnya ke ruang tengah kediaman Park, ia mendekati Sehun yang kini tengah menciumi leher Luhan, sementara Luhan tampaknya pasrah dengan wajah merah sembari sesekali menahan desahan. Kris melayangkan pukulannya ke kepala Sehun. "Hentikan kalian berdua!" bentaknya jengkel.
Meski tak rela, Sehun mengangkat kepalanya sembari meringis kecil dan menoleh kepada Kris. Sementara wajah Luhan nampaknya sudah tidak berbentuk, rambutnya agak acak-acakan. "Sehun, astaga. Kau memalukan. Jangan lakukan itu lagi. Hormon mudamu benar-benar mengerikan, kau tahu?"
"Memangnya kau tidak pernah melakukannya dengan Zitao, hyung?"
Skakmat.
Wajah Kris sedikit memerah. "Sialan kau, bocah." Maki Kris. "Setidaknya jaga sikapmu! Kau yang paling muda di sini, ingat? Dan Luhan lebih tua beberapa tahun darimu."
Sehun memutar bola matanya, sementara Luhan kini menunduk malu di belakang Sehun. "Maafkan aku, Kris." Bisik Luhan, hampir tak terdengar. "Aku, uh ... terbawa suasana."
Ungkapan yang satu ini membuat seringai Sehun dan Kris seketika itu mekar.
"Terserah kau saja." Kata Kris akhirnya.
Sehun menoleh kepada Luhan, menunduk sedikit untuk membisikinya sesuatu, "ingat, Lu. Ini baru permulaan."
Luhan meneguk ludahnya kasar.
Namun, tak sampai sedetik setelah Sehun berkata seperti itu, sebuah teriakan dengan suara berat menggema di dalam rumah luas tersebut. "APA KALIAN AKAN BERDIRI DI SANA SELAMANYA?! CEPATLAH KEMARI! JANGAN LUPA TUTUP PINTUNYA!"
Kris bergidik ngeri sebagai respon, lalu berbisik kecil seakan takut orang yang barusan berteriak mendengar kalimatnya. "Kondisi mental Yang Mulia Park sepertinya agak mengerikan hari ini."
"Setuju." Sahut Luhan dan Sehun hampir bersamaan.
Meski begitu, mereka akhirnya berjalan masuk setelah menutup daun pintu, dan mendapati Chanyeol tengah duduk di sofa beledu ruang tengah dengan dengan wajah kusut yang menyeramkan.
Namun, tidak ada yang pernah tahu bahwa ada seseorang yang terus mengawasi mereka dari balik pohon palem besar yang berada tepat di depan taman rumah itu. Tubuh mungilnya nyaris tidak kelihatan karena ditelan oleh gelapnya malam. Hanya ada sebuah lampu kuning dengan nyala yang tidak seberapa di atas air mancur, beberapa meter dari pohon palem. Akan tetapi, siapapun yang melihat pasti akan langsung mengenali surai magentanya.
Di balik pohon palem itu, si mungil bersembunyi.
Yang membuatnya terpaku adalah kenyataan bahwa ia baru saja melihat seorang pria jangkung memeluk seseorang dengan tubuh yang ramping dan kecil. Ia tidak bisa melihat siapa orang dengan tubh ramping dan kecil itu, dan juga karena jarak yang terlalu jauh, ia sama sekali tidak bisa mendengar pembicaraan mereka. Jadi yang hanya bisa dilihatnya hanyalah gerak-gerik keempat orang tersebut. Dan adegan yang paling menyakitkan adalah ketika si pria jangkung bersurai gelap berbalik lalu memeluk seseorang di belakangnya. Dari jarak yang jauh sekalipun, ia jelas mengenali siapa si pria jangkung itu.
Ia tidak mengerti kenapa, tapi sesuatu terasa patah di dalam sana.
Dan pada malam itu juga, ia akhirnya menyadari bahwa ia sudah jatuh untuk pria itu. Karena jika tidak, rasanya tidak akan sakit seperti ini. Bahkan, ia juga menyadari bahwa itu adalah cinta pada pandangan pertama. Terdengar murahan, memang. Namun perasaan selalu tumbuh subur layaknya sebuah tanaman. Dan perasaan itu langsung tumbuh saat itu juga, ketika ia bertemu pria itu untuk pertama kali—ketika pria itu memerangkap tubuhnya di tepi dinding dan bertanya dengan kasar kepadanya.
Lalu, seakan tengah berada di dalam drama murahan, hujan deras mulai turun.[]
A/N : Aku sadar banget kalau porsi momen hunhan kebanyakan daripada chanbaeknya. I cant help it, guys seriously. Makin ngebosenin kan ya? Maafin aku deh, aku bakal coba bikin momen chanbaeknya lebih greget. Aku udah ngerancang chapter delapan yang full of chanbaek, seriusan. So be patient, ya. Dan chapter delapan bakalan fast update.
Dan satu hal lagi. Aku nggak pernah maksain kalian buat suka sama ff Accidentally You!, karena emang pada dasarnya ini cinta segitiga chanbaeksoo. Dan perlu aku tegasin, BAEKHYUN DISINI BUKAN SELINGAN. Baekhyun pemeran utamanya kok. Lagian kalo kalian gak suka chansoo, kalian gak perlu baca ff ini. Aku masih banyak kekurangan, this is my 1st ff, afterall. Aku cuma kepingin nunjukin meski kamu udah cinta bertahun-tahun sama seseorang, belum tentu itu orang yang tepat buat kamu. Just like this story, cintanya Chanyeol ke Kyungsoo itu cuma ilusi. Dia nyebut cinta, tapi gak pernah merasakan sesuatu kaya orang lagi jatuh cinta kalo sama Kyungsoo. Beda sama Baekhyun, yang meski baru ketemu, dia udah ngerasain hal-hal baru aneh yang nggak mau dia akuin (ceritanya spoiler).
Writing isnt easy, guys. Serius. Tapi aku terima kritik apapun kok, sekalipun kritik dan saran itu mengandung berbagai kata kasar^^
Cuma mau ngasih tau kok, yang jelas aku sama sekali nggak maksa buat baca apalagi suka sama ff ini.
Last but not least, how about this chap? Reviewnya ya, makasih:]
