[CHAPTER 08 - CHOCOLATE BYUN]


"Chocolate and your lips, it tasted like heaven. And I think, I found my favorite kind of drugs."


Kesadaran itu menghantam Chanyeol ketika butir-butir hujan menimbulkan suara akibat berbenturan dengan atap seng rumahnya. Lalu bunyi itu menjadi begitu berisik, menandakan hujan turun dengan sangat lebat. Kilat mulai menyambar, disusul bunyi geraman guntur yang membuat mereka sesekali terlonjak.

"Hun, diluar hujan deras." gumam Luhan kecil, mengundang senyum di bibir Sehun, yang kemudian menepuk surai cokelat madunya dengan lembut.

Setelah melewati beberapa perdebatan panjang tentang mengapa Kris, Sehun dan Luhan bisa muncul dengan begitu menyebalkan di depan rumah Chanyeol—yang hanya mendapat jawaban idiot dari Kris bahwa mereka harus mengawasi gerak-gerik Chanyeol—pria jangkung itu berhasil mengusir ketiga sahabatnya tepat ketika jam di dinding menunjukkan pukul setengah sepuluh.

Komplotan itu tidak melakukan apapun dalam beberapa jam yang mereka habiskan di rumah Chanyeol. Hanya menonton televisi yang membosankan, melihat Sehun dan Luhan yang bermesraan, serta Kris yang juga bermesraan dengan ponselnya—atau lebih tepatnya dengan seseorang yang berada nun jauh di sana.

"Long distance relationship is suck, Zitao." Keluh Kris kala itu, ditambah dengan makian dalam bahasa Korea dan Cina. Dari wajahnya, selain ketampanan, Kris mungkin tidak terlihat seberapa cerdas. Tapi Chanyeol mengagumi bahwa hyung-nya yang idiotnya itu fasih dalam tiga bahasa: Mandarin, Inggris dan Korea. Dan jangan lupakan satu dialek Kanton yang juga ia kuasai.

Singkatnya, ketiga temannya malam itu hanya berkumpul di rumah Chanyeol tanpa arti. Benar-benar membuang waktu dan tenaga.

Sementara Chanyeol sendiri hanya duduk di atas sofa, memandang khawatir kepada televisi di depannya, sembari untuk mencoba meredakan keringat dinginnya. Ia terus-terusan berdoa supaya Byun Baekhyun tidak muncul di pintu depan sambil berucap 'aku pulang!' dengan suara cemprengnya yang ceria. Karena jika hal itu terjadi, maka hidupnya akan benar-benar tamat. Dan hal tersebut akan mengundang banyak pertanyaan yang Chanyeol sendiri pun tidak bisa jawab. Ia berkali-kali melirik jam dinding dengan gugup, mengusap keringat dingin yang mengalir di pelipisnya dengan lengan sweater-nya. Jantungnya akan terlonjak beberapa kali ketika ia mendengar bunyi ketukan, yang sebenarnya hanya kaki Kris yang tidak sengaja menabrak meja, sambaran guntur, atau bahkan hanya bunyi aneh yang entah berasal dari mana.

Selama itu bukan ketukan yang berasal dari pintu utama, maka semuanya akan baik-baik saja.

Chanyeol tidak banyak berbicara selama itu. Hanya menyumbang senyum atau sesekali tertawa paksa ketika Kris mulai berulah. Sebenarnya, baik Kris, Luhan maupun Sehun merasakan atmosfer gelap yang melingkupi Chanyeol, hanya saja mereka berusaha untuk mengabaikannya. Karena mereka tahu Chanyeol sedang tidak ingin ditanya yang aneh-aneh. Makanya Kris mencoba untuk memeriahkan suasana dengan melontarkan beberapa lelucon bodoh yang sebenarnya tidak lucu. Bahkan kebodohan Kris dan Sehun dijadikan satu pun, tidak cukup mengusir kekhawatiran Chanyeol.

Hari ini hujan, kilat menyambar marah, membelah langit kelam malam dengan sayatan cahaya putih yang menakutkan, ditambah bunyi guntur dan derasnya hujan yang memekakkan telinga, menambah kadar kelam malam itu. Diluar sana dingin, dan saat ini sudah larut malam.

Dimana si Byun bodoh itu?

Pria jangkung bersurai gelap itu benar-benar tidak mengerti. Apa ia harus mencoba untuk menelepon Sekretaris Yoon lagi?

Yah, sebenarnya itu bukan ide yang buruk.

Chanyeol berniat untuk menelpon Sekretaris Yoon ketika teman-temannya pulang (kali ini benar-benar bersungguh-sungguh karena ia telah menetapkan hatinya). Namun ketika ketiga temannya undur diri dengan perilaku yang sangat menyebalkan, dan kemudian Chanyeol mengantar ketiga temannya menuju pintu utama, barulah ia menemukan sesuatu yang membuatnya mengurungkan niat untuk menelpon Sekretaris Yoon.

Mungkin lebih tepatnya, bukan menemukan sesuatu. Namun menemukan seseorang. Manik gelapnya memandang lurus, tepat kepada pohon palem di hadapannya. Sekilas, memang tidak akan terlihat apapun karena keremangan lampu. Namun Chanyeol tidak bodoh. Ia tahu dengan pasti siapa manusia bodoh yang sedang berjongkok sembari memeluk lutut dengan tubuh menggigil di balik pohon palem, tepat berada di taman depan rumahnya. Terlebih, siapa yang tidak mengenali kepala ungu itu?

Sementara Kris menggerutu karena hujan tak kunjung berhenti, dan Sehun yang memakaikan mantelnya di tubuh mungil Luhan agar ia tidak terkena setetes hujan pun ketika mereka hendak memasuki mobil, Chanyeol berusaha untuk menjaga ekspresinya agar tetap datar. Padahal sebenarnya ia mati-matian untuk tidak meledak saat itu juga.

Perasaan Chanyeol campur aduk. Dan ini sungguh membingungkan ketika ia sama sekali tidak tahu penyebab yang membuat perasaannya kacau.

Jadi, ketika mobil yang dikemudikan oleh Kris telah keluar melewati gerbang rumahnya, Chanyeol berderap dengan ekspresi mengerikan, menuju seseorang yang tengah menggigil dibalik pohon palem. Ia bahkan tidak peduli dengan kenyataan bahwa ia keluar rumah tanpa mengenakan alas kaki, bahkan hujan deras yang mulai membuat tubuhnya basah sekali pun tidak bisa membuat amarahnya surut.

"Apa yang kau lakukan disini, bodoh?!" Chanyeol berteriak kencang dengan marah diantara derasnya hujan yang memekakkan telinga. Hal yang sangat membingungkan, tentunya. Karena Chanyeol sendiri tidak mengerti kenapa ia bisa menjadi semarah itu.

Seseorang yang menjadi sasaran amukan Chanyeol terlonjak sedikit. Ia mendongak, dan ketika mata mereka saling bertemu. Untuk pertama kalinya Chanyeol merasa bahwa ia adalah orang paling brengsek yang pernah hidup di dunia ini.

Byun Baekhyun tengah berjongkok, memeluk lututnya sembari menggigil, basah kuyup layaknya anjing yang terbuang. Bibirnya sedikit membiru, wajahnya pucat. Dan yang membuat Chanyeol makin meledak adalah kenyataan bahwa si bodoh itu kini sedang tersenyum. Ia mendongak, menatap lurus Chanyeol sembari tersenyum, dengan sorot mata teduh, tersenyum begitu lembut hingga membuat berjuta-juta perasaan bersalah menghantam telak hati Chanyeol. "A-apa mereka sudah pulang? Aku ti-tidak ketahuan, kan?" tanya Baekhyun dengan suara halus, sedikit tergagap akibat kedinginan dan menggigil. Giginya bergemeltuk hebat. Meski hampir tidak terdengar diantara derasnya hujan, Chanyeol masih menangkap gerakan bibirnya. Karena sedari tadi terus menatap bibir yang mulai membiru itu.

Merasakan amarah yang meletup-letup dalam dadanya, Chanyeol segera membungkuk dan menarik paksa lengan Baekhyun, membuat tubuh mungilnya terangkat dan menyeret si mungil itu menuju rumah tanpa pikir panjang. Baekhyun terkejut akibat serangan tiba-tiba itu, dan si mungil itu bisa merasakan bahwa tubuhnya kaku akibat membeku.

"Cha-Chanyeol," keluh Baekhyun, "apa yang kau ..."

Ia tidak lagi memperhatikan kalimat Baekhyun. Karena benaknya hanya fokus terhadap beberapa hal yang harus segera ia lakukan.

Tempat hangat. Cari tempat yang hangat. Chanyeol menggumam dalam hatinya. Tempat hangat. Handuk. Sup. Cokelat panas. Perapian.

Berbagai kalimat itu berulang-ulang dalam benaknya. Kacau. Ia kalut. Marah dan bingung. Ia tidak tahu apa yang membuatnya begitu marah, dan itu malah menambah segala rasa frustasi dalam dirinya. Tapi Chanyeol berusaha untuk mengenyahkan perasaan frustasi itu, dan membiarkan seluruh tubuhnya bergerak bebas mengikuti nalurinya.

Tempat hangat. Handuk. Cokelat panas. Perapian.

Tidak peduli dengan tubuh keduanya yang basah, Chanyeol masih mencengkram kuat lengan Baekhyun, membuat Baekhyun sesekali meringis kesakitan. Namun Baekhyun sama sekali tidak melawan. Chanyeol melangkah panjang-panjang dengan kaki jenjangnya, setengah menyeret Baekhyun ke lantai dua. Mereka kemudian berdua berhenti tepat di depan pintu berwarna abu-abu.

"Apa yang akan—"

"Masuk." Geram Chanyeol. Ia menunduk, menatap Baekhyun tajam. Genangan air mulai terbentuk di sekitar kaki mereka. Air hujan menetes-tetes hampir dari seluruh tubuh kedua pria itu. Meski Chanyeol juga sudah basah, tapi setidaknya ia tidak menggigil seperti Baekhyun. "Ganti bajumu dalam lima menit, dan kemudian keluar."

"Tapi kena—"

"Sekarang." Chanyeol memotong lagi, lebih cepat dari sebelumnya dengan nada suara yang berbahaya. Ia benar-benar marah sekarang. Ia ingin meninju, memukul, menendang, bahkan kalau boleh sekalipun, ia ingin membunuh demi melampiaskan rasa marahnya. Ini berlebihan dan membuat rasa muak tumbuh di benak Chanyeol, tapi ia sama sekali tidak mencegahnya.

Baekhyun tidak berniat untuk menentang perkataan Chanyeol, karena pada dasarnya ia sudah sangat lelah, pusing, dan ia kelaparan. Jadi ia masuk ke dalam kamarnya, membiarkan air menggenang di sekitar kakinya, kemudian membongkar kopernya yang sama sekali belum ia benahi, lalu menemukan sepasang baju hangat kesayangannya—piyama dengan bahan wol tebal berhiaskan gambar stroberi. Kedengaran bodoh dan kekanak-kanakan memang, namun ia sama sekali tidak bisa berpikir jernih dengan kepala yang berdenyut hebat dan dingin yang menusuk tiap persendian tubuhnya bagikan jarum es.

Baekhyun memasuki kamar mandi di pojok kamarnya, dengan gerak lemah ia mulai melepaskan satu-satu pakaiannya, membalut tubuhnya dengan piyama hangat favoritnya. Tak lama setelah itu, Baekhyun keluar kamar. Masih dengan rambut basah, wajah pucat dan tubuh menggigil, dan mendapati Chanyeol tengah berdiri tak sabar di hadapannya.

Ia sepertinya juga sudah mengganti baju. Mengenakan celana training dan kaus putih polos yang entah mengapa melekat begitu sempurna di tubuhnya. Satu handuk kecil menutupi kepalanya yang basah, sementara satu handuk lain yang agak lebih tebal bertandang dalam genggamannya. Tidak menunggu lama, bahkan tanpa mengucapkan sepatah katapun, Chanyeol menyambar lengan Baekhyun dan segera menyeretnya tanpa belas kasihan (lagi)—menuju perapian di lantai satu, tepatnya di ruang tengah.

Baekhyun lelah, dan ia merasa bahwa ia bisa saja tumbang sewaktu-waktu. Namun sesuatu membuatnya tetap sadar, meski rasa berdenyut di kepalanya sama sekali tidak mereda. Lebih parah, sekarang ia merasa mual. Kombinasi dari efek masuk angin dan hujan-hujanan benar-benar menyiksanya saat ini.

Dan di dalam semua rasa sakit yang menyiksa itu, hanya satu yang membuat kesadarannya masih bertahan: sebuah tangan kokoh yang tengah mencengkram kuat lengannya, dan pancaran khawatir dari manik gelapnya.

Baekhyun tahu, ia seharusnya tidak boleh merasa seperti ini. Tapi ia senang bukan main, menikmati sensasi menyenangkan bagaimana degup jantungnya bertambah cepat, dan bagaimana kupu-kupu seakan menari-nari dalam perutnya.

Mereka tidak berkata-kata untuk sementara waktu, ketika Chanyeol menyeretnya dengan langkah kaki yang panjang-panjang dan dengan gestur tidak sabar. Baekhyun bahkan harus berlari kecil untuk menyeimbangi gerakan kakinya dan Chanyeol. Daan ketika telah sampai di depan perapian, Chanyeol hanya menatap Baekhyun intens, dari ujung kaki hingga kepala. Chanyeol harus menahan gejolak marah dalam dirinya ketika ia melihat tubuh mungil Baekhyun yang masih menggigil kedinginan.

Chanyeol mengumpat kecil dan memalingkan wajahnya, membuat mata cokelat Baekhyun melebar. Ekspresi wajah Chanyeol mengeras. Baekhyun mencari-cari tanda apakah pria itu marah kepadanya, namun yang didapatinya lagi-lagi hanyalah ekspresi menyesal dan rasa bersalah—yang sudah tersamarkan dengan sempurna oleh tatapan dingin penuh amarah. Baekhyun sendiri tidak tahu bagaimana ia bisa menangkap emosi tersebut. Hanya saja, pokoknya ia tahu.

"Duduk." Perintah Chanyeol, menyuruh Baekhyun duduk di lantai, tepat berada di depan perapian. Layaknya peliharaan patuh, Baekhyun segera duduk. Mulut cerewetnya entah kenapa memilih untuk bungkam sekarang. Ia duduk sembari memeluk lututnya, sementara Chanyeol beranjak untuk meraih sebuah remote dan menekan tombol-tombol yang Baekhyun tidak ketahui, lalu perapian mulai menyala begitu saja. Menguarkan hawa hangat yang menyenangkan.

Desahan lega keluar dari mulut Baekhyun. Meski begitu, bibirnya masih bergetar hebat dan tubuhnya serasa beku. Ia bergeser mendekat kepada perapian listrik itu, masih sembari memeluk lututnya, lalu memejamkan mata. Kemudian Baekhyun merasakan handuk besar jatuh di kepalanya. Si mungil itu kemudian menaikkan sedikit handuk yang menutupi kepala dan matanya, lalu mendongak untuk mendapati punggung Chanyeol yang berjalan menjauh.

Dan Chanyeol berlalu begitu saja.

Harusnya, Baekhyun tahu ia tidak boleh berharap banyak. Namun manusia itu serakah. Egois, dan juga munafik. Perkataan yang keluar, terucap dari bibir, kadang tidak sama dengan apa yang hati katakan.

Awalnya, Baekhyun mengira Chanyeol mungkin akan segera tidur, meninggalkannya sendirian yang akan mati karena menggigil. Namun lima belas menit setelahnya, asumsi Baekhyun terpatahkan ketika ia melihat Chanyeol kembali membawa sebaki penuh makanan, lengkap dengan segelas penuh cairan berwarna cokelat yang masih mengepul.

Melihat itu, senyum kecil Baekhyun mengembang. Hatinya terasa hangat. Ini mungkin terdengar berlebihan, tapi ia bahagia.

Baekhyun tidak tahu bahwa Chanyeol sebenarnya pergi ke dapur dan memanaskan beberapa makanan dalam lemari pendingin yang tadi siang sama sekali tidak disentuhnya. Ia membawa sup daging ayam yang sudah dihangatkan, beserta telur dadar dengan cacahan daging dan semangkuk penuh nasi putih.

Ia ikut duduk di depan Baekhyun, lalu meletakkan baki itu di depannya. Chanyeol kemudian duduk bersila dengan tangan bersedekap, eskpresi wajahnya sulit dijelaskan. Ia mendorong baki makanan itu hingga menyentuh kaki Baekhyun.

Semuanya terasa sangat baru dan aneh, baik bagi Baekhyun maupun Chanyeol. Keheningan yang menyelimuti mereka memang terasa canggung, karena selama ini, jika sudah bersitatap wajah, Chanyeol akan mengolok-ngolok Baekhyun, atau bertingkah kasar kepadanya. Chanyeol sendiri tidak mengerti dan ia hanya akan mengabaikan segala rasa frustasinya. Ia hanya akan mencoba untuk mengikuti kata hatinya yang berteriak khawatir hanya karena Byun Baekhyun yang kehujanan.

Lucu bagaimana Chanyeol segera melakukan ini untuk Baekhyun. Melayaninnya dalam diam meski wajahnya tampak keras. Bahkan, jika diingat-ingat, Chanyeol sendiri belum pernah melakukan ini untuk Kyungsoo. Kyungsoo, entah bagaimana, tidak pernah membuatnya frustasi dan hilang akal seperti ini.

Tidak seperti yang Byun Baekhyun lakukan.

Namun, mereka berdua tahu bahwa keheningan yang canggung itu terasa nyaman dan menyenangkan.

Padahal, seharusnya Chanyeol bahagia atas semua ini. Bukankah ia ingin Byun Baekhyun menderita? Bukankah ia ingin menyiksa Baekhyun hingga ia lari ketakutan?

Lalu kenapa, Chanyeol merasa begitu khawatir hanya karena Baekhyun pulang terlalu larut dan mendapati si mungil itu tengah berjongkok layaknya orang idiot di bawah derasnya hujan?

Jadi, Baekhyun menatap Chanyeol hati-hati. Bibirnya masih bergetar. "Apa maksud ini semuanya?" tanyanya, hampir berupa bisikan.

Lagi-lagi perasaan bersalah menghampiri seluruh persendian tubuh Chanyeol, membuatnya ingin berteriak nyaring.

Jangan tanya. Hati Chanyeol berbisik kecil. Aku sendiri tidak tahu, bodoh. Jadi jangan tanya.

"Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan." Balas Chanyeol datar, bersedekap di depan Baekhyun dengan gaya bossy-nya yang menyebalkan. Sebelah alis tebalnya terangkat, sementara matanya menatap Baekhyun tanpa henti. Dan kali ini, Baekhyun mendapati bahwa Chanyeol mati-matian berusaha untuk menyembunyikan ekspresi bersalahnya.

Kembali, tanpa sebuah peringatan, jantung Baekhyun mulai melompat girang. Ia sadar betul bahwa semua ini salah. Terlebih, hatinya langsung merasa sakit ketika ia mengingat bahwa Chanyeol baru saja memeluk seseorang tadi. Namun entah kenapa, rasa sakit itu seakan sirna untuk sementara waktu ketika ia melihat jelas wajah Chanyeol. Bagaimana wajahnya yang rupawan, dengan garis wajah yang sempurna dan bibir merekah dengan bagian bawah yang sedikit berbelah. Belum lagi surai gelapnya yang agak basah ia sisir ke atas. Serta bagaimana kaus polos putih bisa membuatnya nampak seribu kali lebih tampan. Baekhyun menyadari ia semakin jatuh untuk Chanyeol, yang sebenarnya adalah suatu hal yang salah.

"Aku tidak mengerti." Ujar Baekhyun sembari memalingkan wajahnya sedikit, merasa malu bukan main di bawah tatapan intens Chanyeol. Semburat merah seketika menghiasi kulit pipi putih susu-nya yang sebelumnya pucat bak mayat. Yang satu ini hampir membuat sudut bibir Chanyeol menukik tajam ke atas.

Manis. Sangat manis.

Chanyeol mulai membayangkan bagaimana rasanya ketika ia mencicipi si permen kapas berwarna magenta. Jika dilihat saja sudah semanis ini, maka bagaimana rasanya jika ia mencecapnya sendiri dengan bibirnya?

Dan ia baru menyadari ketika menatap betul secara keseluruhan Byun Baekhyun malam itu. Baekhyun mengenakan piyama wol tebal berwarna putih yang bercorak stroberi-stroberi kecil, menyebar di seluruh bagian piyama itu. Piyama itu memiliki tudung kepala dengan telinga kelinci yang panjang. Chanyeol harus sedikit merasa kecewa dalam hatinya ketika tudung kepala itu tidak Baekhyun kenakan, melainkan hanya menggantung di belakang leher bajunya. Melihatnya seperti itu, membuat Chanyeol harus menahan mati-matian untuk tidak mengangkat tangannya lalu menepuk sayang kepala Baekhyun.

Chanyeol menarik napas dalam, mulai merasakan sesuatu berdebar cepat di dalam sana. "Kau tidak perlu mengerti. Tutup mulut dan makanlah, Byun." Kata Chanyeol lagi, yang sebenarnya lebih mirip sebuah perintah egois ketimbang bujukan halus.

Baekhyun cemberut kecil mendapati Chanyeol berbicara kasar lagi padanya, namun tak lama kemudian ia tersenyum. Meraih gelas berisi cokelat panas, lalu menangkupkan kedua tangannya di sana. Bagi Baekhyun, sungguh menyenangkan begitu merasakan sensasi hangat menjalari tubuhnya ketika semua sendinya terasa beku. Baginya, sudah merupakan keajaiban yang luar biasa ketika mendapati Chanyeol melakukan semua ini untuknya, mengingat sebenarnya pria jangkung itu membenci Baekhyun selama masa eksistensinya.

Chanyeol sendiri tidak bisa mengalihkan tatapannya dari Baekhyun. Ia mempelajari gerakan-gerakan kecil Baekhyun seakan hal itu adalah sesuatu yang sangat menarik untuknya. Jadi, sembari masih bersedekap dan duduk bersila tepat di depan Baekhyun, Chanyeol mengarahkan manik gelapnya kepada pria itu.

Baekhyun yang menempelkan bibirnya di tepi gelas. Baekhyun yang terlonjak ketika mendengar bunyi guntur. Baekhyun yang menggigil kecil. Baekhyun yang tersenyum manis. Baekhyun yang memejamkan matanya ketika merasakan sensasi hangat susu cokelat. Baekhyun yang mendongak untuk mengintipnya malu-malu. Baekhyun yang merona. Baekhyun. Baekhyun. Baekhyun. Baekhyun. Baekhyun. Baekhyun.

Lalu nama itu menjadi tak berhingga di benak Chanyeol.

Baekhyun, yang sebenarnya merasa risih bukan main, karena belum pernah ada orang yang menatapnya sedemikian tajam. Belum lagi oknum yang menatapnya memiliki surai segelap malam dan manik mata yang juga gelap, dengan wajah yang luar biasa tampan. Baekhyun harus mengakui bahwa ia menikmati hal tersebut. Sementara jantugnya bertalu-talu, ia menghirup cokelat hangat yang terasa sangat luar biasa di lidahnya.

"Sebenarnya, apa yang kau lakukan di luar sana?" Chanyeol bertanya dengan nada tak senang.

"Aku baru saja pulang dan aku melihat temanmu datang. Jadi kupikir sebaiknya aku bersembunyi dulu."

Chanyeol mendengus lalu tertawa sarkastik. "Dan kau menunggu bahkan ketika hujan turun deras?"

Baekhyun mendongak, mengerjap lucu dan menatap Chanyeol, lalu menangguk kecil.

"Kenapa kau bisa begitu bodoh?!" bentak Chanyeol kasar, bahkan mengalahkan suara hujan yang deras. Baekhyun terlonjak akibat bentakan itu, lalu menunduk dengan ekspresi takut.

Chanyeol mendesah frustasi, mengangkat sebelah tangannya dan menyisir surai hitamnya ke belakang. "Rambutmu basah." Komentar Chanyeol, menatap tajam rambut magenta Baekhyun yang masih meneteskan air. Padahal handuk yang tadi Chanyeol lemparkan padanya masih tersemat manis di kepalanya.

Mendengar itu, Baekhyun mengangkat tangannya dan menyentuh sisi rambutnya. Rona merambat di pipinya. "Ah, ya." Angguknya, suaranya selembut dan seringan kapas. "Tidak apa-apa. Aku bi—"

Baekhyun berhenti berbicara ketika melihat Chanyeol berdiri dan segera duduk di belakangnya. Aroma tubuhnya yang menyenangkan menyeruak indera penciuman Baekhyun, membuat si mungil tegang dengan dentuman yang mulai memekakkan telinganya. Chanyeol memiliki aroma maskulin seorang pria, dengan bau lain yang Baekhyun kira sebagai parfum dan shampoo. Kombinasi semuanya membuat Baekhyun mabuk bukan main, karena harum itu menginvasi seluruh pikirannya.

Hal berikutnya yang terjadi adalah sesuatu yang membuat Baekhyun terpaku. Chanyeol meraih handuk itu dan mulai mengusapkannya ke kepala Baekhyun secara lembut, meremas-remas surai cokelat keunguannya yang masih basah.

"Jangan tanya apa yang sedang kulakukan." Bisik Chanyeol lirih. Karena aku sendiri tidak tahu apa yang sedang kulakukan. "Lanjutkan makanmu, bodoh." Chanyeol berkata lagi, kali ini nada suaranya kembali terdengar egois dan penuh perintah. Namun Baekhyun mengenali ketulusan dalam kalimat itu. Baekhyun, yang kini senang bukan main, berusaha untuk menahan tangannya yang gemetar. Kali ini bukan karena kedinginan. Namun karena semuanya terasa begitu mendebarkan dan sangat menyenangkan. Baekhyun mengetatkan tangkupannya pada gelas di tangannya, berusaha untuk tidak menjatuhkan gelas tersebut karena tangannya yang gemetar.

Chanyeol ingin memaki. Apa yang sedang ia lakukan sekarang? Ah ya, ia sedang mengeringkan rambut si bocah bodoh bernama Byun Baekhyun. Akal sehatnya pasti sudah benar-benar menguap. Tapi Chanyeol tidak bisa berhenti. Ia tidak mau berhenti. Tubuh tinggi Chanyeol bersila di belakang Baekhyun, jarak mereka hanya beberapa senti, dan Chanyeol mengerjakan pekerjaan bodoh yang baru saja menjadi pekerjaan favoritnya.

Siapa yang bisa menolaknya, kalau ia boleh jujur? Bahkan dari belakang pun, tanpa si mungil itu sadari, pesonanya terus memancar, menginfeksi orang yang berada di belakangnya.

Si jangkung bersurai malam itu tidak akan menyangkal. Ia menyukai bagaimana aroma lembut stoberi seketika itu meracuni seluruh pikirannya, memenjara dan memerangkapnya tanpa ampun. Dan dari belakang, ia kembali memepelajari seluruh tubuh dan gerak-gerik Baekhyun.

Baekhyun memiliki tubuh yang mungil. Tengkuknya mulus, dengan anak-anak rambut halus yang mulai tumbuh di pangkal lehernya. Chanyeol mengetahui bahwa warna rambut Baekhyun yang sebenarnya adalah hitam, dan ia pasti mewarnai rambutnya dengan warna magenta. Kemudian, Chanyeol mulai penasaran setengah mati bagaimana seorang Byun Baekhyun akan terlihat jika surainya berwarna hitam. Atau, ia akan mulai bertanya-tanya kenapa Baekhyun mengecat rambutnya.

Chanyeol menggigit bibir dan mendesah frustasi dalam diam. Semua pertanyaan itu sama sekali tidak berarti dan akan terus melekat di kepalanya jika ia tidak menanyakannya langsung. Namun persetan! Chanyeol tidak akan benar-benar mempertanyakan hal tersebut kepada Baekhyun—tidak dalam seribu tahun nantinya.

Dari belakang, Chanyeol akan mendapati Baekhyun yang menggigil kecil, atau terlonjak kaget sedikit ketika guntur menyambar. Hal yang satu ini membuat sudut bibir Chanyeol tertarik ke atas tanpa ia sadari.

Hening yang begitu menyenangkan menyelimuti mereka.

Dengan hati-hati seakan takut melukainya, Chanyeol mengusapkan handuk itu di kepala Baekhyun. Merata dan perlahan-lahan.

"Kau tahu," kata Baekhyun pelan, memecah keheningan di antara mereka, "ini hujan pertama di bulan ini." Chanyeol dapat mendengar senyum dari kalimat itu, meski ia sama sekali tidak bisa melihat wajah Baekhyun.

Chanyeol mendengus, sementara Baekhyun membungkuk sedikit untuk meraih semangkuk nasi dan sumpit dari baki, lalu mulai menyumpit telur dadar dan memasukkannya ke mulutnya bersama nasi yang tengah ia pegang. "Kenapa kau bahkan mengetahui hal-hal bodoh semacam itu?" balas Chanyeol dengan nada kesal, "yah, hal-hal bodoh untuk orang yang juga bodoh, tentu saja."

Kalimat kasar itu dibalas oleh anggukan kecil dan kekehan halus. Mata Chanyeol melebar. Ia terpaku untuk sesaat. Menyesali posisinya sekarang. Kalau saja ia duduk di hadapan Baekhyun, maka ia pasti akan melihat wajahnya yang tengah tersenyum.

"Kau benar." Angguk Baekhyun, senyum manis terpatri di bibir ranumnya. "Tapi hujan bukanlah hal bodoh. Kau hanya perlu memandangnya dari sudut yang berbeda, dan kau akan melihat sesuatu yang menakjubkan yang belum pernah kau lihat sebelumnya."

"Membosankan." Gerutu Chanyeol.

Lalu Baekhyun tertawa lagi. Sembari mengunyah pelan makanannya, Baekhyun bertanya. "Apa kau selalu seperti ini?"

"Apa maksudmu?" kata Chanyeol lagi. Nada suaranya berubah menjadi penasaran. Ia berhenti mengusap kepala basah Baekhyun dengan handuk.

"Mmmm..." Baekhyun terdiam sebentar, meletakkan ujung sumpit di bibirnya, "yah, maksudku seperti ini. Melakukan hal-hal seperti ini untuk orang lain."

Chanyeol memutar bola matanya, menatap helaian surai cokelat keunguan di hadapannya dengan jengah. Ia tidak tahu harus menjawab apa, dan ini membuatnya mual. "Bukan urusanmu!" balas Chanyeol, kali ini agak lebih kasar dari sebelumnya, dengan nada tinggi. Padahal, ia sama sekali tidak berniat untuk membentak seperti itu.

Baekhyun terlonjak lagi, bukan karena nada suara Chanyeol, tapi karena guntur yang terdengar seperti ledakan mengerikan, padahal hujan sudah mulai reda dan tidak sederas sebelumnya.

"Aku hanya bertanya." Bisik Baekhyun, nada suaranya berubah murung dan lesu. "Maafkan aku."

Sial. Chanyeol membenci perasaan baru ini. Perasaan dimana ia merasa begitu merasa bersalah pada dirinya sendiri hanya karena hal-hal sepele yang menyangkut tentang Baekhyun. Chanyeol memijiat pelipisnya yang berdenyut. Ia mendesah berat. "Ini pertama kalinya." Aku Chanyeol, ekspresinya berubah tajam seiring dengan kalimat yang barusan meluncur di bibirnya.

Pernyataan Chanyeol barusan seakan memberikan aliran listrik bertegangan tinggi ke seluruh tubuh Baekhyun. Ia terkejut bukan main. Di antara degupan jantung yang bertalu hebat, Baekhyun memutar badannya secepat kilat, untuk menghadap seseorang yang duduk bersila di belakangnya. Mata cokelat cerahnya melebar, menatap mata bermanik segelap malam yang kini menatapnya balik dengan ekspresi terkejut.

"Sungguh?" tanyanya dengan nada tak percaya, menatap seseorang yang sekarang terpaku di belakang.

Baekhyun mungkin tidak menyadarinya, tapi pandangan Chanyeol benar-benar jelas. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti, dengan ujung hidung yang hampir saling bersentuhan. Dalam jarak sedekat ini, mustahil Chanyeol bisa berpikir jernih. Seluruh sistem dalam tubuhnya porak poranda, akal sehatnya hancur lebur entah kemana. Dari jarak yang begitu dekat, Chanyeol melihat wajah berkulit mulus seputih susu, sepasang mata sipit bermanik cokelat cerah, hidung mancung yang kecil, serta bibir. Jika dari jarak jauh, mungkin memang tidak akan terlihat. Namun mata Chanyeol menangkap jelas setitik tahi lalat di bibir atas sebelah kiri Baekhyun.

Lalu matanya terpusat pada bibir itu.

Bibir tipis yang merekah.

Bibir tipis yang kini berwarna pink cherry.

"Uh," bisik Baekhyun linglung, "aku, uh, aku ..."

Ia hendak menarik mundur tubuhnya.

Namun sambaran tangan Chanyeol lebih cepat. Ia mengangkat tangannya dan menahan tengkuk Baekhyun. Menahan agar wajah si mungil tidak bergerak satu inci pun dari wajahnya.

Akal sehatnya benar-benar menguap entah kemana. Ia tidak tahu kenapa ia melakukan itu. Seakan tidak rela jika sosok dengan wajah manis dan imut itu menghilang dari hadapannya.

Baekhyun, tak ayal, sama terkejutnya dengan Chanyeol. Seakan gerakan Chanyeol adalah diluar kendali dirinya sendiri—dan sesungguhnya, memang benar seperti itu adanya. Mata sipitnya melebar kaget, menatap lurus-luruh manik gelap Chanyeol yang kini menatapnya intens dan tajam.

Lalu, waktu seakan berhenti.

Dan Chanyeol membungkuk, merendahkan tubuhnya untuk menyejajarkan wajahnya dengan wajah si mungil.


Baekhyun baru bisa pulang sehabis mendengar ocehan Minseok tentang pemuda berseragam kuning yang ia temui tanpa sengaja di mini market. Pemuda itu menyebutnya sebagai anak kecil dan menguntitnya pulang menuju Rainbow Cream.

Baekhyun harus terkikik kecil melihat hyung favoritnya menggerutu, bahkan ketika tanda close telah disematkan di depan kedai dan mereka berjalan bersama menuju halte untuk pulang kerumah masing-masing. Mulutnya tak berhenti berbicara tentang bagaimana orang-orang selalu melihatnya sebagai anak yang masih duduk di bangku sekolah, padahal umurnya sekarang sudah mencapai dua puluh satu tahun.

"Bukankah itu hal yang bagus?" komentar Baekhyun kala itu sembari duduk di bangku halte, lalu memandang Minseok yang masih berwajah masam. "Itu artinya wajahmu memang tampak terlihat muda, hyung. Harusnya kau mensyukurinya."

Minseok mendecih. Lalu kemudian pipinya memerah. "Tapi aku tidak menyukainya."

Melihat itu, Baekhyun semakin bersemangat untuk menggoda Minseok. "Apa dia tampan, hyung?"

Kepala bersurai gelap Minseok menoleh secepat kilat untuk menatap Baekhyun jengkel—namun Baekhyun bisa melihat jelas rona merah di wajahnya. "Tidak!" ujar Minseok lalu membuang muka.

"Sungguh?"

Minseok memutar manik cokelat cerahnya kesal. "Um ... baiklah. Sedikit."

"Hanya sedikit?" Baekhyun terkikik lagi. Sungguh menyenangkan melihat Minseok tersipu malu layaknya bocah kecil yang imut. Sebenarnya, jika ia tidak membeberkan umur aslinya, Minseok bisa saja mengaku sebagai pemuda berusia tujuh belas—atau bahkan lima belas tahun, karena wajahnya benar-benar tampak jauh lebih muda dari umurnya yang asli.

"Kau mau aku mengulitimu hidup-hidup, Byun?" ancam Minseok sembari menoleh dan menatap Baekhyun kesal.

Pria yang lebih muda mengangkat kedua tangannya ke udara, tanda ia menyerah. "Aku hanya bercanda." Katanya, lalu tertawa pelan. Mereka bercakap-cakap untuk sementara waktu, membunuh waktu untuk menunggu bus jurusan masing-masing. Minseok bertanya dimana Baekhyun tinggal sekarang, karena Minseok sudah seperti saudara sendiri, Baekhyun sudah menceritakan segala hal kepadanya. Kecuali tentang Ayahnya dan perihal kepindahan Baekhyun ke rumah keluarga Park.

Baekhyun hanya tertawa lembut menanggapi pertanyaan Minseok, dan Minseok bertanya lagi kenapa ia tertawa. Baekhyun tersenyum, dan berkata bahwa ia akan menceritakan semuanya nanti. Meski begitu, Minseok membalas perkataan Baekhyun dengan senyum lembut penuh perhatian. Ia mengerti mungkin Baekhyun dalam posisi sulit sekarang.

Baekhyun hanya tidak ingin orang lain tahu, tentunya. Park Chanyeol tidak ingin orang lain tahu, dan ia sudah berjanji untuk hidup selayaknya hantu kasat mata. Memikirkan si jangkung itu membuat senyum manis mengembang di bibirnya. Ia tahu Chanyeol selalu bersikap kasar, menyebalkan, bossy, dan segala macam sifat mengerikan yang membuat Baekhyun ingin menjauhinya. Namun ia tidak bisa. Seakan-akan ada medan magnet yang menghubungkan antara dirinya dan Chanyeol. Apapun yang dilakukan Chanyeol seakan menarik Baekhyun untuk mendekat.

Yah, lagipula Baekhyun tidak bodoh. Ia memang mendapat paket beberapa hari sebelumnya, dari Lee Young Ri yang kini Baekhyun ketahui adalah Ibu Chanyeol. Alasan kuat kenapa Baekhyun berani mengemas kopernya dan beranjak dari rumah Bibinya adalah karena Ayahnya sendiri. Di suatu malam, ketika Baekhyun hampir terlelap tidur di kamarnya bahkan sebelum mengganti baju sehabis pulang bekerja, seseorang dengan nomor asing meneleponnya.

Baekhyun hampir menangis saat ia mengenali suara orang yang sedang berbicara di seberang telepon.

Byun Han tidak berbicara banyak. Tidak menyapa, tidak pula mengatakan hal-hal yang menyenangkan seperti yang sering ia lakukan dulu. Suaranya kini sedingin es. Baekhyun merasa bahwa ia sedang berbicara dengan orang asing. Byun Han hanya memberikan instruksi bahwa Baekhyun harus pindah ke sebuah rumah di daerah Gangnam, dan ia juga harus pindah sekolah. Lalu Baekhyun bertanya mengapa ia harus melakukan semua itu, dan Byun Han menjawabnya dengan sebuah keheningan yang menyesakkan dada. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut. Namun ia ingin Baekhyun mengikuti perintahnya, karena ia yakin dengan begitu, hidup Baekhyun akan lebih baik dari sebelumnya. Lalu, sebelum mengakhiri teleponnya, Byun Han berkata bahwa Baekhyun tidak perlu menghubunginya lagi.

Lalu telepon terputus.

Dan Baekhyun menangis dalam diam.

"Baekhyun-ah."

Baekhyun menoleh dengan linglung ketika Minseok menepuk pelan pundaknya.

"Ya?"

"Ada apa denganmu?" Minseok memegang kedua bahu Baekhyun dan menatap wajahnya serius.

"Aku kenapa?"

Minseok mendesah sedih, kemudian mengangkat kedua tangannya ke pipi Baekhyun yang ternyata telah dialiri air mata. "Kenapa menangis?" bisik Minseok, tak sampai hati melihat adik kecilnya yang telah meneteskan air mata bahkan tanpa ia sadari.

"Huh?" Baekhyun menggumam bingung, ikut-ikutan menyeka matanya dan terkejut ketika mendapati bahwa matanya telah basah. "Ah, kurasa mataku kemasukan debu, hyung." Tambah Baekhyun lagi, lalu terkekeh kecil.

Minseok mengelus surai cokelat keunguan Baekhyun dengan lembut, menatap adik kecilnya dengan sayang. "Jangan membohongiku." Kata Minseok. "Apa kau baik-baik saja? Mau menginap dirumahku?"

Baekhyun menggeleng tegas. Lalu tersenyum menenangkan. "Tidak. Aku baik-baik saja."

Meski begitu, Minseok menatap Baekhyun tak yakin. "Sungguh?"

"Ya." Angguk Baekhyun.

Minseok awalnya enggan meninggalkan Baekhyun dalam keadaan seperti itu, namun Baekhyun bersikeras bahwa Minseok harus pulang dan segera meminum obat anemianya. Jadi mereka berpisah setelah itu. Baekhyun tiba di kediaman Park lima belas menit setelahnya dengan menggunakan bus. Ia berhenti di depan kompleks elit itu, dan segera berjalan untuk mencapai mansion besar keluarga Park.

Ketika Baekhyun memasuki gerbang, ia menyadari ada mobil sport hitam terparkir tepat di depan rumah, dan Baekhyun setengah mati harus mengendap-ngendap agar tidak ketahuan. Sepertinya mereka teman-teman Chanyeol. Ia kemudian mengambil tempat persembunyian paling dekat: pohon palem di dekat air mancur taman, tepat di depan rumah.

Baekhyun kelelahan setengah mati dan ia berharap bisa segera membasuh badan, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kepalanya mulai pusing. Dan pusing itu bertambah parah ketika ia melihat Chanyeol memeluk salah seorang temannya yang bertubuh paling kecil. Si mungil itu seharusnya tidak mengakuinya, tapi rasanya benar-benar tidak mengenakkan melihat Chanyeol melakukan itu.

Lalu, hujan mulai turun. Dan dia menunggu teman-teman Chanyeol pulang hampir lebih dari satu jam. Tubuhnya basah kuyup. Ia kedinginan dan kelaparan. Dan patah hati.

Baekhyun rasanya ingin bersorak ria ketika melihat mobil sport itu akhirnya keluar lewat gerbang depan. Dan tahu-tahu saja, Chanyeol sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan geram dan marah.

Lalu semuanya terasa seperti mimpi.

Chanyeol menyeretnya. Menyuruhnya mengganti baju. Kemudian Chanyeol menyeretnya lagi menuju perapian. Dan ia memberi Baekhyun makanan.

Kemudian, Chanyeol duduk di belakang tubuhnya untuk mengeringkan rambut magentanya yang basah.

Baekhyun harus menghentikan kembang api yang meledak-ledak memenuhi penglihatannya ketika Chanyeol menjawab pertanyaannya.

"Ini pertama kalinya." Sahut Chanyeol, masih dengan nada bicaranya yang menjengkelkan.

Jadi Baekhyun tidak bisa menahan diri untuk tidak berbalik. Ia berusaha untuk mencari kesungguhan dalam diri Chanyeol. Maka ia menatap Chanyeol lurus-lurus. Dan wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Baekhyun mungkin terlambat menyadarinya, namun Chanyeol tidak seperti itu. Ia langsung terpaku begitu wajah mereka berhadapan. Dan ketika Baekhyun berniat untuk memundurkan kepalanya, Chanyeol malah menahan leher Baekhyun dengan tangannya.

Baekhyun terkesiap, sementara Chanyeol menatapnya dalam, lalu mulai menunduk.

Apa dia akan menciumku? Ya Tuhan dia akan menciumku! Apa yang harus kulakukan?! Memejamkan mata?! Memakinya? Menamparnya? Byun Baekhyun sadarlah! Kau harus segera bertindak! Ya Tuhan! Astaga!

Dan Baekhyun memejamkan matanya.

Detik-detik yang berlalu terasa begitu lama, seakan Baekhyun sudah menunggu selama berabad-abad.

Namun, tidak ada yang terjadi.

"Apa yang kau lakukan, bodoh?" bisik Chanyeol tajam, dan Baekhyun bisa merasakan sapuan napasnya yang hangat ke seluruh wajahnya.

Pipi Baekhyun memanas, dan ia membuka matanya. Yang terlihat pertama kali adalah wajah Chanyeol yang terpampang jelas di hadapannya, kini tengah menatapnya malas—walaupun sebenarnya wajah si jangkung itu tak kalah merah dari Baekhyun—sementara satu tangannya memegangi tengkuk Baekhyun, tangannya yang lain terangkat ke atas, mengusap tepian bibir Baekhyun pelan dengan jempolnya. "Apa kau anak dengan mental terbelakang? Ada noda cokelat di bibirmu. Astaga. Minum saja tidak becus. Dasar bodoh."

Tidak. TIDAAAAKKKKK. APA YANG BARU SAJA TERJADI?

Oke. Baiklah. Tarik napas, Byun. Ya, tarik napas, lalu hembuskan. Sekali lagi. Tarik, lalu hembuskan. Kau harus bernapas sebelum kau pingsan karena kekurangan oksigen.

Seakan tidak cukup membuat tubuh Baekhyun meleleh karena perlakuannya, belum lagi debaran jantung yang seakan tak pernah lelah, Park Chanyeol—Ya, si tiang listrik bodoh bernama Park Chanyeol—kemudian menjilati jempolnya.

Ia baru saja menjilati jempolnya. Jempol yang digunakan untuk mengusap noda cokelat di bibir Baekhyun.

Baekhyun tidak bisa berkata-kata, sementara Chanyeol menarik tubuhnya menjauh. "Habiskan makanan." Titahnya, kemudian bangkit dari posisi duduknya, menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu mulai berjalan pelan. Meninggalkan Baekhyun yang terperangah bukan main di belakangnya. Baekhyun harus mengipasi wajahnya yang kini semerah tomat dengan kedua tangannya, lalu bergumam tidak jelas. Meski begitu, ia bisa mendengar derap kaki Chanyeol yang menuju lantai dua, yang kemudian disusul dengan bunyi debuman pintu.

Baekhyun tidak tahu apa yang harus dilakukannya, jadi ia menutup rapat bibirnya dengan kedua tangannya, lalu mulai berteriak dengan bunyi yang teredam.

Sepertinya, ia baru saja bermimpi lagi.

Namun ketika ia membenturkan kepalnya di lantai marmer, barulah ia sadar. Ini bukan mimpi.

Dan pria tampan bernama Chanyeol baru saja menjilati jempol bekas mengusap cokelat di bibir Baekhyun.


Chanyeol menutup pintu kamarnya, lalu bersandar di belakang pintu itu dan menengadahkan kepalanya ke belakang. Ia tersenyum lebar sekali, menikmati bagaimana jantungnya yang bertalu tak kenal lelah, aliran listrik di seluruh tubuhnya, dan pikirannya yang terasa seringan kapas.

Perpaduan antara rasa cokelat dan sedikit rasa bibir Baekhyun masih tercecap di ujung lidahnya.

Awalnya ia hanya berniat untuk menggoda Baekhyun lalu mengatainya bodoh karena noda di bibirnya. Namun siapa sangka hal tersebut malah menyerangnya balik. Chanyeol tidak bisa menahan diri untuk tidak mengusapnya. Dan yang lebih gila, ia bahkan membiarkan lidahnya mengecap rasa itu.

Dan kini, meski merasa kalut luar biasa, Chanyeol sama sekali tidak menyesalinya.

Bukankah ia sudah bilang, bahwa ia ingin mencicipi rasa permen kapas magenta itu?

Kau menyukainya.

Chanyeol terbatuk keras. "Uh, tidak." Bisiknya agak bingung kepada udara kosong. "Aku hanya berusaha mengerjainya."

Bukankah dia manis?

"Sangat." Senyum lebar mengembang di bibir sempurna Chanyeol.

Berarti kau menyukainya.

"Tidak masuk akal." Seringai Chanyeol sadis. Kemudian seringai itu surut menjadi ekspresi bingung. "Ta-tapi, aku menyukai Kyungsoo."

Begitu ia mengatakan hal itu, bisikan setan di kepalanya kembali bungkam.

Lalu Chanyeol tersenyum. Senyum setengah hati, karena mendadak saja ia merasa bingung. Ada sesuatu yang salah ketika ia mengatakan kalimat terakhirnya.

Ini menggelikan. Ia mulai berbicara sendiri lagi. Jadi, sembari menghilangkan pikiran anehnya, Chanyeol beranjak menaiki kasur, menarik selimutnya, dan bergelung di dalamnya.

Matanya terasa berat, namun ia merasa sangat bahagia.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Chanyeol tidur dengan nyenyak, ditemani dengan irama jantung yang berdegup tak nomal, serta senyum lebar yang terus menghiasi wajahnya.[]


A/N : FINALLY I FINISHED IT! As I promised, ini bener-bener fast update, dan aku capek banget rasanya hahaha kayaknya aku besar kepala deh soalnya aku cukup puas sama chapter ini. Btw ini chapter paling panjang hahaha. Gimana gimana? Dapet feelnya? DUUH CHANBAEK HUHU

Yang penasaran sama ayah baek trus ibunya chanyeol, coba deh tebak mereka kenapa haha tenang aja nggak aneh-aneh kok. Aku nggak tega bikin chanbaek yg unyu-unyu begitu tersiksa.

Oh iya, kayaknya setelah abis update ini, update chapter selanjutnya agak bakal lama karena senin aku udah mulai UTS T-T school sucks, guys.

Enough talk, review about this chapter, please? Thankyou! :]]]]