[CHAPTER 09 - JEALOUSY]
"2nd stage of love virus attack: you got jealous."
Ketika ia bangun pagi itu, Chanyeol merasa pikirannya seringan kapas. Biasanya, pada momen ketika matanya terbuka, yang pertama kali terucap adalah rangkaian keluhan, gerutu tak jelas, bahkan makian.
Chanyeol selalu terbangun dengan kepala berat, mungkin karena ia memendam terlalu banyak masalah dan rasa sakit yang musti ia tanggung sendirian. Dan suasana hatinya tidak pernah baik ketika ia bangun pagi. Ia benci sekolah.
Oh, ayolah. Siapa yang tidak benci sekolah?
Namun jangan salah. Meski berandal, senang membolos dan suka semena-mena, Chanyeol tidak terlalu buruk kok. Malah ia tidak pernah mendapatkan nilai di bawah B minus untuk semua kategori pelajaran. Dia termasuk salah satu murid dengan kategori cukup baik. Semester lalu, ia meraih nilai sempurna untuk ujian praktik alat musik dan meraih nilai B plus untuk vokal. Sementara sisanya, untuk mata pelajaran wajib, ia meraih nilai di atas rata-rata.
Well, setidaknya Park Chanyeol cukup cerdas. Dan asal tahu saja, ia belajar memainkan gitar, drum dan piano secara otodidak. Itulah salah satu keistimewannya. Belum lagi karena suaranya yang rendah, ia bisa melakukan rapp dan beatbox dengan sangat mahir. Pesona Park Chanyeol itu sebenarnya tak terhingga. Heran juga kenapa Kyungsoo sama sekali tidak terjerat.
Oh, ada satu orang, tentu saja. Sayang sekali, karena otak terbelakangnya, Chanyeol sama sekali tidak menyadarinya.
Kembali ke topik awal, Chanyeol yang tak berhenti tersenyum pagi itu segera melangkah menuju kamar mandi. Setelah selesai, ia akhirnya berpakaian, mengenakan seragam wajib musim panas SoPA.
Entah karena alasan apa, senandung bahagia terus bermuntahan di bibirnya, menciptakan melodi acak yang terdengar merdu. Ia beranjak keluar kamar ketika telah selesai berpakaian—hanya untuk mendapati bahwa orang yang berniat untuk dicecarnya pagi ini telah pergi sekolah terlebih dahulu.
Chanyeol tidak bisa menahan sebersit rasa kecewa yang langsung melanda hatinya. Mengerjai Byun Baekhyun itu menyenangkan. Sayang sekali pagi ini Chanyeol tidak bisa mengatainya bodoh lagi.
Jadi, tanpa menunggu lama—bahkan tanpa melirik sarapan hangat yang tergeletak manis di atas meja makan—Chanyeol segera memasuki mobilnya untuk pergi ke sekolah.
"Ayo masuk." Ajak wanita itu ramah. Namanya Lee Hara, dan ia adalah wali kelas IIA, kelas Baekhyun yang baru. Berbeda dengan Song Hyo Min yang mengerikan, Lee Hara lebih memiliki imej seorang guru manis yang cantik, serta penuh perhatian. Rambutnya ikal cokelat sebahu—yang ia ikat menjadi ekor kuda, dibubuhi riasan tipis di wajahnya. Ia mengenakan kemeja satin biru laut dengan rok sepan hitam di bawah lutut. Lee Hara juga masih tampak muda, jenis-jenis mahasiswa intelek berwajah cantik yang akan kau temui di fakultasmu.
Hari ini, Baekhyun sengaja pergi awal-awal sekali—ia menelpon Sekretaris Yoon jam empat subuh dan berkata ia ingin di jemput sebelum jam setengah tujuh, dan anehnya pria tua itu menyanggupinya tanpa banyak tanya—dan alasannya hanyalah satu; Park Chanyeol.
Demi dewa Hades sang penguasa neraka!
Bagaimana mungkin Baekhyun bisa bertatapan dengan wajahnya? Memikirkan tentang kejadian absurd tadi malam sukses membuat rona merah merambat naik ke seluruh wajahnya. Dan yang paling buruk? Ia terjaga hampir semalaman, dengan badan yang masih menggigil akibat hujan. Baekhyun bersyukur karena pusing dikepala dan mualnya telah mereda—terimakasih untuk makanan serta susu cokelat hangat yang dibuatkan oleh Chanyeol—meski masuk anginnya sudah lebih baik, ada masalah yang lebih buruk daripada itu.
"Hatchi!"
Ya, si mungil itu terserang flu. Hidungnya semerah buah ceri.
Melihat Baekhyun bersin, Miss Lee menatapnya prihatin. "Oh, apa kau sakit?"
Baekhyun mendongak dan menggeleng, membuka tasnya yang berwarna cokelat untuk mengambil sapu tangan bersih. Ia bahkan membeli dua kotak tisu bersama Sekretaris Yoon pagi ini dalam perjalanan pergi sekolah. Pria tua itu juga membelikan Baekhyun obat flu, bahkan mereka sempat berhenti sebentar untuk membeli bubur sebagai sarapan, dan Baekhyun memakan sarapannya di mobil.
"Tidak apa-apa, Miss. Hanya flu biasa."
Miss Lee mengangguk, kemudian memberi isyarat kepada Baekhyun untuk mengikutinya masuk kelas. Kelas II A memiliki ruang yang cukup kecil, karena ini adalah kelas elit dengan siswa yang hanya berjumlah sepuluh orang—yang kini menjadi sebelas plus Baekhyun.
Mengekori Miss Lee dari belakang, Baekhyun menunduk takut. Flu benar-benar sesuatu yang dibencinya. Si mungil itu cepat sekali terserang flu, dan meski hanya flu ringan sekalipun, sembuhnya akan memakan waktu yang cukup lama.
Sesekali, Baekhyun akan tersandung tanpa sebab. Baekhyun punya kebiasan buruk. Tidak ada angin tidak ada topan, kakinya biasa memang selalu seperti itu.
Ada sebelas bangku yang disusun menjadi letter U dalam kelas itu, dengan satu meja panjang milik guru diletakkan paling depan sebelah kiri.
"Hey! Bukankah itu murid pindahan yang kemarin siang tersandung di panggung?!" Salah seorang anak berteriak, disusul tawa yang seketika itu memenuhi seluruh ruangan.
Baekhyun memerah sampai ke telinga. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan insiden yang memalukan kemarin siang? Persetan Park Chanyeol. Si tiang jangkung jejadian itu menghantui pikirannya dua puluh empat jam tanpa henti. Omong-omong soal imej, ya, kau hancur, Byun.
"Ayolah, anak-anak." Tegur Miss Lee, kemudian berdiri di depan kelas sembari berdiri di samping Baekhyun. "Dan Kim Jongdae," kata Miss Lee kepada anak yang barusan meneriaki Baekhyun sebagai 'murid pindahan yang kemarin siang tersandung', "hentikan lelucon itu. Dia teman baru kalian sekarang." Miss Lee menoleh kepada Baekhyun, memberi kode untuk memperkenalkan diri.
Baekhyun mengangguk, kemudian membungkuk sedikit. "Halo, namaku Byun—hatchi!" Baekhyun membuat mimik lucu ketika ia bersin, sontak menutup wajahnya dengan sapu tangannya.
Seketika, tawa meledak, disusul dengan berbagai komentar tumpang tindih.
"Namanya Byun Hatchi!"
"Rambutnya lucu sekali!"
"Apa dia baru saja bersin?"
"Dia bodoh, tapi juga imut."
"Tapi namanya Byun Hatchi."
Oh, great. Just great. Seakan insiden tersandung dengan wajah yang sangat tidak elit masih belum cukup, kini Baekhyun kembali mendapat julukan baru; Byun Hatchi. Benar-benar luar biasa. Mungkin seluruh murid di SoPA akan mengenalnya sebagai 'Byun Hatchi yang tersandung di panggung kemarin siang'.
"Bukan Byun Hatchi!" teriak Miss Lee, berusaha meredam tawa di seluruh penjuru kelas. "Namanya Byun Baekhyun, dan sayang sekali sepertinya hari ini dia kurang sehat."
"Maafkan aku." Kata Baekhyun sembari membungkuk lagi. "Aku terserang flu hari ini—hatchi!—dan ugh..." Baekhyun mengusap hidungnya, "senang bertemu kalian."
"Senang juga bertemu denganmu, Byun Hatchi." Seorang gadis yang duduk paling depan dari garis sebelah kanan berkata dengan nada bergurau kepada Baekhyun. Ia memiliki wajah manis dengan rambut hitam yang diombre biru. "Namaku Wendy Son. Omong-omong, kemarin siang kau keren sekali!" Wendy mengedipkan sebelah matanya dan mengacungkan salah satu jempolnya kepada Baekhyun.
Baekhyun terkekeh kecil, kemudian memberikan senyum manisnya sebagai balasan. "Halo, Wendy."
"Halo, selamat datang di kelas II A. Aku Kyungsoo." Duduk di sebelah Wendy adalah pria dengan tubuh kecil dan mata bulat lebar, tengah tersenyum kepada Baekhyun.
Baekhyun speechless, meski teman-teman barunya menjadikannya bahan gurauan, setidaknya mereka baik.
"Miss Lee." Pria yang tadi meneriaki Baekhyun, kini mengacungkan tangan tinggi-tinggi dan berkata, "dia duduk di sini saja! Ayo, murid pindahan! Sini-sini." Pria itu menunjuk bangku di sampingnya, yang berposisi tepat di tengah bangku-bangku yang lain, karena bangku tersebut disusun seperti huruf U. Meski seringai jahil terus menghiasi wajahnya, namun nampaknya ia cukup baik.
"Kim Jongdae, jangan main-main. Aku menyuruh Miss Song untuk meletakkan bangku Baekhyun di depan. Kenapa sekarang bangkunya ada di sampingmu?"
Jongdae terkekeh. "Oh ayolah, Miss. Kenapa Baekhyun tidak boleh duduk di sampingku?" Jongdae melemparkan raut wajah sakit hati kepada Miss Lee.
"Tidak apa-apa, Miss Lee. Aku akan senang duduk di sampingnya." Potong Baekhyun cepat sebelum Miss Lee mengajukan seribu protes kepada Jongdae.
"Lihatkan, Miss?" Jongdae berujar dengan wajah pongah, "bahkan murid pindahan pun lebih mencintai Chensing Machine."
Miss Lee memutar bola matanya sementara Baekhyun terkikik kecil, kemudian ia menoleh kepada Baekhyun. "Pokoknya, kalau Jongdae mengerjaimu, laporkan saja padaku. Dia anak paling berbakat di sini, namun sayang sekali otaknya agak sedikit miring."
Baekhyun tertawa kecil. Demi wajah idiot sekaligus tampan Park Chanyeol, ia menyukai kelas barunya! Dan semerta-merta, Baekhyun mengangguk kecil. "Ya, Miss. Terimakasih."
Wanita itu kemudian meninggalkan kelas untuk sementara waktu, memberi jeda beberapa menit sebelum pelajaran pertama yang akan di mulai. Baekhyun, yang kini memerah tanpa alasan, melangkah ke tengah-tengah ruangan yang dibiarkan kosong dan berjalan lurus menuju bangkunya—tepat di samping Jongdae.
Tepat pada momen Baekhyun mendudukkan bokongnya di atas bangku, serentak seisi ruangan mengerumuninya.
"Jadi namamu Baekhyun? Aku Seulgi." Sama seperti Wendy, gadis yang bernama Seulgi mempunyai rambut panjang dengan ombre. Bedanya, ombre Wendy berwarna biru dan Seulgi berwarna oranye.
Baekhyun mengangguk, rona menjalari wajahnya. Sekelilingnya dipenuhi orang-orang dengan tatapan penasaran sekaligus kagum.
"Omong-omong, murid pindahan," kata pria di sampingnya, yang ia kenali sebagai Jongdae, "aku Kim Jongdae, ketua kelas di sini. Tapi aku akan senang bila kau memanggilku Chen saja."
Lalu Jongdae mulai menunjuk satu-satu muka penasaran yang tengah mengelilinginya.
"Ini Wendy dan Seulgi, kau sudah tahu pastinya. Mereka akan debut dalam dua minggu di bawah naungan SM Entertaiment dengan nama Red Velvet." Jongdae menunjuk orang yang bersangkutan, dan Baekhyun mengangguk dan berdecak kagum dengan mimik lucu. Kemudian ia menunjuk pria yang paling diam di antara mereka, dengan mata bulat dan senyum yang berbentuk hati, Jongdae memperkenalkannya sebagai Kyungsoo.
Kemudian Jongdae melanjutkan dengan memperkenalkan Yuta, Taeyong dan Jaehyun. Sementara sisanya adalah gadis dengan wajah cantik dan bersuara emas, Krystal, Seohyun dan Amber—ralat. Amber tampak seperti gadis, namun wajahnya terlihat lebih maskulin daripada feminin. Padahal Baekhyun tahu pasti dia seorang gadis. Hanya saja karena gayanya yang agak sedikit tomboy, membuatnya tampak seperti cowok cantik.
Anehnya, Baekhyun bisa menghapal nama-nama itu dalam sekejap.
Mereka kemudian bersahut-sahutan mengatakan selamat datang kepada Baekhyun, yang hanya ditanggapi dengan senyum malu dan wajah yang memerah.
Untuk sebuah perubahan, ini tidak buruk juga. Pikir Baekhyun, sementara senyum manis menghiasi tak henti wajahnya.
Chanyeol harus bertemu petaka bernama Kim Jongdae ketika jam istirahat pertama dimulai. Seharian itu dia resah bukan main karena tidak menemukan sosok mungil dengan surai magenta dimanapun.
Maka, ketika bel istirahat berbunyi, ia mengikuti Kris yang bermain basket di lapangan tengah bersama Yixing. Luhan dan Sehun lebih memilih pergi ke kafetaria. Satu-satunya alasan kuat kenapa ia mengikuti Kris adalah karena ia hanya ingin mencari seseorang. Kalau di lapangan, matanya bisa melihat dengan jelas segala penjuru sekolah. Jadi, daripada duduk di tengah lapangan sendirian dan mengundang banyak kecurigaan, lebih baik ia pura-pura ikut bermain basket. Lagipula sudah lama terakhir kali ia bermain basket bersama Kris. Chanyeol menguasai basket lumayan baik, namun Kris jauh lebih hebat, apalagi Yixing.
Dan saat itulah petaka itu muncul. Membawa petaka lain, yang Chanyeol yakini bernama Do Kyungsoo.
Chanyeol harus terpaku selama beberapa saat ketika ia melihat sosok bertubuh kecil di balik tubuh Jongdae.
"Kau masih punya hutang padaku, kau ingat?" tembak Jongdae langsung tanpa basa-basi.
Tentu saja aku ingat, brengsek.
Chanyeol mengangguk kecil, sembari merebut bola dari Kris yang menggerutu marah, lalu men-dribble bola itu pelan, tidak memperdulikan Jongdae.
"Temani aku ke Rainbow Cream sepulang sekolah ini, Chanyeol." rengek Jongdae.
Chanyeol mengoper bolanya kepada Yixing. "Nice shoot!" puji Yixing.
"Rainbow Cream?" Chanyeol menaikkan sebelah alisnya.
"Ya, kedai es krim."
"Aku juga akan pergi." Sahut Kyungsoo buru-buru, dan Chanyeol hanya menatapnya malas.
"Lalu?" kata Chanyeol, menerima operan lagi dari Yixing.
Kyungsoo mendongak, menatap Chanyeol sembari tersenyum. "Aku ingin kau ikut."
Hampa. Tidak terasa apapun.
"Uh," baiklah. "Kau yang traktir, Chen." Kata Chanyeol. "Ini hanya karena aku masih berhutang padamu. Setelah ini kita impas."
Jongdae tersenyum lebar, menepuk pundak Chanyeol. "Thanks, bro." Lalu Chanyeol bersikap dingin lagi, tidak memperdulikan Kyungsoo sama sekali. Ia tidak ingin melakukan ini, tapi Chanyeol merasa harus melakukannya. Lucu juga bagaimana persahabatan yang telah dijalin lama bisa hancur dalam sekejap. Chanyeol kemudian tersadar, meski telah berteman lama dengan Kyungsoo, baik dirinya dan diri Kyungsoo tidak pernah mengenal satu sama lain dengan baik. Label mereka hanya teman, tidak lebih.
Ini lucu sekali. Mengingat label teman itu ternyata sangat dangkal.
Melihat atmosfer di antara keduanya yang kian mendingin, Jongdae berkata, "Oh ayolah, apa kalian masih bertengkar?"
Mendengar itu, Kyungsoo tertawa kecil. "Ya, sepertinya begitu, Chen. Dia patut marah padaku. Aku berbohong padanya."
Jongdae tersedak ludahnya sendiri.
Chanyeol malah lebih shock lagi. Kyungsoo tahu bahwa Chanyeol marah kepadanya selama ini, dan ia hanya diam saja? Bahkan menanggapinya dengan tawa cerah seperti itu? Astaga, Chanyeol tak habis pikir. Kyungsoo bukan orang jahat, dan Chanyeol tidak ingin membencinya. Tapi yang jelas ia marah sekarang.
Jadi, sembari tersenyum dingin, Chanyeol menoleh kepada Kyungsoo dan berkata, "baguslah kalau kau tahu, Kyungsoo."
Kemudian Chanyeol membuang wajah, berusaha mengalihkan wajah kerasnya agar Kyungsoo tidak melihatnya. Dan pada saat itulah, bagaikan sebuah keajaiban, si mungil bersurai magenta muncul entah dari mana. Chanyeol hampir mendesah lega, entah untuk alasan apa. Wajar saja bukan, Chanyeol ingin sekali menggoda dan mengerjainya lagi. Melihat wajah damai Baekhyun, membuat senyum kecil mengembang di bibir Chanyeol. Terang saja, Chanyeol sudah mencari si pendek itu hampir seharian ini—dengan alasan untuk mengerjainya, tentu saja.
Baekhyun tengah duduk di tepi lapangan, sendirian, melihat ke awan-awan dengan tatapan menerawang. Sembari memejamkan mata, Baekhyun seakan hidup dalam dunianya sendiri, menikmati bagaimana angin membelai surainya dengan lembut. Sesekali ia akan menutupi wajahnya dengan sapu tangan, dan kening Chanyeol harus berkerut dalam karena ia tidak tahu kenapa Baekhyun melakukan itu.
Sial. Chanyeol baru melihatnya sekarang, dan ia menyesali kenapa ia tidak melihat Baekhyun dari pagi. Karena demi apapun, dia tampak luar biasa imut dengan seragam SoPA yang melekat sempurna di tubuh pendeknya. Mungkin karena ia punya kulit yang putih, maka baju warna apapun akan tampak cocok saja untuknya. Apalagi jika itu sweater kedodoran Chanyeol—ugh, memikirkannya saja membuat Chanyeol mengeringai. Ia jadi membayangkan bagaimana jika Baekhyun memakai sweater abu-abu favoritnya. Pasti tubuh pendeknya akan tenggelam lantaran sweater itu besar.
Jadi, diam-diam, Chanyeol tersenyum lagi.
Dari jarak yang cukup jauh itu, ia bisa melihat jelas sosok Baekhyun. Bagaimana senyum manisnya tercetak dengan sempurna, serta surai magentanya yang tampak berkilau ditempa sinar matahari.
Dari jarak yang cukup jauh itu pula-lah, mata Chanyeol bisa menangkap salah seorang murid yang tadinya tengah mengepel lantai koridor dua, kini meletakkan ember besi berisi air kotor di tepian papan. Ia meletakkan ember itu terlalu ke tepi, sehingga jika dengan sekali sentuhan, ember itu bisa saja jatuh.
Jika ember itu jatuh, seluruh isinya akan tumpah ruah mengenai seseorang di bawahnya—atau lebih parah, ember besi yang cukup berat itu akan menghantam kepalanya.
Baekhyun. Tidak. Jangan.
Embernya oleng.
Kalau seseorang tidak bertindak sekarang, Byun Baekhyun yang tengah terbalut seragam barunya akan basah kuyup seperti semalam, dan ia akan mulai menggigil lagi.
Kau benci melihat Baekhyun menggigil, 'kan?
Jadi, tanpa memperdulikan ocehan Jongdae tentang ia dan Kyungsoo yang harus segera berbaikan karena mereka sahabat, serta teriakan Kris ketika ia hendak mengoper bola, Chanyeol mulai berlari—tepat ketika ember besi berukuran lumayan besar itu terjun bebas ke bawah.
Chanyeol mendapati bahwa dunianya serasa tuli. Ia tidak mendengar apapun selain deru nafas dan degup jantungnya yang kian menggila. Ia juga tidak pernah berlari secepat ini sebelumnya, seakan-akan hidupnya digantungkan kepada sosok manis yang kini tengah memejamkan mata, menikmati bagaimana desau angin membelai wajahnya.
Sedikit lagi. Kau bisa melakukannya. Kau bisa menyelamatkannya.
Tepat ketika ember besi itu hendak menghantam kepala Baekhyun, Chanyeol telah terlebih dahulu meraih tangannya dan mendekapnya begitu saja, membawa tubuh mungilnya memutar menjauhi cipratan air, melindungi tubuh mungilnya dengan tubuhnya yang besar. Sedikit cipratan air kotor mengenai seragam Baekhyun—dan membasahi hampir sebagian sweater musim panas Chanyeol—tapi setidaknya Baekhyun tidak terluka.
Dari seberang sana, Kris berteriak. "HEI CHANYEOL! APA YANG KAU—"
"Astaga, itu hampir saja." Yang ini sahutan polos Yixing.
Tak mau kalah, Kim Jongdae juga ikut-ikutan menyalak. "Bukankah itu Byun Hatchi?! ASTAGA APA DIA BAIK-BAIK SAJA?"
Tidak melepaskan pelukannya, Chanyeol menunduk dan menatap beringas sosok manis yang tengah mengerjapkan matanya berkali-kali, tampak linglung dan belum loading dengan keadaan sekitarnya.
Lalu, si pria jangkung bersurai segelap malam berteriak marah, "kenapa kau bodoh sekali?!"
Begitu bel istirahat berbunyi, beberapa teman kelas Baekhyun—Taeyong, Wendy dan Jaehyun—mengajaknya pergi ke kafetaria untuk makan siang. Baekhyun tidak terlalu lapar, dan ia masih saja bersin-bersin. Ia tidak ingin membuat orang yang tengah makan disekitarnya mendadak terganggu lantaran jijik karena ia terus-terusan membuang virus flu—jadi ia menolak dengan halus.
Ada satu lagi alasan kuat kenapa Baekhyun menolak—pria dengan tinggi tak manusiawi dengan surai segelap malam yang kini tengah bermain basket dengan sangat keren di tengah lapangan. Ia bermain basket bersama Yixing dan satu lagi pria berwajah blaster dengan rambut pirang.
Untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan, Baekhyun merona.
Baekhyun menyukai bagaimana senyum lepas menghiasi wajah Chanyeol ketika ia mengoper bola, melakukan dribble atau melakukan dunk—membuat pria blaster bersurai pirang itu berteriak marah karena Chanyeol baru saja merebut bolanya dan kemudian melakukan dunk. Baekhyun ingin melihat lebih dekat, jadi ia turun ke lantai satu dan dengan sengaja duduk di tepian lapangan.
Sayang sekali Chanyeol sepertinya tidak menyadarinya—namun tidak apa-apa. Sepertinya Chanyeol sedang sibuk berbicara dengan dua orang yang Baekhyun kenali sebagai ketua kelasnya—Jongdae—dan Kyungsoo. Beberapa saat kemudian, ekspresi Chanyeol berubah menjadi keras dan masam. Bahkan dari jarak yang cukup jauh pun, Baekhyun bisa membaca ekspresi itu.
Lalu ketika Chanyeol menoleh, Baekhyun terkesiap dan ia tersedak—kemudian bersin sebanyak dua kali. Kombinasi antara musim panas dan flu memang benar-benar tidak mengenakkan. Udara hangat di siang hari membuat ia terus-terusan harus mengendus ingusnya agar tidak meleleh—ya, katakanlah ia menjijikkan. Lagipula Baekhyun sudah meminum obat flunya tadi pagi, dan Sekretaris Yoon berkata bahwa obat itu bisa membuatnya mengantuk. Namun sampai saat ini pun, mata Baekhyun masih terbuka segar.
Jadi Baekhyun pura-pura mendongak dan memejamkan matanya, seakan-akan ia tengah menikmati hangatnya cuaca musim panas—padahal ia setengah mati membuang muka agar Chanyeol tidak tahu bahwa ia telah mengawasinya dari tadi.
Beberapa detik yang terasa lama kemudian berlalu. Baekhyun bahkan belum sempat membuka matanya ketika seseorang menariknya dengan kasar hingga tubuhnya seperti terasa melayang, kemudian tubuhnya di dekap oleh seseorang begitu saja—disusul bunyi berkelontang antara besi yang sepertinya menghantam semen—lalu cipratan air kotor dimana-mana.
Aroma maskulin bercampur dengan parfum dan shampoo menyeruak indera penciumannya. Dan Baekhyun tidak perlu membuka mata untuk tahu siapa dia.
Masih dengan sebelah tangan yang memegang sapu tangan, Baekhyun kemudian mendongak. Mengerjap beberapa kali karena situasi saat ini sungguh membingungkan—menatap wajah keras Chanyeol yang tampak marah.
Kemudian, tahu-tahu saja si jangkung itu sudah membentak kasar. "Kenapa kau bodoh sekali?!"
Baekhyun mengerjap lagi, membuat gestur yang tampak sangat imut dan manis, meski ia sama sekali belum mengerti situasinya.
Chanyeol masih menatapnya tajam, dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Apa kau terluka?" bisiknya dengan suara rendah yang berbahaya, membuat Baekhyun merinding karena sapuan hangat napas Chanyeol bisa ia rasakan di seluruh wajahnya.
Baekhyun gelagapan, berbisik halus, tak mengerti. "Apa? Tapi kena—ada apa? Kenapa kau—hatchi!" Baekhyun memaki dalam hati, merutuki flu bodohnya.
Eskpresi Chanyeol melunak. Manik gelapnya berkilat-kilat, menatapi Baekhyun tanpa henti. "Kau terkena flu?" suaranya hampir berupa bisikan dan ada nada tak percaya serta khawatir terkandung didalam kalimat tersebut.
Kemudian, barulah Baekhyun menyadari situasinya—tepat ketika ia melihat sebagian sweater dan seragam Chanyeol dibasahi oleh noda cokelat yang tampak kotor. Meski tidak tahu kejadian persisnya seperti apa, namun yang pasti otak Baekhyun mencerna satu hal: Chanyeol baru saja menyelamatkannya. Lagi.
Chanyeol menyelamatkannya, dan akibatnya, bajunya sendiri basah dan kotor.
"Apa kau bisu?!" Chanyeol berbisik tajam. "Aku tanya apa kau baik-baik saja!"
"Aku—astaga maafkan aku." Baekhyun balas berbisik dengan nada memelas, melepaskan diri dari dekapan Chanyeol dengan wajah semerah tomat. "Kau basah! Aku—aku tidak tahu apa yang—hatchi!—maafkan aku! Bagaimana ini? Seluruh tubuhmu basah! Kau harus ganti baju, atau kau bisa masuk angin. Apa kau memba—hatchi!" Baekhyun berusaha untuk berbicara dengan jelas, meski susah karena mendadak saja lidahnya kelu, belum lagi hidungnya terasa gatal dan ia jadi bersin-bersin.
Jadi, dengan panik, Baekhyun menepuk seragam Chanyeol yang kini basah, berusaha menepis setidaknya sedikit air yang dan kotoran yang menempel di sweater dan seragamnya. Wajahnya penuh rasa bersalah, sesekali ia akan menggigit bibir, merengek takut, "bagaimana ini? Bajumu basah, maafkan aku. Sungguh, astaga bagaimana ini?" berulang kali.
Chanyeol bergeming, menatap intens Baekhyun yang hidungnya memerah akibat flu—ralat, bukan hanya hidungnya, namun seluruh wajahnya—dan Chanyeol mati-matian untuk tidak tertawa.
Bagaimana seseorang bisa tampak begitu menggemaskan?!
"Aku tidak apa-apa, pendek." Bisik Chanyeol halus. Meski wajahnya masih tampak dingin, namun pancaran hangat dari manik hitamnya tidak bisa membohongi Baekhyun. "Tenangkanlah dirimu. Aku tidak apa-apa." Lalu begitu saja, tangan Chanyeol terangkat untuk menepuk sayang surai magenta Baekhyun.
Baekhyun terpaku, tangannya menggantung di udara. Ia merasakan sesuatu menggelitik perutnya. Tangan Chanyeol yang hangat, besar dan nyaman menepuk kepalanya, dan ia menyukainya. Rasanya benar-benar menakjubkan. Kembang api seakan baru saja meletup tepat di depan matanya, menghantarkan sejuta perasaan yang luar biasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Chanyeol tidak sadar, bahwa aksinya ditonton seluruh murid. Meski mereka berada agak jauh di antara murid yang lain—jelas mereka tidak akan mendengar pembicaraan Chanyeol dan Baekhyun, belum lagi karena keduanya berbicara dalam nada pelan yang hampir menyerupai bisikan—namun pastinya mereka melihat jelas gestur tubuh keduanya.
"Um, Chanyeol." bisik Baekhyun sembari menunduk malu-malu, "kita jadi tontonan."
Bahkan Kyungsoo, yang jelas tidak pernah melihat Chanyeol peduli kepada orang lain selain kepada dirinya sendiri dan ketiga sahabatnya, kini menganga lebar. Lalu Kyungsoo mengangguk halus dan tersenyum. Ia mengerti sekarang.
"Aku tahu," Chanyeol tersenyum. Senyum tulus, yang terlihat berjuta-juta kali lebih tampan dari sebelumnya. Bukan hanya senyum tulus, manik hitamnya juga menatap Baekhyun hangat, seakan-akan Chanyeol berusaha menenangkannya. Chanyeol yang selalu tampak dingin dan menyebalkan saja sudah terlihat sangat tampan—apalagi jika dia tersenyum seperti ini.
Lalu, untuk pertama kalinya, dunia Baekhyun serasa berhenti berputar—matanya hanya menatap fokus kepada sosok jangkung bersurai segelap malam yang sedang berdiri di hadapannya.
Itu menjelaskan semuanya, pikir Chanyeol. Alasan kenapa Baekhyun terus-terusan menutup wajahnya dengan sapu tangan. Sementara Baekhyun panik dan terus menggumamkan beribu maaf dan kalimat random—jangan lupakan ekspresi imutnya ketika ia bersin—kemudian menepuk-nepuk seragam Chanyeol yang basah dan kotor, Chanyeol berkata, "aku tidak apa-apa, pendek. Tenangkanlah dirimu. Aku tidak apa-apa." Mendadak saja Chanyeol seperti merasa punya kewajiban untuk membuat Baekhyun tenang.
Meski merasa sedikit bersalah karena penyebab flu Baekhyun pasti adalah karena ia hujan-hujanan kemarin malam, Chanyeol juga tidak bisa menyangkal bahwa ia menyukainya. Chanyeol bahkan merasa bahwa Baekhyun tampak seribu kali lebih imut dengan hidung semereh ceri dan semburat yang menghiasi pipi mulusnya.
Terimakasih, flu. Kau membuat sosok yang sudah manis menjadi berjuta kali lipat lebih manis dari sebelumnya.
Jadi, tanpa bisa menahan hasratnya, Chanyeol menepuk surai magenta Baekhyun yang terasa halus—hampir-hampir terasa seperti helaian sutra di tangannya. Dan Chanyeol harus menahan untuk tidak berteriak girang sembari mengepalkan tangannya ke udara, karena hal ini sudah sangat ingin ia lakukan sejak dulu. Entah kapan persisnya, Baekhyun menjadi seseorang yang membuat Chanyeol setengah mati merasa kesal, namun tak ayal juga Chanyeol tak pernah berhenti memikirkannya.
Baekhyun kini tengah berdiri dan menunduk gusar—sesekali mendongak dan menatapnya malu-malu. Chanyeol sendiri bahkan mengakui bahwa ia tidak lagi berniat untuk menyangkal apapun, dan terang-terangan menatap Baekhyun layaknya orang yang baru saja dimabuk cinta.
Cinta.
"Um, Chanyeol ... kita jadi tontonan." Bisiknya halus.
Chanyeol tersenyum. "Aku tahu."
Ya, ia tahu benar bahwa apa yang baru saja dilakukannya pasti selalu ada konsekuensinya. Dan skenario terburuk yang bisa ia pikirkan adalah berjuta-juta pertanyaan yang dilontarkan tiap-tiap orang kepadanya, termasuk Kris, Sehun dan Luhan, atau mungkin bisa jadi si bodoh Kim Jongdae dan Kyungsoo.
Untuk sekarang, ia hanya ingin melakukan apapun yang diinginkannya.
Live for the moment, orang-orang bilang. Doesn't matter what will happen next. Yang penting ia bahagia, karena untuk sekali saja, Chanyeol tidak ingin menjadi pecundang dan pengecut bodoh lagi, seperti yang telah ia lakukan beberapa tahun terakhir.
Baekhyun melirik sekitarnya takut-takut, kemudian berbisik sepelan mungkin, memastikan bahwa yang mendengar hanyalah mereka berdua. "Apa ini tidak apa-apa? Kau sendiri yang bilang kalau ... yah, kau tahu apa yang kumaksud. Kalau kau tidak ingin ini terus berlanjut, aku bisa berakting dan melakukan sesuatu."
"Apa yang akan kau—"
"DASAR KAU PRIA BODOH MESUM!" Baekhyun sontak berteriak lantang, kemudian mendorong dada bidang Chanyeol kuat-kuat—tampak sangat lucu karena Baekhyun tidak berhasil mendorong sesenti-pun tubuh Chanyeol kebelakang. Alih-alih membuat Chanyeol terdorong, malah dirinya sendiri yang terpental—sama saja ketika ia mendorong tembok Cina. Mustahil. Ia tampak bodoh dan menggemaskan. Chanyeol jadi ingin melindunginya.
Jadi, setelah mendengar teriakan cempreng Baekhyun, Chanyeol hanya membelalak kaget dengan mulut terbuka—sama sekali tidak elit.
Menatap Chanyeol dengan sengit penuh permusuhan, Baekhyun kemudian melanjutkan, "Kau pikir siapa kau, seenak-enaknya menyentuh orang? Aku—hatchi!—aku tahu aku murid pindahan, tapi kau ti—hatchi!—tidak seharusnya melakukan ini! Bajingan, aku membencimu!"
Lalu sebelum si mungil berbalik, ia mengedipkan sebelah matanya kepada Chanyeol dan berbisik pelaaaaaaan sekali, "ganti bajumu, bodoh. Kau bisa masuk angin." Kemudian begitu saja, ia pergi dengan raut wajah kesal (aktingnya benar-benar luar biasa karena terlihat begitu nyata) dan menghentak-hentakkan kakinya marah—hanya untuk tersandung sebanyak tiga kali.
Meninggalkan Chanyeol yang melongo lebar.
Lalu, ketika Chanyeol akhirnya mengerti dengan situasinya, ia mati-matian untuk tidak tertawa keras lalu berlari untuk menyusul si mungil—barangkali sekalian mencubiti pipi gemuknya karena gemas, lalu mengatainya bodoh lagi karena ia tersandung tanpa sebab. Chanyeol sadar benar bahwa ia adalah orang pertama yang mengancam Baekhyun untuk tutup mulut, agar seisi sekolah tidak tahu hubungan mereka—ugh, yang benar saja. Ini terdengar mengerikan. Seakan-akan ia memiliki affair dengan Baekhyun. Lagipula, awalnya Chanyeol berniat untuk berpura-pura tidak mengenal Baekhyun di sekolah—namun lihatlah sekarang siapa yang menjilati ludahnya sendiri.
Jadi, tidak mau kalah karena akting Byun Baekhyun yang luar biasa, Chanyeol juga berusaha memasang wajah kesal sekaligus mengerikannya—mengeluarkan aura pembunuh di sekitar tubuhnya.
Ketika Kris mendekatinya, pria itu memicingkan matanya dan menatap Chanyeol curiga—diikuti oleh Yixing, Kyungsoo dan Jongdae.
"Apa?" kata Chanyeol, memasang tampang bodoh.
"Astaga, aku tidak tahu kalau Baekhyun bisa menjadi segalak itu." Yixing berkomentar polos—jelas percaya dengan akting bodoh Chanyeol dan Baekhyun, tidak terpengaruh sama sekali dengan adegan 'menepis air kotor' milik Baekhyun dan adegan mesra 'menepuk kepala dengan sayang' milik Chanyeol. Mungkin Yixing kelewat polos, bahkan orang bodoh pun sepertinya tahu bahwa ada something di antara mereka.
"Kau mengenalnya?" Kris bersuara tak percaya. "Kenapa semua orang mengenal si murid pindahan kecuali aku?!" kemudian pria Kanada berdarah Tionghoa itu menysisir surai blonde-nya ke belakang sembari menggerutu tak jelas.
Yixing mengangguk. "Ya, hari pertama dia datang dia kelihatan linglung sekali. Junmyeon menyuruhku untuk mengantarnya ke ruang guru."
"Byun Hatci teman sekelas kami berdua, omong-omong." Jongdae ikut menyambung.
"Byun Hatchi?" Chanyeol, Kris dan Yixing serentak bertanya dengan ekspresi bingung.
"Ah, ya. Tadi pagi waktu dia memperkenalkan diri di depan kelas, dia menyebut dirinya Byun—hatchi!" Jongdae berkata sembari menduplikat semua mimik lucu Baekhyun tadi pagi, seakan-akan dia juga ikut terkena flu. "Dia bersin, flu."
Sontak, ketiga yang lain, kecuali Kyungsoo, mengangguk dengan wajah idiot. Sementara Chanyeol hampir melepaskan senyum kecil dari bibirnya. Hampir. Sial. Baekhyun pasti lucu sekali.
Kyungsoo mengangguk membenarkan. "Tapi Chanyeol sepertinya telah mengenalnya lama, ya? Kau sampai berusaha menyelamatkanya seperti itu."
Skakmat.
"Tidak." Bantah Chanyeol, memasang wajah setenang dan sedatar air.
Jongdae ikut-ikutan memicingkan matanya, menatapnya penuh selidik. "Sungguh? Lalu kenapa kau menepuk kepalanya seperti itu?"
Chanyeol berusaha untuk menanggapi dengan santai dan mengangkat bahunya acuh. "Rambutnya lucu sekali." Brengsek. Hanya itu yang bisa dimuntahkan Chanyeol dari bibirnya. Kedengaran murahan dan bodoh sekali. Sial, Park Chanyeol. Kau bodoh sekali. Kau terdengar seperti orang mesum, kau tahu?!
Kemudian, Yixing tersenyum dan mengangguk. "Kalau itu, aku setuju. Baekhyun memang tampak lucu sekali." Terimakasih, Yixing dan segala kepolosannya! Pantas saja si ketua osis sampai jatuh cinta padanya. Chanyeol juga akan senang hati mengumumkan kepada dunia bahwa Yixing adalah teman sekelas favoritnya. Chanyeol hampir menangis haru, sungguh. Setidaknya Yixing tidak bertanya aneh-aneh kepadanya.
Kris, yang jelas masih tidak mau percaya, kemudian berkata, "lalu kenapa dia berteriak heboh begitu kepadamu, Park?"
Chanyeol mengangkat bahu lagi. "Dia tidak suka rambutnya di sentuh. Sial. Dia mengataiku mesum."
Kris menyeringai. "Oh, kalau yang itu memang benar. Murid pindahan mempunyai mata yang cukup jeli, ternyata."
"Brengsek, hyung. Tutup mulut." Salak Chanyeol marah.
Kyungsoo, yang selalu menjadi paling diam, akhirnya melakukan sesuatu. Ia mendekati Chanyeol, hendak menyentuh seragamnya yang kotor dan basah, namun Chanyeol dengan cepat menghindar. Tangan Kyungsoo menggantung di udara, belum sempat menyentuh seragam Chanyeol. Atmosfer canggung kemudian menyelimuti mereka lagi. Kyungsoo berdeham. "Apa kau baik-baik saja, Chanyeol? Sebaiknya cepat ganti bajumu. Apa kau membawa baju gan—"
"Tentu, Kyungsoo. Aku bisa mengurus diriku sendiri." Chanyeol memotong dengan cepat. Lalu mulai berbalik dengan seringai menghiasi wajahnya. Ia kemudian menoleh ke belakang, "ayo, Kris hyung. Kita pergi."
Kris melongo dengan wajah tidak elit untuk sementara, kemudian mulai mengekori Chanyeol.
Dari belakang, Jongdae berteriak heboh."Hey Park, jangan lupa janjimu! Kita ke Rainbow Cream setelah pulang sekolah!"
Tanpa berbalik, Chanyeol melambaikan tangannya lalu menggerutu. "Ya, ya, ya, terserah kau saja."
Kemudian, ketika sosok Kris dan Chanyeol telah menjauh, Kyungsoo mendesah sedih. "Sepertinya dia marah sekali padaku ya, Chen?"
Jongdae mengangguk, menatap Kyungsoo tak sampai hati. "Maafkan aku, Soo. Aku hanya tidak bisa berbohong padanya. Dia keliahatan kacau sekali hari itu."
Kyungsoo tersenyum kecil lalu mengangguk memaklumi. "Tidak apa-apa, Chen. Aku tidak pernah menyalahkanmu. Lagipula, yang benar-benar patut di salahkan itu aku. Chanyeol ... orang yang baik. Dia selalu sukarela menjadi tameng pelindungku."
"Dia menyukaimu sejak lama, Soo. Kau tahu kan?"
"Orang bodoh pun bisa melihatnya." Kyungsoo berkomentar kecil. "Tapi itu dulu, kurasa sekarang tidak lagi."
Jongdae menaikkan sebelas alisnya, tak mengerti. "Apa maksudmu?"
"Aku menyukai Chanyeol," aku Kyungsoo. "Tapi dalam konteks yang berbeda."
Jongdae kemudian membalasnya dengan gerutu. "Berhentilah berbicara seperti itu, kalian membuatku pusing, astaga."
Kyungsoo tertawa pelan sebagai respon, tidak menjelaskan lebih lanjut. Sama seperti Chanyeol, selama ini Kyungsoo juga menunggu. Ia terlalu nyaman dengan sikap Chanyeol yang hangat dan menyenangkan. Brengsek memang, namun Kyungsoo tidak memberi banyak respon untuk perasaan Chanyeol. Terdengar sangat jahat? Ya, Kyungsoo mengakuinya. Namun ia senang menarik-ulur Chanyeol. Kyungsoo selalu tahu bahwa Chanyeol menganggapnya lebih. Tidak peduli apapun itu, entah itu mereka bertengkar dan biasanya Kyungsoo yang selalu memulai pertengkaran, Chanyeol akan selalu datang kepadanya, meminta maaf, padahal itu sama sekali bukan salahnya. Ia senang melihat Chanyeol mengejarnya terus, seperti anjing peliharaan yang patuh, seakan Kyungsoo adalah barang berharga yang sulit untuk dicapai. Mengejar Kyungsoo sama saja dengan mengejar awan.
Kyungsoo besar kepala.
Dan mulai hari ini, Kyungsoo akhirnya mengerti dengan apa yang orang sebut-sebuh sebagai karma. Karena ia tahu, Chanyeol tidak akan bertindak sama lagi seperti dulu.
Karena Chanyeol telah menemukan seseorang yang bukan hanya ia sayangi, namun juga menyayanginya balik.
Jadi, Kyungsoo tersenyum pahit.
Karma.
Baekhyun harus mengulang kalimat itu berkali-kali, sepanjang hari, setiap detik, setiap menit dan jam yang berlalu.
Chanyeol menepuk kepalanya.
Bukan hal yang patut dipermasalahkan, sebenarnya. Hanya saja, Baekhyun tidak berhenti memerah sampai ke ujung telinga.
Baiklah, sekali lagi. Hanya untuk memastikan bahwa semuanya nyata.
CHAN—FUCKING—YEOL IS JUST PATTING HIS FUCKING HEAD.
"Tarik napas, tidak apa-apa. Bernapas." Bisik Baekhyun hati-hati, tidak ingin dirinya mati muda hanya karena terus-terusan menahan napas. Kalimat yang satu ini mendapat delikan curiga dari pria yang duduk di samping kanan dan kirinya—Kim Jongdae dan Lee Taeyong. Beruntunglah hari itu berlalu dengan begitu cepat, karena hari Jumat murid SoPA selalu pulang awal untuk menyambut weekend. Meski begitu, dengan kondisi yang agak down—ingusnya tidak mengering dan ia masih bersin-bersin—ia tetap harus bekerja di Rainbow Cream hari ini.
Tidak menunggu lama—jelas karena ia sedang tidak ingin berpas-pasan dengan tiang listrik jejadian bernama Park Chanyeol—Baekhyun segera bergegas menaiki bus-nya untuk menuju Rainbow Cream.
Seperti biasa, Minseok akan menyambutnya dengan wajah cerah, dan kemudian diikuti dengan gerutuan ketika mengetahui Baekhyun terserang flu. Lalu tahu-tahu saja Minseok melarang Baekhyun bekerja hari ini—yang jelas-jelas ditolak Baekhyun mentah-mentah.
Entah kapan persisnya, Minseok sudah menelpon Choi Jinri, salah satu pekerja paruh waktu di Rainbow Cream selain Baekhyun—jika Baekhyun bekerja dari hari Rabu hingga Jumat, maka sisanya adalah jatah Jinri, kecuali Minggu karena mereka tutup. "Yeobseo, Jinri-ssi? Maafkan aku menganggu day off-mu. Tapi Baekhyun kurang sehat hari ini. Apa kau bisa menggantikannya?"
Kemudian diam sejenak, sementara Baekhyun yang jelas benci ketika jatah kerjanya diambil, kini protes sembari berteriak-teriak tak senang.
"Ya, ya. Terimakasih. Maaf sekali lagi, Jinri-ssi, karena sudah merepotkanmu."
Lima belas menit setelahnya, seorang gadis manis dengan rambut ikal sebahu muncul, senyum cerah terpapar jelas di wajahnya. Ia mengucapkan salam keras-keras, kemudian duduk di belakang kasir tanpa memperdulikan Baekhyun yang kesal setengah mati.
"AKU TIDAK AKAN PULANG—hatchi!" Baekhyun berteriak merajuk, kini telah lengkap dengan seragam Rainbow Cream-nya.
Minseok memutar manik hazel-nya kesal. "Terserah kau saja. Asal kau duduk diam dan jangan lakukan apapun."
Baekhyun mengepalkan kedua tangannya ke depan dada, membuat gestur memohon. "Oh ayolah hyung, biarkan aku bekerja. Mengelap meja saja! Eung? Eung? Ayolaaah hyunggggg."
"Tidak." Minseok membalas datar, tidak mempan akan segala jurus aegyo Baekhyun.
Meski tidak terima, Baekhyun akhirnya menurut, tentu saja dengan sejumlah gerutuan, membuat Jinri sesekali terkikik geli. Baekhyun ingin melanjutkan protesnya, namun sayang sekali kedai sudah mulai kebanjiran pelanggan, dan ia harus menelan bulat-bulat kekesalannya. Baekhyun benci ketika ia tidak bisa membantu. Sementara Minseok dan Jinri sibuk melayani pelanggan, ia hanya bisa duduk dengan wajah idiot di pojokan.
Menyebalkan.
Namun, ketika pintu kedai berdenting—tanda bahwa pelanggan datang—Baekhyun harus terkesiap sembari tersedak ludahnya sendiri.
Bukan sosok Jongdae atau Kyungsoo yang membuat kakinya lemas. Tapi sosok yang lain lagi. Sosok yang mempunyai tubuh tinggi tak manusiawi, dengan tatapan setajam elang dan surai segelap malam.
Park Chanyeol.
Baekhyun hendak berteriak.
APA YANG DIA LAKUKAN DI SINI?!
Lalu tanpa aba-aba, Baekhyun berlari menuju kasir, hanya untuk bersembunyi di bawah konter dengan wajah semerah tomat.
Seperti yang telah dijanjikannya, Chanyeol mengikuti Jongdae menuju sebuah kedai es krim bernama Rainbow Cream. Bukan sebuah kedai yang besar, namun ramai pengunjung. Chanyeol menggerutu kesal kepada Jongdae, berkata bahwa jika ia ingin makan es krim, ia bisa membelinya di toko terdekat, dan bukannya malah pergi ke kedai seperti ini.
Chanyeol tidak banyak berbicara. Begitu juga dengan Kyungsoo. Entah sejak kapan atmosfer di antara mereka menjadi begitu dingin dan asing, seakan mereka adalah dua orang yang tidak mengenal sama sekali. Hanya Jongdae yang akan berceloteh dengan wajah berseri-seri.
"Apa-apaan kau, Chen? Kita hanya ke kedai es krim. Apanya yang spesial?" geram Chanyeol ketika Jongdae melompat girang begitu mereka sampai.
"Ini bukan tentang es krim, bodoh." Balas Jongdae, sama sekali tidak berhenti berseri-seri. Sementara alis Chanyeol menukik tajam—sial, dia baru saja dikatai bodoh. Chanyeol tidak menggubris lebih jauh, karena sepertinya percuma saja. Toh dia juga tidak akan mengerti.
Begitu mereka masuk, mereka melihat beberapa tempat yang masih tersisa dan segera duduk di sana. Meski tidak terlalu besar, kedai ini ternyata boleh juga. Pikir Chanyeol.
Lalu, entah dari mana datangnya, seseorang berteriak, "Byun Baekhyun!" Dan kepala Chanyeol menoleh ke arah sumber suara dengan kecepatan cahaya.
Pria yang berteriak ternyata adalah pegawai setempat, dengan tubuh pendek dan pipi yang gemuk. Ia berjalan marah menuju kasir, lalu menyeret seseorang yang tengah berjongkok di bawah konter.
Ketika Chanyeol mengatakan menyeret, maksudnya adalah benar-benar menyeret. Oknum yang diseret tampak enggan dengan ekspresi wajah yang jika diartikan akan terlihat seperti 'lebih baik kau bunuh saja aku daripada harus begini'.
Chanyeol, yang mulutnya sekarang menganga lebar, jelas tidak bisa menahan keterkejutannya. Berbagai pertanyaan mulai muncul di benaknya. Namun, ada satu yang terjawab pasti, ketika Chanyeol melihatnya mengenakan seragam wajib kedai tersebut. Jadi tanpa sadar, Chanyeol mengangguk kecil.
Jongdae menaikkan sebelah alisnya. "Byun Hatchi?"
Kemudian disusul oleh Kyungsoo. "Baekhyun?"
Pertanyaan-pertanyaan bingung itu terpotong tatkala si pria pendek mendudukkan Baekhyun di salah satu pojok ruangan, dan Baekhyun mencuri pandang ke arahnya, mata mereka sempat bertabrakan untuk sementara, dan Chanyeol merasa dirinya terkesiap.
"Sudah kubilang jangan bergerak! Diam disini!"
Baekhyun mengkerut takut. "Hyung! Biarkan aku pulang saja ya?! Kumohon!"
"Lihat siapa yang menjilat ludahnya sendiri." Si pria pendek memutar bola mata, sebelah tangannya merogoh saku dan mengeluarkan ikat rambut. Lalu dengan santainya, si pria pendek menyentuh surai magenta Baekhyun, menaikkannya ke atas, kemudian mengikatnya sehingga kepala Baekhyun kini berjambul lucu, tampak seperti apel ungu.
Sayangnya, meski Baekhyun tampak luar biasa imut, itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap Chanyeol. Yang ada di benaknya kini adalah, siapa pria brengsek itu berani-beraninya menyentuh Baekhyun seperti itu?
Sekujur tubuh Chanyeol terasa panas. Aura kelam mulai berpendar-pendar di sekitar tubuhnya. Tak jauh berbeda dengan Chanyeol, di sampingnya, ada orang yang mengeluarkan aura yang lebih mengerikan lagi. "Ada hubungan apa Byun Hatchi dengan Minseok-ku?" bisiknya tajam, namun Chanyeol tidak merasa perlu untuk memikirkan kalimat tersebut karena ia juga sama gerahnya.
"Hyung, ayolah—hatchi!"
Sial. Chanyeol tidak tahu kenapa, tapi ia luar biasa marah. Kadar kemarahan itu bertambah ketika si pria pendek menempelkan Bye-Bye Fever ke keningnya—kompres tipis mirip stiker yang biasa digunakan untuk meredakan demam pada bayi.
Sial dua kali. Sekarang Baekhyun malah tampak berjuta-juta kali lebih menggemaskan.
"Duduk diam, dan jangan lakukan apapun!" si pria pendek berucap, menuding Baekhyun dengan jarinya, kemudian berbalik. Namun sebelum pria itu menjauh, Baekhyun menangkap pinggangnya dan memeluknya dari belakang, membuat Jongdae tersedak—dan tentu saja, membuat Chanyeol murka semurka-murkanya. Sementara Baekhyun terus merengek-rengek, si pria pendek melepaskan diri dari pelukannya dan segera berjalan dengan langkah cepat.
Tapi Baekhyun malah mengejarnya, tersandung kakinya sendiri, dan kemudian jatuh terduduk di lantai keramik.
Cukup sudah. Ia tidak tahan lagi. Ia benci melihat semuanya. Benci ketika si pria pendek menyentuh Baekhyun dengan semena-mena, benci ketika Baekhyun memeluk pinggangnya, dan sangat benci ketika makhluk bodoh bernama Byun Baekhyun yang kikuk dan menyebalkan itu selalu tidak sengaja melukai dirinya sendiri.
Jadi, tanpa berpikir dua kali, si jangkung bersurai malam itu berdiri, berderap ke arah Baekhyun—marah luar biasa. Lalu, tahu-tahu saja, ia sudah berjongkok dan mencengkram lengan Baekhyun erat-erat, sembari menyalak, "BERHENTILAH TERSANDUNG SEPERTI ITU DASAR IDIOT!"[]
A/N: HALOOO AKU KEMBALIIII~~ GUESS WHAT, CHAPTER INI LEBIH PANJANG DARI CHAP SEBELUMNYA, NYAMPEK 6K.
uts bener-bener nyebalin, but I tried ma best. Aku juga masih bakal uts sampe selasa depan.
Oh iya, sedikit penjelasan(?) jadi ceritanya Kyungsoo tuh gak suka sama Chanyeol, tapi karena Chanyeol protektif gitu dia suka biarin kayak gitu. Gimana ya jelasinnya. Semacem nggak juga mempertahankan, nggak juga melepaskan gitu (halah ngomong apalah ini). Yah, singkatnya, model PHP deh. Duh jebal jangan benci karakter Kyungsoo yaaa, aku nggak berniat buat dia jadi jahat hahaha T-T
Last but not least, Review please?:]
