[CHAPTER 10 - KARMA & CONFESSION]
Karma (car-ma) is a word meaning the result of a person's action as well as the actions themselves. It's a term about the cycle of cause and effect.
"Thankyou for interrupting my life. I want to know you better."—C.
"Thankyou for being so rough and incredibly warm at the same time. I want to know you better."—B.
"Cha-Chanyeol?" Byun Baekhyun berbisik tak percaya, memandangi sosok yang kini menjelma sebagai titisan dewa kemurkaan paling mengerikan yang pernah ada.
Tidak merespon apapun, Chanyeol menarik Baekhyun hingga pria itu berdiri. Chanyeol menyadari bahwa meski terlihat agak berisi, Baekhyun ternyata cukup ringan. Apa dia makan dengan teratur? Ish, semua ini mengesalkan dan Chanyeol merasa ingin membunuh orang demi menuntaskan ledakan emosinya.
"Le-lepaskan aku. Nanti ki-kita ketahuan ..." suara si mungil kian menghilang ketika ia hendak melepaskan cengkraman Chanyeol yang kini semakin erat, membuatnya meringis sakit.
"AKU TIDAK PEDULI!" geram Chanyeol marah, tidak memperdulikan tatapan beragam—mulai dari tertarik, terganggu, kesal, tidak suka, antusias—yang dilontarkan oleh para pengunjung. Bahkan Minseok sendiri membiarkan mulutnya jatuh ternganga saking kagetnya.
Melihat Baekhyun sebegini dekat harusnya bisa membuat Chanyeol melunak. Bagaimana wajahnya tampak luar biasa menggemaskan dengan surai cokelat keunguannya yang di ikat hingga menjadi jambul lucu—demi celana dalam Poseidon, sekarang Baekhyun benar-benar tampak seperti permen kapas hidup—belum lagi Bye-Bye Fever sialan yang menempel di keningnya entah kenapa bisa membuatnya tampak lucu, dan kombinasi antara hidung kecil mancung yang memerah akibat flu, ditambah dengan pipi yang merona malu-malu—cukup sudah. Jika Chanyeol mendeskripsikannya lebih lanjut, maka kemarahannya akan benar-benar luntur.
Alam semesta sepertinya sedang berkompromi untuk mempermainkan pikiran Chanyeol dengan menghadirkan manusia ceroboh, kikuk, menyebalkan dan seribu kali sangat menggemaskan dalam wujud bernama Byun Baekhyun.
Tapi tidak semudah itu membuat ledakan emosi Chanyeol menyurut. Ketika Chanyeol mengingat siapa yang mengikat rambut Baekhyun dan menempelkan Bye-Bye Fever ke keningnya, maka amarah Chanyeol seketika itu juga akan melejit naik ke ubun-ubun. Ia benci fakta bahwa orang lain yang melakukannya. Menyentuh Baekhyun.
Dan bukan dirinya.
Sayang sekali, reaksi Kim Jongdae ternyata sangat lamban. "YA PARK CHANYEOL APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Ikut-ikutan berteriak seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah, ternyata. Lebih parah, kini kedai kecil itu hening. Seluruh pasang mata menatap Jongdae dengan tatapan yang sama seperti yang mereka lontarkan kepada Chanyeol sebelumnya.
Merasa bahwa dirinya juga jadi tontonan menarik yang gratis—sialan, tidak ada yang gratis di dunia ini bagi Kim Jongdae!—maka ia berdeham kecil seraya berbisik, "ayo, Kyungsoo." Supaya pria itu mengikutinya, lalu berjalan mendekati Chanyeol dan berjinjit untuk menarik kerah si pria yang lebih tinggi dari belakang, layaknya anjing peliharaannya sendiri.
Protes, Chanyeol berteriak, "BRENGSEK KIM JONGDAE APA YANG KAU LAKUKAN?! LEPASKAN AKU!"
Tidak senang diteriaki, Jongdae balas membentak heboh, "JANGAN BERTERIAK IDIOT INI TEMPAT TERBUKA!"
"Uh, teman-teman," bisik Kyungsoo sembari melirik sekitarnya takut-takut, "kalian berdua sedang berteriak sekarang."
Sial dua kali. Park Chanyeol membuat kesabarannya habis. Jadi, tanpa berpikir panjang lagi, ia menarik kerah Chanyeol dari belakang hingga pria itu harus meronta berkali-kali agar bisa melepaskan diri. Meski Chanyeol lebih besar dan sebenarnya lebih kuat, ia membiarkan Jongdae menyeretnya layaknya binatang bodoh seperti itu—karena ia tahu bahwa dirinya sudah membuat keributan yang sejujurnya tak beralasan di kedai kecil yang damai itu.
Jadi, sembari menuding sosok Baekhyun yang kian menjauh dari hadapannya, Chanyeol menyalak, "ingat, pendek. Ini belum berakhir. Aku tidak akan membiarkanmu melukai diri seperti orang bodoh seperti itu lagi. TIDAK AKAN! INGAT ITU!"
Baekhyun ingin tertawa keras-keras.
Nada suara Chanyeol terdengar seperti ancaman kasar yang mengerikan, namun Baekhyun mendapati dirinya lebih merona dari sebelumnya ketika ia mendengar penuturan itu. Chanyeol hanya berusaha melindunginya, Baekhyun akhirnya mengerti. Dan kemudian Baekhyun menggigit bibirnya lalu menunduk, berusaha keras untuk tidak tersenyum. Orang-orang mungkin akan melihat Park Chanyeol sebagai sosok kejam tak berperasaan yang brutal, namun Baekhyun lebih tahu, kalau jauh di dalam sana, ada seseorang dengan kepribadian hangat dengan senyum dan tawa yang menyenangkan—dan tentu saja, dengan wajah yang luar biasa tampan.
"Hey pendek! Apa kau dengar perkataanku barusan?! AKU BERSUNGGUH-SUNGGUH! Jika kau melakukan itu lagi maka aku tidak segan-segan unt—"
Dan Jongdae menutup membekap mulut Chanyeol dengan tangannya sendiri, meski cukup ampuh untuk membuat si tiang listrik jejadian itu bungkam sembari terus meronta. Jongdae kemudian berjengit jijik ketika ludah Chanyeol memenuhi telapak tangannya. Park Chanyeol benar-benar harus membayar mahal pengorbanan Jongdae hari ini.
Bahkan, ketika sosoknya sudah berada di luar kedai, Chanyeol masih meronta kepada Jongdae dengan tatapan setingkat pembunuh berantai paling berbahaya, memandangi sosok mungil di balik pintu kaca yang hanya bisa terpaku, memerah hingga ke telinga dan tidak tahu harus berbuat apa. Baekhyun benar-benar speechless. Pertanyaan kenapa dia melakukannya atau kenapa dia terlihat begitu marah serta apa dia khawatir padaku berenang sangat banyak di benak Baekhyun—sampai-sampai ia sendiri merasa bingung dengan apa yang baru saja dirasakannya.
Namun yang pasti, jika itu sudah berkaitan dengan Chanyeol, maka rasa menggelitik di dasar perut ditemani jantungnya yang seakan sedang lari marathon, serta ledakan kembang api dimana-mana selalu saja terjadi.
Jangan lupakan aliran listrik bertegangan tinggi yang seketika itu menjalari tubuh Baekhyun ketika mereka bersentuhan. Tangan Chanyeol yang besar dan hangat seakan menjadi sumber listrik untuk Baekhyun. Ia jadi teringat ketika Chanyeol mengeringkan rambutnya dengan handuk malam itu, dan ketika Chanyeol menepuk lembut kepalanya di sekolah tadi.
Bahkan saking terkejutnya, Baekhyun sama sekali tidak bersin dari tadi. Apa mungkin flu bisa reda karena jantungnya berpacu seratus kali lebih cepat dari sebelumnya? Kalau memang iya, maka Baekhyun benar-benar akan takjub. Karena Chanyeol meredakan flunya—dengan beralih membuat jantungnya berdetak tidak stabil.
Lalu ketika ketiga sosok itu telah lenyap, barulah Baekhyun bisa bernapas lega. Tahu-tahu saja, Minseok sudah berdiri di sampingnya, menatap adik kesayangannya curiga dengan tangan bersedekap, menuntut segala penjelasan.
"Byun Baekhyun, kita harus bicara."
Crap. I knew it was coming. Pikir Baekhyun, menepuk jidatnya yang masih tertempeli oleh Bye-Bye Fever dengan pelan.
Ini hari paling menegangkan dan cukup melelahkan, namun si mungil bersurai magenta itu bahagia. Karena si idiot Park Chanyeol, yang meski masih senang membentaknya dan berbicara kasar kepadanya, perlahan namun pasti, berubah menjadi sosok hangat yang menyenangkan.
Dan Baekhyun makin jatuh untuk Chanyeol. He just can't help it.
Kejadian ini terjadi dua kali dalam sehari, tepat di depan mata Jongdae. Bagaimana mungkin ia tidak pusing? Park Chanyeol dan hobinya barunya—menyalak kemana-mana seperti anjing ganas.
Setelah berteriak layaknya orang kesetanan seperti itu—jangan lupakan tatapan aneh yang dilemparkan oleh tiap-tiap pengunjung kepadanya—Jongdae dengan sigap menarik Chanyeol yang tampak kalap terlebih dahulu keluar kedai. Ia berteriak-teriak seperti orang kerasukan sembari menunjuk-nunjuk Baekhyun. Sungguh, kalau saja Jongdae memakai seragam putih-putih khas perawat rumah sakit alih-alih seragam sekolah, sembari menarik Chanyeol seperti itu, orang-orang pasti akan berasumsi bahwa ia adalah perawat rumah sakit jiwa yang tengah menangkap salah satu pasiennya yang kabur. Mungkin mereka juga akan berpikir bahwa sang pasien sakit jiwa itu memiliki dendam kesumat terhadap seseorang yang menunduk malu di dalam kedai sana.
Intinya, PARK CHANYEOL SUDAH GILA.
Meski wajah Chanyeol nampak berang dan ia jelas tidak rela diseret dengan sangat tidak berperikemanusiaan seperti itu, toh akhirnya ia sadar juga bahwa ia telah menjadi tontonan menarik sebanyak dua kali hari ini.
Kyungsoo, yang entah mengapa terus-terusan memperlihatkan gelagat aneh, akhirnya memilih untuk pulang terlebih dahulu, bahkan tanpa berkata-kata. Jongdae membiarkannya pulang tanpa bertanya—sementara Chanyeol tampak tidak peduli sama sekali.
Jongdae bertekad untuk mengorbankan misinya hari ini demi tiang listrik jejadian bernama Park Chanyeol. Andai saja Chanyeol tidak berulah, ia pasti bisa mendapatkan nomor telepon Minseok. Ah, sayang sekali hari ini Dewi Fortuna tidak berpihak kepadanya. Tidak apa-apa sih, sebenarnya. Jongdae sendiri merasa kesal melihat interaksi Baekhyun dengan Minseok yang kelewat intim.
Bagaimana Minseok merawatnya, meski tatapannya nampak kesal, ada pancaran sayang di mata hazel-nya. Dan jangan lupakan adegan ketika Baekhyun memeluk pinggangnya! Cih, memikirkannya membuat Jongdae merasa seperti terkena stroke, padahal kan dia masih muda. Ia tidak akan memungkiri bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Minseok, dan jangan sebut dia Chensing Machine kalau ia tidak berjuang untuk cintanya. Jongdae bertekad untuk menginterogasi Baekhyun habis-habisan Senin nanti. Untuk sekarang, biarlah dia menahan diri demi Chanyeol.
Di sisi lain, Chanyeol hampir-hampir seperti zombie hidup. Ia terlihat luar biasa kacau. Jongdae tidak mengerti secara keseluruhan, tapi sedikit banyak sepertinya dia paham akan apa yang sebenarnya terjadi.
Lucu juga bagaimana cinta bisa berpindah begitu cepat. Well, Jongdae tidak bermaksud untuk mengatai Chanyeol labil, hanya saja ... entahlah. Mungkin pada akhirnya ia sadar, bahwa apa yang ia sebut-sebut sebagai cinta beberapa tahun terakhir ini mungkin hanyalah delusi, tipuan pikiran yang ia ciptakan sendiri.
Mindset, orang-orang sering berkata.
Chanyeol selalu meyakini bahwa itulah yang ia rasakan kepada Kyungsoo. Namun meski begitu, tak pernah sekalipun Kyungsoo membuat jantung Chanyeol berdebar keras, atau membangkitkan rasa geli yang tiba-tiba muncul di dasar perut, atau sensasi seperti kembang api yang baru saja meledak.
Jadi, sembari mengangsurkan diet coke kepada Chanyeol, Jongdae berkata, "apa kau baik-baik saja?" lalu duduk di sampingnya, memandangi luasnya sungai Han—oh yeah, dia membawa kabur Chanyeol ke tepi sungai Han, tidak elit memang. Tapi Jongdae tidak bisa memikirkan tempat yang lebih baik. Night club? Persetan dengan night club. Mereka masih tujuh belas tahun, jelas-jelas di bawah umur. Dan jika memang ingin pergi ke sana, mereka harus memalsukan identitas, akan memakan waktu lama—bukan berarti Jongdae sering pergi ke sana sih—baiklah, satu kali. Ia pernah pergi sekali bersama Yuta. Itupun karena ia penasaran. Dan Jongdae, yang pada dasarnya memang hanyalah seorang bocah, lebih menyukai tempat yang damai seperti pinggiran Sungai Han daripada tempat ingar-bingar seperti night club.
Oke, jangan bilang-bilang Minseok kalau ia pernah pergi ke sana—bisa-bisa Minseok mencapnya sebagai berandal. Hancur sudah reputasinya sebagai murid teladan peraih skor tertinggi untuk kategori vokal di SoPA semester lalu.
Chanyeol tidak menjawab pertanyaan Jongdae. Tapi akhirnya ia meraih coke tersebut dan meneguknya rakus. Sudah hampir senja, lampu-lampu jalan mulai dihidupkan.
Merasa dibalas dengan keheningan, Jongdae melanjutkan, "kau tahu, sebenarnya aku jatuh cinta kepada salah satu pelayan Rainbow Cream."
Sontak, Chanyeol menoleh. Ekspresinya berubah galak. "Siapa? JANGAN BILANG BAEKHYUN?!"
Jongdae tergelak. Dugaannya benar. Chanyeol—entah ia sadar atau tidak—jatuh cinta kepada si murid pindahan. "Yep."
"ARE YOU FUCKIN' KIDDING ME?!"
Jongdae masih tertawa. "Calm the fuck down, Chanyeol. Aku hanya bercanda. Kenapa kau histeris begitu."
Wajah Chanyeol berubah sedikit tenang, lalu ia menatap datar pada kilauan air yang tertimpa cahaya senja matahari di depannya. Duduk di tepi sungai Han ternyata tidak buruk juga. Pemandangannya mungkin tidak seberapa, tapi kini Chanyeol tahu kenapa orang senang melepas frustasinya di sini—atau kenapa orang sering bunuh diri, terjun dari samping jembatan. Kilauan air itu seakan memanggil jiwa-jiwa yang tersesat. "Aku tidak histeris." Ujarnya dengan wajah masam. Kesal bukan main—lagi-lagi tertangkap basah.
Terkutuklah kau Byun Baekhyun. Kau menghancurkan segala sistem di kepala batu Chanyeol.
"Namanya Kim Minseok." Ujar Jongdae, mengabaikan pernyataan 'aku tidak histeris' milik Chanyeol yang jelas seribu persen adalah bohong."Dia pria yang tadi dipeluk Baekhyun."
Chanyeol meneguk coke-nya dalam diam. "Oh."
Jongdae mendesah dalam, ikut-ikutan meneguk coke-nya. "Aku tidak tahu apakah aku orang yang tepat untuk mengatakan ini, Chanyeol-ah." Ia terdiam sebentar, sementara mata kedua pria itu memandangi riak sungai dengan tatapan kosong. "Tapi memendam perasaan terlalu lama bisa menumbuhkan penyakit akut tanpa obat. Kau menyakiti dirimu sendiri. Lebih ganas dari kanker, lebih ganas dari penyakit apapun yang pernah ada."
Chanyeol mendengus. "Speak for yourself."
Jongdae mengangguk. "Yep, benar. Tapi setidaknya aku berusaha hari ini, kau tahu. Dan rencanaku gagal total gara-gara kau."
"Maaf, aku tidak bermaksud." Lalu ia tertawa parau dengan suaranya yang berat. Chanyeol kemudian menoleh ketika Jongdae menepuk pundaknya dan mengangguk, memaklumi tingkah anehnya hari ini.
Cinta bisa membuat seseorang bertindak ekstrim, Jongdae percaya itu.
"Setidaknya, kau harus memberitahukan perasaanmu. Tidak peduli dengan jawabannya, entah dia menerimamu atau tidak, biarlah itu jadi permasalahan terakhirmu. Yang penting kau menyalurkan apa yang memang harus disalurkan. Percayalah, setelah kau mengatakan hal yang sejujurnya, perasaanmu akan jadi lebih baik."
"Dasar tukang ceramah." ejek Chanyeol, meski akhirnya ia tertawa. Dalam hati, Chanyeol mengakui bahwa Jongdae ada benarnya.
Jongdae tersenyum lembut. "Kau menyukai Kyungsoo sudah lama. Tapi kurasa kau sudah berubah belakangan ini."
Chanyeol tidak berani menjawab yang satu ini. Sejujurnya, ia sendiri masih tidak percaya. Namun ia tahu pasti, jauh di dasar hatinya, ia sudah jatuh untuk Baekhyun. Maka, dengan demikian, Jongdae beranggapan bahwa keheningan menjadi jawaban pasti akan semua pertanyaan yang ia lontarkan.
"Kau mengamati si murid pindahan dengan sangat serius, rupanya, Park." Lalu Jongdae terkekeh tatkala Chanyeol mendelik kesal kepadanya. "Tapi coba kau pikirkan baik-baik kalimatku barusan. Tentang mengungkapkan perasaanmu yang sebenarnya."
Chanyeol mengangguk. "Tentu, Jongdae." Lalu meneguk tetes terakhir coke-nya.
"Brengsek! Panggil aku Chen!"
Chanyeol meremas kaleng coke-nya yang telah kosong, lalu melemparkannya kepada Jongdae. "Persetan! Namamu Kim Jongdae!"
Dan begitulah mereka berpisah senja itu, dipenuhi makian yang berterbangan di udara. Chanyeol tahu, seharusnya ia memberitahu ketiga sahabatnya tentang masalah ini. Tapi Chanyeol tetaplah Chanyeol. Memendam masalah sendiri adalah salah satu keahliannya. Dan hari ini, Kim Jongdae berhasil menguaknya, meski hanya sedikit.
Jadi, biarpun matahari telah terbenam, meninggalkan semburat oranye yang kian menipis di angkasa, si jangkung menetapkan hatinya untuk menuju rumah seseorang, berniat menyatakan perasaannya. Semuanya mendadak tampak jelas malam itu. Seakan teka-teki lama yang tidak pernah selesai akhirnya terbongkar.
Dan kali ini, Chanyeol tidak akan menjadi pecundang lagi. Ia tidak akan bersembunyi dari perasannya sendiri. Pengecut hina yang selama ini ia benci, akan berakhir malam ini.
Semuanya, akan berakhir malam ini.
Chanyeol menekan bel pintu rumah Kyungsoo dengan gestur tenang. Kepercayaan dirinya meningkat dengan pesat, entah karena apa. Mungkin karena pada akhirnya, ia mengerti dengan perasaannya sendiri. Dulu, ia selalu menentang dan melawan kata hatinya. Sekarang, alih-alih bersikap munafik dan berpura-pura tidak menyadari perubahan dalam dirinya, Chanyeol bertekad untuk menghadapinya sendiri.
Pintu terbuka, dan Kyungsoo menatap Chanyeol terkejut. "Chanyeol?"
"Kyungsoo, aku harus mengatakan sesuatu kepadamu."
Kyungsoo tersenyum hangat, seperti biasanya. "Tentu. Ayo, masuk. Kau belum pulang kerumah?" pertanyaan yang tidak harus dipertanyakan, sebenarnya. Karena ketika Kyungsoo memandangi Chanyeol dari atas kepala sampai kaki, Chanyeol masih memakai seragam sekolahnya—lengkap dengan sweater musim panasnya yang bernoda cokelat bekas air pengepel lantai.
"Tidak." Chanyeol menolak halus. "Aku harus mengatakannya sekarang."
Kyungsoo tertawa lembut. "Iya, aku mengerti. Tapi apa salahnya masuk dan duduk dulu? Mungkin segelas teh atau cok—"
"Soo," potong Chanyeol cepat, "tidak perlu. Aku hanya perlu mengatakan ini, lalu semuanya akan berakhir."
Kyungsoo menatap Chanyeol curiga. "Baiklah." Ia megalah kepada sifat keras kepala Chanyeol. "Ada apa?"
Chanyeol terdiam sebentar. Untuk beberapa saat yang terasa cukup lama, Chanyeol merasa kepalanya blank, dan ia lupa dengan apa yang hendak ia katakan. Jika tadinya ia merasa cukup percaya diri, sekarang mendadak kepercayaan diri itu menguap entah kemana. Chanyeol tidak tahu kalau menyatakan peerasaan akan menjadi sesulit ini—bukan. Bukan menyatakan perasaan. Tapi ini terlebih seperti mengakui dosa yang sudah dilakukan bertahun-tahun silam. Si jangkung bersurai malam itu tidak peduli dengan apa jawaban Kyungsoo nantinya, tapi tetap saja ia tak sampai hati. Bagaimanapun, mereka tetaplah teman. Meski tidak pernah merespon apapun dari Chanyeol, Kyungsoo tetap teman yang baik. Dia bukan orang jahat. Terlebih, setiap manusia memiliki sisi egoisnya masing-masing. Kau tidak boleh berkesimpulan bahwa seseorang jahat hanya karena egonya. Siapa tahu ternyata egomu lebih tinggi dari orang tersebut.
Lagi pula, seperti yang ia katakan, alasan Chanyeol nekad berdiri di sini adalah karena ia akan mengakhiri sesuatu—bukan untuk memulai sesuatu. Kalau memulai sesuatu, maka Kyungsoo bukanlah orangnya. Sudah ada orang lain.
"Chanyeol?" Kyungsoo memanggil tatkala mendapati tatapan mata Chanyeol berubah menjadi kosong dan hampa.
"Hah?" Chanyeol mendongak, matanya perlahan kembali fokus.
Kyungsoo terkikik kecil. "Astaga, sebenarnya ada apa denganmu? Apa kau marah lagi karena aku pulang terlebih dahulu dan meninggalkanmu bersama Chen sore tadi? Kalau masalah itu, baiklah. Aku minta maaf. Tapi sudah kubilang sebaiknya kita masuk saja. Memangnya ap—"
"Aku menyukaimu."
Kali ini, Kyungsoo yang tiba-tiba mengalami fase dimana ia merasa kepalanya tidak dapat berpikir jernih dan takut kalau-kalau ia salah dengar. "A-apa?"
Chanyeol menunduk, menatap sosok Kyungsoo yang lebih pendek darinya. "Aku menyukaimu, Kyungsoo, selama empat tahun. Saat pertama kali bertemu denganmu di tahun kedua kita di SoPA JHS dulu."
Meski tampak sedikit terguncang, akhirnya Kyungsoo tersenyum. "Aku tahu."
Nah, kalau yang ini, jelas sesuatu diluar skenario yang diperkirakan oleh Chanyeol. Chanyeol tidak pernah mengira bahwa Kyungsoo sebenarnya mengetahui perasaannya. Tapi Chanyeol sudah tidak akan ambil pusing lagi. Ia akan menyelesaikan hal ini dengan cepat, karena masih ada orang lain yang menunggunya. Dan kali ini, Chanyeol tidak akan takut untuk mengejar orang tersebut.
"Dan maafkan aku," lanjut Chanyeol serius dengan suara baritonnya, "aku akan berhenti menyukaimu mulai hari ini."
Senyum Kyungsoo mendadak hilang. "A-apa?" bisiknya tak percaya, "ta-tapi kenapa?"
Chanyeol tersenyum lembut. "Maafkan aku, Kyungsoo-ya. Tapi ilusi sialan yang aku alami selama empat tahun terakhir ini sudah berakhir. Trik ini sudah selesai."
Sayang sekali, Kyungsoo tidak membalas perkataan Chanyeol. Mendadak saja ia merasa sakit hati. Kyungsoo selalu mengandalkan Chanyeol beberapa tahun terakhir ini, dan jujur saja ia tidak bisa membayangkan apa jadinya ia tanpa Chanyeol nanti.
"Kyungsoo-ya?"
Kyungsoo mendongak.
Chanyeol tersenyum meminta maaf, wajahnya penuh sesal. "Sekali lagi maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat semuanya berantakan. Salahkan aku karena menyelipkan perasaan dalam persahabatan kita. Tapi Kyungsoo," Chanyeol memegang sebelah bahu Kyungsoo, "aku tidak ingin persahabatan kita hancur. Aku tahu, permintaanku mungkin berlebihan, tapi setidaknya, bisakah kita tetap berteman?"
Kyungsoo terdiam. Perlahan, meski sudut matanya berair, ia mengangguk. "Tentu, Chanyeol-ah. Dan berhentilah meminta maaf seperti itu, kau membuatku merasa buruk. Kau tidak pernah salah. Jika memang harus ada yang disalahkan, aku orangnya. Kupikir aku mendapatkannya. Karma, kau tahu."
Chanyeol terdiam. Karma. Ia pernah mendengar hal itu sebelumnya. Namun sejujurnya ia belum pernah merasakan hal tersebut. Chanyeol tidak tahu harus membalas apa, jadi berkata lagi, "uh, maafkan aku."
Kyungsoo mendecih jengkel sembari memutar bola matanya. "Berhenti berkata seperti itu."
Chanyeol tertawa gugup, mengusap belakang kepalanya malu. "Baiklah, maafkan ak—ups. Ya. Baiklah. Aku tidak akan mengatakannya lagi."
Kyungsoo tertawa pelan, kemudian ia mengulurkan sebelah tangannya. "Teman?"
Chanyeol mengangguk dan tersenyum lembut, menyambut uluran tangan itu. "Teman." Balasnya mantap.
Teman.
Ilusi kisah cinta Chanyeol yang telah ia rasakan selama empat tahun ini, akhirnya berakhir dengan semestinya. Jongdae benar. Sekarang, perasaannya seringan kapas. Ia tidak lagi memiliki beban. Sedikit banyak, beban di bahunya agak berkurang.
Park Chanyeol, kau berhutang banyak kepada Kim Jongdae.
Chanyeol berpikir untuk mentraktir Jongdae ke restoran mahal kapan-kapan. Tapi itu bisa di urus nanti. Saat ini, ada seseorang yang lebih penting—yang terus menghantui benaknya sejak tadi; si permen kapas berwarna magenta, Byun Baekhyun.
Setelah hampir menjelaskan dengan keringat dingin selama satu jam—atau mungkin lebih—kepada Minseok ketika mereka resmi menyematkan tanda close di depan pintu kedai, barulah Baekhyun bisa bernapas lega.
Ia juga menjelaskan siapa Chanyeol, bagaimana kronologisnya ia bisa terdampar di rumah si jangkung—ia juga menceritakan Lee Young Ri, yang ternyata adalah ibu Chanyeol. Minseok tidak menyela ketika Baekhyun bercerita, yang mana sebenarnya membuat Baekhyun takut karena ia belum pernah menceritakan hal ini kepada orang lain—selain keluarganya. Sesekali, sebagai respon, Minseok hanya akan mengangguk lalu terkesiap kecil.
Sebagai orang normal, Minseok tentu mempertanyakan kenapa Baekhyun setuju-setuju saja saat mendapat ajakan untuk tinggal di rumah orang lain—terlebih karena ajakan itu ditulis lewat sebuah surat dan Baekhyun tidak mengenal Lee Young Ri sama sekali. Maka, mau tidak mau, akhirnya Baekhyun menceritakan juga tentang ayahnya. Bagaimana ayahnya menelepon malam itu dan menyuruhnya untuk menerima ajakan Lee Young Ri lalu pindah sekolah.
"Kau bilang ayahmu sedang berada di luar negeri?" Minseok mengernyitkan dahinya.
Baekhyun tersenyum pahit. "Nama ayahku Byun Han. Apa kau percaya sekarang, hyung?"
Untuk sepersekian detik, yang ada hanyalah keheningan, setelah akhirnya Minseok berteriak kecil sembari berjengit. "Byun Han yang itu? Baekhyun! Kau pasti bercanda!" siapa pula yang tidak kenal pria yang paling di waspadai di Korea saat ini? Wajahnya selalu ada di setiap media cetak dan televisi!
Menggeleng lemah, Baekhyun kemudian menunduk. Angin sepoi malam membelai rambutnya yang masih dikuncir jambul. Syukurlah ia telah melepaskan Bye-Bye Fevernya, dan bersinnya telah mereda.
Baiklah, ia akan menjelaskannya dari awal. Ayah Baekhyun adalah seorang pegawai biasa di perusahaan mebel ternama di Korea, berpusatkan di daerah elit Gangnam—yang saat ini juga menjadi orang paling berbahaya sekaligus buronan resmi di Korea Selatan. Beberapa bulan yang lalu, sebuah tragedi pembunuhan menggemparkan sempat terjadi.
Eksekutif manajer perusahaan mebel tempat dimana Ayah Baekhyun bekerja telah dibunuh tepat di atas meja kerjanya, lengkap dengan setelan jas rapi. Yang membuat berita kematian itu heboh adalah kenyataan bahwa sang eksekutif manajer itu dibunuh dengan sadis—ditusuk oleh pisau sebanyak empat puluh tiga kali, dengan kedua bola mata yang dicongkel lalu diletakkan dengan apik di atas meja kerja, meninggalkan dua lubang kosong di wajah tak bernyawa dan kubangan darah diseluruh tubuh pria tua itu. Kepolisian yang menyelidiki kasus mendapati bahwa dendam adalah motif utama pembunuhan. Lalu, tahu-tahu saja semua bukti kuat mengarah kepada salah seorang pegawai—Byun Han.
"Apa kau ingat kalau sekitar empat bulan yang lalu aku sempat menghilang selama seminggu lebih, hyung?" tanya Baekhyun.
Minseok mengangguk. Kala itu, Baekhyun berkata bahwa ia harus pulang ke daerah asalnya bersama sang Bibi.
"Aku berbohong. Aku tidak pulang ke daerah asalku. Aku dan keluargaku yang lain, ditahan di kantor polisi dengan tuduhan sebagai tangan kanan yang membantu tersangka melarikan diri. Malam sebelum mereka menahan ayahku, dia menghilang, dan kami semua tidak tahu dimana ia berada, bahkan sampai hari ini. Dia pernah menghubungiku sekali-kali. Namun nomornya sulit di lacak dan ia selalu rutin menggantinya. Kadang ia menggunakan telepon umum. Dan kali terakhir kami berbicara adalah ketika ia menyuruhku untuk pindah kerumah Lee Young Ri. Lalu dia berkata bahwa aku tidak perlu menghubunginya lagi. Dan setelah itu, kami lost contact hingga hari ini."
Minseok menganga lebar, tidak habis pikir.
Setelah terdiam cukup lama, Baekhyun melanjutkan. "Tapi kemudian mereka melepaskanku dan keluargaku yang lain karena tidak ada cukup bukti kuat." Baekhyun menoleh kepada Minseok, sembari tersenyum sedih, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tidak peduli, jika bahkan orang-orang menuding ayahku dan berkata bahwa ia adalah psikopat sinting—aku tidak percaya. Ayahku bukan orang semacam itu."
"Oh, Baekhyun, maafkan aku." Sesal Minseok, merangkul pundak si mungil dengan lembut. "Maafkan aku membuatmu bercerita tentang hal ini."
Baekhyun tersenyum sendu. "Apa sekarang kau akan melaporkanku ke polisi karena aku sempat berhubungan dengan ayahku? Yah, berhubungan dengan buronan kan ilegal. Seharusnya aku segera—aduh!"
Rintihan kalimat paling akhir disebabkan oleh jitakan Minseok. "Kau pikir aku sejahat itu?!"
Si mungil itu terkekeh. "Jadi kau tidak akan melaporkannya?"
"Baekhyun, dengar." Minseok memegang kedua bahu Baekhyun. "Kau benar. Itu ilegal. Seharusnya kau langsung melapor ke polisi begitu ia menghubungimu. Tapi kau percaya padanya, Baekhyun, karena dia ayahmu. Dan dengan begitu, maka aku juga akan percaya padamu."
Baekhyun mengangkat bahu, tersenyum kecil. "Aku hanya tidak mengerti. Kenapa dia harus menghilang seperti ini? Kalau memang dia tidak bersalah, lantas untuk apa dia bersembunyi?"
Minseok ikut-ikutan tersenyum. "Orang dewasa punya caranya sendiri dalam menyelesaikan masalah. Lagipula kupikir masuk akal kenapa Ayahmu menyuruhmu pindah kerumah orang kaya itu." Lalu Minseok terkesiap. "Omong-omong, apa hubungan ayahmu dengan Nyonya Lee?"
Baekhyun terdiam. Benar juga. Pertanyaan semacam ini tidak pernah terlintas di benaknya. "Aku ... tidak tahu." Aku Baekhyun.
"Hm. Mencurigakan." Ujar Minseok, alisnya terangkat. Tapi kemudian bus Minseok datang, dan mereka harus segera berpisah. Pria yang lebih tua itu melambaikan tangannya kepada Baekhyun dan akhirnya pergi. Baekhyun tidak merasa ingin pulang naik bus, jadi ia menelepon Sekretaris Yoon untuk menjemputnya di halte dekat Rainbow Cream.
"Yeobseo, Sekretaris Yoon? Ya, ini Baekhyun. Maafkan aku, tapi apa kau bisa menjemputku? Ya. Di halte dekat tempat kerjaku. Baiklah ... terimakasih."
Tidak sampai tiga puluh menit, mobil yang biasa dikendarai pria tua itu muncul. Pintu mobil terbuka, mempelihatkan pria paruh baya yang selalu berpenampilan dengan setelan jas rapi.
Mereka berkendara dalam keheningan selama beberapa saat, sebelum akhirnya Sekretaris Yoon bersuara. "Apa terjadi sesuatu hari ini? Baekhyun jadi pendiam. Biasanya selalu ceria." Baekhyun mengagumi bagaimana suara sekretaris Yoon bisa terdengar begitu santai padahal Baekhyun tahu ia penasaran setengah mati. Terang saja pria paruh baya itu agak khawatir. Baekhyun selalu tersenyum manis atau tertawa, mengundang orang lain untuk juga ikut tertawa, dan meski keliahatan polos dan naif, dia benar-benar anak yang baik.
Membalas pertanyaan Sekretaris Yoon, Baekhyun tersenyum. "Tidak ada apa-apa, Sekretaris Yoon. Hanya saja aku lelah sekali." Baekhyun memberikan kebohongan terbaiknya.
"Sungguh?" pria itu melihat Baekhyun dari kaca depan mobil, "apa flumu sudah lebih baik?"
Baekhyun mengangguk lucu. "Ya, sudah jauh lebih baik. Terimakasih atas bubur dan obat yang tadi pagi."
Setelah itu, keheningan kembali menguasai mereka. Ketika sampai, Sekretaris Yoon memilih untuk undur diri terlebih dahulu karena ia masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan. Pria paruh baya dengan kacamata persegi itu menyuruh Baekhyun untuk menyampaikan salamnya kepada Chanyeol, dan tentu saja sekaligus memperingatkan untuk segera menelponnya kalau-kalau Chanyeol menjahilinya.
Mendengar itu, Baekhyun tertawa. "Chanyeol baik, kok. Sekretaris Yoon tidak perlu khawatir."
Itu dia. Pikir Sekretaris Yoon. Tawa cerah yang sedari tadi ditunggunya. Ternyata nama Tuan Muda Park cukup ampuh untuk membuat si mungil itu kembali ceria. Syukurlah, setidaknya sekarang Sekretaris Yoon tidak perlu khawatir lagi.
Lalu, selagi Sekretaris Yoon pergi meninggalkan kediaman keluarga Park, Baekhyun melirik jam di ponselnya dan mendesah lelah. Jam delapan malam. Ia pulang lebih larut dari semalam.
Begitu ia memasuki rumah, aroma sedap makanan segera menyambut indera penciumannya. Secara naluri, kakinya bergerak mengikuti aroma sedap yang jelas berasal dari meja makan; sebuah ruangan yang cukup luas yang dipisahkan oleh dinding kokoh tepat di samping ruang tengah kediaman keluarga Park. Namun, baru saja ia hendak melintasi ruang tengah untuk menuju ruang makan, sosok jangkung bersurai segelap malam sedang duduk di sofa beledu, bersedekap, menatapnya setajam mata pedang.
Alis tebalnya terangkat naik. Sikap bossy itu lagi. Awalnya Baekhyun benci melihat sikap bossy itu. Namun lama kelamaan ia akhirnya terbiasa—dan sebenarnya, mimik itu cukup lucu untuk Chanyeol.
Si jangkung berdeham canggung. "Jelas, kau hanya hidup menumpang di sini." Katanya, lalu melanjutkan, "lalu, jika ini bukan rumahmu, kau boleh keluar masuk sesuka hatimu, benar begitu, pendek? Selalu pulang larut malam, tidak peduli sama sekali dengan tuan rumah. Cara yang bagus untuk mengungkapkan rasa terima kasih."
Baekhyun mengerjapkan matanya pelan. "Ma-maafkan aku." Katanya polos, tergagap sedikit akibat shock, jelas tidak menduga kehadirannya. "Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Apa kau menungguku?"
"HAHAHAHA MIMIPI SAJA TERUS SANA, IDIOT."
Oke, baiklah, Baekhyun harus terlonjak kaget ketika kalimat tersebut keluar dari bibir Chanyeol. Dari gelagat yang ditunjukkannya, ia jelas kelihatan panik, seakan Baekhyun baru saja membongkar rahasia kelamnya—atau sebenarnya memang seperti itu kenyataannya.
Sadar bahwa reaksi dirinya terlalu berlebihan, Chanyeol memaki pelan. Ia memijat pelipisnya dengan wajah jengkel, lalu berucap dengan nada suara berupa ancaman. "Kau punya waktu lima belas menit untuk membersihkan diri. Setelah itu temui aku di meja makan."
Baekhyun, yang kini menahan senyum, melihat Chanyeol dengan manik cokelat cerahnya dengan tatapan berbinar. Pipinya memerah sementara jantungnya melompat girang. Sialan. Bagaimana mungkin Chanyeol sanggup melakukannya hanya dengan beberapa kalimat? Padahal kalimat itu tidak romantis sama sekali. Lihat saja cara berbicara dan gayanya yang sok itu. Membuat sakit mata saja. Beruntunglah dia sangat tampan—surai gelapnya ia naikkan ke atas, memperlihatkan garis wajahnya yang sempurna; kening lebar, sepasang mata bermanik gelap setajam elang, hidung mancung serta bibir ranum dengan bagian bawah yang sedikit berbelah.
Sialan. Baekhyun bisa-bisa meneteskan liurnya di sini.
Jadi, tanpa banyak bertanya, Baekhyun mengangguk dengan patuh, lalu berlari menuju anak tangga untuk mencapai lantai dua, menuju kamarnya. Namun, belum lama Baekhyun berlari, sebuah teriakan lantang kemudian terdengar.
"JANGAN BERLARI SEPERTI ITU BODOH! BAGAIMANA KALAU KAU TERSANDUNG DAN JATUH LAGI?!"
Baekhyun terlonjak kaget, harus berpegangan pada susuran tangga agar ia tidak terpeleset saking terkejutnya. Si mungil bersurai magenta itu kemudian menoleh dan mendapati si tiang listrik jejadian kini tengah menatapnya frustasi, meremas surai gelapnya sendiri dengan gemas.
"Ya Tuhan," bisik Chanyeol jengkel sembari menunduk dan meremas rambutnya sendiri, "kau sungguh menyebalkan." Lalu ia mendongak dan menuding Baekhyun marah. "Oi pendek! Kalau jalan itu yang benar!"
Baekhyun berbisik takut-takut. "Apa? Ta-tapi—maksudku, seperti apa?"
Chanyeol menggigit bibirnya sembari memejamkan mata, tampak seperti sedang menahan emosinya. "Begini, pendek." Katanya jengkel sembari berjalan berkeliling dengan santai, memperagakan bagaimana seharusnya berjalan dengan benar versi Park Chanyeol. "Pelan-pelan saja, tidak usah berlari seperti itu. Kau mengerti?"
"Aaaahhh," Baekhyun mengangguk dengan wajah menggemaskan, seakan-akan apa yang baru Chanyeol tunjukkan adalah pengetahuan terbaru abad ini. Si mungil itu mengangguk lucu, membuat surainya yang masih dikuncir bergoyang pelan. "Baiklah," katanya, kemudian berjalan pelan seperti yang Chanyeol contohkan. "Seperti ini?" tanya Baekhyun sembari memiringkan kepalanya dan memasang ekspresi takut-takut yang terlihat berjuta kali lipat sangat imut, berjalan menapaki tangga sepelan mungkin.
Chanyeol menyeringai puas. Dan Baekhyun harus merona. Benaknya menjerit 'Ya Tuhan dia tampan sekali!' berulang-ulang.
"Ya, Byun. Kerja bagus. Seperti itu." Kemudian ia menuding Baekhyun dengan wajah penuh ancaman lagi. "Ingat! Mulai hari ini, berjalan seperti itu!"
Baekhyun masih memiringkan kepalanya dan menatap Chanyeol sembari berseri-seri. "Ya!" kata Baekhyun yang jelas terlihat kelewat semangat. Lalu ia berjalan pelan-pelan dengan langkah yang sangat hati-hati ketika ia hendak menaiki tangga.
Ketika tubuh mungil Baekhyun menghilang ditelan lantai dua, barulah Chanyeol bernapas lega. Ia menghempaskan dirinya dan berbaring telungkup di sofa beledu, lalu bergumam random dengan nada panik sembari menikmati bagaimana jantungnya berdebar keras. "Ya Tuhan. Dia imut sekali. Astaga. Ya Tuhan. Bagaimana ini. Dasar bodoh. Byun Baekhyun menyebalkan. Tapi dia sangat imut. IMUT SEKALI. BAGAIMANA INI?!"
Beruntunglah, kalimat terakhir yang berupa teriakan bersemangat itu teredam oleh empuknya sofa mahal, jadi suara berat Chanyeol tidak akan terdengar sampai ke lantai dua.
Tak lama setelah itu, Baekhyun turun dengan mengenakan pakaian bersih. Kaus biru yang lagi-lagi kedodoran dan celana jins selutut. Si mungil itu berjalan pelan (seperti yang Chanyeol instruksikan), mengusap rambut cokelat keunguannya yang masih sedikit basah ke atas. Ia sampai di ruang makan dan melihat Chanyeol tengah mengisi satu gelas besar dengan jus jeruk, lalu meletekannya di tengah-tengah meja makan yang telah penuh dengan makanan khas rumahan, masih mengepul dan tampak luar biasa nikmat. Pria itu mengenakan celana jins navy dan kaus cokelat berlengan gantung.
Setelah pulang dari rumah Kyungsoo, Chanyeol segera membenahi diri—mendadak saja merasa bahwa ia harus tampil baik di depan Baekhyun—namun sayang sekali ternyata Baekhyun belum pulang. Jadi ia bergegas ke ruang makan dan memanaskan beberapa makanan lalu menatanya dengan apik di atas meja.
Dan kemudian menunggu selama hampir satu setengah jam dengan gelisah.
"Makanan," desis Baekhyun, mendekati meja makan, mengabaikan Chanyeol yang tengah menatap sosok mungilnya intens. Jelas saja, perut Baekhyun seketika itu meronta.
Merasa kesal karena diabaikan, Chanyeol berkata dengan nada datar. "Asal kau tahu saja, aku tidak berniat untuk menawarimu makanan."
Baekhyun terkesiap, menoleh ke samping hanya untuk menatap Chanyeol di sebelahnya yang kini menatapnya balik tanpa ekspresi. Si mungil itu memasang wajah terluka, layaknya ia anak anjing yang baru saja terbuang. "Benarkah?" tanyanya kecewa, lalu mengangguk sedih. "Baiklah. Kalau begitu akan akan naik saja ke a—"
"Aku hanya bercanda, pendek." Kata Chanyeol dengan nada datar yang sama menyebalkannya dengan wajahnya yang juga datar, lalu menaikkan tangannya untuk menepuk kepala Baekhyun lembut. Si mungil itu menggigit bibirnya, menunduk dengan wajah merah. Arus listrik bertegangan tinggi tengah merambati tubuhnya sekarang.
Chanyeol mati-matian untuk tidak nyengir lebar. Sungguh. Menggoda Byun Baekhyun dan melihatnya merona sampai ke telinga seperti itu benar-benar menyenangkan!
Chanyeol berhenti menepuk kepalanya dan berjalan mengitari meja, lalu duduk tepat di hadapan Baekhyun. Sementara si mungil itu menggerutu. "Apanya yang bercanda. Apa kau bahkan tahu apa itu candaan? Wajah datarmu itu tidak lucu sama sekali, tahu."
Si jangkung tidak berniat untuk menggubris Baekhyun. "Duduk." Perintahnya. Meski masih mengoceh jengkel, Baekhyun masih tetap mengikuti perintah Chanyeol dan duduk tepat di depan pria itu. "Makan." Katanya lagi.
Lalu Baekhyun mendongak dan menatap Chanyeol penuh binar. "Sungguh?"
Chanyeol mendesah jengkel. "Cepatlah sebelum aku berubah pikiran."
Si mungil itu cemberut lagi. Tapi akhirnya ia tersenyum lembut. Baekhyun tahu, meski bersikap kasar, Chanyeol sebenarnya sangat peduli kepadanya. Dan ia menyukainya. Tidak apa-apa jika Chanyeol terus bersikap seperti itu. Karena yang melakukannya adalah Chanyeol, maka ia akan menyukainya. Mereka makan dalam keheningan yang terasa canggung.
Chanyeol berdeham sembari menatap Baekhyun yang makan dengan sangat semangat—jelas sekali dia kelaparan. Dan itu menambah kadar keimutannya. "Makan pelan-pelan, Byun. Kau bisa terkena gangguan pencernaan kalau kau makan seperti itu." Tegur Chanyeol dengan nada jengkel.
Baekhyun mendongak, menatap Chanyeol lalu tersenyum dan mengangguk.
"Baekhyun."
Si mungil mendongak. "Ada apa?"
"Aku ingin memulainya seperti ini."
"Huh? Apa maksudmu?" tanya Baekhyun.
"Sarapan dan makan malam," kata Chanyeol sembari membuang muka, tidak ingin ekspresi wajahnya dilihat Baekhyun. "Bersamamu."
Dan Baekhyun tersedak akibat kalimat tak terduga yang diucapkan oleh Chanyeol.
"Ya! Byun Baekhyun! Apa kau tidak apa-apa?!"diserang mode panik, Chanyeol berdiri, berjalan cepat mengitari meja dan berlutut di samping Baekhyun—meski ia melakukannya, tingginya tetap sama dengan Baekhyun yang sedang duduk di kursi—meraih segelas air putih lalu memberikannya kepada Baekhyun, lalu menepuk-nepuk punggungnya lembut.
"Sialan, Baekhyun. Apa-apaan, kau?" Chanyeol berkata jengkel. Meski begitu, nada suaranya terdengar khawatir. "Apa kau baik-baik saja?" Baekhyun mengangguk sebagai jawaban, lalu meneguk rakus air putih yang diberikan Chanyeol.
Setelah akhirnya batuk akibat tersedak itu mereda, barulah Baekhyun berkata, "terimakasih, Chanyeol. Aku baik-baik saja."
Chanyeol menatap Baekhyun intens. "Apa permintaanku terlalu berlebihan?"
Kini, malah Baekhyun yang diserang panik. Ia melambaik-lambaikan kedua tangannya tidak setuju. "Ti-tidak! Bukan seperti itu! Aku hanya, euh, itu ... aku hanya ... aku hanya tersedak—eh, bukan! Maksudku, aku hanya ... euh, hanya terkejut! Ya, aku hanya terkejut! Bukan berarti aku menolaknya!"
Tawa Chanyeol seketika itu meledak. Ia tidak lagi bisa menahannya karena Baekhyun terlihat begitu lucu.
Sementara Baekhyun terpaku sembari menatap Chanyeol dengan mata berbinar. Bagaimana tawa dengan suara berat itu terdengar seperti lantunan melodi di telinganya, bagaimana matanya berubah menjadi lengkungan, dan bagaimana eskpresi bahagia itu terpancar dari wajahnya yang tampan. Baekhyun mengingat semuanya, dan ia menyimpan memori tentang tawa lepas Chanyeol di benaknya, menjadikannya harta paling berharga.
Lalu, tahu-tahu saja, tawa Chanyeol menyurut, dan matanya menatap sayu kepada Baekhyun. Tanpa si jangkung itu sadari, kedua tangannya telah terangkat ke atas—menangkup kedua sisi wajah Baekhyun.
"Apa yang sudah kau lakukan padaku, Baekhyun?" bisik Chanyeol linglung, menatap Baekhyun dalam.
Pipi Baekhyun memanas. Wajah mereka dekat sekali. Baik Chanyeol dan Baekhyun bisa melihat fitur wajah mereka masing-masing dengan jelas. Baekhyun menggigit bibir, dan jemari Chanyeol menyentuh bibir bawah Baekhyun, menatapnya sayu.
"Aku benci melihat orang lain menyentuhmu, Baekhyun. Jangan lakukan itu lagi. Dan ... jangan terluka." Chanyeol melanjutkan.
Baekhyun, yang tampaknya seperti tersihir, hanya bisa mengangguk patuh.
Lalu Chanyeol tersenyum lembut sekali, masih sambil memainkan jemarinya di sekitar bibir Baekhyun, lalu kembali untuk menangkup wajahnya dan menatapnya intens.
"Aku minta maaf karena berperilaku kasar kepadamu saat kita pertama kali bertemu. Aku akan memperbaiki kesalahanku. Aku akan memulainya dari awal." Lalu Chanyeol menarik napas dalam-dalam, masih sambil tersenyum lembut, ia berkata. "Halo, Byun Baekhyun. Namaku Park Chanyeol. Terimakasih karena telah muncul secara mendadak, mengganggu kehidupanku, dan aku ingin mengenalmu lebih jauh."
Malam itu, Baekhyun hampir meneteskan air matanya. Rasanya begitu damai dan menyenangkan. Ia tidak tahu apakah Chanyeol tengah menyatakan cinta padanya atau bukan—persetan. Ia tidak perduli lagi. Yang penting ia bahagia, dan Park Chanyeol baru saja mengatakan rentetan kalimat yang membuat tubuhnya melayang.
Jadi, membalas perkataan Chanyeol, Baekhyun menaikkan sebelah tangannya dan menyentuh sisi pipi Chanyeol dengan lembut.
"Halo, Park Chanyeol. Namaku Byun Baekhyun. Terimakasih karena telah bersikap kasar dan hangat kepadaku secara bersamaan. Aku senang bisa muncul di kehidupanmu. Dan aku ingin mengenalmu lebih jauh."[]
A/N : AKU DAH SELESAI UTS YEYEYEYE~~~~ [nari hula-hula] AKU KANGEN NULIS, KANGEN CHANYEOL, KANGEN BAEKHYUN, KANGEN TRIO MANTAN HUHU T-T
Jujur aja, aku rada nggak percaya diri sama chapter ini. Entah kenapa rasanya absurd banget, plotnya berantakan, kurasa. Well, I'm doubting my writing skills lately, so, yeah, maafin aku kalo chpater ini bikin kalian frustasi saking anehnya. Belum lagi feelnya yang nggak dapet, dan Chanyeol yang kayaknya rada buru-buru sama Baekhyun. Sedih. Sekali lagi maaf ya buat chapter ini (deep bow).
Terimakasih buat yang selalu berkunjung, baca, dan menuliskan berbagai review hangat yang menyenangkan! Aku nyampek gak bisa berenti senyum loh saking bahagianya. Kalian terbaik deh pokoknyaa~~
Terakhir, sedikit review, mungkin? :]
