[CHAPTER 11 - WEEKEND]
"3rd stage of love virus attack: you love to spend your precious time with the beloved ones."
"Pagi, pendek." Adalah kalimat yang menyambut Baekhyun pagi itu.
Baekhyun baru saja bangun, jam menunjukkan pukul delapan lewat. Berhubung hari itu adalah hari Sabtu dan sekolah libur, hari itu juga merupakan day-off Baekhyun di Rainbow Cream. Si mungil itu menguap lebar, ia memakai piyama kebesaran berwarna hijau lemon dengan model kemeja. Ujung piama itu menenggelamkan telapak tangan Baekhyun saking besarnya. Tiga kancing paling atas dari piyama itu terbuka, membuat salah satu sisinya melorot turun, memperlihatkan collarbones Baekhyun dan daerah pundaknya yang halus dengan jelas.
Melihat itu, Chanyeol harus meneguk kasar ludahnya.
Baekhyun jelas berantakan. Rambut ungunya berdiri kusut, ia memakai baju tidur, dengan mata sipit yang agak sedikit bengkak, dan sesekali ia akan menguap lebar lalu mengucek matanya. Semuanya membuat Chanyeol sendiri merasa takjub dengan bagaimana bahwa ia beranggapan Baekhyun terlihat sangat menggemaskan dan ... uh, agak sedikit menggiurkan? Chanyeol tahu bahwa ia telah mengatakan ini beribu kali, tapi Baekhyun benar-benar menggemaskan. Ia bahkan tidak keberatan untuk mengulanginya seribu kali lagi. Malah semakin lama dilihat, rasa takjub itu sama sekali tidak berkurang—sebaliknya, makin bertambah. Ini perasaan baru untuk Chanyeol. Namun ia tahu, sesuatu yang baru tidak selalu berkonotasi negatif. Ia menyukai perasaan kering yang mendadak hinggap di tenggorokkannya begitu ia melihat pundak telanjang Baekhyun—oh oke. Kau mesum, Yang Mulia Park. Hentikan sebelum pikiranmu berkelana lebih jauh.
Baekhyun, yang tidak menyangka bahwa sosok jangkung itu akan menyambutnya di pagi hari dengan pakaian kasual seperti itu jelas terkejut. Chanyeol, seperti biasa, memakai celana jins dan kaus santai yang sangat cocok untuknya. Jadi ia terkesiap kecil sembari menoleh dan mendapati Chanyeol tengah bersandar di samping pintu kamarnya—menatapnya balik dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.
"Kenapa kau disini?" lalu si mungil terkesiap kaget, "apa kau menungguku bangun?"
Chanyeol membuang mukanya—berusaha keras untuk tidak mempelototi kulit pundak seputih susu milik Baekhyun yang terekspos bebas itu. Sialan. Dia meneguk ludahnya lagi. Perangai Baekhyun benar-benar mirip dengan anak kecil, kadang membuat Chanyeol jengkel setengah mati—oh ayolah, apa dia benar-benar tidak sadar bahwa separuh tubuhnya kelihatan seperti itu? Atau ia hanya berusaha menggoda Chanyeol? Well, pilihan kedua sepertinya agak kurang meyakinkan. Baekhyun itu naif dan polos, dan bodoh. Menyebalkan.
"Mimpi saja sana." Kilah Chanyeol keras, masih membuang wajah. Lalu, dengan gestur malu-malu, dia mengusap belakang kepalanya. "Uh ... kau kelihatan lelah sekali, aku tidak bermaksud membangunkanmu. Tapi kau tidur seperti bayi." Sambungnya, menggurutu dengan sangat pelan.
Mendengar itu, Baekhyun terkikik kecil.
Kepala Chanyeol sontak menoleh cepat, menatap Bakehyun galak. "Apanya yang lucu, pendek?!"
Tawa kecil itu akhirnya berubah menjadi tawa lepas, membuat Baekhyun harus membungkukkan tubuh mungilnya dengan wajah yang memerah. "Jadi kau memang menungguku bangun?"
Chanyeol menggigit bibir. Gestur membungkuk yang dilakukan Baekhyun membuat piyama yang dikenakannya semakin merosot.
"Tidak lucu." Chanyeol berkata jengkel, lalu menarik lengan Baekhyun agar tubuhnya kembali tegak. Dengan sekali sentakan, Chanyeol menarik sebelah piyama Baekhyun yang merosot. Punggung tangan Chanyeol tidak sengaja menyentuh pundak polos Baekhyun, dan Chanyeol harus menggigit keras bagian dalam pipinya. "Dasar idiot." Maki Chanyeol. "Bajumu terbuka, tahu." Hal ini selalu terjadi ketika ia menyentuh Baekhyun, sensasi menggelitik di seluruh tubuhnya.
Chanyeol tidak akan berbohong kalau ia merasakan sebersit kekecewaan, soalnya dia tidak bisa melihat pundak polos Baekhyun lagi—Chanyeol menggeleng keras ketika ia memikirkan ini. Sudah gila dia rupanya. Namun sesaat kemudian, aroma lembut stroberi khas Byun Baekhyun kembali meracuni pikirannya.
Baekhyun terkesiap lagi, memerah seluruh wajah dan menunduk malu. Sepertinya ia benar-benar tidak sadar akan hal itu.
Tangan Chanyeol hendak meraih dan mengancingkan bajunya, namun Baekhyun menahannya. Dengan wajah yang menunduk tak berani menatap Chanyeol yang tengah berdiri sangat dekat di hadapannya, si mungil itu tergagap, "a-aku saja."
Chanyeol melepaskannya tanpa berkata-kata, lalu menyelipkan kedua telapak tangannya yang terkepal erat ke dalam saku celana. Sementara manik gelap Chanyeol memperhatikan tangan Baekhyun yang gemetar ketika ia mengancingkan bajunya sendiri.
"Jangan menatap orang seperti itu," bisik Baekhyun pelan, masih sembari menunduk dengan pipi yang merona ketika ia selesai mengancingkan kancing terakhir dari bajunya.
"Kenapa?" Chanyeol mendengus, masih menatap Baekhyun.
"Karena dia melompat girang."
"Huh? Dia siapa?" Chanyeol tidak mengerti kalimat Baekhyun. Dia? Dia siapa? Namun sejurus kemudian Chanyeol mendapati Baekhyun lebih memerah dari sebelumnya, membuatnya gemas sendiri. Brengsek. Kalau begini terus, Chanyeol bisa-bisa memojokkan Baekhyun ke dinding, mengapitnya dengan tubuhnya sendiri, atau barangkali sedikit menindihnya, lalu ... yah, kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Seperti yang Kris katakan, hormon muda memang mengerikan. Chanyeol tidak berniat untuk berpikiran yang aneh-aneh, tapi—demi kecantikan dan segala pesona Dewi Aphrodite!—siapa yang tidak gemas melihat tingkah si mungil ini?!
Baekhyun mendongak lalu tersenyum malu-malu. "Bukan apa-apa," bisiknya, memberanikan diri untuk mendongak dan menatap Chanyeol.
Si jangkung, yang sama sekali tidak mengerti, kini malah menatap Baekhyun lebih intens dari sebelumnya.
Sejurus kemudian, Baekhyun memutari tubuh Chanyeol dan berhenti tepat di belakang tubuhnya, lalu mulai mendorong tubuh Chanyeol ke depan tanpa henti.
"Hei Baekhyun, apa yang kau lakukan?" tanya Chanyeol dengan nada protes, namun tubuhnya sama sekali tidak menolak ketika Baekhyun mendorongnya seperti itu.
"Sudah kubilang jangan menatap orang lain seperti itu." Baekhyun bersuara malu-malu, "bukankah kita akan sarapan? Karena itu kau menungguku bangun, kan?
Ah, ya. Benar juga. Chanyeol mengangguk membenarkan, lalu menyeringai senang. Bukan apa-apa sih, hanya saja Baekhyun menyentuhnya. Hanya segitu saja membuatnya senang bukan main. Maka ia membiarkan Baekhyun dengan wajah merahnya sembari terus mendorongnya menuju ruang makan di lantai bawah.
Ketika sampai, Baekhyun berhenti mendorong Chanyeol dan memandang takjub ke atas meja makan. Seperti biasa, makanan khas rumahan selalu memenuhi meja makan, masih hangat.
"Apa kau yang memasak semua ini?" tanya Baekhyun takjub, menoleh kepada Chanyeol dengan mata berbinar.
"Aku tidak bisa masak." Sahut Chanyeol datar.
"Lalu, siapa yang memasak semua ini?" tanya Baekhyun lagi.
Dan Chanyeol menjelaskan tentang pelayan rumah yang selalu datang ketika mereka belum bagun atau sedang bersekolah.
Baekhyun manggut-manggut lucu. "Hidup Chanyeol sepertinya enak sekali, ya."
Chanyeol mendengus dan mengangkat bahunya.
"Eh, itu..." Baekhyun bersuara malu-malu, memilin ujung lengan piyamanya yang kebesaran, "apa boleh aku memanggilmu seperti itu saja? Um, dengan namamu, Chanyeol?"
Kemudian Chanyeol berbalik menghadap Baekhyun. Ia menarik sebelah tangan Baekhyun, lalu melakukan sesuatu yang sedari tadi membuat tangannya gatal; menggulung lengan piyama Baekhyun yang kepanjangan.
"E-eh, Cha-Chanyeol," panggil Baekhyun terkejut, ketika melihat Chanyeol dengan santainya menggulung lengan bajunya. "Aku bi-bisa melakukannya sendiri." Baekhyun hendak menarik tangannya, namun Chanyeol menarik lengan Baekhyun, tidak melepaskannya sama sekali.
"Diamlah." Kata Chanyeol jengkel. "Dan ya. Panggil aku sesukamu." Senyum Chanyeol, membuat Baekhyun merasakan thomp thomp thomp yang sangat keras di dalam dadanya.
Ia kemudian meraih tangan yang satunya lagi, dan melakukan hal yang sama, menggulung lengan kepanjangan itu hingga tidak menutupi telapak tangan Baekhyun. Setiap kali jari-jari kurus dan panjang Chanyeol menyentuh kulitnya, Baekhyun merasakan percikan listrik mengalir disana. Baekhyun hanya berani mendongak sesekali untuk menatap wajah Chanyeol yang serius ketika menggulung lengannya. Si mungil itu menggigit bibir pelan, masih menikmati irama thomp thomp thomp yang sangat jelas terdengar sampai ke telinganya. Ia bahkan merasa wanti-wanti kalau Chanyeol juga mendengarnya. Wajahnya merah lagi.
"Nah. Selesai." Kata Chanyeol puas.
"Uh, te-terimakasih." Suara Baekhyun menjadi sepelan angin.
Chanyeol menunjuk meja makan dengan dagunya, lalu tersenyum lagi. "Ayo makan. Kau tidak lapar?"
Baekhyun mengangguk semangat. Chanyeol banyak tersenyum akhir-akhir ini, dan Baekhyun sangat menyukainya. Hal tersebut membuat Baekhyun berpikir bahwa Chanyeol terlihat seribu kali lebih tampan ketika ia tersenyum—atau ketika ia memasang wajah prankster-nya. Seperti yang mereka lakukan semalam, Chanyeol dan Baekhyun makan dengan duduk berhadapan.
Mengingat tentang semalam, Baekhyun merona lagi. Chanyeol malah lebih parah. Ia berusaha keras menutupi ekspresi bahagianya dari Baekhyun. Ia jelas tidak ingin terlihat layaknya orang idiot. Meski begitu, Chanyeol berdeham pelan sembari menyendok setangkup besar nasi hangat ke dalam mangkuknya, lalu mengangsurkan mangkuk tersebut kepada Baekhyun. Perhatian kecil semacam ini membuat Baekhyun heran dan, jelas, seakan merasa ingin meledak.
Jadi, dengan suara kecil malu-malu, si mungil itu bertanya. "Kenapa Chanyeol melakukan ini?"
Chanyeol memutar manik hitamnya, kembali mengasurkan semangkuk kecil sup ayam ke hadapan Baekhyun. Meja yang mereka gunakan bentuknya memanjang, sehingga ketika mereka duduk berhadapan, jarak antara keduanya tidak terlalu jauh. Terlebih, dengan lengan panjang Chanyeol, ia bebas menjulurkan tangannya ke manapun. "Kenapa sih kau selalu bertanya yang aneh-aneh?!" jengkelnya.
Baekhyun tersenyum kecil, tidak terpengaruh lagi oleh nada sarkastik Chanyeol. "Hanya ingin tahu, kenapa Chanyeol melakukannya?" si mungil bertanya lagi, tidak mau menyerah.
Keras kepala juga, dia. Pikir Chanyeol.
Pria jangkung itu menggeram rendah. "Tidak tahu." Jawabnya asal. "Aku hanya tidak suka melihat orang lain melakukannya untukmu. Jadi kupikir lebih baik aku sendiri yang melakukannya." Lalu Chanyeol mendongak dan menatap Baekhyun. "Puas?"
Si mungil menggigit bibir, mengangguk kecil. "Sa-sangat puas."
Chanyeol berdeham lagi. Berusaha menghilangkan atmosfer canggung yang anehnya, terasa cukup menyenangkan. "Omong-omong tentang kemarin malam, Baekhyun, apa—"
"YA, YA! AKU MENGERTI! TIDAK PERLU DIJELASKAN!" Baekhyun berujar panik, memotong kalimat Chanyeol dengan cepat. Kemudian ia melanjutkan dengan nada histeris plus wajah merah, "Chanyeol hanya terbawa suasana, kan?! Makanya sampai menyentuh wajahku seperti itu. DAN YA! Aku juga terbawa suasana, makanya aku ikut-ikutan menyentuh wajah Chanyeol. Dan kalau Chanyeol ingin menarik kalimat yang tadi malam, aku juga mengerti! TIDAK APA-APA! SUNGGUH TIDAK A—"
"Byun Baekhyun, astaga. Apa-apaan kau? Ya Tuhan. Aku benar-benar bisa gila karena kau." Chanyeol tergelak.
"Huh? Apanya yang apa-apaan?" Baekhyun menunduk. "Aku hanya bilang kalau Chanyeol—"
Puk. Puk. Puk. Puk. Puk.
Tangan besar Chanyeol melintas melewati meja makan dan jatuh tepat di kepala Baekhyun, menepuknya sayang. "Makanya, kalau orang sedang bicara, dengarkan dulu sampai selesai." Chanyeol berujar lembut, dan ia tersenyum geli. "Aku hanya mencoba bertanya apa kau tidur nyenyak tadi malam. Kenapa kau histeris begitu?"
Baekhyun mendongak ketika Chanyeol menghentikan tepukan di kepalanya. "Hanya itu?" bisik Baekhyun tak percaya.
Chanyeol mengangguk, menyeeringai senang. "Hanya itu. Memangnya kau pikir apa?"
Sial. Chanyeol menggodanya. Merasa kesal karena baru saja digoda lagi, Baekhyun meraih sendok dan mulai memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Ia mengunyah nasi itu sadis, berusaha melampiaskan rasa malunya yang sudah tak tertolong lagi. Tentu saja, ketika ia berpikir Chanyeol menyinggung topik tadi malam, maka mereka akan membicarakan itu.
Ya, itu. Adegan saling menyentuh pipi dan berkata 'aku ingin mengenalmu lebih jauh' atau semacamnya itu. Yang benar saja. Baekhyun harus terjaga sampai jam dua subuh, tahu! Dasar Park Chanyeol brengsek!
Sayang sekali Baekhyun tidak tahu bahwa Chanyeol sama merananya. Ia juga tidak bisa tidur tadi malam. Kakinya gatal ingin melangkah ke ujung lorong, dimana pintu berwarna abu-abu berada—kamar Baekhyun. Chanyeol seperti memiliki dorongan kuat untuk memeluk Baekhyun ketika tidur—cuddling. Ia mulai membayangkan bagaimana wajah Baekhyun akan tampak ketika ia terlelap, dan Chanyeol bersedia menatapnya sepanjang malam.
Hanya saja, ia masih terlalu waras untuk melakukan hal tersebut.
Baiklah, Chanyeol akan mengakuinya. Ini seperti dosa terbesar kedua yang pernah ia lakukan—dosa terbesar nomor satunya adalah ketika ia tidak sengaja menjatuhkan sikat gigi Kris ke dalam toilet bulan lalu, waktu Chanyeol menginap ke rumah pria itu (jangan beritahu Kris masalah ini. Sungguh. Chanyeol belum ingin mati muda. Lagipula, Kris selalu menggunakan sikat gigi itu, dan Chanyeol tidak sampai hati untuk memberitahukan kenistaan yang tidak sengaja ia lakukan).
Omong-omong, soal malam kemarin, ia benar-benar beranjak keluar kamar dan mengendap-endap seperti pencuri professional menuju pintu berwarna abu-abu, hanya untuk mendapati pintu itu terkunci rapat. Syukurlah, pintu itu terkunci. Karena jika tidak, well, kita tidak benar-benar tahu apa yang akan terjadi.
Bukannya Chanyeol berniat melakukan yang aneh-aneh sih, hanya saja ada desakan kuat dari dalam dadanya bahwa ia harus melihat wajah Baekhyun dan memastikan semuanya sendiri pada saat itu juga. Mendadak saja ia takut Baekhyun mengilang, seperti gelembung sabun yang meletus, tidak akan pernah kembali lagi. Chanyeol tahu ini terasa sangat asing dan luar biasa gila, terlebih ia belum lama mengenal Baekhyun. Namun pemikiran tentang tidak akan melihat Baekhyun lagi sedikit membuatnya takut. Dan Chanyeol tidak ingin hal tersebut terjadi. Tidak sekalipun.
Makanya, sebenarnya Chanyeol juga cukup merana malam tadi.
Sementara Chanyeol masih bertingkah seakan tak terjadi apa-apa dengan memasang wajah datarnya yang dapat membuat jengkel setiap insan di seluruh bumi ini, Baekhyun masih merona sampai ke telinga. Ia kemudian meraih mangkuk sup yang tadi diberikan oleh Chanyeol dengan serampangan, lalu mulai menyendok sup ayam tersebut dengan brutal—tidak mengindahkan bahwa sup tersebut masih mengepul panas.
"Ssshhh, panasshhhhhh..." Baekhyun berjengit sakit ketika sup itu menyentuh bibirnya.
Mata Chanyeol melebar. "Baekhyun?" panggilnya panik.
"Panasshhhhh..." kata Baekhyun lagi.
Chanyeol memelototi Baekhyun. "What are you, Byun? Five years old kid?" Dan Chanyeol harus memutar bola matanya kesal, memijat pelipisnya, tak habis pikir dengan makhluk bodoh di hadapannya ini. Baekhyun selalu ceroboh dan berakhir dengan tidak sengaja melukai diri sendiri, dan ini sangat mengusik Chanyeol. Meski ekspresi Baekhyun terlihat begitu lucu dan menggemaskan, pertahanan Chanyeol tidak goyah. Ia kesal bukan main sekarang. Lagi-lagi, tangan panjang Chanyeol menyebrang melintasi meja makan, kemudian meraih sup mangkuk itu pelan tanpa berkata-kata, membuat Bakehyun lagi-lagi menatapnya bingung.
Perlahan, Chanyeol mulai meniup pelan sup dalam mangkuk itu, berusaha mengurangi hawa panasnya. "Dasar makhluk bodoh. Sudah kubilang berhenti menyakiti diri sendiri seperti itu." Chanyeol menggerutu dengan wajah masam. Kemudian, ketika ia melihat Baekhyun menunduk dengan wajah sedih, barulah ia menyadari kalimatnya terlalu kasar. Lihatkan, bagaimana sebuah mimik kecik dari seorang Byun Baekhyun bisa mengacaukan seluruh sistem dalam diri Chanyeol? Si mungil itu benar-benar luar biasa. Harus Chanyeol akui ia juga benci melihat Baekhyun seperti itu karena dirinya. Tapi Chanyeol tetaplah Chanyeol. Dia bukan pujangga romantis yang menyampaikan segalanya dengan hati-hati, penuh rayuan atau hal-hal klise lainnya yang membuatnya seperti mau muntah. Chanyeol adalah Chanyeol yang mengatakan segalanya secara blak-blakan, penuh makian dan kalimat kasar.
Karena dilanda rasa bersalah, Chanyeol bersuara lagi. Kali ini jauh lebih lembut meski ia kesal setengah mati. "Apa kau baik-baik saja? Supnya masih panas. Maafkan aku."
Baekhyun terkesiap, mendongak dan menatap Chanyeol degan mata membelalak. Manik cokelat cerahnya berbinar terang. "Bu-bukan salah Chanyeol." cicitnya, kemudian ia tersenyum lembut sekali, menatapi Chanyeol dengan binar yang tak sukar hilang.
Sekarang, giliran Chanyeol yang merasakan thomp thomp thomp di dadanya. Cara Baekhyun menatapnya benar-benar ... sialan. Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Yang jelas binar di matanya tidak bisa membohongi Chanyeol. Maka, Chanyeol bertekad untuk terus melakukan hal seperti ini untuk Baekhyun, demi melihat si mungil itu tersenyum manis dengan mata yang berbinar cantik seperti itu.
Chanyeol mengangkat alisnya, masih sambil meniupi sup Baekhyun. "Aku tahu aku tampan. Jangan menatapku terang-terangan seperti kau sedang terpesona padaku."
Panik, Baekhyun menunduk. "Aku tidak sedang menatapi Chanyeol." kilahnya. Rona merah merambati pipinya yang mulus. Uh, menggemaskan sekali.
Chanyeol mengeringai kecil. Ia kemudian menyerahkan mangkuk sup itu. "Sudah." Katanya, "makan pelan-pelan, pendek. Kalau masih panas, tiup dulu supnya. Kau mengerti?"
Baekhyun mengangguk. "Ba-baiklah. Terimakasih."
Sambil mengamati Baekhyun makan, Chanyeol baru sadar bahwa ia sama sekali belum menyentuh makanannya sendiri. Jadi ia meraih sendoknya dan mulai memasukkan beberapa makanan ke dalam mulut. Sambil mengunyah pelan, Chanyeol bertanya, "hei pendek. Apa yang kau sukai?" bukan pula suatu kebetulan Chanyeol bertanya seperti ini. Ia bersungguh-sungguh tentang ingin mengenal Baekhyun lebih jauh lagi, makanya si jangkung itu berpikir untuk mengenal Baekhyun mulai dari hal-hal yang sederhana. Seperti apa yang ia sukai, atau apa yang ia tidak sukai, atau hal-hal sepele lainnya.
Baekhyun terdiam sebentar, mengulum sendok dengan ekspresi berpikir. "Banyak." Jawab si mungil.
Dan salah satunya adalah Chanyeol.
Jawaban ini entah kenapa langsung muncul begitu saja dalam benak Baekhyun, seakan ia memang dirancang untuk menjawabnya seperti itu. Hanya saja, ia tidak benar-benar berniat mengatakannya.
"Salah satunya?"
Ehm. Kau.
"Ummm ... musik. Bernyanyi. Dan, uh ... hujan?" Kemudian Baekhyun membuang mukanya, menghindari tatapan Chanyeol.
Chanyeol menaikkan sebelah alisnya. Ia menangkap nada tak yakin pada akhir kalimat. Meski begitu, akhirnya Chanyeol mengangguk pelan, mengambil potongan tahu lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. "Aku bisa mengerti kalau itu musik dan bernyanyi. Tapi, kenapa hujan?"
Baekhyun menunduk kemudian merona. "Hanya suka saja."
Tidak. Ada alasan lebih.
Karena untuk pertama kalinya, pada hari hujan, Chanyeol peduli padaku. Karena Chanyeol membawakanku segelas cokelat hangat serta makanan, karena Chanyeol memarahiku, karena Chanyeol mengkhawatirkanku, karena Chanyeol menngeringkan rambutku, karena Chanyeol menjilati jempol bekas cokelat di bibirku.
Dan kalimat yang dimulai dari 'karena Chanyeol' berenang lebih banyak di benak Baekhyun, hingga ia sama sekali tidak bisa lagi menghitungnya.
Chanyeol menghela napas. Menahan dorongan kuat untuk tidak merangsek maju dan menepuk kepala Baekhyun lagi—atau sekalian sedikit menggigiti pipi gembulnya yang terus-terusan memerah itu—sungguh, Chanyeol sedang membayangkan Baekhyun sebagai gumpalan permen kapas sekarang, dan itu menyakitkan. Well, menyakitkan karena ia tidak bisa mencicipinya.
"Omong-omong, Baekhyun, aku tahu aku terlambat mengatakan hal ini. Tapi suaramu bagus sekali. Dan lagu yang kau nyanyikan waktu tes casting tempo hari sangat keren. Bukan lagu terkenal, sepertinya ya?"
Baekhyun menggeleng polos. "Ciptaan ayahku." Jawabnya pelan.
"Baiklah." Ujar Chanyeol. "Kalau begitu, apa yang tidak kau sukai? Atau sesuatu yang kau takuti?"
Baekhyun nampak berpikir lagi. "Um, ketimun. Laba-laba. Dan nggg, ... kenapa Chanyeol menanyakan hal ini?"
"Bodoh." Chanyeol mendengus. "Bukankah sudah jelas?"
Si mungil itu mendongak, menatap Chanyeol bingung sembari mengedipkan matanya berkali-kali. Lalu, ketika akhirnya ia sadar apa maksud Chanyeol, barulah si mungil itu terkesiap, lalu menunduk malu. "Oh, ya. Aku mengerti."
Mereka terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya Baekhyun bersuara kecil. "Bagaimana dengan Chanyeol? Apa yang Chanyeol sukai dan tidak sukai?"
Chanyeol tersenyum kecil, dan ia tampak luar biasa menawan. "Aku suka menulis lagu. Bermain gitar, drum, piano, dan ya, sama sepertimu. Musik dan bernyanyi."
"Chanyeol sangat berbakat dalam bidang musik." Si mungil mengangguk takjub. "Dan suara Chanyeol sangat bagus."
Chanyeol menatap Baekhyun bingung, lalu terkekeh kecil. "Hei pendek." Dengusnya, "seingatku kau belum pernah mendengarku bernyanyi."
Baekhyun menggeleng lucu, mengulum sendoknya sedikit. "Tidak perlu bernyanyi untuk tahu apakah suara Chanyeol bagus atau tidak. Bahkan saat berbicara pun, suara Chanyeol terdengar bagus. Berat, serak, dan menyenangkan." Dan sebagai sentuhan terakhir, Baekhyun tersenyum lembut dan tulus, membentuk setengah bulan yang cantik di matanya.
Chanyeol merasa jantungnya berhenti. Rasanya seperti terkena serangan jantung, dan bunyi BADUMP! bergema dari segala arah, bahkan telinganya sendiri mendengar bunyi itu. Dengan panik, ia mengalihkan wajahnya dari Baekhyun, berdeham keras untuk menghilangkan sensasi meletup-letup di sekujur tubuhnya.
Syukurlah, sepertinya Baekhyun tidak menyadari bahwa pria jangkung yang sedang duduk di hadapannya kini tengah berusaha mengontrol perasaan yang kelewat senang dalam dirinya. Si mungil bersurai magenta itu terlalu sibuk menyuap nasi ke dalam bibir mungilnya.
"Lalu, apa yang tidak disukai Chanyeol?" Baekhyun melanjutkan ketika ia mengunyah makanannya.
"Ba-banyak."
Sial. Apa-apaan ini? Kenapa bicaranya jadi gelagapan seperti itu?
Chanyeol mengigit bagian dalam pipinya pelan. Lalu melanjutkan dalam suara yang jauh lebih tenang. "Tapi aku tidak bisa menyebutkannya satu-satu. Aku sedang tidak bisa mengingat ataupun berpikir jernih sekarang."
"Kenapa?"
Dasar bodoh. Maki Chanyeol dalam hati. Kenapa Baekhyun polos sekali? Begitu saja dia tidak mengerti. Astaga, Chanyeol benar-benar ingin berteriak di tepi tebing saking frustasinya. "Jangan tanya, bodoh." Cecar Chanyeol jengkel.
Baekhyun seharusnya marah, namun si mungil itu malah menunduk dengan pipi yang lagi-lagi memerah. "O-oh, baiklah. Maafkan aku." Bisiknya.
Chanyeol berusaha cepat untuk mengalihkan pembicaraan ketika ia meletakkan mangkuknya yang telah kosong. "Apa kau tidak bekerja hari ini?"
Kepala si mungil menggeleng. "Tidak. Aku hanya bekerja mulai dari hari Rabu hingga Jum'at. Sisanya jatah Jinri dan Minseok hyung."
Chanyeol terkesiap, ia meletakkan sendoknya. Minseok. Ia ingat nama itu. Si pria pendek yang ditaksir Kim Jongdae, atau lebih tepatnya, pria pendek yang dipeluk Baekhyun tempo hari. Pria pendek yang menyentuh Baekhyun semena-mena.
Sontak, ekspresi Chanyeol berubah dingin. "Ada hubungan apa kau dengannya?" suaranya yang terdengar berbahaya.
Baekhyun mendongak ketika ia juga meletakkan mangkuknya, bukti bahwa ia telah menghabiskan makanannya. "Siapa? Jinri-ssi?" tanyanya polos.
Brengsek. Bagaimana mungkin Chanyeol bisa bertanya kalau Baekhyun memasang wajah innocent seperti itu. Chanyeol jadi tidak tega memarahinya. "Bukan dia." Balas Chanyeol, mengibaskan tangnnya acuh, berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat kalimatnya menjadi bentakan, karena ia tidak ingin menakuti Baekhyun. But hell, ternyata sulit sekali. Chanyeol senang berkata seenak jidatnya, dan kali ini ia harus sebisa mungkin menahannya.
"Oh, Minseokkie hyung?"
Chanyeol mendegus, membuang mukanya. "Siapapun nama si sialan itu." Ups, baiklah. Itu tidak disengaja, dan tidak seharusnya dikatakan.
Namun, alih-alih tersinggung atau menegur kalimat kasar Chanyeol, Baekhyun malah tersenyum lembut. "Hanya salah seorang hyung kenalanku."
Seketika itu juga, Chanyeol menoleh secepat kilat ke arah Baekhyun untuk menatapnya, mencari kesungguhan dalam matanya. "Sungguh? Hanya itu?'
Baekhyun terkikik kecil, lalu mengangguk lucu. Ia tidak menghindari tatapan Chanyeol, namun membalasnya dengan sorot mata lembut dan yakin. "Hanya itu."
"Kau yakin?" Chanyeol melebarkan matanya, masih tidak mau percaya.
Baekhyun tertawa lagi. "Sangat yakin."
"Seratus persen yakin?"
"Tentu saja."
"Kau bersungg—"
"Chanyeol," Baekhyun memotong lalu tergelak, menciptakan melodi di telinga Chanyeol. Ia baru sadar bahwa tawa Baekhyun terdengar sangat indah, sangat menenangkan, dan sangat berharga. Chanyeol berpikir untuk selalu membuat Baekhyun tertawa seperti itu. "Aku serius. Kami sudah mengenal kurang lebih satu tahun, dan dia adalah hyung yang sudah aku anggap seperti saudara kandungku sendiri."
Chanyeol, entah dia sadar atau tidak, kini mendesah lega. Baiklah. Hyung yang sudah dianggap seperti saudara kandung. Pikir Chanyeol berulang kali. Maka tidak mungkin mereka berdua saling menyukai, kan? Mana mungkin kau jatuh cinta dengan saudara kandungmu sendiri!
Dengan pemikiran seperti itu, Chanyeol menyeringai lebar. "Baiklah. Aku percaya. Hanya hyung."
Si mungil mengangguk senang, ikut-ikutan tersenyum. "Ya. Hanya hyung."
Lalu, ketika Chanyeol berdiri dan hendak mengemaskan mangkuk, piring dan gelas kotor, Baekhyun menyela. "Um, Chanyeol?"
Chanyeol mendongak. "Ya?"
Baekhyun berdiri, ikut membantu Chanyeol mengemaskan peralatan makan yang kotor. "Aku akan mencuci piring dan mangkuknya."
Chanyeol mengangkat alisnya. Namun akhirnya ia tersenyum. "Yah, terserah kau saja. Wastafelnya di sana." Jari telunjuk Chanyeol menunjuk sisi pojok ruangan.
"Um!" kata Baekhyun dengan mata berbinar dan wajah berseri.
Pria jangkung itu membantu Baekhyun mengangkat beberapa mangkuk, piring dan gelas, lalu meletakkannya di samping wastafel. Baekhyun kemudian mengambil alih pekerjaan itu, segera menghidupkan keran dan mencuci pelaratan makan. Chanyeol tidak berniat pergi jauh-jauh, jadi ia duduk di meja makan dan bersedekap sembari memandangi Baekhyun.
Si mungil itu bersenandung kecil, dan lagi-lagi Chanyeol harus takjub dengan bagaimana suaranya terdengar begitu indah. Padahal ia hanya menyanyikan melodi acak. Dari belakang Baekhyun, Chanyeol tersenyum. "Baekhyun." Panggilnya.
Baekhyun menyahut dengan sebuah gumaman pelan. "Hmm?" si mungil itu mungkin tidak menyadarinya, tapi dengan langkah sepelan kucing, Chanyeol merangsek mendekati Baekhyun, berdiri tepat di belakangnya. Tubuh mereka berdua tampak kontras, bagaimana Chanyeol terlihat begitu tinggi, sementara Baekhyun tampak jauh lebih kecil dan rapuh. Tahu-tahu saja, Chanyeol sudah merunduk untuk menyejajarkan tingginya dengan Baekhyun, lalu memiringkan kepalanya sehingga berada di samping kiri kepala Baekhyun. "Kurasa aku berhutang padamu." Bisik Chanyeol pelan, suaranya berat, menggema di telinga Baekhyun.
Baekhyun terlonjak kaget, hampir menjatuhkan mangkuk yang ia pegang. "Ap-huh? Hu-hutang apa?"
Dan begitu saja, Chanyeol merentangkan kedua tangan yang tadinya terkepal erat dalam saku celana jins—melingkarkannya di pundak sempit Baekhyun, sementara Chanyeol mengeleminasi jarak tubuh keduanya, tidak menyisakan ruang sedikitpun, membuat mereka berdua menempel erat. Lalu, dengan gerakan pelan, Chanyeol menjatuhkan kepalanya ke pundak Baekhyun.
Ia menghirup rakus-rakus aroma tubuh Baekhyun yang manis dan tentu saja, aroma stroberi dan sedikit bedak bayi. Chanyeol jelas sangat menyukai bagaimana aroma itu seakan meracuni otaknya, memberinya sensasi tak masuk akal yang menyenangkan. Rasanya seperti sedang memakai obat-obatan terlarang, namun Chanyeol tahu, memeluk Baekhyun jauh lebih aman ketimbang memakai barang tersebut. Hangat tubuh Baekhyun menjalar ke tubuhnya sendiri, membuat Chanyeol harus menggigit bibirnya sendiri dan menahan diri untuk tidak berbuat lebih jauh.
Meski begitu, Chanyeol mengeratkan pelukannya di bahu sempit Baekhyun, sekaligus mencari posisi nyaman untuk bersandar di pundaknya, menenggelamkan kepalanya ke dalam ceruk leher Baekhyun. Bibir Chanyeol menyentuh kulit leher Baekhyun—hanya menyentuh—dan Chanyeol seakan kehilangan akal sehatnya.
Berbagai penyesalan, rasa syukur, serta pertanyaan mulai bermunculan di benak Chanyeol. Ia menyesali bagaimana ia bersikap kasar dengan si mungil ini, ia juga merasa senang karena telah bertemu Byun Baekhyun dalam hidupnya. Ia menyesali kenapa ia tidak bertemu Baekhyun lebih awal—meski begitu, pemikiran tentang bertemu Baekhyun dan akhirnya jatuh cinta kepadanya membuat Chanyeol lega.
Untuk alasan yang ia sendiri tidak tahu kenapa, ia ingin waktu berhenti. Tetap seperti ini, hanya ia dan Baekhyun.
"Kau pernah melakukan ini padaku saat kita pertama kali bertemu." Bisik Chanyeol berat. "Aku akan membalasnya. Terimakasih karena telah memelukku waktu itu, Baekhyun."
"Chan ... yeol." Baekhyun berbisik, menggigil, entah karena alasan apa. Namun ia tidak menolak. Baekhyun tidak mampu menolak. Seluruh sistem saraf dalam tubuhnya luluh lantak, ia merasa kebas. Satu-satunya yang ia rasakan hanyalah perasaan hangat dan degup jantung yang menggila. Baekhyun menyukai bagaimana surai hitam Chanyeol menggelitik pipinya, bagaimana harum shampoo pria itu memenuhi penciumannya, bagaimana lengan kokoh Chanyeol melingkari pundaknya. Ia menyukai semuanya.
Baekhyun dapat merasakan bibir Chanyeol yang tersenyum dari ceruk lehernya. "Sebentar saja. Biarkan seperti ini." pinta Chanyeol, dan Baekhyun tahu, ia sama sekali tidak mampu menolak. Tidak. Ia tidak ingin menolak.
Mereka terdiam dalam posisi itu untuk beberapa waktu. Detik-detik seakan berjalan malas, membuat keduanya menikmati hangat tubuh satu sama lain dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Lalu, Chanyeol kembali memanggil nama Baekhyun dengan suaranya yang berat. "Baekhyun."
Namun, yang menjadi balasan dari panggilan Chanyeol adalah sebuah cegukan. "Hik!"
Sontak, Chanyeol mengangkat kepalanya dan menjulurkan lehernya, memiringkannya sedikit untuk melihat wajah Baekhyun yang ternyata sudah berubah menjadi semerah tomat. "Hik!" Baekhyun cegukan lagi, mengangkat kedua tangannya untuk menutup bibirnya sendiri.
Chanyeol terkekeh geli, sama sekali tidak berniat untuk melepaskan pelukannya. "Setelah bersin dan tersandung, apalagi kali ini?" tanya Chanyeol.
Kebiasaan aneh Baekhyun selain tersandung adalah cegukan. Ia akan mendapat serangan itu ketika ia terlalu kaget akan sesuatu. Contohnya saja disaat seperti ini. Oh ayolah, Baekhyun kan sama sekali tidak menduga kalau Chanyeol akan memeluknya dari belakang seperti itu.
"Hik! Tidak ta—hik!"
Chanyeol tergelak, dan Baekhyun menyukai bagaimana tawanya terlihat begitu lepas, tanpa beban. Ia terlihat tampan dan bahagia.
"Hik! Hik! Hik!"
"Cegukan, ya?" goda Chanyeol, memajukan kepalanya yang dimiringkan, sehingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari pipi Baekhyun yang kini tampak seperti bakpao rebus. Si jangkung mendesah panjang, tak rela. Ia melepaskan pelukannya, lalu berjalan ke arah meja makan untuk mengambil segelas air putih. Chanyeol kemudian berbalik dan menyodorkannya kepada Baekhyun dengan ekspresi geli. "Minum." Perintahnya. "Minum secara perlahan, oke?"
Baekhyun berbalik. "Hik!" Ia masih menutup mulut dengan kedua tangannya, kemudian melepaskannya untuk menerima air putih dari Chanyeol. "Hik!"
Seperti yang telah di instruksikan oleh Chanyeol, Baekhyun meneguk air putih itu perlahan.
"Sudah lebih baik?"
"Hik!" Baekhyun menunduk malu. Ia memaki dirinya sendiri dalam hati. Kenapa sih dia bisa menjadi sangat memalukan seperti ini? Adegan yang terjadi sudah sangat romantis dan ia dengan bodohnya menghancurkan semuanya dalam sekejap hanya karena cegukan idiot!
Chanyeol tertawa lagi. "Jelas sekali belum. Minum lagi."
Baekhyun menurut.
"Bagaimana?"
Baekhyun mendongak, mengerjap lalu tersenyum lebar. "Sudah berhent—hik!" lalu ekspresinya menjadi ngeri tatkala cegukan itu terjadi lagi, kali ini beruntun sebanyak tiga kali. Jantung Baekhyun berdebar keras sekali meski ia tahu bukan cegukan penyebabnya.
"Tidak apa-apa, pendek." Chanyeol tersenyum geli lalu menepuk sayang kepala Baekhyun. Baekhyun harus memejamkan sebelah matanya lalu berjengit karena hangat tangan Chanyeol. "Kau tampak menggemaskan. Hehe. Kuharap kau cegukan selamanya." Lalu si jangkung itu terkekeh layaknya orang idiot.
Baekhyun mendongak dan menatap Chanyeol sewot. "APA?! ENAK SA—hik!"
Dan Chanyeol tertawa heboh. "Jangan berbicara lagi. Kau makin tampak imut."
Baekhyun menyalak marah, pipinya tampak seperti bakpao rebus. Luar biasa menggemaskan. "TIDAK ADA PRIA—hik!—YANG SUDI DI—hik!—BILANG IMUT!"
Tidak memperdulikan protes Baekhyun, Chanyeol malah membalasnya dengan tawa yang jauh lebih heboh. Habis mau bagaimana lagi, Baekhyun tampak sangat menggemaskan dan imut. Chanyeol tidak bisa menahannya. Ia tertawa hingga ujung matanya mengerluarkan air.
Lalu, ketika tawanya mereda, barulah Chanyeol berkata pada Baekhyun yang tampak cemberut. "Baiklah, baiklah. Maafkan aku."
Baekhyun memerah lagi. Hanya kata maaf dari Chanyeol dengan segera membuat kekesalannya meluruh. Lagipula, sangat jarang mendengar seorang Park Chanyeol mengatakan maaf. Namun kalimat-kalimat yang jarang ia utarakan terlepas begitu saja ketika ia berkaitan dengan Baekhyun.
"Kau tidak ada acara apapun hari ini?"
"Tidak. Kenapa?"
Chanyeol tersenyum kecil, meraih gelas kosong Baekhyun dan kembali mengisinya dengan air putih. "Let's go out, then."
Baekhyun melongo. Ia takut salah dengar. "Huh?"
Chanyeol memutar bola matanya. "Let's go out, idiot. With me." Karena Baekhyun tak kunjung berhenti melongo kaget, Chanyeol melanjutkan dengan gestur malu-malu sembari membuang muka dan mengusap belakang kepalanya, "Ada festival lampion di Jinjuseong. Umm, ingin pergi?"
Baekhyun terdiam, menunduk. "Ba-baiklah."
"Kau bilang apa, pendek? Aku tidak dengar." Chanyeol menyeringai, kembali menggoda Baekhyun.
Baekhyun mendongak, kemudian menjawab dengan suara yang agak lebih besar. "Baiklah."
Chanyeol tertawa lagi. Dan untuk yang kesekian kalinya, Baekhyun harus kembali terpaku. Tawa Chanyeol seakan menjadi pusat untuk dunianya. Seketika itu, alam semesta seakan berhenti hanya untuk memperhatikan bagaimana mempesonanya tawa seorang Park Chanyeol.
"Kalau begitu," Chanyeol melanjutkan, "kita harus bersiap-siap sekarang kalau tidak mau ketinggalan festivalnya. Jarak dari Seoul ke Jinjuseong cukup jauh."
Baekhyun mengangguk senang, tersenyum bersemangat. Sangat menggemaskan. "Um!" lalu, belum sampai lima detik, si mungil itu berteriak senang. "CEGUKANKU SUDAH BERHENTI!"
Dan Chanyeol, yang sudah tertawa berapa kali pagi itu, kini harus tertawa lagi, bahkan tanpa lelah, melihat tingkah Baekhyun yang terbilang kekanak-kanakan. Weekend kali ini akan menjadi yang pertama kalinya untuk Chanyeol. Bepergian dengan seseorang yang kau sayangi. Sebelumnya ia pernah pergi berlibur ke pulau Jeju dengan Sehun, Kris dan Luhan. Namun rasanya sungguh berbeda ketika semuanya berkaitan dengan Baekhyun. Seingat Chanyeol, ia tidak sesenang atau sangat bersemangat seperti ini sebelumnya. Jantungnya melompat senang lagi.
Byun Baekhyun banyak merubah makhluk sekeras batu bernama Park Chanyeol, rupanya. Sepertinya, prediksi Lee Young Ri tentang Baekhyun yang mampu membuat Chanyeol luluh ternyata bukan omong kosong belaka.
Namun sayang sekali, Chanyeol seharusnya lebih berhati-hati. Ia tidak seharusnya jatuh untuk Baekhyun secepat itu. Ia sama sekali tidak lagi mengindahkan fakta bahwa Baekhyun datang kerumahnya dengan alasan yang tidak bisa dijelaskan. Asal-usul Baekhyun, bagaimana kehidupan masa lalunya, kenapa si mungil manis itu bisa muncul di rumahnya dengan menenteng kunci asli, Chanyeol belum mau ambil pusing. Dan nanti, ketika ia tahu kebenaran tentang siapa Baekhyun yang sesungguhnya, pihak yang paling tersakiti adalah dirinya sendiri.
Untuk sekarang, Dewi Fortuna sepertinya membiarkan Chanyeol bersenang-senang dengan perasaan barunya; mencintai seseorang. Ya, hanya untuk sekarang. Karena nantinya, Chanyeol harus menghadapi sakit hati untuk yang kesekian kali—bahkan mungkin, kali ini, ia tidak akan mampu bangkit dan pulih lagi.
Karena, sadar atau tidak, mulai hari itu, Byun Baekhyun adalah pusat dari dunia sempit Chanyeol.
Lalu, apa yang akan terjadi jika kau mengetahui sesuatu yang membuat pusat duniamu hancur berantakan?
"Ya, ya, terserah kau saja. Apa?! Tentu saja tidak! Aku tidak akan melakukan apapun kepadanya!"
Baekhyun baru saja menuruni tangga ketika ia mendengar Chanyeol menyalak pada ponsel genggamnya. Si mungil itu mengenakan celana jins, kaus lengan gantung berwarna hitam bergaris putih, sebuah ransel kecil berwarna abu-abu dan tentu saja, sepatu kets soft pink favoritnya. Dalam diam, Baekhyun turun dan menatap sosok Chanyeol yang mengenakan celana jins navy, lengkap dengan kaus putih yang dipadukan dengan kemeja kotak-kotak—lengan kemejanya ia gulung setengah—Chanyeol juga memakai sepatu nike dan snapback yang menutupi sebagian surai gelapnya.
"Astaga, Sekretaris Yoon." Jengkel Chanyeol, "dia bukan anakmu. Kenapa kau memarahiku seperti ini! Aku bersumpah! Ya, sungguh! Aku tidak akan mela—"
Baekhyun menepuk pelan pundak Chanyeol, dan si jangkung itu berbalik. Lalu ia berkata tanpa suara. Biar aku saja yang berbicara.
Chanyeol mengangguk, air mukanya masam. Ia menyodorkan ponsel genggamnya kepada Baekhyun.
"Yeobseo, Sekretaris Yoon?"
"BAEKHYUN!"
Baekhyun tertawa kecil tatkala pria paruh baya itu berteriak lega ketika ia mendengar suara Baekhyun. "Aku tidak apa-apa, kok. Sungguh. Sudah kubilang kan, Chanyeol itu baik." Baekhyun mendongak sedikit ketika ia mengatakan kalimat terakhir itu, dan bertemu pandang dengan Chanyeol yang menatapnya lembut, lalu ia menunduk dan merona. "Chanyeol mengajakku pergi ke Jinjuseong untuk melihat festival lampion. Apakah tidak apa-apa?"
Dari seberang telepon, pria tua itu mendesah. Baekhyun bisa membayangkan ekspresinya sekarang. "Jinjuseong? Daerah itu cukup jauh dari Seoul, Baekhyun. Aku tidak ingin melarang. Tapi bagaimana kalau Chanyeol mengerjaimu lagi? Dan saat itu terjadi, aku tidak ada di sana. Bagaimana kalau Chanyeol sengaja mengajakmu lalu berniat meninggalkanmu di—"
"Ia tidak akan melakukannya, Sekretaris Yoon. Tenanglah." Baekhyun memotong dengan nada yakin. "Aku percaya padanya." Cicit Baekhyun.
Sekretaris Yoon menghela napas lagi.
Sementara di hadapan Baekhyun, Chanyeol tengah membuat janji dengan melakukan gerakan menyilang di depan dadanya, sembari berkata mantap. "Cross my heart."
Baekhyun terkikik.
"Baiklah. Ponselmu harus tetap aktif, kau mengerti? Segera hubungi aku kalau dia mulai bertingkah yang aneh-aneh."
Baekhyun mengangguk, meski Sekretaris Yoon tidak bisa melihatnya. "Tentu, Sekretaris Yoon. Terimakasih." Lalu ia menyodorkan ponsel tersebut kepada Chanyeol.
"Nah, bagaimana, orang tua?" ujar Chanyeol kepada seseorang di seberang telepon dengan gaya pongah, "kau percaya padaku, kan?" Baekhyun tidak bisa mendengar ocehan Sekretaris Yoon, dan sejurus kemudian Chanyeol membalas. "Aku tidak akan melakukan hal-hal aneh kepadanya. Ya, ya, astaga kau cerewet juga ternyata. Iya! Baiklah! Oh, kami harus pergi sekarang. Adios, Sekretaris Yoon!" Lalu Chanyeol terkekeh geli sebagai sentuhan akhir.
Chanyeol akhirnya menatap Baekhyun dan menyeringai jahil. "Kita pergi sekarang?"
Baekhyun mengangguk dan balas tersenyum lebar. "Um!" sesaat kemudian, Baekhyun bersuara, "kita pergi pakai apa?"
"Mobilku. Aku yang akan menyetir." Balas Chanyeol, sementara mereka bersama-sama menapak menuju garasi mewah yang merupakan bangunan terpisah dari rumah utama. "Perjalanannya agak lama, sekitar lima atau enam jam. Kau tidak apa-apa?"
Baekhyun tersenyum. "Tentu saja."
Dan dengan kalimat itulah, mereka akhirnya menaiki mobil Chanyeol untuk berkendara menuju Jinjuseong. Baik Chanyeol dan Baekhyun merasa sangat bersemangat. Selain karena mereka pergi bersama, alasan kuat yang lainnya adalah akrena festival lampion di Jinjuseong sangatlah indah, apalagi jika malam sudah menjelang. Festival Lampion Jinjuseong adalah salah satu festival yang paling terkenal di Korea. Festival ini diselenggarakan demi memperingati dan menghormati jasa para pahlawan yang dulunya gugur ketika melawan invasi kejam Jepang.
Mereka banyak berbincang hal-hal ringan yang menyenangkan ketika berada dalam mobil, seakan mereka adalah teman lama yang sangat akrab.
"Sepertinya Chanyeol hanya punya tiga teman, ya?" tanya Baekhyun tanpa malu, padahal hal merupakan sesuatu yang cukup pribadi.
Chanyeol hanya menanggapinya dengan senyum kecil, snapback yang ia pakai terbalik menambah kadar kerupawanan wajahnya. Meski Chanyeol tidak menoleh kepada Baekhyun yang duduk di sampingnya, Baekhyun tahu wajah Chanyeol kini tengah dipenuhi seri. Sesekali, Chanyeol akan mengerutkan keningnya, karena seluruh fokusnya sedang tercurah penuh kepada jalan raya dihadapannya.
"Lima, sekarang." Jawab Chanyeol.
Si mungil itu mengangguk. "Boleh aku tahu siapa-siapa saja?"
"Yang pertama adalah Oh Sehun, aku mengenalnya sudah lama, ketika berada di SoPA JHS dulu. Kemudian ada Luhan, senior tahun ketiga kita di SoPA, dia pacaran dengan Sehun."
Baekhyun terkesiap. "Apakah Luhan yang bertubuh kecil dengan wajah cantik itu?"
Chanyeol tersenyum geli. "Jangan berani kau sebut kata 'cantik' sekalipun di depan wajahnya. Omong-omong, ya, itu dia. Darimana kau tahu?"
"Aku melihat Chanyeol memeluknya tempo—EH!" Baekhyun sontak menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya, lalu berbalik untuk menghantam-hantamkan kepalanya pelan kepada jendela kaca mobil.
"Hey hey pendek!" Chanyeol menoleh sekilas kepada Baekhyun, meski seluruh konsentrasinya sedang berada pada jalanan. "Ada apa? Demi Tuhan, jangan memukul kepalamu sendiri seperti itu!"
"Ba-baiklah, maaf." Kata Baekhyun, lalu menunduk dengan wajah memerah.
"Kenapa? Kau melihatku memeluknya? Memangnya ada—aaahhh, aku mengerti." Seketika itu juga, senyum jahil kembali bermain di bibirnya yang sempurna. "Kau cemburu?"
Baekhyun berteriak dengan wajah merah. "TIDAK!"
Chanyeol tergelak. "Ya, kau cemburu."
"Bukan seperti itu." Cicit Baekhyun dengan suara pelan, malu luar biasa. Ia seakan merasa ingin mengubur dirinya sendiri hidup-hidup dalam tanah sekarang.
Gelak tawa Chanyeol berubah menjadi kekehan halus. "Tenang saja. Kejadiannya tidak seperti yang kau pikirkan kok. Luhan itu milik Sehun. Lagipula aku tidak berminat kepada Luhan sama sekali."
"Memangnya kejadian macam apa yang kupikirkan?" desah Baekhyun, jengkel.
"Ummm, kau mengira aku dan Luhan terlibat dalam suatu hubungan. Bukankah seperti itu?" Chanyeol mengerling nakal kepada Baekhyun.
"Tidak, tuh." cicit Baekhyun lagi.
Dan Chanyeol menikmatinya dengan tertawa.
"Lalu," potong Baekhyun keras, berusaha mengalihkan topik pembicaraan, "siapa tiga orang sisanya?"
"Kris Wu. Dia juga senior tahun ketiga sama seperti Luhan. Jangan tertipu oleh wajah dinginnya. Dia benar-benar sinting, tahu." Chanyeol mencibir, mengingat tingkah Kris yang luar biasa absurd, apalagi jika dipadukan dengan Sehun. Hancurlah sudah dunia ini. Sungguh, sepertinya hanya Zitao yang bisa tahan dengan tingkah Kris. "Lalu ada Kim Jongdae, yang selalu berkoar untuk dipanggil Chen. Dia peraih skor tertinggi untuk kategori vokal semester lalu, benar-benar saingat kuat. Omong-omong, Chen menyukai hyung-mu."
Baekhyun terkesiap lagi. "Minseok hyung? Sungguh?!"
Chanyeol mengangguk. "Terakhir adalah Do Kyungsoo." Chanyeol menghela napas berat. "Kyungsoo dan Chen sekelas denganmu. Kau benar-benar harus belajar giat, Baekhyun. Kelas II A bukan kelas sembarangan. Kalau peraih skor tertinggi adalah Chen, maka posisi kedua dimenangkan oleh Kyungsoo."
Mendadak saja, Baekhyun merasa ciut. Ia terdiam lama. Chanyeol merasakan perubahan itu, dan ia tersenyum menenangkan. "Tenanglah, pendek. Kau juga sama berbakatnya dengan mereka. Kalau tidak, maka kau tidak mungkin diterima di kelas II A, kan? Aku yakin kau bisa mengalahkan mereka."
Baekhyun mendongak dan menatap Chanyeol dengan mata berbinar, plus pipinya yang merona lucu. "Benar begitu?"
"Tentu saja. Aku pertaruhkan semua keberuntunganku untumu, pendek." Ujar si jangkung, tersenyum tengil.
Baekhyun jadi salah tingkah, mengusap-usap surai cokelat keunguannya dengan gugup. "Te-terimakasih. Chanyeol juga, harus berusaha dengan giat."
"Untuk apa?" sahut Chanyeol pongah, menyeringai selebar kuda. "Aku sudah sangat berbakat dari lahir. Tanpa usaha pun aku tetap yang terbaik."
"Cih." Baekhyun mendecih sembari memutar manik cokelat cerahnya.
Dan seperti itulah, perjalanan yang terasa lama dihiasi oleh gelak tawa, saling melirik satu sama lain, saling menggoda, belum lagi Baekhyun yang tak hentinya merona. Sesekali, keheningan akan menguasai mereka, ditemani oleh senandung selembut sutra dari bibir Baekhyun, membuat Chanyeol harus kembali takjub dengan betapa indahnya suara si mungil itu. Hingga akhirnya si mungil itu kelelahan dan jatuh terlelap.
Chanyeol harus menepikan mobilnya ke tepi jalan raya yang dikelilingi oleh hutan lebat ketika melihat itu. Tak sampai hati yang melihat Baekhyun tampak kelelahan, Chanyeol kemudian meraih selimut dari kursi belakang dan menyelimuti Baekhyun, lalu mengusap sayang pipi halus Baekhyun dengan punggung tangannya sembari tersenyum lembut.
Jadi seperti inilah ia tampak ketika ia terlelap. Pikir Chanyeol, sembari menyanggah kepalanya di dashboard mobil dan menatapi Baekhyun dengan manik gelap yang berbinar. Baekhyun terlihat damai dan polos, membuat sosoknya tampak seperti malaikat suci tanpa dosa. Sesekali, Baekhyun akan bergerak tak nyaman karena posisinya yang kaku, dan Chanyeol berusaha sepelan mungkin untuk memundurkan bangku Baekhyun hingga tubuhnya bisa berbaring lebih leluasa.
Ketika ia berhasil melakukannya, Baekhyun bergerak lagi, menarik selimutnya mendekat dan kemudian meringkuk seperti kucing manis dengan wajah damai. Chanyeol tersenyum kecil, kemudian mendekat.
Mendekat, dan menyapukan bibirnya di puncak kepala Baekhyun. Harumnya tubuh Baekhyun kembali menginvasi pikirannya tanpa ampun, meresap dalam ke seluruh inderanya. Surai cokelat keunguan Baekhyun menggelitik bibirnya, dan Chanyeol menyukainya. Meski itu hanya kecupan biasa, kecupan ringan selembut kepakan sayap, namun mampu membuat perasaan hangat menjalari seluruh tubuh Chanyeol. Si jangkung itu juga merasakan dorongan kuat dalam dadanya untuk merangsek turun, barangkali sekalian mengecup sedikit bibirnya. Namun ia tidak melakukannya. Belum. Mungkin nanti, ketika Baekhyun tengah berada dalam keadaan yang sadar sepenuhnya. Ia bisa saja terus menatapi wajah lelap Baekhyun, namun mereka harus tetap melakukan perjalanan. Chanyeol bahkan tidak peduli dengan kenyataan bahwa ia baru saja mencuri sebuah kecupan halus dari puncak kepala Baekhyun.
Jam sudah menunjukkan pukul dua sore, dan Jinjuseong baru setengah jalan di depan mata. Maka, meski tidak rela, Chanyeol kemudian menghidupkan mesin mobil dan kembali memulai perjalanan panjang itu. Ia merasa sedikit lelah tadinya, namun sekarang, Chanyeol seperti merasakan ribuan suntikan energi di seluruh tubuhnya, membuat rasa lelahnya seketika sirna. Senyum yang luar biasa rupawan tak henti menghiasi bibirnya.
Namun, ketika mereka sampai nanti, sebuah petaka besar telah menunggu.
Baekhyun menghilang.[]
A/N : FIRSTLY, AKU MAU MENYAMPAIKAN BERIBU MAAF DULU (deep bow). Chapter sebelas termasuk yang lama update kan ya? Maaf banget buat yang minta fast update kemarin, jadinya chapter sebelas murahan gini huhu T-T
Tau kan, abis UTS terbitlah ulangan harian dan segala macam bentuk remedial yang bikin kepalaku puyeng. Untuk beberapa hari yang menyiksa, otakku gak mau diajak kompromi buat nulis, meski begitu, terciptalah chapter paling boring yang pernah ada.
MAAF SEKALI LAGI T-T
Terimakasih buat yang sering review, cant do this without ya gais, I mean it. Aku gak maksa kalian buat review deh buat chapter membosankan ini, karena ini gagal banget hueee Chanyeeeol peluk akuuuu~~~
BIG HUGS{}
