[CHAPTER 12 - WEEKEND Pt II]


"This is not the end. It's our new start!"


Baekhyun terbangun tepat ketika Chanyeol hendak memarkirkan mobilnya di tempat peristirahatan untuk pengunjung. Si mungil itu menguap, merenggangkan tubuhnya dan mengucek-ucek matanya.

"Kau ngiler."

Sebuah suara berat dari samping Baekhyun, membuatnya terlonjak sedikit dan menoleh dengan tatapan linglung khas orang baru bangun tidur. Setelah beberapa detik yang berlalu lama, Baekhyun hanya menatapi Chanyeol yang menatapnya balik dengan tatapan geli sembari menyandarkan kepalanya ke dashboard mobil. Ketika akhirnya ia mencerna kalimat Chanyeol, barulah si mungil itu mengusap tepian bibirnya dengan panik sembari menunduk malu.

Lalu Chanyeol tertawa puas, sementara Baekhyun mendongak dan menatapnya sengit. Ia sadar Chanyeol tenah mengerjainya (lagi).

"Hanya bercanda, pendek. Jangan memandang orang dengan tatapan membunuh seperti itu." Ujar Chanyeol santai dengan mimik tengil yang menyebalkan. "Apa tidurmu nyenyak?"

Baekhyun menggerutu kesal selama beberapa saat. Meski akhirnya si mungil itu menganggukkan kepala magentanya. "Apa Chanyeol baik-baik saja?"

Chanyeol mengangkat alis tebalnya. "Apa maksudmu?"

Baekhyun memilin ujung bajunya. "Kita berkendara selama berjam-jam. Apa Chanyeol ... um ... tidak lelah?"

Senyum lembut segera mekar di bibir Chanyeol, namun ia berusaha menahannya, kemudian berpura-pura memasang wajah nelangsa. Lalu, pria bersurai sekelam malam itu mencibir. "Tentu saja aku lelah, bodoh. Ini semua gara-gara kau tertidur. Sementara aku mengemudi kau tidur seperti bayi."

Mata sipit Baekhyun membelalak. "Benarkah?" kemudian ia menggigit bibir, merasa bersalah bukan main. "Maafkan aku, Chanyeol pasti lelah sekali." Baekhyun meraih tasnya dan mengeluarkan sebotol minuman isotonik.

Chanyeol membelalak ketika si mungil itu menjulurkan lengannya untuk memberi Chanyeol minuman pengembali energi dengan perisa stroberi itu.

"I-ini minuman favoritku, Ch-Chanyeol boleh meminumnya." Cicit Baekhyun sembari membuang mukanya.

Chanyeol menghela napas. Gejolak untuk menggoda Baekhyun lebih jauh lagi seketika itu memenuhi seluruh rongga dadanya. "Kalau begitu," kata Chanyeol dengan suara menyebalkan, "kau minum duluan."

"Eh?" kepala Baekhyun menoleh secepat kilat, sementara matanya mengerjap tak mengerti. Sayang sekali manik cokelat Baekhyun tidak melihat kilatan nakal di manik kelam Chanyeol. "Kenapa harus aku yang minum?"

"Karena, Byun Baekhyun yang bodoh," Chanyeol memutar bola matanya bosan, "aku tidak mau kau meracuniku."

"Apa?!" mata sipit Baekhyun melebar. "Aku tidak akan melakukan hal itu!"

"Makanya," sahut Chanyeol cepat, "kalau kau ingin aku percaya, kau yang minum duluan."

Dengan pipi merona, Baekhyun membuka tutup botol. Sesekali, si mungil itu akan menggerutu kesal. Sayang sekali kepolosan Byun Baekhyun harus dimanfaatkan setan berbulu domba sejenis Chanyeol. Andai saja Baekhyun tahu kalau tadinya niat Chanyeol hanya bergurau. Tapi Chanyeol sendiri tidak bisa menahan buncahan aneh dalam dadanya. Kalau nanti Baekhyun selesai meminum airnya, otomatis bekas bibirnya tentu masih ada di mulut botol, kan? Nah, Baekhyun akan menyerahkan kepada Chanyeol sebotol minuman isotonik berperisa stroberi plus bekas saliva dan bibirnya. Bukankah itu sangat menggairahkan? Lalu Chanyeol akan—sial. Chanyeol menggeleng kuat lalu merasakan hawa dingin merambati lehernya. Kris benar. Hormon masa muda kadang bisa menjadi begitu mengerikan.

Namun, sepertinya Chanyeol terlalu banyak menghayal, hingga ia sendiri tidak sadar Baekhyun telah memanggilnya berkali-kali sembari menyerahkan botol minuman.

"Huh? Apa?" Chanyeol menoleh dengan wajah linglung.

"Ini, sudah kuminum tadi." Gerutu si mungil lucu, kemudian mendongak dan matanya membesar sedikit. "Loh, kenapa Chanyeol meneteskan air liur seperti itu—"

Panik, Chanyeol mengusap tepian bibirnya dengan punggung tangan—dan kemudian berniat untuk mengubur diri sendiri dalam tanah, lantaran, ya Tuhan, Baekhyun benar! Chanyeol hampir meneteskan air liurnya hanya karena memikirkan bibir si mungil itu!

Meneguk ludahnya kasar, Chanyeol pun membuang muka.

Brengsek. Brengsek. Brengsek. Sialan, kau Park Chanyeol!

Bagaimana mungkin ketika hanya dengan memikirkan bagaimana rasa bibir Baekhyun membuat Chanyeol hampir setengah gila seperti ini? Ya Tuhan, ini sungguh sulit dipercaya. Baiklah, Chanyeol harus mengakuinya. Bibir Baekhyun tampak tipis namun merekah dengan sempurna. Bahkan tanpa diberi polesan apapun, Chanyeol yakin bibir Baekhyun memang sudah berwarna pink cherry alami seperti itu. Belum lagi ketika ia kesal dan tanpa sengaja mengerucutkan bibirnya—atau ketika ia merona dan menggigit kecil bibirnya. Demi celana dalam Zeus! Chanyeol juga ingin menggigit bibir Baekhyun!

Oke, tidak. Jangan. Jangan pikirkan hal semacam itu.

Bibir Baekhyun. Bibir pink cherry Baekhyun.

TIDAK! PARK CHANYEOL, JANGAN PIKIRKAN BIBIR BAEKHYUN—ARRGHHHHH!

"Aku tidak meneteskan air liur!" bentak Chanyeol panik, pelipisnya mengucurkan keringat dingin. Sialan.

Baekhyun menaikkan sebelah alisnya. "Benarkah? Kalau begitu apa aku salah lihat? Tapi tadi—"

Chanyeol tertawa sumbang, lalu berteriak heboh. "IYA, BENAR PENDEK! KAU SALAH LIHAT HAHAHAHAHA!"

Si mungil bersurai magenta itu terlonjak sedikit. "Baiklah," gerutu Baekhyun sembari bersungut-sungut lucu, "tidak usah berteriak seperti itu." Si mungil itu kemudian kembali mengulurkan botol minumannya. "Mau minum tidak?" tanyanya lagi, kali ini dengan suara penuh rasa jengkel yang berusaha ia tahan.

Chanyeol menggeleng nelangsa. Pria jangkung itu merasa pemikirannya sungguh dangkal—sistem dalam kepalanya porak-poranda hanya karena sebuah botol minuman bekas bibir Baekhyun. Dasar sinting.

Baekhyun terkesiap ketika melihat Chanyeol menggeleng. "Ke-kenapa?" Baekhyun tergagap, matanya berubah menjadi pancaran sendu.

"Tenggorokanku kering," karena memikirkan bagaimana rasanya bibirmu, bodoh. jawab Chanyeol, namun tentu saja kalimat terakhir tidak mampu ia suarakan. Tatapannya berubah sayu. "Apa kau punya air putih saja?"

Kepala mungil itu mengangguk, lalu menyerahkan air mineral kepada Chanyeol—yang, omong-omong, langsung meneguknya rakus tanpa pikir panjang. Chanyeol sedang berpikir bahwa ia tengah meminum air dari botol isotonik itu, alih-alih meminum air mineral dari botol baru.

"Sudah lebih baik?" tanya Baekhyun khawatir.

Chanyeol meremas botol plastik yang telah kosong, lalu mengangguk kaku.

Tidak memperdulikan ekspresi Chanyeol, Baekhyun kemudian tertawa riang, lalu berteriak. "Aku hampir lupa kalau kita sudah sampai!"

Melihat antusiasme Baekhyun yang menggemaskan, Chanyeol malah tersenyum lembut. "Hei pendek, apa kau lapar?"

Baekhyun menoleh dan terdiam sejenak untuk berpikir, lalu menggeleng. "Kurasa tidak. Bagaimana dengan Chanyeol?"

Chanyeol tersenyum, dan Baekhyun merasa dadanya terisi penuh oleh rasa senang. "Aku juga tidak. Kalau begitu, kita langsung saja?"

"Eum! Langsung saja!" jawab Baekhyun bersemangat.

Dan dengan kalimat itulah, mereka berdua turun dari mobil, lalu mulai berjalan memasuki kawasan Jinjuseong yang telah dipenuhi bermacam jenis manusia dari berbagai kalangan.


Festival itu lebih padat dari yang Chanyeol perkirakan. Mungkin karena festival lampion Jinjuseong hanya diadakan dua tahun sekali, makanya pengunjung dari luar daerah sangat ramai—bahkan Chanyeol mendapati beberapa turis yang berlalu lalang, menenteng kamera dengan santainya, memotret objek yang dirasanya menarik.

Begitu juga dengan Chanyeol. Seseorang bertubuh mungil dengan surai cokelat keunguan di sampingnya adalah salah satu dari sekian banyak objek yang menarik.

Sangat menarik.

Ia berjalan bersisian bersama Baekhyun, dan menyukai bagaimana postur tubuh Baekhyun yang kecil tampak kontras dengan tubuh jangkungnya—atau bagaimana Baekhyun harus mendongak dan berceloteh tentang turis-turis asing—atau bagaimana bersemangatnya Baekhyun hingga pipinya merona merah. Si mungil itu hanya memperdulikan Chanyeol sekali-kali, karena ia sibuk memperhatikan stan-stan menarik yang memenuhi jalan setapak—yang meski cukup sesak, ternyata cukup menyenangkan. Chanyeol juga harus ekstra berhati-hati karena Baekhyun terus-menerus tersandung—atau ketika tubuh mungilnya tidak sengaja bertabrakan dengan orang asing, atau ketika ia berjalan terlalu jauh dari Chanyeol—Chanyeol sudah siap menariknya mendekat, menangkap bahunya (sebanyak hampir empat kali) ketika ia tersandung. Si jangkung bersurai malam itu sama sekali tidak berniat untuk memarahi Baekhyun karena kecerobohannya. Ia hanya tidak ingin merusak pemandangan seorang Byun Baekhyun yang tampak luar biasa menggemaskan di depan wajahnya.

Diam-diam, Chanyeol juga mengantongi kamera digital mini Canon, menyembunyikannya dari hadapan Baekhyun—memotreti ekspresinya yang menggemaskan.

"Woah." Desah Baekhyun takjub, tatkala mata sipitnya melebar ketika ia melihat salah satu stan yang menjual lukisan pasir yang sangat unik.

"Tujuh belas." Gumam Chanyeol, terkekeh geli.

Baekhyun menoleh tepat ketika Chanyeol hendak memotret wajah lucunya, dan Chanyeol mesti berpura-pura menyembunyikan kamera mininya dibalik tubuh jangkungnya. "Apanya yang tujuh belas?" tanya Baekhyun, alisnya terangkat.

Chanyeol terkekeh lagi. "Itu ketujuh belas kalinya kau mengatakan 'woah' dengan ekspresi seperti itu."

Baekhyun ikut-ikutan tertawa. "Benarkah?"

Kepala Chanyeol mengangguk dengan ekspresi geli. "Apa kau sebegitu senangnya? Ini kan hanya festival."

Kepala magenta Baekhyun mengangguk bersemangat. "Aku jarang sekali bisa keluar dan bersenang-senang seperti ini ketika akhir minggu." Baekhyun mendesah sedih, kemdian melanjutkan dengan nada yang jauh lebih cerah, "lagipula disini sangat ramai dan meyenangkan! Apa boleh kita pergi ke festival semacam ini lagi?" Baekhyun memelas, mengepalkan kedua tangannya ke depan dada—membuat gestur memohon, dengan mata cokelat cerah yang berbinar manis.

Chanyeol mendesah dalam, lalu tersenyum lembut. Ia mengangkat kedua tangannya ke depan dada, membuat gestur seakan terkena serangan jantung. "Jangan serang aku dengan aegyo." Chanyeol berpura-pura membuat suara sekarat—karena memang, sesungguhnya, aegyo Baekhyun takkan mungkin bisa ia tolak.

Baekhyun terkikik geli, mengerjapkan matanya berkali-kali, masih dengan wajah memelasnya yang menggemaskan. "Ya? Ya? Bolehkan? Bolehkaaan? Chanyeolieeee ..."

BADUMP!

Baru saja, Chanyeol seperti merasa bahwa jantungnya berhenti.

Sialan, Byun Baekhyun, berhenti bertingkah imut seperti itu!

Chanyeol, yang sedang berada dalam fase antara sadar dan tidak akibat panggilan manja 'Chanyeolie' bernada racun tersebut, kemudian mengangkat tangannya dan menepuk lembut kepala Baekhyun. Ia tersenyum. "Tentu, pendek. Kita akan pergi ke tempat seperti ini lagi."

Kini, giliran Baekhyun yang memerah sampai ke telinga, sementara Chanyeol menikmati bagaimana rona merah merambat ke wajah Baekhyun dengan kekehan yang menyebalkan.

Mereka kemudian berjalan lagi, kali ini dalam diam, karena dua-duanya merasa malu luar biasa. Chanyeol mengambil langkah pendek, berjalan di belakang Baekhyun, lalu memotreti sosoknya dari belakang. Semua foto Baekhyun membuat Chanyeol tersenyum lebar. Surai magentanya benar-benar tampak bagus pada dirinya. Sesekali, surai magenta Baekhyun akan tertiup angin dan menjadi sedikit berantakan.

Lalu, tahu-tahu saja, Baekhyun sudah berbalik ke belakang dan tersenyum lebar pada kamera.

Klik.

Untuk sesaat, Chanyeol terpaku. Ia tidak tahu kalau potret seorang Byun Baekhyun yang sedang tersenyum manis seperti itu akan tampak begitu mempesona.

"Ketahuan." Celetuk Baekhyun, lalu menjulurkan lidahnya kepada Chanyeol.

"Apanya?" kata Chanyeol, mengalihkan muka untuk tidak fokus kepada lidah nakal Baekhyun—pura-pura bodoh.

Si mungil itu terkikik. "Memangnya aku tidak tahu kalau Chanyeol memotretiku dari tadi?"

"Tidak tuh." sahut Chanyeol, memasang wajah sedatar triplek.

Baekhyun cemberut. "Bohong."

Chanyeol memutar bola matanya, memegang kamera digitalnya dengan gaya acuh, seakan ia hanya memainkan benda itu tanpa memotret siapapun. "Tidak, Baekhyun. Aku tidak mengambil satu pun fotomu."

Parahnya, Baekhyun yang jelas tahu Chanyeol tengah berbohong, kini tiba-tiba saja melemparkan tubuh mungilnya kepada tubuh jangkung Chanyeol—sementara tangannya terjulur untuk menyambar kamera digital itu.

"Ups. Sayang sekali. Meleset." Goda Chanyeol, memegang tinggi-tinggi kamera digitalnya sembari mengejek Baekhyun.

Baekhyun makin cemberut, ia menggigit bibirnya kesal, lalu melompat-lompat sembari menjulurkan tangannya ke atas untuk menggapai tangan Chanyeol. Sayang sekali, Baekhyun baru sadar Chanyeol ternyata tinggi sekali. Masih sembari melompat-lompat, Baekhyun akhirnya tersandung dan hampir jatuh kalau saja Chanyeol tidak segera memeluk pinggangnya.

Di jalanan setapak penuh dengan berbagai stan makanan, mainan, dan pernak-pernik yang sesak, dua anak manusia sedang berpelukan, tidak memperdulikan bahwa orang ramai tengah lalu-lalang di sekitarnya.

Baekhyun berdeham pelan.

Chanyeol tersadar, lalu melepaskan pelukannya pada pinggang Baekhyun—wajahnya bersemu. Sialan. "Kau tidak apa-apa?" tanya Chanyeol.

Tidak menjawab pertanyaan Chanyeol, si mungil itu malah memanfaatkan keterkejutan Chanyeol dengan merebut kamera digitalnya. "Got it!" serunya, lalu mulai berlari menjauhi Chanyeol—tersandung dua kali, menabrak salah seorang pria yang tengah berjalan—namun masih terus berlari kecil.

Chanyeol membelalak sebentar, lalu tertawa dan segera menyusul Baekhyun. "Dasar licik!" teriak Chanyeol di tengah ramainya orang-orang, tidak memperdulikan tatapan aneh yang dilemparkan kepadanya. Ia mendapati Baekhyun yang tengah merona di ujung jalan setapak, memegangi kamera digitalnya dengan wajah serius. Baekhyun berbalik dan menunjukkan lebih dari seratus potret yang semuanya berisi potret dirinya sendiri.

"Tidak mengambil satupun fotoku, huh?" cibir Baekhyun, mengangkat alisnya puas.

Chanyeol terkekeh, lalu mengangkat tangannya ke atas. "Baiklah, aku kalah."

"Kalau begitu ..." Baekhyun menggantung kalimatnya di udara sementara ia berjalan mendekati Chanyeol, kemudian melompat untuk mengaitkan lengannya ke leher Chanyeol, sehingga Chanyeol merunduk turun untuk menyesuaikan tingginya dengan tinggi Baekhyun. Sementara tangan satunya tengah merangkul leher Chanyeol yang kini harus merunduk turun, tangan Baekhyun yang lain sedang memegang kamera digital Chanyeol dan mengangkatnya agak ke atas—tepat di hadapan mereka, lalu melanjutkan, "say cheeeeseeee!"

Namun sebaliknya, Chanyeol tidak menatap kamera atau mengatakan 'cheese' seperti yang Baekhyun katakan. Ia sibuk menolehkan kepalanya ke samping dan memperhatikan wajah Baekhyun yang tengah tersenyum lebar kepada kamera, membuat lengkungan setengah bulan yang cantik di matanya. Aroma stroberi khas Baekhyun yang telah bercampur dengan keringat seketika itu memenuhi kepala Chanyeol, membuat tubuhnya serasa melayang. Chanyeol bahkan dapat merasakan halusnya kulit lengan Baekhyun yang kini tengah melingkari lehernya.

Klik.

Wajah tersenyum Baekhyun dan side profile Chanyeol yang tengah menatap intens Baekhyun tercetak dengan sempurna di dalam kamera.

"Nah," ujar Baekhyun sembari melepaskan rangkulannya, tidak memperdulikan Chanyeol yang sedang berada dalam fase antara sadar dan tidak (benaknya terus mengucapkan kalimat 'Baekhyun sangat dekat denganku, ia terasa hangat, dan harum tubuhnya sangat manis' berulang-ulang kali layaknya kepingan kaset rusak) ia melanjutkan, "kameranya sekarang ada padaku."

"Terserah kau sa—"

"Woah!"

"Baiklah, itu menjadi delapan belas kali sekarang." Chanyeol menggerutu, setengah geli dan jengkel.

Baekhyun sama sekali tidak mengindahkan gerutuan Chanyeol, malah menatap salah satu stan yang menjual bando berkuping dengan mata berbinar. Melihat ekspresi takjub Baekhyun, kekesalan Chanyeol seketika menguap. "Ingin melihat-lihat?"

Baekhyun menoleh, menatap Chanyeol tidak yakin. "Um ... apakah tidak apa-apa?"

Chanyeol membalasnya dengan senyuman lembut. "Ayo." Katanya yakin, lalu meraih tangan mungil Baekhyun dan menggenggamnya erat. Chanyeol bersedia menukar apapun dalam hidupnya demi momen yang sedang ia alami saat ini. Semuanya terasa benar. Momen ketika tangan mungil Baekhyun tergenggam dengan sempurna di tangannya yang besar. Chanyeol ingin waktu berhenti. Selain Baekhyun, ia merasa tidak memerlukan apapun lagi saat ini. Orang bilang cinta itu gila, dan Chanyeol berpikir bahwa pernyataan itu sama sekali tidak salah.

Karena sekarang, ia gila untuk Baekhyun.

Begitu mereka sampai tepat di depan stan, Baekhyun bersemu merah, menunduk sedikit kepada sang bibi penjual, kemudian mengucapkan salam sopan. "Annyeonghaseyo." Ucap Baekhyun, lalu melanjutkan dengan nada terkesiap, "ini lucu sekali." Kagumnya, menunjuk tiap-tiap bentuk bando yang beragam. Si bibi penjual malah tersenyum geli melihat tingkah Baekhyun.

Lalu Chanyeol melihatnya—sebuah bando bertelinga kelinci dengan warna pink—bando kelinci yang tampaknya memang ditakdirkan untuk Baekhyun. Ia mengambil bando itu tanpa pikir panjang, kemudian memakaikannya di kepala Baekhyun.

"Anak muda ini pintar sekali memilih. Telinga kelinci itu cocok sekali untuk pacarmu." Komentar si bibi, tersenyum ramah ketika melihat Baekhyun memberengut lucu sembari membetulkan letak bando di kepalanya.

Kemudian, kalimat terakhir dari sang bibi seakan menghempaskan Baekhyun kembali pada kenyataan. Si mungil itu terhenyak.

Pacar.

Apakah kau dan Chanyeol pacaran?

Well, dia peduli padamu. Meski bertingkah menyebalkan dan bermulut kasar, ia selalu saja berusaha melindungimu. Tapi ia tidak pernah berkata bahwa ia menyukaimu. Lalu hubungan macam apa yang kalian miliki? Apa kalian pacaran? Apa Chanyeol menyukaimu—yah, dia memelukmu tadi pagi. Lalu apa? Kau mengharap lebih? Apa boleh, sekali saja, Baekhyun menanam harapannya dan membiarkan harapan itu tumbuh subur?

Sementara pikiran Baekhyun kalut akan berbagai pertanyaan yang tidak mungkin bisa ia jawab sendiri, Chanyeol malah tertawa, memandangi wajah Baekhyun yang terlihat berjuta kali lipat lebih manis dari sebelumnya dengan tatapan geli. "Benarkan, bibi? Aku memang punya mata yang bagus. Sangat cocok untuknya." Chanyeol berniat menggoda, tapi dia sendiri termakan godaannya. Yang benar saja. Byun Baekhyun tampak jauh lebih cantik dari semua perempuan yang pernah ia temui—ya, Baekhyun seorang pria. Tapi wajah manisnya benar-benar bisa menipu.

Si bibi, yang tampaknya sedang berkonspirasi bersama Chanyeol untuk mempermalukan Baekhyun, kini malah mengangguk senang. "Nona tampak cantik sekali." Ujar si bibi, dan Chanyeol melepaskan tawanya. Perutnya terasa geli luar biasa.

"Tapi, bibi," tegur Baekhyun jengkel, pelipisnya berkedut-kedut, "aku seorang pria."

Dan tawa Chanyeol menjadi lebih keras dan lebih menyebalkan dari sebelumnya.

Anehnya, sang bibi tampak tidak terkejut sama sekali. "Ah, seorang pria rupanya." Ia terkekeh kecil, "seorang pria dengan wajah manis, ya. Sangat lucu dan menggemaskan. Anak muda ini pasti senang memiliki pacar yang sangat imut."

Melihat Baekhyun yang memerah, Chanyeol kemudian menarik Baekhyun mendekat dan merangkul pundaknya—membuat gestur seakan mereka adalah pasangan paling bahagia di seluruh dunia (sama sekali tidak menghiraukan ekspresi jengkel Baekhyun). "Sepertinya aku memang sangat beruntung ya, bibi. Omong-omong, kami akan mengambil yang ini." Chanyeol menunjuk bando kelinci yang masih terpasang sempurna di surai cokelat keunguan Baekhyun. "Berapa harganya?"

"Ah, yang itu hanya—"

"Yang ini juga, bibi!" Baekhyun memotong dengan cepat, menyambar bando rilakkuma berwarna cokelat, kemudian berjinjit sedikit untuk memasangkannya di kepala Chanyeol. Namun usaha itu gagal, karena tangan pendeknya tidak mencapai puncak kepala Chanyeol.

Chanyeol terkekeh, kemudian menekuk sedikit lututnya agar Baekhyun bisa memasangkan bando rilakkuma di kepalanya (sekaligus mendengarkan gerutuan kesal Baekhyun tentang mengapa Chanyeol begitu tinggi dan mengapa Chanyeol bodoh sekali karena telah mempermalukannya di depan sang bibi penjual).

"Ah," sang bibi mendesah senang, "bando couple, ya?"

"Bukan begitu!" Baekhyun menyalak panik. "Dia sudah mempermalukanku di depan bibi. Jadi aku juga harus membuatnya terlihat cantik!"

"Tapi," kata sang bibi sembari meneliti penampilan Chanyeol yang tengah memakai bando rilakkuma, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu melanjutkan dengan suara sok seakan ia adalah pakar fashion terkenal, "anak muda ini terlihat lebih tampan dari nona."

"Bibi!" kata Baekhyun kesal, pipinya merona.

Chanyeol yang sedari tadi hanya tertawa, kini mengeluarkan dompetnya dan membayar dengan uang pas. "Terimakasih, bibi. Bibi yang terbaik." Chanyeol memberikan telunjuknya, lalu menunduk sedikit untuk memberi salam sopan. "Ayo, pendek, membungkuk." Baekhyun yang masih tampak kesal terpaksa mengikuti instruksi Chanyeol, menunduk sedikit dan mengucapkan terimakasih.

"Senang sekali bisa menggoda pasangan yang manis." Kata si bibi, "lain kali datang lagi, anak muda yang tampan dan pacarnya yang cantik." Si bibi tersenyum lembut, dan Baekhyun tidak sampai hati untuk terus merasa kesal.

Ia mengucapkan terimkasih sekali lagi, sebelum akhirnya Chanyeol menggenggam tangannya dan kemudian menyeretnya untuk mengajaknya kembali berjalan. Si jangkung itu berdeham, sesekali terkekeh geli.

"Apanya yang lucu?" gerutu Baekhyun kesal sembari menyentuh bando kelincinya yang baru.

"Jangan dilepas." Kata Chanyeol panik.

Baekhyun memutar bola matanya. "Aku tidak akan melepasnya."

Chanyeol tersenyum kecil. "Kau tampak manis mengenakannya. Tadinya, ketika aku melihat bando itu, aku langsung memikirkanmu. Dan ya, bando itu memang sangat cocok untukmu."

Baekhyun merona, menunduk malu. "Chanyeol juga tampak lucu. Telinga rillakkuma sama seperti telinga Chanyeol. Sama-sama lebar."

"Apa?!" Chanyeol berhenti berjalan lalu memelototi Baekhyun—pura-pura tersinggung.

Bakehyun tertawa. "Sungguh. Chanyeol punya telinga lebar seperti peri dan itu—"

Klik.

Satu lagi potret lucu Baekhyun tersimpan dalam kamera digital Chanyeol.

Baekhyun terkesiap. "Chanyeol!"

"Ayo sini." Kata Chanyeol, kemudian merangkul Baekhyun mendekat. Jika tadinya yang mengabadikan foto mereka berdua adalah Baekhyun, maka kini Chanyeol tanpa takut menarik si mungil itu mendekat dan mengangkat kameranya untuk mengabadikan foto mereka yang kedua kalinya, kali ini dengan aksesoris baru, bando bertelinga yang tampak sangat lucu.

"Tersenyum kepada kamera, pendek." Ujar Chanyeol, mengingatkan Baekhyun untuk tersenyum. "Satu, dua, tiga."

Klik.

Tepat pada hitungan ketiga, sama seperti yang lalu-lalu, Chanyeol tidak akan melihat ke kamera. Ia kembali menoleh dan menikmati bagaimana lengkung di bibir Baekhyun tampak manis dan menggoda. Ia menyukai momen ini. Momen dimana waktu seakan berhenti untuk sesaat, dan Baekhyun terasa begitu dekat, sementara ia tersenyum pada kamera dan Chanyeol hanya akan menatapinya dari samping, membiarkan aroma stroberinya yang khas menyeruak indera penciumannya. Meski begitu, Chanyeol tetap tersenyum. Ia tersenyum untuk Baekhyun.

Chanyeol tersenyum lega. "Nah, sudah." Katanya, menyimpan kamera digital itu dalam genggamannya. "Sekarang, apa yang akan kita lakukan?" Chanyeol menoleh kepada Baekhyun, meminta pendapatnya.

"Um, cotton candy." Baekhyun menunjuk stan yang menjual permen kapas di sebelah kiri jalanan, tak jauh dari mereka.

"Ingin makan itu?"

Baekhyun mengangguk bersemangat, membuat surainya yang telah dihiasi oleh bando bergoyang kecil—tampak seperti bocah kecil yang menggemaskan.

Chanyeol mencibir geli. "Dasar kanibal."

Alis Baekhyun terangkat. "Apa?"

"Bukan apa-apa. Ayo." Lalu Chanyeol tertawa geli, seakan baru saja menonton pertunjukkan komedi paling lucu yang pernah ada.

Baekhyun berjalan mengikuti Chanyeol yang tengah tertawa sembari memandanginya bingung, namun meski begitu ia selalu menyukai tawa Chanyeol yang terdengar serak dan berat di telinganya.

Kau sendiri itu permen kapas. Kenapa kau mau memakan saudaramu sendiri? Pikiran gila Chanyeol bersuara. Meski terdengar bodoh, dangkal dan tidak masuk akal, Chanyeol tetap menyukainya. Karena untuknya, Byun Baekhyun akan selalu menjadi permen kapas yang lebih manis dari permen lain yang pernah ada di dunia ini.

Antrian stan permen kapas itu ternyata cukup ramai, dan mereka harus berdempet-dempetan satu sama lain ketika hendak mengantri. Chanyeol selalu siap siaga di belakang Baekhyun, memegangi pundaknya lembut—takut kalau-kalau ia terdorong oleh antrian dan terjatuh. Ketika akhirnya giliran mereka tiba, Chanyeol bertanya kepada sang penjual dengan wajah serius yang terlihat menyeramkan. "Apa kalian hanya punya warna pink dan putih?"

Pria yang menjual permen kapas itu mengangguk. "Hanya putih dan merah muda. Anda ingin warna apa?"

"Tidak ada warna ungu?" Chanyeol bertanya lagi dengan nada malas.

"Ke-kenapa ungu?" si pria balik bertanya.

Chanyeol memutar bola matanya dan menatap sang penjual dengan tatapan jengah, seakan pertanyaan yang ia ajukan adalah pertanyaan paling idiot yang pernah ada. Baekhyun yang melihat ekspresi kesal Chanyeol, kemudian menyikutnya pelan, lalu memberikan tatapan yang seakan berkata apa ada sesuatu yang salah? Namun Chanyeol menjawabnya dengan gelengan pelan. "Sudahlah." Kata Chanyeol akhirnya, kemudian melanjutkan, "Baekhyun, kau ingin warna yang mana?"

"Pink." Jawab Baekhyun segera.

"Baiklah. Berikan aku dua yang warna pink." Kata Chanyeol acuh tak acuh, kemudian mengambil dua gumpalan besar permen kapas dari tangan sang penjual dan memberikan salah satunya kepada Baekhyun, kemudian membayarnya dengan uangnya sendiri.

Ketika mereka berjalan menjauh, Baekhyun mencomot sedikit permen kapasnya. Sambil mengunyah pelan, ia bertanya, "Chanyeol suka warna ungu ya?"

Chanyeol tersenyum kecil. "Magenta."

Baekhyun mengangguk, mulutnya membentuk 'o' kecil. "Oh ya, Chanyeol." Baekhyun berbalik untuk menghadap si pria jangkung. "Aku akan mengganti uangmu hari ini. Beritahu saja aku berapa harga semuanya. Termasuk bando dan permen kapas."

"Tidak perlu, bodoh." Sahut Chanyeol geli.

"Kenapa?"

Chanyeol terdiam sebentar. "Nggg, karena aku suka melakukannya?"

Baekhyun memutar bola matanya. "Chanyeol terus-terusan membayariku semuanya dari tadi. Aku akan menggantinya ketika kita pulang na—"

"Tidak apa-apa, pendek. Makan saja permen kapasmu." Ujar Chanyeol, menepuk sisi pipi Baekhyun lembut. Rona merah merambati pipinya seketika itu juga. Ia selalu merasa sensitif terhadap sentuhan Chanyeol. Bagaimana tangannya yang besar dan hangat selalu menyentuh atau menepuk kepalanya dengan lembut.

"Omong-omong," celetuk Baekhyun, berusaha mengalihkan pembicaraan, "kapan lampionnya akan dinyalakan? Dimana sungai Jinju yang terkenal itu?"

Chanyeol menunjuk akhir jalan setapak. "Tampaknya di akhir jalan. Ayo kesana."

Baekhyun hendak mengangguk, namun sesaat kemudian, si mungil itu terpaku. Alih-alih mengikuti Chanyeol yang kini telah berjalan lebih dulu, si mungil itu sama sekali tidak bergerak. Chanyeol juga tidak sadar kalau Baekhyun tidak mengikutinya. Lalu, tanpa salah seorang pun yang sadar, keduanya telah terpisah di antara lautan manusia yang semakin ramai.

"Biasanya lampion akan dihidupkan ketika matahari terbenam. Orang-orang akan berkumpul di tepian sungai Jinju unt—Baekhyun?" Chanyeol yang tadinya terus berceloteh sendiri kemudian menoleh ke belakang hanya untuk mendapati bahwa Baekhyun sama sekali tidak ada di belakangnya.

Baekhyun tidak ada dimanapun. Seajuh mata memandang, hanya ada orang asing.

"Baekhyun?" Chanyeol memanggil lagi, melihat-lihat sekelilingnya dengan panik. Ia menghempaskan permen kapasnya ke tanah dan mulai berjalan dengan langkah tergopoh-gopoh, melongokkan kepalanya ke segala penjuru arah demi mencari sosok mungil Baekhyun yang tertelan oleh orang-orang yang berlalu lalang.

Chanyeol mulai berteriak. "Baekhyun!" si jangkung bersurai malam itu menabrak beberapa orang, bahkan mendapat umpatan dari salah seorang yang tidak sengaja ia tubruk dengan keras—namun ia tidak peduli.

Ini skenario paling buruk yang tidak pernah ia inginkan.

Baekhyun yang menghilang, meletus layaknya gelembung sabun—tidak bisa kembali lagi. Chanyeol pernah memikirkan ini dulu, namun ia tidak pernah sekalipun berharap bahwa hari seperti ini akan datang. Ketakutan terbesarnya seakan menjadi nyata.

Ia kembali meneriaki nama Baekhyun tanpa kenal lelah. Berhenti di beberapa stan sembari menanyakan apakah mereka melihat seorang pria pendek dengan rambut cokelat keunguan yang memakai bando kelinci—namun nihil. Siapapun yang ia tanyai, jawaban mereka adalah sebuah gelengan yang jelas-jelas menunjukkan kalau mereka sama sekali tidak tahu.

Baekhyun. Baekhyun-ku. Dimana Baekhyun-ku?

Pikirannya mulai kalut. Ini semua salahnya. Seharusnya ia menggengam tangan Baekhyun, menggandengnya erat tanpa pernah melepaskannya sekalipun. Jika sampai ada sesuatu yang buruk menimpa Baekhyun, Chanyeol tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.

Jangan biarkan dia terluka.

"Baekhyun!" si jangkung kembali berteriak, melemparkan tatapan putus asa pada tiap-tiap orang yang ia temui, memelas, berdoa dalam hati agar Baekhyun baik-baik saja. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Sedetik yang lalu Baekhyun berada tepat di sampingnya, dan sedetik kemudian ia telah menghilang tanpa jejak. Jika ini memang hukuman untuk Chanyeol, maka ia akan memohon untuk diberi kesempatan sekali lagi. Ia berjanji akan bersikap lebih baik kepada Baekhyun, memperlakukannya seakan ia adalah harta paling berharga dalam hidupnya. Ia tidak akan mengatai Baekhyun bodoh atau pendek lagi.

Kemudian, kenyataan itu menghantam Chanyeol tepat pada ulu hatinya.

Ia mencintai Baekhyun. Ia mencintai segala kecerobohan dan kekurangan si mungil itu.

Dalam pikiran yang berkabut, Chanyeol masih terus melangkahkan kakinya. "Apa ada yang melihat Baekhyun?" Chanyeol bertanya kepada salah seorang gadis yang melintasinya, dan gadis itu menggeleng. "Apa kau melihat Baekhyun? Bibi? Tuan? Apa Anda melihat seorang pria pendek dengan rambut ungu yang memakai bando kelinci?" Dan pertanyaan panik itu mengalir tanpa berhenti dari bibir Chanyeol. Ia berteriak lagi, kali ini dengan nada putus asa. "Baekhyun," rintihnya dengan suara ketakutan.

Kembalikan Baekhyun-ku.

Chanyeol tidak pernah tahu bahwa ia memiliki sisi seperti ini. Sisi dimana ia merasa lemah dan tak berdaya. Ketakutan, panik, rasa bersalah menyerangnya bertubi-tubi tanpa ampun. Chanyeol pikir sifat keras kepala yang ia miliki sudah sekeras baja. Ia tidak tahu bahwa ia memilki sisi lemah yang menyedihkan seperti ini. Sisi yang mendadak muncul karena Byun Baekhyun.

Tolong, jangan lakukan ini padaku. Kembalikan dia.

"Baekhyun!" dengan langkah panjang, Chanyeol kembali mengangkat kepalanya. Wajahnya kusut, sementara langit mulai gelap dan senja mulai datang. "Byun Baekhyun! Dimana kau?!"

Chanyeol menabrak orang asing lagi—pemuda yang tampak seumuran dengannya, dengan wajah kumal dan tidak terawat. Kali ini, mungkin karena emosi yang meluap-luap, Chanyeol menubruknya dengan sangat keras, sehingga baik ia maupun pemuda itu tersungkur jatuh. Chanyeol jatuh terduduk dengan tangan yang menahan tubuhnya hingga telapak tangannya menggores bebatuan dan berdarah, sementara pemuda itu terjerembab dengan wajah menyentuh tanah—namun Chanyeol tidak mau ambil pusing. Tanpa memperdulikan makian pemuda itu, Chanyeol kembali berdiri, menepuk sedikit telapak tangannya yang telah mengeluarkan sedikit darah yang terasa perih, diam-diam berdoa bahwa lukanya tidak akan infeksi atau menyebabkan penyakit tetanus. Menurutnya, luka sekecil itu tidak seberapa. Ada hal yang harus ia lakukan sekarang. Sesuatu yang lebih penting.

Baekhyun-ku. Cari Baekhyun.

"Dasar anak brengsek." Si pemuda asing meludahkan tanah dari mulutnya, memaki sekali lagi ketika ia melihat tingkah acuh Chanyeol. Ia berlari menyusul Chanyeol dan segera menghadang tepat di depannya. "Apa kau tidak sadar apa yang telah kau lakukan, sialan?"

Chanyeol berhenti, menatapi pemuda itu dingin. "Minggir." Katanya pelan, hawa pembunuh menguar di sekeliling tubuh jangkungnya.

Pemuda berandal itu mendengus. "Lalu apa yang akan kau lakukan?! Minta maaf, sialan! Aku penguasa di tempat ini."

Baekhyun.

"Aku hanya akan mengatakan ini sekali lagi." Chanyeol berusaha sebaik mungkin untuk menahan emosinya. "Minggir."

Pemuda itu meludah dan tertawa. "Berani sekali si brengsek ini." ejeknya sembari mengangkat tangan dan mulai menoyor kepala Chanyeol berkali-kali dengan telunjuknya. "Kau harus belajar hormat kepada seorang penguasa, sialan. Kau tahu itu?!"

"Hentikan." Kata Chanyeol dingin. Ia menggeram marah.

Tidak mengindahkan geraman berbahaya Chanyeol, pemuda berandal yang jauh lebih pendek dari Chanyeol itu masih saja menoyor kepala Chanyeol dengan telunjuknya. "Brengsek. Beri hormat kepada orang yang lebih berkuasa. Dengan begitu, aku akan mengampu—"

Dan begitu saja, kalimat si pemuda berandal itu terputus karena Chanyeol telah terlebih dahulu melayangkan tinjunya. Pemuda itu jatuh terjerembab dengan hidung yang mengalirkan darah deras.

"Aku sudah memperingatkanmu." Ujar Chanyeol dengan nada mengancam, menatap bengis si pemuda berandal. Chanyeol kemudian melangkahi pemuda yang terduduk sembari membekap hidungnya dan kembali berjalan, menyusuri jalan setapak yang dipenuhi orang-orang untuk mencari Baekhyun.

Pikirannya sempat kalut sesaat, namun kemudian kembali fokus tatkala ia mengingat Baekhyun. Syukurlah, si pemuda berandal sudah tak tampak lagi. Mungkin telah terlebih dahulu terbirit-birit melarikan diri—sadar bahwa dirinya hanyalah hama tak berguna. Chanyeol memaki pelan. Salah satu tangan bekas meninju wajah pemuda tadi masih terasa berdenyut. Meki begitu, ia berusaha mengabaikan rasa berdenyut yang bertambah dengan rasa perih akibat tergores bebatuan.

Dimana dia?!

Tak lama setelah itu, Chanyeol kemudian berhenti berlari dan terpaku, menghembuskan napas lega—hampir-hampir menitikkan air matanya.

Berdiri beberapa meter jauh di sana, bagai sebuah jawaban atas semua doa putus asa yang terus-menerus dilontarkan oleh Chanyeol sejak tadi, sosok mungilnya tengah menggendong seorang balita yang tengah menangis tersedu-sedu. Ia berkali-kali menimang bocah kecil itu, memberinya senyuman hangat, bahkan menepuk halus punggungnya. Di tangan sang bocah balita, ada sebuah permen kapas berwarna pink.

Saat ini, dunia seakan memudar menjadi warna abu-abu di mata Chanyeol. Sekelilingnya seakan bergerak dalam slow motion. Hanya ada satu sosok yang tampak begitu cemerlang di antara lautan orang yang kian memudar. Sosok mungilnya yang tengah menggendong seorang balita yang kini berhenti menangis tampak memancarkan berjuta-juta warna indah. Sosoknya seperti seorang malaikat. Senyumnya, gerak-gerik tubuhnya, bahkan mimik kecil yang ia tunjukkan—semuanya tampak begitu indah. Mempesona.

Kemudian, dalam langkah pelan, Chanyeol mulai menapaki satu-satu jalanan aspal. Matanya terfokus pada satu titik. Kelegaan melanda seluruh tubuhnya. Kalimat syukur yang tak terucap melintasi bibir membanjiri benaknya. Chanyeol tidak pernah tahu bahwa ia akan merasa begitu hidup hanya dengan melihat sosok mungilnya.

"Baekhyun," panggil Chanyeol dengan lidah kelu, tepat ketika iia berada di depan figur mungilnya. Ini sedikit mengejutkan karena Chanyeol sebenarnya merasa luar biasa kalut dan marah, serta juga ketakutan. Ia ingin membentak Baekhyun, memakinya, mengatainya bodoh lagi. Namun ia tidak mampu. Ia tidak mau melakukannya.

Baekhyun menoleh, dan ekspresinya berubah menjadi lega. Ia menurunkan balita itu dari gendongannya sembari menggandeng tangannya. "Chanyeol," panggil Baekhyun, nada suaranya bergetar, dan sudut matanya mengeluarkan air.

Tidak menunggu lama, Chanyeol segera merangsek maju dan mengeleminasi jarak di antara mereka, merengkuhnya dalam sekali sentakan—tepat ketika semburat oranye memenuhi langit, mengirim sang raja siang ke tempat peristirahatannya sementara sang ratu malam mulai menampakkan diri. "Tidak apa-apa, maafkan aku. Tidak apa-apa. Aku bersamamu sekarang." Bisik Chanyeol lembut, mengelus belakang surai magentanya dengan halus, penuh sayang.

Baekhyun berbisik dengan nada suara ketakutan. "A-aku kira Chanyeol meninggalkanku. Aku kira a-aku kehilangan Chanyeol."

Baekhyun hampir memangis, Chanyeol tahu itu. "Maafkan aku, Baekhyun." Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Sembari melepas pelukannya, ia menangkup kedua pipi Baekhyun dengan tangannya yang terasa perih. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya, memeriksa keadaan Baekhyun mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Baekhyun mengangguk dan tersenyum, kemudian menoleh ke bawah untuk melihat kepada sang bocah balita yang tengah sibuk memakan permen kapasnya.

"Aku melihat ia menangis. Sepertinya Ibunya hilang. Umurnya mungkin baru tiga tahun. Aku ... aku ..." Baekhyun mendongak dan menatap Chanyeol dengan tatapan memelas penuh rasa bersalah, "aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. Waktu aku pergi mendekatinya, Chanyeol sudah hilang, dan dia menangis terus."

Chanyeol tersenyum lembut sebagai balasannya. Ia membawa kepala Baekhyun mendekati kepalanya, dan menempelkan keningnya ke kening Baekhyun. "An angel. My angel." Bisik Chanyeol, napas hangatnya menerpa wajah Baekhyun, dan Baekhyun menunduk sembari merona.

Itulah Baekhyun yang ia kenal. Polos, naif, berhati mulia, menggemaskan dan manis. Hal ini mengingatkan Chanyeol dengan hari dimana ia pertama kali bertemu Baekhyun. Hari dimana Chanyeol menangis karena kekecewaan yang teramat sangat kepada Ibunya—dan Baekhyun memeluknya lembut untuk menghentikan tangisnya.

Inilah Baekhyun yang ia kenal. Si mungil yang manis, yang selalu memberi kasihnya tanpa pamrih.

Chanyeol melepaskan tangkupan kedua tangannya kepada Baekhyun, kemudian berjongkok untuk menyejajarkan tingginya kepada tinggi si bocah. Ia seorang perempuan, mengenakan gaun lucu berwarna biru laut, dengan rambut yang dikepang dua, berwajah bulat dengan mata lebar.

"Hai." Sapa Chanyeol, tersenyum, mengelus halus poninya. "Siapa namamu?"

"Sarang." Sahutnya senang dengan kalimat yang berantakan, tampak lucu. "Cho Sarang."

Chanyeol tersenyum. "Halo, Sarang. Namaku Park Chanyeol." Chanyeol kemudian merentangkan kedua tangannya di depan Sarang. "Sarang-ah, mau oppa gendong?"

Sarang mundur beberapa langkah, bersembunyi di balik kaki Baekhyun sembari menggengam tangan Baekhyun erat. Ia menggeleng takut. "Sarang ingin bersama eonni." tangannya menunjuk Baekhyun.

Si jangkung itu tersedak, menahan tawanya sendiri, sementara Baekhyun berusaha sebaik mungkin untuk tidak menendang kepala Chanyeol yang tengah berjongkok di sampingnya. Sambil berpura-pura tersenyum, Baekhyun merunduk dan kembali menggendong Sarang. "Baiklah, eonni akan menggendongmu, ya." Kata Baekhyun riang, tidak mengindahkan tatapan geli yang dilemparkan Chanyeol kepadanya.

Chanyeol bangkit dan berdeham. "Baekhyun. Nuna."

Baekhyun menoleh dan memberikan Chanyeol tatapan kuurus-kau-nanti-dasar-tiang-listrik-sinting. "Sarang, apakah Sarang ingat nama mama?"

Bocah itu mengangguk. "Cho Hyemi."

Syukurlah, tak lama setelah itu, seorang wanita paruh baya berlari panik ke arah mereka, sembari menjeritkan nama Sarang dengan histeris.

"Eomma!" Sarang memekik, meronta turun dari pelukan Baekhyun dan segera berlari mendekati Ibunya. Cho Hyemi segera merengkuh anaknya dan menggendongnya, kemudian berjalan mendekati Chanyeol dengan Baekhyun dengan mata basah.

"Terimakasih," kata wanita itu, menunduk malu. "Aku sangat berterimakasih kau mau menjaga Sarang. Ini semua salahku. Sarang terlepas dari peganganku dan tahu-tahu saja ia sudah hilang. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kalian tidak—ya Tuhan, memikirkannya saja aku tidak mau. Sekali lagi terima kasih."

Baekhyun tersenyum lembut, diikuti Chanyeol yang segera membungkuk sopan kepada wanita itu.

"Tidak perlu berterimakasih, Bibi. Aku senang bisa menjaga Sarang." Ujar Baekhyun.

Chanyeol hanya menimpali percakapan itu dengan senyum, sekaligus tak berhenti memuji Baekhyun dalam hatinya. Baekhyun rela melakukan sesuatu untuk orang lain tanpa memikirkan resiko buruk yang mungkin terjadi pada dirinya sendiri. Terdengar bodoh, memang. Namun itulah Baekhyun yang Chanyeol sayangi.

Ketika akhirnya mereka mengucapkan salam perpisahan kepada Ibu dan anak itu, Sarang melambaikan tangannya sembari tersenyum dan berkata, "Dadah, eonni dan oppa."

"Eonni?" Cho Hyemi mengangkat alisnya, dan kemudian tertawa.

Baekhyun hanya menunduk malu sembari mengusap belakang kepalanya, sementara Chanyeol berusaha sebaik mungkin untuk tidak tertawa keras.

Ketika akhirnya Ibu dan anak itu berlalu, Chanyeol tanpa malu langsung menggengam tangan Baekhyun. "Eonni." Ejeknya, mengulangi panggilan itu berkali-kali. "Bahkan bocah kecil pun melihatmu sebagai seorang gadis yang cantik."

Baekhyun berbalik dan meninju lengan Chanyeol, sementara yang menjadi korban hanya tertawa, kemudian merangkul Baekhyun lembut. "Apa kau tahu betapa khawatirnya aku, Baekhyun?" tanya Chanyeol, tawanya surut.

"Maafkan aku, Chanyeol." bisik Baekhyun.

"Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa ketakutan." Aku Chanyeol sembari mendesah. "Pemikiran tentang tidak bisa melihatmu lagi membuatku takut. Kau jelas tidak tahu apa yang baru saja kulalui demi mencarimu. Tapi kurasa semuanya tidak akan menjadi masalah lagi. Karena aku akan selalu menemukanmu, tidak peduli apapun yang akan terjadi."

Baekhyun memberanikan diri untuk mendongak, menggigit bibirnya. "Ke-kenapa? Kenapa Chanyeol merasa takut? Kenapa Chanyeol bersedia melakukan semuanya?"

Surai gelap Chanyeol bergoyang dibelai angin. Ia tersenyum kecil. "Dasar bodoh." Katanya, "bukankah itu sudah jelas?"

Baekhyun terkesiap. "Ap-apanya?"

"Aku menyukaimu, Baekhyun."

Baekhyun berpikir bahwa ia baru saja terkena serangan jantung.

Chanyeol mengatakannya. Ia baru saja berkata bahwa ia menyukai Baekhyun. Mimpi? Apa ia baru saja bermimpi? Baekhyun terdiam dalam waktu yang cukup lama, membiarkan seluruh pikirannya kalut hanya karena rentetan kalimat yang Chanyeol katakan barusan.

"Hei." Panggil Chanyeol, menyikut Baekhyun sedikit dengan ekspresi geli. "Setidaknya katakan sesuatu saat orang lain berkata ia menyukaimu."

"Huh?" Baekhyun terkesiap lagi. "Tapi—tapi apa? Aku, uh, maksudku, begini. Ummm, Chanyeol ... itu ... astaga, ya tuhan. Aku tidak ingat dengan apa yang ingin kukatakan." Dan Baekyun menunduk sembari menangkupkan kedua tangan di wajahnya.

Chanyeol terkekeh. Ia merunduk untuk mendekatkan bibirnya ke telinga Baekhyun. "Jadi milikku, Baekhyun." Bisiknya berat, sarat akan emosi yang menggebu-gebu.

Baekhyun ingin berteriak. Apa-apaan itu?! Kalimat yang barusan dikatakan Chanyeol lebih mirip seperti perintah mutlak daripada sebuah ajakan—sama sekali tidak romantis, dan sangat egois.

Namun kenapa Baekhyun tidak dapat berbicara barang sepatah katapun sebagai responnya? Kenapa semua sistem dalam tubuhnya terasa meleleh seperti lilin? Dan yang paling parah, kenapa jantungnya berdetak dengan sangat cepat hingga terasa sesak? Belum lagi telinganya serasa tuli—satu-satunya yang dapat ia dengar adalah deru napasnya sendiri, dan tentu saja, bisikan berat Chanyeol.

Melihat Baekhyun yang menunduk lama sembari terpaku, Chanyeol mengusap surainya pelan. "Aku tidak memaksamu, Baekhyun. Tapi setidaknya sekarang kau tahu kalau aku menyukaimu."

Ia mengatakannya lagi.

Chanyeol sejujurnya takjub dengan keberanian yang ia miliki. Semuanya, meski membuat jantungnya berdebar tak karuan, terasa begitu nyata. Ini bukan ilusi yang pernah ia alami bersama Kyungsoo sebelumnya. Sepertinya ia benar-benar sudah meninggalkan label pengecutnya.

"Mendadak bisu, ya." Chanyeol mendesah dalam melihat Baekhyun yang masih menunduh (tidak tahu kalau wajahnya tengah terbakar). "Baiklah," sambung Chanyeol akhirnya, "maafkan aku. Kau pasti terkejut. Kita baru saja bertemu, iya kan? Tapi aku dengan mudahnya mengatakan hal konyol semacam itu."

Itu sama sekali bukan hal konyol! Baekhyun menjerit dalam hatinya, namun sayang, ia tidak bisa membuka mulutnya sedikit pun. Chanyeol benar. Ia mendadak bisu. Lidahnya terasa kelu, seluruh tubuhnya terasa mencair.

Sementara matahari tenggelam di ujung sana, mereka berjalan beriringan. Kali ini, jalan setapak agak lenggang karena orang-orang telah berkumpul di tepi sungai Jinju untuk menonton puncak acara—melepaskan ribuan lampion ke langit. Chanyeol telah sedari tadi melepaskan rangkulannya. Mereka hanya berjalan beriringan dengan bahu yang terkadang saling menyentuh, namun tidak ada kontak fisik selebih dari itu. Chanyeol hanya berpikir bahwa ia tidak ingin membebani Baekhyun terlalu banyak.

"Baekhyun?" panggil Chanyeol, "kau marah padaku?"

Baekhyun hendak menggeleng, tapi ia tidak bisa. Ia hendak menjerit, berkata bahwa sebenarnya ia merasa begitu bahagia sampai-sampai tidak bisa berbicara.

Tak kunjung mendapat jawaban, Chanyeol mendesah sedih. "Baiklah, maafkan aku. Sejujurnya aku hanya ingin kau tahu bahwa kau kutukan terbaik yang pernah muncul dalam kehidupanku." Chanyeol terkekeh kecil. "Kurasa, kutukan yang kemudian berubah menjadi anugerah. Terimakasih, Baekhyun."

Baekhyun hampir menitikkan air matanya. Sungguh. Ia tidak pernah menyangka bahwa Chanyeol akan berkata seperti itu—bahwa Baekhyun adalah anugerah untuknya. Caranya mengatakan terimakasih membuat Baekhyun tersentuh. Baekhyun merasa ia tidak semulia yang digambarkan Chanyeol. Ia hanyalah remaja berusia tujuh belas tahun yang luar biasa kikuk dan ceroboh—dan Chanyeol harus mengalami banyak masalah ketika bersamanya. Sekarang, kalau dipikir-pikir lagi, Baekhyun memang sebuah kutukan.

Tapi Chanyeol berkata bahwa ia kutukan yang kemudian berubah menjadi anugerah.

Baekhyun tidak tahu apa ia harus marah atau terharu ketika mendengar itu.

Jadi, si mungil itu berhenti berjalan. Tangannya menarik ujung kemeja kotak-kotak Chanyeol.

"Aku juga." Bisik Baekhyun. Hanya itu yang dapat keluar dari bibirnya.

Chanyeol berhenti dan menoleh. "Apa? Aku tidak mendengarmu."

"A-aku juga." Ulang Baekhyun, menunduk, sementara matanya meloloskan beberapa butir kristal bening.

Baekhyun tidak mengerti kenapa ia harus menangis. Tapi beberapa bulan belakangan ini memang merupakan titik terberat dalam hidupnya. Ia tidak bisa bersantai seperti remaja kebanyakan. Bekerja paruh waktu di tiga tempat benar-benar menyita tenaganya, belum lagi tugas sekolah. Tanpa Ibu, Baekhyun masih bisa berdiri, meski hanya dengan satu kaki. Namun ketika ayahnya menjadi buron dan menghilang seperti psikopat, Baekhyun seakan kehilangan kedua kakinya. Ia jarang mempunyai tempat untuk berbagi. Meskipun ada Minseok, Baekhyun tidak selalu bisa terbuka kepadanya. Baekhyun takut menjadi beban untuk orang lain.

Tapi Chanyeol berkata bahwa ia menyukainya, menganggapnya harta paling berharga, berterimakasih atas sesuatu yang jelas tidak ia lakukan.

Chanyeol menyadarinya. Ia menyadari kristal bening yang berjatuhan dari mata cantik Baekhyun. "Baekhyun? Ada apa?" tanyanya lembut, merangsek maju sembari melepaskan kemejanya—dengan sigap memakaikannya di pundak Baekhyun, sehingga si mungil itu makin terlihat mungil dengan kemeja kotak-kotak Chanyeol yang kebesaran. "Apakah kau merasa dingin?"

Baekhyun menggeleng pelan, dan kemudian mendongak.

Chanyeol terenyuh. Untuk beberapa alasan yang tidak bisa dijelaskan, hatinya terasa remuk ketika ia melihat mata Baekhyun yang basah. Namun Baekhyun tersenyum, tersenyum begitu hangat kepada Chanyeol. "Bahagia." Sedu si mungil. "Aku merasa bahagia."

Si jangkung bersurai malam di hadapan Baekhyun mengernyitkan dahinya. "Bahagia?"

Baekhyun mengangguk. "Bahagia karena Chanyeol menyukaiku." Kemudian ia menunduk lagi, "dan karena aku juga menyukai Chanyeol."

"Huh?"

Untuk sepersekian detik, Chanyeol merasa luar biasa takut kalau-kalau ia salah dengar atau kepalanya tengah memainkan sebuah trik jahat untuk memanipulasinya.

"Aku juga." Ulang si mungil, wajahnya memerah sementara ia menghapus air mata di pipinya sendiri. "Menyukai Chanyeol."

Lalu Baekhyun mengatakannya lagi, dan Chanyeol tahu kalau semua yang barusan terjadi adalah sesuatu yang benar-benar nyata.

Chanyeol tersenyum lembut, menatapi sosok mungil itu penuh kagum. Manik gelapnya memancarkan sinar bahagia. Si jangkung itu merasa bahwa ia tidak ingin merusak momen ini, jadi ia hanya mengangkat tangannya dan menepuk kepala Baekhyun, sama seperti yang telah sering ia lakukan sebelumnya—padahal sebenarnya ia mati-matian menahan diri untuk tidak melangkah maju lalu menciumi Baekhyun tepat pada saat itu juga.

Maka, Chanyeol berbisik halus, masih sambil menepuk surai magenta Baekhyun yang terasa lembut di telapak tangannya. "Terimakasih. Aku juga bahagia, Baekhyun."[]


A/N : I HAD DISAPPEARED FOR ALMOST A MONTH!

Maaf sekali lagi T-T

Anyway, how about this lame chapter? Semoga tidak memuakkan dan buat anda sekalian muntah ya. Tugas sekolah numpuk banget dan untuk beberapa waktu yang terasa menyebalkan, otakku lagi-lagi nggak mau diajak kompromi buat nulis.

TAPI CHAPTER INI KEBAYAR KAAAN? IYAKAAAN? IYA DONG YA PASTI HUHU T-T
Enough talk, another review for this chapter, please? ;]