[CHAPTER 13 - MR. LILIN]
"We found our precious little world inside the darkness."
Hangat.
Baik Chanyeol maupun Baekhyun merasakan hal tersebut ketika tangan mereka saling bertautan erat. Tidak ada satu pun kata yang terucap, hanya lirikan malu-malu dari Baekhyun atau senyum lembut dari Chanyeol yang memperjelas semuanya—meresmikan hubungan mereka hari itu.
Baekhyun menggigil kecil, namun ia merasakan perasaan bahagia mengalir ke seluruh pembuluh darahnya. Ia masih memakai bando kelincinya, begitu juga dengan Chanyeol.
"Dingin?" tanya Chanyeol, berhenti berjalan dan merapatkan kemeja kotak-kotaknya yang kebesaran di tubuh Baekhyun.
Si mungil itu menggeleng kecil, tersenyum menenangkan. "Tidak."
Chanyeol membalasnya dengan senyuman yang takkalah manis. "I'm going to kill my self if you catch a cold, shorty." Balasnya dengan nada bergurau.
Baekhyun tertawa, mendelik ke arah Chanyeol. "Terserah kau saja." Tak lama setelah itu, Baekhyun terkesiap. Mata cokelatnya melihat kepada kerumunan orang yang berdiri di tepi sungai Jinju, sementara lampion kertas berwarna oranye mulai melayang naik ke udara. "Sudah mulai!"
Chanyeol mengangguk setuju, meraih tangan Baekhyun lagi, berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan sosok mungilnya menjauh barang sesenti pun, lalu mulai berjalan di tepian sungai untuk melihat lebih dekat. Keduanya berdiri di balik pagar tepian sungai yang telah berkarat.
Beberapa lampion kecil mulai melayang di udara, memberikan setitik warna buram yang seakan melukis di kelamnya langit malam. Dan tahu-tahu saja, lampion-lampion mulai memenuhi langit malam itu.
"Kalau dilihat dari kejauhan, tampak seperti kunang-kunang." Ujar Baekhyun takjub, matanya tak berhenti melihat ke atas.
Chanyeol mengangguk setuju sembari mengeluarkan kamera digitalnya dan mulai memotreti langit malam yang berhias bintang dan lampion oranye. Setelah mengambil beberapa foto dan tersenyum puas karenanya, Chanyeol kemudian menarik Baekhyun mendekat. "Senyum." Katanya, dan ia mengambil beberapa foto dirinya yang tengah merangkul Baekhyun, dengan latar langit hitam yang berhiaskan lampion.
Baekhyun tersenyum ketika ia melihat hasil foto itu. "Hasilnya sangat cantik."
"Ya, Byun Baekhyun memang cantik." Chanyeol mengangguk setuju sembari melirik bando kelinci berwarna merah muda yang masih tersemat manis di kepala magentanya.
Baekhyun memutar bola matanya lalu menggeleng. "Maksudku lampionnya." Kemudian ia mendengus. "Aku tidak cantik, tahu. Dan jangan lupa aku juga seorang pria sama seperti Chanyeol."
Chanyeol mengetuk jarinya ke bibir, membuat ekspresi kalau ia tengah berpikir keras. "Pernyataanmu barusan itu adalah seribu persen kebohongan. Bukan yang tentang lampion—tentu saja—tapi tentang kalau kau tidak cantik." Ujar Chanyeol dengan wajah sok, seakan ia adalah profesor ternama abad ini.
Baekhyun meninju lengan Chanyeol dengan gestur main-main. "Dasar sinting." Makinya, dan Chanyeol tertawa.
"Chanyeol." panggil Baekhyun ketika tawa pria jangkung itu sudah berhenti, dan Chanyeol hanya membalasnya dengan gumaman. "Ingin membuat permohonan?"
"Permohonan?" Seperti biasa, si jangkung itu akan mendengus tak peduli, seakan-akan apapun yang dikatakan Baekhyun selalu konyol—atau sebenarnya memang konyol. Konyol dan menggemaskan.
Baekhyun mengangguk semangat, mendekap kedua tangannya ke dada. "Buatlah permohonan."
"Kenapa?" Chanyeol mengerutkan dahinya tak mengerti. "Lagipula untuk apa? Benar-benar bodoh dan tak masuk akal. Memangnya umurmu berapa, Byun, masih percaya hal-hal seperti itu? Aku tidak pernah mendengar seseorang membuat permohonan ketika festival lampion."
Baekhyun cemberut. "Kalau tidak mau ya sudah. Tidak usah ngomel seperti itu." Balasnya, kemudian berdecak jengkel. Ia memutuskan untuk tidak memperdulikan Chanyeol, kemudian mulai mendekap kedua tangannya di bawah dagu sembari memejamkan matanya.
Mungkin akan lebih tepat di sebut sebagai sebuah doa ketimbang permohonan. Karena benak Baekhyun menghaturkan begitu banyak doa untuk Ayahnya—semoga ia baik-baik saja, senantiasa sehat, tidak kekurangan satu apapun, dan semoga masalah Ayahnya cepat berakhir dan mereka bisa kembali seperti semula—oh, dan tentu saja, Baekhyun tidak melupakan si idiot sinting yang tengah berdiri di sampingnya.
Ketika Baekhyun telah selesai dengan doa-doanya, si mungil itu tidak sengaja melirik ke samping dan mendapati Chanyeol tengah melakukan hal yang sama sepertinya—kedua tangan tergenggam di bawah dagu, mata yang tertutup, dan senyum lembut menghiasi bibirnya.
Hanya untuk sesaat, Baekhyun ingin waktu berhenti. Chanyeol terlihat begitu damai. Menurut Baekhyun, surai malamnya adalah yang terbaik. Baekhyun menyukai bagaimana angin malam membelai lembut surainya. Chanyeol punya sepasang mata dengan manik gelap yang besar, hidung yang mancung, garis rahang yang sempurna, serta senyum yang luar biasa menawan. Satu kata yang tepat untuk mendeskripsikan Park Chanyeol adalah 'kesempurnaan'—well, mungkin tidak. Chanyeol mungkin punya wajah yang rupawan, tapi entah kenapa otaknya terkadang konslet.
Ketika Chanyeol membuka matanya, pandangannya segera bertubrukan dengan pandangan Baekhyun. Si mungil itu menyeringai geli. "Memangnya umur Chanyeol berapa, masih melakukan hal-hal seperti ini? Aku tidak pernah mendengar seseorang membuat permohonan ketika—"
"Diam, pendek. Kau berisik." potong Chanyeol dengan wajah datar yang menjengkelkan. "Wah, lihat langitnya." Kata Chanyeol lagi, kali ini dengan nada kagum. Mereka berdua kembali mendongak untuk melihat ratusan lampion kertas yang telah dilepaskan ke udara.
Baik Chanyeol maupun Baekhyun tidak bisa berkata-kata untuk sesaat. Pamandangan yang ada benar-benar luar biasa indah. Perpaduan antara kelamnya langit malam dan terangnya lampu lampion yang berwarna oranye terlihat begitu kontras dan indah. Baekhyun benar. Jika dilihat dari kejauhan, semuanya tampak seperti gerombolan kunang-kunang. Pemandangan seperti ini sangat jarang sekali terlihat di kota besar seperti Seoul. Jadi, tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Chanyeol memotretinya sebanyak yang ia mau—termasuk Baekhyun. Lagipula si mungil itu sama sekali tidak keberatan. Ia bahkan berpose dan tersenyum di depan kamera, membuat gestur yang luar biasa imut.
Kapan lagi bisa pergi ke tempat semacam ini dengan Baekhyun? Pikir Chanyeol kala itu sembari tak berhenti tersenyum.
Sesaat kemudian, bunyi yang sangat nelangsa terdengar. Meski tidak terlalu kentara, namun tetap membuat Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun. Si mungil berambut magenta itu memasang wajah malu sembari memegangi perutnya.
Chanyeol menyeringai lebar sekali, hingga semua giginya terlihat. "Apa kau lapar?"
Malu, Baekhyun mengangguk sembari menggigit bibirnya.
Gestur itu lagi. Baekhyun harus benar-benar berhenti menggigiti bibirnya seperti itu—karena untuk beberapa alasan yang Chanyeol tidak bisa jelaskan, itu sangat menjengkelkan dan membuatnya resah setengah mati.
Chanyeol mendengus kesal. "Jangan gigiti bibirmu seperti itu, Baekhyun." Katanya, lalu melanjutkan, "kenapa tidak bilang dari tadi? Seharusnya kau langsung bilang kalau lapar."
Baekhyun terdiam sebentar, mengetuk-ngetuk bibirnya. "Eh, maafkan aku. Tadinya tidak lapar, tapi kurasa laparnya baru terasa sekarang."
Chanyeol memutar bola matanya, namun ekspresinya melunak. "Itu karena kau sangat bersemangat sampai-sampai bertingkah seperti anak hyper berumur lima tahun."
"Apa?! Chanyeol! Aku buk—"
"Iya-iya. Baiklah. Ayo cari makanan."
Sialan. Maki Baekhyun dalam hati. Chanyeol sungguh menyebalkan.
Tapi kenapa Baekhyun menyukainyaa tanpa syarat? Karena alih-alih menjitak kepalanya karena kesal, Baekhyun malah mau-mau saja saat Chanyeol kembali menggengam tangan mungilnya ke dalam tangannya yang besar dan hangat, lalu membawanya berjalan dan menuntunnya ke restoran terdekat.
Mereka memesan udon, lalu memutuskan untuk pulang ketika selesai makan, karena hari sudah mulai larut—dan mereka tetap harus pulang, meski keduanya tahu hati mereka sama-sama berkata enggan.
Sudah lewat tengah malam ketika mereka sampai, tepat ketika Chanyeol memarkirkan mobilnya ke dalam garasi. Si jangkung itu mendesah, memijat pelipis hingga tengkuknya akibat kram. Ketika ia menoleh, ia mendapati sosok mungil nan manis yang tengah bergelung dalam selimutnya, mendengkur halus. Matanya tertutup.
Baekhyun pasti lelah sekali, pikir Chanyeol. Ia tidak sampai hati untuk membangunkannya, namun Chanyeol berpikir akan tetap lebih baik jika Baekhyun tidur di atas kasur daripada di dalam mobil sempit seperti ini. Lagipula, ia tidak mungkin membiarkan Baekhyun tidur di sini sepanjang malam.
Jadi, sembari berusaha sebaik mungkin untuk tidak menimbulkan kegaduhan, Chanyeol berjalan pelan mengitari badan mobil dan berhenti di sisi penumpang, membuka pintunya perlahan, lalu menggendong tubuh mungil Baekhyun dalam sekali angkat, tanpa melepaskan selimutnya sama sekali. Chanyeol terlihat sedang mengangkat segumpal kain.
Chanyeol terkesiap, takut kalau-kalau Baekhyun akan terbangun, namun ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda tersebut. Si jangkung bersurai malam itu kemudian menyeringai. Baekhyun ternyata cukup ringan. Padahal ia terlihat cukup berisi, terutama pada daerah pipi. Chanyeol kemudian berjalan pelan memasuki rumah, masih dengan Baekhyun dalam gendongannya.
Baekhyun bergerak sedikit, ia menggumamkan sesuatu yang tidak dapat Chanyeol mengerti, membuat si jangkung itu hampir terkekeh. Ia tampak jauh lebih menggemaskan ketika tertidur, pikir Chanyeol. Baekhyun bergerak lagi, kali ini merapatkan tubuhnya di sekitar dada Chanyeol, mencari kehangatan, mengusap-usapkan pipinya di sana, entah dia sadar atau tidak. Hampir separuh wajahnya tenggelam di dada Chanyeol sekarang.
Ini membuat Chanyeol senang setengah mati. Dadanya berpacu begitu cepat, membuatnya takut hingga ia menggigit bibirnya. Ia takut Baekhyun terbangun akibat mendengar dentuman jantungnya yang sekarang sedang menggila. Jadi, sembari mempercepat langkah, ia menaiki anak tangga dan membawa Baekhyun ke kamarnya. Ketika pintu kamar itu terbuka, ia segera menuju kasur, membuka selimutnya dan merebahkan tubuh mungil Baekhyun di atas kasur dengan sangat hati-hati dan lembut.
Tak lupa, ia juga melepas sepatu Baekhyun, lalu kembali menutup tubuh mungilnya dengan selimut.
Chanyeol tersenyum lembut ketika ia melihat sosok itu tertidur pulas. Ia berlutut di samping kasur Baekhhyun, tepat di sampingnya. Pikirannya berkelana jauh. Bagaimana mereka bertemu, dan bagaimana rasa benci Chanyeol yang seketika itu sirna dalam waktu singkat, berubah menjadi perasaan lain yang ia sendiri sulit jelaskan. Ia menyesalinya, tentu saja, ketika ia bersikap kasar kepada Baekhyun. Si mungil itu tidak berhak menerima kebencian Chanyeol, karena sebenarnya ia sendiri tidak memiliki salah apapun. Dan kemudian, dalam diam, seperti bisikan yang terdengar sepelan desauan angin, Chanyeol melantunkan ribuan rasan syukurnya. Ia Mensyukuri segalanya. Karena takdir membawanya bertemu dengan Baekhyun.
Chanyeol mengangkat tangannya untuk membelai halus surai magenta Baekhyun, lalu menunduk sedikit untuk mengecup puncak kepalanya. Lalu, dengan suara yang begitu lirih dan dalam, ia berkata, "selamat malam, Baekhyun. Terimakasih untuk hari ini. Aku bahagia."
Chanyeol baru saja keluar dari kamar mandi sehabis membasuh diri dengan air hangat, dan jam menunjukkan pukul dua pagi. Tak lama setelah ketika ia selesai memakai baju tidur favoritnya—celana kain panjang dan kaus lengan buntung berwarna abu-abu—si jangkung itu kembali mendengar bunyi samar gemercik air dari ujung lorong.
Apa Baekhyun terbangun? Tanyanya dalam hati. Ya, mungkin saja. Ia terbangun dan mendapati dirinya masih memakai kaus dan jins. Pasti ia tengah membersihkan diri sekarang. Baguslah. Ia harus segera tidur begitu selesai mandi, karena Chanyeol juga berniat untuk memasuki alam mimpi setelah ini. Tubuhnya lelah sekali, namun ada perasaan senang sekaligus hangat yang tak lekas hilang dalam dirinya. Jadi, sambil berjalan pelan, Chanyeol merangkak memasuki selimut, berbaring dengan senyum menghiasi bibirnya. Tak sampai satu menit setelah itu, matanya terasa berat dan ia merasa damai.
Lalu—"CHANYEOL-AH!"
Sontak, Chanyeol terkejut dan otomatis duduk dari tidurnya. Pada detik ketika matanya terbuka, yang ada hanyalah kegelapan total. Sedikit sinar temaram rembulan merembes masuk melewati jendela. Chanyeol merasakan jantungnya berpacu begitu kuat. Ia panik. Suara siapa itu tadi? Kenapa semuanya gelap?
Kemudian, satu pemikiran muncul di benaknya.
Mati lampu.
Ia ingat Sekretaris Yoon pernah berkata hal ini, mungkin seminggu yang lalu? Atau lebih? Entahlah. Chanyeol tidak ingat. Yang pasti pria tua itu berkata bahwa Chanyeol harus selalu siap sedia payung sebelum hujan. Seoul akan terkena giliran pemadaman listrik bergilir untuk bulan ini, dan yang dimaksud dengan payung oleh Sekretaris Yoon disini adalah, tentu saja, senter. Atau mungkin bisa jadi lilin.
Kemudian, ia mendengar teriakan itu lagi—kali ini jauh lebih keras.
"CHANYEOL! GELAP! AKU BUTA! MATAKU KEMASUKAN SHAMPOO—TIDAK BISA MELIHAT!"
Baekhyun!
"Tunggu sebentar, Baekhyun!" Chanyeol balas berteriak, berharap si mungil itu mendengarnya. Chanyeol bangkit dengan tergopoh-gopoh, membuatnya kakinya terlilit selimut dan akhirnya terjengkang di lantai keramik dengan bunyi 'duk' teredam. Si jangkung itu memaki dalam hati, mengusap lututnya yang terasa nyeri.
"CHANYEEEEOOOOLLLLLLL!"
Si jangkung itu terkesiap. Saat ini, tidak ada waktu untuk merasa sakit. Baekhyun membutuhkannya. Meski kegelapan total melingkupi kamarnya, untung saja cahaya temaram bulan masih bisa membantu penglihatannya. Ia berpikir keras. Dimana ia terakhir meletakkan senternya? Tunggu sebentar...
Ah! Di bawah laci meja belajar.
Dengan cepat, Chanyeol berjalan menuju meja belajarnya dan mengubrak-abrik isinya dengan brutal. Ketika ia menemukan senternya, barulah si jangkung itu bisa bernapas lega. Ia menekan tombol on, dan senter itu memancarkan cahayanya. Yang sayang sekali, terlihat redup dan sekarat. Baterainya hampir habis. Sialan.
Tidak apa-apa. Prioritaskan Baekhyun dulu.
Berlari secepat kilat, ia menyusuri lorong dan membuka pintu abu-abu kamar Baekhyun dengan kasar, lalu berhenti di pojok ruangan sebelah kiri—kamar mandi. Chanyeol mengetuk pintu itu pelan. "Baekhyun, kau di dalam?"
Dari balik pintu, terdengar sahutan panik. "Chanyeol!" suara Baekhyun terdengar bergetar. "Aku tidak bisa melihat, ma-mataku—tolong aku—"
"Tenang, pendek. Aku disini." Chanyeol menarik napasnya dalam-dalam. "Sekarang, dengarkan aku, oke? Apa kau mendengarku, Baekhyun?"
Terdengar bunyi tirai mandi yang ditarik kuat di dalam sana, lalu disusul suara halus Baekhyun. "A-aku mendengarmu."
"Nah, sekarang, apa kau memakai handuk?"
"Ti-tidak." Lirih Baekhyun.
Sial. Chanyeol meneguk ludahnya kasar. Pasti Baekhyun tengah merona hingga telinga sekarang, dan itu jelas sangat menggemaskan. Perasaan macam apa pula, ini? Tenggorokannya mendadak kering dan ada perasaan kuat yang terasa aneh. Pikirannya menjadi sedikit kotor, jadi ia berdeham keras. "Baiklah, kalau begitu, berjalanlah dalam pelan, jadikan dinding sebagai peganganmu. Kau tahu ada lemari kecil dengan gantungan di dalamnya, kan? Ambil salah satu handuk atau bathrobe di dalam sana, lalu keringkan tubuhmu dan pakai bathrobe-nya. Kau tidak mungkin mau aku masuk ke dalam sana dengan keadaan kau seperti itu kan, pendek?"
Chanyeol mendengar kesiapan halus Baekhyun, dan ia menyeringai senang.
"Ba-baiklah." Sahut Baekhyun.
"Bagus. Berjalan pelan-pelan saja, oke? Aku akan menunggumu di sini. Jadi tidak perlu khawa—"
Duk. "Aw!"
"Baekhyun!" Chanyeol sontak merapatkan dirinya ke dinding. "Ada apa? Apa kau baik-baik saja?!"
Terdengar ringisan sekaligus kekehan kecil Baekhyun. "Kepalaku menabrak lemarinya." Katanya geli. Astaga. Apa dia mentertawakan kebodohannya sendiri? Yang benar saja, Byun Baekhyun!
"Idiot." Maki Chanyeol. Ia meremas rambutnya. Sial. Rasanya jantung Chanyeol baru saja gugur. "Sudah?" tanya Chanyeol.
"Tunggu sebentar, aku tidak bisa melihat apapun disini." Suaranya berubah lirih. Ia pasti takut sekali. Uh, menggemaskan.
Chanyeol tersenyum lembut, meski ia tahu Baekhyun tidak bisa melihatnya. "Baiklah. Take your time." Semuanya cukup terasa aneh bagi Chanyeol. Dirinya dan Baekhyun hanya terpisahkan oleh dinding kamar mandi. Sungguh situasi yang konyol. Belum lagi kenyataan bahwa Baekhyun yang tadinya tidak memakai apapun di dalam sana...
Ya, cukup sampai disitu, Park. Hentikan.
"Chanyeol. Sudah." Panggilan halus Baekhyun membuat Chanyeol tersadar.
"Sungguh?" tanya Chanyeol tak yakin. "Kalau begitu aku akan masuk." Chanyeol meneguk kasar ludahnya lagi, tangannya meraih kenop pintu, kemudian memutarnya pelan. Cahaya redup senternya menyinari sosok Baekhyun di pojok ruang kamar mandi, tepat di samping lemari mini. Matanya terpejam kuat, rambutnya masih basah. Namun syukurlah ia tampaknya baik-baik saja. Ia bahkan memakai bahtrobe-nya dengan benar—sesuatu yang jarang, tentu saja.
"Baekhyun." Panggil Chanyeol, dan si mungil itu tampak lebih panik dari sebelumnya, tangannya mencari-cari dan menggapai-gapai udara.
"Chanyeol dimana? Aku tidak bisa melihat apapun, mataku perih."
Chanyeol terenyuh. Ia mendekat dan segera menggengam salah satu tangan Baekhyun yang seketika itu juga balas menggengam erat tangannya. Tangan Baekhyun terasa dingin. "Aku disini, Baekhyun. Tenanglah." Chanyeol kemudian menyerahkan senternya kepada Baekhyun. "Pegang ini." Dan Baekhyun menurutinya dengan patuh. Chanyeol kemudian menangkup tangan Baekhyun ke dalam tangannya yang besar, membawanya ke bibir, mengusap-usap sembari meniupnya untuk memberi sedikit kehangatan.
Kemudian, masih sambil menggengam tangan Baekhyun, salah satu tangan Chanyeol yang bebas meraih handuk di dalam lemari dan segera mengusap rambut magentanya yang masih basah.
"Maafkan aku." Kata Baekhyun lirih. Matanya masih terpejam, dan ia menunduk.
"Untuk apa?" alis Chanyeol terangkat ke atas, sementara tangannya masih sibuk mengusap rambut basah Baekhyun dengan handuk.
Baekhyun menggigit bibirnya. "Aku merepotkanmu." Ia terdiam sebentar. "Aku, uh, tidak begitu terlalu suka kegelapan."
Chanyeol mendengus lalu terkekeh. "Intinya, kau itu penakut."
Baekhyun mengangguk lesu. "Aku tidak suka gelap. Tadinya aku sedang men-shampoo rambutku lalu tahu-tahu saja lampu mati. Waktu aku berusaha membersihkannya dengan air, sabunnya masuk ke mataku, dan rasanya perih." Suara Baekhyun terdengar merajuk.
Chanyeol tersenyum lagi, ia menikmati bagaimana ekspresi Baekhyun terlihat jauh lebih rileks dibandingkan sebelumnya. Bahkan dalam redupnya cahaya senterpun, Chanyeol masih bisa melihat rona kecil yang merambati pipinya.
"Kau selalu ceroboh. Apapun itu. Mungkin nama tengahmu harusnya diganti menajadi 'ceroboh' saja. Byun Ceroboh Baekhyun." Chanyeol mengomelinya, dan Baekhyun mencebik sedikit, ia cemberut.
Meski begitu, Chanyeol terkekeh. "Nah, sudah. Kau baik-baik saja sekarang." Kata Chanyeol puas, tersenyum kemudian menunduk untuk mengecup ringan kening Baekhyun. Si mungil itu terkesiap, jelas tidak siap akan serangan mendadak seperti itu. Yang benar saja. Saat ini dia tidak bisa melihat, lantaran ketika ia membuka matanya, matanya akan terasa perih.
Baekhyun menggigit bagian dalam bibirnya. Jantungnya melompat kegirangan. Sapuan halus bibir Chanyeol di keningnya terasa panas. Benar-benar panas.
"Apa matamu baik-baik saja?" tanya Chanyeol lagi, memecah kesunyian di antara mereka.
Baekhyun tergagap. "Ti-tidak tahu."
"Sini kulihat." Chanyeol melepaskan salah satu genggaman tangannya pada Baekhyun dan segera menangkup kedua sisi wajah Baekhyun, lalu menatapnya serius. "Coba buka sedikit matamu, Byun."
Baekhyun menurutinya, meski terasa sedikit perih akibat shampoo, tapi sepertinya sudah tidak apa-apa.
"Ya, buka sedikit seperti itu." Kata Chanyeol lagi, kemudian ia meniup halus kedua mata Baekhyun. Untuk beberapa detik yang terasa lama, Baekhyun serasa ingin mencair. Wajahnya dan wajah Chanyeol begitu dekat, meski kegelapan hampir menyelubungi mereka. Hangatnya napas Chanyeol... bagaimana kedua tangkupan telapan tangannya yang besar memegangi kedua sisi wajah Baekhyun... benar-benar terasa menyenangkan dan mendebarkan.
Tak jauh berbeda dengan Baekhyun, Chanyeol hanya berusaha sebaik mungkin menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu lebih jauh daripada itu. Baik keduanya merasakan sesuatu berdentam dengan begitu kuat di dalam sana.
"Sudah lebih baik, pendek?" tanya Chanyeol.
Baekhyun mengerjapkan matanya pelan, berkali-kali, hingga ia merasa perih di matanya berkurang. "Sudah lebih baik, kurasa. Terima kasih, Chanyeol." katanya halus, menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.
Chanyeol tersenyum sebagai balasannya, mengangkat tangannya untuk mengusak sayang surai magenta Baekhyun. "Baiklah kalau begitu, ayo." Kata Chanyeol sembari berbalik dan mulai berjalan dalam langkah yang panjang-panjang.
"Tunggu! Jangan tinggalkan aku!" teriak Baekhyun panik.
Chanyeol tertawa. "Astaga, Baekhyun. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Tenanglah."
Baekhyun menunduk lalu cemberut. "Jangan berjalan cepat seperti itu." Katanya lirih, tangannya mengenggam erat ujung kaus lengan buntung Chanyeol.
Chanyeol terkekeh, kemudian menarik Baekhyun dalam sekali sentakan, merangkulnya erat di samping tubuhnya. Ia menunduk kemudian berbisik di telinga Baekhyun. "Bagaimana kalau begini. Setuju?"
Baekhyun merona kemudian mengangguk. Hangatnya tubuh Chanyeol terasa sangat nyaman untuknya.
"Nah, kalau begitu, kau yang pegang senternya. Mengerti?"
Baekhyun mengangguk lagi. "Mengerti." Katanya mantap.
"Baiklah. Misi pertama kita adalah ..." Chanyeol menggantung kalimatnya sebentar, kemudian melanjutkan dengan suara hati-hati, "mencari dimana Mr. Lilin berada. Karena sepertinya Mr. Senter sudah sampai pada penghujung hidupnya. Lihat saja bagimana redup cahayanya. Hidup segan, mati pun tak mau. Oke, Agen Byun? Do you copy that?"
Baekhyun tergelak, ia sedikit merapatkan tubuhnya kepada tubuh Chanyeol, merasa menggigil dan merinding sekaligus. Bukan karena dingin atau ketakutan, tapi karena rasa senang dan bahagia yang begitu membuncah dalam dadanya. Si mungil itu kemudian menjawab Chanyeol dengan nada yang sangat ceria. "Copy that, Agen Park!"
Lalu mereka tertawa heboh bersama.
Lihat, Baekhyun sekarang sama gilanya dengan Chanyeol.
Tak lama setelah itu, mereka berjalan bersisian menuju lorong, kemudian menuruni tangga untuk sampai pada lantai satu.
"Agen Byun, kita dalam masalah." Bisik Chanyeol panik ketika mereka sampai pada tangga paling akhir—seakan dunia ini akan musnah hanya karena mereka sedang berada dalam situasi konyol semacam ini.
Baekhyun terkikik lucu. "Ada masalah apa, Agen Park?" Baekhyun balas bertanya. Ini menyenangkan. Maksudnya—astaga, Baekhyun tidak tahu kalau Chanyeol bisa menjadi sekonyol dan seidiot ini.
Wajah Chanyeol berubah muram. "Begini, tampaknya aku sama sekali tidak bisa mengingat dimana terakhir kali aku melihat Mr. Lilin."
Si mungil itu jelas tidak mau kalah. "Agen Park," panggil Baekhyun serius, merubah ekspresi wajahnya seakan mereka berada di antara hidup dan mati, "bagaimana kalau kita mulai mencarinya di bagian dapur? Di dalam lemari perkakas, mungkin?"
Chanyeol menyeringai. Ia mengeratkan rangkulannya pada pundak Baekhyun dan mengusak sayang rambutnya. "Ide brilian, Agen Byun!" serunya, kemudian tertawa geli. "Kalau begitu, segera putar kemudi menuju dapur!" Yang Chanyeol maksud dengan kemudi, tentu saja, adalah senter dengan cahaya hidup-segan-mati-pun-tak-mau milik mereka. Berhubung Baekhyun yang memegang senternya, maka Chanyeol memberikan kuasa sepenuhnya kepada Baekhyun, sementara ia sendiri—ekhem—memegang erat si mungilnya agar ia tidak lagi ketakutan. Oh, dan jangan lupakan kalau Baekhyun hanya mengenakan bathrobe, teman-teman.
Atmosfer disekeliling mereka menjadi lebih cerah dari sebelumnya. Thanks to Chanyeol, of course. Bocah tinggi itu selalu bisa merubah situasi menjadi lebih baik. Lagipula, melihat Baekhyun ketakutan dan panik seperti sebelumnya cukup membuatnya gusar. Chanyeol tidak akan meremehkan Baekhyun hanya karena itu. Setiap orang memiliki hal yang mereka takuti masing-masing. Meski terdengar konyol, Baekhyun memang tampaknya tidak terlalu begitu akrab dengan kegelapan.
Hmm, Chanyeol baru saja memikirkan suatu ide. Ide untuk membuat Baekhyun tidak takut lagi terhadap gelap. Ia tidak tahu darimana datangnya ide ini. Tapi si jangkung bersurai malam itu merasa ini jelas ide brilian. Hanya saja, kau tahu kan, ide bagus tidak bisa langsung diwujudkan. Jelas akan memakan waktu dan proses yang cukup lama demi mewujudkannya. Chanyeol akan memikirkannya nanti, mungkin.
Ada baiknya saat ini ia fokus mencari beberapa batang lilin—atau apapun yang bisa digunakan sebagai penerang. Senter mereka tampaknya tidak akan bertahan lebih dari tiga puluh menit. Yah, setidaknya itu perkiraan Chanyeol. Semoga saja ia salah, karena Park Chanyeol cukup bodoh dalam hal menafsir, apalagi hitung-hitungan.
Ketika mereka sampai, tidak berniat untuk memakan waktu, Chanyeol dan Baekhyun agak sedikit berpencar untuk mencari lilin. Baekhyun sudah mulai berani melepaskan diri dari Chanyeol—yang mana sesungguhnya membuat Chanyeol menjerit kecewa, dalam hati, tentu saja—dan mulai membuka-buka lemari, laci, hingga tempat-tempat yang sepertinya agak-agak tidak mungkin untuk meletakkan sebuah lilin—but who knows, right? Mungkin saja salah satu lilin tidak sengaja terselip di sana.
Tapi nihil.
Baekhyun menoleh kepada Chanyeol dengan wajah cemberut. "Agen Park, apa kau mendapatkan sesuatu?"
Chanyeol tersedak sedikit ketika ia membuka salah satu laci berdebu. "Ya. Debu dimana-mana. Tidak ada tanda-tanda kehidupan Mr. Lilin."
Baekhyun mendesah. "Bagaimana ini?"
Chanyeol terdiam sebentar, kemudian wajahnya menjadi cerah. "Aku punya kabar baik dan kabar buruk. Mana yang ingin kau dengar terlebih dulu, Agen Byun?"
Baekhyun merasakan tengkuknya merinding tanpa alasan. Entah kenapa, sesuatu membuat perasaannya tidak enak. Ia segera berjalan cepat dan merangsek tepat di samping Chanyeol. "Mmm, kabar baik?" kata Baekhyun, jelas tak yakin bahkan pada dirinya sendiri.
"Well," seringai Chanyeol, "kurasa aku tahu dimana Mr. Lilin berada."
Mata sipit Baekhyun melebar. "Sungguh? Dimana?"
Chanyeol mengangguk. "Gudang penyimpanan di belakang garasi."
Baekhyun meneguk ludahnya kasar. Ia merasa tidak perlu lagi menanyakan kabar buruknya, karena Chanyeol kemudian melanjutkan, "masalahnya, gudang itu tidak pernah dibuka lagi, lebih dari sepuluh tahun."
Sontak, Baekhyun mengaitkan lengannya dengan lengan Chanyeol. "Ka-kalau begitu," ujar Baekhyun, tergagap meski ia merasa takut, "ayo pergi mencari Mr. Lilin."
Chanyeol menyeringai senang, mengetatkan Baekhyun di samping tubuhnya. Andai saja Baekhyun tahu kalau sebenarnya Chanyeol hanya berniat untuk mengerjainya. Yah, mereka setidaknya memang harus memeriksa gudang penyimpanan, kan? Hal yang jelas-jelas bohong disini adalah kalimat 'tidak pernah dibuka lagi lebih dari sepuluh tahun'. Yang benar saja. Keluarga Park bahkan memiliki tukang kebun dan dokter pribadi. Tentu saja selalu ada pembantu yang membersihkan gudang itu setidaknya sebulan sekali.
Chanyeol merasa sedikit bersalah, sih. Memanfaatkan ketakutan Baekhyun demi kesenangan pribadinya. Tapi ia akan memikirkan rasa bersalah itu nanti saja. Mereka benar-benar harus bergerak jika mau menemukan lilin keramat tersebut.
"Kalau begitu, ayo!"
Seperti biasa, mereka akan berjalan bersisian, dan Chanyeol akan tersenyum geli sesekali, menahan tawanya setengah mati. Mereka melewati jalan memutar melewati garasi mobil, dan kemudian sampai di depan gudang penyimpanan.
"Apa yang kalian simpan di sini?" bisik Baekhyun.
"Entahlah," sahut Chanyeol, kali ini jujur, karena ia sendiri sebenarnya tidak tahu.
Chanyeol membuka pintu kayu dobel gudang tersebut, masih dengan Baekhyun yang bergelantungan erat pada lengannya. Si mungil itu tersadar. "Kenapa gudangnya tidak dikunci?"
"Eh ... kalau itu, mmm, hehe." Chanyeol terkekeh.
Baekhyun memukul lengannya. "Chanyeol ... berbohong padaku. Iyakan?"
Ups. Ketahuan.
Chanyeol tidak membalas tatapan kesal Baekhyun, dan hanya terkekeh pelan layaknya orang idiot.
"Bodoh!" maki Baekhyun, kembali memukuli lengan Chanyeol. Sialan. Dia tidak tahu kalau Baekhyun ketakutan setengah mati.
"Aku hanya bercanda, pendek." Chanyeol terkekeh lagi. "Maafkan aku." Tapi kemudian ia menarik Baekhyun mendekat lagi. "Ayo cari, Mr. Lilin. Shall we, Agen Byun?"
Baekhyun memutar matanya jengkel, namun akhirnya mengangguk pelan.
Ketika mereka masuk, bau apak debu dan jamur, serta tanah basah bercampur menjadi satu, membuat indera penciuman mereka menjerit tak tahan. Baekhyun bahkan harus bersin sebanyak tiga kali beruntun, membuat Chanyeol tidak tahan dan akhirnya tertawa gemas.
Ketika akhirnya mereka menemukan tiga pak kotak yang semuanya berisi lilin, baik Chanyeol dan Baekhyun bersorak riang seakan mereka baru saja menemukan sesuatu yang bisa menyelamatkan umat dunia dari hari kiamat.
"Agen Byun, kita berhasil! Misi kita terselesaikan dengan sangat sempurna!"
Baekhyun tergelak lepas, mengutuk kalimat konyol Chanyeol, lalu mereka berdua sama sekali tidak bisa berhenti tertawa setelah itu.
Terdengar konyol dan menggelikan memang, tapi petualangan mereka malam itu benar-benar terasa menyenangkan. Baekhyun bahkan bersenandung riang sembari memeluk erat-erat tiga kotak itu ketika mereka berjalan kembali menuju rumah.
Ketika sampai di depan pintu kamar Chanyeol, Baekhyun menarik-narik ujung kaus Chanyeol dan berkata dengan wajah memerah dan suara yang terdengar lirih, "boleh aku bersama Chanyeol saja?"
Chanyeol tersenyum lembut, mengangkat tangannya untuk menepuk tepi pipi Baekhyun lembut. "Tentu saja, Baekhyun. Ayo masuk."Sesuatu di dalam kepala Chan yeol baru saja berteriak: ALERT! THIS IS DANGEROUS!
Tapi Chanyeol sebisa mungkin untuk mengabaikannya. Bukannya ia berniat melakukan hal yang aneh-aneh kepada Baekhyun, ia tidak sejahat itu.
"Omong-omong Baekhyun," kata Chanyeol ketika ia meletakkan lilin kelima yang sudah ia hidupkan di atas meja belajar, "aku lupa kalau kau belum memakai bajumu. Apa kau baik-baik saja? Kurasa kau harus segera mengenakan sesuatu yang hangat kalau kau tidak mau terkena flu."
Baekhyun, yang tadinya tengah duduk di tepian kasur Chanyeol, kini memilin-milin ujung bathrobe-nya gusar. Chanyeol benar, tapi Baekhyun tidak ingin kembali ke kamarnya. Ia ingin meminta Chanyeol menemaninya kembali ke kamar, tapi ia terlalu malu untuk melakukannya. Ia terdengar seperti pengecut idiot. Itu memalukan.
Namun, Chanyeol sepertinya mengerti rasa gusar Baekhyun. Jadi, tanpa berkata-kata ia berjalan pelan menuju lemarinya dan mengeluarkan sweater abu-abu dan celana trainingnya. "Pakai bajuku saja. Bagiamana, pendek?"
Baekhyun sontak mendongak, matanya melihat Chanyeol tengah menyodorkan baju tersebut, dan seketika itu ekspresinya berubah menjadi cerah. Baekhyun mengangguk. "Eum!"
"Kalau begitu cepat ganti bajumu." Ia menarik Baekhyun berdiri dan mendorong pelan pundaknya untuk masuk ke dalam kamar mandi. "Tidak usah takut, aku menunggu di balik pintu, oke?"
Baekhyun menahan senyumnya. Ia suka cara Chanyeol memperlakukannya. Benar-benar suka. Jadi, sembari memberanikan dirinya, Baekhyun berbalik dan berjiinjit sedikit, memberikan Chanyeol kecupan pertamanya, tepat di sudut bibir Chanyeol.
"Euh, terima kasih Chanyeol. Maaf merepotkan." Bisik Baekhyun lirih.
Lalu begitu saja, sosoknya menghilang dari balik pintu bahkan ketika Chanyeol belum sempat bereaksi. Chanyeol kemudian melipat bibirnya ke dalam sembari menelengkan kepalanya ke samping, bertanya-tanya apakah hal barusan itu mimpi?
Rasa menggelitik di sudut bibirnya bahkan tak kunjung hilang. Kecupan itu berlangsung tidak sampai sedetik, namun efek yang diberikannya benar-benar luar biasa. Chanyeol tidak bisa berkata-kata sekarang. Seluruh sistem dalam kepalanya porak-poranda hanya karena kecupan halus dari Byun Baekhyun.
Chanyeol mengangkat tangannya dan memegang sudut bibirnya, lalu tersenyum lebar sekali layaknya orang idiot.
Ia hanya tidak tahu saja kalau di dalam sana, seseorang bernama Byun Baekhyun tengah menahan jeritannya. Ia merasa tidak percaya bahwa ia berani melakukan itu. Demi segala omelan Minseok hyung, darimana ia mendapatkan keberanian semacam itu? Lantas bagaimana ia menghadapi Chanyeol setelah ini? Baekhyun hampir meledak hanya karena memikirkan hal tersebut. Dadanya berdentum begitu cepat, Baekhyun takut kalau-kalau jantungnya melompat keluar karena itu. Ia menggigit bibirnya. Bibir Chanyeol terasa halus di bibirnya, meski ia hanya sempat menyentuhnya sedikit.
Sementara untuk Chanyeol, efek akibat kecupan itu bahkan tidak hilang ketika Baekhyun telah selesai mengganti bajunya. Si mungil itu kini keluar dari balik pintu dengan wajah yang menunduk ke bawah, memilin ujung lengan sweater Chanyeol yang jelas kebesaran di tubuhnya.
Chanyeol menahan tawanya. Baekhyun terlihat berjua-juta kali menggemaskan sekarang. Tubuh mungilnya tenggelam di dalam baju Chanyeol yang kebesaran. Ujung bajunya melebihi tangannya sendiri, dan trainingnya menjejak ke lantai saking panjangnya. Melihat itu, Chanyeol tersenyum. Ia kemudian merunduk dan berlutut di depan Baekhyun, lalu menggulung ujung trainingnya yang kepanjangan hingga pas di mata kaki. Ketika ia selesai dengan trainingnya, ia bangkit dan melakukan hal yang sama untuk lengan sweater Baekhyun. Meski pelan, Chanyeol akhirnya tertawa sedikit.
"Apanya yang lucu?" jengkel Baekhyun, suaranya sepelan angin, dan ia terus-terusan menunduk.
"Kau." Kata Chanyeol sembari menyeringai. "Kau itu lucu."
Tidak mau kalah, Baekhyun berkata, "Chanyeol yang lucu. Selalu melakukan hal aneh semacam ini."
Alis Chanyeol terangkat. "Hal aneh?" tanyanya.
Baekhyun membuang muka. "Menggulung lengan bajuku, meniupi sup panasku, menyelamatkanku, memberiku—"
Chanyeol tertawa. "Itu karena aku menyukainya, Baekhyun. Aku senang melakukannya."
"Kenapa?" tanya Baekhyun, wajahnya merona lagi.
"Entahlah." Sahut Chanyeol, tertawa lagi. "Mungkin karena sekarang kita ..." Chanyeol berdeham pelan sementara ia menggantung kalimatnya, "... berpacaran?"
Baekhyun tersedak, dan Chanyeol tertawa. "Tentu saja aku melakukannya karena itu menyenangkan, dan ya, aku menyukaimu, pendek. Harus berapa kali kukatakan kalau aku—"
Baekhyun berjalan meninggalkan Chanyeol sembari menutup kedua telinganya. Wajahnya benar-benar tampak seperti kepiting rebus. Itu bahkan terlihat sangat jelas meski hanya ada cahaya temaram lilin yang menerangi mereka. "Aku tidak dengar!"
Chanyeol tergelak lagi, dengan cepat menyusul Baekhyun dan memeluknya dari belakang. Lengannya melingkari tubuh mungil Baekhyun, dan Chanyeol merasa luar biasa takjub dengan bagaimana ia menyukai perbedaan tinggi diantara mereka. Chanyeol kemudian menunduk, mendekatkan bibirnya di telinga Baekhyun, lalu kembali mengatakan mantra itu, kali ini dengan suara yang lirih, berat, dan sarat akan kejujuran. "Aku menyukaimu."
Baekhyun terpaku, menunduk. Luar biasa malu. "Hentikan."
"Aku menyukaimu."
"Chany—"
"Aku sangat menyukaimu, pendek."
"Chanyeol!"
"Aku menyukaimu."
Setiap kali Baekhyun memintanya berhenti, Chanyeol malah melantukan mantra itu dengan lebih lantang, membuat kalimat itu bergema dan meresap ke dalam setiap pori-pori kulit Baekhyun. Mustahil bagi Baekhyununtuk melupakan hal ini. Bagaimana cara Chanyeol mengatakannya, meski terdengar agak sedikit memaksa, tapi Baekhyun tahu bahwa ia tulus.
Untuk satu alasan yang tidak bisa dijelaskan, Chanyeol akhirnya mengerti. Ia bukan lagi pengecut yang dulu. Lihatlah sekarang, betapa ia berani menunjukkan perasaannya kepada orang yang ia cintainya, dan ia tidak akan pernah lagi merasa takut akan itu. Chanyeol juga tidak akan menyesal, dan ia berterimakasih kepada Baekhyun untuk itu.
Entah ia sadari atau tidak, Baekhyun membuat Chanyeol menjadi seseorang yang jauh lebih baik. Setidaknya, Chanyeol merasa sangat bahagia sekarang.
"Aku tahu, bodoh." Bisik Baekhyun akhirnya. "Aku juga menyukaimu, Chanyeol. Chanyeol tidak perlu mengatakannya sebanyak itu. Tanpa perlu Chanyeol katakanpun, aku sudah tahu."
Chanyeol tersenyum lembut, menunduk untuk menenggelamkan wajahnya di leher Baekhyun. Ia menghirup banyak-banyak aroma khas stroberi Baekhyun, kemudian memberikan kecupan ringan di sana, membuat Baekhyun meringis sembari menggigit bibir. Rasanya hangat dan menyenangkan, membuat kaki Baekhyun melemah seakan tidak memiliki tulang.
"Kau salah, Baekhyun." Chanyeol balas berbisik. "Meski aku baru saja mengetahuinya, tapi aku yakin akan hal ini. Semakin banyak kau mengatakannya, maka apa yang kau rasakan akan semakin dalam."
"Te-terserah Chanyeol saja." Baekhyun membuang mukanya, tergagap lagi. Si jangkung ini benar-benar lihai dalam membuat Baekhyun salah tingkah.
Lalu, tahu-tahu saja, Chanyeol sudah meghujani sekitar leher dan tengkuknya dengan kecupan halus.
Baekhyun menggigit bibirnya kuat, merasakan sapuan lembut bibir Chanyeol di sekitar lehernya, berjalan ke daerah tengkuk. "Cha-Chanyeol, hentikan."
Chanyeol mengehentikannya begitu ia mendengar suara lirih Baekhyun. Ia sadar ia melakukannya agak sedikit lebih jauh. "Maafkan aku, Baekhyun. Tapi kau terasa begitu manis, aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri."
Baekhyun merona. Ia berbalik dan meninju perut Chanyeol dengan gestur main-main, lalu beranjak meninggalkan Chanyeol dan segera menaiki kasur, lalu menyembunyikan seluruh tubuhnya ke dalam selimut. Chanyeol tertawa, dan ia paham benar bahwa Baekhyun sebenarnya luar biasa malu. Ia hanya tidak ingin Chanyeol melihat wajahnya yang memerah.
Meski begitu, Chanyeol berjalan santai dan berdiri di samping kasur dengan tangan yang bersedekap. "Mmm, excuse me, Mr. Byun. Tapi ini tempat tidurku."
Baekhyun terkesiap, kemudian sontak berdiri dan menatap Chanyeol dengan tatapan sengit.
"Ah, atau kau memang berniat tidur di sini, bersamaku?" Chanyeol balas menatap Baekhyun geli, "kalau begitu jangan salahkan aku kalau aku tidak bisa mengontrol diriku lebih baik karena—"
Kalimat Chanyeol berhenti ketika sebuah bantal mendarat begitu keras tepat di depan wajahnya, disusul sebuah teriakan heboh, "CHANYEOL HENTIKAN DASAR KAU TIANG LISTRIK MESUM!"
Lalu Chanyeol tertawa hingga perutnya sakit, sama sekali tidak menggubris jam dinding yang telah menunjukkan pukul empat pagi. Beruntung sekali besok Minggu, dan sekolah masih libur.
Tapi, meski begitu, mereka kembali menghabiskan malam itu dengan saling berbicara satu sama lain. Baekhyun akhirnya terlelap di atas kasur, tepat di samping Chanyeol yang tengah memetik gitarnya, menciptakan melodi halus penghantar si mungil menuju alam mimpinya.
Untuk malam itu, Chanyeol berjanji untuk tidak menyentuh Baekhyun sedikit pun. Mereka hanya berbaring bersisian, dengan jarak lebih dari lima belas senti, sama sekali tidak bersentuhan. Chanyeol merapikan sedikit selimut Baekhyun hingga menutupi pundaknya, kemudian berlanjut dengan menatapi wajah damai Baekhyun yang sudah terlelap pulas.
Maka, sekali lagi, Chanyeol mengatakan salam perpisahannya.
"Selamat tidur, pendek. Aku mencintaimu."[]
A/N: KALIAN BOLEH BUNUH AKU SEKARANG JUGA. UDAH NGILANG LAMA, MALAH MUNCUL BAWA CHAPTER YANG KAYAK GINI T-T JUJUR AKU SENDIRI NGGAK PUAS HUHUHU T-T
Omong-omong, aku udah kelas tiga dan bentar lagi bakal ngadepin UN. Makanya sekarang jatah nulis rada dikurangi, bahkan mungkin kemungkinan buat nulis udah nggak ada lagi. Tapi yagimana, emang dasarnya suka nulis kan kaya kebiasaan yang susah diilangin T-T
Makasih buat kalian yang sudah setia menunggu, meski jadinya absurd banget gini. Terimakasih juga yang selalu mau review, ngasi semangat, sampe ngirimin pm tentang imagine aku, Period. Sungguh, aku ngehargai banget. Itu semace suntikan kafein yang bikin aku segerrrr banget muehehehe
Once again, review about this chapter, please?
Lots of love from galexowufan~~~
