[CHAPTER 14 - BUSAN]


"About their hesitation, love, and lust."


Pagi itu mendung.

Matahari bersembunyi di balik gelapnya awan, menunggu waktu yang tepat untuk kembali bersinar cerah. Rintik air masih terdengar samar di telinganya. Ia tidak sadar kapan hujan. Namun yang pasti, ia yakin hujan itu terjadi ketika ia sedang terlelap dalam tidurnya.

Hawa dingin menusuk persendian tubuh mungilnya. Ia mengerang, merapatkan tubuhnya pada apapun yang bisa ia jadikan untuk menghangati tubuhnya. Tangannya menggapai-gapai selimut—namun alih-alih selimut, ia mendapati sesuatu yang lebih hangat daripada itu. Sesuatu yang hangat itu memiliki bau khas yang entah mengapa terasa nyaman, dan ia sepertinya agak-agak kenal dengan bau ini.

Entah karena ia belum sepenuhnya terbangun atau memang hanya otaknya yang lamban, Baekhyun membiarkan dirinya meringkuk seperti kucing manis, menikmati bagaimana rasa hangat itu menyebar melewati pori-pori kulitnya. Kemudian ia merasakan sesuatu bergerak, menariknya merapat dan melingkar di sekitar pinggangnya. Baekhyun bergumam, membiarkan wajahnya makin terbenam jauh pada suatu bidang keras yang terasa sangat hangat.

Lalu, Baekhyun mendengar seseorang tertawa halus. Ia merasakan orang itu menunduk lalu menyapukan bibirnya lembut di puncak kepalanya.

Baekhyun mengerang, meminta orang itu berhenti menganggunya—karena demi apapun, Baekhyun lelah sekali dan ia masih ingin tidur. Kalau perlu, ia akan tidur saja seharian seperti mayat.

Si mungil itu kemudian merasakan sesuatu menggelitik keningnya. "Betah sekali rupanya," suara berat yang samar terdengar.

Kening Baekhyun berkerut. Ia rasa-rasanya pernah mendengar suara ini ...

Oh, ia jelas sering mendengar suara ini—tapi siapa?

Lagi, si mungil itu mengerang, menarik napas panjang sembari berusaha membuka matanya secara perlahan. Pandangannya masih kabur, jadi ia mengusap-usap matanya berkali-kali, lalu menguap dan meregangkan tubuhnya.

Baekhyun mengusap matanya lagi, lalu berkedip beberapa kali untuk memfokuskan penglihatannya.

Dengan wajah mereka yang hanya berjarak tak lebih dari lima senti, berbaring menyamping, tampaklah wajah Park Chanyeol yang tengah menyeringai lebar sekali hingga membuat semua giginya hampir terlihat—meski dengan wajah khas orang baru bangun tidur dengan surai malamnya yang awut-awutan dan mata yang sedikit merah, sama sekali tidak mengurangi sedikitpun kadar wajahnya yang rupawan.

Baekhyun mengerjap lagi, sama sekali tidak mengerti situasi yang dialaminya saat ini. Rautnya wajahnya nampak bingung. Ia melirik ke bawah dan mendapati lengan Chanyeol meluk pinggangnya. Erat.

"Morning, sugar." Sapa Chanyeol geli, mendekat maju secepat kilat hanya untuk menyapukan bibirnya lembut di kedua kelopak mata Baekhyun secara bergantian.

Baekhyun, yang jelas sama sekali tidak bereaksi, kini hanya menatapi Chanyeol dengan sangat teliti. Si mungil itu mulai berpikir, apakah ia berhalusinasi, atau apakah dirinya masih bermimpi, atau apakah ia sangat merindukan Chanyeol sampai-sampai ia membayangkan sosoknya di pagi buta seperti ini. Kenyataan bahwa ia terlelap di kamar Chanyeol tadi malam sama sekali belum membuatnya sadar.

"Baekhyun?" panggil Chanyeol, sedikit khawatir karena ekspresi blank khas bangun tidur milik Baekhyun—tampak idiot namun entah kenapa begitu manis.

Baekhyun memicingkan mata sambil mengangkat tangannya perlahan. Ia membiarkan telunjuknya menyentuh wajah Chanyeol, menekan permukaan kulit wajahnya berkali-kali—lalu telunjuknya turun dan menyentuh lembut pada bibir Chanyeol.

Chanyeol terkekeh geli. "Apa yang kau lakukan, Baekhyun?"

Dan begitu saja, Baekhyun terkesiap hingga ia terlonjak dari posisi tidurnya, melepaskan diri dari pelukan Chanyeol.

"BUKAN MIMPI!" teriaknya keras sekali, membuat Chanyeol ikut-ikutan terlonjak kaget. "Apa yang aku lakukan di sini?!" sergah Baekhyun panik, melihat ke sekelilingnya dan menyadari bahwa pemandangan ini sama sekali bukan kamarnya.

Tawa berat Chanyeol membahana di seluruh penjuru kamar. "Tidur, tentu saja." Goda Chanyeol sambil menyibak separuh selimut yang menutupi tubuhnya dan duduk di tepian kasur, memandangi Baekhyun dengan kilat mata nakal.

Mulut Baekhyun menganga tatkala ia melihat Chanyeol tidak memakai atasan, hanya sebuah celana kain panjang berwarna abu-abu yang tengah menggantung rendah di lingkaran pinggangnya. Yang Baekhyun maksud dengan menggantung rendah adalah benar-benar menggantung rendah—seperti, jika kau tarik saja celana itu ke bawah maka seluruhnya akan terlepas dengan mudah. Sementara itu, mata Baekhyun menatap nanar pada kotak-kotak yang sudah terbentuk di bagian perut Chanyeol, dan si mungil itu menelan ludahnya kasar tanpa sadar.

Ini buruk. Sangat buruk.

Sekarang, sepertinya si mungil nan manis itu mengerti darimana sumber rasa hangat yang ia dapatkan beberapa saat lalu ketika ia meringkuk manis.

Lagi, Baekhyun mengerjap berkali-kali, menunduk untuk melihat tubuhnya sendiri—kemudian bernapas lega ketika melihat dirinya masih memakai baju yang sama seperti tadi malam—lengkap tidak kurang satu apapun.

"Tadi kau bilang masih mengantuk. C'mere, sugar." Ajak Chanyeol dengan suara geli sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memberi kode untuk Baekhyun—barangkali ia berpikir bahwa Baekhyun masih ingin berlari ke dalam pelukannya.

"You wish!" maki Baekhyun keras, dan si mungil itu berlari secepat kilat, meninggalkan Chanyeol di belakangnya dan keluar melewati pintu dengan bunyi 'blam' yang sangat kuat.

Sepeninggal Baekhyun, Chanyeol hanya tertawa pelan. Ia merasakan dadanya menghangat. Lalu benaknya mengatakan, ah seperti ini rasanya memeluk Baekhyun ketika ia tertidur.

Lagipula, melihat si mungil itu menggelamkan wajahnya tanpa ragu di dada telanjang Chanyeol benar-benar sesuatu yang sangat berharga—setidaknya untuk dirinya sendiri.


Baekhyun mengangkat ponselnya ketika benda itu berdering lebih dari dua kali. Ia melihat nama yang tertera di layar ponsel dan kemudian tersenyum senang. "Halo, Bibi Yujeong!"

"Baekhyun-ah!" seru seseorang dari seberang telepon, Hong Yujeong, adik Byun Han, bibi Byun Baekhyun. Rumah Yujeong adalah rumah kedua Baekhyun ketika ayahnya menjadi buron. Ada banyak alasan kuat kenapa Baekhyun memilih tinggal di rumah Chanyeol. Salah satunya adalah karena ia tidak terlalu ingin membebani wanita itu. Yujeong adalah seorang single mom. Sulit baginya untuk menghidupi dua anak, dan kala itu ia harus bekerja ekstra demi Baekhyun. Meski Baekhyun sudah bekerja paruh waktu kala itu, tetap saja, menumpang makan dan tidur di tempat orang lain meski orang tersebut masih tergolong keluargamu, tetap membuat Baekhyun merasa bahwa ia telah membebani orang lain.

"Apa kabarmu, sayang? Apa kau baik-baik saja?"

Baekhyun yang baru saja selesai mandi, kini mengusap rambutnya yang basah dan tertawa lepas. "Tentu saja, Bi. Jangan khawatir. Sungguh terasa sudah lama saat kita terakhir kali berbicara, ya. Bagiamana kabar Bibi? Apakah Jisung dan Lami baik-baik saja?"

Ia mendengar wanita itu mendesah. "Tentu saja kami baik-baik saja! Dua kakak-beradik itu terus saja mengomeliku dengan suara cemprengnya, berkata kapan kau bisa mengunjungi kami. Benar-benar menyebalkan." Baekhyun tertawa sebagai responnya. "Mereka memarahiku habis-habisan, tahu."

"Begitu, ya Bibi." Balas Baekhyun, tersenyum meminta maaf entah karena alasan apa. "Aku minta maaf karena terus merepotkanmu, Bibi."

"Eommaya, bicara apa anak ini. Kau tidak pernah sekalipun melakukannya, Baekhyun-ah."

"Baiklah, Bibi. Terimakasih. Omong-omong, kenapa Bibi menelpon?"

"Ah, ya." Sahut wanita itu, "aku hampir saja lupa. Aku seharusnya menelponmu kemarin, tapi aku tidak sempat. Hari ini ulang tahun Jisung. Tidak bisakah kau pulang ke Busan, Baekhyun-ah? Lagipula kami merindukanmu."

Baekhyun terkesiap. Sepupu kecilnya berulang tahun, dan ia sama sekali tidak ingat akan hal itu. "Astaga Bibi, aku lupa! Bukankah ini ulang tahun Jisung yang ke tiga belas? Bagaimana mungkin aku bisa melupakan itu!"

Yujeong tertawa. "Seperti yang sudah kuprediksikan, kau tidak akan ingat. Aku mengerti kau sedang sibuk dengan tugas sekolahmu. Kudengar SoPA adalah sekolah yang benar-benar luar biasa. Bukankah penyanyi dan aktor yang sedang naik daun saat ini berasal dari sekolah itu?" wanita itu kemudian mendesah sedih. "Yah, kurasa memang kemungkinan kau bisa pulang benar-benar kecil. Lagipula besok Senin dan kau harus bersekolah. Sudahlah, Baekhyun, tidak apa-apa. Minggu depan saja kau—"

"Tidak, Bibi! Tidak apa-apa!" potong Baekhyun cepat, tiba-tiba membuka lemari bajunya yang masih berantakan dan mulai memilah-milah baju. "Aku akan pergi sekarang. Tunggu saja!"

"Sekarang? Kau yakin, Baekhyun-ah? Apakah tidak apa-apa?"

"Ya, Bibi." Balas Baekhyun yakin. "Aku bisa naik kereta bawah tanah."

"Sungguh? Lalu bagaimana dengan sekolahmu?"

"Aku akan pulang pagi-pagi sekali. Lagipula jarak antara Seoul dan Busan tidak terlalu jauh, hanya tiga jam perjalanan."

"Apakah benar tidak apa-apa, Baekhyun-ah? Jangan memaksakan diri. Kau bisa datang minggu depan. Jisung dan Lami juga pasti akan mengerti."

Baekhyun terkekeh. "Aku rindu sekali dengan Lami dan Jisung, Bibi. Baiklah, aku akan bersiap-siap. Sudah dulu ya, Bibi!"

"Tunggu Baekhyun-ah! Ya! Baek—"

Tut. Tut. Tut. Tut.


Baekhyun turun ke lantai bawah mengenakan celana jins hitam, sebuah kaus berlapis jaket tebal, ransel sekolah berisi baju ganti dan seragamnya, dan tentu saja, sepatu converse kesayangannya. Mata sipit Baekhyun langsung bertemu pandang dengan manik gelap Chanyeol ketika ia sampai di meja makan, dan pria jangkung itu menatapnya bingung.

"Baekhyun?" tanyanya dengan suara berat. Chanyeol tampak tampan seperti biasanya, meski hanya memakai pakaian biasa.

Baekhyun meneguk kasar ludahnya. Bayangan tadi pagi masih segar dalam ingatannya—yang entah kenapa, untuk beberapa alsana yang tidak bisa dijelaskan, membuat bulu tengkuknya berdiri. Namun akhirnya si mungil itu tersenyum dan ikut duduk bersama Chanyeol di meja makan.

"Pagi, Chanyeol-ah." Senyum Baekhyun, membuat bibir pria jangkung itu melengkung ke bawah, masam.

Tidak berniat untuk membalas sapaan manis Baekhyun, Chanyeol malah mendelik, menatap pakaian Baekhyun dengan tatapan curiga. "Mau kemana kau, pendek?"

Baekhyun mulai mengambil mangkuk nasi dan lauknya, lalu memasukkan sedikit nasi ke dalam mulutnya. Nafsu makannya tiba-tiba saja menguap. "Maafkan aku karena ini mendadak. Bibiku juga baru memberitahuku tadi."

Alis Chanyeol terangkat sebelah. Ia meletakkan sumpitnya dan menatap Baekhyun serius. "Bibimu?"

Kepala magenta Baekhyun mengangguk lucu. "Sebelum tinggal bersamamu aku—" Baekhyun menggantung kalimatnya di udara tatkala ia tersadar akan kalimat 'tinggal bersamamu' terdengar agak sedikit ambigu. Meski begitu rona halus merambati wajahnya. Ia berdeham pelan. "Pokoknya dulu aku tinggal bersama Bibi dan dua sepupuku."

Chanyeol menyeringai. "Tinggal bersamaku, eh?"

"Diam, bodoh." Maki Baekhyun pelan. "Pokoknya, hari ini aku akan pulang kerumah Bibiku di Busan. Sepupuku ulang tahun."

Chanyeol mengangguk-angguk paham. "Baiklah kalau begitu. Ayo pergi. Aku akan menyiapkan mobil setelah kita selesai sarapan!"

Baekhyun mendongak dan memelototi Chanyeol dengan mata sipitnya. Chanyeol hampir saja tertawa dan mencubiti pipi Baekhyun saking gemasnya. "Siapa bilang aku pergi mengajak Chanyeol?!"

Pria jangkung itu menaikkan alisnya. "Kau mau pergi sendirian?"

Baekhyun mengangguk mantap.

"Sendirian? Tanpaku?"

Baekhyun mengangguk lagi, kembali memasukkan nasi ke dalam mulutnya dengan lesu. "Iya, tanpa Chanyeol."

"Wah." Desah Chanyeol kesal. "Sungguh tidak bisa dipercaya. Kau mau meninggalkanku sekarang?"

Baekhyun tertawa melihat aksi merajuk Chanyeol. Ia terlihat seperti bocah yang tidak ingin ditinggal Ibunya sendirian. "Astaga, Chanyeol. Aku hanya akan pulang ke Busan, itu saja."

Mengerutkan bibirnya, Chanyeol kemudian bersedekap. "Tapi besok sekolah dan kau itu baru saja pindah, tahu. Apa kau langsung ingin membolos?"

Si mungil itu terkekeh sembari meletakkan mangkuk nasinya yang masih penuh. "Tidak, kok. Aku membawa baju seragamku. Aku akan pulang pagi-pagi sekali dan langsung pergi ke sekolah."

"Hei, pendek." Kata Chanyeol, mendesah tak senang, sementara matanya menatap tajam pada gerak-gerik Baekhyun. "Apakah kau tidak terlalu memaksakan diri? Bagaimana jika kau kelelahan?"

"Tidak akan." Balas Baekhyun sembari menjulurkan lidahnya.

"Kau sudah selesai makan?" tanya Chanyeol, melirik nasi Baekhyun yang masih penuh.

Baekhyun tersenyum dan mengangguk. "Aku sudah kenyang. Chanyeol teruslah makan."

Pria jangkung di hadapan Baekhyun itu mencibir. Ini agak mengkhawatirkan. Ada apa dengan nafsu makan Baekhyun?

"Dengar." Kata Chanyeol, nada suaranya berubah serius. "Begini saja. Aku akan mengantarmu pergi ke Busan. Setelah itu aku akan pulang dan kau bebas melakukan apapun yang ingin kau lakukan. Bagaimana?"

Si mungil tetap keukeuh dengan pendiriannya. Ia menggeleng, membuat darah Chanyeol berdesir. Sejak kapan si mungil ini berani menentangnya dengan wajah tak berdosa seperti itu?

"Tidak mau. Aku mau naik kereta bawah tanah saja."

Chanyeol melipat bibirnya ke dalam sembari menutup kedua matanya, menahan rasa jengkel yang menyerangnya bertubi-tubi. "Baiklah, kalau begitu, biarkan aku pergi bersamamu. Setidaknya biarkan aku naik kereta bersamamu dan melihatmu selamat sampai tujuan."

Lagi, yang Chanyeol dapatkan hanyalah sebuah gelengan dan tawa halus. "Kalau begitu, begini saja." Balas Baekhyun, menirukan nada serius Chanyeol, "bagaimana kalau aku pergi sendirian saja dan Chanyeol beristirahat dengan tenang dirumah?"

"Baekhyun, kau—"

Chanyeol tidak sadar apa yang dia lakukan. Ia berdiri dan menarik Baekhyun bersamanya, lalu menyudutkan Baekhyun pada dinding, menghimpit tubuh mungilnya dengan tubuh jangkungnya sendiri. Baekhyun terkesiap, menahan napasnya—sama sekali tidak menduga bahwa Chanyeol akan bertindak seperti itu. Wajah Chanyeol tampak keras. Ia jelas sekali marah saat ini.

Chanyeol menatap Baekhyun dengan kilat mata marah. "Kenapa kau keras kepala sekali?"

Si mungil itu menduduk dan mengigit bibirnya. Pipinya memerah. Chanyeol tidak berniat untuk marah, namun kalimat yang ia keluar dari bibirnya terdengar lebih tajam daripada yang ia maksud.

"Maafkan aku." Bisik Baekhyun halus. Si mungil itu mendesah berat sekali, seakan ada beban tak terlihat yang tengah bertengger di pundaknya. Ia menjatuhkan kepala magentanya pada dada Chanyeol, mendegarkan deru napas sekaligus dentuman jantung Chanyeol yang tak beraturan. "Jangan marah padaku, Chanyeol-ah. Maafkan aku."

Mata Chanyeol melebar, dan ia merasa bersalah sekarang. "Astaga Baekhyun. Apa aku menakutimu? Maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu." Chanyeol membiarkan kedua lengannya mendekap Baekhyun, dan amarahnya seketika itu langsung surut. Pikirannya berubah menjadi jauh lebih tenang tatkala harum stroberi khas Baekhyun kembali menginvasi pikirannya.

Si mungil itu mengusak-usak wajahnya di dada Chanyeol, merasa nyaman hanya karena Chanyeol memeluknya.

"Berada di dekat Chanyeol memang terasa menyenangkan. Namun selalu membuat dadaku sesak dan kepalaku penuh. Kadang membuatku bingung, dan aku tidak bisa melakukan apapun dengan benar."

Chanyeol mendengus mendengar bisikan halus itu, kemudian bergumam, "aku bahkan lebih parah, asal kau tahu saja, pendek."

"Aku ingin menjernihkan pikiranku. Kupikir itu alasan utamanya. Aku takut Chanyeol marah padaku. Kupikir tidak ada salahnya untuk tidak berdekatan dulu dengan Chanyeol."

Chanyeol menarik bahu Baekhyun, kemudian menunduk dan menatap dalam manik cokelatnya. "Apa itu yang benar-benar kau inginkan?"

Jujur saja, Baekhyun agak sedikit ketakutan akibat kejadian pagi ini. Bukannya ia tidak percaya pada Chanyeol, namun, hanya saja, ada sesuatu yang masih terasa mengganjal di hatinya. Mereka terlibat dalam suatu hubungan, padahal mereka baru saja berkenalan. Dan terbangun di satu kasur yang sama pada pagi hari agak sedikit membuat Baekhyun merasa tidak nyaman. Tentu saja ini salahnya. Ia sadar benar kalau ia sendiri yang terlelap di kasur Chanyeol tadi malam. Kalau terus-terusan berada di dekat Chanyeol seperti ini, membuatnya tidak bisa berpikir jernih.

Mereka masih muda, dan mereka bisa saja melakukan kesalahan yang lebih parah dari itu.

Baekhyun menunduk, tidak berani menatap Chanyeol. Tapi Chanyeol dengan lembutnya mengangkat dagu Baekhyun dan membuat Baekhyun menatapnya langsung. Si jangkung tersenyum lembut, memaklumi keresahan si mungil kesayangannya.

"Apa aku menakutimu, Baekhyun?"

Lihatlah. Bahkan tanpa perlu Baekhyun menjelaskan, Chanyeol sepertinya sudah menangkap sumber keresahan Baekhyun. Baekhyun mengangguk halus sebagai balasannya.

Tepat pada saat itu, Chanyeol melepaskan pelukannya. Ia berdiri sembari menatap Baekhyun, masih dengan senyum lembutnya. "Maafkan aku, Baekhyun. Aku tidak tahu bahwa aku membuatmu merasa seperti itu."

Untuk beberapa alasan yang tidak bisa dijelaskan, Baekhyun merasakan sesuatu yang retak ketika Chanyeol melepaskan pelukannya. Apa itu berarti si jangkung itu tidak akan menyentuhnya lagi?

"Aku tidak akan melakukan apapun yang membuatmu merasa tidak nyaman. Aku berjanji." Chanyeol terkekeh. Nada suaranya terdengar sendu. "Dan asal kau tahu saja, aku sepertinya akan merasa begitu kesepian karena tidak bisa menyentuhmu lagi."

Kenapa atmosfer di sekeliling mereka berubah menjadi seperti ini? Apa yang telah Baekhyun lakukan?

Bukan seperti ini. Tidak berdekatan dengan Chanyeol bukan berarti Baekhyun tidak ingin semua pelukan tiba-tiba dan kecupan ringan darinya. Bukan. Bukan seperti itu. Namun kenapa Baekhyun malah membeku? Kenapa ia merasa bahwa semua ini harusnya lebih baik seperti ini dari awal? Lalu kenapa ia merasakan pedih di hatinya?

Baekhyun hanya ... ia hanya ... sial.

Ia hanya tidak bisa berpikir jernih jika berada di sekitar Chanyeol, dan itu semua menakutinya. Tapi kenapa? Bukankah mereka sudah mengungkapkan perasaan masing-masing? Berkata bahwa mereka saling menyukai satu sama lain?

Ia ragu. Bukan kepada Chanyeol, melainkan lebih kepada dirinya sendiri.

"Terimakasih atas pengertian Chanyeol." balas Baekhyun akhirnya. Sial. Suaranya bergetar. Meski begitu, ia mengangkat wajahnya dan tersenyum. Mengerjap beberapa kali untuk menghalau genangan air yang mulai terbentuk di sudut matanya. "Aku sungguh menghargainya."

Selanjutnya, semuanya berubah menjadi lebih buruk. Udara di sekitar mereka terasa dingin. Keadaan berubah. Mereka menyelesaikan sarapan dalam diam yang menyesakkan. Baekhyun bahkan tak menyentuh makanannya, hanya memainkan sendoknya dalam diam. Meski Chanyeol mengajaknya berbicara, Baekhyun hanya membalasnya dengan kalimat singkat. Si mungil itu begitu takut. Sangat takut ia akan menangis jika ia berbicara terlalu banyak. Meski begitu, Chanyeol tetap memberikan senyum hangatnya, membuat Baekhyun merasa menjadi orang paling kejam yang pernah ada.

Chanyeol bahkan bersikeras mengantar Baekhyun menuju stasiun kereta bawah tanah.

Dan hari itu, mereka berpisah di stasiun kereta bawah tanah tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hanya sebuah tatapan dan bibir yang saling bertukar senyum—senyum yang entah mengapa terlihat begitu sedih.


Chanyeol kembali kerumah setelah ia melepas kepergian Baekhyun menuju Busan dengan kereta bawah tanah. Chanyeol merasa separuh bagian dari dirinya telah terbang terbawa angin, dan si jangkung itu tidak pernah merasakan hal seperti ini dalam hidupnya.

Rasa takut dan hampa.

Takut akan kehilangan seseorang, dan hampa karena Baekhyun tidak bersamanya.

Ia sungguh tidak tahu apa yang ia lakukan ketika hari itu datang. Hari ketika Baekhyun akan angkat kaki selamanya dari kehidupannya yang menyedihkan. Chanyeol mungkin tampak sekeras batu karang. Penampilan luarnya mungkin tampak seperti tembok yang tidak bisa dihancurkan. Namun Chanyeol hanyalah manusia biasa. Semua pertahanan yang ia lakukan tak lain dan tak bukan hanya demi membuat dirinya terlihat kuat.

Bukan lemah seperti ini.

Menjadi lemah adalah hal paling menjijikkan bagi Chanyeol. Menjadi lemah adalah hal yang Chanyeol benci. Dan ia tidak pernah membayangkan bahwa akhirnya, sisi menyedihkan yang terletak jauh di dasar jiwanya akan muncul ke permukaan.

Chanyeol tidak akan pernah terbiasa ditinggalkan oleh orang terdekatnya. Bahkan untuk Ayahnya sendiri, meski ia membenci pria itu sampai ia mati, jauh di dalam hatinya, ia masih mengharapkan pria itu untuk kembali, membuat semuanya terasa lebih mudah, sama seperti dulu. Membuat dirinya menjadi bahagia seperti dulu.

Chanyeol tidak akan pernah siap dengan kata perpisahan. Karena untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar jatuh cinta kepada seseorang. Bukan hanya sekedar suka, namun benar-benar jatuh cinta. Ia mulai bertanya-tanya apa yang salah pada dirinya?

Si jangkung itu jelas menangkap jelas rasa takut dari mata Baekhyun, membuatnya merasa sedih sekaligus terkejut. Apa dia sudah melakukan sesuatu yang membuat Baekhyun ketakutan?

Chanyeol ingin bergerak maju, meraih Baekhyun lagi. Ia tidak ingin melepaskan Baekhyun semudah ini. Namun Baekhyun malah membuatnya mundur. Chanyeol tidak ingin membuat Baekhyun lebih ketakutan karena sifat posesifnya. Meski ia merasa hatinya seperti teriris belati, ia akan bertahan.

Mungkin Baekhyun benar. Tidak ada salahnya untuk mendinginkan kepala sebentar.

Chanyeol akan melihat bagaimana dirinya sendiri bertingkah ketika si mungil itu tidak bersamanya. Dan ia jelas penasaran bagaimana si mungil itu akan bertingkah ketika Chanyeol tidak bersamanya.

Jadi, ia tersenyum dan meraih ponselnya, menelpon satu nama yang selalu menjadi tempat keluh kesahnya: Oh Sehun.

Sehun menjawab telepon dari Chanyeol dalam lima kali nada tunggu. "Hei Oh Sehun, kerumahku sekarang. Aku bosan. Dalam lima belas menit kau tidak menjejakkan kakimu dirumahku, aku bersumpah aku akan mencium Luhan di lapangan sekolah besok pagi."

"SIALAN HYUNG KAU BRENGSEK! KAU MAKHLUK PALING RENDAH YANG PERNAH KU—"

Dan begitu saja, Chanyeol mematikan sambungan teleponnya dengan seringai lebar. Setidaknya, menggoda Oh Sehun masih terasa menyenangkan.


Sehun datang lebih dari tiga puluh menit setelahnya, mendapati sang tuan rumah berwajah murah.

"Hyung." Pujuk Sehun dengan suara khawatir. Dadanya berpacu, napasnya putus-putus. "Aku minta maaf. Ibuku tidak membiarkanku pergi sebelum aku membersihkan kamarku sendiri. Aku sungguh minta maaf."

Kala itu, Chanyeol sedang menonton televisi sembari berbaring di sofa dengan ekspresi wajah yang tidak bisa dijelaskan. Sehun terlambat, itu jelas, dan ia lelah menunggu bocah tengik itu. Jadi, Chanyeol mendongak dari layar televisi dan menatap Sehun malas. "Ah, kau sudah datang, Sehun-ah."

Sehun menganga, tidak menyangka bahwa Chanyeol akan memberinya reaksi semacam itu. Ia sudah memperkirakan bahwa si jangkung itu akan meledak dan marah-marah padanya. Tapi reaksi semacam ini tidak pernah ia duga sebelumnya. "What the heck, hyung?!" protes pria yang paling muda itu sembari mengangkat tangan tak percaya.

"Sehun-ah." Panggil Chanyeol dengan mata menerawang, lalu menepuk karpet bulu di sampingnya. "Duduk di sini."

Kening Sehun berkerut. Chanyeol yang bertingkah seperti ini adalah Chanyeol yang menyeramkan. Sehun tahu betul. Sesuatu telah terjadi padanya. "Ada apa hyung? Apa sesuatu telah terjadi?"

"Apakah ada sesuatu yang salah dalam diriku, Sehun-ah?"

Kalimat ini bahkan lebih aneh lagi. Tentu saja ada yang salah pada dirimu! Sehun rasanya ingin berteriak saking frustasinya.

Baru saja Sehun ingin menjawab pertanyaan tak masuk akal itu, Chanyeol telah terlebih dulu memotongnya. "Si murid pindahan yang menyebalkan dan idiot, Byun Baekhyun, sedang menghancurkan pikiranku sekarang."

Entah apa yang sedang berada di kepala Chanyeol. Ia sudah tidak bisa menahan semuanya sendirian lagi. Ia ingin bercerita kepada seseorang, dan sepertinya Oh Sehun bukanlah pilihan yang buruk.

"SUDAH KUDUGA!" pekik Sehun, kali ini menyeringai lebar sekali, kemudian menepuk pundak Chanyeol dengan bangga. Sehun tahu satu-satunya makhluk yang pernah Chanyeol sukai adalah Do Kyungsoo, tapi firasat Sehun mengatakan bahwa arah pembicaraan ini sama sekali tidak berkaitan dengan Kyungsoo. Dan terbukti, firasat itu benar. Memang selalu ada hal yang janggal jika sudah berkaitan dengan si murid pindahan itu. Sehun sudah menduga ini, namun siapa tahu ternyata dugannya benar. Park Chanyeol sedang jatuh cinta. Dan kali ini, Sehun seratus persen yakin, orang yang ia cintai bukanlah Kyungsoo.

Namun, berkebalikan dengan ekspresi senang Sehun, Chanyeol malah nampak makin murung.

"Kau tahu, bocah." Kata Chanyeol, tatapannya kosong. "Kurasa aku terlalu banyak menyimpan rahasia darimu. Dari Kris hyung, dan juga Luhan."

Sehun, yang sudah tidak tahan karena arah pembicaraan yang tak tentu arah seperti ini, akhirnya meninju lengan Chanyeol dan berkata jengkel, "brengsek! Berbicaralah dengan benar, hyung. Aku tidak mengerti satu pun kalimat yang kau ucapkan."

"Bocah tengik." Chanyeol balas memaki. "Berani sekali kau memanggil hyung-mu brengsek."

"Aku tidak peduli! Kau yang memanggilku kesini dasar kau tidak berperasaan! Mengancamku dengan berkata akan mencium Luhan, dasar brengsek."

Chanyeol menoleh dan menatap Sehun malas. "Aku hanya bercanda, Sehun. Aku tidak tertarik pada Luhan."

"Terserah kau saja!" sahut Sehun jengkel sembari berdiri. "Aku pulang!" tapi langkah Sehun tertahan tatkala ia mendengar Chanyeol memohon.

"Jangan pulang, Sehun-ah." Kata Chanyeol, mendadak nada suaranya terdengar sedih.

"Sial." Maki Sehun, kemudian kembali duduk pada posisi semula dengan wajah masam.

Chanyeol kemudian mendesah dan bangkit dari tidurnya. "Tidak bisa begini." Katanya mantap, dan Sehun memutar bola matanya karena lagi-lagi, ia tidak mengerti apa yang sedang pria jangkung itu bicarakan. "Telepon Luhan dan Kris hyung. Aku akan mengakuinya semua sekarang. Kalian harus tahu masalah ini."

Sehun menyipitkan matanya, menatap Chanyeol curiga. "Mengakui apa, hyung? Masalah apa?! Jangan berbicara seperti itu. Kau menakutiku!"

Namun Chanyeol membalasnya dengan senyum kaku. "Kau akan tahu setelah kita semua sudah berkumpul, Sehun-ah. Bukankah kita sahabat? Aku seharusnya memberitahu masalah ini kepada kalian sejak awal."

Sehun ingin bertanya lebih jauh. Namun ia mengurungkan niatnya, malah beralih meraih ponselnya untuk menelpon Luhan dan Kris.


Luhan melirik Kris dan Sehun bergantian. Raut wajahnya memperlihatkan kalau ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi di sini.

Baru saja, sekitar tiga empat puluh lima menit sebelumnya, Luhan sedang menghafal beberapa materi pelajaran dirumah ketika tiba-tiba Kris menelponnya dan mengatakan bahwa ia sudah berada di depan rumahnya—tentu saja, tak lain dan tak bukan hanya untuk mengajaknya pergi kerumah Park Chanyeol.

Terkutuklah si tiang listrik itu. Luhan sudah berada di tahun terakhirnya, dan ia seharusnya mempersiapkan diri untuk memasuki perguruan tinggi. Memang, sepertinya, di antara mereka, hanya dirinya sendiri yang masih waras.

Chanyeol juga bertingkah menyebalkan. Ia lebih muda dari dirinya, tapi ia seenaknya saja menyuruh Luhan melakukan ini-itu. Kris juga sama sintingnya. Kapan mereka akan sadar? Luhan sudah ingin mengomeli mereka panjang lebar, namun ia urungkan niat tersebut ketika akhirnya ia melihat wajah nelangsa milik Chanyeol.

"Chanyeol." panggil Luhan hati-hati.

Tatapan Chanyeol nampak kosong untuk beberapa saat. Ia tampaknya sedang melamun. "Ya?" tanyanya, bingung.

Luhan mengerutkan keningnya. "Apakah ... ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" pancing Luhan lagi, karena tampaknya Chanyeol sedang tidak bisa berpikir fokus dan ia terus-terusan melamun.

Ini sangat jarang.

Oh, bahkan jika harus dingat-ingat lagi, hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

"Apakah ada sesuatu yang terjadi?" Kris menambahkan, ia bersedekap, menyilangkan kedua kakinya dengan gestur santai di atas karpet bulu domba.

Mereka tampak konyol sekarang. Duduk membentuk lingkaran di atas karpet sembari memandangi wajah satu sama lain dengan raut cemas. Luhan jadi teringat adegan film hantu yang sering ia tonton bersama Sehun—adegan dimana sekelompok pemuda duduk membentuk lingkaran di atas ukiran bintang untuk memanggil arwah jahat.

Masalahnya, hanya saja, mereka tidak berniat untuk memanggil arwah jahat saat ini. Ada yang lebih mengerikan daripada arwah jahat itu sendiri; Park Chanyeol yang sedang bertingkah tak masuk akal.

"Hei, teman-teman." Panggil Chanyeol, ia tersenyum miring. "Apa ada sesuatu yang salah dalam diriku?"

"Ya ampun. Itu lagi." Desah Sehun memutar bola matanya sembari menjatuhkan kepalanya di pundak Luhan (hanya salah satu gestur manjanya yang menyebalkan). Luhan, yang tampaknya sedang tidak ingin melayani Sehun, malah mendorong kepalanya menjauh dan memberinya tatapan jangan-sekarang-nanti-saja-bodoh. Kemudian Sehun membalasnya dengan menggerutu pelan.

Kris, yang memang memiliki selera humor tak normal, malah memukul kepala Chanyeol dengan snapback yang ia kenakan. "Tentu saja ada yang salah denganmu, brengsek." Tawanya, memasang kembali snapback-nya. "Kau itu tidak waras."

Chanyeol mendongak, kemudian menatap Kris dengan tatapan serius. "Benarkah? Kalau begitu, hyung, apakah berada dalam radius satu meter denganku membuatmu takut?"

Kalimat serius Chanyeol disambut oleh decihan meremehkan milik Kris. "Bocah sinting." Makinya. "Untuk apa aku takut dengan bocah sepertimu? Pakai otakmu kalau—AUW LU! KENAPA KAU MENCUBITKU?!"

"Diamlah bodoh!" bisik Luhan sembari memelototi Kris.

Kris memberi tatapan yang jika diartikan akan berbunyi, 'memangnya apa salahku?' kepada Luhan, kemudian melirik Sehun untuk meminta pertolongan, namun pria dengan status paling muda itu malah pura-pura tidak melihatnya. Sialan.

Sekali lagi, memang hanya Luhan yang paling waras. "Chanyeol-ah." Panggil Luhan lagi, berusaha memperjelas situasi. "Bukankah kau memanggil kami semua karena kau ingin bercerita?"

Chanyeol mendongak dan pria jangkung itu mengangguk.

Luhan tersenyum lembut, memaklumi rasa gelisah yang membuat Chanyeol sendiri sejujurnya bingung darimana ia harus mulai bercerita. "Kalau begitu, berbicaralah dengan jelas agar kami mengerti. Kau paham, kan?"

Tanpa diduga-duga, Chanyeol membalas Luhan dengan patuh. "Ne, hyung." Ia bahkan menggunakan 'hyung' ketika menyebut Luhan, sesuatu yang sangat jarang, karena biasanya Chanyeol hanya memanggilnya Luhan atau Lu saja. Well, Luhan juga tidak terlalu mempermasalahkannya. Jika itu berkaitan dengan Sehun, karena mereka berpacaran, maka ia menghapuskan sistem 'berbicara dengan sopan' yang seringkali dianut oleh masyarakat Korea pada umumnya. Kalau untuk kasus Chanyeol, Luhan hanya membiarkannya saja. Itu karena saat pertama kali bertemu, Chanyeol salah mengenali Luhan sebagai murid tahun pertama alih-alih kakak kelasnya sendiri. Sementara untuk Kris, mereka satu angkatan jadi Luhan merasa tidak perlu menggunakan sistem itu.

Luhan tersipu sedikit, membuat Sehun cemberut di sampingnya. Tapi Sehun tahu kalau ia harus menahan diri. Karena ada masalah yang lebih serius dari sekedar cemburu.

"Baiklah." Kata Chanyeol perlahan, menunduk sembari memijit pelipisnya. "Aku akan menceritakan semuanya, jadi jangan terlalu terkejut dan jangan potong ucapanku."

Baik Luhan, Kris maupun Sehun mengangguk setuju sebagai balasannya.

Chanyeol menarik napasnya dalam-dalam. Ia tidak menyangka kalau memberitahu sahabatnya sendiri masalah Byun Baekhyun ini akan terasa sangat sulit. "Kalian tahu Byun Baekhyun, pastinya. Murid pindahan kelas II Kategori A?"

Lagi, tanpa kalimat yang terucap, ketika teman Chanyeol yang lain hanya mengangguk dan menatapnya serius.

"Baekhyun ..." Chanyeol terdiam sebentar. "Baekhyun ..."

Suara Chanyeol mendadak berubah menjadi begitu kecil, membuat ketiga temannya harus merangsek maju dan menajamkan indera pendengaran mereka masing-masing.

"Baekhyun ..."

"DEMI WAJAH IDIOT KRIS HYUNG CEPATLAH BERBICARA! KAU MEMBUATKU PENASARAN SETENGAH MATI! SEBENARNYA ADA APA?!" yang ini, adalah amukan dari Oh Sehun.

"KENAPA KAU MEMBAWA-BAWA WAJAHKU BOCAH?! APA KAU SUDAH BOSAN HI—"

"Aku jatuh cinta padanya."

Yang ini, adalah teriakan tak percaya dari Kris. "APA?!"

"Dan ia tinggal di sini, sudah hampir seminggu."

Dan yang terakhir, adalah bunyi terkesiap dari Luhan. Pria manis itu menutup mulutnya sembari berbisik, "tidak mungkin."


"Selamat datang, Baekhyun-ah!" suara melengking khas Bibi Yujeong menyambutnya di depan pagar sederhana bercat putih yang sudah mengelupas. Anjing pudel milik keluarga wanita itu, Kimchi, segera berlarimendekati Baekhyun mengendus-endus kakinya.

Baekhyun membalas sapaan ceria itu dengan senyum lesu. "Halo, Bibi." Kemudian ia menunduk dan melihat Kimchi, "kau juga, Kimchi. Apa kabarmu?"

Raut ceria Yujeong seketika luntur. "Ada apa sayang? Apa kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat."

"Kurasa aku mengalami mabuk kendaraan, Bibi." Jawab Baekhyun ketika ia merasakan rasa mual menderanya. Si mungil itu menunduk untuk menggendong Kimchi dan membelai bulunya.

Yujeong tertawa. "Yang benar saja, Baekhyun. Mabuk kendaraan, sejak kapan? Dan lagi, bukankah kau bilang kau naik kereta bawah tanah? Bagaimana mungkin kau bisa merasa pusing?"

Baekhyun tersenyum lemah. "Aku juga tidak tahu, Bibi. Aku merasa bodoh sekarang."

Wanita paruh baya itu kemudian merangkul Baekhyun dan mengajaknya masuk. "Jisung-ah, Lami-ya, Baekhyun sudah sampai!" teriak Yujeong ketika mereka sudah sampai di ruang tamu.

Baekhyun, yang sekarang merasa pusing bukan main, malah merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan Kimchi yang masih betah di dalam pelukannya. Bahkan anjing pudel berbulu putih itu kini membuat gestur seakan ia merasa nyaman dalam pelukan Baekhyun.

Bahkan anjing pun menyukainya.

Tak lama setelah itu, Baekhyun mendegar kegaduhan dari dalam kamar, yang diduga Baekhyun sebagai kamar Lami dan Jisung.

Benar saja, dua kakak beradik itu berlari dengan penuh semangat menuju ruang tamu, meneriaki nama Baekhyun dan akhirnya menubruk Baekhyun hingga pria mungil itu meringis—sementara Sang Ibu berteriak kepada mereka untuk tidak berlari.

"Oppa!" seru Lami, ditimpa oleh seruan Jisung yang juga memanggilnya hyung.

Yujeong terkikik kecil melihat dua anaknya yang jarang akur itu seketika menjadi bersahabat ketika ada Baekhyun. "Oh, ayolah, anak-anak. Baekhyun merasa tidak enak panjang akibat perjalanan panjang. Biarkan dia beristirahat sebentar, ya."

Lami mengangguk lesu, dan mengambil Kimchi dari gendongan Baekhyun. Pria mungil itu menepuk kepala Lami dan Jisung bergantian, tersenyum berterimakasih karena sudah mau mengerti.

"Jisung-ah. Selamat ulang tahun yang ketiga belas. Maafkan aku karena tidak bisa membelikanmu hadiah apapun." Ujar Baekhyun, meringis tatkala ia menatap wajah Jisung.

Namun Jisung malah tertawa. "Siapa yang bilang kalau aku menginginkan hadiah, hyung? Aku hanya ingin Baekhyun hyung pulang. Itu saja kok."

Baekhyun tersenyum lembut. Jisung sudah tumbuh lebih dewasa sekarang. "Baiklah kalau bgeitu. Ketika aku sudah meerasa lebih baik, kita akan bermain di taman bersama Kimchi dan membeli beberapa es krim. Oke?"

Baik Jisung dan Lami mengangguk kemudian tersenyum.

"Hyung, kau harus berjanji, ya." Jisung mendelik kepadanya.

Baekhyun tertawa lemah menanggapi hal itu, namun akhirnya ia mengangguk mantap. Sepertinya pria mungil itu masuk angin karena ia terlalu sedikit makan pagi ini. Bahkan, kalau diingat-ingat lagi, Baekhyun hanya makan tiga atau empat sendok nasi.

Jangan tanya kenapa selera makannya bisa menguap ke permukaan seperti itu. Tentu saja jawabannya hanya satu. Siapa lagi kalau bukan tiang listrik jadi-jadian bernama Park Chanyeol?

Ugh, memikirkannya membuat Baekhyun makin tambah nelangsa. Bagaimana ia akan menghadapi Chanyeol ke depannya nanti? Baekhyun benar-benar bodoh. Ia tidak seharusnya berkata seperti itu kepada Chanyeol tadi pagi.

Parahnya, ketika hatinya sendiri berteriak, mulutnya malah tidak mau terbuka sama sekali. Saat di stasiun tadi, Baekhyun sungguh ingin memeluk Chanyeol sebagai salam perpisahan. Tapi Baekhyun tidak bisa. Ia tidak terbiasa melakukannya. Selama ini, selalu Chanyeol yang bergerak terlebih dahulu mendekatinya. Entah itu kecupan, pelukan, atau hanya sekedar rangkulan. Dan ketika ia menatap Chanyeol, pria jangkung itu hanya memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku hoodie-nya—jelas-jelas tidak berniat untuk memberi Baekhyun salam perpisahan (berupa pelukan, misalnya) kepada Baekhyun.

Hal itu malah membuat Baekhyun makin ciut dan tidak berani melakukan apapun. Pada akhirnya mereka hanya bertukar pandang sembari tersenyum.

Rasanya hati Baekhyun baru saja hancur. Sakit sekali.

Ketika kedua kakak beradik itu berlalu, Baekhyun akhirnya berbaring dan memejamkan matanya, sementara telinganya samar-samar mendengar omelan dari sang Bibi. Baekhyun tidak mendengar apapun lagi setelah itu, yang ada hanya gelap dan sedikit rasa mual.

Si mungil itu terlelap di atas sofa.


Kris Wu bersandar di depan pintu berwarna abu-abu sembari bersedekap. Mulutnya terkatup rapat, sementara air wajahnya tampak mengerikan.

Tidak mengerikan, sebenarnya. Hanya saja, wajahnya selalu tampak seperti itu. Dengan alis tebal, mata berwarna cokelat cerah dan dagu yang runcing, Kris selalu dianggap sebagai pria dengan wajah yang dingin.

Padahal dunia tahu kalau ia hanya orang idiot.

"Apakah kalian percaya, sekarang?" tanya sumber suara yang kemudian Kris kenali sebagai Park Chanyeol.

Kris menoleh, menatap kesal kepada pria yang tak kalah jangkung seperti dirinya, namun jelas berstatus sebagai adik kelasnya itu. Yang ditatap malah balas menatapnya galak. Kris cemberut. Ia kesal bukan main sekarang. Ia merindukan Tao.

Setelah perbincangan panjang yang telah mereka lewati mengenai seseorang bernama Byun Baekhyun, Chanyeol akhirnya mengajak mereka menaiki lantai dua untuk melihat dimana kamar pria itu terletak.

"Hyung." Panggil Sehun ketika ia melihat lemari baju Baekhyun yang masih berantakan bersama Luhan, "kau belum melakukan sesuatu kepadanya, kan?"

Chanyeol mendecih, memutar bola matanya kepada Sehun seakan pria paling muda diantara mereka semua itu adalah makhluk paling bodoh yang pernah ada. "Kalau sudah memangnya kenapa?"

"Brengsek!" maki Kris, sementara Luhan tertawa.

"Aku yakin mereka belum sampai ke tahap itu." Sambung Luhan, menatapi kasur dan lemari baju Baekhyun secara bergantian. Dilihat dari kondisi ruangannya, tentu saja seseorang sudah pernah tinggal disini. Baik Luhan maupun Sehun, samar-samar mencium harum stroberi dari ruangan itu, berkombinasi dengan bau bedak bayi—entah darimana. Hanya bau parfum, mungkin juga sabun mandi—bisa saja. Tapi baunya begitu lembut dan nyaman.

Chanyeol mendesah jengkel. "Oh, Ya Tuhan," katanya, "bisakah kita hentikan pembicaraan ambigu ini? Aku belum melakukan apapun kepadanya meski kami serumah. Aku tidak segila itu!"

"Belum. Ekhm." Sahut Sehun, terkekeh. Dasar bocah mesum.

"Dan sekarang dia kabur ke Busan karena kau menakutinya." Ejek Kris, menuding wajah Chanyeol sesuka jidatnya, seakan ia adalah hakim yang memutuskan Chanyeol bersalah atau tidak.

Chanyeol mengangguk lesu. "Kurasa begitu. Apa aku bertindak terlalu jauh? Maksudku—ya ampun. Dia tidur lelap sekali di kasurku. Tidak mungkin aku membangunkannya hanya untuk menyuruhnya pindah ke kamarnya sendiri."

Kris mengusap-usap janggut imajinernya dan mengangguk-angguk pelan. "Kurasa dia tidak membencimu karena hal itu, Chanyeol-ah. Mungkin dia hanya sedikit shock."

Luhan menutup pintu lemari baju Baekhyun dan duduk di samping Chanyeol, tepat dia atas tepian kasur Baekhyun. "Kris ada benarnya, kurasa. Tapi sungguh, Chanyeol. Meski ia tertidur di sampingmu, kau tidak berniat melakukan sesuatu meski hanya sedikit, kan? Pikiran semacam itu tidak sempat terlintas di kepalamu, kan, Chanyeol-ah?"

Tanpa ragu, Chanyeol menjawab, "tidak, Lu." Karena ia memang tidak berniat melakukan apapun pada malam itu.

"Kalau begitu," ujar Luhan dengan suara cerianya, "yasudah. Tidak ada yang perlu kau takuti. Jelaskan yang sesungguhnya ketika Baekhyun pulang nanti. Dan um ... jangan lupa untuk mengenalkannya kepada kami." Pria manis itu terkekeh sebagai akhiran kalimatnya, menyikut lengan Chanyeol dan tatapan penuh makna.

Chanyeol mengeringai.

"Tapi, hyung," Chanyeol menoleh ketika mendapati Sehun yang sedari tadi terdiam akhirnya bersuara. "Tidakkah kau merasa ini aneh? Maksudku, yang benar saja. Dia dikirim kerumahmu, oleh Ibumu sendiri. Bukankah itu agak mencurigakan? Bagaimana kalau ternyata dia adalah saudara tirimu atau—HMMPFF!"

"Sehun hanya berbicara omong kosong, jangan didengarkan." Potong Kris cepat—tahu-tahu saja sudah berada di sebelah Sehun untuk membekap mulutnya. Yang menjadi korban kebiadaban hanya berusaha mencari oksigen sambil meronta-ronta agar dirinya tidak mati hanya karena Kris menutup saluran pernapasannya terlalu ketat.

Luhan menggigit bibirnya. Ini tidak bagus. Mereka semua melihat perubahan ekspresi dari wajah Chanyeol. Tentu saja, mereka semua sudah merasa bahwa ada sesuatu yang janggal disini. Pada momen ketika Chanyeol bercerita bahwa Baekhyun dikirim oleh ibu Chanyeol untuk tinggal di rumah mereka, baik Luhan, Kris maupun Sehun langsung sadar ada sesuatu yang salah.

Terlebih, ketika Luhan dengan perlahan menanyakan asal-usul Baekhyun, Chanyeol sama sekali tidak bisa menjawabnya. Ia tidak tahu apapun selain kenyataan bahwa Baekhyun hidup bersama Bibi dan kedua sepupunya sebelum pindah kerumah Chanyeol. Dan kenyataan itupun, baru ia ketahui tadi pagi, sebelum pria itu melarikan diri ke Busan.

Oh, baiklah. Baekhyun tidak melarikan diri. Luhan hanya berusaha membuatnya terdengar lebih dramatis, karena semuanya mulai menjadi sangat menarik sekarang.

Siapa Ayah dan Ibu Baekhyun? Kenapa ia bisa tinggal di rumah Chanyeol, pindah di sekolah yang sama dengan Chanyeol? Dan yang terpenting, hubungan jenis apa yang Baekhyun miliki dengan Ibunya Chanyeol?

Bahkan, Kris dan Luhan, yang baru saja mendengar cerita itu, sudah merasa pusing saking penasarannya.

Mereka hendak mengungkit masalah ini secara langsung ketika Chanyeol selesai bercerita, namun mereka mengurungkan niat tersebut.

Orang bilang, cinta itu buta.

Luhan tidak akan menyanggah pernyataan itu sama sekali.

Saat ini, Chanyeol sedang buta akan cintanya kepada Baekhyun. Luhan yakin bahwa sebenarnya, Chanyeol sudah merasa resah sejak lama tentang asal-usul Bakehyun. Namun ia sudah terlalu jatuh untuk pria mungil berparas manis itu, sehingga apapun yang membuatnya ragu, sudah tidak mau ia pikirkan lagi. Yang hanya ia inginkan hanya Baekhyun, apapun yang mengahalanginya, sudah tidak masalah lagi. Chanyeol hanya berusaha menunda waktu. Ia tidak mau mencari tahu. Hatinya menolak untuk melakukan itu. Karena ia tahu, jika hal yang telah diduganya sejak pertama kali ia bertemu Baekhyun ternyata benar, maka semuanya akan hancur.

Baik dirinya maupun Baekhyun akan hancur.

Chanyeol memilih egois untuk dirinya sendiri.

Siapa sangka ternyata si bodoh Oh Sehun akan kelepasan bicara seperti itu?

Luhan dan Kris saling bertukar pandang, khawatir. Sementara Sehun segera mengatupkan rapat mulutnya, sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan adalah hal paling berbahaya untuk Chanyeol saat ini.

"Um, Chanyeol-ah." Panggil Luhan lembut, menggamit lengannya pelan.

"Huh?" kata Chanyeol, yang nampaknya baru tersadar dari lamunan sesaatnya, "ada apa?"

"Nggg ... beritahu kami rencana yang telah kau sebutkan sebelumnya. Rencana apa itu?"

Mendadak, ekspresi Chanyeol berubah lebih cerah. "Ah, tentang itu." Pria jangkung itu tersenyum lebar sekali, membuat ketiga temannya yang lain menghembuskan napas lega.

Mereka mungkin terlihat jahat. Mereka seharusnya memberitahu Chanyeol kemungkinan terburuk yang akan terjadi jika memang dugaan mereka benar. Tapi Luhan tidak sampai hati untuk melakukan itu. Bagi mereka, sudah terasa begitu lama sejak Park Chanyeol benar-benar jatuh cinta. Jatuh cinta yang cintanya berbalas. Bukan hanya mencintai seseorang secara sepihak. Ini momen bahagia untuk Chanyeol, dan mereka tidak ingin merusaknya.

Jadi, untuk sekarang, mereka rasa tidak ada salahnya untuk membiarkan Chanyeol bahagia. Meski kemungkinan terburuk bisa saja terjadi secepat kedipan mata dan meruntuhkan segalanya.

"Baekhyun takut gelap." Ujar Chanyeol, tersenyum lebar sekali, seakan hanya dengan menyebut namanya, Chanyeol menjadi orang paling bahagia di dunia.

Luhan mengangguk-angguk paham. "Ah, tentu saja. Seoul terkena pemadaman listrik bergilir untuk bulan ini."

"Lalu ... ?" tanya Kris sembari melirik Sehun yang juga sama bingungnya.

Kemudian, seakan menjawab pertanyaan mereka, telepon genggam Chanyeol berdering. Pria jangkung itu menjawab teleponnya pada detik benda itu berdering. "Ya? Kau sudah di depan, Sekretaris Yoon? Baiklah tunggu sebentar. Kami akan turun." Lalu pria itu mematikan teleponnya dan tersenyum sumringah. "Kalau begitu," katanya sembari mengedarkan padangan kepada tiga temannya, "ayo turun ke bawah!"

"Untuk apa, hyung? Apa yang akan kita lakukan?" Sehun bertanya sembari memasang wajah jengkel. Ia kadang benci sikap Chanyeol yang spontan tanpa bertele-tele.

Chanyeol, yang masih menyeringai senang, sontak menjawab, "sticker dan cat glow in the dark! Kita akan mendekorasi kamar ini, bagaimana menurut kalian?"

Pria jangkung yang lain, Kris Wu, ikut-ikutan menyeringai. "Sounds great, dude."

"Kalau begitu, tunggu apa lagi?! Ayo!" seru Luhan, berlari terlebih dahulu meninggalkan kamar sembari tertawa senang.

Sehun, yang tampaknya tidak tertarik dengan sesuatu bertema glow in the dark, hanya berteriak kencang, "jangan berlari ketika melewati tangga, Lu!"[]


A/N: APA? SEOUL KE BUSAN CUMA TIGA JAM? IYA, INI NGARANG. ASLINYA MAH AKU NGGAK TAU WKWK MAAFKAN.

Omong-omong, HALO SEMUANYA I MISS U GUYS SO MUCH. Apa kabar? Kalian baik? Semoga aja selalu baik ya, soalnya aku nggak baik-baik aja (efek gak nonton EXOLUXION INA) haha aku juga mau minta maaf atas segala keterlambatan dalam ngepost chapter ini T-T

UAS sama UN makin deket nih, aku minta doanya ya T-T Oh iya, buat kemaren yang nanya, aku kelas tiga SMA, bukan SMP hehe.

Btw, semoga terhibur sama chapter ini! Terimakasihhh, jangan lupa tinggalkan sesuatu di kolom review :)

Lots of love from galexowufan~~~