[CHAPTER 15 - BUSAN? LET'S GO!]
"But still, I miss you so much."
Berbaring telungkup dengan kepala yang penuh dengan berbaagai prasangka, Chanyeol terus-terusan menatap layar ponselnya. Tepat ketika lampu benda persegi itu mati dan layarnya terkunci otomatis, Chanyeol dengan sigap kembali menekan kodenya dan membiarkan ponselnya tetap hidup. Ketika layar ponselnya kembali padam dan terkunci otomatis, Chanyeol akan melakukan hal yang sama agar layar ponselnya tetap hidup. Kegiatan ini sudah berlangsung sejak beberapa waktu yang lalu, membuat makhluk hidup lain yang berada di ruangan yang sama dengan Chanyeol merasa jengah setengah mati.
Kris, melirik kepada pria itu sesekali, kemudian memutar bola matanya. "Bukan salahmu kalau dia tidak masuk sekolah, Chanyeol-ah." Kris akhirnya memuntahkan kalimat yang sepagian ini telah membuat Chanyeol uring-uringan seperti orang sakit jiwa.
Chanyeol, yang sepertinya tengah dalam fase antara sadar dan tidak, menoleh kepada Kris dengan mata kosong. "Bagaimana kalau ternyata dia membenciku?" tanya pria itu, dan Kris harus menahan rasa jengkelnya.
"Tidak." Jawab Kris mantap.
"Lalu kenapa ia tidak menghubungiku sama sekali?"
"Lalu kenapa tidak kau saja yang menghubunginya terlebih dahulu, idiot? Buang saja harga dirimu kalau kau sebegitu menyukainya." Kris berkoar cepat, membuat Chanyeol melongo. Namun kemudian pria itu malah memukul-mukulkan kepalanya ke lantai berkarpet bulu, merutuki dirinya sendiri.
Kris mendecih. "Oh, ayolah, Park. Kau terlihat seperti gadis puber yang baru saja dicampakkan oleh kekasihnya." Kemudian, ia melanjutkan dengan suara halus, "kau yakin tidak ingin masuk kelas? Ini sudah jam pelajaran ketiga."
"Terserah hyung saja. Kalau kau sebegitu teladannya, sana, masuk kelas. Tidak perlu pedulikan aku." Sambar Chanyeol ketus.
Pria asal Kanada itu memijat kepalanya, merasa jengkel bukan main. Apa yang ia katakan tidak sepenuhnya salah. Lagipula, mereka sudah membolos sejak jam pertama (Chanyeol beralasan bahwa ia terkena diare dan ingin berbaring di ruang kesehatan tapi kita tahu bahwa kaki panjangnya itu tidak pernah sekalipun menjejak ke sana, dan Kris murni hanya membolos hari ini). Sayangnya, hati nurani Kris merasa tidak tega melihat Chanyeol seperti itu, jadi ia mengorbankan detik-detik berharganya di dalam kelas sebelum menuju universitas untuk Chanyeol. di lain pihak, Chanyeol sedikit merasa kapok untuk mengajak Sehun, karena Luhan akan selalu mengawasi pacarnya itu dua puluh empat jam, nonstop.
Omong-omong, sumber utama masalah hari ini, tentu saja, adalah Byun Baekhyun. Pria mungil itu berjanji akan pulang dan bersekolah hari ini, namun sebaliknya, sosoknya malah tidak muncul sama sekali. Tidak dimanapun. Byun Baekhyun menghilang.
Well, tidak menghilang juga, sih. Hanya untuk mendramatisir keadaan saja, karena saat ini itulah yang tengah Chanyeol rasakan. Sial, Kris benar. Ia seperti gadis remaja yang baru saja sedang putus cinta.
Tak lama setelah itu, bel istirahat berbunyi, dan pintu markas ruang membolos mereka menjeblak terbuka. Zhang Yixing, teman sekelas sekaligus pacar sang ketua OSIS, Kim Junmyeon, berdiri di depan pintu. Keringat dingin mengucur di sekitar pelipis dan dahinya.
Baik Chanyeol dan Kris menoleh, menatap Yixing tak mengerti.
Kris yang lebih dulu melontarkan sapaan. "Oh, hai, Yixing. Ada apa?"
"Hai Kris." Yixing menyapa balik tanpa menatap Kris, sedikit membuat kening pria Kanada itu berkerut samar. Yixing dikenal sebagai seseorang yang memiliki sopan santun dan tingkat keramahan yang melebihi Bibi Jang (wanita paruh baya yang bekerja di kafetaria SoPA, menjadi idola para murid karena sering memberi daging tambahan ketika makan siang) makanya, ketika Yixing menyapa Kris namun tak menatap langsung matanya, agak membuat Kris bertanya-tanya. Sebaliknya, tatapan Yixing lurus hanya terjatuh kepada Chanyeol. "Uh, dengar, Chanyeol-ah. Aku sudah berusaha untuk meyakinkan dirinya dan berkata bahwa kau terkena diare parah dan sedang berada di ruang kesehatan tapi—"
"Tapi apa, Mr. Zhang?"
Kalimat Yixing terputus ketika seorang wanita mendadak saja muncul dari belakangnya, menyela kalimatnya dengan santai. Ekspresi Yixing berubah ngeri. Ia berbalik dan membungkuk hormat sedikit. "Bu-bukan apa-apa, Miss." Kata Yixing, tergagap sedikit.
Tersenyum culas seperti biasa, dengan pakaian rapi dan rambut yang digelung ketat ke atas, Song Hyo Min, seksi kesiswaan sekaligus guru piket paling mengerikan di SoPA, tengah berdiri dan menatap Chanyeol penuh penghakiman. Chanyeol yang tadinya tengah berbaring telungkup dengan gaya malas di atas karpet bulu, mendadak berdiri tegap, kemudian membungkuk sedikit di hadapan wanita itu. Tidak mau ketinggalan, Kris yang juga terkejut ikut-ikutan berdiri di depan Song Hyo Min dengan sikap hormat.
"Tidakkah kau lapar, Yixing? Ini sudah jam istirahat. Alangkah baiknya jika kau pergi saja ke kafetaria." Tegur Miss Song, masih dengan suara ramah yang entah mengapa membuat bulu kuduk Chanyeol berdiri. Baik Chanyeol maupun Kris tahu bahwa itu hanyalah sebuah sindiran halus untuk mengusir Yixing.
Wanita ini benar-benar kejam.
Yixing sepertinya menangkap pesan itu, membalas, "ya, Miss." Dan akhirnya hanya tersenyum kecut. Ia menunduk sedikit dan kemudian berlalu, sempat menoleh sekilas untuk menatap Chanyeol dengan perasaan bersalah. Chanyeol membalas tatapan itu dengan senyuman halus dan mengangguk. Setidaknya Yixing sudah mencoba berusaha untuk menyelamatkannya—meski akhirnya gagal. Yah, bukan salah Yixing, sebenarnya.
Song Hyo Min menoleh. "Nah, anak-anak," ucapnya, dengan suara yang sangat ramah, "membolos dan..." wanita itu mendengus, menusuk-nusuk perut Kris dengan penggaris panjangnya—tunggu. Sejak kapan ia membawa penggaris itu? "diare, huh?" kini giliran perut Chanyeol yang ditusuk-tusuk. "Kalau kau ingin membolos, setidaknya kreatif sedikit. Diare? Huh? DIARE? KAU PIKIR SIAPA YANG BERUSAHA KAU BODOHI?"
"Maaf, Miss." Sial, suara Chanyeol terdengar seperti cicitan burung sekarang. Dia terlihat sangat tidak keren. Pria jangkung itu kini merasa sedikit bersyukur karena Baekhyun tidak masuk. Jangan sampai si mungil itu melihat Chanyeol yang seperti ini.
"Dan kau, Mr. Wu. Kau sudah kelas tiga. Apakah kau tidak ingat? Aku tahu kalian akan segera dibebas-tugaskan mulai minggu depan. Tapi kau tidak bisa mengabaikan kewajibanmu sebagai seorang pelajar! Apa kau tidak ingin masuk ke universitas?"
Kris tidak menyahut, hanya menunduk dalam sembari memain-mainkan jemarinya.
"Baiklah, kurasa juga tidak ada gunanya memarahi kalian seperti ini. Mr. Wu, kau boleh kembali ke kelas, kau harus tetap belajar untuk ujian masuk universitas. Sementara kau, Mr. Park," ia menoleh kepada Chanyeol, "kau boleh berdiri di tengah lapangan selama sisa jam pelajaran."
Chanyeol mendongak, dan merasa ngeri bukan main. Cara Song Hyo Min mengatakan rentetan kalimat barusan benar-benar memberikan efek mengerikan untuk Chanyeol. Alih-alih terdengar seperti orang yang sedang marah, ia mengatakannya dengan sangat halus dan penuh kasih sayang, seakan ia baru saja memberikan hadiah luar biasa kepada Chanyeol. Rasanya seperti Ibu Tiri yang pura-pura baik di hadapanmu, namun siap dengan belati di belakang tangannya, siap menusukmu kapan saja ketika kau lengah.
Belum lagi senyum lebarnya—ugh, ini lebih buruk daripada menonton film horor. Aura Song Hyo Min benar-benar mengerikan. Sekarang Chanyeol tahu kenapa murid SoPA jarang berurusan dengannya.
Saat ini, bagi Park Chanyeol, wanita di hadapannya ini lebih mirip psikopat sinting alih-alih seorang guru. Maksudnya—astaga. Bagaimana mungkin ia bisa tersenyum begitu lembut ketika tengah menjatuhkan hukuman untuk seorang murid?
"Se-selama sisa jam pelajaran, Miss?" tanya Chanyeol takut-takut.
"Iya, Mr. Park. Apa kau salah mendengarku?" tanya Miss Song, masih dengan suara lembutnya.
Chanyeol meneguk ludah kasar. "Ti-tidak, Miss. Perintah Anda cukup jelas."
Sementara di samping Chanyeol, Kris menepuk pundaknya pelan, kemudian mendekat untuk berbisik di telinganya. "Maafkan aku, bocah. Aku akan membayarnya lain kali."
Chanyeol meringis. "Tidak apa-apa, hyung." Balas Chanyeol.
Dan jadilah hari yang sial itu, dimana Park Chanyeol berdiri di tengah lapangan basket, di bawah teriknya matahari yang sepertinya sama sekali tidak ingin bersahabat dengan dirinya.
Namun Chanyeol tahu bahwa semua yang terjadi hari ini bukanlah yang paling buruk. Bukan karena ia baru saja dihukum, atau bukan juga rasa terbakar akibat panas matahari. Tapi rasa hampa karena merindukan seseorang, yang seakan membuat lubang besar menganga di bagian dadanya.
Ia merindukan si mungilnya.
Chanyeol masih berdiri di tengah lapangan basket bahkan hingga jam istirahat kedua sudah berbunyi. Lapangan yang tadinya sepi itu mulai ramai, beberapa murid berlalu-lalang, sebagian bertingkah idiot, sebagian lagi segera berlari ke kafetaria untuk mengisi perut, dan sebagian besarnya hanyalah makhluk bodoh yang sepertinya tidak memiliki tujuan hidup (Chanyeol termasuk ke dalam kategori terakhir yang menyedihkan ini). Dari bawah, Chanyeol dapat melihat Luhan yang sedang berada di lantai tiga. Tatapan mereka bertemu dan Luhan melambai riang kepadanya—mungkin masih belum tahu insiden yang dialami Chanyeol pagi ini. Melihat Chanyeol yang hanya mendongak sembari menutup mata (akibat teriknya matahari) dengan wajah kecut, Luhan mengerutkan alisnya, kemudian berbalik pergi—barangkali segera berlari untuk turun ke bawah.
Namun, belum sampai Luhan ke lapangan, Sehun sudah terlebih dahulu muncul, tentu saja bersama sosok yang lebih tinggi darinya, Kris Wu. Pria paling muda diantara empat sekawan itu menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya, melirik hati-hati ke kanan dan ke kiri, kemudian berbisik pelan—tidak terlalu pelan karena Chanyeol masih dapat mendengarnya dengan jelas—kepada Kris, "awasi aku, ya, hyung. Jangan sampai Malaikat Maut melihat kita."
Yang dimaksud Sehun dengan Malaikat Maut, tentu saja, adalah Song Hyo Min.
Kris mengangguk pelan, kemudian menjawab, "I got your back, man."
Sehun terkekeh dan segera mendekati Chanyeol, tiba-tiba saja menyodorkan sedotan ke dalam mulutnya, membuat Chanyeol menghirup dalam-dalam milkshake vanila yang Sehun berikan.
"Hyung, kau tidak mati terbakar, atau semacamnya, kan?" canda Sehun, meski Chanyeol dapat mendengar kekhawatiran dari nada bicaranya.
Mendengar itu, sudut bibir Chanyeol tertarik ke atas. Ia meneguk lagi milkshake-nya, lalu menjawab, "sejauh ini aku baik-baik saja." Lalu terkekeh. Ia baru sadar ternyata tenggorokkanya terasa kering dan perih. Terimakasih kepada Sehun dan Kris yang sudah berani mendekatinya di tengah lapangan dan memberinya minuman seperti itu—meski Chanyeol agak sedikit was-was, karena jika Song Hyo Min muncul entah dari mana dan melihatnya, maka riwayat mereka akan tamat. Chanyeol sedang dihukum, dan jika orang lain tertangkap membantu atau meringkankan beban hukumannya—ah, Chanyeol tidak ingin memikirkannya.
"YA PARK CHANYEOL KENAPA KAU MENGABAIKANKU?!"
Ketiga sekawan itu menoleh ketika mereka mendengar teriakan khas Luhan dari ujung koridor, sepertinya baru saja berlari menuruni tangga karena wajahnya memerah.
Sehun yang tiba-tiba merasa panik, segera berlari menghampiri Luhan dan membekap mulutnya dari belakang. Luhan meronta, tentu saja. Namun tepat ketika Sehun membisikkan sesuatu kepadanya, barulah Luhan tenang, dan akhirnya mengangguk mengerti, tampaknya sudah paham akan situasi yang mereka hadapi. Luhan lalu menatap Chanyeol penuh rasa iba.
"Jangan tatap aku seperti aku ini makhluk malang butuh pertolongan. Aku baik-baik saja, Lu." Kata Chanyeol ketika Luhan dan Sehun bergerak mendekat.
"Yah, kau terlihat baik-baik saja, sepertinya," cibir Luhan geram, "lagipula, kau pantas menerimanya. Siapa suruh kau membolos sepagian ini."
Chanyeol tertawa kecil, kemudian melirik Kris. "Aku tidak melakukannya sendiri, kok."
Luhan yang tidak menyadari lirikan Chanyeol kepada Kris malah menoleh kepada Sehun dan menatapnya tajam.
Menyadari apa yang baru saja terjadi, Sehun mengangkat kedua tangannya di depan dada untuk membuat garis X. "Bukan aku, Lu! Aku bersumpah bukan aku! Pantat mulusku duduk di bangku kelas tanpa bergerak sedikit pun, bahkan aku tidak pergi ke toilet! Aku—"
"Oh Sehun, jangan berbohong!" sergah Luhan, wajahnya memerah lagi.
Chanyeol dan Kris hanya menahan tawanya—bukan karena kesal atau tidak senang, hanya saja melihat Luhan yang menggemaskan namun galak itu menjadi hiburan tersendiri untuk mereka, selama yang menjadi korban adalah Oh Sehun dan bukan salahh satu dari mereka.
"Aku tidak berbohong!" aku Sehun, yang kemudian menatap Chanyeol dan Kris bergantian dengan wajah berang. "Ya, hyung, bantu aku! Kalian yang membolos kenapa aku yang jadi korban seperti ini?!"
Luhan cemberut, kemudian tersadar dan memandang Kris penuh selidik. "Kris Wu, aku bersumpah jika kau tetap senang membolos seperti ini aku akan membunuhmu dan mengirim kepalamu kepada Jonathan Wu di Kanada sana dan membiarkan mereka membuat sup dari kep—"
Namun, belum sempat Luhan menyelesaikan kalimat sadisnya, Kris terlebih dahulu memotong dengan wajah ngeri. "Teman-teman! Malaikat Maut, arah jam dua belas, dua puluh meter dari titik kita berada. Segera membubarkan diri! Misi dibatalkan!"
Layaknya orang yang baru saja mengalami kebakaran parah, baik Kris, Luhan maupun Sehun melihat ke arah yang dikatakan oleh Kris dan mendadak saja wajah mereka berubah pucat.
"Bubar-bubar!" bisik Sehun cepat, menarik lengan Luhan untuk berlari.
Ketika Sehun, Kris dan Luhan mulai berlari, Chanyeol tersadar dengan apa yang baru saja berada di tangannya. Ia tidak bisa membuang benda itu di dekat tubuhnya, atau Song Hyo Min akan mencurigainya. "Ya Oh Sehun! Botol milkshake! Milkshake!" seru Chanyeol, setengah berteriak setengah berbisik, takut telinga super tajam milik Song Hyo Min akan mendengarnya.
Sehun berbalik dan mulutnya membentuh 'o' kecil. Ia berlari secepat kilat, merampas botol milkshake dari tangan Chanyeol—menyempatkan diri menepuk pundak hyung tersayangnya itu sembari berbisik, "bertahanlah, hyung," seakan Chanyeol sedang berada diantara hidup dan mati.
Namun terlambat, Song Hyo Min sepertinya menyadari apa yang baru saja terjadi. Mata wanita itu melotot kepada Chanyeol—bahkan dalam jarak yang sejauh ini Chanyeol bisa merasakan aura mengerikan yang menguar dari tubuhnya.
Sepertinya, riwayat Chanyeol akan tamat. Lagi.
Maka jadilah hari itu, seakan berdiri di bawah terik matahari masih belum cukup untuk menyiksa jiwanya, Chanyeol juga harus berurusan dengan bau-bau ajaib yang dikeluarkan dari dalam toilet khusus pria di sekolahnya. Sial dua kali.
Samar-samar, ia mendengar suara wanita paruh baya yang sangat ia kenali. Wanita itu sedang duduk di tepian kasurnya, ia dapat merasakan sedikit berat wanita itu di samping tubuhnya, dan wanita itu sedang berbicara dengan nada panik. Ia sepertinya sedang menelepon seseorang.
Ketika wanita itu sudah selesai menelpon, ia berusaha untuk bangun dan duduk di bahu kasur. Kepalanya serasa berputar, dan ia mual.
"Tidak, tidak, jangan bangun, Baekhyun-ah. Baring saja. Aku akan membawakan bubur abalon untukmu."
"Bibi Yujeong?" panggil Baekhyun, suaranya serak. Tenggorokkannya perih.
Wanita itu pergi keluar dan kembali masuk ke dalam kamar dan membawa sebaki penuh makanan.
"Bagaimana keadaanmu? Sudah merasa lebih baik?" tanya Yujeong, ia duduk di tepian kasur Baekhyun.
Si mungil itu meenggelengkan kepala magentanya, mengusap matanya pelan dan meringis sedikit. "Kepalaku pusing sekali."
Yujeong mendesah. "Inilah akibat jika kau terlalu memaksakan sesuatu. Padahal aku bilang padamu kau bisa datang minggu depan saja. Niatnya ingin berkunjung, tapi kau malah sakit seperti ini."
Baekhyun mencebik, menatap bibinya jengkel. "Apa Bibi menyalahkanku, sekarang?"
"Tentu saja!" jawab Yujeong sembari tertawa kecil. "Omong-omong, Baekhyun-ah. Kau belum sarapan. Makan Ini." wanita itu menyerahkan baki makanan kepada Baekhyun, dan si mungil itu mengangguk.
"Bibi tidak membuka restoran hari ini?" tanya Baekhyun, mulai menyendok sedikit bubur abalon meski lidahnya terasasedikit pahit akibat demam yang di deritanya. Omong-omong, Yujeong membuka restoran yang lumayan besar di sini, ia sering mengunjunginya dulu bersama Ayahnya.
Yujeong menggeleng. "Kurasa tidak. Aku akan dirumah saja, ada beberapa hal yang harus kulakukan. Salah satunya adalah menjaga keponakanku yang sedang sakit."
Baekhyun tersenyum. "Terimakasih, Bibi. Maaf aku merepotkanmu. Omong-omong, jam berapa sekarang? Dimana Jisung dan Lami?"
"Mereka ke sekolah, tentu saja. Uh... mungkin sudah hampir jam sebelas siang?"
"Ah, sekolah ..." Baekhyun terdiam sebentar, kemudian, "tunggu. Sekolah?! Bibi Yujeong! Aku harus sekolah!"
Yujeong tertawa pelan. "Aku tadinya ingin membangunkanmu, Baekhyun. Sungguh. Tapi itu hal yang tidak mungkin. Bagaimana mungkin aku bisa membangunkan bocah yang sedang sakit sepertimu pada pagi buta? Kau harus pulang subuh-subuh sekali jika kau ingin sampai di Seoul tepat waktu. Sudahlah, lupakan sekolahmu dan istirahat di sini satu hari lagi."
Baekhyun menelan buburnya dengan susah payah. "Lalu bagaimana dengan sekolahku?"
Wanita itu tersenyum lembut, membuat kulit di sekitar matanya berkerut halus. "Tenang saja." Katanya. "Aku menemukan nomor telepon sekolahmu di ponselmu. Aku sudah menghubungi sekolahmu dan berkata bahwa kau sakit. Mereka mengizinkanmu."
Pria mungil itu mengusap pelipisnya. Lagi-lagi rasa pening menghantam kepalanya. Meski begitu, ia menghembuskan napas leganya dan tersenyum. "Syukurlah. Terimakasih, Bibi. Sungguh. Aku merasa buruk sudah membebanimu seperti ini."
Wanita itu mendecih. "Wajahmu tidak terlihat menyesal sedikit pun, dan astaga ekspresi itu sungguh menyebalkan! Dulu, sewaktu kau masih balita, kupikir kau sangat mirip dengan Ibumu. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, kau benar-benar duplikat oppa-ku. Terutama sifatmu."
Yujeong yakin ia baru saja salah bicara ketika ekspresi Baekhyun berubah gelap. Menyebut Ayah Baekhyun sepertinya bukan hal yang tepat di saat-saat seperti ini. terutama ketika pria itu tidak bisa ditemukan dimana pun, bahkan pihak kepolisian kewalahan menangani pria yang disebut-sebut sebagai psikopat sinting oleh warga Korea saat ini. Wanita itu akhirnya bangkit dan menepuk pelan pundak Baekhyun. "Kau harus menghabiskan buburnya dan meminum obatmu, ya. Aku letakkan di sini." Kata Yujeong akhirnya, meletakkan bungkusan pil di samping meja yang berada di tepi kasur.
Ketika Yujeong akhirnya beranjak dari kamar, Baekhyun tersenyum kecut. Kapan mereka semua menjadi seperti ini? percakapan hangat yang menyenangkan langsung bisa berubah hanya karena mereka mengingat seseorang. Ini mengerikan, dan Baekhyun membencinya. Membenci Ayahnya. Namun yang membuat Baekhyun merasa seakan tercekik adalah kenyataan bahwa rasa cinta terhadap ayahnya selalu lebih besar daripada rasa benci itu sendiri.
Baekhyun tidak sanggup untuk membenci ayahnya lebih jauh. Jauh di dalam hatinya, ia percaya kepada ayahnya. Ia tahu bahwa ayahnya adalah orang yang baik. Bukan seperti yang diberitakan di saluran televisi atau di selebaran-selebaran bertuliskan 'buron' di atasnya.
Meski pahit, Baekhyun akhirnya menyuap kembali buburnya. Ia makan tanpa selera. Kepalanya terasa sakit dan penuh. Ketika akhirnya ia menghabiskan buburnya, ia meraih obatnya dan meminumnya dalam sekali teguk. Tidak sampai satu jam setelah itu, Baekhyun kembali terlelap. Efek obat itu membuatnya tidur tanpa mimpi. Hanya sebuah kegelapan total yang terasa menyesakkan.
Baekhyun terbangun ketika jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Kali ini, kepalanya terasa lebih irngan dari sebelumnya, meski tenggorokkanya masih sedikit perih. Namun syukurah rasa mual yang menderanya seharian ini sudah hilang. Ia meraih ponselnya dan menyipitkan matanya ketika cahaya ponsel itu bersinar di depan wajahnya.
Baekhyun awalnya merasa bingung, tapi entah kenapa ia merasa punya kewajiban untuk mengecek kotak pesannya. Anehnya lagi, Baekhyun merasa luar biasa kecewa ketika ia tidak mendapati bahwa kotak pesannya kosong. Kemudian, ia tersadar akan satu hal.
Chanyeol.
Baekhyun teringat bahwa ia berjanji akan pulang dan sekolah, tapi keadaan tidak memungkinkannya untuk kembali ke Seoul. Namun tetap saja, kenapa Chanyeol tidak mencarinya? Mengiriminya pesan dan bertanya kenapa ia tidak pulang?
Apa Baekhyun berharap terlalu banyak?
Baekhyun teringat akan pertengkaran mereka sebelum ia berangkat ke Busan tempo hari. Sial. Sekarang, ketika ia tidak lagi merasa pusing, Baekhyun yakin bahwa ia sudah bertingkah berlebihan. Namun tetap saja, apa Chanyeol harus bertingkah sedingin itu untuk tidak menanyai kabarnya?
Baekhyun rasanya ingin menangis. Ia merasa sesak lagi.
Pria mungil itu akhirnya bangkit dan beranjak meninggalkan kamar. Keadaan rumah sudah sepi, tentu saja. Bibi Yujeong, Jisung dan Lami sepertinya sudah tidur. Meski begitu, Baekhyun membiarkan tubuhnya yang terbungkus selimut berjalan sembari berjinjit pelan, berusaha sebaik mungkin untuk tidak menimbukan kegaduhan. Ia membuka pintu depan, dan duduk di lantai teras, menghirup dalam-dalam udara malam yang terasa sejuk. Ketika ia mendongak ke atas, langit dipenuhi taburan bintang. Sangat berbeda sekali dengan langit malam yang biasa tampak di Seoul.
Baekhyun mendesah, mengeratkan selimutnya, kemudian menunduk untuk menatap layar ponselnya. Baekhyun menekan nomor Chanyeol, hanya untuk menatap nomor itu dengan tatapan kosong. Nomor itu sudah tersimpan lama di dalam kontak ponselnya—terimakasih kepada Sekretaris Yoon yang sudah berbaik hati mengirimkan nomor Chanyeol meski Baekhyun tidak memintanya. Untuk berjaga-jaga, kata Sekretaris Yoon kala itu. Sekarang, setelah Baekhyun pikir-pikir, mereka tidak pernah benar-benar saling menelpon atau berkirim pesan. Baekhyun bahkan ragu bahwa Chanyeol memiliki nomornya.
Haruskah ia mengiriminya pesan? Mengabarinya, menyapanya, atau—ah sial. Baekhyun tidak tahu. Baiklah, tidak ada salahnya mencoba, kan? Toh tidak ada ruginya. Barangkali Chanyeol memang tidak punya nomor Baekhyun, dan ketika Chanyeol mendapatkan pesan itu, ia hanya berpikir bahwa itu pesan iseng yang dikirim orang sinting.
Baiklah, tidak ada salahnya. Benak Baekhyun mengulangi kalimat itu berkali-kali.
Ia mulai menekan kontak Chanyeol dan menuliskan pesannya.
Namun kemudian Baekhyun menggigit bibirnya, merasa cemas dan ragu. Ia menghapus pesan itu, dan menulisnya lagi, terus berulang-ulang seperti itu, sebanyak hampir tujuh kali.
Pada percobaan kedelapan, Baekhyun kembali menuliskan pesan yang sama. Ia menatap tombol send sembari meneguk ludah kasar. Jempolnya berjarak sangat dekat dengan tombol send itu, dan yang perlu Baekhyun lakukan adalah menutup matanya dan menekan tombolnya.
Tekan, atau tidak? Tekan? Tidak. Tekan saja? Atau tidak usah? Tekan?
"Baekhyun hyung!"
Baekhyun terlonjak kaget, menoleh ke belakang dan mendapati Jisung yang berwajah setengah mengantuk, lengkap dengan celana pendek dan kaus tidurnya.
"Ji-Ji-Jisung-ah!" pekik Baekhyun, tergagap sebentar. "Kau menakutiku!"
Bocah itu cemberut, memandang Baekhyun penuh selidik. "Kau yang menakutiku, hyung. Aku terbangun dan baru saja ingin pergi ke toilet ketika aku melihat pintu depan terbuka. Kupikir ada pencuri. Apa yang kau lakukan, duduk di depan teras malam-malam seperti ini?"
Pria mungil itu megusap belakang kepala magentanya, memberikan cengiran lucu. "Aku hanya ingin menghirup udara sebentar. Dadaku sesak." Karena pria brengsek bernama Park Chanyeol. Baekhyun melanjutkan kalimat terakhirnya dalam hati, tentu saja.
"Benarkah?" tanya Jisung, bocah itu menguap dan mengusap matanya. "Hyung baik-baik saja? Sudah tidak merasa sakit?"
Baekhyun tersenyum dan mengangguk. "Ya, sudah baik-baik saja sekarang."
Bocah itu akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu. Aku mau pergi ke toilet dulu." Jisung berbalik pergi, namun belum beberapa saat setelah itu, ia kembali menoleh kepada Baekhyun. "Jangan berlama-lama duduk di teras seperti itu, hyung. Apa kau tidak takut? Ada orang mesum yang sering berkeliaran di sekitar gang akhir-akhir ini."
Awalnya, Baekhyun merasakan bulu tengkuknya berdiri. Namun akhirnya ia menatap Jisung sengit. "Dasar bocah, aku tidak takut!" tantang Baekhyun.
Jisung dengan santai mengedikkan bahunya. "Terserah saja kalau tidak percaya." Lalu ia kembali berjalan untuk masuk ke dalam, meninggalkan Baekhyun yang mendecih kecil melihat sikapnya. Baekhyun kemudian kembali merapatkan selimut tebalnya karena udara terasa semakit menggigit. Lalu ia menunduk dan melihat layar ponselnya.
Untuk satu detik yang terasa mengerikan, Baekhyun terdiam.
Pesannya terkirim.
Pria mungil itu membelalak, baru saja hendak memekik keras namun ia menahan pekikkan supernya. Terimakasih kepada Jisung karena sudah mengejutkannya seperti itu. Baekhyun pasti tidak sengaja menekan tombol send ketika Jisung mengejutkannya tadi.
Namun, bukan itu bagian yang paling mengerikan. Karena, untuk satu detik setelahnya, di samping pesan yang Baekhyun kirim, muncul tanda R, yang berarti read dalam Bahasa Inggris.
Park Chanyeol baru saja membaca pesannya.
Pintu rumah Chanyeol terbuka, menampakkan sosok mungil Luhan, menggigit bagian dalam bibirnya sembari menatap ketiga temannya ragu-ragu.
"Luhan?" Sehun bersuara, balik menatap Luhan bingung. Malam itu, setelah dua kali mendapat hukuman dan merasa jengkel bukan main, Chanyeol mengundang ketiga temannya untuk tidur di rumahnya. Karena untuk beberapa alasan yang tidak bisa dijelaskan, Chanyeol merasa bahwa rumahnya begitu sepi dan kosong tanpa adanya Baekhyun. Kris dan Sehun tentu saja langsung meng-iyakan ajakan tersebut. Bukan hanya karena rumah Chanyeol yang luas dengan fasilitas lengkap, namun juga karena rumah Chanyeol selalu sepi. Mereka sudah tidak pernah lagi melihat Ibu Chanyeol di rumah, dan ketiga teman Chanyeol sudah maklum dengan hal itu. Rumah Chanyeol adalah markas favorit kedua tempat mereka berkumpul. Karena tidak akan ada orang yang mengomeli mereka jika sofa dikotori oleh remah-remah makanan. Di rumah Chanyeol, apapun bebas dilakukan. Alasan lain kenapa mereka langsung menyetujui ajakan itu adalah karena mereka sedikit merasa bersalah (benar-benar hanya murni sedikit). Chanyeol harus membersihkan toilet pria tadi siang karena mereka memberinya milkshake vanila di tengah lapangan.
Lain lagi jika itu Luhan. Sementara Kris dan Sehun menyetujui ajakan itu, Luhan menolaknya mentah-mentah. Alasannya selalu saja sama. Karena ia harus belajar demi bisa tembus ke dalam universitas yang ia inginkan.
Makanya, ketika wajah cantik Luhan muncul di depan daun pintu rumah Chanyeol malam itu, mereka semua tentu saja syok. Terutama Oh Sehun.
"Kepalaku serasa pecah! Aku tidak akan belajar lagi selama satu minggu ini. Aku akan istirahat!" sergah Luhan tiba-tiba, mendongak untuk menatap kedua teman (dan satu pacarnya) dengan tatapan mantap.
Kris adalah orang yang pertama kali tertawa keras. "Akhirnya!" serunya dengan nada yang kelewat puas, "akhirnya! Sebuah mukjizat turun dari langit dan masuk ke dalam kepalamu! Sekarang kau sudah sadar bahwa belajar itu menyebalkan! Kemarilah, Lu, bergabunglah dengan para idiot seperti kami." Kris melebarkan lengannya, mengundang Luhan untuk—barangkali, masuk ke dalam pelukannya. Namun kita tahu bahwa Oh Sehun tidak akan pernah membiarkannya.
"Jangan bawa-bawa aku. Aku tidak idiot, kau saja, hyung." Sela Chanyeol sembari memutar bola matanya, sementara Kris mendelik tak senang.
Sehun menyeringai lebar sekali, kemudian pura-pura memasang wajah shock. "Siapa kau dan apa yang telah kau lakukan kepada Xi Luhan yang maniak belajar itu?" ia kemudian menoleh kepada Kris dan Chanyeol. "Hyung, kalian berdua tidak mencekoki Luhan dengan obat aneh atau semacamnya, kan?"
Baik Kris dan Chanyeol menggeleng mantap.
"Mereka berdua tidak ada hubungannya dengan ini." kata Luhan, memperkuat pernyataan yang diberikan oleh Kris dan Chanyeol. "Ini semua murni karena keinginanku."
"Oh, Lu, babe," Sehun meringis, bergerak maju dan mengusap sayang kepala Luhan, "apakah belajar membuatmu stress akhir-akhir ini? Apa terasa berat untukmu?"
Pria paling pendek diantara mereka itu membuang napasnya lelah, lalu mengangguk.
"Kalau begitu," kata Sehun, "kau membuat keputusan yang tepat hari ini."
Chanyeol mengangguk lalu tersenyum, "ayo, masuk, Lu." Ajaknya.
Luhan bergabung dengan mereka malam itu, membuat anggota mereka akhirnya lengkap. Seperti biasa, hal yang akan dilakukan di rumah Chanyeol adalah menonton film sambil makan makanan pesan antar seperti ayam, pizza, dan cola, tidak tidur semalaman hanya untuk saling menceritakan cerita horor atau sekedar berbagi pengalaman yang memalukan (Kris menceritakan bahwa ia pernah tidak sengaja mengencingi celananya ketika ia dikejar oleh anjing rabies dan Chanyeol tidak berhenti tertawa ketika ia mendengar ini).
Berbeda dengan Kris dan Sehun, Luhan hanya akan datang dan bermain sebentar, tidak menginap. Pernyataan ini mengundang kekecewaan Sehun, meski begitu Luhan tidak gentar dan tetap bersikeras untuk pulang. Chanyeol berpikir hal itu ada baiknya. Maka ia membiarkan Luhan pulang kerumahnya, diantar oleh Sehun ketika malam mulai larut.
Sehun kembali ketika Chanyeol mendapatkan pesan singkat itu.
Awalnya, ia dan Kris sedang berada di depan televisi, sama-sama berbaring malas sembari menonton Miracle In Cell No. 7 (Kris menutup wajahnya dnegan selimut, berpura-pura setengah mengantuk tapi Chanyeol tahu bahwa ia sebenarnya tengah menangis tersedu-sedu), menunggu Sehun untuk kembali sehabis mengantar Luhan.
Lalu, tepat ketika Sehun pulang dan berbaring di atas sofa sembari membungkus tubuhnya dengan selimut, sementara Chanyeol mulai meraih gitarnya untuk memainkan beberapa melodi acak, ia mendengar ponselnya mengeluarkan bunyi samar. Awalnya ia tidak terlalu menghiraukan benda itu, namun akhirnya rasa penasaran mengalahkan harga dirinya.
Ada satu pesan. Nama pengirimnya sangat singkat, hanya sebuah huruf—B.
Untuk sesaat, Chanyeol merasa jantungnya berhenti. Ia mengusap matanya, bertanya-tanya apakah rasa ngantuk mulai memainkan ilusi aneh di dalam kepalanya. Kemudian, ketika yakin bahwa pesan itu benar-benar nyata, Chanyeol menekan tombol open.
Hanya dua kata. Dua kata yang membuat dunia Chanyeol seakan baru saja terbalik, berguncang dengan sangat hebat, porak-poranda.
Dua kata, yang membuat kedua sudut bibir Chanyeol tertarik lebar sekali, membentuk senyum paling menawan yang ia miliki. Dua kata, yang baru saja membuat pelangi bertabur bintang di depan matanya. Dua kata, yang sepertinya baru saja menyelamatkan hidupnya.
Chanyeol menoleh kepada kedua temannya. "Hei, teman-teman." Panggilnya, senyum lebar tak lepas dari bibirnya.
"Apa?" tanya Kris.
"Hmm?" gumam Sehun.
"Ayo pergi ke Busan."
Hanya dua kata sederhana penuh makna yang berbunyi: aku merindukanmu.
Baekhyun berjalan mondar-mandir di dalam kamar sembari menggigiti kukunya. Ini gawat. Sudah lebih dari satu jam sejak pesan bodoh itu terkirim dan terbaca oleh Chanyeol, namun Baekhyun sama sekali tidak mendapatkan balasan apapun.
Baekhyun merasa ingin membunuh dirinya saat ini juga. Masih berbungkuskan selimut, ia berjalan mengitari kamarnya tanpa henti. Chanyeol pasti benar-benar membencinya sekarang. Ia hanya membaca pesan Baekhyun. Tidak lebih. Tidak membalas. Apa hubungan mereka akan berakhir di sini? Baekhyun harus mengakui, meski hanya dalam waktu yang singkat, ia menyukai Chanyeol sebanyak itu—lebih banyak daripada ia menyukai dirinya sendiri, lebih banyak daripada obsesi anehnya terhadap stroberi, atau lebih terhadap orang-orang disekitarnya.
Si mungil itu menunduk dan menatap layar ponselnya dengan tatapan nanar, kemudian memukul-mukul kepalanya pelan. "Byun Baekhyun kau manusia paling idiot yang pernah hidup di dunia ini." rutuknya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Sekarang apa yang harus kau lakukan?" kalimat terakhir ini meluncur keluar dari bibirnya dengan nada putus asa.
Karena merasa tidak lagi bisa tidur, Baekhyun kembali berjalan keluar kamar, kali ini tidak memperdulikan langkah kakinya, kembali duduk di depan teras hanya untuk menatapi kelamnya langit malam yang bertabur begitu banyak bintang.
Lalu, butir kristal itu keluar dari matanya, mengaliri pipinya yang memerah. Baekhyun menangis pelan, tidak yakin apa yang membuatnya menangis—tapi dadanya terasa sesak, seseorang seakan tengah mencekik lehernya saat ini.
Ia merindukan Chanyeol. Itu benar. Ia tidak akan menarik kata-katanya. Namun yang membuatnya paling takut adalah kenyataan bahwa Chanyeol mungkin saja membencinya. Chanyeol mungkin akan bertingkah seakan-akan tidak mengenalnya ketika ia pulang nanti. Baekhyun menyesalinya sekarang. Menyesali semua keputusan bodohnya untuk melarikan diri seperti pengecut alih-alih menghadapinya langsung. Baekhyun bahkan rela jika Chanyeol kembali bersikap kasar padanya, asal pria itu tidak menjauhinya nanti.
Si mungil itu mengusap pipinya pelan, tertawa sumbang. Ada apa dengan dirinya? Ini bukan seperti ia dan Chanyeol sudah mengenal bertahun-tahun. Baekhyun merasa dirinya konyol. Jatuh cinta di tempat pertama oleh orang yang bertingkah kasar padanya saat pertama kali bertemu. Dan lihatlah, siapa yang akhirnya mengemis dan melukai dirinya sendiri.
Baekhyun masih menangis bahkan ketika ia mendengar suara samar langkah kaki seseorang. Si mungil itu mendongak, mengsuap wajahnya dan menyipitkan matanya. Ia melihat seseorang berdiri di balik pagar, di dekat kandang Kimchi. Baekhyun bahkan harus menaikkan poni magentanya untuk melihat sosok itu lebih jelas. Baekhyun yakin bahwa ia manusia, hanya saja ia tidak bia benar-benar melihatnya karena penerangan yang tidak memadai.
Kemudian, kalimat yang Jisung utarakan memenuhi rongga telinganya.
Ada orang mesum yang sering berkeliaran di sekitar gang akhir-akhir ini.
Orang mesum.
Baekhyun merasakan bulu di tengkuknya berdiri. Ia menghentikan tangis halusnya, berdeham sedikit, kemudian berdiri secara perlahan. Jantungnya mulai berdebar keras sekarang. Ia berbalik untuk berjalan cepat menuju pintu utama, namun ia mendengar pria itu sepertinya memanjati dan melompati pagar. Pria itu benar-benar sinting! Baekhyun menyesal karena tidak mendengarkan kata-kata Jisung sekarang. Sial.
Baekhyun yakin bahwa tangannya baru saja hendak meraih gagang pintu utama, namun sebuah suara membuat tubuhnya membeku.
"Berhenti."
Baekhyun yakin bahwa ia snagat mengenenal suara ini. Suara berat yang selalu terdengar menyenangkan di telinganya. Baekhyun memejamkan matanya, merapatkan selimut tebalnya sembari melantunkan kalimat acak, berusaha membuat jantungnya tenang.
"Baekhyun."
Tidak berhasil. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya.
"Baekhyun, berbaliklah."
Tidak. Jangan berbalik, Baekhyun. Jangan berbalik!
Namun entah kenapa, apa yang Baekhyun lakukan sangat bertentangan dengan apa yang ada di dalam kepalanya. Si mungil itu malah berbalik dengan sangat perlahan, masih sambil menutup matanya.
Baekhyun menghitung sampai tiga di dalam hatinya, lalu membuka matanya.
Yang berdiri di hadapannya, adalah Park Chanyeol, lengkap dengan snapback, hoodie berwarna abu-abu dan jeans hitamnya. Wajahnya terlihat begitu berseri bahkan dibawah penerangan yang minim. Ia terlihat sempurna. Sosoknya terlihat luar biasa tampan. Sebuah senyum lebar menghiasi wajahnya, dan manik matanya berbinar cerah.
Detik itu, Baekhyun lupa bagaimana caranya bernapas. Ia berbisik, lebih kepada dirinya sendiri. "Aku pasti bermimpi."
Namun Park Chanyeol mematahkan asumsi itu, berkata dengan suara dalam dan tatapan intens yang tak pernah lepas dari sosok Baekhyun, "aku juga merindukanmu, Baekhyun. Sangat."
Si mungil bersurai magenta itu merasa lidahnya kelu. "Cha-chanhahfzs?" ia bahkan tidak bisa menyebut nama Chanyeol dengan benar.
Chanyeol tertawa geli, bunyinya terasa sangat nyata di telinga Baekhyun. "Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan, tapi kurasa, ya, aku Park Chanyeol." lalu Chanyeol melangkah maju, mengalungkan lengannya di leher Baekhyun—dan begitu saja, membenturkan bibirnya pelan melawan bibir Baekhyun.
Hanya sebuah kecupan di bibir, namun entah mengapa terasa sangat lama bagi Baekhyun. Baekhyun yang jelas masih berada di dalam fase syok-nya, membairkan Chanyeol menciuminya. Kakinya terasa lemas, dan tangannya berhenti memegangi selimut. Kalau bukan karena Chanyeol yang sigap melingkarkan lengannya di pinggang Baekhyun, ia mungkin akan terjatuh akibat tidak mampu berdiri. Chanyeol memeluknya, menggantikan selimut yang tadi membungkus tubuhnya. Sekarang rasanya berjuta-juta kali lebih hangat dibandingkan dengan hanya memakai selimut.
Tepat ketika Chanyeol melepaskan kecupannya dan menunduk untuk menatap Baekhyun dengan wajah yang dihiasi cengiran, barulah Baekhyun tersadar. Mata sipitnya melebar dua kali lipat, dengan cepat mengangkat kedua telapak tangannya ke bibir dan Baekhyun mulai mengalami penyakit lamanya—cegukan.
"Hik!—Hik!"
Chanyeol tidak dapat melakukan hal lain selain tertawa, kali ini terdengar begitu lepas. Ia mengangkat tangannya dan mengusap sayang helaian rambut Baekhyun. "Apa kau baik-baik saja?"
Baekhyun menjawab pertanyaan itu dengan gelengan, masih menutup bibirnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kau tidak mau melepaskan tanganmu?"
Baekhyun mendongak dan menatap Chanyeol sengit. "Hik! Hik!"
"Cih, galak sekali." Godanya, kali ini tertawa lagi. "Hmm, kalau begitu begini saja." Chanyeol menunduk lagi, kembali mendaratkan kecupan ringan di punggung tangan Baekhyun—yang jelas-jelas tengah menutupi bibirnya sendiri.
"Hik! Hik! Hik!" Baekhyun membiarkan sebelah tangannya meninju perut Chanyeol, bersamaan dengan cegukannya yang datang sebanyak tiga kali beruntun.
"Apa?!" protes Chanyeol, menghalangi kepalan tangan Baekhyun yang sayang sekali, ternyata kalah lebar dengan telapak tangan Chanyeol. Kepalan tangan Baekhyun yang kecil itu seperti baru saja tertelan ke dalam telapak tangan Chanyeol. "Itu kan bukan ciuman langsung!" katanya lagi, masih memprotes.
Baekhyun melepaskan tangannya, mendongak. "Dasar—hik!—sinting!"
Chanyeol tergelak lagi, entah sudah yang keberapa kalinya malam itu. Namun tawanya berhenti tatkala seseorang memanggilnya dari balik pagar.
Suaranya terdengar sangat jengkel. "Hey Yang Mulia Park! Apa kau sudah selesai? Kapan kita akan pulang? Tidakkah kau lihat kalau bocah ini sudah setengah teler?!"
Baekhyun terkesiap, membuat cegukannya makin parah. Ia menelengkan kepalanya di samping tubuh Chanyeol yang besar (karena sedari tadi tubuh Chanyeol menghalangi pandangannya), dan melihat dua sosok lain yang sedang berdiri di balik pagar rumah Bibi Yujeong. Salah satunya bertubuh sangat tinggi, salah satunya lagi berpostur agak sedikit lebih pendek, dan tengah bersandar di tubuh pria yang lebih tinggi—terlihat luar biasa mengantuk.
Kris dan Sehun.
Tidak. Apa mereka melihat ciuman itu?!
Ya Tuhan.
Baekhyun memerah sampai ke telinga, kemudian kembali menatap Chanyeol dengan jengkel. "PARK CHANYEOL DASAR KAU BODOH!" teriaknya keras sekali, barangkali dapat membangunkan seisi rumah.
Yang membuat Baekhyun makin jengkel adalah kenyaatan bahwa Chanyeol hanya menatapnya balik dengan ekspresi datar yang seakan minta dihajar.
"Ah, cegukanmu sudah berhenti." Ujarnya, polos.[]
A/N: HALOO SAYA KEMBALIII~~ Maaf banget ini ngaret yaudah kalian boleh hukum aku T-T
BTW, AKU UDAH LULUS HAHAHAH (seharusnya gak segirang ini)
Aku gak bakal ngasih alesan lagi karena emang chapter ini ngaretnya kebangetan. Chapter selanjutnya bakal aku usahain buat fast update ya. Terimakasih juga yang masih selalu setia nugguin ff ini meski plotnya udah berantakan banget.
Seperti biasa, reviewnya dong, biar aku semangat update chapter selanjutnya hehe. Lots of loveee~
