[CHAPTER 16 - THE RECRUITMENT]


"For the first time in his life, he feels accepted. He feels needed. It's the best feeling ever."


Menceritakan kejadian awalnya mungkin tidak akan pernah ada habisnya. Malam itu, Baekhyun terpaksa membangunkan bibinya karena Chanyeol bersikukuh untuk membawanya pulang. Dengan dalih bahwa 'aku tidak bisa membiarkanmu jaduh dariku bahkan hanya sedetik', Chanyeol sukses meyakinkan Baekhyun untuk pulang malam itu. Dan Baekhyun harus mati-matian membujuk Bibinya.

Hal itu jugalah yang menjadi alasan mengapa wanita paruh baya itu kini tengah duduk dengan tangan bersilang di depan dada, matanya menatap nyalang penuh tuntutan.

"Jadi," katanya menarik napas, "dia anak wanita itu?" mata Bibi Yujeong mengerling pada Chanyeol, namun pertanyaannya tertuju pada Baekhyun.

Baekhyun merona tanpa alasan yang jelas, lalu megangguk malu. Ia memuntir-muntir tangannya di atas pangkuan, berusaha untuk menghilangan rasa gugupnya. Sesekali merutuki dirinya sendiri dalam hati. Memangnya, apa yang membuatnya begitu gugup? Ini kan hanya Chanyeol.

Yeah, hanya Chanyeol.

Di sampingnya, duduklah si raksasa, memasang seringai lebar yang jelas-jelas berusaha meyakinkan. Di sampingnya lagi, ada Kris yang duduk dengan tegang dan Sehun yang sudah setengah pingsan di bahunya Kris. Sesekali, Sehun akan mendengkur halus dan pada saat itu juga Kris akan menyentil hidungnya.

"Terserah kalian saja." Desah Bibi Yujeong, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan untuk berniat berbisik, "apa dia melakukan sesuatu padamu?" namun yang keluar sama sekali bukan bisikan.

Rona merah merambat hingga ke telinga Baekhyun, ia berkata sengit, "Bibi, kau sama sekali tidak membantu."

Chanyeol, yang jelas-jelas mendengar bisikan (teriakan) itu, malah cengengesan dan mengangkat kedua tangannya dan bersumpah dengan nada yang sangat tidak meyakinkan, "aku tidak melakukan apapun, Bibi."

Bibi Yujeong jelas tidak percaya. Namun ia tidak punya pilihan lain. Ini yang diinginkan Byun Han, dan sebagai saudara mereka saling menghormati keputusan satu sama lain. Kadang Yujeong berpikir bahwa pria itu gila. Bagaimana mungkin ia melepas anak tunggalnya ke rumah orang lain. Bahkan pada saat masa remajanya dulu, Yujeong tidak pernah menyukai Lee Young Ri. Wanita itu—ah bagaimana mengatakannya? Racun. Setidaknya untuk abangnya.

Dan sekarang, Baekhyun malah mendekati anak dari Lee Young Ri. Memang, orang selalu berkata bahwa buah tidak jatuh jauh dari pohonnya.

"Baiklah." Yujeong akhirnya memutuskan, "kurasa kalian harus pulang sekarang jika tidak mau sampai ketika hari sudah terang. Aku tidak ingin ada orang asing teler di rumahku." Dia melirik Sehun yang hidungnya kembali di sentil Kris lantaran bocah itu mendengkur (lagi), lalu tatapannya beralih pada Chanyeol. "Kau mengemudi?"

Chanyeol mengangguk.

"Apa kau yakin kau akan baik-baik saja?" tanyanya lagi, kali ini kepada Baekhyun. Nada bicaranya penuh kekhawatiran.

Baekhyun tersenyum, merasa dadanya menghangat. "Tentu, Bibi."

"Pulang saja jika sesuatu terjadi padamu, kau mengerti?" katanya lembut, namun tatapannya sengit tertuju pada Chanyeol. Yang menjadi sasaran hanya menggaruk kepalanya tak nyaman.

Baekhyun mengangguk sebagai balasan, sesaat setelah wanita paruh baya itu berdiri dan mengomel tentang sesuatu yang berbunyi seperti dasar Byun Han sinting gila dan berbagai macam makian yang sebaiknya tidak usah disebutkan. Ia kembali ke kamar untuk mengemaskan barang bawaan Baekhyun yang sebenarnya tidak banyak, dan membawakan sweater tebal.

Mereka akhirnya berkendara pulang menuju Seoul, dengan Kris dan Sehun yang sudah benar-benar pingsan di kursi belakang, sementara Chanyeol mengemudi dan Baekhyun yang duduk di sampingnya, benar-benar terjaga lantaran suara dentuman di dadanya yang sepertinya tidak mau jinak.

"Kalau Chanyeol mulai mengantuk, kita bisa menepi dan istirahat sebentar." Baekhyun membuka percakapan dan menoleh ke kursi pengemudi dengan raut khawatir.

Chanyeol tersenyum, lengannya bermain santai pada setir mobil sementara mereka melaju menuju jalanan sepi.

Lalu, "aku juga merindukanmu."

Baekhyun terkesiap, refleks mengibasi mukanya sendiri karena mendadak saja ia merasa gerah. "Ti-tidak ada hubungannya!"

Pria yang tengah mengemudi malah terkekeh pelan. "Apanya?"

"Aku hanya berkata jika Chanyeol lelah, kita bisa menepi, tapi kenapa kau membicarakan hal itu…." Suara Baekhyun kian memudar di gelapnya malam. Hanya sejumput rona di wajahnya yang tak kian hilang. Baekhyun seharusnya tahu bahwa pembicaraan mereka tidak akan pernah konek. Chanyeol terus-terus mengucapkan kalimat yang tidak ada hubungannya dengan percakapan mereka.

"Kau tahu," katanya di tengah kesunyian malam, sementara Tender Love terus mengalun lembut di dalam mobil, "aku tidak akan menahan apapun sekarang. Baik itu perkataanku atau perbuatanku."

Baekhyun menoleh, sejujurnya setengah tidak mengerti, namun entah mengapa ia dapat merasakan kesungguhan dari balik kalimat Chanyeol. Belum lagi manik gelapnya yang sempat bertemu dengan manik cokelat madu milik Baekhyun, memancarkan segala kehangatan dan penuh kasih sayang.

"Aku akan menahanmu pergi jika itu membahayakanmu. Aku akan mengatakan semua perasaanku. Aku akan melakukan apapun untuk terus membuatmu berada di sisiku. Aku akan mencin—"

"BAIKLAH SUDAH CUKUP AKU MENGERTI."

Dan Chanyeol tergelak, puas sekali hingga ia perlu memegangi perutnya. "Hei, ayolah, stroberi rebus," panggil Chanyeol ketika Baekhyun menutupi kedua telinga dengan tangannya, belum lagi wajahnya yang merah total, "apa kau sebegitunya membenciku?"

Baekhyun membelalak, menatap Chanyeol setengah tidak percaya. Bukan masalah karena ia membenci Chanyeol atau tidak, tapi—stroberi rebus? Apa-apan pula itu? Baekhyun selalu berpikir bahwa Chanyeol itu orang yang kreatif, tapi ia tidak tahu bahwa Chanyeol sudah sampai pada titik mengenaskan seperti ini. Apa kau bahkan pernah mendengar stroberi rebus? Maksudnya, tidak ada orang yang benar-benar memakan stroberi degan cara direbus, kan?

Mengatasi kekalutan itu, Baekhyun malah hanya memilih untuk mengerucutkan bibirnya. "Aku mengerti, jadi jangan berbicara seperti itu terus." Si mungil itu mengangkat tangannya ke dada, merasakan dentaman kuat dari dalam sana, berbisik pelan namun masih terdengar cukup jelas untuk Chanyeol, "jantungku rasanya mau meledak."

Untuk satu detik yang terasa lamban, Chanyeol merasa bahwa ia baru saja melihat kembang api. Ia berpikir pasti dirinya sudah gila. Baekhyun berbinar di tengah gelapnya malam, memancarkan sesuatu yang sepertinya hanya Chanyeol sendiri yang bisa menangkapnya.

Kepolosan, kemurnian seseorang.

Jadi Chanyeol—dengan tanpa pikir panjang, menepikan mobilnya di tepi jalan. Napasnya putus-putus, terengah untuk alasan yang ia sendiri tidak tahu.

Baekhyun yang bingung dengan perhentian tiba-tiba, menoleh dengan eskpresi terkejut bercampur kekhawatiran. "Apa?" tanyanya panik, "ada apa? Apa Chanyeol baik-baik saja? Apa kita menabrak sesuatu?"

Chanyeol tertawa sementara ia membungkuk untuk menangkupkan kepalanya pada setir. Baekhyun mengerutkan dahinya.

"Wah, Byun Baekhyun," katanya, masih tertawa dan terengah-engah, "aku pasti sudah gila."

Kerutan di dahu Baekhyun makin dalam.

"You," Kata Chanyeol, menoleh ke samping untuk melihat langsung Baekhyun, "driving me crazy."

"Apa-apaan?" Baekhyun jelas kebingungan. "Aku serius, Chanyeol. Apa terjadi sesuatu? Apa kita menabrak sesuatu atau semacamnya?" si mungil itu malah bergerak tak nyaman, melihat ke depan dan ke belakang, barangkali berusaha untuk mencari bangkai makhluk hidup yang mungkin saja mereka tabrak, tapi ia tidak mendapatkan apapun.

"Ya," balas Chanyeol mantap. "Aku. Kita baru saja menabrak 'aku'".

Chanyeol sungguh-sungguh dengan ucapannya, omong-omong. Ia baru saja merasa ditabrak dan tubuhnya terpental hingga ke galaksi. Jenis tabrakan yang menyenangkan dan jelas membuat pikiranmu melayang.

Kali ini, Baekhyun tidak takut-takut untuk memasang ekspresi ngeri. Hidungnya berkerut lucu, setengah meyakinkan dirinya bahwa Chanyeol tidak kerasukan atau semacamnya. Melihat itu, Chanyeol sama sekali tidak bisa menahan dirinya lagi. Seperti yang sudah ia sebutkan sebelumnya, ia benar-benar tidak akan menahan apapun lagi.

Jadi pria bersurai sekelam malam itu maju untuk mendaratkan ciuman pada bibir Baekhyun. Kali ini bukan hanya kecupan. Namun sebuah ciuman yang lebih dalam. Ia bahkan berani untuk menangkupkan telapak tangannya pada leher Baekhyun, menekannya dengan lembut. Baekhyun yang tidak siap menerima ciuman mendadak itu sedikit terkejut, sebelum akhirnya menyesuaikan temponya dengan Chanyeol, dan entah sejak kapan telapak tangannya sudah mengusak surai gelap Chanyeol, membuatnya menjadi berantakan.

Chanyeol benar-benar tidak bisa melupakan bagaimana rasanya saat itu. Aroma manis tubuh Baekhyun yang selalu ia senangi—kombinasi lembut antara bedak bayi dan aroma stroberi, halus kulit wajahnya, tekstur lembut bibirnya, rambut magentanya yang terasa halus di tangan Chanyeol—semuanya.

"…yeol," desah Baekhyun, ia mundur sesaat untuk menghirup napas, namun Chanyeol tidak bisa berhenti. Ia tidak mau berhenti. Malah, ia mengeliminasi jarak diantara mereka dan kembali memagut Baekhyun.

Jika orang-orang mendiskripsikan tentang kecanduan, Chanyeol mungkin akhirnya akan paham tentang konsep kecanduan itu sendiri. Karena pada saat Chanyeol maju dan membuat Baekhyun terdesak pada pintu mobil, ia tahu bahwa dirinya sudah sangat jatuh untuk Baekhyun. Pria mungil manis itu adalah candunya. Dan ia sama sekali tidak menyesalinya.

"I can't breath," Baekhyun berbisik di sela-sela ciuman panas itu. "S-stop."

Mendengar rengekan halus itu, Chanyeol berhenti. Ia menggeram. "Maafkan aku." Katanya sungguh-sungguh. Namun ia tidak beranjak. Ia membiarkan deru napas dan pacu jantungnya mereda di hadapan Baekhyun, mengistirahatkan kening mereka.

Baekhyun memejamkan matanya, sedikit terengah-engah. Bibirnya mengalami sensasi aneh. Seluruh tubuhnya terasa aneh. Panas dan dingin pada saat bersamaan. Baekhyun tidak tahu apakah yang ia alami baik atau buruk. Ia tidak bisa berpikir jernih.

Belum sempat Baekhyun meredakan pacuan jantungnya, Chanyeol mulai kembali bergerak. Pria itu memejamkan matanya, dan mulai menciumi kening Baekhyun lembut. Sangat lembut, seakan-akan Baekhyun adalah hal yang sangat mudah rapuh sehingga perlu perlakuan hati-hati. Bibirnya perlahan turun pada kelopak mata Baekhyun, mengecupnya sedikit. Ia menghujani wajah Baekhyun dengan kecupan-kecupan ringan.

"Chanyeol," panggil Baekhyun.

Satu kecupan pada sudut bibir. "Hmmm?"

"I think we should get going."

Kecupan lain pada rahang. "Uh-hmm." Kecupan-kecupan itu terus berlanjut dan turun dari rahang menuju leher. Baekhyun sendiri tidak tahu kenapa ia tidak bisa menghentikan Chanyeol. Rasanya seperti dibius. Jenis teler yang menyenangkan, barangkali? Entahlah. Ia membiarkan Chanyeol mengecup leher dan bahunya untuk beberapa saat, merasakan sensasi tergelitik yang aneh di seluruh tubuhnya, belum lagi karena rambut Chanyeol menggelitik dagunya.

Sejujurnya, Chanyeol sendiri tidak tahu apa yang baru saja merasukinya. Ia menginginkan Baekhyun lebih dari apapun. Lebih dari siapapun. Ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, maka dari itu sebenarnya ia agak kewalahan mengontrol dirinya sendiri. Tekstur halus kulit Baekhyun membuatnya kalap, dan ia mulai mengeluarkan lidahnya, menjilati kulit Baekhyun—pikirannya menuntut lebih. Ia ingin merasakan Baekhyun lagi, seakan apa yang sebelumnya ia lakukan belum cukup.

Baekhyun mendesah kecil saat ia merasakan Chanyeol menjilat lehernya, dan ia tahu bahwa pada momen itu, mereka harus berhenti. Jadi ia menyentakkan Chanyeol dari tubuhnya, sementara Chanyeol tampak seperti orang linglung.

"A-aku…" kata Baekhyun, menunduk untuk menghindari tatapan Chanyeol, "…ayo pulang." Suaranya kecil dan bergetar. Ia bukannya tidak menyukai hal ini, hanya saja, kau tahu, mereka benar-benar harus berhenti sebelum hal-hal aneh terjadi.

Chanyeol sadar bahwa ia melewati batas, mengangkat dagu Baekhyun agar mata mereka bertemu. "Hei, stroberi rebus," ia terdiam sebentar, menatap Baekhyun, "maafkan aku."

"Bukan salah Chanyeol." Sahut Baekhyun cepat, merutuki diri sendiri karena telah membuat Chanyeol merasa bersalah hanya karena mereka berciuman.

"Kau mungkin akan mau menamparku atau memukulku," kata Chanyeol serius, "aku merasa bahwa aku baru saja menyakitimu."

Baekhyun menggeleng cepat, jelas sekali Chanyeol salah tangkap.

"Aku serius." Chanyeol meyakinkan, tapi Baekhyun masih tetap menggeleng. Jadi Chanyeol memukul kepalanya sendiri, dan Baekhyun menjerit.

"Apa yang kau lakukan?!" teriaknya panik, berusaha menangkap kedua tangan Chanyeol yang tengah menampar kepalanya sendiri dengan membabi buta. "Hentikan! Park Chanyeol, hentikan!"

Chanyeol berhenti saat Baekhyun melemparkan dirinya sendiri dalam pelukan Chanyeol. Si mungil itu terisak pelan. "Dasar kau idiot! Apa yang kau lakukan?"

Chanyeol terkekeh kecil, memeluk Baekhyun dengan sayang dan mendaratkan satu kecupan pada bahunya. "Aku merasa bahwa aku baru saja membuatmu takut, Baekhyun. Kurasa aku pantas menerimanya. Maafkan aku. Aku seharusnya berhenti saat kau menyuruhku berhenti." Ia menarik napas dalam-dalam, "aku juga tidak tahu kenapa, tapi aku sungguh tidak bisa berhenti meskipun aku menginginkannya."

Baekhyun mengeluarkan suara seakan ia baru saja tercekik, jelas sekali dia menangis. Ah, Chanyeol benar-benar membenci dirinya. Ia akan berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi agar si mungilnya ini senang. Ia mengeluarkan suara shush pelan, berusaha meredam isakan kecil itu, dan mendaratkan satu kecupan lagi pada pelipis Baekhyun. Chanyeol benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya jika Baekhyun berada sedekat ini.

"Chanyeol benar-benar bodoh," kata Baekhyun, terisak. "Aku tidak bermaksud seperti itu."

Chanyeol melepaskan pelukannya, "kenapa kau menangis?"

Baekhyun tidak yakin apakah Chanyeol normal atau malah benar-benar bodoh. Jadi, kali ini, tanpa belas kasihan, Baekhyun mengepalkan tangannya dan meninju bahu Chanyeol—yang sama sekali tidak memberi efek kepada pria yang lebih tinggi.

"Chanyeol bodoh!"

Tapi Chanyeol tertawa, mengusak surai magenta Baekhyun penuh sayang. Baekhyun menepis tangannya dan membalikkan badannya menghadap jendela, bergelung dalam sweater-nya dan berusaha untuk memejamkan mata. Ia terlalu lelah untuk menghadapi makhluk idiot bernama Park Chanyeol.

Pria tinggi itu hanya balas tersenyum, sedikit meregangkan tubuhnya lalu berkata, "ah, bateraiku sudah terisi penuh. Istirahatku nyaman sekali." Ia menghidupkan mesin mobil, "let's go home!"

Baekhyun mendecih tak senang. Dasar sinting.

Dasar sinting. Kris Wu juga mengucapkan hal yang sama dalam kepalanya. Brengsek sekali Si Park ini. Reaaally smooth. Apa dia tidak ingat kalau aku dan Sehun masih di belakang sini, menonton semua yang baru saja terjadi? Brengsek.

Ia menoleh pada Sehun yang sejujurnya sudah terbangun sejak Baekhyun menjerit tadi—hanya saja mereka memutuskan untuk pura-pura tidur. Siapa sangka kalau mereka malah mendapatkan adegan drama murahan seperti ini?

Oke, baiklah, pikir Kris. Terlepas dari betapa menjijikkannya mereka berdua, Kris tetap tulus menyatakan bahwa ia senang untuk sahabatnya yang satu ini. Sepanjang Kris berteman dengan Chanyeol, bocah idiot itu belum pernah menjalin hubungan serius. Dan kali ini, ia bisa merasakan betapa ia menyayangi Baekhyun. Dari dulu hidupnya melulu tentang Kyungsoo dan Kyungsoo, yang sejujurnya membuat Kris gerah. Orang bodoh pun tahu bahwa si bocah bernama Kyungsoo ini tidak benar-benar menyukai Chanyeol. Tapi itu sudah masa lalu, Kris senang dengan kenyataan bahwa Chanyeol menemukan Baekhyun.

Dalam sekali lihat, Kris Wu tahu bahwa Baekhyun memiliki Chanyeol sepenuhnya. Baik jiwa dan raganya.

Jadi, diam-diam, Kris tersenyum. Mungkin akhirnya Chanyeol bisa bahagia.


"Kalian pergi ke Busan?" Luhan bertanya dengan nada emosi, "tanpa mengajakku?"

Di sampingnya, Sehun yang masih tampak mengantuk bersandar di tubuh Luhan, benar-benar tidak peduli kalau mereka sedang berada di kafetaria. Ia mengeluh tentang betapa sakit seluruh badannya akibat tidur di mobil. Meski emosi, Luhan membiarkan pacar manjanya itu bersandar bebas, salah satu tangan Sehun memeluk pinggangnya.

Kris menguap lebar, memandang pada burger dan milkshake-nya tanpa minat. "Brengsek sekali, kan, manusia Park itu?"

Sehun mengangguk setuju. "Tapi, hyung," katanya malas, matanya terpejam, "kurasa kita juga yang agak bodoh. Kenapa kita mau saja saat dia bilang 'ayo pergi ke Busan!' dengan wajah bersemangat seperti itu?"

"Kenapa baru sadar sekarang?" celetuk Luhan, memutar bola matanya.

Kris menggeleng tidak setuju. "Memangnya kau mau mematahkan semangatnya? Wajahnya berseri-seri seperti itu. Mana aku tega menolaknya."

"Ah," desah Sehun, jelas-jelas menyadari sesuatu. "Benar juga."

"Jadi," sela Luhan cepat, "jam berapa kalian sampai?"

Kris melirik jam tangannya. "Setengah tujuh?"

Luhan membelalak. "Ya Tuhan," katanya tak percaya, lalu menoleh kepada Sehun, "Hun-ah, kau mau membolos? Ayo ke rumahku. Tidur saja."

Kris terbatuk minumannya, sementara Sehun langsung duduk tegak.

"Apa kau salah minum obat?" tanya Sehun, memandangi Luhan serius.

Luhan mengangkat bahunya lemah. "Lagi pula kau tidak akan konsentrasi di dalam kelas, kan?"

"Wah," decak Kris. "Kau tahu kan bahwa kalimatmu barusan terdengar agar rancu?"

Luhan terkikik, merona sedikit. "Maksudku, Sehun bisa tidur seharian untuk istirahat."

"Yap." Angguk Sehun. "Tidur. Bersamamu."

Luhan memukul kepalanya.

"Terserah kalian saja dasar bodoh." Maki Kris, jelas-jelas merasa terasingkan. Kalau saja Zitao disini, dia tidak akan merasa semerana ini. "Omong-omong," kata Kris seperti seakan menyadari sesuatu, "dimana si Park bodoh itu?"

"Dimana lagi pikirmu, hyung?"

Pria berdarah Tionghua itu sepertinya tahu maksud Sehun, karena dugaannya benar seratus persen.

Saat bel jam makan siang berbunyi, Chanyeol yang biasanya akan segera ke kafetaria untuk mengisi perut, kini malah melangkahkan kakinya menuju kelas Baekhyun. Saat itu, kelas Baekhyun belum bubar, dan pria tinggi itu dengan santainya bersandar pada pintu kelas Baekhyun dan bersenandung ria, menunggu si mungilnya untuk menampakkan diri.

Ketika akhirnya kelas itu bubar, Chanyeol mendapati Jongdae—Chen, sedang merengek kepada Baekhyun, mengikutinya menuju pintu keluar.

"Oh ayolah Baekhyun, bilang saja pada Minseok hyung kalau aku tidak sengaja mendapatkan nomor telponnya!"

Chanyeol mendengar rengekan Chen, tangannya bergelantungan di lengan Baekhyun, memohon dengan wajah memelas.

Baekhyun tersenyum kecil. "Kau tahu kalau hal itu tidak masuk akal dan konyol, kan? Minseok hyung tidak suka ketika aku melakukan itu." Pria mungil itu sebisanya melepaskan diri dari Chen, "kalau kau begitu menyukainya, datang saja ke Rainbow Cream. Minta langsung padanya."

Chen memasang wajah sengit. "Kau pikir aku tidak berusaha?!" suaranya meninggi, "aku datang setiap hari, tapi ia bahkan tidak mau menoleh padaku bahkan saat aku memanggil namanya!"

Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah;

1. Baekhyun berusaha melarikan diri.

2. Chen merengek dan mengayun-ayunkan tangannya pada lengan Baekhyun.

3.Repeat.

Chanyeol harus menengahi mereka pada akhirnya.

"Woah woah woah woah, man, hands off." Ucap Chanyeol sembari menarik Baekhyun pada satu sentakan dan membentenginya dengan tubuh tingginya sendiri.

Chen menyerah, mengangkat kedua tangannya ke udara.

"Kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol kepada sosok mungil di belakangnya.

Baekhyun tersenyum lalu mengangguk.

"Apa masalahmu, Jong—Chen?" ia menekankan tiap kalimatnya dengan hati-hati.

"Aku hanya butuh sebuah nomor. Itu tidak sulit, kan, Baekhyun?"

Baekhyun menggeleng. "Sudah aku bilang aku tidak bisa melakukannya. Kalau kau mau, kau harus minta sen—"

"Oh ayolah!" potong Chen cepat.

"Okaaaay, calm down, Chen." Kata Chanyeol sebelum Chen meledak lagi. Ia akhirnya menghadap ke belakang dan berbisik pelan pada Baekhyun. "Apa kau benar-benar tidak bisa memberikannya?"

Baekhyun cemberut dan menggeleng. "Minseok hyung tidak akan menyukainya."

"Kau tahu," kata Chanyeol, menarik napas dalam-dalam, "pria ini dikenal sebagai Si Sinting yang Ambisius. Kau mengerti maksudku, kan? Dia tidak akan pernah berhenti menganggumu sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan."

Baekhyun membuang napasnya, berat. Ia kemudian mengintip dari balik tubuh Chanyeol dan bertemu pandang dengan mata Chen yang berbinar penuh harap. "Aku tidak bisa memberikanmu nomor telponnya, tapi, aku akan mencoba berbicara dengan Minseok hyung. Bagaimana?"

Chanyeol menimpali, "itu pilihan terbaikmu sekarang, Chen. Take it, or leave it."

Meski nampak sangat tidak puas, Chen akhirnya mengangguk. "Aku akan menunggu balasanmu, Byun. Kabari aku secepatnya."

"Tentu." Sela Chanyeol cepat sebelum Baekhyun sempat menjawab. "In the meantime, jangan ganggu si mungil ini. Kau mengerti kan?"

Chen tersenyum. "Deal, he's all yours."

Ketika akhirnya mereka berhasil meyakinkan Chen dan beranjak dari hadapannya, Chanyeol berkata, "he's such a pain in the ass, isn't he?"

"Tidak juga," Baekhyun tertawa kecil. "Chen baik. Sangat baik. Ia hanya begitu menyukai Minseok hyung, kurasa. Tapi itu akan sulit. Minseok hyung tidak terlalu tertarik kepada anak sekolahan seperti kita ini." Ia tertawa lagi. "Minseok hyung hanya fokus kepada kuliahnya dan Rainbow Cream. Ia tidak terlalu memperhatikan tentang hubungan serius."

Chanyeol mengangguk pelan, sedikit kebingungan karena ia tidak tahu mau membalas apa.

"Dan," sambung Baekhyun lagi, "Chen benar-benar datang ke Rainbow Cream. Tiap hari. Ia memesan satu jenis es krim yang berbeda untuk setiap harinya. Bahkan saat Minseok hyung tidak melayaninya, ia duduk manis dan memperhatikan Minseok hyung bekerja."

"That's creepy, Baekhyun."

"Nope." Baekhyun menggeleng lalu tertawa lagi. "That's love."

Chanyeol menaikkan alisnya, namun akhirnya tersenyum. Beberapa saat kemudian, Baekhyun berhenti dan menghadap Chanyeol. Ia memperhatikan Chanyeol dari atas kepala hingga ujung kaki, lalu berjinjit kecil.

"Apa?" kata Chanyeol, entah mengapa tiba-tiba panik.

Si mungil itu kemudian menangkupkan kedua telapak tangannya pada pipi Chanyeol. "Apa Chanyeol baik-baik saja?" tanyanya, "Chanyeol mengemudi semalaman dan tidak tidur."

Chanyeol tersenyum, berpikir bahwa Baekhyun ada benarnya. Tapi tidak. Ia tidak merasa lelah sama sekali. Sebaliknya, ia merasa sedikit terlalu bersemangat pagi ini. Meskipun kantung matanya tidak dapat berbohong.

Chanyeol tidak merespon untuk beberapa saat, membiarkan tatapan Baekhyun menelitinya, serta tangan mungilnya yang menangkup wajahnya.

Ia meraih kedua tangan Baekhyun yang tengah menangkup wajahnya dan membawanya ke bibir, mengecupnya lama.

"Completely happy and good." Balas Chanyeol akhirnya.

Baekhyun segera menunduk sambil menggigit bibirnya. Rona merah muda merambat naik ke wajahnya.

Oh, dan apakah Chanyeol sudah bilang bahwa Baekhyun tampak luar biasa dengan seragam SoPa-nya? Chanyeol tidak yakin apakah ia sudah mengatakannya atau belum, tapi peduli setan. Ia akan terus mengatakannya.

"Kalau begitu, bagus." Baekhyun berusaha untuk terdengar tidak malu, "karena aku lapar."

Chanyeol menyeringai. "Perfect."


Luhan, Sehun dan Kris mendapat Baekhyun dan Chanyeol sedang duduk bersila di atas karpet bulu di dalam markas mereka. Pemandangan yang pertama kali terlihat adalah Chanyeol yang sibuk membukakan segala sesuatu untuk Baekhyun dengan pandangan berseri-seri—french fries, sandwich, milkshake, potato chips, kimbab—you name it.

Mereka baru saja tampak seperti membuka piknik. Hanya saja piknik aneh ini berlangsung dalam ruangan. Sesekali Chanyeol akan mengatakan pelan-pelan saja, pendek atau hanya tersenyum senang karena Baekhyun makan dengan sangat lahap.

Luhan yang pertama kali memecah kesunyian dengan berdeham kecil. Senyum manis tercetak pada wajahnya yang rupawan.

Kedua orang yang jelas-jelas sibuk dengan dunianya sendiri itu kini spontan menoleh.

"Uh," Baekhyun terkesiap dan sepertinya berniat untuk menyapa, namun karena mulutnya penuh, yang terdengar hanyalah, "aaahlow!"

Luhan tertawa, sementara Chanyeol menepuk kepala Baekhyun dan memberinya minum. "Telan dulu makananmu, pendek." Katanya.

"Halo juga Baekhyun, I guess?" Luhan menyapa balik, sementara Kris dan Sehun sudah mengambil tempat dan duduk di sofa dengan gaya malas.

Baekhyun mendengarkan kata Chanyeol dan mengunyah cepat makanannya, lalu menelannya buru-buru. "Kita belum pernah berkenalan secara." Kata Baekhyun akhirnya, lalu menghadap Luhan dan tersenyum. "Aku Byun Baekhyun."

"Oh, kita sering mendengar tentangmu." Kris bersuara, menaik-naikkan alisnya dengan ekspresi penuh arti. Sehun mengikutinya. Dasar bocah idiot. Mengikuti apapun yang hyung-nya lakukan.

"Aku yakin kau sudah pernah mendengar tentangku?" kata Luhan, tersenyum.

Baekhyun mengangguk. "Xi Luhan. Kau salah satu dari sekian anak emas di SoPA."

Rona merah merambat naik ke wajahnyanya yang cantik saat Baekhyun memujinya.

"Dia yang terbaik." Timpal Sehun, jelas-jelas mengangguk setuju. "Aku Sehun, ngomong-ngomong. Oh Sehun." Lanjut bocah itu kemudian.

"Kris Wu." Timpal Kris sembari tersenyum.

"Kalian semua sahabat baik Chanyeol?" mata Baekhyun berbinar, ia belum pernah dekat dengan begitu banyak orang sebelumnya, mungkin hanya beberapa, salah satunya adalah Minseok.

Pria yang memperkenalkan diri sebaga Kris Wu itu berwajah rupawan, Baekhyun pikir. Rambutnya pirang dan ia punya gaya yang tampak agak dingin. Oh, first impression itu memang penting, Baekhyun. Hanya saja Kris ini kasus yang berbeda. Ia memang tampak seperti yang didiskripsikan Baekhyun, namun kalian tahu bagaimana tingkah aslinya.

Kris kemudian menggeleng. "Lebih seperti budak."

Chanyeol mendeliknya tak senang. "Aku tidak pernah memperlakukanmu seperti itu, hyung. Jangan mengada-ada."

Sehun mengangkat bahunya, berniat untuk bersekongkol dengan Kris. "Tapi memang itu yang sering kau lakukan pada kami, Chanyeol hyung."

"Memangnya siapa yang menyuruh kami ke Busan pada tengah malam diamana seharusnya aku tidur demi keawetan wajahku?"

Chanyeol memutar bola matanya. "Aku bahkan tidak memaksa kalian."

"Itu salahku." Kata Baekhyun kecil, ia tersipu. "Sepertinya kalian ke Busan karena aku, kan?"

"Oh, little Baekhyunie. Siapa bilang itu salahmu?" Luhan terkikik kecil.

"No, no, no." balas Kris. "That's clearly your boyfrind's faults."

Baekhyun menyukai mereka semua dalam sekali pandang. Kris Wu yang aneh, Xi Luhan yang manis dan cantik, serta Oh Sehun yang jelas-jelas rupawan (matanya hanya tertuju pada Luhan daritadi, omong-omong).

"Aku belum pernah sempat memperkenalkan diri pada kalian, maafkan aku. Apa aku menganggu?" kata Baekhyun lagi, dan Chanyeol memberinya tatapan yang jika diterjemahkan akan berbunyi seperti astaga kau mungil mana mungkin kami menganggapmu penganggu—oh, atau setidaknya aku.

Luhan sepertinya menyuarakan hal yang sama. "Bagaimana mungkin, teman Chanyeol—"

"Pacar Chanyeol—" sahut Sehun cepat, dan Luhan memelototinya.

"—adalah teman kami juga. Welcome to the club!" lanjut Luhan.

Baekhyun tersenyum lebar sekali. Ia selalu menyukai gagasan bahwa dirinya diterima oleh orang-orang, bahwa dirinya adalah bagian dari sesuatu.

"Kau tidak perlu khawatir, Byun. Mereka semua teman baikku." Kata Chanyeol lembut sambil menepuk kepalanya.

Mata Baekhyun bertemu pandang dengan Kris, dan Kris tersenyum. "Welcome to the club, rambut ungu." Katanya, ditimpali anggukan Sehun.

"Ngomong-ngomong," kata Luhan, mengibaskan tangan dan ikut duduk di atas karpet bulu serta mulai memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya, "kalau kau ingin main keluar atau butuh seseorang untuk diajak berbicara, only hang out with me! Jangan ikuti mereka bertiga ini." Luhan menunjuk hina pada Kris, Chanyeol dan Sehun. "Mereka semua otak udang."

Tawa Baekhyun meledak, sementara ketiga orang yang menjadi bahan hinaan memprotes tidak senang, luhan

"Oh ya?" tanya Baekhyun tak yakin, sementara ia mengerling lucu pada Chanyeol dan mulai memakan sandwich-nya.

"Hm-hm." Angguk Luhan. "Aku suka sekali suaramu. Kalau kau kesulitan dalam belajar, kau boleh bertanya padaku, terutama saat pelajaran Vokal Utama."

"Oh!" Sehun berseru, "Lulu merupakan peraih skor tertinggi pada awal tahun. Apa kau pernah dengan tentang pitch perfect? Lulu memilikinya!"

Setelah melihat Sehun menggebu-gebu seperti itu, Baekhyun yakin sekali bahwa eksistensi Sehun adalah untuk mempromosikan, menjunjung dan menyembah tinggi Luhan. Lagipula, sebagai seseorang yang paham akan musik, Baekhyun tentu tahu apa itu pitch perfect—atau lazimnya disebut nada pasti. orang pada umumnya akan memerlukan intrumen untuk memulai suatu nada, agar nada tidak sumbang dan melenceng. Tapi orang yang memiliki nada pasti tidak butuh bantuan instrumen. Orang-orang seperti ini, jelas sekali jarang bernyanyi dengan sumbang atau kehilangan nada.

"Yep." Kata Luhan, "tahun kemarin sepertinya Jongdae dan Kyungsoo, kurasa?"

Kris mengangguk sebagai balasan. "Luhan benar, kau tahu. Suaramu bagus sekali. Meski kau anak baru, aku sudang dengar desas-desus bahwa kau akan menjadi kandidat kuat."

"Aku akan senang sekali jika kau mau mengajariku, Luhan hyung." Balas Baekhyun tersenyum manis. Ia sangat menyukai semua ini. Belum lagi Chanyeol yang manik hitamnya tampak berbinar, jelas sekali bangga si mungilnya baru saja dibanjiri dengan begitu banyak pujian.

Senyum Luhan tiba-tiba mengembang, dan matanya membulat. "Oh, apa kau dengar?!" serunya, "Baekhyun baru saja memanggilku hyung!"

Baekhyun Nampak khawatir untuk sesaat. "Apakah… tidak boleh?"

"Oh, tentu saja boleh, Baekhyun-ah. Kenapa tidak?!"

Kris menahan dorongan untuk tidak berteriak bahwa ia juga ingin dipanggil seperti itu, tapi ia tidak ingin merusak citranya—walaupun dapat dipastikan bahwa Baekhyun akan mengetahui dirinya yang asli baik cepat maupun lambat.

Sekarang tampaknya Kris mengerti kenapa Chanyeol begitu menyukai Baekhyun. Bocah mungil itu tidak memilki setitik alasan pun untuk dibenci. Ia diselubungi oleh aura yang sangat lembut, rapuh dan mulia? Entahlah. Kris juga tidak bisa menjelaskannya secara langsung. Pokoknya, kalau kau bertemu Baekhyun secara langsung, kau akan mengerti. Kau tidak bisa membencinya, seberapa keras pun kau mencoba.

"Ah," kata Chanyeol seakan teringat sesuatu. "Omong-omong, kami tinggal bersama."

"APA?!" seruan tidak percaya ini keluar dari ketiga orang lainnya.

Kris, yang masih sama shock-nya, kemudian mengeluarkan senyuman miring. Mereka akan benar-benar menghadapi banyak masalah nantinya, pikir Kris. Tapi kalimat tinggal bersama yang diutarakan Chanyeol bukanlah salah satunya.

Masih ada masalah yang lebih berat menunggu mereka. Nanti.[]


A/N : I can't believe I'm posting a crap like this. Anyway, I'm back and this is the best feeling ever. Aku kaget banget ternyata banyak yang ngerespon notice aku kemaren. Dan semuanya berisi kata-kata positif yang mampu bikin aku nyelesaian chapter ini. You guys are da real MVP udah pokoknya. And I miss you guys, like crazy. Jadi, as a comeback chapter, how do you think? Lastly, makasih banget karena rela nyempatin diri buat baca ff ini, meskipun sebenarnya it's really not worth it.

—sincerely, penulis gadungan