[CHAPTER 17 - THE MURDERER'S SON]


"For a while, he trusted him. He said, 'everything will be just fine'. But now he know, everything will never be fine."


Baekhyun baru saja kembali dari rumah Luhan saat jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul sepuluh lewat tujuh belas malam. Pria manis itu bersikeras untuk mengajari Baekhyun teknik vokal untuk ujian tengah semester nanti—yang ngomong-ngomong masih kurang lebih satu bulan lagi. Tapi Baekhyun tidak bisa menolak, dan melihat binar mata Chanyeol, ia tahu ia harus mau. Ia juga tidak berpikir untuk menolak, lagi pula. Beberapa hari telah terlewati semenjak insiden Busan, dan Baekhyun lelah bukan main.

Ada beberapa hal yang memang agak membuat Baekhyun kewalahan, yakni menjelaskan kronologis awal ia bertemu Chanyeol—tinggal di rumah Chanyeol. Kris dan Sehun, seperti yang sudah Baekhyun duga, sebenarnya sudah curiga. Malah mungkin sudah tahu, tapi pura-pura terkejut untuk menghargai Luhan. Luhan memang manis, sesuai dengan paras wajahnya. Tapi ia kadang bisa berubah menjadi begitu mengerikan kalau sedang marah. Hal terakhir yang sangat ia benci adalah kenyataan teman-temannya seperti menyembunyikan sesuatu padaya, atau ketika teman-temannya tidak mengajaknya untuk menjadi bagian dalam 'sesuatu'. Jadi Kris dan Sehun sepertinya sepakat untuk pura-pura terkejut dengan mendengar pernyataan bahwa Baekhyun dan Chanyeol hidup dalam satu rumah.

Hal ini, tentunya juga menyangkut ayah Baekhyun. Sedikit dengan berat hati, ia menceritakan tentang pria itu—fakta yang juga baru diketahui oleh Chanyeol. Pria itu memasang wajah tanpa ekspresi dengan tangan bersedekap ketika ia mendengarkan Baekhyun bercerita. Waktu itu, Luhan terkesiap dengan menutup mulut dan Sehun musti menyodok perutnya sedikit untuk berperilaku tenang. Meski syok, mereka menerima kenyataan itu. Tidak ada yang bertanya. Setidaknya sampai Baekhyun berbicara.

"Kalian, tidak akan membenciku, kan?"

Lalu, Kris, Luhan, Chanyeol dan Sehun berpandangan untuk beberapa saat. Yang pertama kali bersuara adalah Luhan. "Kami mempercayaimu, Baekhyun."

"Dan tidak," sambung Kris, "kami tidak membencimu. Ini bukan salahmu."

Sehun menimpali dengan anggukan pelan. Mengulangi kalimat Luhan, "kami mempercayaimu."

Kemudian, tepukan sayang mendarat di atas kepala magentanya. Chanyeol menatapnya dengan tatapan hangat. "Aku sayang padamu, pendek. Kau tahu itu, kan?"

"Oh Sehun ambilkan aku kantong." Kris berbunyi.

Tidak mengerti, Sehun menoleh untuk melihat Kris dengan tatapan bodoh. "Kau kenapa, hyung?"

"Aku. Mau. Muntah."

"Oh." Katanya, seperti baru saja mendapat ilham. "Sini." Lalu ia menangkupkan tangannya di bawah dagu Kris.

Luhan terkikik kecil sementara mata Baekhyun lekat pada sosok Chanyeol. Ia hampir menangis, sejujurnya. Ia tidak pernah merasa begitu disayangi sebelumnya, tidak semenjak ayahnya menghilang. Tapi ia berusaha sebaik mungkin meski suaranya bergetar. "Terima kasih." Bisiknya lirih.

Chanyeol merasa sesuatu di dalam dirinya baru saja patah, lantaran ia tahu Baekhyun menahan tangisnya. Jadi ia membiarkan tangannya masih berada di atas kepala Baekhyun, menepuk-nepuknya pelan, berharap gerakan kecil itu akan menenangkannya.

Mereka makin dekat untuk beberapa hari ini, terutama Luhan. Pria manis itu jelas berusaha untuk menghiburnya, jadi, mana mungkin Baekhyun menolak ajakannya. Baekhyun benar-benar lelah, sungguh. Rasanya ia berharap tiap hari adalah hari Minggu.

Lagi pula, jangan lupakan bahwa dia adalah Si Anak Baru.

Banyak yang harus ia kejar, termasuk tugas dan bahkan beberapa tes. Sebenarnya ia bisa saja tidak mengambil tes-tes yang telah lalu, namun ia sungguh tidak mau melewati kesempatan ini. Beberapa tes ini tentunya akan membantu nilainya nanti.

Baekhyun benar-benar tidak bisa berpikir lurus untuk beberapa hari ini, dan sejujurnya, dia agak mengabaikan Chanyeol. Dengan lengketnya Luhan padanya, Chanyeol (dan Sehun yang jelas-jelas protes) agak menjadi terasingkan.

Memikirkan pria itu tiba-tiba saja membentuk senyum simpul di bibirnya. Chanyeol sadar benar dengan kenyataan Baekhyun agak sibuk, dan ia memberi si mungil itu sedikit ruang, tentunya. Namun, si giant itu sepertinya tidak akan membiarkan Baekhyun sendiri. Pasalnya, dalam beberapa hari ini (dan pada jam-jam tertentu), ia akan mengetuk kamar Baekhyun dan meninggalkan sebaki penuh makanan, buah-buahan, dan cemilan—dan sebuah note.

Biasanya akan berisi satu kalimat sederhana seperti fighting! atau stay alive;) atau bahkan kalimat panjang yang berbunyi; aku tahu kau sedang mengerjakan tugas Miss Jane tapi kamarmu tidak berbunyi sama sekali apa kau masih hidup?

Baekhyun tentu tahu kalau Chanyeol memata-matainya. Memangnya siapa yang tidak akan sadar kalau kau terus-menerus melihat bayangan yang berjalan bolak-balik dengan gusar di depan pintumu?

Meski begitu, si mungil itu akan membuka pintunya ketika ia mendengar ketukan, diiringi bunyi langkah kaki orang yang terburu-buru—berusaha untuk bersembunyi. Kemudian Baekhyun akan berjongkok dan memungut baki makanan, lalu tertawa lantaran membaca note yang ditinggalkan Chanyeol. Sementara Chanyeol diam-diam akan mengintip dari balik pintunya. Baekhyun akan bertatap mata dengan penguntit dari balik pintu, lalu sosok raksasa itu akan keluar dan tersenyum lembut, bersandar pada tepian pintu dengan tangan di dalam saku. "Aku tidak akan menganggumu lagi, aku janji."

Baekhyun memeluk baki makanan itu dengan sayang, lalu mengangguk lucu.

"Tapi, kalau kau lapar atau kau butuh sesuatu—"

"Aku tahu," potong Baekhyun, "jarak kamar Chanyeol hanya lima meter dari kamarku. Jadi aku tahu harus apa."

"Good." Chanyeol menyeringai. "Selamat mengerjakan tugasmu, pendek. Jangan tidur terlalu malam, kau tahu aku selalu mengawasimu, kan?"

Baekhyun pura-pura bergidik. "Apa-apaan itu? Memangnya Chanyeol CCTV?"

Chanyeol tertawa dan membuat gestur hush-hush kecil—menyuruh si mungil itu kembali pada dunianya. Baekhyun mengangguk dan masuk, lalu menutup pintu.

Dari seberang lorong, Chanyeol mendesah, agak-agak kesepian—tapi jelas tidak mau mengakuinya. Ia tidak mau membebani si mungil itu. Dia akan membiarkan Baekhyun menyelesaikan semua tugasnya terlebih dahulu.

Jadi, malam ini, seperti biasa, Baekhyun tentunya tidak lagi terkejut ketika mendapati Chanyeol berdiri di depan kamarnya, mengetuk pintunya pelan. Namun, tidak seperti biasanya, Chanyeol tidak lari, lantaran bayangannya masih bertandang di bawah pintu kamarnya.

Baekhyun membukakan pintunya dan tersenyum, disambut dengan cengiran Chanyeol. Pria yang lebih tinggi lalu mengusak surai Baekhyun sayang. "Apa kau lelah?"

Baekhyun mengangguk.

"Kau tidak lapar?"

Baekhyun menggeleng.

Lalu kening Chanyeol berkerut. "Apa kau baik-baik saja?"

Baekhyun mengangguk lagi, masih dengan senyum manis terpatri pada wajahnya.

Chanyeol menatapnya curiga dan menurunkan tangannya dari kepala Baekhyun. "Apa kau tidak mau berbicara padaku?"

Baekhyun menggeleng lagi.

"Apa aku melakukan kesalahan?"

Chanyeol mendapati gelengan lagi.

Lalu, "apakah aku pria paling tampan sedunia?"

Baekhyun otomatis mengangguk, dan kemudian, "eh?" lalu ikut tertawa saat Chanyeol sudah terbahak keras.

Saat mereka berhenti tertawa, Chanyeol kembali menaikkan salah satu tangannya dan menangkup wajah Baekhyun. Si mungil itu otomatis sedikit memiringkan wajahnya, membiarkan ibu jari Chanyeol mengelus sayang pipinya. Chanyeol bisa saja berteriak saat itu (jantungnya sudah berteriak lebih dulu) lantaran Baekhyun benar-benar lucu. Matanya sedikit sayu karena dia jelas mengantuk, dan sesekali ia akan memejamkan matanya saat Chanyeol megelus pipinya.

He's too cute. Pikir Chanyeol.

"You seems pretty tired, Baek." Katanya kemudian. "Istirahatlah."

"Mm-hm." Baekhyun mengangguk, dan dia menguap kecil. "Chanyeol juga." Lanjutnya.

"Tentu. Good night, you pretty little thing."

Baekhyun menutup pintu dan berjalan malas menuju kasur, lalu segera membungkus dirinya dalam selimut. Ia melihat sekilas bahwa bayangan Chanyeol sudah menghilang dan ia mendengar pintu ditutup dari kejauhan. Si mungil bersurai magenta itu tersenyum kecil, pipinya agak panas, tertutama di tempat bekas Chanyeol menyentuhnya. Setelahnya, ia terlelap.

Baekhyun tidak yakin persisnya jam berapa dia tertidur, namun ia terbangun akibat bunyi dering ponselnya. Ia mengucek matanya dan melihat rintik hujan yang sangat lebat dari jendelanya. Jantungnya sedikit berdebar-debar, efek bangun akibat terkejut. Untuk beberapa saat, ia menarik napas dalam-dalam untuk menghentikan debar jantungnya yang entah mengapa terasa nyeri di dadanya.

Kemudian ia tersadar akan bunyi dering yang sudah berlangsung entah berapa lama, dan menyambar sumber dari bunyi dering tersebut.

Layar putihnya menuliskan sejumlah nomor yang tidak terdaftar. Ia mengernyitkan dahinya. Matanya kemudian beralih pada pojok kanan atas pada layar putih ponselnya. Jam dua lewat tiga belas pagi.

Meski sesuatu dalam dirinya berkata bahwa ia harus menghiraukan panggilan itu, ia tetap mengangkatnya.

Suaranya serak dan kering. "Halo?"

Ada jeda selama beberapa menit, sebelum terdengar bunyi kasak-kusuk yang aneh, dan seruan panik. "Baekhyun?"

Baekhyun terkesiap, tubuhnya langsung duduk tegak, dan ia membeku.

"Baekhyun apa kau disana?"

Baekhyun meremas ujung bajunya, ketakutan setengah mati. "Ayah?"

"Baekhyun dengarkan aku. Aku—hilang—tidak bisa lam—" terdengar bunyi kasak-kusuk lagi dan ucapan pria itu terputus-putus.

"Ayah," Baekhyun merintih, "aku tidak bisa mendengarmu."

"Viper. Yang Tze. Dia akan—"

Saluran itu terus-menerus berbunyi aneh dan suaranya hilang-datang.

"Aku tidak bisa mendengarmu." Baekhyun berbisik lirih. Ia menahan tangisnya. "Apa yang sedang berusaha kau katakan? Apa kau baik-baik saja? Dimana kau sekarang?"

"Lari, Baekhyun—sembunyi—mereka berusaha untuk—"

Terjadi jeda lama yang hanya berbunyi seperti kasak-kusuk dan suara yang sepertinya berbunyi keluar dari radio rusak, kemudian, suara Byun Han terdengar lagi, tapi Baekhyun hanya mendapat sepatah-sepatah.

Lalu ia mendengar satu kata yang paling jelas, yang kemudian membuat bulu tengkuknya berdiri, mengirimkan hawa dingin menyeramkan turun ke tubuhnya.

"—membunuhmu."

Dan sambungan terputus.


Baekhyun tidak tidur semalaman. Ia seperti zombie berjalan, dan matanya sembab. Chanyeol menyadari itu saat ia mengemudikan mobilnya menuju sekolah, sementara si mungil itu duduk di sisi pengemudi, menopang dagu dengan tangannya, sementara matanya menerawang menembus rintik hujan. Chanyeol tidak ingat kapan hujan turun. Pagi ini ketika ia bangun, seluruh penjuru sudah dibasahi oleh rintik hujan yang tampaknya tidak mau mereda dalam waktu dekat. Chanyeol berpikir Baekhyun mungkin begadang semalam mengerjakan sisa tugasnya, tapi—tidak mungkin. Ia jelas-jelas mendengar bunyi seseorang menimpa kasur dan gemersak seseorang menarik selimut.

Jadi, apa masalahnya?

"Baek," panggil Chanyeol. Melirik khawatir pada si mungil itu, sementara tangannya bermain pada setir. "You okay?"

"Mmmm." Baekhyun menggumam lirih. Matanya tak lepas dari jendela, seakan-akan mata lelahnya berusaha untuk menghitung rintik hujan yang jatuh.

"Apa kau merasa tidak enak badan?" tanya Chanyeol lagi, kali ini serius. Ia khawatir.

Akhirnya Baekhyun menoleh dan tersenyum. Matanya masih sedikit bengkak. "Tidak, Chanyeol. Aku baik-baik saja."

Chanyeol berusaha untuk tidak bertanya lagi lantaran ia takut menganggu. Untuk pagi ini saja, ia pikir, ia akan membiarkan Baekhyun sendiri. Mungkin nanti, saat waktunya tiba, Si Mungil itu akan bercerita dengan sendirinya.

Saat mereka tida di parkiran sekolah, Baekhyun keluar dari mobil dan menunggui Chanyeol. Ia berdiri tepat di depan pintu pengemudi. Chanyeol kemudian mendapati Si Mungil itu berdiri, tengah menatapnya sambil tersenyum.

"Apa?" tanya Chanyeol.

Baekhyun hanya menggeleng sebagai jawaban, senyum manisnya tidak lekas hilang. Chanyeol mungkin salah, tapi ia menatap setitik rasa sedih dari senyum itu. Chanyeol sungguh berharap bahwa dirinya salah.

"Kalau begitu, aku kan masuk kelas duluan." Kata Baekhyun, lalu berbalik dan mulai berjalan pelan. Belum beberapa saat, ia berbalik lagi dan masih dengan tersenyum, ia berkata, "aku sungguh senang bisa bersama Chanyeol."

Chanyeol tersenyum, sedikit mengerutkan dahinya akibat dari pengakuan tiba-tiba itu.

"Aku juga, pendek. Aku juga." Balas Chanyeol akhirnya dan Si Rambut Magenta itu terkikik pelan lalu kembali berjalan.

Tapi bahunya merosot.

Dan Chanyeol tidak merasa baik saat ini. Katakan saja ia gelisah, dan rupanya ia mungkin benar. Ada sesuatu yang salah.


Baekhyun termenung di tempat duduknya. Ia tidak mengeluarkan buku catatan ataupun kotak pensil kesayangannya. Hanya duduk, kali ini di tepi jendela dan menerawang pada rintik hujan yang mulai memudar.

Ia sempat menelpon nomor yang tidak dikenal tadi malam, tapi sepertinya operator ponselnya sangat senang menjawab dengan; nomor yang Anda tuju tidak terdaftar, silahkan periksa kembali nomor yang Anda tuju.

Ini tidak masuk akal dan Baekhyun merasakan hatinya berat.

Meski Baekhyun berusaha untuk berpikir positif—oh ayolah, setidaknya ia tahu Ayahnya masih hidup. Tapi beribu pertanyaan kemudian mulai mengalir seperti hujan deras dari dalam benaknya.

Dimana ia sekarang? Apa ia hidup dengan baik-baik saja? Apa ia makan dengan teratur?

Terlebih dari itu, Baekhyun agak-agak khawatir dengan percakapan aneh mereka semalam. Baekhyun sedikit mengerti sepertinya Ayahnya berusaha untuk memperingatkan sesuatu.

Sesuatu yang sepertinya berbahaya.

Seakan teringat akan perbincangan mereka (Baekhyun tidak yakin apakah itu pantas disebut sebagai perbincangan) ia mengeluarkan buku catatannya dan membuka halaman terakhir, tempat dimana ia biasanya menulis lirik atau hanya sekedar menggambar not lagu jika ia bosan di dalam kelas, dan menatap pada pojok kiri paling bawah. Sebuah tulisan milik dirinya sendiri yang ditulis tergesa-gesa tertera di sana.

Yang Tze. Viper.

Apa ini sebuah nama? Baekhyun tidak yakin. Petunjuk? Entahlah. Otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih, dan ia mesti menjalani hari yang dirasanya cukup berat.

Selama satu hari itu, tidak ada satupun materi pembelajaran yang masuk ke dalam kepalanya.


Dua hari setelahnya, berita itu muncul.

Baekhyun sedang duduk bersila di atas pangkuan Chanyeol di atas karpet, tepat di depan televisi sembari mengunyah popcorn dengan lemah. Chanyeol sendiri jelas tidak keberatan. Baekhyun tiba-tiba memunculkan kepala ungunya dari ujung tangga dan menatap Chanyeol tanpa berbicara, lalu tiba-tiba saja meminggirkan semangkuk penuh popcorn dari pangkuan Si Tiang itu dan mendudukkan dirinya sendiri di sana. Chanyeol tertawa lalu menunduk dan menggigit gemas pundak Baekhyun, sementara Si Mungil itu mengaduh.

"Apa-apaan sih, Chanyeol?" katanya tidak terima, bersungut-sungut sembari mengelus pundaknya sendiri.

"Kau sedang bosan belajar, ya?" Goda Chanyeol, mulai memeluk Baekhyun. "Syukurlah kau akhirnya bosan juga."

Terang saja Chanyeol bersyukur. Dia sudah tidak diperdulikan selama—ah, sudah berapa lama? Ia tidak tahu. Pokoknya sulit sekali untuk berdekatan sedikit saja dengan Baekhyun. Dan ketika si mungil itu berinisiatif untuk memulainya sendiri, tentu saja Park Chanyeol baru saja merasa tertimpa oleh hujan emas.

Baekhyun mengangguk, meraih segenggam popcorn. "Aku tidak bisa berkonsentrasi terhadap apapun. Kepalaku sakit."

Chanyeol mengelus surai mangentanya. "Kau baik-baik saja?" kemudian menunduk untuk menanamkan satu kecupan di bahu Baekhyun.

"Tidak." Jawab Baekhyun segera, mengunyah popcorn-nya. "Kita nonton apa sih?" katanya tak senang, hidungnya mengerut lucu sementara matanya menatap pada dua petinju yang saling—well, meninju satu sama lain. Konten kekerasan seperti ini jelas bukan favoritnya.

Kalau kau bertanya apa film favoritnya, ia mungkin akan segera menjawab The Amazing World of Gumball tanpa ragu. Ugh, Darwin itu ikan emas paling lucu sedunia, tahu.

"UFC." Jawab Chanyeol, lalu, "mau membicarakannya padaku?" pancing Chanyeol lagi, namun ia berusaha untuk tidak terlalu kentara. Chanyeol yakin bahwa mereka sedang berada dalam tahap saling percaya, setidaknya ia pikir begitu.

"Tidak juga." Balas Baekhyun lagi, jelas sekali tidak mau membicarakannya.

Chanyeol menghela napas berat, Baekhyun memang seperti ini akhir-akhir ini. Chanyeol tidak pandai dalam mendiskripsikan sesuatu, tapi ia merasa Baekhyun agak kekurangan emosi belakangan ini. Atau malah sedang menahan emosinya? Sehingga untuk beberapa percakapan mereka, Baekhyun hanya membalasnya datar. Seakan-akan ia sedang menahan sesuatu agar tidak meledak.

"Boleh aku menggantinya?" kata Baekhyun sembari meraih remote televisi, menoleh kepada Chanyeol yang tertegun di belakangnya.

Chanyeol terlonjak sedikit dan tersenyum, lalu mengusak sayang surai magenta Baekhyun. "Terserah kau saja, pendek."

Baekhyun menekan-nekan tombol remote untuk beberapa saat, berusaha untuk mendapatkan channel favoritnya—Cartoon Network.

Membiarkan Baekhyun melakukan sesuatu pada remote-nya, Chanyeol kemudian mendekatkan tubuhnya pada Baekhyun, memeluknya dari belakang sementara ia menenggelamkan kepalanya di perpotongan leher Baekhyun.

Kemudian, Chanyeol berbisik rendah. "You can always talk to me, you know that, right, Baekhyun?"

Jari Baekhyun berhenti menekan tombol, ia menggigit bibirnya dan hampir menangis. Tapi ia berusaha untuk tidak menanggapi pernyataan itu. Ia akan pura-pura tuli, dan Chanyeol sepertinya memahami hal tersebut karena pria itu akhirnya ia mengangkat wajahnya dari perpotongan leher Baekhyun, kembali menghela napas berat. Lalu seakan tidak terjadi apa-apa, ia berkata, "aku sayang padamu, bodoh. Setidaknya kau harus tahu itu."

Pipi Baekhyun memanas, begitu juga matanya. Ia menggigit bibirnya makin kuat, lalu memutuskan untuk berhenti pada channel yang tengah menampilkan berita karena—demi celana dalam Neptunus! Dimana sih channel Cartoon Network sialan itu?!

"Berita selanjutnya," seorang pembawa berita wanita duduk dengan kaku di atas mejanya, mengenakan setelan rapi berwarna biru tua dengan bros besar berbentuk burung walet tersemat di dada kanannya. Riasan tipis menghiasi wajahnya, dan rambutnya dipotong pendek memberikan kesan rapi yang kaku.

"Buronan berbahaya yang paling ditakuti seluruh warga Korea Selatan akhirnya menampakkan diri." Ia berhenti sebentar, sementara foto buram muncul di samping kiri tubuhnya. "Byun Han, yang selama enam bulan terakhir hidup layaknya hantu, pada Selasa kemarin, 5 Desember 2017, tertangkap kamera CCTV di daerah perbatasan sedang menggunakan telepon umum."

Mata Baekhyun membelalak. Ia menjatuhkan remote-nya sementara di belakangnya, emosi Chanyeol tak terbaca. Mereka sama-sama mematung.

Foto buram itu gelap, jenis foto yang diambil dari kamera ponsel murahan pada malam hari, memperlihatkan seorang pria yang menggunakan jaket padding hitam tebal, topi di kepala yang menutupi setengah wajahnya, berdiri tepat di depan pintu kotak telepon umum, seperti baru saja habis menelpon dan berniat untuk pergi. Orang yang tidak akan kenal mungkin akan berpikir dua kali apakah pria yang tertangkap CCTV itu benar Byun Han atau bukan, namun Baekhyun, yakin dengan segenap hatinya—meski wajah yang tampak sama sekali tidak jelas—pria itu adalah Ayahnya.

Masih dengan mimik serius, pembawa berita wanita itu melanjutkan, "Byun Han diduga sebagai tersangka pembunuhan eksekutif manajer perusahaan mebel terkenal di daerah Gangnam, dan semenjak kejadian itu dilaporkan menghilang. Beberapa bulan lalu polisi meminta keterangan kepada keluarga tersangka," foto Baekhyun kemudian muncul, fotonya saat masih menggunakan seragam sekolahnya yang lama—mereka mem-blur bagian mata Baekhyun. Foto Bibi Yujeong kemudian juga ikut muncul dan mereka melakukan hal yang sama, "namun dari keterangan polisi, keluarga tersangka sama sekali tidak mengetahui keberadaan tersangka saat ini."

Foto-foto itu menghilang, digantikan kembali oleh wajah sang pembawa berita. "Meski sudah diketahui sedang berada di daerah perbatasan, masih belum diketahui lokasi pasti dimana Byun Han berada. Untuk saat ini, belum ada keterangan pasti dari pihak berwajib—"

Layar televisi menghitam.

Baekhyun menoleh dan mendapati Chanyeol menekan tombol off dan kemudian melemparkan remote itu menjauh.

"Baekhyun," panggil Chanyeol hati-hati, menatap Baekhyun yang tampak seperti orang ling-lung. Matanya tidak fokus. Ia menurunkan Baekhyun dengan pelan dan hati-hati dari pangkuannya, membiarkan si mungil itu duduk bersila di hadapannya.

"Baekhyun, lihat aku." Panggil Chanyeol lagi, sementara mata Baekhyun menerawang jauh menembus Chanyeol, kali ini berkaca-kaca.

Sesuatu di dalam diri Chanyeol terasa diremas, dan ia membencinya. Ia selalu membenci perasaan ini. Perasaan dimana ia tidak bisa menghentikan Baekhyun menangis dan sepertinya selalu gagal membuat Baekhyun bahagia. Demi Tuhan, kenapa Park Chanyeol sungguh tidak berguna?

Dagu Baekhyun bergetar.

"Byun Baekhyun, lihat aku!" Chanyeol membentak, dan si mungil itu terlonjak. Matanya kembali fokus dan ia menatap Chanyeol. Sebutir kristal bening jatuh dari matanya dan turun mengalir ke pipinya yang memerah.

"Chan-Chanyeol," panggil Baekyun lirih, dan Chanyeol merasa seperti dirinya baru saja didorong dari tebing tinggi yang tidak ia ketahui pasti dasarnya.

"Hei, Baekhyun," ia merangsek maju sedikit, menangkupkan kedua tangannya ke wajah Baekhyun, "tidak apa-apa." Bisiknya lembut, mengecup satu-satu air mata yang mulai turun ke pipi Baekhyun yang memerah. "Aku disini. Tidak apa-apa."

"Apa kau membenciku sekarang?" tanya, mulai tersedu. Suaranya parau dan bergetar.

Chanyeol menggeleng kuat sekali, tidak mengerti kenapa kalimat itu bisa terlontar dari bibir Baekhyun, "tidak pernah, Baekhyun. Tidak sekalipun. Aku menyayangimu, kau tahu itu."

"A-apa kau melakukan ini hanya karena kau…" Baekhyun menggigit bibirnya, "mengasihaniku?"

Chanyeol, masih menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah Baekhyun, membawanya mendekat, memaksakan mata Baekhyun untuk bertemu pandang dengan matanya. "Dengarkan aku, bodoh." Katanya serius. "Aku mencintaimu. Aku. Sangat. Mencintaimu. Apa itu tidak cukup? Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan membencimu. Apapun yang akan terjadi, aku akan selalu disini. Kau harusnya—"

Lalu tangis Baekhyun pecah, ia tersedu-sedan, tidak mengerti kenapa dirinya bisa menjadi begitu sedih. Beberapa hari ini merupakan hari yang cukup berat baginya, dan sejujurnya itu salahnya sendiri. Ia bisa saja lebih terbuka kepada Chanyeol dan menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi, namun Baekhyun selalu takut. Ia takut akan reaksi Chanyeol nantinya. Apa yang Chanyeol pikirkan jika ia berhubungan dengan Ayahnya—yang notabenenya adalah orang paling dicari dan paling berbahaya saat ini?

Ia benci penolakan, dan semua ini sudah terasa nyaman baginya. Ia ingat reaksi terkejut Luhan waktu ia memberitahu siapa ayahnya. Baekhyun bisa memakluminya, tapi bukan berarti ia sudah terbiasa. Tidak. Ia hanya membohongi dirinya sendiri kalau ia berkata bahwa dirinya sudah terbiasa. Reaksi semacam itu selalu membuatnya tidak nyaman dan kadang membuat pertahanan dirinya runtuh.

"Baekhyun, astaga," Chanyeol berkata lirih sementara ia menarik Baekhyun ke dalam pelukannya, membuat kungkungan nyaman untuk tubuh mungilnya dengan tubuhnya sendiri, berusaha meredam tangisnya yang kian menjadi. Si mungil itu menangis di dada Chanyeol, mengubur wajahnya di sana dengan sedu-sedan yang memilukan.

"Baekhyun," kata Chanyeol lagi, "tidak apa-apa. Aku ada disini dan aku berjanji semuanya akan baik-baik saja."

Tidak. Tidak dalam waktu dekat.

Bahkan benak Chanyeol saja mengucapkan hal itu.

Ia akan memikirkan itu nanti.

"Tidak apa-apa, Baekhyun." Katanya, mengecup puncak kepala Baekhyun, lagi dan lagi, "ssshhhh, tidak apa-apa. Kita akan baik-baik saja."

Ia sungguh berharap semuanya akan baik-baik saja.

Baekhyun kemudian merangsek naik dan mengalungkan lengannya pada leher Chanyeol ketika tangisnya mulai reda. Hanya sedikit sedu yang tersisa, bersamaan dengan bunyi seperti orang tercekik. Chanyeol menepuk-nepuk punggungnya, mengelusnya sayang. Si mungil itu menenggelamkan wajahnya pada bahu bidang Chanyeol, membiarkan aroma dan hangatnya Chanyeol membuatnya tenang.

Ketika akhirnya ia sudah merasa baik, Baekhyun melepaskan pelukannya dan mendapati sweater Chanyeol basah.

"Maafkan—aku." Katanya malu saat ia melihat sweater Chanyeol basah, masih tersedu.

Menghiraukan itu, Chanyeol mendekat dan meneliti wajah Baekhyun yang sekarang bengkak dan merah, terutama matanya. Jika tidak dalam kondisi bersedih Chanyeol mungin akan mulai menggigiti pipinya yang menggembung merah itu. Bahkan dalam keadaan mata bengkak (yang omong-omong membuat matanya beribu kali lebih sipit) ia tetap terlihat imut, dan Chanyeol pikir ia hampir gila.

"Aku juga," bisik Baekhyun, hampir-hampir tidak terdengar oleh Chanyeol.

"Hah? Apa?" tanya Chanyeol ketika ia bergerak maju dan mengusap jejak-jejak air mata dari pipi Baekhyun yang memerah.

"Sangat..." Baekhyun menarik napas dan menghembuskannya cepat, "mencintai Chanyeol?"

Chanyeol menaikkan alisnya dan cengiran lebar tercetak di wajahnya. "Oh, wow." Ia bersiul, jelas-jelas takjub.

Baekhyun yang tadinya masih menunduk, kini bergerak maju dan memberikan Chanyeol satu kecupan cepat pada bibirnya. "Terima kasih." Katanya, jelas-jelas berbisik sementara rona merah mulai merambat turun ke leher dan bahunya yang seputih susu.

Chanyeol tertawa. "Tentu," katanya, kemudian tatapannya berubah jahil. "But you know, I got wet boogers all over me." Ia menunjuk sweater-nya yang basah, berusaha memasang wajah jijik akibat air mata (dan jelas sekali ingus yang banyak) akibat tangisan Baekhyun.

Dan Baekhyun mendongak, memelototi Chanyeol sengit, lalu memukul kepalanya, keras sekali hingga kau bisa mendengar bunyi tuk keras yang diakibatkan perbenturan antara kedua tulang—Baekhyun berharap pukulannya ini benar-benar membuat Chanyeol idiot.

"Aku tarik kata-kataku dasar Park Chanyeol bodoh!" Baekhyun berseru galak.

Chanyeol mengaduh sembari tertawa. "Aku juga mencintaimu, Byun pendek. Sangat."

"AKU TIDAK PEDULI!"

Lalu Chanyeol tertawa lagi, keras sekali.

"Baekhyun," panggilnya kemudian ketika tawanya reda, "kita akan memikirkan ini nanti. Aku yakin, seperti dengan apa yang telah kau yakini, Ayahmu tidak bersalah. Kita…" ia diam sebentar, "akan mencoba untuk membuktikannya."

Baekhyun mendongak dan mata yang masih berkaca-kaca membulat. "Bagaimana?"

Chanyeol memberinya senyum paling percaya diri dan paling menenangkan yang ia miliki, mengusak sayang surainya yang cokelat keunguan, "We'll figure it out. Later. Trust me, 'kay?"


Berita itu menyebar layaknya virus. Orang-orang mulai panik (Mark dari kelas I C berkoar-koar tentang keluarga jauhnya yang tinggal di dekat perbatasan dan mulai berkata bahwa ia sungguh mengkhawatirkan mereka, apalagi dengan pembunuh berdarah dingin yang diketahui sedang berkeliaran di daerah perbatasan sana).

Pembunuh berdarah dingin pantatmu. Maki Baekhyun dalam hatinya.

Baekhyun, tentu saja berusaha menutup telinganya. Bahkan teman-teman kelasnya saja sepertinya selalu menjadikan Ayahnya sebagai bahan pembicaraan. Mereka sesekali akan mengajak Baekhyun untuk bergabung, terutama Jongdae—Chen, dia berisik sekali. Baekhyun benar-benar berniat untuk tidak menghiraukannya saja karena seperti yang sudah dapat ditebaknya, hal-hal yang selalu ingin Chen bicarakan selalu berkaitan Minseok hyung. Pria itu juga menagih janji Baekhyun, yang omong-omong belum ia laksanakan sama sekali.

Tapi Chen sepertinya sadar akan suasana hati Baekhyun yang sedang buruk, maka pria idiot itu melangkah mundur dengan teratur—which is, such a relieve. Baekhyun sungguh ingin sendiri.

Tidak sendirian juga sih, sebenarnya. Ia ingin bersama Chanyeol saja. Chanyeol sudah berjanji untuk mencoba membuktikan bahwa Ayahnya tidak bersalah, bahwa mereka akan baik-baik saja, yang sebenarnya sangat tidak realistis. Bagaimana mungkin semuanya akan baik-baik saja? Bagaimana mungkin dirinya akan baik-baik saja? Baekhyun meyakini bahwa mungkin kalimat Chanyeol hanyalah sebagai kalimat lalu. Bukannya ia tidak percaya Chanyeol, hanya saja, bahkan polisi saja tidak bisa mengerjakan kasus ini dengan benar. Tapi Baekhyun menghargai semua usaha yang Chanyeol lakukan demi menghiburnya. Sungguh. Dia pria yang manis sekali dan Baekhyun menyayanginya.

Bibi Yujeong juga belum menelponnya. Baguslah. Baekhyun belum ingin direcoki dengan kalimat-kalimat panik Bibinya.

Tapi, meski begitu, ia sungguh ingin merapalkan kalimat Chanyeol dalam kepalanya. Untuk beberapa hari ini saja karena ia harus bertahan. Setiap orang melanjutkan hidupnya, tidak terkecuali Baekhyun.

Chanyeol berkata bahwa ia akan mengambil kelas tambahan untuk menyempurnakan teknik vokalnya, dan meminta maaf dengan sangat—seperti yang diingat Baekhyun tadi pagi; maafkan aku Baekhyun aku benar-benar minta maaf karena lupa memberitahumu, maafkan aku karena kau harus makan siang sendirian dalam tiga hari ini, aku akan menebusnya dengan weekend date nanti, ya ya ya ya? Maafkan aku—Baekhyun terkikik mengingat kalimat Chanyeol dan berusaha untuk menghitung berapa kali ia mengucapkan kata 'maafkan aku'.

Bodoh sekali, Si Tiang Park itu.

Lagi pula Baekhyun tidak keberatan. Sudah berapa lama sejak dia pindah ke sekolah ini? Baekhyun tidak tahu. Tapi yang pasti ia belum banyak bergaul. Bukannya ia tidak mau. Lebih menjurus ke tidak sempat sebenarnya. Dengan segala tugas dan tes yang harus ia kejar, belum lagi kerja paruh waktunya di Rainbow Cream. Selain teman-teman kelasnya dan geng Chanyeol, Baekhyun pikir ia belum benar-benar memiliki teman.

Ya, harusnya semuanya akan baik-baik saja.

Baekhyun melantunkan kalimat itu riang sementara kakinya melangkah ringan melintasi lorong sekolah, bel jam makan siang sudah berbunyi kurang lebih lima menit yang lalu, dan ia kelaparan. Si mungil itu hendak melangkahkan kakinya menuju kafetaria, sedikit meratapi kenyataan bahwa ia akan makan sendiri—ah, mungkin dia akan duduk di meja makan bersama Chen, itupun kalau-kalau mereka bertemu, atau duduk bersama Luhan, Kris dan Sehun? Baekhyun akan memikirkannya nanti.

Seharusnya, semuanya berjalan baik-baik saja.

Tidak ada yang menyadarinya. Tidak seorang pun hingga—

"Hei, anak pembunuh!"

Baekhyun menghentikan langkahnya, sementara tubuhnya membeku dan bulu romanya berdiri. Senyumnya lenyap. Perlahan, ia menoleh.

Baekhyun mendapati lorong yang tadinya penuh dengan siswa yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, kini berhenti dan—oh Ya Tuhan—berpuluh-puluh mata menatapnya.

Mata Baekhyun nyalang, mencari-cari sumber suara. Awalnya ia tidak menemukan apapun kecuali kerumunan orang yang mulai berbisik-bisik di dekatnya. Ia seperti berdiri sendiri, terasingkan, sementara murid-murid dalam seragam kuning berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, berbisik, tatapan mengejek terlempar padanya dari seluruh penjuru arah.

Kemudian Baekhyun melihatnya, melenggang santai dari kerumunan, berkeringat dan rambut basah, menenteng sepatu olahraganya sementara kakinya sendiri polos. Ia berjalan, berhenti di depan Baekhyun, tersenyum ramah. Sepertinya ia baru saja bermain basket di lapangan.

"Woah, sampai syok begitu. Padahal aku hanya bercanda." Ucapnya, dan ia tergelak. Ada sesuatu yang membuat Baekhyun merasa tidak nyaman dalam cara ia tertawa. Penuh sarkasme, penuh rasa benci dan iri, barangkali? Baekhyun tidak tahu. Ia tidak menyukainya.

Kening Baekhyun berkerut, tidak mengerti dimana salahnya dan ia merasa luar biasa terhina. Otak Baekhyun berpikir keras. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya, sementara ia mulai menggigiti bibirnya. Ia berani bersumpah bahwa ia tidak pernah melihat pria ini sebelumnya.

Kemudian, masih dengan santainya, ia berjalan melewati Baekhyun dan berhenti pada loker tepat di belakang Baekhyun. Ia membuka lokernya, memasukkan sepatu olahraganya dan meraih handuk. Pria ini tinggi, matanya tajam dengan rambut gelap yang basah. Kilatan aneh di matanya membuat Baekhyun bergidik.

"Jadi, siapa—ah, Baekhyun, benar kan?" katanya lagi, menanyakan nama Baekhyun yang sepertinya sudah ia ketahui, kemudian menoleh pada Baekhyun dan tersenyum miring, "bagaimana kabar Ayahmu?"

"Aku tidak kenal kau." Kata Baekhyun, meloloskan kalimat yang satu-satunya dapat terpikir olehnya saat itu.

Kerumunan itu mulai berbisik-bisik. Melihat itu, pria itu memukul kepalanya pelan, seakan-akan baru teringat akan sesuatu. "Ya ampun," katanya, berbalik kepada kerumunan, "kalian sungguh tidak menyadarinya, ya? Bahkan hanya dengan marganya saja aku sudah tahu."

Dari kerumunan, suara kesiapan terdengar, tumpang-tindih bagaikan kaset rusak, namun Baekhyun masih dapat mendengarnya dengan sangat jelas. Terlalu jelas hingga Baekhyun merasa bahwa sesuatu dalam dirinya mendidih, dan ia ingin menampar satu-satu orang di hadapannya ini.

"Buron itu kan, Byun Han?"

"Pantas saja aku merasa familier dengan fotonya."

"Ya ampun,"

"Sungguh, itu Ayahnya?"

"Kalau aku jadi dia sudah gantung diri. Memalukan sekali."

"Tidak tahu malu."

"Anak pembunuh."

Baekhyun melihat ke sekelilingnya dengan mata membulat, kilatan kemarahan terpancar jelas di sana. Ia menggigit bagian dalam bibirnya makin kuat, merasakan mulutnya dipenuhi oleh cairan amis—ia mungkin menggigit terlalu kuat. Meski begitu, ia mengepalkan tangannya, bertekad bahwa semuanya akan baik-baik saja, sama seperti yang dikatakan Chanyeol.

"Kalian tidak tahu apa-apa!" teriaknya kuat sekali, membuat kerumunan itu terlonjak. Beberapa siswi di pojok loker bahkan sampai mundur ke belakang, takut-takut Baekhyun mugkin menyerangnya, atau bahkan mencekiknya.

"Woah, tenang dong." Katanya, memberikan Baekhyun cengiran lebar sekali, sementara air mata mulai menggenang di pelupuk mata Baekhyun. "Dia ini tidak tahu apa-apa. Kalian tidak boleh sembarangan menuduh."

Pria brengsek yang bahkan tidak Baekhyun ketahui namanya itu kemudian mengangkat tangannya dan mengalungkan lengannya di leher Baekhyun, menariknya mendekat dan membisikinya sesuatu, "iya kan, anak pembunuh?"[]


A/N : Hello, I'm back! Eng-i-eng siapakah diaaaaaa hahahaha ngomong-ngomong MAMA kemarin ancur banget ya. Aku sebel sampe ke ubun-ubun. We always know that EXO deserves better. Aku harap mereka nggak dateng ke acara kayak begituan lagi. They treated our king like shit. Ugh. Ya, pokoknya MAMA taun ini beneran such a mess banget. Anyway, gimana chapter ini?

AND EXO'S WINTER COMEBACK SOON, WHO'S EXCITED?!

Sekali lagi terimakasih buat yang sudah menyempatkan baca dan review, seperti biasa itu berarti banget buat aku.

Thanks a lot, pretty eris! xoxo