[CHAPTER 18 - THE STALKER]


"I knew nothing about loss. Nobody has taught me about pain. If only one person willing to stay beside me, I'll do anything in return."

—The Stalker Guy


Hatinya merasa tersentuh untuk pertama kali, dan ia membencinya. Ia begitu membencinya hingga membuatnya jijik. Seharusnya ia tidak perlu menonton casting dadakan tempo itu, karena pria yang bernyanyi di panggung hari itu—yang kemudian di terima di kelas II A sebagai murid baru—adalah mimpi buruknya. Pria yang berdiri di panggung hari itu memiliki rambut halus yang tampak seperti helaian gulali, berwarna cokelat keunguan, dan suaranya—sial. Ia membenci ini, tapi ia harus mengakuinya. Mungkin suara itu yang membuatnya amat tersentuh.

Dari kepala sampai kaki, penampilan pria itu tanpa cela. Bahkan kepribadiannya juga tanpa cela. Seluruh tubuhnya dilingkupi aura seakan ia adalah malaikat, putih bersih, sementara dirinya sendiri adalah setan, hitam kelam dengan segala keburukannya.

Mungkin itu juga yang membuatnya amat begitu membencinya. Karena mereka begitu berbeda.

Selama beberapa bulan ini, hidupnya seperti stalker sinting. Ia mengamati pria itu tiap hari—di lapangan basket, di kafetaria, di lorong sekolah, di toilet, di tempat kerjanya di Rainbow Cream, sebut saja. Dan fakta bahwa pria itu sama sekali tidak memiliki hal untuk dibenci membuat kemarahan memupuk dalam dirinya. Ia terus bertanya-tanya mengapa seseorang bisa terlahir begitu sempurna? Sementara mengapa ia terlahir dalam keadaan menjijikkan seperti ini?

Oh, mungkin tidak juga, pikirnya ketika ia melihat pria itu sering sekali berkumpul dengan manusia idiot—Park Chanyeol dan geng bodohnya. Ia tersenyum. Bagus sekali kalau begitu. Tapi kemudian senyumnya memudar karena—kenapa? Kenapa senyumnya tiba-tiba hilang? Kenapa Park Chanyeol sialan itu menyelamatkanya dari kejatuhan ember kala itu alih-alih membiarkannya saja? Kenapa dia keluar dari mobil Park Chanyeol tiap pagi dan tiap pulang sekolah? Kenapa dia tersenyum begitu cerah? And on top of that, why Park Chanyeol?

Apa yang membuat Park Chanyeol begitu hebat?

Ah, jelas sekali, dia merasa seperti sudah sinting. Jadi ia membulatkan tekad untuk tidak melakukan aktivitas stalker sintingnya lagi. Ia seperti pria mesum yang sedang menguntit seseorang, dan ia benci dengan kenyataan bahwa semua tentang pria pendek bernama Byun Baekhyun itu menganggunya. Memangnya siapa Byun Baekhyun berani-beraninya membuat harga dirinya merasa terinjak-injak?

Untuk beberapa hari terakhir, hal ini berhasil. Ia menahan diri untuk tidak mengikuti aktivitas Baekhyun dan mengikutinya sambil mengendap-endap. Meski harus ia akui ia agak-agak melirik postur mungilnya yang menyebalkan tiap kali mereka tidak sengaja bertemu—dan tentu saja, yang menjadi bahan lirikan sama sekali tidak sadar. Ia mendengus geli.

Namun, sepertinya hal menjadi begitu rumit ketika muncul berita aneh malam itu. Ia bisa mengenalinya dalam sekali pandang. Meski media mem-blur bagian matanya, ia tahu siapa pria itu, dan dengan kenyataan bahwa Ayahnya adalah psikopat sinting makin membuat semuanya menjadi rumit.

Simpati? Oh tidak. Tidak ada di dalam kamusnya.

Ia malah tertawa, keras sekali, dan keinginan untuk menindas Baekhyun dan membuatnya terisolasi tiba-tiba saja muncul, begitu kuat hingga ia sendiri merasa bersemangat. Keinginan yang sebenarnya tidak ada dan tidak akan pernah ia rencanakan ini tiba-tiba saja berkobar begitu kuat, seakan ia adalah api yang hampir padam, tapi seseorang baru saja menuang bensin di atasnya—dengan begitu banyak.

Ia akan membuat Baekhyun dibenci, terisolasi, terasingkan, hingga Baekhyun menyadari bahwa hanya ada dirinya di sana, bukan Park Chanyeol bodoh itu, bukan orang lain, melainkan dirinya.

Hanya dirinya yang setia.

Dan siapa tahu, mungkin Baekhyun akan memilihnya?


Apapun yang terjadi setelahnya, Baekhyun mengingatnya dengan sangat jelas.

Seseorang dengan kepala pirang melompat dalam kecepatan kilat, menyeruak dari kerumunan dan melayangkan tinjunya, begitu keras hingga pria yang menjadi sasaran tinju terpental ke belakang dengan sudut bibir dan hidung yang mengeluarkan darah.

Lalu Baekhyun merasakan seseorang menariknya mundur dan ia menoleh, melihat Luhan tersenyum manis dengan tatapan meminta maaf sembari berbisik, "maaf kami terlambat," dan Sehun di sampingnya yang kemudian menyahut, "you okay, hyung?"

Jika mereka berada dalam keadaan normal, Baekhyun mungkin akan berseri. Ini kali pertama Sehun memanggilnya hyung dan ia sangat menyukainya. Ini bukti bahwa mereka sudah cukup dekat, bahwa mereka mungkin sahabat. Tapi seperti yang sedang terjadi, sekarang bukanlan keadaan normal, jadi Baekhyun membalas mereka berdua dengan tatapan kosong. Benaknya ingin bersuara dimana Chanyeol, karena matanya sama sekali tidak bisa menangkap sosok pria itu dimanapun.

Melihat itu, Sehun mengernyitkan dahinya. "Lu, pegangi ia sebentar." Katanya, lalu Luhan mengangguk sebagai jawaban, sementara Sehun melangkah melewati kerumunan dan berhenti pada titik pusar yang menjadi kerumunan.

"Woah! 1000 points!"

Baekhyun terlonjak dan menoleh pada tiga orang yang menjadi kerumunan itu. Kris, yang barusan memekik layaknya Bruce Lee, mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah.

Sehun menepuk pundak Kris, bertanya apakah ia baik-baik saja, lalu Kris menjawab dengan tawa sumbang.

"Oh, who do we have here, people?!" Kris tiba-tiba berseru pada kerumunan dengan riang, kemudian kembali menatap orang yang tadinya tengah berbaring dengan napas pendek-pendek yang kini sedang berusaha untuk berdiri dengan susah payah. "The Almighty Johnny Seo!"

Sehun jelas tahu siapa pria brengsek ini. Mereka satu angkatan.

Johnny Seo, kelas I D, jurusan Instrumen dan Vokal, adalah manusia paling menyedihkan di SoPA. Ia aneh, tidak begitu banyak bergaul dan seringkali menghabiskan waktunya di gudang instrumen untuk anak-anak kelas D—tidak ada yang tahu apa yang berusaha ia lakukan. Beberapa siswi pernah memergokinya mencekoki kucing dengan racun tikus di dalam ruangan itu, tapi tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sebenarnya ia lakukan di dalam sana.

Bagaimana Sehun bisa tau? Tentu saja ia tahu. Ia pernah menguntit Luhan di awal semester dan menyebabkan masalah yang cukup besar. Johnny Seo membawa Luhan kerumahnya dalam keadaan pingsan, lalu berusaha untuk menelanjanginya dan selanjutnya—kau mungkin tahu apa yang terjadi selanjutnya lantaran Sehun benar-benar membenci membicarakan hal ini. Mengingatnya saja membuatnya naik darah. Detik itu juga, Sehun tahu kalau pria bernama Johnny Seo ini sakit. Harusnya waktu itu ia melakukan yang sekarang Kris lakukan padanya—memukulinya. Manusia seperti ini tidak pernah jera. Kali ini hal yang sama terjadi lagi kepada Baekhyun dan ia sungguh tidak menginginkannya. Dia mulai berpikir untuk mencekik Johnny sampai mati.

Sehun yang saat itu berdiri di samping Kris tidak mengatakan sepatah kata pun, melainkan hanya bersedekap dengan ekspresi dingin tidak terbaca. Untuk pertama kalinya, Baekhyun seperti melihat orang lain dalam diri Sehun, karena sejauh yang ia kenal, Sehun tampak seperti bocah ingusan yang senang mengekori Luhan.

"Oops, sorry," Kris kembali berujar, matanya tajam dan ia berusaha untuk memasang ekspresi skeptis yang jenaka di wajahnya, "kukira kau samsak tinju di rumahku. Soalnya samsak tinjuku benda mati yang tidak punya otak. Kupikir kalian satu spesies." Dia terkekeh. "My bad."

Kerumunan riuh dengan kalimat celaan Kris, dan pria yang ternyata bernama Johnny Seo itu tersenyum.

"Ah, lawakanmu kurang lucu, Kris sunbae. Aku bisa mengatakan hal yang lebih lucu dari itu," Johnny beralih menatap Baekhyun, "iyakan, anak pembunuh?"

Kris menggeram dan maju selangkah, tersulut oleh omongan Johnny. Namun Sehun menahannya. Pria itu berdecak. "Halo, Johnny." Sapa Sehun dengan suara jijik, sementara tangan di dalam saku celana dan kemudian ia mendesah letih. "Kekanak-kanakan sekali. Kulihat kau sama sekali tidak berubah dan masih menjadi sampah seperti biasa?"

"Apa urusanmu, Oh?" kata Johnny tersinggung. "Lebih baik kau bawa saja kawan pirang bodohmu dan pacarmu dari sini. Aku hanya punya urusan dengan si Byun di sana." Ia kemudian tersenyum lembut kepada Baekhyun, sementara Baekhyun berjengit jijik dan mundur selangkah.

Luhan mengetatkan pelukannya pada pinggang Baekhyun dan memaki, "dasar sinting."

Johnny meludahkan liurnya yang telah bercampur darah dan menatap baik kepada Kris maupun Sehun dengan bengis. Ia menuding Sehun dengan telunjuknya. "Urusanku denganmu sudah selesai! Aku sudah memberikanmu pacar sialan yang kau inginkan, ingat? Aku merelakan pria murahan ini untukmu! Harusnya kau berterimakasih padaku."

Sehun selalu dianggap manusia tanpa ekspresi, dan itu benar. Tapi kali ini, kedua sudut bibirnya menukik tajam ke atas, dan ia mendesah. Ia mengusap dahinya sembari tertawa. Manusia memiliki batas, dan Sehun kala itu mungkin sudah berada di tepi jurang, siap untuk terjun. Ia merasakan darahnya berdesir, kemudian berkumpul di satu titik di kepalanya, dan ia tidak bisa mendengar apapun selain bunyi detak jantungnya sendiri yang kian memekakkan telinga.

Tiga, dua, satu. Boom.

Sehun menerjang dada Johnny, membuat pria itu kembali terpental dan mengaduh kesakitan. Sebelum Johnny sempat bangkit, Sehun sudah terlebih dahulu menduduki tubuhnya, meraih kerah seragamnya dengan tangan kiri, lalu melayangkan tinjunya berkali-kali ke wajah pria itu.

Johnny sama sekali tidak melawan. Ia malah tersenyum remeh saat Sehun terengah-engah kehabisan napas, lalu berkata dengan mulut penuh darah, "apa ini? Hanya segini kemampuanmu? Kau yakin dirimu pria?"

Sehun menggeram, kembali melayangkan tinjunya tanpa mengindahkan fakta bahwa buku jarinya sudah lecet dan lebam.

Semua orang begitu terpana sehingga tidak ada yang bergerak. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Sehun menyalurkan emosinya, dan kali ini, emosi itu meledak bagaikan gunung meletus. Sehun yang terkenal tidak banyak bicara dan tanpa ekspresi, kali ini tampak seperti pria sinting yang bisa saja membunuh seseorang saat ini.

Yang pertama kali tersadar adalah Luhan, dia bergerak cepat pada kerumunan dan segera mengaitkan lengannya pada lengan Sehun, memohon kepada dirinya untuk berhenti. "Kris!" Luhan histeris, "apa yang kau lakukan?! Cepat bantu aku!"

Kris, yang tampaknya baru sadar, segera melompat dan menarik Sehun menjauh. Melihat itu, Baekhyun ikut masuk ke dalam pusaran itu dan ikut menarik Sehun yang masih menggengam kerah baju Johnny. Wajah Sehun keras, dan matanya penuh kemarahan. Ia kalap. Ia tampak seperti orang kerasukan.

"Sehun, berhenti!" teriak Luhan. "Lepaskan dia!"

Bahkan saat berhasil ditarik menjauh pun, mata Sehun tidak berhenti tertuju kepada Johnny. Ia terengah-engah sementara Luhan menatapnya, matanya berkaca-kaca.

Johnny sendiri memuntahkan darah, wajahnya sudah tidak berbentuk, tapi ia masih mampu untuk duduk dan mengusap mulut dan hidungnya dengan seragam kuning yang ia kenakan.

"Melakukan segala pun untuk pria murahan, huh, Oh Sehun?" katanya lagi, lalu tertawa.

Kris memasang wajah tak percaya. Pria ini benar-benar sinting. Luhan maupun Baekhyun kini menatapnya sengit. Otak pria ini benar-benar rusak.

Sehun kemudian berseru. "BANGSAT! TUTUP MULUTMU KALAU KAU MASIH MAU HIDUP!"

Johnny Seo pura-pura menggigil. "Uh, takut sekali."

Sehun berusaha untuk menerjang lagi, namun Kris, Luhan dan Baekhyun sebisa mungkin untuk menahannya.

"Tahan dirimu, Sehun," bisik Luhan di sampingnya. "He's not worth it."

"Hei, Johnny Seo." Panggil Kris kemudian, berdiri di antara Sehun dan Johnny. "Ini peringatan terakhir untukmu. Jangan berani dekati kami lagi. Dan yang kumaksud dengan kami adalah aku," Kris menunjuk dirinya sendiri, kemudian "Luhan, Baekhyun, Sehun, bahkan termasuk Chanyeol." Ia kemudian menunjuk teman-temannya yang berada di belakangnya.

Johnny benar-benar tampak seperti psikopat sinting lantaran ia hanya terkekeh. "Kita lihat saja nanti."

"Tidak ada nanti, sialan." Sehun menyahut dari balik bahu Kris, lalu mlanjutkan, "ketika 'nanti' itu datang, kau sudah mati. Kau ingat ini baik-baik, Johnny. Kau mati."

Johnny mengangkat bahunya, meludahkan darah lagi. Beberapa mahasiswa yang berada di dekatnya berteriak jijik.

Kris kemudian berbalik dan merangkul tiga teman di belakangnya dalam sekali gerakan. "Ayo pergi," katanya.

Mereka berbalik, berusaha menembus kerumunan, sementara kerumunan dengan seragam kuning itu mulai menepi untuk memberikan mereka akses keluar. Tapi Baekhyun membuat satu kesalahan. Ia menolehkan kepalanya ke belakang, dan mendapati bahwa Johnny Seo tengah melambai kepadanya dengan senyumnya yang menjijikkan, lalu mulutnya yang berdarah-darah dan bengkak membentuk kalimat yang entah mengapa dapat Baekhyun baca.

Kita akan bertemu lagi.


Chanyeol mengepalkan tangannya. "Aku akan membunuh pria itu."

Luhan mendesah. "Sudah cukup, Chanyeol. Tidak apa-apa. Johnny hanya pengecut sinting yang senang mengecoh. Kita tidak perlu memperdulikannya lagi."

Mereka duduk di tepian lapangan basket saat istirahat jam kedua, membawa nampan makan siang keluar dari kafetaria yang penuh. Baekhyun duduk dalam diam sementara Chanyeol berdiri dan bersedekap tak senang, menatapi gerak-geriknya dengan matanya yang setajam elang.

Kris, Sehun dan Johnny dipanggil kemahasiswaan hari itu juga. Mereka diberi skors masing-masing seminggu. Untuk kasus Johnny, petugas UKS membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Lebam yang disebabkan oleh Sehun tampaknya cukup serius.

"Dia pernah melakukan pelecahan padamu, hyung!" Chanyeol membentak. "Johnny itu psikopat mesum!"

Luhan tersenyum kecut. "Aku sudah baik-baik saja, Chanyeol." Ujarnya. "Lagipula ada Sehun. Dia bisa menjagaku. Dan jangan khawatir. Dia tidak akan menganggu Baekhyun lagi." Luhan berpaling pada Baekhyun dan meraih tangannya. "Kami akan melindungimu. Kau akan baik-baik saja."

Chanyeol membuang napas berat. Kepalan tangannya terasa gatal sekali. Seharusnya ia tidak usah mengambil kelas tambahan saja kalau begini jadinya. Baekhyun tidak akan pernah aman dan ia khawatir setengah mati. Ia tidak bisa memantau Baekhyun lebih leluasa.

"Dia tidak menyentuhmu?" tanya Chanyeol, menyembunyikan kepalan tangannya di belakang tubuhnya. Bayangan bahwa pria seperti Johnny Seo menyentuh Baekhyun membuat darahnya mendidih.

Baekhyun menggeleng lemah. Johnny Seo memang mengaitkan lengannya di leher Baekhyun, tapi Baekhyun tidak akan meributkannya. Ia kemudian mendongak dan menatap Chanyeol tepat pada manik gelapnya. Seakan mengerti dengan pikiran Chanyeol, ia berkata, "jangan berpikir untuk berhenti mengambil kelas tambahan hanya karena aku."

Mata Chanyeol membulat. "Ta-tapi—"

"Hyung," panggil Baekhyun cepat sembari menoleh kepada Luhan, berusaha untuk menghindari perdebatan dengan Chanyeol, "apa Kris hyung dan Sehun akan baik-baik saja? Ini tidak akan mempengaruhi nilai mereka, 'kan?"

Luhan mendesah letih, memberikan perasaan was-was kepada Baekhyun. "Aku dan Kris sudah berada di tahun akhir kami, Baekhyun. Kau tahu kan, siswa tahun akhir hanya mempersiapkan diri untuk ujian tertulis untuk masuk universitas saja. Jadi, ya. Kris akan baik-baik saja."

Ini pernyataan yang benar dari Luhan, omong-omong. Beberapa teman kelasnya bahkan sudah tidak pernah datang ke sekolah lagi lantaran sudah berada di bawah naungan agensi musik besar dan siap untuk debut. Luhan dan Kris ingin melanjutkan ke universitas, tentu saja. Jadi ia pikir tidak akan ada masalah dengan Kris.

Tapi kemudian ia menghela napas berat. "Berbeda untuk Sehun. Dia sudah pernah terlibat masalah yang sama di awal semester, dan kurasa Johnny Seo akan mengadukannya habis-habisan pada kemahasiswaan nanti. Sejujurnya aku sedikit khawatir."

Kini gantian Baekhyun yang meraih tangan Luhan. "Aku bisa jadi saksi, hyung. Aku bisa membela Sehun."

"Tentu, Baekhyun. Tapi kau tahu, Johnny Seo itu sinting. He likes to play victim." Luhan memasang ekspresi jijik.

Baekhyun ikut-ikutan menghela napas berat.

Mereka bertiga menatap makanan di atas nampan yang sama sekali belum tersentuh. Tidak ada yang benar-benar berniat untuk menyentuh makanan saat ini.

Ini akan berat sekali, pikir Baekhyun.


Mereka duduk di atas karpet bulu dan duduk melingkar. Tumpukan snack dan coke tertata rapi di tengah, televisi berbunyi dengan volume rendah, menayangkan Running Man, tapi tidak seorang pun datang untuk menonton televisi kali ini.

Kris adalah orang yang pertama kali memecahkan keheningan itu. "Oh, ayolah. Memangnya aku dan Sehun akan mati? Ada apa dengan suasana suram sepert—AWW! APA SIH LUHAN?"

Ya, Luhan baru saja memukul kepalanya tanpa segan. "Enak saja kau bilang mati! Kalau mau mati—mati saja sendiri, jangan bawa Sehun!"

"Wah," kata Kris, berdecak dengan ekspresi sakit hati. "Setelah persahabatan kita selama tiga tahun, setelah semua yang kita lalui, setelah—apa?! Kenapa kau melotot seperti itu?! Memang kenyataannya Luhan itu temanku dulu sebelum jadi pacarmu, dasar bocah ingusan!" Kris balas melotot kepada orang yang baru saja melototinya, Sehun.

"Hyung, kau sungguh akan bertingkah seperti ini ya?!" Sergah Sehun.

Kris mengangkat bahu kesal, meraih kaleng coke dan meneguknya kasar. "Habisnya kalian semua memasang wajah kasihan seperti itu. Aku tidak perlu dikasihani, tahu."

"Bukan kami sih, sebenarnya, hyung." Chanyeol menimpali, kemudian melirik kepada Baekhyun yang masih menatap Kris dengan wajah memelas.

"Ya ampun," Kris mendesah, memutar bola matanya. "Heh, Baekhyun, sudah kubilang aku baik-baik saja." Dia menoleh kepada Chanyeol, "apa sih masalah pacarmu ini, Park?"

Chanyeol tergelak dan mengusap belakang kepala Baekhyun. Ia tidak menjawab, tapi ia tahu alasan kenapa Baekhyun merasa begitu bersalah. Hati Baekhyun itu lembut, dan dua temannya hari ini terlibat masalah hanya karena berusaha membelanya dari pria sinting yang terus meneriakinya sebagai Anak Pembunuh.

Yang mana, bisa jadi, pernyataan itu benar.

Tatapan Baekhyun kini beralih kepada Sehun. Ia melirik buku-buku jari Sehun yang mengelupas dan memar—akibat memukuli wajah sinting Johnny Seo. Luhan sudah membersihkan lukanya tadi dan menambahkan sedikit salep, tapi Sehun menolak untuk diberi plaster lantaran ia merasa tidak bebas dan tidak nyaman, jadi ia membiarkan luka lecetnya terbuka seperti itu.

"Jangan, tolong, jangan katakan lagi, hyung. Aku sudah muak. Jangan—"

"Maafkan aku, Sehun. Aku sungguh tidak menyangka bahwa semuanya akan menjadi seperti ini. Aku sungguh minta maaf. Aku sungguh-sungguh minta—"

"Here we go again." Kris mendesah, meneguk coke-nya lagi.

Ngomong-ngomong, alasan Kris dan Sehun muak mendengar permintaan maaf itu karena mereka sudah mengarnya berkali-kali. Baekhyun terus-menerus mengatakan kalau ia menyesal, bla-bla-bla hitung saja sudah berapa kali ia mengatakannya. Kau juga akan muak mendengarnya.

Kris dan Sehun tentu tahu dan paham mengapa Baekhyun begitu merasa bersalah. Masalahnya, baik Kris dan Sehun sudah berkata bahwa mereka baik-baik saja, tapi Baekhyun tidak mau berhenti.

"Baekhyun," panggil Chanyeol, menghentikan ocehan Baekhyun. "Bilang 'aaaah'."

"Kenapa?" Hidung Baekhyun mengerut lucu. Tapi akhirnya ia mengikuti permintaan Chanyeol. "Aaaaaaaahhh."

Chanyeol dengan buru-buru memasukkan berbagai makanan ke dalam mulutnya, membuatnya sibuk untuk sementara waktu. Merasa dibodohi, Baekhyun menatap Chanyeol sengit, yang hanya dibalasnya dengan cengiran.

Sehun yang dari tadi hanya mengusap janggut imajinernya kemudian berbunyi. "Tapi, hyung, bagaimana ia bisa tahu tentang Ayahmu?"

Yang keluar dari mulut Baekhyun hanyalah gumaman tidak jelas, jadi Chanyeol membukakan coke untuknya dan menyuruhnya minum, lalu menepuk-nepuk pelan punggungnya. Oke, sekarang Chanyeol malah merasa bersalah.

Luhan mengangguk. "Setelah kupikir-pikir, Sehun ada benarnya."

"Kurasa dari foto yang ditampilkan di berita tempo hari?" Ujar Chanyeol.

Tapi Kris menggeleng sembari memasukkan makanan ke mulutnya. "Mustahil untuk mengenali foto itu dalam sekali lihat. Maksudku, hanya orang yang benar-benar sering bertemu Baekhyun saja yang akan segera mengenalinya."

Chanyeol kemudian mengangguk. "Sekarang, setelah kupikir-pikir, pagi hari di sekolah waktu itu semuanya biasa-biasa saja. Tidak ada yang memulai kericuhan seperti itu—tidak sebelum Johnny memulainya."

Baekhyun terbatuk, dan Chanyeol makin merasa bersalah sekarang.

"Hei pendek, kau baik-baik saja?"

Baekhyun menoleh dan masih dengan tatapan sengitnya, ia meraih coke yang tadi dibukakan Chanyeol dan meneguknya rakus-rakus. Setelah merasa baikan, barulah ia berbunyi. "Beberapa teman kelasku bahkan membicarakan hal itu, tapi tidak ada satupun yang sadar mengenai fotoku. Dan aku bahkan tidak pernah bertemu Johnny sebelumnya."

Mereka terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya Kris menjentikkan jarinya. Wajahnya cerah, dan kau mungkin bisa melihat lampu imajiner yang baru saja hidup dengan bunyi ting di samping kepalanya. "Tentu saja," katanya lamat-lamat, mengedarkan pandangan dalam lingkaran itu. "Sebenarnya, simpel saja." Lanjutnya, lalu meraih segenggam keripik kentang dan memasukkannya dalam mulutnya.

"Ya ampun," bisik Sehun kepada Luhan, yang jelas-jelas kedengaran sangat jelas, "dia menyebalkan sekali."

"Aku bisa mendengarmu, bodoh." Maki Kris, mendelik pada Sehun.

Mereka harus menunggu Kris menghabiskan coke-nya setelah itu, baru akhirnya mulutnya berbunyi lagi. "Kurasa, Baekhyun," ia menoleh kepada Baekhyun yang balas menatapnya ngeri, "kurasa ia membuntutimu cukup lama."

"Hah?" Baekhyun terperangah sebentar. "Maksudku, tidak mungkin. Kalau aku dibuntuti, aku tentunya akan merasakan sesuatu."

"Tanya saja Luhan, kalau begitu." Kata Kris kemudian,

Baekhyun kemudian menoleh kepada Luhan, sementara di sampingnya, Chanyeol bergeser mendekat kepada Baekhyun. Ia tidak tahu kenapa, tapi sikap protektifnya mendadak saja aktif. Tidak masuk akal memang, karena saat itu mereka hanya berlima seperti biasa—tapi siapa yang tahu?

Luhan menarik napas dalam, sementara Sehun meraih tangannya dan menggengamnya erat. Sehun tahu, pengalaman ini cukup menorehkan trauma untuk Luhan. "Aku juga tidak menyadarinya, Baekhyun." Luhan memulai, "awalnya aku sering melihat Johnny di perpustakaan, karena biasanya aku sering ke sana untuk belajar. Kupikir ia tidak berani mendekatiku karena Sehun biasanya akan selalu mengekoriku kemana-mana. Tapi ia selalu ada di sana. Kemudian aku menyadari bahwa dia selalu ada dimanapun aku pergi. Kupikir aku mengkhayal atau semacamnya, tapi Sehun sepertinya juga menyadarinya."

Luhan menarik napas lalu membuangnya letih. "Biasanya, saat mata kami bertemu, dia akan tersenyum padaku. Jadi kubalas saja senyumnya. Siapa sangka ternyata pria sinting itu berpikir kalau aku juga menyukainya atau semacamnya.

Aku pulang dari sekolah sore hari itu, bersama supirku. Sehun tidak pulang bersamaku karena dia mengikuti kelas dance hingga sore." Luhan kemudian bergidik. "Kau tahu tidak, Johnny Seo itu benar-benar sinting. Dia—"

Sehun memotong dengan cepat, melanjutkan cerita Luhan. "Dia sengaja menyerempet mobil Luhan hyung, dan mobilnya masuk ke parit kecil di tepian jalan. Sementara supirnya sibuk menelpon orang rumah Luhan sambil melihat keadaan mobil, Johnny menarik Luhan masuk ke mobilnya dan kabur begitu saja."

"APA?!" Baekhyun berteriak kaget, melompat dan tahu-tahu saja sudah bergelayut di lengan Chanyeol. Chanyeol menoleh ke samping dan menepuk kepalanya pelan.

Kris mendengus jijik mendengar penuturan Sehun. Bahkan setelah berkali-kali mendengar cerita itu pun, Kris masih merasakan hal yang sama.

Sehun melanjutkan. "Johnny membawa Luhan ke rumahnya. Aku sungguh bersyukur bahwa Luhan hyung mengantongi handphone-nya. Ia menelponku saat di dalam mobil, meski akhirnya Johnny mengetahuinya dan merampas handphone-nya. Aku musti menghubungi akademik untuk mencari tahu alamatnya."

"Bocah ini pergi sendiri." timpal Kris. "Dia tidak mengajak kami."

"Sudah kubilang tidak ada waktu. Dan aku tidak kepikiran, tahu." Sehun menatap Kris jengkel. "Waktu aku datang saja pria sinting itu…." Sehun terdiam, kemudian ia menoleh kepada Luhan, menatapnya sedih. Kalimat yang keluar dari mulut Sehun selanjutnya terdengar seperti bisikan penuh penyesalan, diiringi bunyi terjepit—sama seperti saat seseorang berusaha mencekikmu. "Aku melihat dia berusaha menelanjangi Luhan hyung, tubuhnya sudah setengah terbuka di atas sofa."

Luhan tersenyum getir. "Aku tidak ingat bagaimana aku pingsan. Kurasa ia memukul kepalaku atau semacamnya saat itu."

Baekhyun menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.

"Tapi," lanjut Luhan dengan senyum ceria yang dipaksakan sembari merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Sehun dari samping dengan gestur main-main, sementara Sehun bergeming, "Thanks to this young man, aku selamat!" dia kemudian terkekeh, "not all heroes wear capes, Baekhyun."

"Aku sungguh menyesal," Sehun menggeram, "tidak membunuhnya saat itu juga. Aku tahu manusia rendah seperti dia akan selalu menyebabkan masalah, tapi siapa tahu kalau ia berusaha melakukan hal-hal aneh padamu juga, hyung." Sehun mendongak dan menatap Baekhyun serius. "Aku sungguh minta maaf."

"Aku yakin dia sedang merencanakan sesuatu." Chanyeol akhirnya berbunyi. Ia sengaja tidak menyahut karena ia tahu menceritakan hal ini sama saja seperti membuka luka lama. Hal ini cukup berat untuk Luhan, dan sungguh, demi Neptunus, kalau saja Johnny Seo itu berani menyentuh Baekhyun, ia benar-benar akan membunuhnya.

Baik Kris dan Luhan mengangguk.

"Baekhyun," panggil Luhan, "mulai saat ini, kau tidak boleh sendirian, mengerti?"

Baekhyun bergidik kecil, merapatkan tubuhnya pada Chanyeol, kemudian ia mengangguk sebagai respon.

"Aku berencana untuk tetap berkeliaran di sekolah. Bagaimana menurutmu, bocah?" Kris menoleh pada Sehun, menatapnya sambil memberikan cengiran lebar.

"I'm in." katanya, membalas cengiran Kris. "Siapa bilang di skors berarti tidak boleh berkeliaran di sekolah?"

Luhan mendengus, ia jelas menentang hal ini, tapi ia sungguh tidak punya pilihan lain. "Lebih banyak, maka lebih baik." Ia menyetujui. "Chanyeol akan sedikit sibuk karena kelas tambahannya, aku tidak akan bisa melindungimu sendiri, Baekhyun. Kris dan Sehun akan sangat membantu."

Baekhyun mengeluarkan wajah memelasnya lagi. "Tapi, apakah sungguh tidak apa-apa?"

"Tentu." Kris terkekeh. Untuk satu detik, Baekhyun berpikir bahwa Malaikat Maut yang baru saha terkekeh. "Memangnya siapa yang akan melarang Kris Wu melangkah kaki sucinya di sekolah?"

"Terima kasih, teman-teman." Kata Chanyeol. "Aku sungguh menghargainya."

Sehun mendecih. "Kami tidak melakukannya untukmu, hyung. Jangan berlagak terharu begitu. Aku melakukannya karena aku menyukai Baekhyun hyung."

Chanyeol melemparkan keripik kentang ke wajahnya. "Brengsek."

Kris dan Sehun kemudian melakukan fist bump-nya. "Yeah, bocah. Aku mendukungmu." Katanya, lalu mereka tergelak.

Chanyeol tidak mengindahkan kedua pria idiot itu dan kembali menatap Baekhyun, lalu menepuk kepalanya sayang. "Kau akan baik-baik saja. Aku janji."

Tapi Baekhyun malah memandangnya sengit. "Urusi saja urusanmu sendiri, dasar bodoh."

"Hah? Apa?" Chanyeol melongo, lupa dengan kenyataan bahwa Baekhyun masih dendam lantaran Chanyeol mencekoki mulutnya dengan snack tadi.

Kris dan Sehun berpandangan, memasang wajah kaget, lalu tergelak keras sekali, diikuti Luhan yang juga terkikik kecil, sementara matanya membulat lebar.

"Hei Baekhyun," panggil Kris di sela-sela tawanya, "selamat datang di klub Anti Chanyeol!"


Baekhyun seperti memiliki bodyguard gratis.

Dan ya, pernyataan ini tidak di lebih-lebihkan.

Sehun dan Kris datang pagi-pagi sekali, menampakkan cengiran tengil mereka, bahkan menyempati diri untuk ikut sarapan—membuat Chanyeol merutuk sebal. Mereka bahkan berangkat bersama dengan mobil Chanyeol pagi itu.

Ah ya, dan mereka berdua mengenakan seragam SoPA seperti biasanya. Lagi pula, menurut Kris, memang benar tidak ada pernyataan yang melarang murid untuk pergi ke sekolah setelah di skors, untuk beberapa kasus mereka bahkan boleh mengikuti kelas agar tidak tertinggal pelajaran, namun tentu saja dengan absen yang tidak boleh di isi.

Namun ya, seperti yang sudah diduga, memangnya Kris dan Sehun datang ke sekolah untuk belajar? Tentu saja tidak.

Karena Chanyeol harus segera masuk kelas dan begitu juga dengan Baekhyun, maka Kris dan Sehun memilih untuk berkeliaran di depan kelas Baekhyun. Baekhyun sudah berulang kali berkata bahwa mereka bisa membunuh waktu di ruangan rahasia mereka saja, tapi kedua pria itu menolak.

Sebelum akhirnya ditegur oleh Miss Jane—guru Sejarah yang terkenal cukup baik—bahkan merasa risih dan mengusir mereka.

Kris dan Sehun beringsut menjauh dari depan kelas Baekhyun—tidak cukup jauh, sehingga mereka masih bisa memantau Baekhyun dengan jelas.

Sebenarnya, hal yang mereka lakukan ini agak berlebihan. Tapi kedua pria itu tidak mau ambil risiko. Terutama Sehun. Ia paham benar jenis manusia seperti apa Johnny Seo.

Mereka berdua duduk di koridor dengan mata hampir terpejam, terkantuk-kantuk bodoh sembari bersandar pada jajaran loker kuning yang berada di sepanjang koridor.

Satu jam setengah setelah itu, lonceng istirahat khas SoPA berbunyi, dan suara Yeri dari kelas I C, seperti biasa, menggema dengan ceria di balik pengeras suara sekolah. Sesuatu yang berbunyi selamat makan siang, murid SoPA yang luar biasa! dan Sehun selalu pikir kalimat itu bodoh, tapi siapa peduli.

Berbagai murid berbondong-bondong keluar, koridor lantai empat yang tadinya sepi kini mulai ramai, murid-murid berseragam kuning saling dorong, beberapa di antaranya memegangi perut sembari mengeluh, sementara Kris dan Sehun mesti berjinjit untuk mencari kepala ungu Baekhyun di antara kerumunan.

"Aku tidak tahu kalau murid tahun kedua sebanyak ini." Kata Kris, mengernyitkan dahinya sembari mulai berjalan melintasi koridor, mencari-cari Baekhyun.

"Mereka sebenarnya tidak sebanyak kelas lain, hyung. Koridor ini saja yang agak sempit." Kata Sehun.

Kris kemudian mengangguk-angguk.

"Kau lihat Baekhyun?"

Sehun menggeleng.

"Cari lagi. Aku akan mencari di sepanjang koridor. Kau pergi ke kelasnya."

Pria yang lebih muda itu kemudian mengangguk dan dengan cepat menyelinap diantara kerumunan yang mulai menuruni tangga. Bukan hal sulit untuk tubuhnya yang ramping dan tinggi, tentu saja. Murid-murid sebenarnya bisa saja turun menggunakan lift, namun karena lift di lantai empat hanya ada satu, sarana ini biasanya hanya digunakan untuk para guru dan tamu penting.

Sehun mempercepat langkahnya, menoleh sebentar ke belakang sementara ia melihat Kris terus melongokkan kepalanya di antara kerumanan. Rambut pirangnya terlihat jelas dari sini, pikir Sehun. Mustahil untuk tidak mengenali Kris, dan mustahil pula bagi Kris untuk melewati kepala ungu Baekhyun, jadi Baekhyun tidak mungkin lolos dari pandangannya.

Sehun kembali berjalan cepat, kini hampir berlari. Kelas Baekhyun, karena kelas A, terletak paling ujung di sebelah kiri. Ketika ia sampai di depan kelas, Sehun hanya mendapati beberapa murid yang tengah melakukan akticitas seperti biasanya—mengemaskan buku, berbicara satu sama lain, beberapa sedang makan siang dari kotak bekal yang barangkali mereka bawa sendiri.

Kerutan di dahi Sehun semakin dalam. Ia masuk ke kelas, berdiri di tengah-tengah meja yang dibentuk dengan letter U, dan beberapa murid berbisik tidak senang. Sehun adalah murid tahun pertama. Masuk ke kelas yang lebih tinggi dari kelasmu berarti kurang ajar, tapi ia bahkan tidak peduli.

"Baekhyun." Katanya, mulai panik, tidak mengindahkan tatapan tidak senang yang tertuju padanya. "Ada yang lihat Byun Baekhyun?" tapi tidak ada yang menyahut. "Byun Baekhyun," katanya lagi kali ini benar-benar panik, "tingginya segini," ia mengukur dengan dadanya, "ia punya wajah yang lucu dan rambutnya berwarna ungu."

"Siapa kau?" sebuah suara kemudian terdengar. Sehun melihat pria dengan rambut yang di tata rapi, wajah bersih dan tulang pipi yang tajam ke atas. Sehun rasa ia mengenali pria ini. Si peraih vokal terbaik semester kemarin, Kim Jongdae.

"Aku Oh Sehun dari kelas I C." katanya buru-buru, "sungguh, tidak ada satu pun dari kalian yang melihatnya? Demi Tuhan, dia satu kelas dengan kalian!"

"Ya ampun," kata pria itu, memutar bola matanya. "Kau yang kemarin memukuli Johnny Seo, kan? Tidak heran." Ia kemudian berdiri dan memasukkan tangannya ke dalam saku. "Lagi pula, tidak ada bilang bahwa kami tidak melihatnya. Kenapa sih, kau sungguh tidak sabaran? Ah, sekarang aku juga ingat. Kau satu kumpulan dengan Park Chanyeol, 'kan?"

"AKU TIDAK PEDULI!" Sehun membentak, tangannya mengepal kuat sekali. "Aku hanya tanya dimana Baekhyun, apa kau bodoh?!"

Beberapa teman kelasnya yang lain mulai berdiri tidak senang, beberapa mengguman tentang betapa kurang ajarnya Sehun. Tapi pria itu hanya tertawa. "Ya ampun, iya, iya. Kurasa di izin ke toilet beberapa menit sebelum kelas bubar. Coba saja cari dia di sana."

Sehun mengedarkan satu tatapan bengis ke seluruh penjuru ruangan, lalu, masih dengan tangan terkepal, ia berbalik lalu mulai berlari keluar kelas. Ia mendapat koridor mulai lenggang, dan Kris yang menyusuri koridor bulak-balik.

Mereka berdua sama-sama berlari satu sama lain.

Ketika mereka saling bertatapan dan membaca ekspresi masing-masing, mereka tahu mereka dalam masalah.

Panik, keduanya segera berlari menuruni tangga.


"Byun Baekhyun, iya 'kan?"

Baekhyun mendongak, menoleh pada pria yang menegurnya dari balik kaca wastafel. Pria itu baru saja keluar dari salah satu bilik toilet dan ia tersenyum. Baekhyun lalu membalas senyumnya.

"Apa kau masih ingat aku? Aku Kim Junmyeon."

Baekhyun mengangguk, menuangkan sabun cari ke telapak tangannya dan mulai mencuci tangan. "Ketua OSIS, 'kan? Tentu saja aku mengingatmu. Kau yang pertama kali berbicara padaku saat aku pindah ke sini."

Junmyeon mengangguk ceria. "Senang sekali kau masih mengingatku." Ia juga ikut-ikutan mencuci tangan. "Tadinya aku malah mau ke kelasmu. Seseorang dari Busan mencarimu. Kurasa ia berkata bahwa ia tetangga Bibimu atau semacamnya."

Baekhyun membasuh tangannya dan matanya membulat. "Bibiku?"

"Ya," Junmyeon mengangguk lagi, "aku habis kembali dari toserba di depan sekolah kita dan tidak sengaja melihat seorang pria yang menunggu di depan mobil. Kurasa ia sudah bertanya dengan satpam, tapi satpam menyuruhnya untuk menunggu. Kau tahulah, peraturan sekolah ini. Kadang wali murid harus bicara dulu dengan kemahasiswaan kalau mau menjemput murid atau semacamnya."

"Pria? Kau yakin?"

"Sangat yakin. Dia dia bilang dia mencarimu. Kenapa? Kau tidak mengenalnya?"

Baekhyun mengerutkan hidungnya. "Entahlah, aku tidak yakin."

"Coba saja temui dulu. Aku sudah melihatnya menunggu dari tadi." Junmyeon kemudian mengelap tangannya yang basah dengan sapu tangannya sendiri.

"Ah, baiklah." Kata Baekhyun kemudian, "terima kasih, Junmyeon."

Junmyeon tersenyum lalu mengangguk. "Anytime, Baekhyun. Aku duluan, ya. Bye."

Baekhyun membalasnya dengan anggukan, dan pria ramah itu kemudian berlalu.

Setelah mengeringkan tangannya, Baekhyun kemudian mulai berjalan tergesa-gesa menuju lapangan tengah, melintasi parkiran hingga ke gerbang utama.

Ketika kakinya menjejak di gerbang, ia bertanya pada pria tua yang bekerja di pos satpam, lalu pria itu menunjuk seorang pria lain yang bersandar pada mobil SUV hitam, mengenakan kemeja biru bermotif bunga kusut dan celana gombrong pendek berwarna krem. Ia memakai kacama dan topi hitam.

Baekhyun berjalan mendekatinya. Awalnya ia tidak melihat wajah pria itu, namun ketika ia makin dekat, pria itu tampak seperti pria paruh baya pada umumnya, berumur mungkin pertengahan tiga puluhan, dengan tubuh tinggi berisi yang lumayan kekar.

"Permisi?" Baekhyun bersuara, menunduk sedikit untuk melihat dari balik topinya.

"Ah, kau Byun Baekhyun? Keponakan Yujeong, benar?" ia berbicara dalam dialek Busan yang sangat kental, jadi Baekhyun berpikir bahwa pria ini benar-benar orang Busan.

Baekhyun tersenyum sementara pria itu melepaskan kacamatanya. "Aku Shindong." Ia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Baekhyun. "Bibimu datang mengunjungi, dan aku supirnya hari ini. Aku tetangganya, ngomong-ngomong. Mereka menunggu di restoran dekat sini. Sudah jam makan siang, 'kan? Ayo, sekalian ikut saja."

Baekhyun ragu untuk sejenak, namun akhirnya ia mengangguk. "Tapi kurasa aku tidak bisa lama. Istirahat kami tidak sampai dua puluh menit."

"Tentu, tentu." Pria bernama Shindong itu tersenyum. "Aku akan mengantarmu kembali ke sekolah setelahnya. Kau tahu kan, kasian Bibimu sudah datang jauh-jauh, setidaknya kau harus bertemu dengannya, 'kan?"

Baekhyun mengangguk lagi.

"Ayo masuk."

Shindong masuk dalam mobil, sementara Baekhyun mengitari mobil SUV hitam itu dan duduk di samping pengemudi. Kemudian pria itu menghidupkan mesin, lalu menoleh kepada Baekhyun.

"Ini terlalu mudah, aku hampir merasa bodoh." Katanya sambil tertawa mengejek.

Baekhyun menoleh, mengerutkan dahinya. "Maaf?"

"Oh, ya, sungguh. Maafkan aku." Katanya, tersenyum, lalu dengan cepat mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan membungkam mulut dan hidung Baekhyun. Sapu tangan itu beraroma aneh, dan Baekhyun sama sekali tidak tahu bahwa sapu tangan itu sudah dibasahi oleh chloroform.

Baekhyun meronta untuk beberapa saat, menendang-nendang, tapi pria itu begitu kuat. Ia bahkan mengangkat tangannya untuk mencakar-cakar, memukul, dan menampar pria itu, tapi pria itu bahkan tidak terguncang sedikit pun.

Tidak lama setelahnya, Baekhyun mulai berhenti meronta, kakinya berhenti menendang-nendang, tangannya mulai terjatuh di kedua sisi tubuhnya, sementara kepala terkulai dan matanya terpejam. Ia menjatuhkan kepala Baekhyun di kaca jendela, membuatnya bersandar di sana, tidak sadarkan diri.

Dengan perlahan, Shindong melepaskan sapu tangannya. Ia kemudian membuang napas berat dan mengusap keringatnya, memandangi keadaan sekeliling dari balik kaca jendela SUV-nya yang berwarna hitam. Aman. Keadaan sepi. Bahkan pria tua yang duduk dengan malas di dalam pos satpam saja tidak menyadari apapun.

Dengan gerakan santai yang tidak tergesa-gesa, ia mengeluarkan ponsel genggamnya, lalu menghubungi sebuah nomor. Ketika telepon disambut dari jalur seberang, pria paruh baya itu menyeringai.

"We caught the fish, Boss."[]


A/N: HELLO! Gimana kabarnya? Baik? Gimana liburannya? Keknya cuma aku doang yang liburannya di kamar doang ya?

ANYWAY I'M SO HAPPY!

#UNIVERSE2NDWIN WOHOOOOOOO

Sejauh ini, Universe enak banget buat tidur. Selain Universe, B-Track fav aku tuh Been Through sama Lights Out. Ajegile Lights Out enak bangeeeetttt hehehehe dan Been Throught itu pas Dadadadadadum-nya Sehun muter mulu di kepala. Kalian gimana? Tapi overall emang winter album kali ini enak banget sih, iya kan?

Buset dah banyak banget bacodnya.

Sekali lagi, as always, I'm so grateful kalian masih mau baca ceritaku, dan I really wish kalian ninggalin sepatah-dua patah kata di kolom komentar hehe gimana ya, chapter ini? Dan aku juga mau nanya, apakah gaya nulisku ngebosenin?

THANK YOU SOOO MUCH ONCE AGAIN!

Final chapter soon, be ready;)