[CHAPTER 19 - THE HIDDEN HACKER]


"The hardest part of losing someone, isn't having to say goodbye. But rather learning how to live without them. Always try to fill the void, the emptiness that's left inside your heart when they're gone."


Duduk di antara manusia yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, Chanyeol menopang dagu dengan tangannya. Tatapannya lurus pada papan tulis, namun kepalanya penuh. Ia sama sekali tidak mendengarkan penjelasan Mr. Young, vocal trainer terkenal yang bahkan menjadi salah satu tim vocal trainer di salah satu agensi musik terbesar di Korea.

Kepalanya penuh dengan Baekhyun, dan ia agak pusing memikirkan berbagai kemungkinan yang mungkin tejadi. Hari ini ia memilih duduk di belakang, jauh diantara kerumunan. Ruang kelas itu tidak terlalu luas, berisi kurang lebih dua puluh orang dengan bangku-bangku lipat berwarna krem, dan ruangan yang berwarna hijau lemon menjemukan. Kurang lebih dua puluh kepala di dalam ruangan itu tampaknya berharap bahwa nilai mereka akan membaik semester ini.

Chanyeol adalah salah satunya. Nilainya tidak buruk, namun ia khusus mengambil subyek ini karena merasa dirinya masih kurang. Meski keputusan ini ia ambil setengah hati, ia mengakui dirinya tetaplah seorang pelajar. Ia memegang teguh pemikiran ini dalam kepalanya.

Subyek yang menjadi kekurangannya ini adalah; kelas vokal.

Suara Chanyeol tidak buruk, kalau kau bertanya. Tapi karena suaranya cukup rendah bahkan bagi kebanyakan pria, membuatnya kadang kesulitan untuk mencapai beberapa nada tinggi. Harus ada beberapa teknik yang ia kuasai jika ia ingin nilainya di kelas vokal untuk semester ini membaik—nope, membaik tidak membuatnya puas. He needs to be perfect.

Mestinya, Chanyeol merasa baik-baik saja.

Baekhyun sedang bersama dua sahabat yang paling ia percayai. Seharusnya si mungil itu baik-baik saja.

Lantaran kenapa hatinya terasa berat?

Entah seperti apapun Baekhyun menyuruhnya untuk tetap mengikuti kelas dan berkata bahwa dirinya akan baik-baik saja, Chanyeol tahu ia tidak pernah bisa mempercayai itu.

Jadi kakinya mengetuk lantai tak sabar, kepalan tangannya erat di atas meja.

Kapan kelas ini akan berakhir?

Ia mengutuk dalam hatinya. Sial. Dia tidak bisa melakukan ini sekarang. Persetan dengan pendirian teguhnya.

Lalu, dengan cepat, Chanyeol mengangkat tangannya. Mr. Young yang tadinya tengah memberi penjelasan tentang trik mudah bernyanyi dengan nada falsetto, berhenti berbicara dan mengerutkan keningnya, sama sekali tidak senang.

"Is there anything you need, Mr. Park?"

Chanyeol mengangguk. "Maafkan saya, Sir. Tapi saya harus keluar sekarang."

Mr. Young mengerutkan dahinya. "Any specific reasons?"

"No, Sir." Chanyeol menjawab. "I just need to get the hell out of here."

Mendengus, Mr. Young menunjuk pintu dengan dagunya. "Do it as you please. You got an F for this subject, I can assure you that."

Chanyeol tersenyum, dan ia bahkan masih sempat berkata, "thank you, Sir." Lalu berdiri, memasukkan buku-bukunya dengan sembrono ke dalam tas, lalu berderap tanpa menoleh ke belakang.


Luhan menatap riak panik pada kedua mata pria di hadapannya. Ia baru saja keluar dari perpustakaan dan bertabrakan dengan Kris dan Sehun yang berlari seperti orang kerasukan.

"Hyung!" jerit Sehun kala itu, refleks tubuhnya meraih Luhan yang limbung. Hampir saja hyung kesayangannya itu jatuh mencium lantai.

"Apa-apaan sih, kalian ini?" tudingnya sengit, merapikan seragam kuning kebangsaannya. "Aku sungguh tidak mengerti. Bukankah kalian seharusnya merefleksikan diri? Kalian itu diskors, dan masih bisa berkeliaran bebas tanpa beban seperti ini? Bagaimana Baek—"

"Baekhyun menghilang."

"—hyun?"

Kris dan Sehun bertatapan khawatir. Lalu, beberapa detik kemudian, Luhan tertawa. "Sinting. Kau pikir aku bodoh?"

Kris mengepalkan tangannya. Sejumput warna merah menghiasi daun telinganya—tanda ia sedang menahan marah. Marah yang sangat luar biasa.

"Aku. Tidak. Bercanda." Katanya, kalimatnya tajam dan keningnya berkerut. "kau pikir aku bisa bercanda dalam keadaan seperti ini?!"

Luhan masih meringis tak percaya. "Oh ayolah, memangnya aku sebodoh—tunggu." Ia menatap Kris dan Sehun bergantian. "Kalian bersungguh-sungguh?"

Sekarang, Sehun ikut-ikutan mengepalkan tangannya, lalu mengangguk mantap, serentak dengan Kris.

Mata cokelat Luhan melebar. "Tidak mungkin." Ia kemudian mulai menyeruak diantara mereka berdua, berjalan dalam langkah kecil yang terburu-buru. "Sudah kalian cari di kelasnya?" tanya Luhan saat Kris dan Sehun menyamakan langkah di belakang postur kecilnya.

"Sudah." Sahut Sehun.

"Toilet?"

"Ya." Jawab Kris.

"Perpustakaan juga tidak mungkin. Aku baru saja dari sana." Luhan berujar, menghentikan langkah dan berbalik menghadap kedua pria yang lebih tinggi di belakangnya. "Chanyeol? Bagaimana dengan Chanyeol? Apa dia sudah tahu?"

Sehun dan Kris serentak menggeleng.

Luhan menggigit bibirnya. "Ini gawat." Bisiknya, saat rasa panik merayap dingin melewati tulang belakang hingga ke tengkuknya.


Chanyeol berlari menuruni tangga dari lantai tiga menuju lantai dua, melewati beberapa murid yang lalu lalang. Diam-diam dalam hati berharap mempunyai kekuatan untuk membuat tubuh-tubuh yang menghalangi jalannya itu menepi—but he didn't. Ia tidak punya kemampuan semacam itu, jadi ia terpaksa menyalip sana sini dengan perasaan dongkol.

Ia harus melihat Baekhyun.

Baru mungkin ia akan merasa lega. Pikirannya sangat kalut, dan ia mulai merutuki dirinya sendiri tentang kelas tambahan itu. Baekhyun mungkin akan memarahinya, berkata bahwa ia harus tetap mengikuti kelas tambahan itu, tapi Chanyeol merasa bahwa kelas itu bukan tempatnya. Persetan. Ia hanya ingin melihat Baekhyun.

Jam istirahat sudah lewat dan Baekhyun tidak mungkin berada di kelas. Dimana biasanya ia akan mudah dicari? Kafetaria? Atau ia sedang bersama Kris dan Sehun? Memikirkan Baekhyun yang mungkin tengah makan dengan lahap membuat sudut bibirnya tertarik ke atas. Pipi gemuknya pasti tampak seperti mochi stroberi.

Chanyeol memperlambat larinya saat ia mendengar teleponnya berbunyi. Sehun mengiriminya pesan.

School gate. Now.

Kening Chanyeol berkerut, tapi ia kembali berlari menuruni tangga menuju lantai satu, melintasi lapangan basket dan parkiran, lalu sampai pada gerbang sekolahnya.

Wajahnya sumringah dan cerah ketia ia melambai pada ketiga temannya yang berdiri di samping pos penjaga—ketiganya memakai sweater yang menutupi seragamnya, lengkap dengan tas sekolah di pundak. Luhan bahkan membawa satu ekstra tas yang Chanyeol kenali sebagai milik Baekhyun.

"Hey!" sapa Chanyeol, "what's up?" katanya kebingungan melihat ekspresi gelap ketiga temannya lalu menyadari bahwa sosok mungil yang dicarinya tidak berada di sana.

Mereka bertiga mulai berpandangan. Luhan berusaha untuk membuka mulut dan menjelaskan, namun Kris memotongnya dengan cepat.

"Dengar, bocah." Suaranya rendah dan berbahaya, "tidak ada cara halus untuk menjelaskan ini. Kami tidak bisa menemukan Baekhyun dimanapun. Dia menghilang."

Butuh beberapa saat bagi Chanyeol untuk memproses kalimat itu, sebelum akhirnya dia tersenyum miring dan mengepalkan tangannya.

"The fuck you just said?"

"We've lost him. Dia tidak berada dimanapun di sekolah ini. Aku dan Sehun—"

Selanjutnya, hanya butuh beberapa detik bagi Chanyeol untuk melayangkan tinjunya ke wajah Kris, sementara Kris terhuyung dan hidungnya mulai meneteskan darah.

"Chanyeol!" Luhan terkesiap dan menutup mulutnya.

"Bocah brengsek." Maki Kris, tertawa sembari mengusap hidungnya yang berdarah.

"You got one fucking job, hyung." Chanyeol berkata sengit, menuding Kris dan mulai melangkah maju sebelum akhirnya Sehun menghalanginya dan mulai menahan dadanya.

"Cukup, hyung." Kata Sehun.

"You got one fucking job and you can't even do it properly!" Chanyeol mulai berteriak. "Akan kubunuh Johnny Seo." Ia mulai menggeram dan berbalik lalu melangkah maju.

"Hyung." Sehun menahan tangannya, yang segera ditepis dengan sangat kasar.

Chanyeol merasa bahwa ia menjadi sinting. Baekhyun hilang? Apa kau bercanda? Kepalanya serasa berputar dan ia tidak bisa mendengar apapun lagi selain desiran darahnya sendiri. tangannya terkepal kuat, dan mungkin saja bisa melayang lagi kepada orang yang salah.

Tapi Sehun tidak gentar. Ia kenal dengan baik karakter Chanyeol. Ia hanya kalut. Ia bisa mengatasi seorang Park Chanyeol yang sedang meledak. "Bukan Johnny." Ucap Sehun, menatap mata Chanyeol yang berapi-api. "Tenangkan dirimu. Ini bukan tentang Johnny Seo."

"Apa maksudmu?"

Sehun menghela napas berat. "Pertama-tama, kau harus ikut dengan kami—jelas jika kau ingin menemukan Baekhyun. Kita harus berada di tempat dengan internet yang cepat plus akses yang baik ke seluruh jaringan."

Chanyeol tahu dimana itu. Jelas sekali rumah Sehun. "Lalu?"

"Lalu kami akan menjelaskannya padamu."

Chanyeol mengangguk tanpa berkata-kata.

Di belakang Sehun, Kris meludahkan darah di mulutnya, lalu memaki pelan. Tak lama kemudian, sebuah mobil mercedes yang Chanyeol kenali sebagai mobil yang biasa Sekretaris Yoon gunakan berhenti di depan gerbang. Pria paruh baya itu membuka daun pintu dan memberi isyarat pada mereka untuk segera masuk.


Duduk di dalam kamar Sehun yang luasnya hampir menyamai ruang tamu Chanyeol, mereka bertiga menatapi Sehun yang tengah mengutak-atik komputernya. Sejumlah angka-angka muncul secara acak, membuat kepala siapapun yang akan melihatnya menjadi sakit. Tapi tidak begitu dengan Sehun.

"Kami berbicara dengan satpam yang berjaga di pintu gerbang. Ia berkata bahwa seseorang memang datang menjemput Baekhyun—dan tidak, kami tidak salah. Aku sudah menyebutkan ciri-ciri Baekhyun dengan jelas. Satpam itu berkata bahwa yang menjemputnya adalah seorang pria awal 30-an. Ia memakai topi dan kacamata hitam." Sehun mulai menjelaskan.

Chanyeol bersedekap, memandang Sehun tak senang.

Tak lama kemudian, ia kembali menghadap komputernya.

"Kami berpikir bahwa ini tidak ada hubungannya dengan Johnny." Luhan menambahkan.

"Apa yang membuat kalian begitu yakin?" Chanyeol bertanya sengit.

Kris mendengus. Ia sedang mengompresi wajahnya dengan es. "Dengarkan dulu Sehun, bocah."

Ada dua fakta Sehun yang mungkin tidak diketahui banyak orang, mungkin karena jarang dibicarakan dan amat sangat bersifat rahasia. Satu, percaya atau tidak percaya, Sehun adalah seorang hacker yang cukup handal dengan nama samaran Mr. 5.

Kedua, ayahnya adalah seorang agen interpol dalam penyamaran yang memiliki akses ke seluruh dunia. Untuk saat ini ayahnya termasuk ke dalam tim khusus yang sedang beroperasi memburu Byun Han. Untuk perihal ini, hanya Sehun dan Luhan saja yang tahu. Sehun berpikir bahwa ia tidak bisa menceritakan ini baik kepada Baekhyun, Chanyeol maupun Kris.

Dibalik sifatnya yang nampak santai dengan lagak seperti bocah yang senang mengekori Xi Luhan kemana-mana, skill dance diatas rata-rata, wajah rupawan bagaikan titisan dewa Yunani—dan seakan semua itu tak cukup, ia juga adalah seorang hacker handal. Salah satu kehebohan besar yang pernah ia lakukan adalah membobol sistem kemahasiswaan, dengan mengubah seluruh nilai siswa menjadi A+ sehari sebelum pengumuman kenaikan kelas. Tidak seorangpun mendapat jejak siapa yang membobol sistem sekolah, yang jelas membuat seluruh guru frustasi saat itu. Ia membuat sistem porak-poranda dan banyak siswa lain yang memuji keberanian Sang Hacker, namun sayang sekali staff kemahasiswaan masih memegang salinan nilai yang asli, dan Chanyeol musti berduka untuk tidak mendapatkan A+ pada subyek kelemahannya; Kelas Vokal. Yang omong-omong juga menjadi alasan kenapa ia mengambil subyek itu sebagai kelas tambahan.

Selain itu, ada alasan tertentu mengapa nama samarannya adalah Mr. 5.

Lima (5) dalam bahasa Korea diucapkan sebagai 'o'. Sementara marga Sehun adalah Oh. Ini nama samaran yang cukup bodoh, sebenarnya. Tapi Sehun tidak bisa menolaknya ketika Luhan menyarankan nama ini dengan mata berbinar-binar (dia mungkin berpikir bahwa dirinya jenius) sementara Kris menahan senyumnya waktu itu di belakang Luhan, lalu mengucapkan 'dasar idiot' tanpa suara kepada Sehun. Nama samaran yang cukup mudah ditebak namun syukurlah identitas asli Sehun tampaknya masih tersembunyi dengan baik.

Sehun masih menekuni profesi ini untuk mendapatkan uang saku—tenang saja, ini sebenarnya cukup aman. Ia 'menipu' dari seorang penipu. Cukup mudah, bukan? Tapi Sehun jarang sekali menggunakan uang hasil laknat seperti ini, meski sebenarnya menipu seorang penipu bukanlah hal buruk. Ia bisanya menghabiskan uangnya untuk dijadikan token membeli senjata dan baju zirah baru—yap, game.

Kemudian, alih-alih menjelaskan, Sehun meraih ponsel dan menelpon ayahnya.

"Ayah," Sehun berucap kepada telepon genggamnya, "aku butuh akses CCTV dari semua daerah Seoul."

Ketiga teman dibelakangnya tidak bisa mendengar apapun dari seberang telepon. Namun, menilik dari ekspresi Sehun yang mengeras, mereka tahu bahwa ini tidak berjalan dengan baik.

Sehun menghela napas. "Aku bersumpah aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya butuh akses CCTV. Ya, semuanya. Teman kami berada dalam bahaya. Akan kujelaskan nanti. Baiklah."

Lalu telepon ditutup, dan Sehun kembali menghadap komputernya. Jemarinya dengan cepat mengetik sesuatu di atas keyboard yang barangkali hanya dirinya sendiri yang tahu, lalu ia masuk ke dalam sebuah situs dengan lambang kepolisian internasional di depannya. Masih menari di atas keyboard, jemarinya mengetik "Young-Eun, Oh" pada kolom username dan sejumlah password di kolom lainnya. Ketika ia mengetik enter, berbagai kotak-kotak kecil bergambar buram menghiasi layar komputernya.

Tersenyum puas, Sehun berkata, "okay. We're in."

"Lokasi sekolah kita, lihat CCTV di depan gerbang." Kris bergumam, sementara Sehun dengan segera melakukan perintah itu.

Butuh beberapa waktu untuk mencari lokasi CCTV yang benar, akibat dari banyaknya CCTV yang ada, namun mereka akhirnya menemukan lokasi sekolah mereka, lalu dengan cepat memilih CCTV yang sedang online. Salah satunya adalah CCTV yang berada tepat di depan gerbang sekolah mereka.

Sehun memainkan mouse dengan handal, berusaha untuk memutar waktu kembali kepada jam istirahat, dan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tangannya berhenti ketika ia melihat sosok mungil kabur yang berlari melewati gerbang dengan tergesa-gesa, yang kemudian berhenti di depan SUV hitam. Seorang pria berdiri di samping mobilnya, melambai kepada pria yang lebih kecil. Mereka tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria asing itu. Wajahnya tertutup topi dan ia membelakangi CCTV. Hanya postur tubuhnya saja yang tercetak jelas dari dalam rekaman tersebut. Pada layar kabur, Sehun dapat membaca dengan jelas plat dari mobil itu.

Dengan tangan cekatan, ia meng-crop plat SUV hitam itu dan segera mengirimkan gambarnya kepada seseorang. Tidak ada yang benar-benar bisa melihat kepada siapa gambar itu dikirim.

"Got it."

Mereka semua terdiam beberapa saat, menonton dengan seksama tentang bagaimana Baekhyun bercakap dengan orang asing tersebut—dengan sukarela masuk ke dalam mobil itu.

"Ini…" Luhan memulai dengan suara ragu, "tidak tampak seperti sebuah penculikan."

"Mundurkan lagi. Aku ingin lihat sejak kapan mobil itu berada di sana." Chanyeol akhirnya bersuara.

Sehun kembali memainkan mouse-nya. Jam pada tepi layar menunjukkan pukul 07.30 saat mobil itu tiba di depan gerbang. Ini membuktikan bahwa mobil itu sudah berada di sana sejak pagi, barangkali sudah mengintai Baekhyun sejak lama. Di samping Sehun, Chanyeol menggeram tidak sabar. Hanya butuh beberapa detik lagi sebelum ia merasa bahwa dirinya akan meledak.

"Tunggu." Sahut Kris cepat, jari telunjuknya menuding sosok buram kecil lain yang berada di layar, kesulitan membawa sejumlah dokumen dalam pelukannya. "Kim Junmyeon." Katanya. "Apakah ia mengenal pria ini?" ia menoleh kepada Luhan, dan seakan diberi telepati, Luhan dengan cepat merogoh ponselnya.

Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya Luhan menekan nomor di ponsel genggamnya. "Halo? Junmyeon-ah!" Luhan berseru dengan suara yang dibuat kelewat senang. Sehun mendelik kepadanya, berkata dalam hati bahwa aktingnya sungguh buruk. Luhan dengan cepat menekan loudspeaker.

"Ya, halo? Luhan? Ada apa?"

"Ah, tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin berkata bahwa aku mungkin agak sedikit tertarik dengan pentas musikal yang akan kau adakan bulan depan."

Sehun, Kris dan Chanyeol berpandangan bingung. Kim Junmyeon tampaknya diam-diam telah menawarkan Luhan sebuah peran dalam pentas musikal agungnya.

Junmyeon terkesiap dari seberang telepon. "Oh, sungguh? Apakah kau benar-benar akan mempertimbangkannya?"

Luhan memutar bola matanya. Memaki tanpa suara. "Tentu."

"Ya Tuhan! Terima kasih Luhan, sungguh. Kau akan menjadi Juliet paling cantik, aku bersumpah!"

Kris baru saja terbatuk—jelas sekali sedang menyamarkan sebuah tawa, sementara Chanyeol kebingungan, sedikit merasa kesal. Ia tidak mengerti dimana arah pembicaraan ini, dan dimana letak fungsi seseorang bernama Kim Junmyeon ini, dan bertanya-tanya apakah pentas musikal bisa menyelamatkan Baekhyun.

Sehun menatap Luhan tak percaya, mulutnya terngaga sementara ia membuat gestur telunjuk yang memutar di bagian pelipisnya sendiri—barangkali dengan maksud mengutarakan hyung, have you lost your mind?

Jelas sekali Oh Sehun tidak senang.

Tapi Luhan tidak menggubris, malah tertawa sumbang kepada seseorang di seberang telepon. Sebelum Chanyeol sempat berkata sesuatu, Luhan sudah terlebih dahulu berbicara. "Omong-omong, Junmyeon, apakah kau bertemu seseorang pagi ini?"

"Ya. Aku bertemu seseorang dari Busan, dia bilang bahwa dia kenal Baekhyun dan—hey tunggu. Darimana kau tahu?"

Mata Chanyeol membulat. Ia dan Kris bertukar pandang.

Luhan menggigit bibirnya lalu menatap Sehun, sementara tangannya yang bebas mulai memijat pelipisnya sendiri, "oooh, itu, Baekhyun yang memberitahuku."

Sehun menatap Luhan tak percaya. Luhan sendiri mulai memukuli kepalanya sendiri—kenapa ia begitu bodoh? Ia benar-benar tidak bisa memikirkan alasan yang lebih baik lagi dari kalimat yang barusan ia katakan.

"Ah, begitu. Yaaaah, pria itu bilang bahwa mereka satu kampung, dari Busan. Dan ia dimintai tolong oleh bibi-nya Baekhyun untuk menjemput Baekhyun makan siang. Kurasa bibinya Baekhyun berkunjung ke Seoul. Aku bertemu Baekhyun saat jam makan siang di toilet, jadi kusampaikan padanya. Kurasa setelah itu dia langsung menemui pria itu."

"Ah, begitu rupanya. Kupikir Baekhyun pergi dengan orang asing tak dikenal tadinya." Luhan menghela napas pelan, "baiklah, terima kasih Junmyeon. Sampai jumpa di sekolah!"

"Tentu! Kau akan benar-benar mempertimbangkan peran yang—"

Klik.

Luhan membuang napasnya kuat-kuat. "Aku baru saja berbohong." Katanya, jelas-jelas tak percaya dengan dirinya sendiri.

"Dan kau melakukannya dengan sangat lihai. Aku bangga padamu, Juliet." Celetuk Kris, menyeringai puas.

"DIAM!"

Kris mengangkat kedua tangannya ke udara sebagai respon.

"Bibi, huh?" Sehun melirik Chanyeol.

Seakan sedang membagi pemikiran yang sama, Chanyeol segera meraih ponselnya dan men-dial nomor bibi Baekhyun. Syukurlah ia menyimpan (mencuri) diam-diam nomor itu dari ponsel Baekhyun sebelumnya.

Dalam tiga kali nada sambung, telepon dari seberang langsung diangkat.

"Halo? Selamat sing Bibi. Ya, aku Chanyeol, teman serumah Baekhyun yang tempo hari datang menjemput ke Busan."

Terdengar suara samar dari ponsel Chanyeol. Ketiga temannya yang lain menunggu dengan tegang. Tak lama kemudian terdengar bunyi ting pelan dari komputer Sehun; sebuah e-mail masuk, lagi-lagi dari seseorang yang tidak dikenal.

Dengan ekspresi tak terbaca, Chanyeol menurunkan ponselnya dari telinga secara perlahan, kemudian menatap ketiga temannya secara bergantian. Ia berbisik, "Bibinya baru saja menanyakan kabar Baekhyun dan bertanya kenapa nomornya tidak bisa dihubungi."

Luhan harus menutup mulutnya untuk tidak mengeluarkan suara terjepit.

Chanyeol mengembalikan ponselnya ke telinga. "Ah, Baekhyun?" suaranya mendadak cerah. "Dia baik-baik saja Bibi. Dia sedang mengambil kelas tambahan dan pada kelas tambahan kami dilarang menggunakan ponsel."

Chanyeol terdiam lagi, mendengarkan seseorang berceloteh dari seberang telepon, lalu ia menjawab, "baiklah, Bibi. Ya, selamat siang. Aku akan menyampaikannya kepada Baekhyun."

Kris bersiul rendah, membuang napasnya. "Haruskah kita melaporkan hal ini ke polisi? Ini jelas-jelas penculikan."

"Hyung." Sehun memanggil. "Plat yang SUV hitam itu gunakan palsu. Tidak terdaftar."

Chanyeol mengepalkan kedua tangannya erat. Untuk sesaat, ia kalut. Ia berjalan mundur dan mulai memukuli kepalanya. Suara kecil di dalam sana mulai mengutuk, mengeluarkan semua sumpah serapah yang bahkan mungkin belum pernah kau dengar.

Sehun menghela napas berat, sementara Kris dan Luhan tidak berkata apa-apa. "Untuk sekarang, tenanglah." Kata Sehun. Suaranya stabil, dan wajahnya keras. Kau mungkin akan berpikir bahwa Sehun yang kau lihat sekarang bukanlah Sehun yang sesungguhnya. "Terutama kau, hyung."

Chanyeol mendongak dan bertemu pandang dengan mata Sehun. Chanyeol tertegun sesaat, berpikir bahwa Sehun tumbuh dengan sangat baik sekarang. Ia mengenal Sehun sudah hampir empat tahun, bahkan lebih lama daripada ia mulai jatuh cinta pada Kyungsoo, hingga saat ini, ia berpikir bahwa Sehun hanyalah seorang bocah. Sedikit meremehkan, memang. Sehun selalu bertingkah seperti itu. Tidak pernah terlalu serius dalam menghadapi apapun kecuali satu; Luhan. Namun hari ini, si brengsek itu bertingkah paling tenang. Paling dewasa diantara mereka. Ia adalah seorang teman yang dapat kau andalkan, pikir Chanyeol.

"Pertama-tama, aku akan mencoba berbicara kepada Ayahku." Ucapnya. "Ini bukanlah hal yang bisa kita tangani sendiri, hyung. Kemampuan kita terbatas. Selanjutnya, aku akan mencoba untuk berbicara pada salah satu temanku." Ia berhenti sebentar. "Tapi ini tidak akan mudah.

Kalau temanku memang bersedia membantu, kita akan mencoba untuk melacak lewat CCTV. Akan memakan waktu cukup lama. Tapi kita bisa melakukannya. Aku bisa melakukannya."

Chanyeol menghembuskan napas berat, bahunya tertunduk lemas. "Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?" seperti orang linglung, pertanyaan itu keluar dari mulut Chanyeol.

"Pulanglah, bocah." Kris menyahut. "Biarkan Sehun mengurus ini terlebih dahulu."

"Kau juga pulang, hyung." Sindir Sehun cepat, "dan ya, kau juga." Tambahnya sembari menoleh kepada Luhan.

"Tidak." Chanyeol menolak. "I'll stay here."

Kris menghela napasnya. "Chanyeol-ah—"

Luhan memotong dengan cepat, "kami akan pulang duluan, Sehun. Kabari kami jika kau menemukan sesuatu." Lalu ia menarik Kris yang sama jengkelnya dengan Sehun.

"Baiklah, terserah kau saja." Kata Sehun akhirnya. Ia kemudian menatap Kris, "Hyung, aku akan mengurusnya. Tenang saja. Aku akan berbicara kepada Ayahku terlebih dahulu."

Sehun mengantar Kris dan Luhan keluar hingga ke pintu utama, kemudian mulai menelpon ayahnya untuk meminta bantuan, meninggalkan Chanyeol yang termagu di atas kursinya.

Tak lama setelah itu, Sehun kembali masuk dan mulai mengepaki barangnya.

"Ayahku akan mencoba membantu. Tapi dengan syarat bahwa kita tidak boleh melapor ke polisi terlebih dahulu." Ia terdiam sebentar, mengamati Chanyeol yang masih terdiam.

"Hey Sehun." Panggilnya, kepalanya tertunduk. Walau tak terdengar isakan, Sehun sangat paham bahwa pria yang lebih tua itu sedang menangis. Chanyeol, entah setinggi dan sebesar apapun tubuhnya, entah semenjengkelkan dan sekasar apapun sikapnya, ia pasti benar-benar menyayangi Baekhyun. Sehun bisa melihat itu. Cukup lama berteman dengan pria bodoh itu membuatnya sangat 'terbaca' untuk Sehun. Ia seperti selembar kertas transparan.

Sehun kemudian menjawab dengan sebuah gumaman.

"Apakah dia akan baik-baik saja?"

Sehun menggigit bibirnya. "Kuharap begitu."

Kemudian, isakan yang tertahan itu akhirnya terdengar. Pelan, dan memilukan.


Hal pertama yang ia rasakan ketika ia membuka mata adalah rasa pegal di bagian bahu, dan kemudian indera penciumannya segera mengambil alih—bau apak. Lalu ia merasa pengap dan pandangannya kabur. Ia mencoba untuk bergerak namun tidak satupun anggota tubuhnya merespon. Tangan dan kakinya mati rasa.

Baekhyun berusaha sebaik mungkin untuk tidak berteriak. Ia tidak bisa melihat apapun. Sepertinya seseorang membungkus wajahnya dengan kain—ya, sepertinya begitu—karena saat ia merasakan bibirnya yang kering dan ia menelan ludah, sesuatu seperti tali mengikat lehernya terik.

Ketika semua rasa gelisah mulai berkumpul dalam dirinya, barulah ia sadar bahwa tangan dan kakinya terikat. Tangannya berada di belakang tubuhnya, rasa terbakar melingkari pergelangan tangannya.

Sesaat sebelum sadar, Baekhyun merasa bahwa dirinya sedang berada di atas kapal—terombang-ambing. Namun ketika sekarang kesadarannya telah kembali, ia menyadari bahwa tubuhnya memang terasa ringan—kakinya berayun. Ke kanan dan kiri dengan ritme pelan.

Seseorang menggantungnya. Barangkali di tengah-tengah ruangan.

Ruangan.

Ia membuka mata lebar-lebar dan berusaha untuk melihat menembus tudung yang terikat terik di kepalanya, tapi ia tidak mendapatkan apa-apa. Serangan panik segera menghantam tubuhnya. Ia mulai terisak dan berteriak dengan sangat kuat. Suaranya terdengar kering dan parau, dan tidak terdengar nyaring bahkan di telinganya sendiri. Tubuhnya menggeliat seperti kepompong, mulai berayun dengan kuat. Ia mendengar suara kerincing rantai. Berkali-kali, ia meneriakkan nama seseorang. Seseorang yang mungkin saja secara ajaib datang untuk menyelamatkannya, atau sekedar mengguncang tubuhnya untuk bangun dari mimpi buruk yang ia alami sekarang.

Tapi nihil. Ia sendirian.

Byun Baekhyun, kau sendirian.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Baekhyun mengalami serangan panik paling mengerikan. Ia merasa pusing, kemudian ia kesulitan bernapas, pandangannya setengah mengabur akibat air mata, tangan dan kakinya menghentak hebat pada udara, dan kemudian ia tak sadarkan diri.

Perlahan, kepalanya tergolek ke samping. Tangan dan kakinya berhenti menghentak. Ritme ayunan tubuhnya melambat.

Dalam ruangan sempit berisi kurang lebih tiga puluh kepala yang sama sekali tidak bersuara, tiga puluh pasang mata menatap tubuh Baekhyun yang tergantung pada rantai besi langit-langit, berayun pelan seakan tak bernyawa, kesadaran Baekhyun menghilang.


Chanyeol mengekori Sehun melewati semak-semak. Masih dalam setelan seragam lengkap yang sudah jelas berbau keringat, Chanyeol mendongak dan melihat semburat jingga mewarnai langit senja. Warna yang mengingatkannya kepada Baekhyun. Ia mendesah, lalu menunduk dan kemudian hanya untuk merasa jengkel; pantat Oh Sehun sedang menatap balik wajahnya.

"Seharusnya disini. Ia minta bertemu disini." Sehun berbisik.

Jangan tanya Chanyeol siapa sebenarnya manusia abstrak yang sedang Sehun bicarakan barusan—karena ia sendiri tidak tahu. Sehun hanya berkata bahwa seseorang yang akan mereka temui ini bisa membantu, kalau-kalau Sehun membujuknya dengan benar. Temperamennya buruk, begitu jelas Sehun. Chanyeol tentunya tidak habis pikir bagaimana orang ini bisa membantu, tapi ia rela melakukan apapun sekarang—termasuk merunduk di semak-semak dengan wajah menatap bokong Sehun.

Mereka sedang berada di daerah Chungmin—yang sebenarnya pantang untuk didatangi anak-anak SoPA, lantaran disini adalah tempat berkumpul sekaligus merupakan lokasi sekolah Multi Seni Hanlim, atau Hanlim Multi Art High School—musuh bebuyutan sekolahnya sendiri. Chanyeol tidak tahu persisnya, tapi SoPA dan Hanlim tidak pernah benar-benar akur. Bukan berarti ia pernah bermasalah dengan salah satu siswa Hanlim, hanya saja, cerita tentang perseteruan kedua sekolah seni ini sudah menjadi rahasia umum yang turun-temurun didongengkan pada tiap masing-masing generasi.

Di samping gedung utama Hanlim, terdapat satu bangunan tua yang terbengkalai, dan Oh Sehun Si Idiot tampaknya memilih semak-semak tinggi di sekitar bangunan itu untuk menjadi tempat negosiasi. Banyak cerita berseliweran tentang gedung terbengkalai ini—tentang mengapa gedung ini dibiarkan terbengkalai, tidak terpakai maupun tidak direnovasi. Tapi Chanyeol akan menceritakan hal itu nanti-nanti. Ada hal yang lebih penting dari itu.

Chanyeol menunduk dan melihat seragamnya. Ia mengerutkan dahi dan segera melepas blazer kuningnya lalu dengan cepat menjejalkannya dengan sangat tidak bermartabat ke dalam tasnya. SoPA sangat terkenal dengan seragam kuningnya, sementara seragam Hanlim memiliki bawahan berwarna abu-abu dan blazer yang berwarna biru gelap. Sesungguhnya, Chanyeol tidak yakin apakah blazer itu berwarna biru gelap atau hanya sekedar hitam—sial, kenapa pula ia membicarakan hal sinting seperti ini dalam kepalanya?

Kesimpulannya, seragam kedua sekolah sangat berbeda dan mencolok. Kalau saja salah satu siswa Hanlim melihat siswa lain yang sangat (tidak mungkin) kebetulan memakai seragam kuning SoPA, tamatlah sudah. Chanyeol hanya berusaha menyelamatkan diri. Bukan berarti ia takut. Senja sudah mulai pudar digantikan oleh gelapnya malam, tidak mungkin ada siswa yang masih di sekolah pada jam ini. Oh, kecuali siswa yang mengambil kelas tambahan, tentu saja.

Lagipula, setelah dilihat-lihat, pantas saja Sehun memakai sweater hitam alih-alih mengenakan blazer kuningnya. Bocah sialan, maki Chanyeol.

"Oh!" Sehun terkesiap pelan, menunjuk pada seseorang yang berjalan melewati semak sambil memaki, lalu menginjak-injak semak tinggi itu dengan jengkel. Ia baru saja keluar dari pagar kawat yang mungkin sudah dipotong—akses untuk membolos, tentu saja.

Chanyeol berdiri mengikuti Sehun, menyipitkan mata untuk melihat sosok yang berjalan kian mendekat. Seorang pria, masih memakai seragam yang sesuai dengan deskripsi Chanyeol sebelumnya. Ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu, lantaran seragam yang ia kenakan terlahap oleh gelapnya malam.

Tapi kemudian, saat jarak mereka hanya beberapa meter, Sehun menyapa dengan senyum lebar.

"Hey, brengsek. Apa kau seputus-asa itu untuk mendatangiku kesini?" kata pria itu, dia memaki lagi, menggerutu karena kawat besi ternyata memberikan beberapa baret pada seragamnya.

"Oh, halo, Daniel. Senang juga bertemu denganmu." Balas Sehun.

Chanyeol mengerutkan dahinya saat matanya bertemu pandang dengan pria yang Sehun panggil Daniel ini.

Ia tinggi—tidak lebih tinggi dari Chanyeol—tubuhnya tegap dengan bahu lebar, dagunya lancip dengan mata tajam, rambutnya cokelat terang.

Daniel mendelik kepada Sehun. Ia maju selangkah untuk membisikkan sesuatu dengan geram. "Kenapa kau bawa orang? Sudah kubilang cukup dirimu sendiri! Bagaimana kalau indentitasku terbongkar? Kau mau tanggungjawab, Oh?!"

Chanyeol memutar bola matanya. "Aku bisa mendengar semua itu."

Sehun tersenyum dan terkekeh pelan. "Tenang saja, ini hyung kepercayaanku. Mulutnya rapat seperti lem super. Nah, karena kalian sudah saling sapa, kenalkan, Daniel, ini Park Chanyeol. Dia satu tahun lebih tua dari kita, omong-omong."

Tanpa Chanyeol duga, Daniel lebih dulu mengulurkan tangannya. "Kang Daniel."

Chanyeol meraih tangan Daniel. Jabatan tangan mereka kuat dan mantap. "Park Chanyeol."

"Oke baiklah." Potong Sehun cepat, "kau bisa membantuku, kan?"

Daniel menatap mata Chanyeol dan Sehun bergantian. "Apa yang bisa kau berikan padaku sebagai imbalannya? Tenagaku tidak murah. Kau tahu itu."

Chanyeol tidak yakin apa yang sedang mereka bicarakan, tapi dari gelagat Sehun, sepertinya mereka benar-benar membutuhkan bantuan pria bernama Kang Daniel ini. Jadi Chanyeol dengan cepat berkata, "Apapun yang kau inginkan."

Mata Daniel melebar. Ada kilatan licik disana. Sehun dengan cepat menoleh kepada Chanyeol, memberinya tatapan yang barangkali berbunyi apa kau sinting berulang kali.

"Woah." Kata Daniel, tergelak. "Temanmu menyenangkan, Oh. Aku suka dia. Baiklah. Ayo pergi dari sini. Aku juga kepingin bolos. School sucks. Aku bisa menghasilkan begitu banyak uang hanya dengan duduk didepan komputer. Bukan begitu, Oh?"

Sehun memutar bola matanya. "Are we deal?"

Daniel tersenyum. "Deal." Ia kemudian mulai berjalan. "Ayo." Katanya.

Pria itu memimpin jalan, sementara Sehun menarik Chanyeol dan mulai berbisik dengan nada panik. "Seriously, hyung?" katanya tak percaya, "pria itu, dia sinting. Bagaimana mungkin kau bisa berkata seperti itu?"

Chanyeol menatap Sehun jengkel. Sesinting apa sebenarnya si Kang Daniel ini sehingga membuat bocah berwajah datar seperti Sehun panik?

"Memangnya kau bisa mengabulkan semua permintaannya?"

"Akan kita pikirkan itu nanti." Sahut Chanyeol.

"Ya. Tentu saja. Akan kau pikirkan itu nanti. Jangan bawa aku." Lalu dengan cepat, Sehun melenggang mengikuti Daniel.

Daniel berbalik dan tersenyum. "Tenang saja, lab-ku tidak jauh dari sini. Ayo."

Chanyeol yakin bahwa ia tidak salah dengar. Lab? Apa kau pikir kau semacam ilmuan? Chanyeol merutuk dalam hatinya.

Ia mendongak dan menatap langit yang sudah gelap sepenuhnya. Langit hari ini gelap dan berawan, Chanyeol tidak melihat satu bintang pun. Kemudian, ia mulai berjalan pelan, menyelipkan tangan dalam saku celananya.

Dalam usahanya untuk tetap bersikap tenang, ia tak hentinya menuturkan beribu doa, hatinya pilu. Ia sungguh, sungguh, ingin melihat Baekhyun.

Kau akan baik-baik saja kan, Pendek?

Berjalan dalam pelan, Chanyeol melihat Daniel dan Sehun melewati tikungan. Lokasi yang mereka tempuh tidak terlalu jauh, hanya berjarak dua blok dari gedung utama Hanlim, melintasi gang-gang sempit dengan perumahan sepi tipe menengah kebawah. Ada banyak pohon yang tidak terlalu tinggi. Kembali mengekori Daniel, mereka berjalan pelan melewati gang—tidak pantas disebut gang, sebenarnya. Lebih mirip jalan setapak yang bahkan tidak akan mempunyai trek kalau saja rumputnya tumbuh subur. Jalan itu tampaknya sering dilewati, karena pada bagian setapak itu saja rerumputan berdiri layu hampir mati. Tak jauh setelah itu, mereka tiba di satu-satunya rumah yang terdapat disana, berukuran sedang, tanpa pagar, dengan cat berwarna kuning kusam yang mulai mengelupas pada dindingnya. Chanyeol berpikir bahwa rumah tersebut kosong.

Mereka berjalan beberapa menit tanpa bicara, hingga pada akhirnya tiba pada sebuah bangunan miring, hampir-hampir roboh, dindingnya terbuat dari papan dengan atap seng yang berkarat, tak jauh dari rumah bertembok kuning barusan.

Kemudian, tiba-tiba saja Daniel berbalik dan tersenyum sumringah, lebar sekali sampai-sampai Chanyeol berpikir bahwa Daniel ini mengingatkannya pada suatu hal—anjing besar. Tipe anjing ramah yang selalu menjulurkan lidahnya dan senang dibelai oleh sang tuan—yang sebenarnya agak tidak cocok dengan penjelasan Sehun, yang berkata bahwa pria ini memiliki sumbu pendek. Dilihat dari gerak-geriknya, ia senang tersenyum, berbagai macam senyum, sebenarnya. Senyum yang benar-benar tersenyum, dan senyum licik yang ia tampilkan tadi saat Chanyeol berkata bahwa ia akan memberi pria itu apapun.

Daniel menatap Chanyeol dan Sehun bergantian. "Selamat datang di istanaku, wahai pengunjung. Make yourself at home!"

Chanyeol menatap Sehun tak paham, sementara kerutan di dahinya makin dalam. Sehun membalas tatapan Chanyeol dengan bahu yang diangkat pelan. Tatapannya menyiratkan percaya padaku. Pria ini tampaknya memang normal—tapi Chanyeol tahu bahwa tidak ada yang benar-benar normal. Pria ini sinting.

Daniel kemudian mengeluarkan kalung dari balik seragamnya. Pada rantai perak yang tergantung di lehernya, terdapat satu kunci yang tampaknya digunakan untuk membuka gembok pada pintu miring yang jelek itu. Benar saja, karena kemudian pintu terayun terbuka dengan bunyi yang tidak menyenangkan akibat sekrup yang berkarat. Namun Chanyeol menganga ketika ternyata terdapat pintu lain yang entah mengapa tidak pada tempatnya.

Dibalik pintu reyot yang buruk itu, terdapat pintu besi solid dengan layar kecil di sampingnya. Daniel hanya cukup menempelkan jempolnya di sana, kemudian suara-suara aneh mulai terdengar—percampuran antara suara auman hewan dan teriakan wanita. Sehun bahkan mesti terlonjak kebelakang.

"Sinting." Makinya, melihat Daniel sengit. "Kau mengganti bunyi password-mu? Terakhir kali aku kesini kau membuatnya seperti suara kucing."

Daniel tertawa. "Menyenangkan bukan? T-rex itu keren."

Pintu terbuka kesamping perlahan, menebarkan sedikit debu dan asap.

"Home sweet home!" teriak Daniel keras sekali, dan mereka berdua mengekorinya dari belakang.

Namun, berbeda dengan ekspektasi Chanyeol, ruangan itu sangatlah tidak elit. Ia hampir-hampir tidak mengerti apa yang sebenarnya tengah mereka lakukan.

Ingin penjelasan singkatnya?

Ruangan itu hanya gudang, berisi berbagai macam tak berguna. Radio, televisi, lemari buku, sepeda tanpa roda, kulkas tanpa pintu, boks-boks karton, dan debu dimana-mana. Satu lampu kuning remang tergantung di tengah-tengah mereka.

"Apa-apaan ini?" Suara Chanyeol meninggi. Ia merasa dipermainkan. Mereka tidak bisa bercanda lagi seperti ini. Baekhyun lebih penting, dan hal-hal sepele yang sama sekali tidak membantu ini mulai membuat darahnya mendidih. Banyak waktu yang terbuang sia-sia, dan siapa yang akan menjamin bahwa dalam waktu yang mereka buang ini Baekhyun akan baik-baik saja?—sial. Ia sama sekali tidak ingin memikirkan hal seperti ini.

Dengan cepat, ia berderap marah kearah Daniel. Pria itu tingginya hanya mencapai hidung Chanyeol. Menatapnya sengit, Chanyeol meraih kerah seragamnya dengan kedua tangannya. Ia mengepalkannya tinggi, membuat Daniel hampir-hampir berdiri pada ujung jempol kakinya.

Chanyeol menatapnya tepat di mata, kilatan kemarahan menggelegak. "Apa kau bercanda?"

Daniel, yang tampak luar biasa santai, hanya tersenyum miring.[]


A/N : Oke, ini telat pake banget. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Kalian boleh kutuk aku sepuasnya. Honestly cerita ini tuh selesainya lama banget, cuma setelah kubaca lagi, aku ngerasa nggak puas dan berakhir dipoles sana-sini. Kuharap kalian nggak marah. Final Chapter coming soon! ARE YOU READY?!

Sekali lagi, aku selalu berterimakasih sama kalian-kalian yang masih pada mau baca meski alur ceritanya udah kemana-mana gini. You guys are seriously the real MVP. Last but not least, sedikit review ya? Terimakasih!;)