[CHAPTER 20 - FINAL: THE LAST FIGHT]


"Life is about finding the ones that make you happy and freeing yourself from those who don't."


Bagaikan ditarik dari kematian, Byun Baekyun terengah sembari terlonjak saat seseorang menyiramnya dengan seember penuh air dingin yang berwarna cokelat pekat, berbau memuakkan. Napasnya memburu sementara tubuhnya berayun liar. Ia menggeliat seperti kupu-kupu yang ingin terbebas dari kepompongnya—yang kemudian gagal dan mati.

Ia menggelengkan kepalanya cepat, berusaha menjernihkan pandangan. Tetes-tetes air jatuh dari rambutnya, dari ujung seragamnya, dan dari ujung sepatunya. Ia masih mendengar kerincing rantai yang berbunyi lembut. Kepalanya masih terikat tudung, dan ia mungkin tidak dapat melihat apa-apa. Tapi indera pendengarannya tajam. Ia mendengar derap kaki sekarang, tidak sesunyi sebelumnya, sebuah percakapan halus, hampir-hampir berbisik, serta bunyi sebuah kursi yang diseret pada lantai beton. Kemudian ia mendengar seseorang berjalan, seakan-akan sedang berada di sampingnya. Lalu, ia mendengar bunyi tuas yang ditarik turun, dan rantai yang berbunyi perlahan, serta tubuhnya yang kemudian berayun pelan—turun kebawah. Ia merasakan sepatunya menjejak lantai—tidak sepenuhnya, masih setengah menggantung. Kemudian bunyi rantai berhenti.

Tak lama kemudian, seseorang menarik penutup kepalanya dengan sangat kasar, membuat Baekhyun meringis.

Sulit untuk dapat melihat pada ruangan yang terang itu. Butuh beberapa waktu hingga matanya perlu membiasakan dengan cahaya yang ada. Awalnya tidak begitu jelas, kemudian kabur, sehingga Baekhyun perlu menyipitkan matanya untuk memfokuskan pandangan pada satu sosok buram yang tengah duduk di atas kursi sambil melipat kaki, kepulan asap keluar dari mulutnya. Baekhyun mengerjapkan matanya beberapa kali.

Ketika ia sudah dapat melihat dengan sangat jelas, ia menyadari bahwa dirinya tidak sendirian di dalam ruangan itu. Baekhyun tidak yakin berapa banyak persisnya, tapi cukup banyak untuk membuat ruangan itu sesak. Ruangan pengap itu terdiri dari dua lantai. Lantai atas tidak seluas lantai di bawahnya, hanya berupa lantai petak yang diberi pagar. Pada samping kiri Baekhyun, terdapat tangga yang berfungsi untuk mencapai ke lantai dua.

Semua orang berdiri—beberapa sedang saling berbicara pelan, beberapa hanya menatap Baekhyun kosong—kecuali satu orang yang duduk persis di hadapannya, merokok cerutu dengan santainya.

Baekhyun menatap semua orang itu was-was. Ia sadar bahwa tubuhnya terikat terik. Tali tambang kasar melingkari mulai dari perpotongan antara lengan dan bahu, yang kemudian disangkutkan pada mata kail rantai di atasnya. Sebuah poros pada langit-langit, dengan tuas yang berada di dekat tangga.

Baekhyun yakin bahwa ia tidak mengenal semua orang ini—kecuali satu orang. Pria brengsek yang sekarang sudah memakai kemeja licin berwarna wine dengan celana kain hitam. Sebuah rantai emas menggantung di lehernya yang gemuk. Pria yang menjemput Baekhyun saat jam istirahat. Pria yang mengaku bernama Shindong, yang berkata bahwa ia akan membawa Baekhyun ke Bibinya. Baekhyun menatap pria itu geram.

Shindong berdiri persis di belakang pria yang sedang duduk santai di hadapannya. Saat memfokuskan perhatian pada pria itu, barulah Baekhyun menyadarinya. Pria itu mengenakan kemeja licin yang sama seperti Shindong, namun ia tidak mengancingkan kemejanya dan memperlihatkan begitu banyak tato yang menghiasi tubuhnya, menjalar hingga ke lengannya. Wajahnya keras dan kasar, seperti orang sinting yang tidak pernah bercukur. Sebuah luka melintang di bawah matanya. Rambutnya licin disisir ke belakang. Baekhyun menebak umurnya mungkin hampir mencapai kepala lima.

"Oh, sepertinya ia sudah sepenuhnya bangun." Shindong kemudian berucap.

"Brengsek." Maki Baekhyun pelan.

Shindong membalasnya dengan senyum. Ia menunduk untuk membisikkan sesuatu kepada pria yang sedang duduk itu. Pria itu mengangguk dan berucap dalam sebuah kalimat yang Baekhyun tidak mengerti. Ia pernah mempelajari bahasa ini saat duduk di bangku menengah, tapi ia tidak pernah benar-benar serius lantaran bahasa ini terlalu sulit untuknya—Mandarin.

Baekhyun mengerutkan keningnya, sementara pria itu menghisap dalam-dalam cerutu terakhirnya dan membuangnya ke lantai, lalu menginjaknya pelan.

Shindong kembali berdiri tegak dan menatap Baekhyun. "Ketua ingin tahu apakah kau merasa haus atau mungkin lapar?"

Baekhyun, yang masih menatapnya penuh kebencian, menyahut "persetan. Mampus saja kau."

Shindong tertawa, lalu berucap sesuatu dalam bahasa Mandarin. Baekhyun menangkap satu kata; duìzhǎng—ketua, atau pemimpin. Pria yang ia panggil Duìzhǎng itu kemudian juga ikut tertawa.

"Tampaknya Ketua cukup menyukaimu, bocah."

"Byun Han?" tiba-tiba saja Duìzhǎng menyebutkan nama Ayahnya dengan logat aneh.

Baekhyun tersentak saat mendengar nama itu.

"Sebenarnya, simpel saja." Lanjut Shindong. "Kami tidak ada urusan denganmu. Kami hanya butuh informasi tentang keberadaan Ayahmu sebelum interpol mendahului kami. Mudah, bukan?"

Sang Duìzhǎng kemudian berdiri, berjalan pelan menuju Baekhyun. Ia berjalan mengitari Baekhyun, memperhatikannya dengan seksama.

"Aku tidak tahu dimana Ayahku." Ucap Baekhyun, dan kali ini, ia memang mengatakan kebenarannya. Ia benar-benar tidak tahu dimana pria itu. Tidak ada yang tahu. Bahkan interpol saja tidak bisa mendeteksi keberadaannya. Pria itu hidup bagaikan mitos sekarang.

"Kau berbohong." Kata Shindong lagi. "Kami tahu kalau Byun Han menghubungimu akhir-akhir ini. Ia terlihat terakhir kali di dekat daerah perbatasan."

Baekhyun terkesiap. Sekarang ia mengerti. Ketika Ayahnya menelpon tempo hari, malam-malam buta hanya untuk menyampaikan beberapa kata yang sama sekali tidak bisa Baekhyun tangkap. Tapi ia ingat sebuah kalimat—tidak, bukan kalimat. Ini masuk akal untuknya sekarang. Ayahnya berusaha untuk memberitahukan sebuah nama. Seseorang yang mungkin saja sangat berbahaya.

Baekhyun kemudian tanpa sadar membisikkan nama itu. matanya membelalak lebar. "Yang Tze. Viper."

Duìzhǎng yang tadi berjalan mengitarinya kemudian berhenti tepat di hadapannya. Ia tersenyum. Bau tembakau yang sangat kuat menyeruak penciuman Baekhyun. Dari jarak sedekat ini, Baekhyun dapat melihat bekas luka yang melintang di bawah matanya, rambut-rambut halus yang tumbuh disepanjang dagu hingga lehernya, serta matanya yang penuh kilatan ganjil. Sesekali, otot di bawah matanya akan berkedut.

Baekhyun mengalihkan matanya dari Sang Duìzhǎng saat Shindong bertepuk tangan, memasang ekspresi kagum yang sengaja dibuat-buat. "Lihat, kan. Kupikir kau tidak mengenalinya."

"Aku memang tidak." Sahut Baekhyun dengan suara dingin.

Tapi kemudian, tatapan Baekhyun kembali teralihkan kepada Duìzhǎng lantaran pria itu menyambar dagunya dengan sebelah tangan, dan mulai menggerakkan wajah Baekhyun ke kanan dan ke kiri. Meski setengah tergantung tanpa kaki yang menjejak lantai, pria itu tampak lebih besar dan berotot dari Baekhyun, serta sedikit lebih tinggi. Wajah Baekhyun hanya sejajar dengan hidungnya. Pria sinting itu bersiul, kembali berucap dalam bahasa Mandarin. Baekhyun sejujurnya terkejut saat ia mengerti sebagian kalimat itu. Mungkin tidak persis, tapi ia tahu. Ia jelas menangkap kalimat yang berbunyi nǐ zhēn de hěn piàoliang yang berarti kau sangat cantik—namun gagal untuk memahami kalimat selanjutnya.

Shindong tersenyum. "Dia bilang kau terlihat sangat cantik, untuk ukuran seorang pria."

Untuk pertama kali, kerumunan disekitar mereka mengeluarkan suara terbatuk yang berusaha disamarkan untuk menutupi tawa.

Baekhyun menggeram, menggigit bagian dalam mulutnya untuk menahan hinaan dan amarah dalam hatinya. Sang Duìzhǎng kemudian mendekatkan tubuhnya, masih memegang dagunya kasar, menundukkan kepalanya untuk menghirup aroma Baekhyun dalam-dalam pada perpotongan lehernya. Baekhyun berusaha untuk mundur, tapi ia tidak bisa. Tubuhnya hanya berayun pelan, sementara ujung sepatunya terseret pada lantai. Baekhyun benar-benar merasakan rasa jijik di sekujur tubuhnya, sesuatu seperti merayap naik dari tulang belakang hingga ke tengkuknya.

Otaknya berputar cepat. Kaki dan tangannya memang terikat, tapi bukan berarti ia tidak bisa menekuk lututnya. Pria itu semakin dekat. Baekhyun dapat merasakan rambut halus pada dagunya menyentuh leher Baekhyun—ia tidak bisa. Ini memuakkan. Dengan cepat, Baekhyun mengayunkan sedikit tubuhnya ke belakang dan memusatkan seluruh tenaganya pada lututnya, lalu dalam hentakan mantap, ia mendorong tubuhnya hingga lututnya menghantam selangkan pria itu. Seakan masih belum cukup, Baekhyun menarik kepalanya ke belakang, kemudian kembali menghantamkan pelipisnya pada hidung pria itu, kuat sekali, hingga Baekhyun sendiri merasa pening. Ia bisa mendengar suara krak kalus ketika pelipisnya bertemu hidung pria itu.

Terhuyung ke belakang, Duìzhǎng membungkuk, megeluarkan suara seperti kambing sedang disembelih, dengan sebelah tangan yang menutupi hidungnya—darah segar segera mengucur keluar, menetes melalui dagunya.

"Duìzhǎng!" teriak Shindong. Ia berlari menghampiri ketuanya, menjentikkan jari pada salah seorang di kerumunan, yang kemudian ikut berlari dengan panik untuk mengambilkan handuk basah yang kemudian diserahkan kepada sang ketua.

Baekhyun tersenyum puas dan menatap baik Shindong maupun Sang Duìzhǎng dengan congkak.

Namun saat Sang Duìzhǎng berhenti mengaduh, kemudian berdiri tegak dan menatap Baekhyun bengis. Ia berderap marah dan segera mengayunkan tangannya ke wajah Baekhyun. Punggung tangannya menghantam pipi Baekhyun dengan bunyi pak yang nyaring. Sudut bibir Baekhyun memar, berkedut dan panas. Baekhyun meringis pelan.

Pria itu berkata dalam intonasi tinggi kepada Shindong, jelas sekali sedang murka. Ia kemudian meneriakkan sesuatu lagi pada kerumunan, yang kemudian bubar diikuti oleh Sang Duìzhǎng yang marah. Ia keluar melewati pintu besi pada ujung ruangan.

Hanya tinggal Shindong dan dirinya sekarang. Perlahan, sembari menatap Baekhyun yang kini sedang berusaha menahan denyutan hebat dari sudut bibirnya, pria itu duduk di kursi yang ditempati Sang Duìzhǎng, mengeluarkan plastik klip kecil dari saku kemejanya. Sebuah bungkusan transparan berisi bubuk putih. Ia menuangkan sebagian bubuk itu di punggung tangannya, kemudian menunduk dan menyumbat sebelah hidungnya, lalu dengan cepat menghirup habis bubuk putih itu.

Baekhyun menatap ngeri; narkoba.

Untuk sesaat, Shindong menengadahkan kepalanya, berkali-kali mendengus melewati hidungnya, sementara ia tersenyum lebar. Saat kepalanya kembali mengahadap Baekhyun, mata pria itu merah dan berair—ia mengerjapkan matanya berkali-kali.

"Nah," kata Shindong akhirnya, matanya berkilat ganjil, "kita lihat apakah kau akan jadi anak baik sekarang."


Kepiting rebus.

Ya, kalau kau bertanya seperti apa muka Park Chanyeol sekarang, maka jawabannya adalah kepiting rebus—ah, atau merah padam lebih tepatnya. Bukan karena marah, tapi karena ia sedang malu.

Ia duduk tepat di samping Sehun, punggungnya tegak tak nyaman, sementara kepalanya menghadap sepatu ketsnya yang kotor. Daniel sudah duduk di depan tiga PC dengan layar lebar, menggeser-geser mouse-nya cepat.

Kronologisnya seperti ini; Chanyeol yang berpikir bahwa Daniel mempermainkannya saat itu, dan Daniel hanya membalasnya dengan senyum. Kemudian dengan sangat santai Daniel melepaskan diri dari cengkaraman Chanyeol—pria itu membuat kerah seragam Hanlimnya kusut—lalu mulai berjalan pada tepi ruangan, persis di sebelah kulkas tanpa pintu, lalu membuka tingkap yang ternyata adalah akses menuju ruang bawah tanah.

Kesimpulannya? Tidak. Daniel sedang tidak mempermainkan mereka.

Sehun, yang kala itu bingung, menatap keduanya bergantian. "Apa-apaan itu barusan?" katanya, bertanya-tanya. Pasalnya, Kang Daniel yang ia kenal secara tidak sengaja lewat sebuah perkumpulan rahasia untuk para hacker di seluruh dunia (yang omong-omong ternyata hidup di daerah yang sama dengannya) bukanlah orang yang senang beramah-tamah. Saat mereka bertemu pertama kali juga, Sehun benar-benar tidak mendapat sambutan yang ramah, jadi Sehun berusaha untuk tetap berhati-hati. Tapi ia sungguh menghargai Daniel karena pria itu bersedia memenuhi ajakan Sehun untuk bertatap muka, dan Daniel bahkan mengajak Sehun untuk mengunjungi lab tempat ia bekerja. Hanya sekali saja, omong-omong. Setelah itu mereka tidak pernah berkomunikasi lagi. Kenapa? Karena identitas mereka bersifat rahasia, tentu saja.

Sementara Park Chanyeol—yeah sebenarnya dia selembut tofu, tofu besar yang didalamnya terdapat bom yang kapan saja bisa meledak. Sehun yakin ia bisa menjinakkan bom itu. Bukan sekali dua kali saja ia melakukannya. Ia seharusnya dianugerahi sertifikat Penjinak Bom Park Chanyeol atau semacamnya.

Meski pada awalnya ia cukup khawatir dengan keadaan Chanyeol yang sangat gelisah dan sensitif seperti ini bertemu dengan Daniel yang juga senang meledak-ledak.

Tapi, ini bukanlah jenis reaksi yang ia tunggu.

Daniel baru saja tidak memperdulikan Chanyeol yang siap mengajaknya berperang. Dia hanya membalasnya dengan senyum sintingnya itu. Sehun merasa lega karena setidaknya mereka tidak adu jotos—oke, dia memang agak sedikit mengharapkannya—tapi tetap saja, ini bukanlah reaksi yang dia harapkan.

"Hei, Oh." Panggil Daniel. "Temanmu ini sangat tidak sabaran, ya?"

Sehun tertawa sumbang. "B-bukan begitu—"

"Ayo masuk. Ini lab-ku yang sesungguhnya." Daniel memotong dan memiringkan kepalanya.

Mereka turun mengekori Daniel melewati tangga yang landai. Tangganya terbuat dari beton yang dicat biru. Chanyeol mesti menahan kepalan tangan saking malunya.

Ruangan itu tidak besar. Dindingnya dilapisi kain flanel yang juga berwarna biru dengan lantai beton berwarna abu. Ada satu kasur lipat di tepi ruangan, di sampingnya ada wastafel, dan di seberang ruangan terdapat meja lebar dengan tiga PC dan satu kursi. Daniel melangkah untuk mengambil kasur lipat dan meletakkannya di samping kursinya.

"Tidak banyak barang disini, tapi yah, silahkan duduk." Katanya.

Dan begitulah akhirnya, Chanyeol masih terduduk dengan tangan di atas lutut sementara punggungnya tegang. Sehun di sebelahnya, sudah daritadi mengeluarkan laptop dan mengutak-atiknya seperti biasa. Daniel sendiri duduk di depan PC-nya, melakukan hal yang sama.

Mereka sudah duduk seperti ini selama hampir 30 menit tanpa berbicara. Daniel langsung melakukan sesuatu yang Sehun perintahkan; menonton CCTV yang membosankan. Karena mereka tidak bisa melacak plat mobilnya, maka salah satu cara untuk mengetahui kemana mobil itu pergi adalah dengan menghubungkan satu CCTV dengan CCTV lainnya; mengikuti arah jalan mobil itu lewat CCTV.

"Mobil ini pergi ke luar Seoul, Sehun." Daniel akhirnya berbunyi, menunjuk CCTV terakhir. Chanyeol dengan sigap berdiri, membungkuk di belakang Daniel. Begitu juga dengan Sehun. "Aku mengikuti jalan mobilnya dan mereka berhenti di daerah Anyang. Aku sudah mencari CCTV di daerah ini tapi sepertinya belum terlalu banyak CCTV disini." Daniel menunjuk titik buram pada sebuah layar; tempat dimana mobil itu terakhir terlihat.

Anyang merupakan daerah kecil. Mirip sebuah perkampungan yang tidak banyak jalan raya. Pantas saja CCTV tidak terlalu banyak.

Daniel mendesah dan meregangkan tubuhnya. "Kurasa pencarianmu sampai disini, Oh. Kau juga, sunbae. Aku tidak bisa menolong lebih dari ini."

Chanyeol melirik jam tangannya. Hampir jam delapan malam sekarang. Pria itu menggigit bagian dalam mulutnya dan menatap Sehun. Waktu terus berjalan. Mereka tidak bisa berdiam diri seperti ini saja.

Sehun balas menatap. "Aku akan menelpon Ayahku sebentar."

"Ooooh, kau tipe anak ayah ya, Oh?"

Sehun mendelik padanya. "Tentu saja. Ayahku sangat khawatir kalau aku terlalu banyak bergaul dengan orang aneh, tahu." Ia kemudian berdiri dan berjalan menaiki tangga, keluar dari ruang bawah tanah itu.

"Kurasa yang ia maksud itu kau, sunbae."

Chanyeol tidak menjawab dan mendeliknya sengit. Sebaiknya tidak meladeni bocah ini, pikir Chanyeol.

Sehun, yang segera keluar dari gudang sempit itu dan menghirup udara malam rakus-rakus, kemudian men -dial nomor ayahnya.

"Ayah? Ya, ini aku."

"Kau mendapatkan lokasinya?"

"Tidak persis. Mobil SUV hitam itu terlihat memasuki daerah Anyang. Setelah itu kami kehilangan jejaknya."

"Kerja bagus, nak. Aku akan membicarakannya kepada tim-ku. Hubungi aku segera bila kau menemukan perkembangan baru."

Sehun hampir ragu, tapi kemudian ia menyuarakan kegelisahannya. "Sebenarnya, apa yang sedang terjadi? Aku sangat khawatir tentang temanku."

Ayah Sehun mendesah berat. "Kami tidak seharusnya memberitahukan ini, tapi kurasa cepat atau lambat kau juga akan mengetahuinya. Selama penyelidikan kami, banyak sekali jejak-jejak mafia Tiongkok yang sudah lama menjadi sasaran kami. Semua petunjuk mengarah kesana. Mereka berbahaya, Sehun. Mereka bandar narkoba kelas internasional."

Sejujurnya, Sehun masih tidak mengerti. Lalu apa hubungannya dengan Baekhyun? Jika memang ini berkaitan dengan Ayahnya yang menjadi buron, apakah ayahnya juga terlibat dengan mafia Tiongkok ini? Tapi… ayah Baekhyun diburu karena ia diduga membunuh atasannya—Seorang eksekutif manajer perusahaan mebel terkenal di daerah Gangnam.

"Lalu, apa yang harus kami lakukan sekarang?"

"Tidak ada. Jangan berbuat macam-macam. Serahkan ini pada kami." Jawab Ayahnya tegas.

Sehun memijit tengkuknya. Chanyeol tidak akan senang dengan gagasan ini. "Baiklah, Ayah. Kuserahkan semuanya padamu."

Lalu telepon kemudian dimatikan.

Pria itu menarik napas dalam-dalam sekali lagi, merasakan hawa dingin malam yang lembab. Musim panas sudah setengah berlalu, dan ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan mengalami hal ini. Bertemu Baekhyun adalah hal yang menyenangkan untuknya—ia senang melihat hyung bodohnya bahagia. Mereka harus menemukan Baekhyun, bagaimana pun caranya. Jadi, Sehun kembali berderap masuk dan menuruni tangga, hanya untuk menemui Chanyeol dan Daniel yang saling bisu.

"Daniel," panggil Sehun, "terima kasih banyak, sungguh. Kau sangat membantu." Lalu ia beralih menatap Chanyeol. "Hyung, ayo. Kita harus melakukan sesuatu."

Daniel mengangkat kedua tangannya panik "Woah woah woah. Sabar dulu. Kalian tidak akan melakukan sesuatu yang ilegal, kan?"

"Aku tidak tahu. Tapi akan kuusahakan untuk tidak." Sehun menjawab, sementara Chanyeol menatapnya bingung.

Daniel nampaknya tidak percaya sama sekali, tapi ia juga tidak ingin ikut terlibat. Ini sama sekali bukan masalahnya. "Well, apapun yang akan kalian cari dan kalian lakukan, kuharap kalian menemukannya." Kemudian ia menatap Chanyeol. "Kau tidak melupakan sesuatu 'kan, sunbae?"

Chanyeol mendengus. Bocah sinting ini jelas membicarakan tentang perjanjian mereka tadi. "Baiklah. Berapa hargamu?"

"Hmmmm." Daniel mengusap-usap janggut imajinernya, memasang wajah licknya. "Aku tidak mau uang. Uangku banyak."

Chanyeol mengerutkan alisnya sambil menatap Sehun, sementara Sehun menatapnya balik dengan mengucapkan 'kan sudang kubilang tanpa suara. Chanyeol berusaha untuk bersabar dan kembali bertanya, "lalu, apa yang kau inginkan?"

"Aku belum memutuskan. Akan kuhubungi kalau aku sudah menginginkan sesuatu." Daniel lalu menatap Sehun dan tersenyum keji. "Kau tahu 'kan, Oh, jangan tiba-tiba menghilang dan tidak bisa dihubungi. Hutang adalah hutang. Aku bersumpah untuk menagihnya sampai aku mat—"

"Ba-baiklah! Jangan berbicara seperti itu." psikopat sinting, tambah Sehun, tentu saja tanpa menyuarakannya keras-keras.

"Ya, baiklah, apapun maumu. Kami harus pergi sekarang." Kata Chanyeol akhirnya, meski sebenarnya gusar karena Daniel tampak seperti orang yang bisa menyuruhmu untuk membawanya ke Mars jika ia mau—tidak. Akan ia pikirkan itu nanti. Ia bahkan akan menjual jiwanya jika ia bisa membawa Baekhyun pulang.

Daniel tersenyum. "Good luck."

Lalu, dengan kalimat perpisahan itu, mereka keluar dari ruang bawah tanah dan gudang yang bobrok itu, lalu berderap tanpa menoleh ke belakang, menuju ke mobil yang diparkir tidak jauh dari gedung utama Hanlim. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil dengan tergesa-gesa, dan Chanyeol membiarkan Sehun mengambil alih kemudi kali ini.

"Hyung." Panggilnya dengan nada serius. "Ayahku bilang mereka akan mengambil tindakan—dan menyuruh kita untuk tidak melakukan apa-apa. Menurutku, kita melakukan sebaliknya. Bagaimana menurutmu?"

Untuk pertama kalinya, Chanyeol tersenyum lebar sekali. "Agree."

"Ayo jemput Kris hyung." Ucap Sehun lagi, dan roda mobil melaju di jalanan Seoul yang gelap ditemani dengan kelap-kerlip lampu jalan raya.

Kau mungkin akan bertanya-tanya, bagaimana dengan Luhan? Rasanya tidak lengkap kalau membicarakan geng bodoh Chanyeol tanpa si cantik yang punya hobi mengomel itu. Tapi, bahkan tanpa membicarakannya, Sehun dan Chanyeol tahu bahwa mereka tidak perlu menyeret Luhan ke dalam bahaya ini. Kris juga pasti akan mengerti. Meski Luhan pasti nanti akan sangat marah, karena ia benci ketika tidak menjadi bagian dalam sesuatu. Mereka akan berurusan dengan Luhan nanti, tentu saja.


Mereka mengendarai mobil Chanyeol menuju Anyang. Kris sudah berada di dalam mobil beberapa saat lalu, ia duduk di samping Sehun yang menawarkan diri untuk mengemudi sementara Chanyeol duduk di belakang.

"Omong-omong, temanmu cukup hebat, Sehun." Puji Kris sungguh-sungguh, sementara ia melipat kedua tangannya di depan tubuh. "Tapi, permasalahannya sekarang adalah, setelah kita sampai di Anyang, kemana kita akan mencari?"

Sesuatu seperti menghantam kepala Chanyeol setelah Kris mengatakan itu. Dia benar. Mereka clueless, tanpa senjata, tanpa rencana, tanpa persiapan apa-apa.

"Aku ingat plat mobilnya." Jawab Sehun, dan baik Chanyeol maupun Kris bisa mendengar sedikit keraguan di dalam kalimat itu. Tapi mereka juga merasakan sesuatu yang lain—sebuah tekad.

Kris menarik napas dalam-dalam. "Oke. Jadi, apa kita berusaha untuk menyisir daerah itu dengan mengidentifikasikan plat mobil?"

Chanyeol mengusap keringat dinginnya dan menatap jam tangannya. Jam sembilan lewat beberapa menit. "Kurasa kita tidak punya pilihan lain." Kata Chanyeol.

"Kau benar." Kris setuju.

"Istirahatlah, Chanyeol hyung." Ujar Sehun, ia juga menoleh kepada Kris. "Kau juga, hyung. Aku akan bangunkan kalian kalau aku lelah mengemudi."

Melewati jalur darat, jarak Seoul menuju Anyang memakan waktu sekitar lima jam. Syukurlah mereka tidak terkena macet saat di jalan tol, dan mereka dalam perjalanan hampir keluar dari Seoul sekarang. Chanyeol tidak yakin apa yang ia katakan untuk membalas kalimat Sehun, tapi ia pikir bahwa ia mungkin benar-benar terlelap setelah itu.

Meski terlelap, Chanyeol tidak benar-benar membiarkan inderanya lumpuh, terutama indera pendengaran. Ia langsung membuka matanya pada detik Sehun membanting setirnya.

"Ada apa Sehun-ah?!"

Tidak berbicara, Sehun dengan cepat memutarbalikkan mobil, membuat tubuh mereka miring kesamping dan segera meninjak gas dengan marah.

Chanyeol melihat jalanan yang gelap, sementara lampu jalanan mulai terlihat jarang pada tepi jalan. Mereka sudah jauh dari Seoul, dan mungkin sudah berada di daerah Anyang sekarang. Ia melirik jam tangannya dan waktu menunjukkan hampir jam tiga subuh sekarang. Ia tidak tahu kalau ia terlelap selama itu. "Sehun, apa yang kau lakukan?!"

Sehun tampaknya tidak perlu menjawab pertanyaan itu karena matanya fokus pada jalanan sepi, sementara Kris berteriak, "kau benar, Sehun! PLAT MOBILNYA! INJAK GASMU LEBIH CEPAT BOCAH. CHANYEOL, BERPEGANGAN PADA SESUATU, CEPAT!"

Tidak benar-benar paham yang sedang mereka bicarakan, tubuhnya menuruti perintah Kris. Ia mencari pegangan dan memegangnya erat-erat.

Jauh di depan mereka, sebuah mobil lain tampak.

Sehun menggeram. "Aku benar-benar tidak salah 'kan, hyung? Kau juga lihat plat mobilnya."

"KMN-1845. Aku sangat yakin." Jawab Kris.

Mobil mereka melaju layaknya turbo. Ketika mereka mendekati mobil yang tadinya berada jauh di depan mobil mereka, barulah kenyataan menghantam Chanyeol kuat-kuat.

Itu adalah plat mobil SUV yang membawa Baekhyun dari sekolah. Itu benar-benar mobilnya. Chanyeol menyipitkan matanya, tapi ia tidak bisa melihat apapun dibalik kaca mobilnya yang gelap.

Sehun menginjak gasnya lebih dalam. Ia membanting setirnya kekiri, meninjak gas lagi, lalu tahu-tahu saja mobil mereka sudah sejajar dengan mobil SUV itu.

"Chanyeol hyung, maafkan aku!" Sehun berteriak sebelum ia membanting setirnya ke sebelah kanan dengan sangat kuat, menghantamkan sisi mobilnya dengan mobil SUV hitam itu. Bunyi klakson terdengar berkali-kali, diiringi bunyi decitan yang memekakkan telinga. Mobil mereka sama-sama oleng setelah itu, namun syukurlah Sehun punya skill mengemudi yang baik. Ia memegang penuh kontrol terhadap setirnya.

Chanyeol, yang benar-benar tidak siap, ikut terlontar ke samping. Kepalanya menghantam kaca mobilnya sendiri—kaca tersebut retak dan ia merasakan sesuatu menetes dari rambutnya. "SIALAN KAU OH SEHUN!"

Sehun berteriak lagi. "MAAFKAN AKU."

"CEPAT CARI PEGANGAN BODOH. PEGANG DENGAN ERAT." Kali ini, Kris yang mengeluarkan suara melengkingnya.

Mobil SUV itu melaju, meninggalkan mobil mereka ke belakang. Saat itu keadaan benar-benar sepi. Lebar jalanan aspal itu tidak selebar jalan raya, namun cukup untuk dua mobil berukuran sedang mengisi tengah-tengahnya. Kanan kiri adalah parit kecil, tanaman padi yang hampir menguning membentang dimana-mana.

Oh Sehun memaki. "Sial." Ia mengganti gigi mobilnya dan dengan cepat kembali menginjakkan gas. Mereka segera mengejar ketinggalan dan Sehun kembali memposisikan mobilnya tepat di samping mobil SUV hitam itu. Tapi pengemudi mobil itu tampaknya juga orang yang cukup handal, karena ia terus mendesak mobil Sehun ke tepi. Sehun tidak memiliki cukup waktu untuk menghantamkan badan mobilnya lagi.

Kris menoleh ke samping dengan panik, melihat parit yang persis berada si samping mereka. "Sehun." Panggilnya, suaranya bergetar. "KITA AKAN MATI."

"Brengsek!" Sehun mempertahankan setirnya dengan tegang. Urat-urat kebiruan bermunculan disepanjang lengannya. "SIAL!"

Sekarang, gantian mobil SUV hitam itu yang menubrukkan bagian sampingnya ke mobil mereka, membuat Sehun sedikit oleng. Pria yang lebih muda itu hampir saja membuat mobil mereka terjungkal ke dalam parit, namun ia memutar setirnya dengan cepat.

"Pegangan dengan kuat." Geram Sehun, sementara mobil mereka masih berdempetan di tengah jalan dengan kecepatan mengerikan. "Aku akan melakukan sesuatu yang gila. Pegangan."

Chanyeol tidak berani bersuara. Nyawa mereka saat ini sedang berada di ujung tanduk. Kris benar. Mereka akan mati kalau seperti ini.

Jadi, Sehun menghilangkan beban setirnya, membiarkan mobil di sampingnya mendesak mobil mereka makin ke tepi. Chanyeol dapat merasakan ban mobil mereka sudah sampai pada bagian gundukan tanah di tepian jalan raya, tepat di samping sebelum parit di sepanjang jalan itu.

Chanyeol menatap ngeri pada jalanan. "Sial. Sial. Sial! OH SEHUN APA YANG SEDANG BERUSAHA KAU LAKUKAN?!"

Kris baru saja memejamkan matanya sambil bergumam, "Tolong selamatkan aku kali ini saja Tuhan aku berjanji akan hidup lebih baik dan beribadah lebih sering, membantu yang membutuhkan, memberi makan yang kelaparan, berhenti menonton hal-hal porno yang kupinjam dari Chanyeol, melakukan semua kewaji—"

"PEGANGAN!" Sehun akhirya berteriak ketika ia menoleh ke samping dan melihat bahwa mobil SUV itu sudah mengambil ancang-ancang untuk menghantamkan mobil mereka kepada mobil Sehun.

Tanpa menoleh ke depan dan terus menatap ke samping, Sehun menghitung dalam hati.

Tiga.

Dua.

Dua setengah.

Satu.

Lalu ia menginjak remnya kuat-kuat, menutup matanya—decitan nyaring roda ban yang berpadu dengan aspal terdengar nyaring—bersiap untuk mendengar bunyi benturan keras yang mungkin saja berasal dari tubrukan mobil mereka, atau malah mungkin tulangnya sendiri dan tulang kedua hyung-nya. Ia berdoa dalam hati, berkata bahwa ia sangat menyayangi kedua orang tuanya, Kris dan Chanyeol, serta ia amat sangat mencintai Luhan. Bunyi decitan panjang terdengar, mobil mereka berhenti tepat sebelum memasuki parit.

Sehun membuka matanya.

Dan sesuai dengan prediksinya, bunyi tuburkan keras terdengar setelahnya. Badan besi yang menabrak tanah keras. Mobil SUV hitam yang tadinya hendak menghantamkan samping badan mobilnya pada mereka sudah terjungkal ke dalam parit dengan posisi menungging. Bagian depan mobil itu terendam ke dalam air parit yang cetek, sementara kepulan asap samar-samar terlihat. Mobil SUV hitam itu tidak sempat melakukannya. Sehun mengkalkulasinya dengan sempurna. Sehun sudah menghentikan mobilnya terlebih dulu tepat sebelum benturan keras itu, yang menyebabkan mobil SUV hitam itu hilang kendali pada setir dan membuatnya oleng memasuki parit.

Sehun, Kris dan Chanyeol terengah.

Chanyeol mengusap keningnya, darah akibat hantaman kepala ke kaca mobilnya sudah berhenti, mengental dan mulai mengering. "Fuck you, Sehun." Ucapnya dengan suara masih bergetar.

Kemudian, mereka mendengar Kris berteriak, setengah menangis dengan suara histeris. "Aku… aku pikir aku akan mati. Tapi kita selamat. KITA SELAMAT! SIAL OH SEHUN KAU JENIUS." Lalu ia melompat dan memeluk Sehun lalu mencium ubun-ubunnya berkali-kali.

Sehun tergelak, untuk pertama kali dalam hidupnya ia tidak menolak ciuman Kris dan malah memeluknya balik.

Chanyeol berusaha untuk mengatur napasnya yang masih memburu, kembali mengelap keningnya yang berkeringat dingin, berwarna merah akibat sisa darahnya. Ia merasakan pelipis kanannya robek. Lalu meringis pelan. Setelah merasa bahwa dirinya masih hidup dan bernapas, Chanyeol membuka pintu mobilnya dan bergerak keluar, diikuti oleh Sehun dan Kris yang tampaknya sudah selesai berpelukan. Chanyeol mendengar Kris membuang ingusnya yang menjijikkan.

Ketika kakinya menjejak ke aspal, ia berhenti sebentar untuk mengamati kondisi mobilnya.

Mengerikan. Mobilnya mengerikan. Sebelah bagian mobil itu penyok—jangan tanya kaca spionnya, sudah jelas hancur—baret yang tidak bisa lagi terhitung, kaca mobil retak. Perfect. Chanyeol kemudian mengalihkan tatapan untuk bertemu mata dengan Sehun. Sehun menunduk menghindari tatapan Chanyeol, yakin sekali ia akan mendapatkan setidaknya satu kepalan ke wajahnya. Ia menunggu, namun ia hanya mendengar Chanyeol membuang napas, lalu melihat sepatu kets Chanyeol yang kotor mendekatinya.

"Kerja bagus, Sehun-ah." Bisik Chanyeol, sementara tangannya menepuk sisi wajah Sehun.

Sehun mendongak dan melihat Chanyeol tersenyum begitu lebar, dan Sehun yakin bahwa matanya berair. Lalu Chanyeol berlalu dan berjalan mantap menuju mobil SUV hitam yang masih terjebak di dalam parit. Ia tidak tampak seperti orang yang baru saja terluka. Kepalanya menghantam kaca mobil cukup kuat, sebenarnya. Cukup untuk membuat kaca mobilnya sendiri retak.

Baekhyun. Pikir Chanyeol. Pikirannya penuh akan nama itu.

Baekhyun.


Beberapa jam sebelumnya…

Baekhyun menatap ngeri pada jarum suntik yang Shindong keluarkan dari sakunya. Ada tiga jarum suntik, masing-masing berisi 5 cc cairan berwarna putih susu. Baekhyun tidak yakin apa sebenarnya cairan putih itu—tapi ia yakin akan satu hal; bukan sesuatu yang baik.

Mata baekhyun membelalak sementara Shindong tertawa sinting.

"Belum pernah lihat ini?" tanya Shindong, mengacungkan ketiga jarum suntiknya. "Ah, sialan. Tadinya mau kupakai sendiri saja. Tapi, ya, kalau kau memaksa—"

"Hentikan." Suara Baekhyun bergetar. Tubuhnya menggeliat lagi. Tali yang mengikat tangannya melingkar dengan sensasi terbakar—Baekhyun terlalu banyak bergerak sehingga tali tambang kasar itu mungkin menimbulkan lecet pada pergelangan tangannya. Ia masih dalam posisi yang sama, tubuhnya masih berayun pelan ketika ia menggeliat, ujung sepatunya tersaruk-saruk pada lantai beton yang kasar. "Tolong hentikan. Kumohon."

Tidak menggubris Baekhyun, Shindong kemudian berdiri dan memainkan satu jarum suntik pada tangannya. "Di Tiongkok, kami menyebutnya cairan kebenaran." Ia mulai berbicara. "Beri dosis yang tepat pada musuhmu, maka ia akan memuntahkan segala rahasia tergelapnya sekalipun. Beri dosis lebih banyak dari yang dianjurkan, maka musuhmu tewas—overdosis."

Mata Baekhyun memanas. Ia memohon kepada Shindong. "Ti-tidak. Kumohon. Aku sungguh tidak tahu apa-apa."

"Tch." Shindong berdecak. "Bagaimana aku bisa tahu kalau kau mengatakan yang sebenarnya?!"

"Aku sungguh tidak tahu apa-apa! Aku tidak tahu dimana Ayahku! Aku bahkan tidak tahu apakah dia masih hidup! Tolong jangan lakukan ini padaku. Tolong, siapapun selamatkan aku!" Baekhyun mulai berteriak. Suaranya pecah dan serak. Ia menangis sejadi-jadinya.

Shindong berjalan mendekat, memutar tubuh Baekhyun dan segera meraih lengannya. "Ssssttt. Tenang saja. Rileks. Hanya sedikit rasa cubitan. Hmm?"

Baekhyun dapat merasakan jari-jari Shindong menaikkan lengan seragamnya. Lalu setelah itu, ia merasakan tajamnya jarum yang menembus kulit lengannya. Ia memekik, tenggorokkannya perih. Pria mungil itu dapat merasakan cairan asing menembus pembuluh darahnya, menyebar dengan cepat layaknya virus berbahaya.

"Nah, sudah." Ujar Shindong lagi, kembali menghadap Baekhyun.

Baekhyun melihat tabung jarum kosong. Shindong menyuntikkan semua isi jarum itu kepadanya.

Awalnya, Baekhyun tidak merasakan apa-apa. Ia mulai menumbuhkan sedikit harapan dalam dirinya, berkata bahwa dirinya mungkin kebal terhadap cairan laknat itu. tapi kemudian ia merasa ringan. Seluruh beban yang berada di bahunya mendadak terasa hilang—layaknya seseorang membantu mengangkat beban berat itu. Lalu ia merasa dirinya terbang. Kaki dan tangannya tidak lagi terikat. Tubuhnya naik menembus langit-langit, meraih awan—ia bahkan dapat merasakan tekstur lembut awan menyentuh pipinya.

Namun tak lama setelah itu, dagunya ditarik dengan kasar, dan dengan pandangan yang kabur serta berganda, ia melihat Shindong—kepala pria itu dua, bertanduk dan jelek sekali. Tubuhnya bersisik hijau dan matanya pipih seperti ular. Kaki tangannya memiliki cakar.

Baekhyun mendengar pria itu bicara, jelas sekali. "Tampaknya sudah bekerja, huh?" lalu ia menggumamkan sesuatu yang dirinya sendiri tidak paham.

"Kau bisa dengar aku dengan jelas?"

Baekhyun tidak tahu siapa yang menyahut 'Ya' setelah itu. Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi, tapi tubuh dan pikirannya ringan. Ini menyenangkan, pikirnya dalam hati.

"Bagus." Kata pria di hadapannya lagi. "Kau ingat Byun Han?"

"Mmmhhm." Baekhyun merasakan kepalanya mengangguk. "Ayahku?"

Pria yang tampak seperti kadal di mata Baekhyun itu tersenyum puas, menampakkan sederet gigi yang berujung lancip. "Ya, benar. Kau tahu dimana ia sekarang?"

Kepala Baekhyun berputar sekarang. "Mmm? Tidak?" Baekhyun tidak yakin apakah ia yang menjawab pertanyaan Shindong barusan, karena ia mendengar suara itu dengan gema di kepalanya—seperti kau sedang berbicara dengan orang di seberang jurang yang jauh. Tapi ia memang berpikir kalau suara itu mirip suaranya.

Shindong mengerutkan keningnya, mendengus kesal. "Sial. Apakah dosisnya kurang?"

Baekhyun mengecap bibirnya yang terasa kering dan kasar. "Dosis? Ayam?"

Shindong memutar matanya. Ayam? Ia ingin makan sosis ayam? Shindong memaki dalam hatinya. Tapi ia tidak bisa benar-benar marah kepada bocah ini sekarang, karena Baekhyun setengah teler. Jadi, ia menggunakan tenaganya untuk kembali menggali informasi. "Lalu, apa yang Ayahmu bicarakan saat ia menghubungimu?"

Baekhyun berhenti mengecap bibirnya dan menggeleng. Ketika ia menggerakkan kepalanya, dunia serasa kembali berputar. "Tidak jelas. Seseorang mau membunuh. Si Duìzhǎng. Yang Tze. Viper."

Shindong mengangkat alisnya tak yakin. "Hanya itu?"

Pria mungil itu mendongak menatap Shindong lalu tersenyum. Rambut magentanya berantakan dan lepek oleh keringat. "Yup."

Merasa frustasi, Shindong berteriak dan memuntahkan seribu makian yang sangat tidak pantas, lalu memijit pelipisnya geram. "Hei, kau tahu," katanya, kembali meraih dagu Baekhyun kasar, "kurasa dosismu kurang."

Mata Baekhyun melebar sedikit, suaranya halus seperti ia sedang mengigau. "Ayam?"

Pria paruh baya itu kembali merogoh sakunya untuk mengeluarkan tabung jarum yang kedua, lalu menghadap Baekhyun dan tersenyum sumringah. Ia kembali menyuntikkan jarum tersebut ke lengan Baekhyun, dan Baekhyun meringis sedikit ketika ia merasakan jarum lain kembali menembus kulitnya.

Efek yang terjadi setelah itu merupakan hal yang terburuk yang mungkin pernah Baekhyun alami. Ia mendadak mendapatkan kejang, bahkan ketika Shindong belum sempat menanyakan hal lainnya. Mata Baekhyun putih, kaki dan tangannya menghentak kuat pada udara. Rahangnya mengatup kuat, sudut bibirnya mengalirkan darah segar—ia tidak sengaja menggigit bagian dalam bibirnya.

Shindong menatap tubuh Baekhyun yang menggeliat liar dengan panik. "Sial. Sial!" ia meraih kedua bahu Baekhyun dan mengguncangnya kuat. "Hei! Hei! Sadarlah! Hei!" tapi Baekhyun tidak berhenti mengalami kejang. Perlahan, Shindong mundur ke belakang dan berlari cepat keluar ruangan.

Ia masuk kembali ke dalam ruangan bersama Sang Ketua dan beberapa anak buah lainnya. Masing-masing dari mereka menyembunyikan pistol di belakang tubuhnya.

"Maafkan aku, Ketua." Shindong berucap dalam bahasa Mandarin. Ia berlutut di hadapan Yang Tze dengan tangan mengepal di atas paha.

Yang Tze melihat tubuh Baekhyun yang perlahan berhenti mengejang, lalu kemudian tubuhnya melemas dan kepalanya terkulai ke samping. Tak lama setelah itu, mulutnya mulai mengeluarkan busa. Pria yang Shindong sebut sebagai Ketua itu mengedarkan pandangan jengkel, lalu membuang puntung cerutunya di kepala Shindong. Dengan panik, Shindong mengibas-ngibaskan sebagian rambutnya yang hangus.

"Kau brengsek." Maki Yang Tze, meludah ke samping dan menatap Shindong sengit. Ia mengulurkan tangannya pada salah satu anak buahnya, dan anak buahnya kemudian menyerahkan sebuah pistol dengan peredam pada ujungnya. Ia mengarahkan pistol tersebut ke kepala Shindong yang sedang berlutut.

"Tolong ampuni nyawaku, Ketua!" teriaknya, panik. Keringat dingin mengalir di sekitar pelipisnya. "Aku memberi dosisnya terlalu banyak! Aku melakukan kesalahan! Maafkan aku!"

Shindong mendengar pria itu mengkokang pistolnya.

"Mati saja sana, kau sialan."

"Ampuni aku Ketua! Aku tidak akan melakukannya lagi!" Shindong berteriak histeris, menjatuhkan kepalanya pada lantai beton. Ia bersujud pada kaki Sang Ketua.

Pria itu kemudian menghela napas dengan berat, menurunkan pistolnya dan mengembalikannya kepada anak buahnya. Ia lalu mengayunkan kakinya untuk menyepak kepala Shindong dengan ujung kakinya. Shindong terpelanting dengan hidung berdarah. "Kau benar-benar idiot. Satu-satunya petunjuk kita hanya bocah ini. Tapi kau—" pria itu hendak kembali menerajang Shindong, tapi berhenti saat Shindong beringsut panik ke belakang seperti seorang pecundang.

Yang Tze kemudian berbalik dan berjalan mendekati Baekhyun yang nampak pucat. Mulutnya masih mengeluarkan busa. Ia menyentuh leher Baekhyun dengan dua jarinya. "Masih hidup." Katanya jengkel. "Denyutnya lemah."

"Ta-tapi, Ketua," panggil Shindong sambil menunduk, "tampaknya ia benar-benar tidak tahu apa-apa."

"Begitu?" tanya Yang Tze.

Shindong mengangguk cepat.

Yang Tze kemudian membelai pipi Baekhyun lembut. "Ah, sayang sekali. Dia cukup manis." Kemudian pria itu membuang napasnya. "Kalau begitu, bawa dia ke Ulsan. Kau tahu maksudku, 'kan? Teman-temanku di Ulsan akan membayar mahal untuk hati dan ginjal bocah ini. Pastikan kau mendapat bayaran yang pantas. Jangan lepaskan dia dengan harga murah. Kau mengerti?"

Shindong dengan cepat berdiri lalu meringis kesakitan. Kepalanya terasa pening. "Baik, Ketua. Aku mengerti." Ia kemudian membungkuk dalam. "Terima kasih karena sudah mengampuni nyawaku, Ketua!" teriaknya lagi, masih dalam posisi membungkuk.

Yang Tze kemudian berjalan keluar ruangan, berhenti di hadapan Shindong lalu meludah kepadanya. "Dasar sampah." Katanya, lalu menoleh kepada salah seorang anak buah yang memiliki tubuh paling berotot. "Kau, ikut dengannya. Kalau dia berani membawa kabur uangku, tembak saja kepalanya. Kau mengerti?"

Pria berotot itu menjawab, "baik, Ketua." Lalu ia memegang pistolnya dengan erat, menatap Shindong tajam.

Shindong berhenti membungkuk saat Yang Tze sudah meninggalkan ruangan, diikuti beberapa anak buahnya kecuali si pria berotot tadi. Shindong meneguk ludahnya kasar ketika matanya bertemu pistol yang sedang pria itu pegang.

"Apa yang sedang kau lakukan? Cepat bergerak." Sergahnya kepada Shindong.

Shindong mengangguk dan dengan panik mulai mendekati Baekhyun yang sudah tidak sadarkan diri. Ia melepaskan ikatan kaki dan tangan Baekhyun, lalu tali tambang kasar yang melingkar di bahunya. Pria itu kemudian membopong Baekhyun di punggungnya.

Lalu bersama-sama, mereka memasuki mobil dan mulai melaju di jalanan aspal sempit di daerah Anyang—kanan kirinya adalah parit, sementara tanaman padi terbentang luas di sekeliling mereka.

Jalanan tampak gelap, lampu jalan tidak begitu banyak membantu penerangan kecuali lampu mobil mereka sendiri. Shindong pikir bahwa ia akan baik-baik saja ketika mereka sampai di Ulsan nanti. Bocah yang sedang terbaring di kursi belakang itu tampaknya berharga cukup mahal, bukan? Ia akan mendapatkan bayaran yang pantas untuk ini, pikirnya. Ia melirik pria yang sedang duduk di sampingnya, menatap jalanan malam dengan serius. Lalu matanya jatuh pada pistol yang masih bertandang di tangan pria itu. Ia kembali meneguk ludah dengan kasar.

Lalu, tiba-tiba saja, mobil lain melaju dari belakang mereka, memposisikan diri tepat di samping mobilnya, dan mulai membanting setir untuk menghantamkan sisi mobil mereka ke mobil yang sedang ia kendarai. Ia hampir kehilangan kendali pada setirnya, tapi untung saja ia dapat mengendalikannya dengan stabil.

Shindong memaki keras-keras.


Meski yakin ia merasa pusing, Chanyeol yakin sekali bahwa ia berlari seperti orang kerasukan. Ia dapat mendengar derap lain di belakangnya, Kris dan Sehun. Mereka mengamati mobil penyok yang berasap itu. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.

"Siapa yang mau—"

"Aku akan turun." Potong Chanyeol, mematahkan keraguan Kris barusan.

Ia turun perlahan pada tanah yang gembur dan keras, kemudian meraih kenop pintu mobil. Posisi mobil yang miring membuatnya kesulitan untuk membuka mobil itu, tapi kemudian ia berhasil dalam tiga kali coba. Matanya tidak dapat melihat ke dalam mobil untuk sesaat akibat lampu jalan yang tidak terlalu banyak—tapi kemudian matanya menangkap sosok mungil tak sadarkan diri, berbaring meringkuk—posisi tubuhnya nampak ganjil.

Chanyeol merasa bahwa jantungnya baru saja berhenti berdetak, dan ia kesulitan bernapas.

"Ia disini!" Chanyeol berteriak. "Baekhyun disini!"

"Sungguh hyung?!" Sehun berseru, dan tahu-tahu saja sudah melompat turun ke atas mobil penyok itu.

Chanyeol merangkak ke dalam, merentangkan tangannya kuat-kuat untuk meraih tubuh Baekhyun. Ia berhasil setelah itu, lalu memeluk tubuhnya dan mulai merunduk keluar dari mobil. Ketika ia memunculkan kepalanya, Kris dan Sehun sudah berada di sisi mobil, membantunya membopong tubuh mungil yang tidak bergerak itu. Bersama-sama, mereka membaringkan Baekhyun di tepi jalan raya yang ditumbuhi rumput.

"Pelan-pelan," kata Kris. Ia tidak ingin menyuarakan ini, tapi ia jelas takut jika Baekhyun mengalami patah tulang atau semacamnya. Tapi setelah ia memperhatikan secara seksama, Baekhyun tampaknya baik-baik saja. Kecuali dengan kenyataan bahwa tubuh dan wajahnya nampak jauh lebih pucat, bibirnya membiru dan kepalanya sedikit robek.

Chanyeol dengan cepat memangku tubuh Baekhyun, memeluknya sembari terisak. "Baekhyun?" panggilnya. "Baekhyun, apa kau baik-baik saja?" ia mengguncang tubuhnya lembut, kemudian tersadar. "Ini tidak benar," katanya, sembari mendongak dan menatap Sehun—Kris kembali ke dalam mobil penyok tadi, tidak yakin apa yang sedang ia lakukan.

Sehun ikut-ikutan bersimpuh di samping Chanyeol. "Ada apa, hyung?"

Mata Chanyeol berair dan ia tidak lagi bisa menyembunyikan isak tangsinya. "Tubuhnya dingin, Sehun. Bibirnya biru. Mu-mulutnya berbuih." Suara Chanyeol bergetar, ia mengguncang tubuh Baekhyun lagi. "Byun Baekhyun, ayolah. Jangan seperti ini. Jangan begini. Bagunlah."

Otak Sehun berputar keras setelah itu. Sesuatu kemudian menghantamnya. Ia dengan panik melihat leher Baekhyun, lalu memeriksa kedua lengannya. Pada lengan kirinya, terdapat lebam biru dan dua buah titik kemerahan.

"Bangsat. Sial!" Sehun tiba-tiba memaki, dan ia bertemu pandang dengan Chanyeol. "Mereka melakukan sesuatu kepadanya, hyung. Suntikan. Ini bekas suntikan."

Chanyeol menggeram, memeluk Baekhyun lebih erat.

Sehun kemudian memaki lebih nyaring, meraih ponselnya untuk menelpon ayahnya. Syukurlah pria itu segera mengangkat teleponnya. Chanyeol tidak yakin dengan apa yang mereka bicarakan, namun yang pasti, ia mendengar Sehun berteriak dengan panik pada teleponnya, sesuatu tentang ambulans dan drug dealer. Ketika ia selesai, Sehun kembali duduk di sebelah Chanyeol, menepuk pundaknya pelan. "Mereka akan datang, hyung. Tunggu sebentar."

Tak lama setelah itu, Kris menongolkan kepalanya dari celah parit. "Bagaimana keadaan di dalam mobil, Kris hyung?" tanya Sehun.

"Dua orang. Masih hidup. Pingsan." Jawab Kris, dan kemudian Ia mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. "Lihat apa yang kudapat."

Sehun dan Chanyeol menatap Kris balik. Sebuah pistol.

Chanyeol berusaha untuk tenang, tapi tubuh Baekhyun yang dalam pelukannya membuatnya sangat ketakutan. Jadi ia melepaskan blazernya dan menyelimuti tubuh Baekhyun agar tubuhnya menghangat. Ia menunduk dan menangkupkan kepalanya pada Baekhyun. Chanyeol masih bisa mendengar napas Baekhyun dengan ritme lambat.

Kris tidak terlalu paham dengan benda berbahaya seperti pistol, namun ia benar-benar ingin mencobanya. Sepertinya keinginan Kris terkabul karena tak lama setelah itu, mereka bertiga mendengar seseorang mengerang dengan kuat, lalu bunyi-bunyi seperti seseorang yang sedang memanjat dengan kesusahan terdengar.

Mereka pertama kali melihat kepala pria itu, muncul dari tepi parit seperti yang Kris lakukan tadi. Kepala, telinga dan hidungnya mengucurkan darah, dan ia terus-terusan mengerang. Mereka bertiga mengambil langkah mundur.

"Sial. Kupikir aku baru saja mati." Pria itu berkata dengan susah payah, sebelum akhirnya sampai pada tanah keras di samping aspal. Pria itu tampaknya belum sadar dengan kehadiran Kris, Sehun dan Chanyeol—karena ketika ia membuka mata, ia terlonjak saking takutnya.

Chanyeol mengenalinya dalam sekali pandang. Ia pria brengsek yang ia lihat dari CCTV. Pria yang menculik Baekhyun.

Sehun dan Kris sepertinya juga menyadarinya.

"Kau—"

"Brengsek!" Chanyeol menggeram, meletakkan kepala Baekhyun hati-hati di rumput empuk, dan segera berderap ke arah pria yang masih terbaring itu.

Chanyeol segera mendudukinya, meraih kerah bajunya dan meninjunya berkali-kali. "Sialan! Kau manusia rendah! Mampus kau!" Chanyeol terus-terusan mengeluarkan kalimat tak senonoh dari mulutnya, sementara kepalan tangannya menubruk wajah pria itu berulang kali.

"Oh," ucap Kris pelan, "sepertinya kita tidak membutuhkan ini," ia menatap pistol pada genggaman tangannya dan menyembunyikan pistol itu di balik seragamnya. Kris kemudian tertawa sinting dan berderap ke arah Chanyeol, ikut-ikutan melakukan hal yang sama seperti yang Chanyeol lakukan—ia mengayunkan kakinya dan menendang apapun yang bisa ia tendang dari tubuh pria itu—Kris berhenti setelah ia mendengar suara krak yang berasal dari kaki pria itu. Ia mengusap peluhnya, matanya nanar.

Chanyeol yang tadinya mendengar pria itu meraung, kini tidak mendengar apapun lagi setelah itu. Wajahnya tidak berbentuk dan basah oleh cairan kental berbau amis. Tangan Chanyeol mati rasa, lecet pada bagian buku-bukunya, tapi ia tidak perduli.

Perlahan, ia menghempakan tubuhnya ke samping, mengusap tangannya yang berdarah pada seragamnya secara sembarangan—berusaha untuk mengatur napasnya yang memburu setelah itu.

Ia bisa saja merampas pistol tadi dari Kris dan langsung menembakkannya kepada batok kepala pria sialan ini, tapi Chanyeol tidak melakukannya.

Sehun hanya menatap kedua temannya dengan puas dan mengambil alih Baekhyun yang masih tergeletak tak sadarkan diri.

Perlahan, mereka bertiga menatap kepada langit yang mulai cerah. Malam hampir berakhir, pikir Chanyeol. Ia kemudian berdiri, berjalan pelan dan menghempaskan tubuhnya pada tanah di samping tubuh Baekhyun, meraih dan menggenggam erat tangannya yang dingin. Matanya menatap langit yang mulai memberi warna pada gelapnya malam. Napasnya teratur, air matanya mulai membanjir.

Chanyeol kemudian menoleh ke samping, melihat wajah Baekhyun yang pucat. Masih sambil menggenggam tangannya, Chanyeol kemudian memiringkan tubuhnya dan meringkuk mendekat pada tubuh Baekhyun yang tak bergerak.

Samar-samar, mereka kemudian mendengar sirine mobil dari kejauhan.[]


A/N : THE END!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Becanda. HAHAHAHAHAHAHA.

Bisa dibilang ini gambaran awal final chapter ini, barangkali? Masih ada beberapa hal yang mesti aku genahin, jadi kuharap kalian bersabar sedikit lagi. Anyway, gimana chapter ini? Chanbaeknya udah ketemu tapi Baekhyunnya lemes gitu:(

Aku ngerti kalian pasti bener-bener belum puas dengan chapter ini, dan I'll pay it for the next chapter, okay?

Meskipun ini plotnya udah kemana-mana dan barangkali bikin kalian pusing, aku sungguh mengapresiasi sepatah dua patah di kolom review. Terimakasih!:)