[CHAPTER 21 - FINAL: THE SLEEPING BEAUTY]


"Oh my Sleeping Beauty, will you awake if I kiss you?"


Chanyeol tidak ingat secara detail bagaimana kejadian setelahnya. Ia pikir ia pingsan setelah ia mendengar bunyi sirine—tapi tidak. Orang-orang selalu bilang jika kau mengalami sesuatu yang buruk, yang mungkin dapat membuatmu trauma, maka alam bawah sadarmu tanpa sengaja akan mengaburkan memori yang menyakitkan tersebut. Pada bidang kedokteran, mekanisme pertahanan diri semacam ini bisa saja berbahaya—berkepribadian ganda, misalnya. Ini adalah salah satu mekanisme pertahanan diri dimana jika seseorang mengalami trauma yang berat, ia akan membentuk pribadi yang baru—seakan-akan terlahir kembali, menjadi seseorang yang baru dengan watak yang berbeda. Pribadi yang baru ini tidak akan mengingat trauma yang mengguncang pribadi lamanya.

Tapi Chanyeol rasa dirinya tidak se-ekstrim itu. Maksudnya, hal ini tidak sampai membuatnya membentuk kepribadian baru, tentu saja.

Namun, entah seberapa keras pun kepalanya berusaha untuk mengingat, ia tidak benar-benar mendapatkan gambaran yang jelas tentang bagaimana ending kejadian mereka hari itu.

Pria jangkung itu ingat bagaimana ia berbaring meringkuk mendekati tubuh Baekhyun, lalu suara sirine yang awalnya terdengar begitu jauh, kini terdengar begitu nyaring di telinganya. Orang-orang berkumpul, sementara langit mulai cerah. Sehun barangkali memanggil namanya berkali-kali setelah itu, sementara Kris mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke atas karena ia memegang pistol—polisi menodongkan pistol mereka kepada pria malang itu—lalu ada begitu banyak mobil polisi dan ambulans. Tapi Chanyeol tidak bergerak, ia masih memandangi wajah Baekhyun, tangannya perlahan bergerak ke wajahnya dan menyentuh pipinya lembut. Ia mengucapkan beribu maaf kala itu, berharap Baekhyun akan mendengarnya dan kemudian membuka matanya.

Riuh orang-orang disekitarnya bagaikan musik latar belakang—ia masih bisa mendengarnya, tapi bunyinya seakan teredam oleh sesuatu.

Lalu ia ingat petugas medis menarik Baekhyun menjauh, membopongnya di atas kasur dorong, lalu memasukkan tubuhnya yang mungil ke dalam ambulans, lalu ambulans itu menghilang begitu saja. Chanyeol ingin berteriak menghentikan, dan ia tahu ia seharusnya tidak, tetapi suaranya tidak keluar. Ia mendengar Sehun meneriakkan namanya lagi.

Ia melihat polisi dan petugas interpol mengamankan pria yang berada di dalam mobil serta pria yang wajahnya bonyok oleh kepalan tangannya, mereka memborgolnya lalu setelah itu ia tidak ingat apapun lagi.

Yang ia ingat berikutnya adalah alasan kenapa mereka bertiga—Chanyeol, Kris dan Sehun—duduk di depan seseorang yang Sehun kenali sebagai ketua tim penyelidikan kepolisian setempat, bersama Ayahnya.

Beberapa menit sebelumnya, Chanyeol mungkin sedang terbaring di ruang tunggu bersama Kris dan Sehun, tak sadarkan diri. Petugas medis memutuskan Chanyeol tidak memerlukan perlakuan khusus selain tiga jahitan di pelipisnya—yang omong-omong sudah selesai dilakukan saat pria itu pingsan tadi. Ia terbangun dengan rasa nyeri di sekitar kepalanya saat Kris mengguncangnya lembut.

Kris menyeringai. "C'mon, big guy. You can't sleep all day!"

Chanyeol membuka matanya perlahan. Ketika ia melihat sosok Kris, pria itu meringis dan tersenyum. "Dimana kita, hyung?"

Kris meletakkan telunjuk di bibirnya, membuat gestur agar Chanyeol diam. Chanyeol menatapnya bingung, kemudian Kris memainkan matanya untuk melirik sebelah kirinya. Chanyeol melihat Sehun yang sedang berbicara serius dengan dua orang pria paruh baya, salah seorangnya Chanyeol kenali sebagai Oh Younggeun—ayah Sehun sendiri.

Lalu, ketika kedua pria paruh baya itu yakin kalau Chanyeol sudah sadar sepenuhnya, mereka diminta untuk masuk ke dalam ruang sempit dengan satu meja dan empat kursi, dindingnya kedap oleh suara sementara ada kamera yang siap mengintai dari sudut langit-langit. Mereka sedang berada di ruangan interogasi.

Seorang pemuda yang memakai seragam kepolisian lengkap masuk ke dalam untuk meletakkan segelas teh hangat masing-masing di hadapan Chanyeol, Kris dan Sehun.

Pria yang duduk di hadapan mereka ini, Chanyeol sempat mendengar beberapa orang memanggilnya sebagai Inspektur Kim. Pria itu mungkin berusia di akhir 40-an, wajahnya tidak ramah, matanya kecil namun tajam dengan alis tebal dan bibir yang hampir membiru akibat rokok, rambut halus mulai tumbuh membentuk kumis. "Jadi," kata pria yang duduk di hadapannya kala itu, Chanyeol melihat lambang kepolisian tersemat di dada pada jaket kulitnya, sementara ayah Sehun berdiri di belakang pria itu sembari melipat tangan di depan dada, "ceritakan apa yang terjadi."

Sehun dengan cepat melirik Chanyeol, sementara Chanyeol meneruskan tatapan berarti itu kepada Kris. Mungkin akibat terlalu sering menghabiskan waktu bersama-sama, mereka jelas-jelas sedang berbagi sinyal, memikirkan satu hal yang sama—pihak kepolisian tidak boleh tahu bahwa Sehun adalah seorang hacker. Dan kenyataan bahwa Sehun menggunakan nama dan ID ayahnya untuk meretas sistem CCTV—tidak, tidak. Ini akan berdampak buruk untuk keluarga Oh. Meski begitu, baik Chanyeol dan Kris sepertinya tidak benar-benar memfungsikan otak mereka dengan sebagaimana harusnya, karena mereka berdua sama sekali tidak bisa memikirkan alasan bagus apapun saat itu.

"Aku tahu plat mobilnya." Sehun kemudian angkat bicara.

Alis Inspektur Kim berkedut.

Sehun mengelap keringat di telapak tangannya pada celananya. "Mobil yang menculik Baekhyun hari itu, maksudku."

Dengan tampang yang sangat tidak terkesan, Inspektur Kim berkata, "dan darimana kau bisa tahu plat mobilnya?"

"Satpam." Kris menyahut, suaranya seperti baru saja tercekik, sementara ia mengerjap memandangi Inspektur Kim dan Oh Younggeun bergantian—sedang mengumpat dalam hatinya tentang betapa idiotnya dirinya. Kris sendiri tidak sadar bahwa kalimat itu barusan keluar dari bibirnya.

Chanyeol dan Sehun mendelik kepadanya.

"Begitu?" tanya Inspektur Kim curiga, sementara Chanyeol melirik sebelah kanannya untuk melihat kaca besar yang berukuran lebih dari satu meter—kaca ini tembus pandang dari luar, pikir Chanyeol. Gerak-gerik mereka sedang diamati. "Lalu kenapa," lanjut Inspektur Kim perlahan, "kalian bisa bepergian sangat jauh hingga ke Anyang, dan dengan sangat kebetulan mendapati mobil yang kalian curigai sebagai penculik dari saudara Byun Baekhyun?" mata pria itu menyipit, memandangi Chanyeol.

Chanyeol merasa bahwa ia harus menjawab pertanyaan ini. Tidak butuh sampai satu detik baginya untuk memuntahkan kalimat berikutnya. "Hal tersebut memang kebetulan, Inspektur—" Chanyeol mencondongkan tubuhnya ke depan untuk membaca name tag yang tersemat di atas lencana kepolisian milik pria itu, "—'Kim Wooseok." Lalu menambahkannya dengan senyum yang kelewat percaya diri.

Inspektur Kim menatapnya lama. "Yah," katanya lagi, mengedarkan pandangan kepada mereka bertiga, "kurasa itu memang kebetulan, ya. Suatu kebetulan juga kalian masih hidup."

"Kami hanya tidak sengaja melihat mobil itu melintas di jalan yang sama—dan kami pikir setidaknya harus menghentikan mereka." Sehun menyahut. Kepercayaan dirinya meningkat seribu kali sekarang. Kris menciut di sampingnya, berusaha meredakan tangannya yang gemetar—mengeratkan kepalan tangannya di bawah meja.

Inspektur Kim memajukan tubuhnya ke depan, melipat kedua tangan di atas meja dan menatap mereka bertiga intens. "Suatu kebetulan juga kalian sedang berjalan-jalan di daerah sekitar Anyang?"

Chanyeol berpikir sepertinya mereka benar-benar tidak bisa menutupi kebenaran yang ada saat itu, karena cepat atau lambat pria ini juga akan mengetahuinya. Namun, sebelum Sehun dan Chanyeol sempat mengeluarkan berbagai bunyi-bunyian dari mulutnya yang dimaksudkan untuk membela diri, pria yang sedari tadi berdiam diri di belakang Inspektur Kim akhirnya melangkah maju dan menyentuh pundak pria itu.

"Wooseok-ssi," panggilnya, telapak tangannya meremas pundak Inspektur Kim, "kurasa bukan itu inti masalahnya."

Wajah Sehun baru saja memerah. Ia menunduk untuk menatapi lengannya. Ayahnya baru saja membelanya. Sebagai seorang pria yang sangat yakin bahwa ia bisa menjaga dirinya sendiri, ini merupakan hal yang sangat memalukan bagi Sehun.

Oh Younggeun menurunkan tangannya, dan kembali mundur lalu melipat lengannya lagi di depan dada, seakan-akan ia tidak pernah melakukan apapun selain itu.

Inspektur Kim, yang meski dengan tampang enggan, akhirnya memutar bola matanya jengah. "Ya, tentu saja. Kurasa bukan itu juga masalahnya." Akhirnya ia berkata. "Masalahnya adalah kau," ia menuding Sehun, jari telunjuknya sedikit bengkok, "adalah yang paling muda dari mereka berdua." Ia memainkan jari telunjuknya dan menunjuk Kris dan Chanyeol bergantian. "Kau masih di bawah umur."

Kris yang sedari tadi menunduk, kini mengangkat kepalanya dan ikut-ikut menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya. Ia memasang ekspresi bingung. Chanyeol juga yang tadinya sudah merasa bahwa tubuhnya basah oleh keringat dingin juga memusatkan perhatiannya kepada Inspektur Kim.

Chanyeol membuka mulutnya untuk berkata, "aku tidak menger—"

"Kau paling muda, dan kau berada di tahun pertamamu di sekolah, bukan?" Inspekur Kim memotong dengan cepat, masih menatap Sehun.

Sehun mengangguk, sama bingungnya dengan kedua temannya.

Merasa kesal karena ketiga bocah dihadapannya tak kunjung paham dengan apa yang ia maksud, Inpektur Kim kemudian berkata, "kau baru enam belas tahun. Dan kau mengemudi."

Sesuatu seperti menyala di dalam kepala Sehun dan ia tersadar dengan menggumamkan aaahhh pelan.

Inpektur Kim mengalihkan pandangannya kepada Kris. "Kau paling tua. Dan dari data yang kuperiksa, kau punya SIM." Ia kemudian bergantian menatap Chanyeol, "kau juga punya SIM." Ia menghela napas berat, "Dari dua orang yang benar-benar memiliki SIM dan sudah memenuhi kualifikasi untuk mengemudi, kalian malah menyuruh seorang maknae untuk mengemudi."

Kris menyeringai, kemudian tertawa pelan. Dengan bunyi tawa tersebut, suasana menjadi lebih cair. Tapi kemudian pria jangkung berambut pirang itu berhenti tertawa. "Maafkan kami Inspektur."

Chanyeol sadar bahwa ia sepertinya sudah menahan napas dari tadi, jadi ia menghembuskannya kuat-kuat, merasa lega bukan main.

"Tentu saja." Ucap Inspektur Kim. "Tapi anak-anak, hukum adalah hukum. Bagi seseorang yang belum punya SIM dan belum layak mengemudi, biasanya dikenakan denda sejumlah uang. Atau kau lebih memilih untuk berdiam diri di dalam sel tiga hari dua malam?" pernyataan terakhir tentu saja ditujukan kepada pria yang paling muda dan yang paling sering kena sial akibat terlalu banyak menghabiskan waktu bersama Park Chanyeol dan Kris Wu—Oh Sehun.

Chanyeol meraih lengan Sehun dan bermaksud untuk membisikkan kepadanya sesuatu—bahwa ia akan menawarkan sejumlah uang untuk membayar denda yang dikenakan kepada Sehun—tapi Chanyeol tidak sempat mengatakan apapun karena Sehun telah terlebih dahulu mengatakan sesuatu.

"Akan kuambil pilihan kedua."

Kris menolehnya cepat, berusaha untuk membaca ekspresi keras Sehun, sementara Chanyeol baru saja melongo, tidak bisa berkata apapun setelah itu karena ia terlalu syok.

Sebelah alis Inspektur Kim naik ke atas. "Nak, kau memilih mendekam di sel?"

"Ya." Sehun menjawab mantap.

"Kau bisa saja membayar denda, tahu. Kurasa dendanya tidak akan terlalu bany—"

"Tidak, Inspektur. Aku pantas mendapatkannya. Setidaknya tiga hari dalam sel akan membantuku untuk merefleksikan diri." Sehun mendongak sedikit untuk menatap Ayahnya. "Aku menyebabkan cukup banyak masalah."

Pria di hadapan mereka itu kemudian mengangkat bahu. "Terserah kau saja." Ia kemudian menoleh kepada cermin besar di samping mereka, memberi aba-aba berupa jentikan jari, dan dua orang polisi berseragam lengkap kemudian masuk.

Chanyeol yakin ia baru saja salah dengar—atau tidak. Tapi kemudian ia tersenyum lembut kepada pria yang lebih muda darinya itu.

Sehun… sudah benar-benar lebih dewasa. Ia tumbuh dengan baik. Chanyeol sangat bersyukur dengan kenyataan bahwa Sehun adalah teman baiknya. Meski lebih muda, Sehun jelas-jelas sangat bisa diandalkan.

Salah seorang pria berseragam lengkap tersebut meminta Sehun untuk berdiri lalu mengeluarkan borgol dari saku belakang celananya dan segera memborgol Sehun. Mereka berdua mengapit tubuh Sehun.

Chanyeol ikut-ikutan berdiri, meremas pundaknya. "Terima kasih, sobat."

Kris juga melakukan hal yang sama. "Aku akan membawakanmu satu baskom tofu ketika kau keluar nanti."

Sehun meringis kepada mereka berdua. "Astaga, aku bukannya mau mendekam selama berpuluh-puluh tahun, hyung."

Kris membalasnya dengan seringai lebar. Ia menepuk kepala Sehun pelan.

Tak lama setelah itu, Sehun digiring masuk ke dalam mobil polisi yang kemudian membunyikan sirine nyaring.

Kris kemudian menolehkan kepalanya menatap Inspektur Kim dengan tatapan bertanya-tanya. "Kemana mereka membawa Sehun?"

Inspektur Kim tersenyum. "Seoul." Katanya, "kalian juga seharusnya kembali."

Chanyeol kemudian meraih lengan Kris. "Hyung, ayo pulang." Ucapnya.


DAY 1

Mereka tidak benar-benar pulang, sebenarnya. Setidaknya tidak untuk Chanyeol. Kris pergi menyusul Luhan untuk memberitakan hal yang terjadi (termasuk berita tentang Sehun yang omong-omong sudah duduk kalem di dalam sel di markas kepolisian Seoul) sementara Chanyeol melaju dalam taksi—jangan lupa mobilnya sudah hancur dan di derek oleh petugas setempat—menuju Rumah Sakit Universitas Seoul.

Ketika ia sampai, Chanyeol segera masuk dan bertanya kepada resepsionis, seorang wanita muda dengan seragam soft pink yang menatapnya seakan ia orang sinting. Chanyeol mengikuti arah mata wanita itu dan mendapati seragam kebanggannya lecek, noda darah di bagian lengannya dan sebagian besar tertutup oleh noda tanah.

"Anda mencari seseorang?" tanyanya tak yakin.

Chanyeol mendongak. "Byun Baekhyun." Jawabnya, "pasien yang dibawa hari ini, pagi sekali, mungkin sekitar jam—"

Wanita itu memainkan jarinya pada monitor di hadapannya. "Ah, ya. Kamar 207, lantai dua."

"Terima kasih."

Chanyeol sudah mendapat pesan dari Sekretaris Yoon ketika ia dalam perjalanan dari rumah sakit. Baekhyun berada di ruang rawat inap untuk sekarang, dan dari informasi yang diberikan oleh Sekretaris Yoon, si mungil itu masih belum sadarkan diri. Chanyeol yakin ia berlari seperti orang gila, menaiki lift dengan kaki yang terus bergetar tak sabar.

Ia tiba di ruang nomor 207 dan mendapati Sekretaris Yoon duduk di bangku panjang di depan pintu, sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon.

"—baik, Nyonya."

Chanyeol hanya mendengar kalimat terakhir pria itu sebelum akhirnya ia berbalik dan menghadap Chanyeol, lalu mendesah dalam. "Tuan Muda," katanya, melepas kacamata dan mengurut batang hidungnya, "aku tahu aku bukan dalam posisi dimana aku bisa menasehatimu."

"Sekretaris Yoon, aku—"

"Tapi, sebagai orang yang jauh lebih tua darimu, aku sungguh-sungguh kecewa. Aku tidak menyangka kau akan berbuat seperti ini. Bukan hanya nyawamu yang jadi taruhan, begitu juga dengan Tuan Muda Kris dan Sehun."

Chanyeol menunduk dalam, lagi-lagi mendengar pria paruh baya itu menghela napasnya.

"Meski begitu, kurasa kau melakukan sesuatu yang benar." Chanyeol mendengarnya berkata lagi, "aku sudah dengar detailnya. Komplotan yang berurusan dengan Baekhyun bukan orang sembarangan. Mereka berbahaya."

Pria jangkung itu mendongak dan menatap Sekretaris Yoon. "Maafkan aku." Chanyeol mencicit pelan.

"Tidak kepadaku, Tuan Muda." Sekretaris Yoon tersenyum. "Tapi sebaiknya kepada Nyonya Lee. Beliau akan pulang pekan depan."

Mata Chanyeol membulat. "Sungguh?"

"Ya." Jawabnya, "dan harus kuakui kalian sangat berani. Yah, berani dan bodoh, sebenarnya. Seorang pria tua sepertiku tidak akan mampu memahaminya—atau mungkin bisa saja, jika aku seumuran kalian. Mungkin hal tersebut adalah sebuah keseruan saat kalian muda, ya?"

Chanyeol mengangguk dan tersenyum lembut. "Kurasa begitu."

"Baekhyun," katanya lagi, "dalam keadaan stabil sekarang. Aku sudah berbicara kepada dokter dan ia berkata bahwa Baekhyun sudah melewati masa kritis. Ia hampir overdosis, Tuan Muda. Jika kalian terlambat sedikit saj—"

"Jangan." Chanyeol mengepalkan kedua tangannya erat di sisi tubuhnya. "Aku tidak ingin dengar."

"Baiklah." Sekretaris Yoon kembali memasang kacamatanya. "Karena Baekhyun sudah baik-baik saja dan itu berkat kalian, kurasa aku tidak punya pilihan untuk mengakui bahwa apa yang kalian lakukan adalah sesuatu yang benar."

Chanyeol kemudian maju selangkah untuk melihat dari kaca transparan yang dilindungi tirai, setengah tertutup. Namun ia masih dapat melihat Baekhyun yang mengenakan piyama bercorak khas rumah sakit, masih terbaring, dadanya naik-turun secara stabil dengan perban di kepala.

"Berapa lama ia akan seperti itu?" ujar Chanyeol pelan, merasakan matanya mulai basah.

"Dokter berkata mereka tidak bisa memprediksi. Tapi ia seharusnya bisa sadar dengan cepat, meski bisa saja agak lama akibat beberapa faktor." Chanyeol merasakan Sekretaris Yoon menepuk pundaknya, "tugas kita hanya menunggu dan berdoa yang terbaik, Tuan Muda. Aku yakin Baekhyun adalah seseorang yang cukup kuat."

"Dia memang kuat." Chanyeol menempelkan tangannya pada kaca, tersenyum ketika satu butir air mata lolos menuruni pipinya, "dia sangat kuat."

"Tentu saja." Balas Sekretaris Kim. "Tapi kurasa selain itu, Anda butuh mandi, Tuan Muda."

Chanyeol berbalik dan menghadap Sekretaris Yoon, yang melemparkan tatapan yang sama dengan wanita resepsionis tadi. Chanyeol meringis. "Kurasa juga begitu. Aku akan pulang sebentar, Sekretaris Yoon. Dan selagi aku pulang," ia kembali menghadap kaca transparan, memperhatikan sosok mungil yang terbaring di dalam sana dengan hati pilu, "tolong jaga dia untukku."

Sekretaris Yoon membalasnya dengan senyum. "Tentu, Tuan Muda."


Chanyeol pulang kerumah lagi-lagi menggunakan taksi. Pulang hanya untuk mandi dan mengganti baju. Setelah ia yakin ia terlihat seperti orang normal yang tidak kusut dan lecek, pria itu kemudian kembali ke rumah sakit. Ia berbicara dengan Sekretaris Yoon yang segera undur diri untuk kembali bekerja.

"Saranku, Tuan Muda," kata pria itu sebelum ia beranjak, "jangan terlalu membuat diri stress dengan hal ini, aku yakin Baekhyun akan baik-baik saja. Dan, jangan lupakan sekolah. Ingat prioritas utamamu."

Chanyeol menganggap kalimat tersebut sebagai kalimat lalu, meski satu titik kepercayaan dalam hatinya berkata bahwa Sekretaris Yoon ada benarnya. Tapi ia tidak bisa memikirkan sekolah untuk saat ini. Ia sungguh tidak peduli jika nilainya akan terjun bebas tahun ini. Ia hanya ingin berada di samping Baekhyun saat pria mungil itu tersadar nanti.

Jadi ia memutar kenop pintu dan masuk ke dalam, menarik satu kursi di pojok ruangan dan segera duduk di samping kasur Baekhyun. Chanyeol menatapnya lama, tapi ia tidak berani menggerakkan tangan untuk menyentuhnya. Ia hanya mengamati. Kulitnya masih pucat dan bibirnya masih biru. Selang infus terpasang di salah satu tangannya.

Chanyeol tidak tahu berapa lama ia menatap wajah kosong Baekhyun.

Tapi kemudian, "aku sungguh menyesal, Baekhyun. Maafkan aku karena tidak mendatangimu lebih cepat. Tolong buka matamu. Aku berjanji akan bersikap baik padamu. Aku tidak—" lalu tangisnya pecah, berupa isakan pelan.

Ia mengucapkan berkali-kali kata maaf setelah itu.

"Ibuku benar, Baekhyun." Katanya lagi. "Aku tidak berguna. Aku tidak bisa melakukan apapun dengan benar. Aku bahkan tidak bisa melindungimu." Ia mengusap wajahnya kasar. "Kalau saja aku lebih cepat, kalau saja aku harus berlari mengejarmu, maka akan terus kulakukan seribu kali—tidak. Akan kulakukan tanpa henti. Jadi kumohon, bangunlah. Buka matamu. Kau dengar aku kan, Baekhyun?"

Chanyeol sebenarnya takut bahwa sentuhannya dapat menyakiti Baekhyun, tapi ia mengangkat tangannya pelan untuk mengelus puncak kepalanya dengan sayang. "Kau pasti sangat kesakitan. Aku harap semua rasa sakitmu berpindah kepadaku, Baekhyun. Aku harap aku saja yang mengalami hal seperti ini. Aku tidak sanggup memikirkan bahwa kau meras begitu tersiksa. Aku harap aku saja yang—"

"Pikirmu kau siapa?"

Chanyeol menoleh ke belakang, mendapati pintu menjeblak terbuka, memperlihatkan Kris dan Luhan yang berdiri tegak—wajah Kris yang sedikit berbaret terlihat sangat jengkel, sementara wajah Luhan memerah dan matanya basah. Luhan segera berlari untuk memeluk Chanyeol, menepuk pundaknya beberapa kali.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Luhan ketika ia melepaskan pelukannya, mengusap air matanya.

Chanyeol menganguk dan tersenyum. "Ya, hyung. Tapi bagaimana bisa kalian disini? Bukankah kalian seharusnya seko—"

"Aku sedang diskors, ingat?" Kris mengetuk-ngetuk keningnya.

"Persetan sekolah. Temanku sedang kesusahan, dan lebih buruk dari itu, MEREKA KESUSAHAN TANPAKU."

Chanyeol terkekeh kecil sebagai balasannya. Mereka tahu hal ini akan datang. Kris memutar bola matanya.

Luhan meletakkan tasnya. "Aku akan menganggap ini bukan apa-apa karena kalian terluka dan Baekhyun…" ia menoleh untuk melirik Baekhyun yang terbaring tak bergerak, "yah, pokoknya, jangan coba-coba memberi embel-embel kalau kalian hanya berusaha melindungi dengan tidak mengajakku dalam tiap aksi kalian. Dasar brengsek. Kuharap Oh Sehun membusuk di dalam sel."

Kris menggigit bibirnya, berusaha untuk tidak tertawa. Dalam hati ia berkata bahwa ia harusnya merekam kalimat barusan dan menunjukkannya kepada Sehun kapan-kapan.

"Ya, baiklah hyung. Maafkan kami." Kata Chanyeol akhirnya.

Luhan memberinya lirikan kesal untuk yang terakhir kalinya dan ia melangkah pelan untuk duduk di kursi samping kasur Baekhyun. Ia mendekat dan membisikkan sesuatu, yang barangkali hanya ia dan Baekhyun sendiri yang tahu. Luhan terkesiap untuk beberapa saat, lalu tersenyum dan menatap Baekhyun lama.

Kris menepuk pundak Chanyeol setelahnya. "Apa kau dengar sesuatu dari dokter?"

Chanyeol melepaskan desahan berat. Suaranya serak. "Tidak dari dokter, tapi Sekretaris Yoon. Mereka berkata bahwa kondisinya sudah stabil, tapi tidak tahu kapan Baekhyun akan siuman."

"Hanya itu?" Luhan menimpali.

"Kurang lebih seperti itu." jawab Chanyeol. "Mereka memintaku untuk tidak terlalu khawatir karena 'Baekhyun akan baik-baik saja'. Sialan. Bagaimana harusnya aku, hyung? Kepalaku rasanya mau pecah." Chanyeol beralih menatap Baekhyun. "Dia… tidak mau bangun, dan dia bahkan tidak mendengarkanku."

Tapi, Kris hanya membalasnya dengan senyum memaklumi. "Aku mengerti perasaanmu, Chanyeol-ah. Kalau aku berada di posisimu, aku mungkin akan merasakan hal yang sama. Jadi," ia berhenti sebentar, "teruslah berbicara padanya sampai ia mendengarkan dan terbangun."

Chanyeol mengusap wajahnya kasar, mengangguk pilu.


Ia melihatnya. Matanya memang tertutup dan tubuhnya tidak bergerak, tapi ia menyaksikan semuanya dari atas—seakan-akan langit memiliki mata, dan mata itu adalah miliknya. Ia sudah mengawasi semuanya mulai dari dirinya terbaring di tepi jalan beraspal di atas rerumputan empuk, ketika Chanyeol menangis dan memeluknya erat, ketika ambulans datang dan membawanya pergi jauh dari Chanyeol, ketika kerumunan orang berpakaian putih menyuntiknya dengan cairan bening, ketika mereka memasang infus di tubuhnya—ia bahkan masih merasakan sengatan kecil di punggung tangannya saat mereka menusukkan jarum infus itu.

Ia melihat semuanya.

Setelah itu, ia terdiam lama di dalam ruangan yang ia duga sebagai rumah sakit. Bau disenfektan dimana-mana, menusuk indera penciumannya. Ia mengambang di langit-langit, mengawasi tubuhnya yang terbaring dalam posisi kaku. Ia ingin berteriak. Ia berharap seseorang mendengarnya. Tapi suaranya tidak mau keluar entah seberapa keras pun ia berteriak. Tidak ada yang mendengarnya.

Lalu pria jangkung dengan surai sekelam malam—pria yang ia tunggu kehadirannya dengan segenap hatinya—melangkah masuk ke dalam ruangan, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi pelan. Ia melihat bahu pria itu terturun lesu, melangkah pelan menuju tubuhnya yang terbaring kaku. Menarik kursi di pojok ruangan dan duduk di samping kasurnya. Ia hanya duduk di sana untuk entah berapa lama. Ekspresinya tak terbaca, kaku dan kelam. Tangannya terkepal di lutut, tubuhnya bergetar sesekali seakan ia berusaha mencoba untuk menyentuh tubuh itu tapi tidak ia lakukan.

Ia ingin berteriak. Ia ingin pria jangkung memeluknya. Ia mulai menangis.

Tapi kemudian ia mendengar pria jangkung itu berkata dengan suara serak dan basah, mengucapkan beberapa kalimat penuh penyesalan dan memohon kepada tubuh itu untuk membuka matanya. Setelah ia selesai dengan kalimatnya, ia mendengar pria yang duduk di sampingnya itu mulai terisak. Mengambang di atas langit-langit, tangisnya menjadi, tapi tiada seorang pun mendengar. Bahkan pria itu.

Kemudian, ia melanjutkan kalimatnya. "Ibuku benar, Baekhyun. Aku tidak berguna. Aku tidak bisa melakukan apapun dengan benar. Aku bahkan tidak bisa melindungimu. Kalau saja aku lebih cepat, kalau saja aku harus berlari mengejarmu, maka akan terus kulakukan seribu kali—tidak. Akan kulakukan tanpa henti. Jadi kumohon, bangunlah. Buka matamu. Kau dengar aku kan, Baekhyun?"

Ya. Aku mendengarmu. Aku mendengarmu, Chanyeol. Kaulah yang tidak mendengarku.

Ia tersedu-sedan sekarang. Ia mesti menutup mulutnya dengan kedua tangan, mengatupkannya erat-erat. Ia tahu hal ini percuma—tidak ada yang bisa mendengarnya, tapi ia hanya tidak bisa melihat pria itu menangis pilu disela-sela kalimatnya.

Tapi kemudian ia melihat Kris dan Luhan melangkah masuk setelahnya. Ruangan mendadak riuh, tapi ia tidak melihat pria yang paling muda—Oh Sehun. Ia senang melihat setidaknya sahabatnya tidak meninggalkan pria jangkung kesayangannya itu sendirian. Si jangkung menghentikan tangisnya setelah itu, bersenda gurau menutupi kesedihannya. Luhan kemudian mengambil alih dan duduk di samping tubuhnya.

"Kau sungguh seseorang yang sangat kuat, Baekhyun." Luhan berbisik lembut. Dari atas langit-langit, ia tersenyum. Senyumnya tanpa sadar menulari tubuhnya yang tidak bergerak. Salah satu ujung bibirnya terangkat ke atas, dan ia mendengar Luhan terkesiap. Pria itu membalas senyumnya.

Aku akan berusaha bangun. Aku akan bangun dan memelukmu, Chanyeol. Jadi jangan bersedih. Karena aku sangat menyayangimu, lebih dari apapun.


DAY 2

Hari kedua dan Baekhyun masih terbaring, pikir Chanyeol.

Chanyeol, Kris dan Luhan menjaganya bergantian. Sesekali, sekretaris Yoon akan datang dan mengunjungi, membawa beberapa makanan untuk mereka—sekalian mengomeli tentang betapa pentingnya sekolah, yang kemudian dibalas dengan 'aku masih diskors' oleh Kris—lalu pria itu hanya akan berlalu bersama omelannya. Beberapa perawat sesekali akan datang untuk sekedar mengelap tubuh Baekhyun (yang ditolak mentah-mentah oleh Chanyeol dan dengan sukarela menawarkan diri untuk melakukannya) atau sekedar mengecek selang infus dan menulis sesuatu di laporannya.

Luhan yang terlihat paling gelisah, dan Kris sepertinya menyadarinya. "Missing him that much, huh, Xi Luhan?" goda Kris, mencolek bahunya.

Chanyeol terkekeh kecil mendengar godaan Kris—as expected, Kris paling lihai dalam mencairkan suasana. Chanyeol membuka beberapa kancing bagian atas piyama Baekhyun. Ia kemudian membasahkan handuk sekali lagi ke dalam mangkuk besar berisi air hangat, memerasnya dan mulai mengusap leher Baekhyun hati-hati. Perlahan, ia mengusapkannya turun ke dada Baekhyun dan ke sela-sela lengannya.

Halus dan lembut seperti bayi, pikir Chanyeol, meneguk ludahnya kasar. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan pikiran sinting di kepalanya—ayolah, Chanyeol. Si mungil ini sedang sakit, terlebih dari itu ia tidak sadarkan diri. Tapi ia sungguh tidak bisa memungkiri bahwa ia sangat haus akan Baekhyun. Meski begitu, wajahnya tidak sepucat kemarin, rona kembali ke wajahnya, dan sesekali Chanyeol bersumpah bahwa ia bisa melihat pipi Baekhyun seperti memerah, seakan-akan ia sedang tersipu—tapi yah, tentu saja itu hanya khayalan Park Chanyeol semata.

Lalu Chanyeol mendengar Kris mendengus. "Kurasa aku mendengar seseorang untuk menyuruh Oh Sehun membusuk ke dalam sel kemarin siang."

"Diam." Luhan berkata kesal, melipat kedua lengannya di depan dada.

Chanyeol, yang sudah selesai mengelap tubuh Baekhyun, mengancingkan kembali piyamanya dan merapikannya dengan benar. "Nah, sudah bersih sekarang." Katanya sembari menepuk kepala Baekhyun sayang—perbannya sudah dilepas pagi ini—lalu menamkan satu kecupan singkat di keningnya. Bahkan bau tajam pembersih rumah sakit tidak bisa menghilangkan bau lembut tubuhnya. Chanyeol masih bisa menciumnya wanginya saat ia mengecup keningnya—meski bau stroberi yang sangat lekat sudah menjadi agak samar—Ia tersenyum lembut, mengusap pipinya.

Chanyeol kemudian menoleh kepada Luhan. "Bilang saja kalau kau begitu merindukannya, hyung." Chanyeol ikut-ikutan menimpali. Ia tidak sesedih dan semerana seperti kemarin, tapi perasaannya masih berat. Tapi ia akan berusaha menenangkan diri karena Baekhyun terlihat jauh lebih baik sekarang.

"Kau juga diam." Katanya lagi. Tapi kemudian kakinya bergerak-gerak tak sabar, sementara ia memuntir ujung bajunya. "Apakah dia makan dengan benar?"

Kris menggaruk-garuk kepala pirangnya yang tidak gatal. "Aku punya teman. Temanku ini memiliki sepupu, dan sepupunya ini mempunyai saudara jauh yang tinggal di daerah Daegu. Nah, si bocah Daegu ini punya adik, dan adiknya in—"

"Kau sebenarnya sedang berbicara bahasa alien bagian planet mana sih, Kris?" Luhan menatapnya sengit.

Kris memutar bola matanya. "Pokoknya, aku dengar cerita ini dari temanku. Makanan di penjara itu tidak enak. Porsinya juga sedikit. Jadi jangan heran kalau nanti Oh Sehun kembali dengan tubuh yang tinggal kulit dan tulang."

"Ngggg, sebenarnya, hyung," panggil Chanyeol, "Sehun tidak benar-benar dipenjara. Ia hanya ditahan dalam sel berukuran tiga kali tiga di bangunan pusat."

Kris kemudian mengeluarkan suara oh pelan.

"Dan ya, Luhan hyung," Chanyeol berkata lagi, memposisikan diri di kasur samping Baekhyun sambil menggengam tangan mungilnya yang tidak di infus, "Sehun akan baik-baik saja. Kita akan menjemputnya besok, ingat? Dan yah, mungkin dia akan sedikit bau."

Kris terkekeh. "Tentu saja, si bodoh itu tidak mandi selama tiga hari! Kalau saja orang-orang tahu pria semacamnya itu tidak mandi selama itu—aaauwww!" pria itu mendelik kepada Luhan. Luhan baru saja meninju tulang rusuknya.

Chanyeol tertawa pelan ketika ia melihat itu, perlahan mengalihkan tatapannya pada tangan Baekhyun yang terlihat begitu mungil jika disandingkan dengan tangannya. Ia menimbang-nimbang tangan itu lembut, menelusuri jari-jarinya dengan jemarinya sendiri, lalu membawa punggung tangannya ke bibir, mengecup dalam-dalam sembari berbisik kecil—aku sayang padamu.


DAY 3

"Kau sudah selesai?" tanya Kris.

Chanyeol mendesah berat. "Sebentar lagi." Katanya.

Ia harus berat hati meninggalkan Baekhyun hari ini. Ia menatap tak rela pada tubuh Baekhyun yang masih tak bergerak, diselimuti dengan rapi dari balik kaca. Mereka berjanji akan menjemput Sehun hari ini, dan Kris membawakan satu kantong tofu berukuran jumbo—persis seperti yang sudah ia janjikan. Orang-orang selalu berkata kalau kau perlu memakan tahu putih yang baru saja selesai di olah ketika kau keluar dari penjara—mereka percaya bahwa tahu putih akan 'mensucikan' dirimu dari segala dosa masa lalumu—ya, konyol. Chanyeol tidak percaya semacam ini, tapi Kris tampaknya tertarik dengan hal-hal berbau mitos seperti ini. Jelas saja, dia 'kan idiot, pikir Chanyeol.

Pria jangkung itu mendesah sekali lagi, menyisir rambut hitamnya ke belakang, lalu menempelkan telapak tangannya pada kaca di hadapannya. Ia sungguh tidak ingin berpisah dengan Baekhyun barang sedetikpun, tapi janji tetaplah janji. Sehun sudah sangat banyak membantunya. Bisa dibilang, semua yang terjadi ini akibat akal brilian Sehun. Mereka berhasil menemukan Baekhyun karena otak encer si bocah itu—meski mungkin lebih dari setengah persen itu adalah kebetulan semata—tapi Chanyeol tahu ia tidak akan bisa melihat Baekhyun lagi kalau bukan karena Sehun, dan Kris, tentu saja.

Chanyeol hampir lupa kalau Bibi Baekhyun berkunjung hari ini. Wanita paruh baya itu sudah tiba dini hari, menangis sejadi-jadinya di depan rumah sakit. Untunglah Chanyeol menemukannya terlebih dahulu dan membawanya ke ruangan Baekhyun. Ia duduk di samping Baekhyun, mengusap ingus dan air matanya berkali-kali. Chanyeol masih bisa mendengar keluhan dan rintihan wanita itu dari balik kaca—sesuatu tentang jika bukan karena Ayah Baekhyun, Baekhyun mungkin akan memiliki hidup bahagia yang normal seperti anak remaja pada umumnya, bahwa Ayahnya sendiri sudah terlalu lama menyiksanya.

Chanyeol merasa sedih mendengar itu, meski demikian, Chanyeol tahu bahwa Baekhyun sangat menyayangi Ayahnya. Sejujurnya, ia berpendapat bahwa kalimat Bibi Baekhyun ada benarnya. Tapi ia juga merasa dilema. Tanpa adanya kejadian ini, ia tidak akan mungkin bertemu si mungil nan manis berambut magenta itu—dan Chanyeol yakin ia akan menghabiskan sisa hidupnya menjadi seorang pecundang bodoh yang percaya bahwa ia 'mencintai' sesuatu yang palsu.

Tidak apa-apa, pikirnya. Mulai sekarang, ia yang akan melindungi Baekhyun.

Chanyeol merasakan seseorang menarik lengannya. Meski tubuhnya besar, tapi Kris ternyata punya tenaga yang cukup kuat untuk membuat seseorang seperti Chanyeol terseret seperti itu.

"Astaga, hyung! Tunggu sebent—"

"Kau lihat dia?" potong Kris cepat, menunjuk Luhan yang tampak gelisah bukan main, "dia terlihat seperti orang sinting. Ayo cepat pertemukan Oh Sehun dengannya karena kalau tidak aku rasa aku bisa gila mendengar ocehannya."

"Ah," Chanyeol mengangguk. "Benar. Maafkan aku. Ayo."


Luhan tidak berani masuk ke dalam kantor pusat—alasannya adalah karena ia tidak sanggup. Kris musti menyeretnya sementara Chanyeol menunduk malu akibat orang-orang memandangi mereka terus-menerus.

"Tidak mau." Luhan menghempaskan diri, merapikan jaket jeansnya kesal.

Kris memutar bola matanya, rambut pirangnya makin acak-acakan—ia berujar ini akibat mereka bertiga memadatkan diri di dalam taksi—mereka diberi peringatan keras untuk tidak memakai mobil pribadi dalam waktu dekat, omong-omong. Meski Chanyeol sebenarnya tidak ambil pusing karena dia sudah mengucapkan selamat tinggal untuk mobil tersayangnya.

"Lalu untuk apa kau ikut kesini?" kata Kris, memlototinya.

Chanyeol menarik sedikit lengan baju Kris, "sudahlah, hyung. Ayo. Tunggu sebentar disini, Luhan hyung. Kami akan membawa kembali Sehun, oke?"

Kris mendengus jengkel dan menyerahkan kantong plastik berisi tahu yang sudah ia pegang untuk beberapa saat kepada Luhan. Luhan menerimanya, lalu membalikkan tubuhnya dan melipat lengan di dada sementara kepalanya menunduk. Tapi kemudian ia mengangguk.

Kris dan Chanyeol meninggalkannya pergi, menulusuri lobi-lobi panjang dan akhirnya sampai di kantor bagian utama. Mereka mendatangi seorang pria yang duduk di kubikel kecil.

"Permisi," sapa Kris, "kami mau menjemput Oh Sehun. Di seharusnya keluar hari ini."

Pria itu tersenyum. "Ya, tunggu sebentar." Ia kemudian berdiri, meraih serenteng kunci. "Ayo, lewat sini."

Mereka berjalan mengekori pria itu melewati lobi lain, menuju ruangan khusus yang ukurannya tidak terlalu besar. Ruangan itu dibagi-bagi menjadi ruangan yang kecil yang diberi jeruji besi. Satu ruangan berisi setidaknya dua sampai tiga orang. Mereka berhenti di sel paling ujung, sementara pria itu mulai mencari kunci yang pas untuk membuka kunci sel tersebut.

Chanyeol melihatnya dalam sekali pandang. Ia masih memakai baju yang sama, jelas sekali tidak mandi selama tiga hari, dan selain dari itu, ia tampaknya baik-baik saja. Sehun duduk di tepi, kaki bersila sementara punggung bersandar pada dinding. Matanya tertutup, tapi segera terbuka ketika ia mendengar pintu sel berderit nyaring.

Matanya melebar ketika ia melihat Chanyeol dan Kris yang menyeringai.

"Hyung!" teriaknya, dan ia bangkit lalu berlari seperti anak anjing yang baru saja bertemu dengan tuannya. Seseorang yang sedang tertidur di dalam sel yang sama dengan Sehun baru saja terlonjak dan memaki nyaring. Tapi mereka terlalu bersemangat untuk memperdulikan apapun selain mereka sendiri.

Sehun menubruk Kris dengan tubuhnya sembari tertawa senang, sementara Chanyeol terkekeh dan menepuk-nepuk kepalanya.

"You've suffered a lot, Sehun." Kata Chanyeol.

"Well, ini bukan apa-apa. Aku baik-baik saja." Sehun terkekeh.

"Kalau begitu jauh-jauh sedikit." Kris mendorongnya jijik. "You smell like shit."

Sehun menggaruk-garuk lehernya sembari nyengir. "Yah, mereka mengizinkanku ke kamar kecil untuk buang air saja. Aku tidak punya pilihan lain, 'kan." Tapi kemudian kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, menatap Kris dan Chanyeol bergantian. "Dimana Luhan?"

"Dia ada di—"

"Permisi sebentar." Pria yang tadi mereka ekori memotong kalimat Chanyeol, menyerahkan beberapa lembar kertas kepada mereka. "Kalian berdua wali Oh Sehun, benar?" Mereka mengangguk sebagai balasan. "Kalau begitu tanda tangan disini sebagai surat resmi pelepasan tahanan."

Kris mengangguk. "Oh, baiklah. Biar aku saja."

"Silahkan tanda tangan disini." Pria itu menunjuk sebuah space kecil di bawah surat, dengan tulisan Tanda Tangan Wali di atasnya. Kris dengan cepat menandatangi surat itu.

"Terima kasih. Semoga hari kalian menyenangkan." Kata pria itu akhirnya. Kris, Chanyeol dan Sehun berderap keluar—Sehun yang paling semangat. Ia terlihat begitu ceria meski dengan kenyataan baru saja menghabiskan dua malam di dalam sel.


Luhan menahan tangisnya, sungguh. Matanya sudah basah dan sudah beberapa kali air mata menggenang di pelupuk matanya, tapi ia menelannya kembali. Hidungnya sudah memerah, dan ia memainkan plastik berisi tahu berukuran besar di tangannya. Dia bertanya-tanya kenapa mereka sangat lama, dan ini membuatnya kesal.

Tapi kemudian ia merasakan seseorang mengetuk-ngetuk pundaknya. Dengan cepat, Luhan berbalik dan hampir saja terjengkang ke belakang kalau ia tidak segera berpengangan dengan dinding di sampingnya.

"Jangan menghalangi pintu masuk." Pria itu menatapnya tajam.

Luhan menduganya sebagai salah seorang polisi yang bekerja disini, tapi ia tidak memakai pakaian resmi. Hanya sebuah jins dan kaus yang dibalut dengan jaket kulit hitam. Ia tampak cukup muda, mungkin belum sampai tiga puluh, tapi wajahnya begitu dingin sehingga membuat Luhan bergidik.

"Ma-maaf." Cicit Luhan, dan ia menepi. Ia kembali berbalik, duduk di tangga paling tepi, menghembuskan napas berat.

Setelah beberapa lama duduk di sana, Luhan mulai jengah dan menggambar pola abstrak di telapak tangannya. Tapi kemudian seseorang kembali mengetuk bahunya pelan. Merasa risih, ia bergeser lagi ke tepi, merasa yakin bahwa ia sudah tidak menghalangi pintu utama—tapi orang itu masih mengetuk bahunya, kali ini dengan lebih cepat.

Luhan kemudian berdiri menoleh ke belakang dan sudah siap memasang ekspresi sengit, tapi kemudian ia berhenti dan mematung. Kantung plastik di tangannya terlepas menghantam tanah, setengah bagian tahu di dalamnya hancur.

"Hi gorgeous. Miss me?"

Luhan tersedak, napasnya mulai tak beraturan, lalu dalam lima detik setelahnya, tangisnya pecah nyaring. Ia tersedu-sedan hebat.

"Hei hei hei." Sehun maju dengan panik, menangkup wajah mungil Luhan ke dalam telapak tangannya yang lebar. "Maafkan aku. Apa kau terkejut?"

Pipi, hidung dan matanya memerah. Ia menangis seperti seorang balita yang kehilangan Ibunya. Luhan tidak tahu kenapa ia bisa menangis seperti itu begitu ia melihat Sehun. Pria itu terlihat kumal, tapi wajahnya cerah dan ia terlihat sangat ceria. Meski sekarang terlihat panik karena Luhan menangis tanpa henti.

"Here comes the drama." Komentar Kris.

Chanyeol hanya tersenyum saja, dalam hati cukup bisa mengerti apa yang dirasakan Luhan.

"Baiklah, baiklah. Maafkan aku, oke. Jangan menangis lagi. Sudah tidak apa-apa sekarang." Sehun berusaha membujuknya, mengusap air matanya lembut dan berkali-kali mengelus pipinya yang kemerahan.

Luhan tidak berhenti. Sedu-sedannya membahana sehingga menarik perhatian orang-orang. Masih sambil tersedu, ia mengambil kantung plastik yang ia jatuhkan dan membukanya, memberikan bagian tahu yang masih bagus kepada Sehun.

"Kau mau aku memakannya?" tanya Sehun.

Luhan mengangguk.

Sehun tersenyum dan menggigit bagian besar tahu itu, mengunyahnya dan melihat Luhan yang masih menangis, tidak seheboh sebelumnya tapi matanya masih berair. Sehun mengangkat tangannya dan menepuk kepalanya sayang selagi ia mengunyah.

"A-aku ingin pe-peluk." Kata Luhan, masih tersedu.

Sehun tertawa. How cute, pikirnya. Ia mengusap lagi pipinya yang basah. "Kau mungkin tidak akan mau."

Luhan menatapnya kesal. "Ke-kenapa? Ti-tidak rindu a-aku?"

Sehun menangkup wajah Luhan lagi, membawanya mendekat ke wajahnya. "Bukan begitu, Lu. Tapi aku bau. Kris hyung bilang bauku seperti kotoran."

Luhan mendelik pada Kris. "Kris bo-bodoh."

"Hei aku bisa mendengarnya." Sahut Kris, mengerutkan keningnya tak suka.

"Kalau begitu," kata Sehun, senyumnya secerah matahari yang sedang bersinar di atas kepala mereka, "mau peluk?" ia merentang kedua tangannya dan memiringkan kepalanya sedikit.

Luhan mengangguk, melemparkan diri ke dalam dada bidang Sehun. Pria yang lebih muda itu tertawa, merasakan Luhan menenggelamkan wajah di dadanya. Ia memeluk Luhan dalam sekali rengkuh, berpikir betapa mungil postur tubuhnya dibandingkan dengan miliknya. Ia menepuk-nepuk pundak Luhan yang omong-omong masih sesengukan.

"It's okay now." Sehun berbisik, mengusap surainya sayang. "Aku baik-baik saja. Berhenti menangis, hmm?"

Luhan melepaskan diri, mendongak menatap Sehun. Ia menjepit hidungnya. "Kris benar. Ka-kau bau."

Sehun meringis, sementara Kris dan Chanyeol tertawa. "Yah, 'kan sudah kubilang." Kata Sehun.

"Ayo pulang. Mandi." Ujar Luhan, meraih tangan Sehun erat.

Mata Sehun melebar. Ia menatap tangan mereka yang bertautan, lalu beralih menatap mata Luhan yang bulat dan lebar, berwarna cokelat cerah. "Bersamamu?"

Luhan menunduk sebagai respon, wajahnya memerah lagi, menjalari telinga dan lehernya—lalu Sehun tertawa. Luhan kemudian berbisik, suaranya seperti desau angin. "Apa kau ingin?"

Chanyeol baru saja tersedak. Ingin apa? Pikirnya, meski sesungguhnya dalam hati kecilnya ia mungkin tahu—ah, sebaiknya tidak usah dibayangkan saja. Mengerikan. Hubungan mereka mungkin sudah lebih jauh dibandingan Chanyeol dan Baekhyun. Bukannya Chanyeol komplain, sih. Tapi tetap saja, memikirkan dua sahabatnya melakukan—baiklah anak-anak, ayo berhenti saja.

Kris mendekati Chanyeol, berbisik, "aku mau muntah."

Chanyeol tertawa sebagai responnya.

Sehun dan Luhan benar-benar pulang setelah itu—jangan bayangkan apa yang mereka lakukan setelahnya—Kris juga akan bilang kalau ia ingin pulang, dan berjanji untuk menyusul Chanyeol nanti malam—yang omong-omong, tetap kembali ke rumah sakit.


DAY 4

Mereka berkumpul di ruangan Baekhyun malam itu, duduk bergantian menjaganya, meski Chanyeol menawarkan diri lebih banyak untuk tetap terjaga, Kris, Luhan dan Sehun tidak membiarkannya. Apapun keadannya, Chanyeol tetap butuh tidur.

Baekhyun masih belum siuman, dan Chanyeol berada di sampingnya sepanjang waktu. Hanya keluar ruangan untuk pulang mandi, atau sekedar buang air. Masalah makan, Kris selalu membeli makanan dari luar dan mereka akan makan bersama di dalam ruangan.

Sehun dan Luhan seperti baru saja ditumpahi lem super—mereka tidak mau lepas, atau Luhan yang sebenarnya tidak mau lepas. Begitu Sehun duduk, ia biasanya akan segera ikut duduk di sampingnya, menempelinya hingga Sehun sendiri merasa sesak. Meski begitu, tidak apa-apa jika ia sesak, buktinya wajahnya saja berseri-seri. Luhan bukan tipe pacar yang clingy. Sehun yang lebih sering menempelinya kemana-mana. Tapi semenjak kemarin sore, Luhan tampaknya tidak mau jauh-jauh dari Sehun, yang omong-omong membuat pria yang lebih muda itu seperti kejatuhan emas dari langit saking bahagianya. Ia akan terkekeh ketika Luhan mulai menempelinya, atau bahkan sekedar memegang lengannya, dan kalau sudah begitu, Sehun biasanya juga akan mengaitkan lengannya pada pinggang ramping Luhan, membawanya lebih dekat—lalu akan tersenyum dengan ekspresi puas jika Luhan tersipu malu akibatnya.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, dan Chanyeol berniat mengusir ketiga temannya untuk pulang. Mereka semua tidak bisa menginap disini, karena ruangannya tidak cukup luas dan hanya ada satu sofa di pojok ruangan. Kris menawarkan diri untuk menjaga Baekhyun malam ini, tapi Chanyeol menolak.

"Sungguh, tidak apa-apa, hyung. Jangan khawatir." Kata Chanyeol kala itu.

Tapi Kris memandangnya dengan ekspresi tak percaya.

Chanyeol hampir saja bisa mengusir temannya ketika Sekretaris Yoon menelponnya malam itu.

"Ya, Sekretaris Yoon. Ada apa?"

"Tuan Muda," panggil pria paruh baya itu, "Anda harus menghidupkan TV sekarang juga. Ayah Baekhyun menyerahkan diri."

Chanyeol hampir saja limpung dan menjatuhkan ponselnya. "A-apa?"

"Ia menyerahkan diri di kepolisian setempat. Semua stasiun TV dalam keadaan gila sekarang. Kurasa kau harus melihatnya."

"Baik. Terima kasih." Ekspresi Chanyeol mengeras. Ia mematikan ponselnya dan segera meraih remote, mencari channel yang masih menayangkan berita.

Tidak butuh waktu lama untuk mereka mendapatkan satu channel dengan seorang pembawa berita dengan setelan kaku, berbicara lantang di depan layar. "—dini hari. Diduga sebagai pembunuh berdarah dingin, Byun Han yang sudah menjadi buron selama hampir lebih dari enam bulan akhirnya menyerah dan mendatangi kepolisian setempat di daerah Gangneung. Ia dibawa ke kantor pusat bagian Seoul malam ini juga. Berikut cuplikan eksklusif dari wartawan kami." Layar berganti, menunjukkan seorang pria yang memakai topi gelap, masker dan baju yang sangat lusuh. Ia tampak seperti seorang gelandangan.

Pria itu turun dari mobil polisi, kilasan flash kamera wartawan terlihat dimana-mana, sementara dua polisi berseragam lengkap mengapit tubuh pria itu.

Tangannya di borgol.

Beribu-ribu pertanyaan membanjiri pria itu setelahnya, bersahut-sahutan seperti pisau eksekusi. Tapi tidak ada satu pun yang jelas. Pria itu hanya menunduk, wajahnya sama sekali tidak terlihat. Kedua polisi yang mengapitnya berusaha menepikan wartawan berkamera besar untuk membuka jalan, membawa pria itu masuk ke dalam kantor pusat.

Layar berganti kembali ke studio utama, pria yang duduk dalam setelan kaku kembali berucap. "Tidak ada keterangan pasti dari kepolisian untuk saat ini. Tapi kami berharap bahwa warga sudah akan merasa aman karena buronan yang paling ditakuti di negara ini sudah tertangkap. Sekian sekilas berita untuk malam ini. Sampai jumpa."

Kris kemudian merampas remote dan menekan tombol off. Mereka saling berpandang-pandangan, sementara Chanyeol merasakan kakinya lemah dan ia menghempaskan diri di kursi di samping kasur Baekhyun. Ia menarik napas dalam, menghembuskannya kasar.

"Apakah," Kris mulai berbicara, suaranya terdengar hampir-hampir seperti ia sedang berbisik, "semuanya akan baik-baik saja sekarang?" ia tidak tahu pasti kepada siapa ia menanyakan ini, karena mereka semua tidak tahu jawabannya. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya.

Chanyeol menatap wajah Baekhyun yang masih terlelap dengan damai. Ia terlihat manis, pikir Chanyeol. Rambut magentanya terlihat sedikit lebih panjang sekarang. Poninya menutupi sedikit matanya. Chanyeol ingin merengkuhnya dalam dan mengatakan kepadanya bahwa semua akan baik-baik saja—tapi ia tidak bisa. Karena ia tidak tahu apakah hal tersebut memang benar, dan terlebih, Baekhyun tidak bisa mendengarnya.

Tapi kemudian Chanyeol meraih tangannya, meremasnya kuat dan membawa tangan mungil itu ke bibirnya, mengecupnya perlahan.

Bangunlah, Baekhyun. Aku membutuhkanmu.[]


A/N: Halo! Saya kembali membawa chapter baru yang kayaknya masih belum memuaskan.

Dari kemarin bacot mulu kalo ini udah mau final HAHAHA FINAL APAAN?

Somehow saya sendiri sebagai author sangat sulit melepas karakter mereka disini. Udah terlalu sayang.

Tapi, yah, aku tahu aku kayak gak punya malu banget karena aku musti minta kalian bersabar sekali lagi. Gapapa kan ya?

Sedikittt lagi aja, lalu semuanya akan berakhir (apaan dah) yah, pokoknya gitu.

Terimakasih sekali lagi, selalu, dan akan selalu aku ucapkan. Sedikit kalimat di kolom review beneran akan sangat berharga buatku. Love ya! Happy weekend precious one!;)