[CHAPTER 22 - FINAL: THE WITCH]


"The Witch is about to steal my Sleeping Beauty..."


Hari itu sama seperti hari biasanya. Hari yang melelahkan, dimana ia akan pulang larut seperti biasanya dan akan mendapati anak tunggalnya sudah terlelap, kadang di meja belajarnya sendiri dengan buku terbuka, kadang sudah bergelung di dalam selimut favoritnya, atau bahkan kadang di depan televisi yang menampilkan layar statis. Ia berjanji akan membawakan anak tunggalnya itu donat stroberi yang selalu ia sukai—nah kalau dipikir-pikir, ia yakin bahwa anak itu agak sedikit terobsesi dengan stroberi. Ia belum pernah melihat bocah itu memakan buat stroberi secara langsung—tapi sabun, shampoo bahkan pasta giginya berperisa stroberi.

Pria paruh baya itu terkekeh selagi ia melangkah menaiki tangga, menjinjing sekotak donat yang akan ia bawa pulang nantinya. Kantor sudah sepi hari itu, beberapa pegawai sudah pulang dari tadi. Sialnya, ia selalu dengan senang hati melakukan pekerjaan lembur. Mungkin saja demi uang. Karena uang akan bisa men-support anak kesayangannya untuk memiliki hidup yang lebih layak.

Seharusnya, sudah tidak ada siapa-siapa lagi di gedung utama. Bahkan office boy seharusnya sudah selesai membersihkan lobi dan koridor. Ia juga seharusnya sudah pulang, karena ia hendak kembali ke ruangannya dan mengemasi barang-barangnya, lalu segera menaiki bus untuk pulang.

Ia yakin bahwa hari itu seharusnya sama seperti hari-hari melelahkan yang telah ia lalui sebelumnya—tapi tidak. Hari itu tidak sama seperti hari-hari sebelumnya ketika ia mendengar suara rendah seseorang berbicara, disusul suara kaca pecah dan sahutan marah.

Byun Han menghentikan kakinya, memasang telinganya baik-baik.

Suara-suara itu berasal dari ruangan di sebelah ruangannya sendiri—ruangan eksekutif manajer perusahaan tempatnya bekerja, Choi Hyunshik. Ia tahu bahwa ia seharusnya segera mengemasi barang dan langsung pulang, namun sesuatu dalam dirinya mendorongnya untuk berjalan pelan tanpa suara, bersembunyi di balik pohon palem artifisial yang ditempatkan di samping pintu ruangan Mr. Choi.

Ia memiringkan kepalanya dan melihat dari kaca transparan—vas bunga mahal yang ia kenali sebagai salah satu dekorasi di dalam ruangan pria itu hancur berantakan di lantai, Mr. Choi menunjuk-nunjuk pria lain yang duduk di hadapannya dengan marah seraya memaki kasar. Ia tidak bisa melihat dengan jelas pria yang duduk di hadapan Mr. Choi—tapi pria itu punya postur seperti seorang beruang. Tubuhnya besar, tidak gendut atau berisi, hanya besar dan nampak berbahaya meski dari belakang—di samping pria itu, ada dua pria lain yang berdiri tegap, tidak bergerak sama sekali.

"Aku sudah bilang kalau aku tidak mau berbicara denganmu." Mata Mr. Choi berkedut selagi suaranya meninggi, ia menghempaskan diri di kursi kulitnya dan mulai meneguk cairan alkohol dari gelas kaca di hadapannya dengan gestur frustasi, "bawakan pantat si brengsek itu di hadapanku, baru kita mulai berbicara lagi."

Pria yang bertubuh besar di hadapannya itu mengenakan setelan jas rapi, begitu juga dengan dua pria lain yang berdiri di sampingnya. "Tidak bisa." Tolaknya, menggeleng. "Ketua dalam keadaan sulit. Kau tahu kan, interpol berhasil melacak markas kami, dan barang-barang itu harus segera kami kirim sebelum mereka berhasil menemukan gudang kami."

"Ha!" Mr. Choi meletakkan gelasnya. "Yang Tze yang terkenal dengan julukan ular viper itu juga kenal takut, rupanya? Jadi kalian senang bermain aman sekarang?" Pria itu mulai melonggarkan dasinya dan memaki. "Kau pikir aku juga tidak dalam keadaan sulit? Minggu lalu polisi sudah menyisir tempat ini secara merata. Sungguh sebuah keberuntungan kalau aku sudah mengirim barang itu ke dapur kalian, sialan."

Byun Han mengerutkan keningnya dalam. Ia awalnya tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini, tapi entah kenapa sepertinya ia mulai mendapatkan sebuah gambaran—dan ia yakin ini bukanlah hal yang bagus.

Mungkin akibat sering bekerja lembur dan kembali datang untuk bekerja pada saat subuh hari—Byun Han adalah orang pertama yang akan menyortir batang kayu yang akan mereka sulap jadi mebel antik dengan nilai jual tinggi, dan agen mereka berasal dari Tiongkok. Ia menemukan beberapa kejanggalan saat menyortir kayu, beberapa diantaranya selalu dipaku pada bagian sisinya, seakan-akan batang kayu tersebut sudah dibolongi dan dipasang kembali dengan kasar, barangkali untuk menyembunyikan sesuatu di dalamnya.

Meski begitu, Choi Hyunshik selalu berkata untuk memisahkan kayu yang memiliki ciri-ciri tersebut dengan alasan bahwa kayu tersebut sudah cacat dan dia akan meminta ganti dengan kayu yang baru dari agen mereka.

Byun Han tentunya bukanlah orang yang usil. Ia hanya berusaha untuk mencari nafkah, dan sejauh ini, ia mengerjakan tugasnya dengan baik tanpa banyak bertanya. Ketika ia tertegun lama, Byun Han mendengar pria di hadapan Mr. Choi kemudian tertawa. "Kalau begitu, apa bedanya kali ini? Bukankah kau tinggal mengirim barang kami ke dapur? Tuanku bukan orang yang sabaran, kau tahu kan?"

Choi Hyunshik menggeleng. "Tidak." Ia meneguk habis alkohol dalam gelasnya kali ini, "aku ingin berbicara dengan Yang Tze. Kalau kalian masih ingin menjadikanku sebagai partner bisnis, maka biarkan aku bicara padanya. Bisnisku juga sedang berada di tepi jurang sekarang. Aku mempertaruhkan semuanya demi sindikat laknat kalian."

Byun Han tidak yakin pastinya, tapi ia dapat mendengar dengusan rendah pria bertubuh besar itu.

"Kalian tentunya akan sulit menemukan pemasok yang murah hati sepertiku." Choi Hyunshik tersenyum miring. "Cepat telepon bos brengsek kalian sebelum hubungan bisnis ini benar-benar berakhir." Ia terdiam sebentar, "aku juga bukan orang yang sabaran, tahu."

"Kau yakin?" tanya pria di hadapannya.

Choi Hyunshik mengangguk, sementara pria bertubuh besar itu kemudian berdiri dan mengulurkan tangan. Hyunshik melihatnya dengan bingung, tapi kemudian meraih uluran tangan itu dan menjabatnya.

"Senang berbisnis dengan Anda, Hyunshik—ssi. Kuharap kau menikmati perjalananmu ke neraka."

Pria itu kemudian memberikan aba-aba dengan memiringkan kepalanya, sementara ia berbalik untuk menyalakan rokok. Kedua pria yang berdiri di sampingnya segera memerangkap Choi Hyunshik. Salah seorang dari mereka—pria berkepala botak—menutup seluruh wajahnya dengan kain hitam sekaligus menangkup mulutnya erat sehingga yang keluar hanyalah sebuah teriakan yang teredam. Pria lainnya mengeluarkan belati kecil dan segera menusukkan benda tajam itu ke tubuh pria itu—mulai dari leher, dada, perut, berkali-kali hingga tidak ada spot yang tertinggal.

Bunyi-bunyi memualkan menusuk telinga Byun Han setelah itu, diikuti dengan darah yang mengucur deras, sementara Choi Hyunshik menggelepar meregang nyawa, pria botak itu dengan cepat kembali mendudukkannya di atas meja kerjanya.

Tidak ada bunyi-bunyian lagi setelah itu, tubuh Choi Hyunshik lemas seperti sebuah tahu busuk, tapi mereka tidak berhenti menusuk tubuhnya, dan Byun Han harus menahan napasnya. Matanya membelalak, napasnya memburu dan ia dapat merasakan keringat dingin menuruni tulang belakangnya.

Ia harus kabur dari sini.

Byun Han dengan cepat melirik ke kanan dan kiri. Seperti yang ia perkirakan, lobi sepi. Tidak ada siapapun disana. Ia cukup berjalan pelan tanpa membuat suara, tapi tubuhnya tidak mau bergerak. Lututnya bergetar hebat.

"Sudah selesai?" pria bertubuh besar itu kemudian berbalik lagi. "Ah sial," makinya, "darahnya dimana-mana."

Pria berkepala botak mengangguk, melepaskan kain hitam yang menangkupi wajah Choi Hyunshik tadinya. Hal tersebut adalah pemandangan paling mengerikan untuk Byun Han. Seakan bolong berbentuk pipih lembab yang mengeluarkan darah segar itu belum cukup membuatnya bergetar, ekspresi wajah pria itu adalah yang terburuk. Ia yakin sekali bahwa wajah itu akan selalu menghantuinya kemanapun ia berada.

Choi Hyunsik terduduk di atas meja kerjanya yang mahal, bersimbah darah sementara kepalanya miring tak wajar ke satu sisi. Wajahnya pucat. Rona kehidupan perlahan mulai menghilang. Matanya membelalak besar, mulutnya setengah terbuka. Ekspresi wajahnya menunjukkan wajah seseorang yang kehidupannya diambil secara paksa—Byun Han baru saja merasakan bulu tengkuknya berdiri—ekspresinya seakan mengatakan: kenapa kau tidak menyelamatkanku?

Dan Byun Han sangat yakin bahwa mata membelalak milik pria yang sudah tidak bernyawa itu tertuju padanya.

"Kau seharusnya menurutiku saat aku berkata baik-baik, sialan." Kata pria itu kepada tubuh Choi Hyunshik yang sudah tak bernyawa. Ia merampas belati kecil dari anak buahnya, mengelapnya pada sisi jas pria itu. "Aku tidak suka pria brengsek ini. Tidakkah kau berpikir bahwa ia sangat congkak?"

"Kurasa begitu." Jawab pria botak pelan.

"Tatapan matanya," kata pria bertubuh besar itu lagi, "sungguh menyebalkan. Seseakan memberitahu bahwa aku hanya makhluk rendah dan dia berdiri di tempat tertinggi di suatu rantai makanan." Ia kemudian menatap anak buahnya. "Menurutmu, apa yang harus kulakukan dengan matanya?"

"Aku tidak ya—"

"Ah." Potong pria itu cepat, "mencungkilnya, tentu saja. Kau sangat jenius."

Byun Han yakin napasnya baru saja tercekat. Ia tanpa sadar menggigit bagian dalam bibirnya. Tidak mungkin. Pikirnya. Ia tidak akan melakukannya sampai sejauh itu.

Tapi pria itu benar-benar melakukannya. Ia mengarahkan ujung belati yang tajam pada bagian mata Choi Hyunshik yang membelalak, menusuknya cepat lalu memuntir gagangnya sehingga Byun Han sendiri dapat mendegar bunyi sesuatu yang terdengar begitu memuakkan. Pria itu menarik gagang belatinya kuat-kuat, lalu Byun Han dapat mendengar bunyi plop pelan setelahnya.

Mata pria itu baru saja mendarat di atas meja kerjanya sendiri, bermandikan darah.

Tak lama setelah itu, ia mendengar suara lain—sebuah suara seperti kotak yang baru saja jatuh menimpa lantai marmer, dan ia menyadari bahwa suara itu berasal dari dirinya sendiri.

Ia tanpa sengaja menjatuhkan kotak donat yang ia beli, membuat ketiga kepala dalam ruangan Choi Hyunshik menolehnya dengan cepat. Matanya dan mata sang pria bertubuh besar segera bertubrukan, dan Byun Han yakin napasnya baru saja tercekat.

Byun Han segera berbalik dan berlari, meninggalkan kotak donatnya. Tapi ia tidak berlari begitu cepat karena sesaat kemudian, seseorang yang entah siapa menghantam kepalanya dengan sesuatu, begitu keras hingga ia terpelanting pada lantai marmer dan dengan segera kehilangan kesadarannya. Meski samar, ia yakin ia dapat mendengar seseorang berkata bahwa mereka seharusnya membunuhnya saja, tapi suara lain berbunyi bahwa mereka akan membuatnya menjadi sebuah skenario drama.

"Lalu aku terbangun," lanjut Byun Han, tangannya di borgol sementara ia memakai baju tahanan dengan nomor 1104 pada dada kirinya, "dan aku terbaring di dekat genangan darah Mr. Choi, yang sudah duduk dengan posisi sangat aneh di atas kursinya, matanya bolong mengucurkan darah sementara kedua bola mata tersusun sejajar di atas meja kerjanya. Tangan kananku memegang belati yang berlumur darah."

"Kau terbangun sesaat sebelum polisi tiba di TKP, benar?" Inspektur Kim Wooseok melipat tangan di depan dadanya, sementara keningnya berkerut. Ia sungguh tidak mengerti.

"Aku yang menelpon mereka," jawab Byun Han tenang.

Beberapa bulan terakhir memberikan pelajaran yang sangat berarti bagi hidupnya. Ia hidup bagaikan gelandangan, memakai baju yang ia dapatkan darimanapun termasuk mengutil di toko baju, mengais makanan dari tong sampah, tidur di halte dan di tepi jalan raya—dimanapun, asal komplotan Yang Tze tidak dapat menemukannya. Ia menghargai setiap butir nasi yang ia dapatkan, setiap hembusan napas yang membuktikan bahwa dirinya masih hidup.

Inspektur Kim membuang napas letih. Di sampingnya, Oh Younggeun sama-sama memasang wajah frustasi.

"Lalu," kata pria paruh baya yang juga merupakan ayah Oh Sehun, "kenapa kau tidak segera mendatangi kami saja?"

"Aku sudah melakukannya." Byun Han menjawab lagi, ekspresinya datar. Ia terlihat jauh lebih tua dari umur yang sebenarnya. Kerutan di matanya makin dalam, wajahnya kotor dengan kumis dan janggut yang tidak terpelihara (kau bisa melihat sisa-sia bongkahan makanan di janggutnya yang kusut), sementara rambutnya yang mulai memutih terjuntai dari sisi wajahnya. "Pria itu mengaku bernama Han Jaemin. Apakah dia salah seorang anak buahmu? Kuberitahu satu hal. Dia adalah salah satu antek-antek Yang Tze. Nasib bagus aku bisa melarikan diri sebelum ia membawaku kepada bajingan gila itu."

"Apa?!" Inspektur Kim mengepalkan tangannya di atas meja. "Jangan sembarangan berbicara!"

Byun Han menatapnya tajam. "Aku mengatakan hal yang sejujurnya. Bagaimana kalau kau panggil anak buahmu itu dan kita lihat siapa yang berbohong sebenarnya?"

"Baiklah." Oh Younggeun memotong cepat. "Lalu, kenapa kau melarikan diri dan memilih menjadi buron selama enam bulan terakhir?"

Byun Han membuang napasnya. "Aku tidak percaya polisi," katanya jujur. "Aku ingin melihat sendiri siapa bajingan sinting bernama Yang Tze ini. Tapi bahkan sebelum kusadari, kalian sudah menyebarkan pamflet dimana-mana, stasiun TV memberitakan bahwa aku adalah pembunuh berdarah dingin sinting. Ha! Apa? Membunuh dengan motif dendam? Bangsat."

"Kami perlu menenangkan publik. Setidaknya kami memberitahu siapa pembunuhnya, meski hal tersebut tidak benar."

Byun Han tersenyum miring, menampakkan giginya yang mulai menguning. "Karena itulah aku benci polisi." Ia berhenti sebentar. "Aku akhirnya tahu siapa Yang Tze setelah menjalani hidup sebagai seorang buron. Aku tahu kalau ia juga orang yang berbahaya. Ia agen obat-obatan terlarang paling besar di Tiongkok, dan kalian sedang mati-matian memburunya, bukan?"

Byun Han tahu pertanyaannya benar karena baik Inspektur Kim dan Oh Younggeun sama-sama tidak memberi jawaban—hanya menatapnya serius.

Ia melanjutkan, "Choi Hyunshik adalah pemasok utama mereka. Kami memesan kayu berkualitas bagus dari Cina, dan kupikir mereka menggelapkan barang mentah tersebut ke dalam batang kayu. Ide brilian, harus kuakui."

"Tidak heran kalau mereka lolos dari investigasi kami." Inspektur Kim mengangguk menyetujui.

"Terakhir kali kudengar, mereka sedang mengembangkan narkoba jenis baru yang dapat membuat pemakainya membocorkan rahasia tergelapnya—seperti sebuah serum kebenaran." Byun Han kemudian menunduk, melihat besi borgol yang terasa dingin di pergelangan tangannya, "dan mereka menggunakan itu kepada anakku." Ekspresinya berubah gelap.

Oh Younggeun menatap pria itu. "Dan itulah alasan kenapa kau menyerahkan diri, benar begitu?"

Byun Han mengangguk sedih. "Aku ingin bertemu Baekhyun." Katanya.

"Tidak secepat itu." Sela Inspektur Kim. "Kami tidak bilang bahwa kau sepenuhnya tidak bersalah. Kami masih mencurigaimu."

"Tentu saja." Byun Han tersenyum. "Aku harus membocorkan penemuan yang kudapatkan selama aku menjadi buron."

Inspektur Kim memajukan tubuhnya ke depan, jelas-jelas menunjukkan bahwa dirinya tertarik. "Dan apa itu?"

"Tapi sebagai gantinya, aku ingin bertemu Baekhyun." Byun Han mengepalkan tangannya. Ia tidak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak, tapi ia berharap demikian.

Untuk sesaat, Inspektur Kim dan Oh Younggeun berpandang-pandagan, barangkali mengirimkan telepati antara satu sama lain. Namun akhirnya Inspektur Kim mengangguk. "Baiklah." Katanya, "hanya jika informasimu benar-benar berguna. Jika tidak, kau masih harus bertahan di sel entah untuk berapa lama."

Byun Han mengangguk. "Baiklah. Aku setuju. Tidak ada salahnya." Ia kemudian melanjutkan. "Mereka berbicara tentang Dapur saat aku pertama kali mencuri dengar. Dapur ini adalah tempat dimana mereka meracik bahan mentah menjadi bahan baru yang lebih menarik dan bernilai jual tinggi di pasaran internasional—contohnya adalah permen dan cokelat yang sangat populer untuk anak-anak chaebol, atau malah cairan suntik, bubuk murni atau bahkan pil yang dicampur dengan miras. Singkatnya, Dapur ini adalah gudang produksi besar-besaran milik mereka."

Oh Younggeun menaikkan alisnya sementara Inspektur Kim mengetuk-ngetukkan jarinya tak sabar pada mejanya. "Lalu?"

Byun Han tersenyum miring lagi. "Aku menemukan lokasinya."


DAY 5

Chanyeol sedang mengusap bagian tubuh Baekhyun dengan air hangat pagi itu ketika ia melihat salah satu jari Baekhyun baru saja bergerak samar. Kris dan Sehun baru saja pulang, dan sudah menjadi kewajibannya pada pagi hari untuk selalu mengusap lembut bagian tubuh Baekhyun menggunakan handuk hangat.

Mematung dengan heran, Chanyeol menghentikan aktivitasnya dan menatap lurus-lurus jemari Baekhyun.

Jarinya bergerak lagi, kali ini tidak sesamar sebelumnya.

Mata Chanyeol melebar, ia menjatuhkan handuknya dan segera berlari keluar untuk memanggil dokter.

Tak lama setelah itu, seorang wanita paruh baya masuk bersamanya dengan panik, memasang stetoskop dengan gopoh pada telinganya dan segera mendengarkan detak jantung Baekhyun. Setelah selesai, ia mengeluarkan senter kecil dan membuka mata Baekhyun bergantian untuk menyinarinya dengan senter tersebut.

Chanyeol berada di sampingnya, memuntir-muntir tangannya sendiri dengan gelisah.

Wanita itu akhirnya membuang napas lega.

"Bagaimana, Dokter Shin?" tanya Chanyeol.

Wanita itu memberi senyum menenangkan. "Responnya bagus. Teruslah ajak ia bicara. Bisa kulihat kalau ia sedang berjuang melawan sesuatu." Jawabnya, kemudian melanjutkan, "tapi karena Baekhyun-ssi hampir overdosis, ada satu hal yang ingin kuingatkan padamu untuk nanti."

"Ya?"

"Kebanyakan orang yang selamat dari kasus overdosis adalah," Dokter Shin berhenti sebentar, "alam bawah sadarnya menginginkan rasa yang ia dapatkan sebelum ia overdosis. Tubuhnya akan menunjukkan reaksi seperti menggigil parah, gigi bergemeltuk dan keringat dingin. Hampir-hampir seperti demam. Tapi kurasa kau tidak perlu khawatir. Kami punya terapi yang bagus disini. Selalu ingat untuk beri ia air putih yang banyak. Apa kau mengerti?"

Chanyeol mengangguk. "Baiklah. Terima kasih, Dok."

Ketika wanita itu akhirnya berlalu, Chanyeol kembali menatapi tubuh Baekhyun. Ia kembali diam, tapi Chanyeol tersenyum, berjalan mendekat dan mengusap kepalanya, lalu menunduk untuk memberinya kecupan berkali-kali di sekitar pipiya. Masih sambil mengusap rambutnya, ia berkata, "you did well. Tinggal sedikit lagi. Bertahanlah, hmm?"


DAY 6

Baekhyun tidak mendengar dan melihat apapun selama beberapa hari setelah ia melihat Chanyeol membawa Kris, Sehun dan Luhan hari itu. Sesuatu seperti kekuatan gravitasi menariknya jauh dari ruangan itu, menembus awan, makin jauh hingga ia bisa melihat bumi dari atas—berwarna kebiruan cantik yang membuat napasnya tercekat.

Ia terlontar begitu jauh setelahnya, hingga kepalanya sakit, seakan ada tekanan kuat yang bisa membuat kepalanya pecah.

Ia memejamkan mata, lama sekali, hingga ia tidak tau sampai kapan atau entah dimanapun ia berada.

Semuanya gelap. Tidak ada bunyi-bunyian.

Rasanya seakan ia mati.

Tapi jika benar ia mati, kenapa rasanya begitu hampa? Bukankah seharusnya malaikat maut mendatanginya sebelumnya? Atau malah bukankah dirinya seharusnya berada di depan gerbang neraka?

Kenapa tidak ada seseorang pun disini?

Apa benar inilah rasanya kematian? Sia-sia dan hampa?

Baekhyun merasakan dadanya berat. Pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepalanya membuat seluruh tubuhnya sakit. Karena itu tahu tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu. Karena ia tahu ia sendirian.

Ia menangis lagi. Ia ingin bertemu Ayahnya dan Chanyeol, meski untuk yang terakhir kalinya. Ia ingin meminta maaf untuk tidak dapat mengasihi keduanya hingga akhir hayatnya, kemudian berterimakasih dengan semua orang yang telah dikenalnya, yang telah memberinya begitu banyak cinta dalam kehidupan.

Terutama Park Chanyeol.

Baekhyun sungguh, sungguh menyanginya.

Isak tangisnya makin menjadi begitu ia teringat tentang bagaimana rupa seorang Park Chanyeol. Rasanya sudah lama sekali ketika terakhir Baekhyun melihatnya.

Bagaimana postur tubuhnya yang tingga dan tegap, rambut gelapnya yang akan bersinar jika ditempa cahaya matahari, kerutan di sekitar matanya ketika ia tersenyum dan bola matanya yang selalu menatap Baekhyun dengan tatapan teduh.

Caranya memeluk tubuh Baekhyun dan bagaimana perbedaan tinggi mereka selalu membuat kepala Baekhyun jatuh di dada bidangnya. Bagaimana caranya mengecup Baekhyun berkali-kali—Baekhyun melepaskan tangisnya dalam lolongan pilu.

Tapi kemudian, dalam isak tangisnya, seuatu mulai nampak terang dari sudut matanya.

Ia tidak tahu pasti, tapi perlahan, ia dapat merasakan matanya terbuka pelan, namun pandangannya kabur, dan ia segera menyipitkan matanya ketika cahaya dalam ruangan menyengat penglihatannya.

Ia dapat merasakan semuanya setelah itu.

Dinginnya pelembab rungan yang menusuk pori-pori kulitnya, bunyi getar halus dari mesin di sampingnya, tetes demi tetes infus yang mengaliri pembuluh darahnya, bahkan mata dan pipinya yang basah oleh air matanya sendiri.

Bulu kuduknya serasa berdiri, dan satu hal menamparnya keras-keras.

Ia hidup.

Byun Baekhyun tidak mati.

Aku hidup.

Ia ingin mengusap matanya dan bangun, tapi dari leher kebawah ia merasakan kebas yang luar biasa. Ia tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya selain kepalanya sendiri.

Baekhyun tidak menghentikan isak tangisnya—tapi kemudian ia menoleh ke samping dan mendapati seonggoh tubuk sedang tertidur lelap di atas sofa tak jauh dari kasurnya, surai malamnya berantakan dan wajahnya terlihat tenang.

Baekhyun ingin meneriakkan namanya, tapi tenggorokannya perih dan tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya selain rintihan pelan.

Masih sambil menatapnya, Baekhyun berusaha menggerakkan jemarinya. Hanya dengan usaha itu, seluruh tubuhnya terasa sakit dan ia menangis, kali ini sengaja lebih lantang agar Chanyeol dapat mendengarnya.


Lewat tengah malam ketika Chanyeol mendengar seseorang mengerang kesakitan. Badannya segera terlonjak bangun dari sofa, menyingkap selimutnya kasar dan hampir-hampir saja melontarkan diri ke dekat kasur Baekhyun.

Chanyeol yakin bahwa jantungnya baru saja gugur ketika ia melihat mata si mungil itu terbuka, sembab dengan hidung memerah.

"B-Baekhyun?" panggilnya, kalimat yang keluar barusan terdengar seperti bisikan linglung.

Baekhyun hanya mengerjap, sementara rintihan lain keluar dari mulutnya. Ia masih menangis. Chanyeol mendekat, merasa bahwa dirinya bermimpi. "Bilang padaku apa yang sakit, tolonglah. Bicara padaku. Jangan seperti ini." Chanyeol berucap dengan suara pilu.

Baekhyun menggeleng, tapi tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.

Chanyeol memanggil dokter yang sama pada hari sebelumnya, dan wanita itu masuk, segera melakukan beberapa hal yang Chanyeol tidak mengerti. Ketika wanita itu sudah selesai, ia segera berkata, "dia baik-baik saja."

Chanyeol hampir tersedak. "Tapi ia terlihat begitu kesakitan, kau yakin tidak ada yang salah?"

"Dia sudah siuman, Chanyeol-ssi."

"Tidak. Bukan begitu." Chanyeol menggeleng, eskpresinya memelas. "Ia terlihat kesakitan. Tidakkah kau mengerti?"

"Tenangkan dirimu dulu." Ucap Dokter Shin. "Kurasa ia hanya syok. Tubuhnya sedikit mati rasa dan mungkin ia merasa agak panik. Tapi kabar bagusnya ia sudah sadar, dan ia baik-baik saja. Ia stabil."

Chanyeol menatap wanita itu tidak yakin, tapi Dokter Shin berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berkata, "Baekhyun sungguh baik-baik saja. Cobalah berbicara dengannya."

Chanyeol menarik napas dalam-dalam ketika ia mendengar pintu bergeser tertutup, kemudian berjalan mendekat. Matanya bertemu mata Baekhyun yang sipit dan sembab, si mungil itu tidak henti menatapinya dengan mata basahnya.

"Hei." Panggilnya pelan, menunduk untuk mengusap kepalanya dan mendekatkan wajah padanya. "Baekhyun."

Baekhyun mengangguk, menggerakkan bibirnya tanpa suara. Jadi Chanyeol mendekatkan telinganya pada bibir si mungil.

"Chanyeol," bisiknya, sangat halus, hampir-hampir tidak terdengar. "Chanyeol."

Tidak ada kalimat lain selain itu. Baekhyun hanya menyebut namanya dua kali.

Chanyeol mengangkat wajahnya setelah itu, tersenyum sementara matanya mulai berkaca-kaca. "Ya, ini aku." Bisiknya, mengecup kening Baekhyun lama. "Welcome back. I've waited for you so long."

Ia meraih tangan Baekhyun, dan ketika ia hendak melepasnya, Baekhyun menggeleng kuat.

Chanyeol terkekeh pelan. "Hanya sebentar. Aku cuma mau ambil kursi." Chanyeol menarik kursi ke sisi kasur Baekhyun. Ia duduk di sana sambil kembali menggenggam sebelah tangannya erat. Dokter Shin benar, Baekhyun baik-baik saja, tapi ia masih cukup lemah. Matanya terlihat sayu dan sepertinya tenggorokkannya serak. Tubuhnya juga masih belum bisa bergerak secara maksimal.

"Tidurlah." Kata Chanyeol, dan Baekhyun memberinya gelengan halus. "Aku tidak akan kemana-mana, jadi tidurlah, hmm?"

Tapi Baekhyun masih memberinya gelengan halus.

"Baiklah. Apa yang ingin kau lakukan? Mau kubacakan cerita?"

Baekhyun menggeleng lagi.

"Ah, ya. Bagaimana kalau kuceritakan tentang Sehun yang baru saja masuk penjara?"

Baekhyun tersenyum, samar sekali, lalu menangguk.

Chanyeol bercerita tentang hari dimana Sehun diborgol dan dibawa masuk ke dalam mobil polisi, lalu dibawa ke markas pusat—tapi, bahkan sebelum ia sampai ke bagian itu, Baekhyun kembali memejamkan matanya perlahan.

Chanyeol hampir berteriak, tapi ia masih dapat menahannya. Berbagai macam pikiran buruk memenuhi kepalanya. Ia tidak ingin Baekhyun tertidur. Pemikiran ini membuatnya ketakutan setengah mati.

Bagaimana jika Baekhyun tidak bangun lagi? Bagaimana jika aku harus kembali menunggu lama?

Dan banyak 'bagaimana jika' lagi setelahnya di dalam pikirannya.

Tapi kemudian ekspresinya melunak selagi ia meremas tangan Baekhyun, ketika ia melihat si mungil itu rupanya hanya tertidur pulas. Ia nampak letih. Tapi dadanya naik turun secara stabil, dan wajahnya terlihat lebih hidup.

Chanyeol mengusap sisi wajah Baekhyun yang tengah terlelap, merasakan tekstur lembut kulit pipinya di tangannya. Ia kemudian tersenyum kecil.

Chanyeol tidak yakin berapa lama ia menatapi wajah Baekhyun yang tertidur pulas, tetapi ia memiringkan kepalanya di atas kasur, membawa tangan Baekhyun ke dekat pipi dan bibirnya sendiri, lalu ikut-ikutan memejamkan mata setelahnya.


DAY 7

Baekhyun kembali membuka matanya ketika sinar matahari menyusup lembut memasuki tirai, berupa seberkas cahaya bewarna kuning emas. Baekhyun mengerjap beberapa kali, merasakan mulutnya kering dan kerongkongannya panas.

Lalu ia merasakan tekstur lembut di bawah telapak tangannya.

Ketika ia menoleh, ia melihat setengah wajah Chanyeol yang tertidur lelap tertutup oleh telapak tangan Baekhyun. Chanyeol menggeliat sedikit, dan Baekhyun dapat merasakan bibir Chanyeol menyentuh lembut telapak tangannya.

Baekhyun merona sedikit, ia merasakan pipinya panas.

Ia kemudian mengangkat tangannya untuk memainkan sejumput surai hitam Chanyeol. Tekstur rambutnya terasa asing di ujung tangan Baekhyun. Ia tidak yakin kapan terakhir kali ia mengusak jemarinya di helaian rambut Chanyeol, namun yang pasti ia merasa sudah sangat lama.

Chanyeol bergerak pelan setelahnya, tiba-tiba saja meraih tangan Baekhyun, membawanya kembali ke bibir. Ketika mata Baekhyun bertemu dengan milik Chanyeol, barulah Baekhyun sadar bahwa Chanyeol sudah terjaga sepenuhnya.

"Katakan padaku bahwa aku tidak bermimpi." Bisik Chanyeol, dan napasnya yang hangat meluap ke telapak tangan Baekhyun.

Baekhyun tersenyum lembut dan segera mencubit pipi Chanyeol—memberinya sedikit rasa sakit yang membuktikan bahwa dirinya tidak bermimpi. Namun, berbeda dengan yang diharapkan Baekhyun, Chanyeol tidak memekik. Ia hanya terkekeh kecil, senyum yang luar biasa rupawan menghiasi wajahnya.

"Ow. Sakit." Katanya.

Dan Baekhyun tertawa untuk pertama kalinya—hanya berupa kikik pelan yang terasa nyaring di telinga Chanyeol.

Chanyeol tertegun untuk beberapa saat, menatapi wajah Baekhyun yang tertawa kecil tanpa suara, merona hingga ke telinganya. Menggigit bibir, Chanyeol akhirnya bangun dan menunduk untuk menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah Baekhyun dan mengecup bibirnya.

Ketika ia melepaskan ciumannya, ia menatap wajah Baekhyun yang terkejut sekaligus bingung. Matanya mengerjap lucu sekaligus bingung menatap Chanyeol. Tersenyum, Chanyeol berkata, "maafkan aku. Kau hanya…" ia berhenti sebentar, menyentuh bibir Baekhyun dengan ujung jarinya, "begitu indah."

Baekhyun memerah, memalingkan wajahnya sementara Chanyeol tersenyum lebar sekali.

"Ah," ucap Chanyeol akhirnya, seakan baru teringat sesuatu, "mereka bilang padaku untuk terus memberimu air putih." Ia kemudian berjalan mendekati meja di samping kasur Baekhyun dan menuangkan satu gelas penuh air putih. Sebelum ia menyerahkannya pada Baekhyun, ia menaikkan punggung kasur sehingga posisi Baekhyun seperti orang duduk. "Nah, sudah. Ini." Ia kemudian menyerahkan segelas penuh air putih tadi, "pastikan untuk meminumnya habis."

Baekhyun mengangguk, meneguk air putih dengan bantuan Chanyeol.

"Apa tenggorokanmu masih sakit?" tanyanya.

Baekhyun mengangguk, memasang wajah sedih. Ia ingin cepat suaranya segera kembali. Ia ingin mengucapkan nama Chanyeol berkali-kali—yah, sepertinya ia harus menunggu sebentar lagi hingga kondisinya benar-benar pulih.

Chanyeol tertawa ketika bibir Baekhyun maju beberapa senti, lalu mengusak rambut magentanya lembut. "Apakah sakit disini? Mereka bilang rasanya mungkin agak sedikit terbakar. Dokter Shin bilang itu salah satu efek obat yang mereka berikan padamu." Eskpresinya berubah agak sedih.

Baekhyun yakin ia merasa seperti orang idiot. Ia hanya bisa mengangguk dan menggeleng sebagai jawaban dari semua pertanyaan maupun ucapan Chanyeol. Jadi, untuk membalas kalimatnya barusan, Baekhyun mengangguk lagi, karena Chanyeol memang benar. Ada sensasi terbakar di kerongkongannya dan rasanya perih bukan main.

Keceriaan di mata Chanyeol menjadi agak redup. "Apakah sakit sekali?"

Kepala Baekhyun mengangguk—lagi.

Masih dengan ekspresi yang sama, tangan Chanyeol bergerak ke bawah turun ke leher Baekhyun dan mengusapnya pelan. "Disini?" tanyanya, ketika akhirnya ia menunduk, menyusupkan kepalanya di leher Baekhyun dan mengecupnya berkali-kali hingga Baekhyun mengeluarkan suara tertawa tercekat. Chanyeol dapat mendengar Baekhyun berbisik samar, sesuatu yang mungkin berbunyi Chanyeol bodoh atau hentikan tapi Chanyeol terlalu menikmati bagaimana Baekhyun yang sama sekali tidak punya tenaga berusaha untuk melepaskan diri darinya dengan menggeliat-menggeliat gelisah.

Sehabis setelah ia menyerang Baekhyun dengan kecupan dan diiringi sedikit gigitan kecil, Chanyeol kemudian berkata, "nah, apa kau merasa baikan?"

Wajah Baekhyun merah padam dan ia menggigir bibirnya, menggeleng tak senang, sementara Chanyeol membalasnya dengan tawa.

Tak lama setelah itu, Dokter Shin masuk dengan seorang perawat di belakangnya.

"Pagi," kata wanita paruh baya itu sambil tersenyum. Jubah putih yang ia kenakan terlihat licin dan rapi.

Chanyeol membalas senyumnya. "Pagi, Dok."

Ia berjalan mendekati kasur Baekhyun. "Kulihat bahwa suasana di ruangan ini menjadi lebih cerah?"

Chanyeol terkekeh, mengusap belakang kepalanya pelan. "Kurasa begitu." Jawabnya, sementara matanya lurus menatap Baekhyun dengan senyum yang lebar.

Dokter Shin melakukan semua pemeriksaan ringan untuk memeriksa respon tubuh Baekhyun. "Responnya baik," ucap Dokter Shin, "mungkin tubuhnya hanya sedikit kaku." Ia kemudian menoleh kepada Chanyeol. "Cobalah untuk membawanya berjalan ketika tubuhnya sudah membaik, hitung-hitung olahraga."

Chanyeol tersenyum sebagai balasannya. "Terima kasih, Dok. Akan kuingat."

Dokter Shin kemudian menatap Baekhyun, tersenyum. Kedua tangannya ia selipkan pada saku jubah putihnya. "Halo, aku Shin Hyeri. Dokter yang bekerja disini sekaligus dokter pribadi keluarga Park. Aku banyak mendengar tentangmu, Byun Baekhyun. Senang bisa melihatmu disini."

Baekhyun tersipu dan kemudian mengangguk, tersenyum.

"Baiklah," kata Dokter Shin lagi, "kurasa kalian sudah baik-baik saja. Panggil aku jika terjadi sesuatu." Kalimat terakhir ia tujukan kepada Chanyeol, dan Chanyeol mengangguk sebagai respon.

Sebelum Dokter Shin berlalu, ia juga berkata bahwa beberapa perawat akan melepaskan infus Baekhyun mulai hari ini, dan berkata bahwa Baekhyun akan mulai diberi makanan lunak setelahnya.

"Nah, sekarang," ucap Chanyeol ketika Dokter Shin telah menutup pintu, "mau bertemu dengan Kris, Luhan dan Sehun?"

Chanyeol hampir saja tertawa ketika ia melihat Baekhyun mengangguk bersemangat—Chanyeol pikir kepalanya bisa saja lepas—lalu tersenyum dan mengusap kepalanya sayang. Ia meraih ponselnya setelahnya, mengirimkan satu pesan kepada Sekretaris Yoon dan Bibi Baekhyun untuk memberitahukan bahwa si mungil kesayangannya itu sudah siuman, dan kemudian barulah menelpon Sehun—memintanya untuk membawa serta Luhan dan Kris.


"Hyung, sudahlah, jangan menggencetnya seperti itu." kata Chanyeol, nada suaranya panik.

Pasalnya, Luhan baru saja melemparkan dirinya ke tubuh Baekhyun hingga Chanyeol bisa mendengar Baekhyun mengeluarkan suara yang kira-kira berbunyi seperti heukkkkk sementara Luhan sendiri berderai air mata.

Kris juga sama parahnya. Dia sedang menahan tangisnya—dan astaga, wajahnya jelek sekali. Keningnya berkerut-kerut aneh, sementara mulutnya ditutup rapat-rapat. Lain lagi Sehun, yang hanya berdiri terdiam sembari memegangi satu buket bunga besar dan sekotak buah stroberi (Chanyeol yang menyuruhnya untuk membeli stroberi).

Luhan akhirnya berhenti memeluk Baekhyun ketika Sehun menarik kerahnya.

"Apa kau baik-baik saja?" kata Luhan, sesengukan sementara ia mengusap air matanya pada jaket denim Sehun.

Baekhyun tersenyum lemah, mengangguk. "Ya." Bisiknya, halus.

Kris, yang meski terlihat sedang menahan tangis, kemudian mencemooh, "such a drama queen." Rupanya meski sedih tidak juga membuat sarkasmenya memudar.

Luhan menangis lagi, kali ini makin menjadi. "Maafkan aku huuu—wooooo-huuuuu."

Sehun membawa hyung kesayangannya itu dalam pelukannya, sementara ia menyerahkan buket bunga dan satu kantong plastik besar berisi stroberi kepada Chanyeol. "Lu, sudahlah." Ia menepuk-nepuk kepalanya, "Baekhyun hyung sudah baik-baik saja."

Kris menepikan kedua pasangan yang tengah berpelukan itu dari hadapannya, dan segera duduk di samping Baekhyun. "Hei, Byun." Panggilnya, ia tersenyum dan kemudian mencolek pipi Baekhyun yang kemerahan—yang kemudian dihadiahi tatapan sengit dari Chanyeol. "You look great." Lanjut Kris.

Baekhyun terkekeh kecil sebagai balasannya, diam-diam dalam hati sungguh berharap kalau ia sudah sepenuhnya pulih dan ikut bersenda gurau dengan mereka.

"Omong-omong," kata Sehun kemudian, berdeham pelan. "Kurasa kita harus menyampaikan satu hal kepadamu, Baekhyun hyung."

Ah, ya. Tentu saja. Pikir Chanyeol sembari meletakkan buket bunga dan kotak stroberi di atas meja. Ia sungguh bahagia sampai ia pikir ia bisa mati dengan tenang setelahnya tapi masalah ini belum selesai.

Suasana cerah dalam ruangan itu kemudian menunjam turun hingga ke dasar. Baekhyun kemudian memasang ekspresi bingung sementara Kris dengan cepat menyingkir, digantikan oleh Chanyeol yang segera duduk di sampingnya, meraih tangannya dan menggengamnya erat.

"Baekhyun, dengarkan baik-baik." Baekhyun merasakan Chanyeol meremas tangannya lebih kuat. "Ayahmu menyerahkan diri saat kau koma. Seluruh perhatian negeri ini sedang terpusat kepada Byun Han." Ia terdiam sebentar, "masih belum ada keterangan dari polisi semenjak ia menyerahkan dirinya."

"Aku juga berusaha mengorek-ngorek sedikit informasi dari Ayahku, hyung. Tapi mulutnya terkunci rapat." Sehun menimpali.

Salah satu alis Baekhyun naik keatas.

"Ayah Sehun seorang interpol." Kata Kris, yang sepertinya mengerti dengan ekspresi bingung Baekhyun.

Untuk beberapa saat yang terasa menyiksa, tidak ada seorang pun yang berbunyi setelahnya. Masing-masing dari mata mereka hanya bergulir ke satu sama lain. Hanya Baekhyun yang terus menatap Chanyeol, sementara Chanyeol sendiri tidak bisa membaca ekspresi Baekhyun.

Sejujurnya, Baekhyun tidak terlalu terkejut. Kenapa? Ia sendiri tidak tahu. Mungkin dalam kepalanya, suatu tempat di sudut sana, ini adalah ending yang sudah ia pikirkan. Ia akan terus tetap pada pendiriannya, bahwa Ayahnya bukanlah seseorang yang jahat, seperti yang selalu mereka beritakan di televisi. Ia percaya Ayahnya dengan seluruh nyawanya, dengan tiap nafas yang ia hembuskan.

Bahkan, tanpa pernah berkomunikasi lagi, Baekhyun sepertinya sedikit mengerti jalan pikir Ayahnya. Ia bisa melihat kenapa Ayahnya memilih jalan sebagai seorang buron. Memang sedikit terlambat, tapi ia akhirnya paham. Ia yakin Ayahnya akan baik-baik saja.

Pengalaman nyaris mati yang ia alami sepertinya memberinya begitu banyak ilham.

Meski begitu, Baekhyun berpikir bahwa ia setidaknya harus memberikan reaksi terhadap informasi yang baru saja ia cerna barusan. Ia ingin berbicara, walaupun ia merasa tenggorokannya masih perih, ia merasa harus memberikan satu kalimat yang mungkin akan sangat Chanyeol ingin dengar.

Jadi, ia mengangkat sebelah tangannya dan menangkupkannya pada pipi Chanyeol, mengusapnya pelan. Baekhyun tersenyum begitu lembut, matanya yang sipit membentuk lengkungan setengah bulan yang cantik bagi Chanyeol. Baekhyun memiringkan kepalanya, berusaha mengeluarkan suaranya. "Tidak apa-apa, Chanyeol. Aku, dan Ayah, baik-baik saja." Suaranya tidak keluar dengan jernih seperti yang ia perkirakan. Suaranya terdengar basah dan serak, meninggalkan rasa perih di kerongkongannya setelah itu.

Chanyeol yakin ia baru saja terperangah. Matanya membulat, sementara belaian lembut masih terasa di pipinya.

"Ta-tapi—" suara Chanyeol tercekat. Seiring dengan kalimat yang tidak mampu ia ucapkan, matanya mulai mengabur. Namun, gambaran tentang wajah Baekhyun dengan senyum manis dan matanya yang membentuk lengkungan setengah bulan tetap jelas di benaknya.

Chanyeol mungkin takut. Ia tidak bisa menyuarakan seberapa besar ia merasa bersalah. Ia tidak merasa cukup untuk melindungi Baekhyun. Kilasan-kilasan memori tentang bagaimana ia memperlakukan Baekhyun saat mereka pertama kali bertemu berlalu-lalang di kepalanya. Memori inilah yang paling ia benci. Bukan tentang bertemu dengan Baekhyun, tapi tentang bagaimana ia bersikap kasar terhadap si mungil itu. Si mungil yang berhak mendapatkan begitu banyak kasih sayang dan cinta, karena dirinya adalah seseorang yang sangat berharga. Sebuah jiwa polos yang murni, yang mudah memaafkan dan penuh kasih.

Begitulah gambaran seorang Byun Baekhyun di kepalanya. Chanyeol sungguh-sungguh beruntung karena Baekhyun memaafkannya.

Jika ia bisa memutar ulang waktu, ia mungkin tidak akan berperilaku sebodoh itu. Jika ia sendiri menyadarinya, Chanyeol jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Baekhyun. Ia seharusnya tahu. Tapi ia menyangkalnya.

Chanyeol kemudian menunduk, meraih tangan Baekhyun yang tadi mengusap pipinya dan membawanya ke dalam genggamannya, sementara tetes demi tetes air matanya mulai berjatuhan.

"Chanyeol?" panggil Baekhyun halus, menunduk mendekat saat Chanyeol menjatuhkan kepalanya pada tepian kasur, mulai menangis.

Baekhyun tidak mengerti kenapa Chanyeol menangis dengan begitu sedih. Tidak ada suara yang keluar selain sesekali bunyi napas yang tercekat, tapi Baekhyun tahu bahwa Chanyeol benar-benar sedang merasa pilu dan Baekhyun tidak mengerti alasannya. Tapi ia tahu satu hal; Chanyeol akan baik-baik saja dalam pelukannya. Karena hanya itu yang bisa ia lakukan, dan akan selalu ia lakukan.

Baekhyun teringat tentang bagaimana mereka pertama kali bertemu, ketika Chanyeol menangis di dalam kamarnya sendiri, barangkali akibat syok, dan hal pertama yang Baekhyun lakukan adalah memeluknya. Baekhyun yakin sekali ia membuat Chanyeol berhenti menangis kala itu—sekaligus membuat Chanyeol bersikap kasar padanya setelahnya.

Kalau dipikir-pikir lagi, entah bagaimana alur ceritanya, Baekhyun kadang bertanya-tanya kenapa mereka bisa sampai pada titik ini—titik dimana masing-masing dari mereka rela mengorbankan diri karena mereka saling mencintai.

Jadi, Baekhyun tersenyum lembut dan mengangkat sebelah tangannya yang bebas, mengusap tengkuk Chanyeol, berusaha untuk membuatnya tenang sekaligus menunduk turun untuk meletakkan kepalanya di atas kepala Chanyeol.

"Terima kasih Chanyeol, karena sudah datang menyelamatkanku." Baekhyun berbisik halus kali ini, tepat pada telinganya.

Baekhyun dapat merasakan kepala Chanyeol menggeleng. "Aku terlambat. Aku bisa saja melakukannya lebih awal sebelum brengsek-brengsek itu melakukan semua ini padamu. Aku sungguh, sungguh menyesal Baekhyun. Maafkan aku. Tolong maafkan aku. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa—tanpamu. Tidak bisa. Aku ingin membunuh mereka semua. Aku harap aku sendiri yang terluka, aku harap aku sendiri saja yang mengalami sakit, aku—"

"Ssttttt. Hentikan. Aku sayang Chanyeol. Jangan bilang begitu." Baekhyun berharap ia bisa berkata lebih panjang dari kalimat yang baru saja ia keluarkan. Tapi tenggorokannya sakit sekali sekarang, dan matanya juga mulai berkaca-kaca. Meski begitu, ia tetap melanjutkan, "Chanyeol tidak salah. Baekhyun baik-baik saja sekarang."

Kris, Sehun dan Luhan hanya bisa terdiam melihat kejadian itu di depan mereka. Ketiga teman Chanyeol yang sudah malang-melintang bersamanya tahu pasti bahwa Chanyeol merasakan rasa bersalah yang begitu dalam. Alasannya hanya satu; Chanyeol sudah jatuh cinta terlalu dalam kepada Baekhyun hingga ia merasa bahwa Baekhyun adalah separuh jiwanya. Ia merasakan setiap rasa sakit yang Baekhyun alami.

Kris adalah orang yang pertama kali berinisiatif. Ia mengangkat tangannya dan menepuk pelan pundak Chanyeol, diikuti oleh Sehun setelahnya.


DAY 10

Kondisi Baekhyun sudah jauh lebih baik sekarang. Ia bisa menggerakkan hampir semua anggota tubuhnya, meski ketika berjalan masih harus dituntun. Ia berkata bahwa tenggorokannya masih agak perih, namun sudah merasa jauh lebih baik. Ia banyak berbicara, dan tidak ada yang bisa membuat Chanyeol begitu bahagia selain mendengar suara Baekhyun yang terdengar ceria.

"Apa kau ingin stroberi lagi?" Tanya Chanyeol, menatap Baekhyun yang mengunyah antusias sekaligus membaca komik One Punch Man milik Sehun.

Baekhyun mengangguk. "Um!"

Chanyeol mengambil satu (lagi) stroberi dan menyuapkannya pada Baekhyun. Si mungil itu membuka mulut tanpa mengalihkan tatapannya dari komik yang tengah ia baca. He's like a baby. Pikir Chanyeol. Cute.

Chanyeol menyukai bagaimana sensasi yang ia rasakan ketika ujung jarinya tidak sengaja menyentuh bibir Baekhyun ketika ia menyuapkannya stroberi yang sangat ia sukai. Baekhyun kemudian akan mengunyah dengan gaya lucu sambil membaca komik, membuat Chanyeol berteriak di dalam hati.

Ia sungguh menggemaskan.

"Hei, pendek." Kata Chanyeol, memanggil Baekhyun dengan panggilan yang dulunya sering ia lontarkan sebagai hinaan (sayang) kepada Baekhyun.

Baekhyun mendongakkan wajah dari komiknya. "Hmm?"

Pria di hadapan Baekhyun itu menyanggah dagu pada telapak tangannya. "Apa kau sangat menyukai stroberi?"

"Tentu saja!" jawab Baekhyun cepat.

Chanyeol segera saja cemberut. "Ah, sungguh. Kau bahkan menjawabnya tanpa berpikir!"

Baekhyun mengerjap bingung. "Tapi itu memang benar."

"Jangan menjawab 'tentu saja!' dengan wajah seperti itu." kata Chanyeol suaranya terdengar kesal.

"Kenapa?"

"Aku tidak mau terdengar bodoh." Kata Chanyeol lagi, masih dengan suara kesal, "Tapi kau baru saja membuatku cemburu. Kepada buah stroberi." Chanyeol kemudian menghela napas berat. "Ya Tuhan. Aku pasti sudah sinting."

Baekhyun terkikik geli setelahnya, berpikir tentang bagaimana Chanyeol bisa bersikap begitu konyol sewaktu-waktu.

"Dan jangan tertawa seperti itu. Kau membuatku ingin menciummu."

Baekhyun menggigit bibir dan segera menutup wajahnya dengan komik yang ia pegang. "Tidak dengar. Sedang baca komik." Cicitnya.

Chanyeol memuntahkan tawanya ketika ia mendengar kalimat Baekhyun barusan. "Aku baru tahu kalau membaca komik bisa menyumbat pendengaranmu."

"Tidak dengar." Kata Baekhyun lagi, masih menenggelamkan wajah pada komik, "Tuan One Punch Man sedang memelototiku."

"Baiklah, baiklah." Ujar Chanyeol, memutar bola matanya. "Aku tidak akan menciummu."

Baekhyun dengan cepat melongokkan kepalanya dari komik yang ia pegang, "tidak?" tanyanya, dan Chanyeol bersumpah jika ia bisa mendengar nada kekecewaan dari Baekhyun.

Chanyeol tersenyum miring. "Ya. Tidak. Ada masalah?"

Ujung bibir Baekhyun menukik tajam kebawah. "Yasudah."

"Kenapa?" Chanyeol terkekeh. "Kau ingin aku menciummu?" Chanyeol mulai berdiri, dan merangkak di atas kasur Baekhyun. Ia mendengar bunyi berkeriut tiap kali Chanyeol bergerak maju. "Katakan padaku," katanya, tatapannya berubah nakal, "apa kau ingin aku menciummu?"

Baekhyun mundur perlahan, tapi ia berhenti ketika punggungnya merasakan besi dingin kasurnya. "Ti-tidak," katanya, suaranya menciut.

"Kau yakin? Aku bisa mengabulkannya, kau tahu—"

"Ekhem."

Seseorang baru saja memotong kalimat Chanyeol dengan sebuah dehaman. Pintu berbunyi terbuka, dan dua kepala dalam ruangan itu dengan cepat menoleh kepada pintu, persis seperti seekor meerkat kebingungan.

Sekretaris Yoon berdiri dengan seseorang—wanita yang selalu menjadi mimpi buruk bagi Chanyeol. Orang yang baru berdeham tadi rupanya adalah Sekretaris Yoon. Chanyeol dan Baekhyun masih dalam posisi yang sama, dimana Chanyeol merangkak mendekati Baekhyun di atas kasur, sementara Baekhyun sendiri sebisa mungkin memepetkan tubuhnya pada bahu kasur.

Chanyeol, yang tampaknya syok bukan main, hampir saja tersedak. "Penyihir!" tukas Chanyeol, suaranya terdengar seperti hewan yang baru saja terpojok.

"APA YANG SEDANG BERUSAHA KAU LAKUKAN KEPADA ANAKKU?!" teriak wanita itu marah. Ia meraih salah satu dokumen tebal yang sedang dipegang Sekretaris Yoon dan berderap marah menuju Chanyeol dan Baekhyun.

"INI TIDAK SEPERTI YANG KAU PI—"

Hal berikutnya yang terjadi adalah kau mungin akan mendengar bunyi pak lantang disusul bunyi duk teredam—ya, wanita itu baru saja menampar Chanyeol menggunakan dokumen tebal yang ia rampas dari Sekretaris Yoon, membuat Chanyeol terjengkang dari kasur dengan pantat lebih dulu mendarat pada lantai.

Baekhyun mendengar Chanyeol memaki seraya berteriak kesakitan setelahnya.

Meski begitu, Baekhyun tidak bisa memungkiri bahwa ia terperangah. Kehadiran wanita itu begitu kuat. Gaya tubuhnya, cara ia berbicara, bahkan bagaimana cara ia berpakaian, semuanya membuat Baekhyun takjub. Terlebih dari itu, wanita itu tampak sangat elegan dan cantik. Ia mengenakan setelan jas berwarna merah maroon dengan rok pensil berwarna hitam yang cukup pendek, tas bermerek yang menggantung manis di lengannya—dalam sekali pandang, orang bodoh pun akan tahu kalau wanita ini adalah wanita kaya raya yang punya perusahaan besar.

Chanyeol mengusap-usap pantatnya setelah itu, memandang wanita itu sengit. Ia kemudian berteriak, "tapi anakmu adalah AKU!"

Wanita itu mendengus dan balas memandang Chanyeol garang. "Aku tidak punya anak tidak beradab sepertimu."

Chanyeol yakin ia baru saja mendengar petir dari atas kepalanya. "Apa?!"

Meninggalkan Chanyeol yang benar-benar syok, wanita itu kemudian berpaling pada Baekhyun. "Oh astaga, lihat siapa disini." Ia tersenyum sangat ramah sekali dan Baekhyun berpikir bahwa wanita ini menderita gangguan kepribadian. "Kau terlihat jauh lebih manis dari foto-foto yang Sekretaris Yoon kirimkan. Aku tidak tahu kalau pipimu selucu itu, meski tentu saja pipimu jauh lebih berisi ketika kau berumur lima bulan." Ia kemudian mencubit pipi Baekhyun pelan.

"Maafkan aku," kata Baekhyun pelan, "Tapi Anda siapa?" Baekhyun sebenarnya tidak perlu bertanya, karena dalam benaknya sendiri ia sudah berasumsi.

"Ah, how rude of me." Ucapnya, dan ia tertawa lembut. "Aku pertama kali bertemu denganmu ketika kau masih dalam gendongan Ibumu—wanita yang luar biasa, menurutku." Ia kemudian duduk di tepian ranjang Baekhyun.

"Tunggu." Ucap Baekhyun. "Apakah…. kau Lee Youngri?"

Wanita itu tersenyum lebar sekali, kemudian mengedipkan matanya. "Bingo." Ucapnya, memamerkan deretan giginya yang putih cemerlang. Ketika ia tersenyum, ia terlihat begitu mirip dengan Chanyeol. Mereka punya senyum 'penggoda' yang bisa berarti dua hal; benar-benar hanya tersenyum atau senyum nakal yang punya banyak arti.

Chanyeol meneguk ludahnya kasar ketika ia mendengar itu. Ia merasakan hawa-hawa aneh merayap dari tulang belakangnya menuju tengkuknya. Entah mengapa, wanita yang sedang tersenyum manis di hadapan Baekhyun ini, wanita yang ia panggil Penyihir alih-alih Ibu, akan mencuri Baekhyun dari dirinya.

Masalah lain kembali datang, pikir Chanyeol, sementara ia cemberut menatap Baekhyun dan Penyihir di hadapannya ini berinteraksi dengan intonasi yang kelewat akrab.

Perasaannya sungguh tidak enak.

Chanyeol ingin berteriak. Sungguh.[]


AN: APAAN INI? TELAT BANGET? TIDAK MEMUASKAN?

MAAFKAN HAMBAMU. Serius. Kalo aku ngasi alasan kayaknya kedengeran suka ngeles banget dah.

Tapi ya gitu, chapter ini agak lebih telat dari yang kuperkirakan, DAN MASIH BELUM END JUGA. KENAPA SIHHHHH

Kenapa? Honestly, I don't even know. I really love my characters I don't want them to over yet TTTT

Tapi masa ngga selesai-selesai? Capek kan kalian nungguin aku terus:')

Makanya, kalo aku bisa peluk kalian satu-satu, I will seriously do it. Makasih banget banget bangeeettt yang masih nangkring disini dan masih mau baca. I couldn't ask for more.

Dan khusus untuk Miss I.D, terimakasih karena sudah memberikanku inspirasi untuk menuliskan kalimat 'Aku tidak dengar, sedang jalan. Sedang baca buku. Sedang liat video. Sedang makan.' dan segala bentuk kalimat sarkasme lainnya. Ini semua karena Anda sering berkata seperti itu makanya saya memasukkan kalimat itu untuk salah satu dialog Baekhyun. I hope you don't mind cmiwwwww

Seperti biasa, last but not least? Another feedback for this chapter? Thankyou! Lots of love and happy weekend!