[CHAPTER 23 - FINAL: END = BEGINNING]
"Trust me, an ending is followed by a new beginning."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
This is gonna be a weird, long ass chapter. So brace yourself.
DAY 15
Ada banyak hal baik setelah kejadian terakhir kali Chanyeol memberitahu bahwa Ayah Baekhyun menyerahkan diri pada pihak berwajib. Media tidak hentinya memberitakan tentang buron sinting yang tiba-tiba saja muncul di depan kantor polisi dengan tangan terangkat ke atas—Baekhyun menonton tayangan ulangnya bersama Chanyeol dan ia tidak merasakan apapun setelah itu. Chanyeol sudah berantisipasi bahwa Baekhyun akan menangis setelahnya, tapi Baekhyun tidak melakukannya. Alasannya simpel, karena Baekhyun tidak mengenal siapa pria yang berada di dalam video itu. Baekhyun tidak mengenal pria dengan rambut gondrong dan janggut tebal yang tampak seperti gelandangan itu.
Beberapa hari setelahnya, Baekhyun dihubungi oleh kepolisian dan berkata bahwa ia dapat melihat Ayahnya, jika ia mau. Ia bisa mengunjunginya di penjara. Berita ini lebih dulu disampaikan oleh Sehun sebelum pihak kepolisian benar-benar menghubunginya, barangkali karena Ayah Sehun adalah interpol yang menangani kasus ini.
Lagi-lagi, Chanyeol harus menaikkan alisnya karena Baekhyun tampak jauh lebih tenang dari yang ia pikirkan. Chanyeol sesungguhnya sedikit khawatir dengan masalah kestabilan mental si mungil itu, tapi Baekhyun tampaknya menjalaninya dengan jauh lebih baik dari yang Chanyeol perkirakan.
Chanyeol sendiri tidak bertemu dengan Ibunya setelah wanita itu melempari tubuhnya dengan dokumen besar dan membuatnya terjengkang dari atas kasur. Sekretaris Yoon mengatakan bahwa 'Nyonya akan tinggal di hotel untuk sementara waktu' dan ketika Chanyeol bertanya kenapa wanita itu tidak pulang kerumah, Sekretaris Yoon hanya tersenyum dan menggeleng.
Kecuali hari ini. Dokter pribadi keluarga Park mengatakan Baekhyun sudah dapat pulang hari ini karena ia menunjukkan progress yang sangat baik, dan menyarankan untuk beristirahat di rumah saja. Jadi mereka mengemas segala kebutuhan Baekhyun dan berniat untuk pulang, sekaligus mengunjungi Ayah Baekhyun—yang omong-omong kebetulan juga dijadwalkan hari ini.
Chanyeol seharusnya merasa baik-baik saja, karena pada dasarnya ia hanya akan punya satu kekhawatiran; Baekhyun. Tapi siapa sangka Sekretaris Yoon dan Penyihir yang berusaha ia hindari juga ikut datang? Chanyeol harus menekuk dalam-dalam wajahnya ketika ia melihat wanita itu. Perasaan protektif dalam dirinya benar-benar dalam keadaan alert jika wanita itu mulai mendekati Baekhyun.
Itulah yang kemudian menjadi alasan Baekhyun duduk terdiam dengan mata tertuju pada lututnya sendiri.
Baekhyun memuntir-muntir ujung bajunya. Ia yakin wajahnya memerah, sementara ia merasakan gigi geliginya menggigit bagian dalam bibirnya.
Sejak memasuki ruangan sempit ini, ia sama sekali belum mendongakkan wajahnya. Chanyeol, Lee Youngri dan Sekretaris Yoon menunggu di luar, karena petugas hanya mengizinkan satu orang untuk masuk setiap satu kali kunjungan, yang ngomong-ngomong hanya ia dapatkan satu bulan sekali.
Baekhyun mendengar pria itu tersenyum seraya membuang napas beratnya. Pria itu duduk di balik kaca di hadapannya, tangannya diborgol dan dia memakai baju lusuh berwarna biru gelap yang hampir memudar. Baekhyun sempat melirik sedikit kain yang dijahit kasar di dada kirinya, bertuliskan 65421 berwarna oranye, dan II J di dada kanannya. Baekhyun menebak nomor tersebut mungkin nomor tahanannya, dan II J adalah sel tempat ia mendekam.
"Lima menit."
Baekhyun terlonjak ketika suara petugas membahana dari speaker di atas kepalanya. Kunjungan ini hanya akan berlangsung selama 15 menit, dan Baekhyun tersadar bahwa selama 10 menit terakhir, mereka tak saling bicara. Tapi Baekhyun sempat melirik bagaimana ekspresi pria itu—matanya menatap Baekhyun pilu.
"Tidak apa-apa, Baekhyun-ah. Kau boleh membenci Ayah." Baekhyun mendengar pria itu berkata, suaranya yang familier bergema di benak Baekhyun, membuatnya sedikit tersentak. Suara yang begitu ia kenal ini… entah kapan terakhir kali ia benar-benar mendengarnya.
Meski begitu, Baekhyun tidak merespon. Ia takut jika tangisnya pecah. Jadi ia menunduk dalam, menatapi lututnya yang tidak bisa berhenti gemetar.
"Tiga menit."
Baekhyun menggigit bibir. Dentaman di dadanya terasa begitu nyata hingga ia hampir merasa sesak.
"Bagaimana mungkin—" Baekhyun tercekat, "bagaimana mungkin aku bisa membencimu?"
Lalu pria itu terkekeh, membuat Baekhyun mendongak dengan wajah tak mengerti. "Kalau begitu syukurlah." Katanya, membuang napas lega.
Dan dengan begitu, Baekhyun akhirnya menatap dengan benar wajah ayahnya. Ia terlihat berbeda. Wajahnya jauh lebih keras, rambut dan janggutnya mulai memanjang dihiasi dengan warna keputihan, sementara matanya berkilat penuh tekad. Baekhyun mungkin tidak akan mengenalinya kalau mereka tidak sengaja bertemu di perempatan jalan—Baekhyun mungkin hanya akan berpikir bahwa pria ini adalah gelandangan yang sering ia jumpai di kolong jembatan atau di sekitar tepian Sungai Han.
Tapi matanya… masih sama, pikir Baekhyun.
"Kenapa Ayah tidak bercukur?" ujar Baekhyun dengan nada yang cukup kesal, bahkan tanpa ia sadari sebelumnya.
Ketika mendengar kalimat Baekhyun, Byun Han tergelak keras. "Kau baru saja bertemu denganku dan yang kau tanyakan adalah kenapa aku tidak bercukur?" tanyanya tak percaya, "anak tunggalku sama sekali tidak berubah." Lanjutnya, senyum hangat menghiasi wajahnya yang kusam.
Baekhyun tidak ikut tertawa. Namun meski demikian, harus ia akui jika ia merasa jauh lebih baik.
"Kau tumbuh dengan baik, Baekhyun. Kau terlihat sangat baik. Ayah senang." Kata Byun Han, mendekatkan wajahnya pada kaca yang membatasi ruang diantara mereka.
Baekhyun tidak merespon. Ia menunduk lagi.
"Apakah anak tunggal Lee Youngri memperlakukanmu dengan baik?" tanya Byun Han kemudian.
"Chanyeol?" kata Baekhyun, "ya! Dia menjagaku dengan baik!" kalimat terakhir Baekhyun keluar dengan terlalu bersemangat dari yang ia perkirakan.
Byun Han tersenyum. "Ayah senang mendengarnya."
"1 menit."
Baik Byun Han maupun Baekhyun menoleh ke atas saat mereka mendengar speaker berbunyi.
Pikiran Baekhyun menjadi kacau. Ia ingin mengucapkan banyak hal, tapi tak satupun dapat tersampaikan dengan benar. Jadi ia mendekatkan wajahnya pada kaca tembus pandang, menatap mata Ayahnya dalam-dalam.
"Ayah," panggil Baekhyun, "aku sungguh-sungguh merindukanmu. Tapi tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Semuanya menjagaku dengan baik, dan aku senang Ayah kembali."
Byun Han hampir saja menangis. Suaranya bergetar ketika ia berdeham pelan. "Tentu saja, nak. Ayah juga sangat merindukanmu. Terima kasih karena sudah baik-baik saja selama Ayah tidak ada. Ayah sungguh bangga kepadamu, Baekhyun. Kau hadiah paling luar biasa dalam hidup Ayah, Ayah harap kau tahu itu."
Baekhyun menempelkan salah satu telapak tangannya pada kaca. "Tentu saja." Katanya, matanya mulai berair. "Ayah adalah satu-satunya untukku. Ayah terbaik!"
Byun Han terkekeh lagi.
"Waktu habis. Silahkan keluar untuk para pengunjung. Sampai jumpa pada kunjungan berikutnya."
Baekhyun mendesah sedih setelahnya. "Aku akan mengunjungi Ayah lain waktu. Jadi tunggulah sebentar lagi."
Byun Han membalasnya dengan anggukan.
Tepat sebelum Baekhyun keluar ruangan dan Byun Han digiring oleh petugas untuk kembali ke sel, Baekhyun menoleh ke belakang dan bertanya, "Ayah tidak akan meninggalkanku lagi, kan?"
Byun Han berhenti berjalan, menatap Baekhyun dengan senyum sedih. "Tentu saja tidak, sayang. Ayah akan selalu disini."
Dan begitulah akhirnya, Baekhyun melambaikan tangan pada Ayahnya untuk yang pertama kali, berharap bulan depan datang lebih awal agar ia dapat kembali mengunjungi Ayahnya.
"You look great." Kata Lee Youngri, tersenyum miring kepada Chanyeol.
Mereka duduk bersisian, Chanyeol menatap kosong pada dinding beton kasar tanpa cat di hadapannya, sementara Sekretaris Yoon berdiri dengan sikap tegap. Sekretaris Yoon berdeham sesekali, membuat Chanyeol jengkel karena Chanyeol tahu bahwa pria paruh baya itu sedang berusaha membuat Chanyeol untuk berbicara dengan Ibunya—dan Chanyeol sedang berada di posisi dimana ia sedang benar-benar tidak ingin berbicara pada wanita itu.
"Aku akan sedikit berpikir bahwa tampangmu akan seperti zombie atau gelandangan sinting yang tidak pernah diurus, tapi ternyata—" Lee Youngri mengedarkan matanya dari ujung kepala hingga ujung kaki Chanyeol, tersenyum puas, "kau tampak sangat baik. Aku hampir-hampir tidak mempercainya."
Chanyeol mendengar bunyi berdenging di telinganya. "Apa itu sungguh membuatmu sengsara?" ia menoleh ke samping dan membalas tatapan Lee Youngri, "apakah kenyataan bahwa aku hidup dengan baik membuatmu tidak senang, Ibu?"
Wanita paruh baya itu baru saja terkesiap. "Ti-dak. Bukan begitu, Chanyeol-ah."
Chanyeol mendengus kasar. "Oh, ya, tentu saja begitu." Dari ujung matanya, Chanyeol dapat melihat Sekretaris Yoon memijat pelipisnya. Pria itu tampak jauh lebih tertekan dari Ibunya sendiri.
"Tidak." Kata Lee Youngri tegas. "Kau tidak mengerti. Aku—"
"Do me a favor, please. Kau tidak pernah peduli padaku. Jadi aku sungguh, sungguh berharap bahwa kau akan tetap seperti itu." Chanyeol berdiri diiringi oleh desahan letih Sekretaris Yoon, mulai berjalan menjauh melewati lorong dan keluar dari ruangan.
Lee Youngri baru saja terperangah, beberapa kali mengatup dan membuka mulutnya untuk berbicara, tapi ia tidak mengatakan apapun. Sesuatu dalam dirinya mengatakan bahwa Chanyeol benar. Selama bertahun-tahun, Lee Youngri tidak lagi pernah memerankan diri sebagai seorang Ibu. Ia tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Ia memberikan semuanya untuk Chanyeol, ia yakin itu—fasilitas lengkap, uang yang banyak—Chanyeol bisa mendapatkan semua yang ia inginkan. Tidak ada satupun kekurangan untuk anak tunggal yang sesungguhnya sangat disayanginya itu.
Tidak satupun, pikir Lee Youngri.
Tapi kemudian ia tersadar. Semua hal material yang ia berikan itu membuat Chanyeol kesepian. Semua harta itu tidak membuatnya bahagia, karena Lee Youngri tidak pernah memberinya kasih sayang.
Baekhyun menggigiti bibirnya.
Ia tidak yakin apakah ini waktu yang tepat untuk keluar dari persembunyian—hey! Ia tidak menguping, sungguh. Ia baru saja keluar dari ruangan pengunjung dan ia tidak sengaja mendengar semuanya.
Oh, mungkin tidak semuanya. Tapi ia jelas memahami inti dari pembicaraan yang entah mengapa terasa penuh kesedihan itu.
Chanyeol terdengar sangat sakit hati, Baekhyun bisa merasakannya. Ia tidak bisa memihak karena ia hanyalah orang luar, tapi Baekhyun sudah sangat lama mendengar Chanyeol berbicara dengan sangat sedih seperti itu.
Hampir-hampir mengingatkan Baekhyun dengan Chanyeol yang pertama kali ia temui—bocah yang penuh luka, yang sesungguhnya sangat baik hati tapi tidak paham bagaimana cara menyalurkan rasa sayangnya kepada seseorang. Baekhyun yakin ia sudah membuat Chanyeol pulih dari semua itu, tapi kini ia tidak begitu percaya diri lagi. Chanyeol tampaknya benar-benar menyayangi Ibunya, tapi—entahlah. Semuanya rumit bahkan untuk Baekhyun sendiri.
Baekhyun terlalu kalut dalam pikirannya sendiri hingga ia sendiri tidak mendengar langkah kaki seseorang mendekatinya.
"Baekhyun?"
Baekhyun terlonjak dan mendongak, melihat Chanyeol mengerutkan alisnya gusar. "Huh?!" lonjaknya, terkejut.
Chanyeol mendekat dan menangkupkan telapak tangannya pada wajah Baekhyun. "Hei," panggilnya lembut, sedikit senyum mengihasi bibirnya, "ada apa? Kau baik-baik saja? Apa kau merasa sakit? Pusing? Bagaimana dengan kakimu?"
Baekhyun terdiam, menatap Chanyeol dengan mata berkaca-kaca. Ia segera melemparkan diri kepada Chanyeol, berjinjit kecil untuk melingkarkan lengannya yang bebas pada leher Chanyeol, sementara pria yang lebih tinggi membungkuk sedikit untuk menyesuaikan perbedaan tinggi mereka.
Chanyeol panik dan bingung karena ia yakin ia baru saja melihat mata Baekhyun berkaca-kaca. Ia mengeratkan pelukan, lengan kokohnya melingkar di sekitar pinggul mungil Baekhyun. Ia bisa mendengar pria mungil itu terisak pelan. "Jangan menakutiku seperti itu," ucap Chanyeol, mendesah berat. Jari telunjuknya bermain di punggung Baekhyun, membentuk pusaran dan sesekali menepuknya lembut. "Kau baik-baik saja, Baekhyun? Hmm? Apa kau merasa sakit?"
Ia bisa merasakan kepala Baekhyun menggeleng dalam pelukannya.
"Chanyeol menunduk untuk mencium puncak kepala Baekhyun, "Lalu? Mau membicarakannya? Apa karena kau baru bertemu Ayahmu? Aku tahu kalau kau sangat merindukannya."
Baekhyun melepaskan pelukannya dan menatap Chanyeol, lalu berjinjit sedikit untuk memberikan Chanyeol satu kecupan kecil di bibirnya. Chanyeol menaikkan sebelah alisnya dan memundurkan kepalanya sedikit, Ia tersenyum lebar, menatapi pipi halus Baekhyun yang penuh dengan air mata. Sedikit rasa menggelitik tertinggal di bibir Chanyeol—ugh, ia menginginkan lebih sekarang.
"Karena aku bahagia dan aku menyayangi Chanyeol lebih dari apapun." Ucap Baekhyun, semu kemerahan merambat ke pipinya.
Chanyeol tergelak. "Jadi itu alasanmu menangis, hmm? Apa kau sebegitu menyukaiku, Byun Baekhyun?"
"Ya." Baekhyun mengangguk semangat. "Baekhyun menyukai Chanyeol, bahkan lebih dari Baekhyun menyukai stroberi."
Okay, he's acting weird, pikir Chanyeol. Tapi ia menaikkan sebelah tangannya dan menekankannya ke dada. "Oh astaga," katanya, membuat ekspresi tidak percaya, "aku tidak percaya aku mengalahkan stroberi jelek itu. Kau sungguh membuatku tersanjung."
Baekhyun terkekeh, sementara Chanyeol mengusap jejak air mata pada pipi Baekhyun dengan punggung tangannya.
"Aku senang kalau kau bahagia, Baekhyun." Chanyeol menepuk kepalanya, "tapi tolong jangan menangis seperti itu lain kali. Kau menakutiku. Kau merasa baik? Tidak ada yang sakit?"
Baekhyun menggeleng lalu tersenyum, memiringkan kepala dan memejamkan matanya ketika Chanyeol meletakkan sebelah tangannya pada wajah Baekhyun.
"Good." Ucap Chanyeol. "Kalau begitu, apa kau siap untuk pulang?"
Baekhyun membuka matanya dan Chanyeol baru saja melihat bintang jatuh di dalam matanya. Ia terlihat begitu bersemangat. "Ayo pulang!"
Baekhyun menghempaskan diri pada kasurnya, berguling sesekali dan bergelut memeluk selimutnya. Ia sungguh merindukan suasana kamar ini. Si mungil itu memejamkan matanya, tersenyum lembut.
Chanyeol memandangi Baekhyun sambil tersenyum dan melipat dada. Ia menyandarkan tubuhnya pada daun pintu.
Ketika Baekhyun membuka mata, ia melihat Chanyeol tersenyum lebar di depan pintu kamarnya, lalu menepuk kasur di sebelahnya.
Chanyeol mengarahkan telunjuknya pada dirinya sendiri. "Kau mau aku ke sana?"
Baekhyun mengangguk dan tersenyum, sementara Chanyeol memutar bola matanya dan berpikir bahwa Baekhyun sungguh menggemaskan. "Lepaskan hoodie dan kaus kakimu terlebih dulu, Byun."
Baekhyun terkekeh kecil dan duduk di tepian kasur, lalu mengangkat tangannya. Chanyeol menaikkan alisnya, kembali melakukan gestur dengan menunjuk dirinya sendiri, seakan berkata kau ingin aku yang melakukannya? dan Baekhyun membalasnya dengan anggukan.
Chanyeol mendecih dan meraih hoodie abu-abu Baekhyun, melepaskannya perlahan. Ia memakai kaus hitam polos dibalik hoodie abu-abunya—lalu meletakkannya di atas meja. Tak lama setelah itu, ia berjongkok dan membungkuk di hadapan Baekhyun dan meraih kakinya untuk melepaskan kaus kakinya.
"Nah, sudah. Kau puas sekarang?"
Baekhyun tersenyum—ketika Chanyeol berjongkok seperti ini, mata mereka berada di level yang sama dan Baekhyun menyukainya. "Terimakasih, Chanyeol."
"Kalau begitu, ppoppo?" kata Chanyeol menepuk pipinya dengan telunjuk.
Baekhyun maju sedikit dan memberikan kecupan ringan pada pipi Chanyeol, dan Chanyeol tidak bisa berhenti tersenyum setelah itu. Ia kadang bertanya-tanya apakah otot wajahnya akan merasa pegal jika ia terus-terusan tersenyum seperti orang idiot di hadapan Baekhyun.
"Apa kau lelah? Mau tidur?" tanya Chanyeol akhirnya, menepuk kepala Baekhyun dan duduk bersila di lantai di hadapan Baekhyun.
Kasur Baekhyun sebenarnya cukup tinggi, namun perbedaan tinggi mereka tidak terlalu jauh ketika mereka duduk seperti itu—menyadarkan Baekhyun bahwa Chanyeol sebenarnya sangat tinggi.
"Tidak juga," Baekhyun menggeleng, lalu mengalihkan tatapannya dan sesekali menggigit bibirnya.
Chanyeol menyipitkan matanya, memasang ekspresi curiga. "Kau menyembunyikan sesuatu dariku." Katanya tiba-tiba.
Baekhyun terlonjak dan wajahnya memerah, lalu ia mengalihkan wajahnya. Namun Chanyeol bergerak maju dan mendekatkan wajahnya pada Baekhyun. Posisi wajah Chanyeol agak sedikit lebih rendah dari Baekhyun, membuat Baekhyun mundur sedikit.
"Byun Baekhyun," panggilnya, "lihat aku."
Baekhyun menoleh dengan patuh, masih menggigit bibirnya. Tapi Chanyeol menaikkan sebelah tangannya dan menangkupkannya pada pipi Baekhyun, lalu memainkan jempolnya pada bibir Baekhyun. "Jangan menggigit bibirmu seperti itu."
Baekhyun lagi-lagi menurutinya dengan patuh.
"Good baby." Puji Chanyeol sambil tersenyum, sementara Baekhyun mendecih. "Nah, sekarang, mau berbicara? Aku tahu kalau kau bersikap aneh dari sebelum kita pulang tadi. Dan jangan coba-coba berbohong." Chanyeol menurunkan tangannya.
Baekhyun mendesah sementara Chanyeol mengerutkan alisnya. Chanyeol menduga mungkin ini hal yang cukup berat bagi Baekhyun, dan barangkali Chanyeol terlalu memaksanya untuk berbicara.
Tapi sebelum Chanyeol menghentikan Baekhyun, Baekhyun sendiri sudah berbicara terlebih dahulu.
"Aku tahu ini bukan urusanku," Baekhyun memulai, dan ia membuang napas lagi—ekspresi wajahnya sangat lucu sehingga membuat Chanyeol sedikit tidak fokus, ah, dia punya dorongan kuat untuk mencubiti pipi Baekhyun—tapi kemudian ia menggeleng dan memfokuskan diri kepada Baekhyun, "tapi Chanyeol dan Nyonya Lee tampaknya…" Baekhyun berhenti sebentar, "maafkan aku. Aku seharusnya tidak membicarakannya saja. Tolong lupakan apa yang baru saja kukatakan. Astaga. Baekhyun bodoh!" Baekhyun berakhir dengan memberikan satu pukulan keras kepada kepalanya sendiri.
"Hey!"Baekhyun terlonjak sedikit ketika Chanyeol menaikkan suaranya, kemudian tersadar ketika ia melihat wajah Baekhyun yang terperangan akibat terkejut. Matanya yang lucu melebar menatapi Chanyeol. "Oh, astaga. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membentakmu, tapi kau kadang bisa membuatku merasa sangat frustasi, kau tahu kan?" Chanyeol berdiri pada lututnya—dan ia sudah sedikit lebih tinggi dari Baekhyun sekarang—segera saja membawa kepala mungil Baekhyun ke dalam pelukannya, memberikan satu kecupan pada puncak kepalanya. "Kenapa kau memukul kepalamu seperti itu?" Chanyeol terdengar kesal, dan Baekhyun tak mampu menahan senyum.
Ia melepaskan pelukannya dan kemudian mengusap kepala Baekhyun lembut. "Kurasa aku bisa menebaknya," kata Chanyeol. "Kau jelas-jelas mendengar percakapanku dengan Ibuku tadi, kan?"
Baekhyun terkesiap. "Bagaimana mungkin Chanyeol tahu?"
Chanyeol tertawa. "Orang idiot sekali pun akan tau kalau kau bersikap seakan baru saja tertangkap basah seperti itu, Byun Baekhyun."
"Ah," Baekhyun mengeluarkan desahan kesal, "apakah sangat jelas bahwa aku menguping?"
Chanyeol mengangguk, masih tertawa. "Apa karena itu kau gusar? Jadi kau berusaha menghiburku dengan memberitahuku bahwa kau lebih menyukaiku daripada stroberi?"
Baekhyun merasa kalah, jadi ia jelas hanya mengangguk. "Apa kau membenci Nyonya Lee?"
Chanyeol menaikkan alisnya. "Tentu saja tidak. Dia Ibuku. Aku menyayanginya."
Untuk beberapa detik, Baekhyun terperangah. Kenyataan bahwa Chanyeol menjawabnya dengan spontan seperti itu membuat Baekhyun lega bukan main.
Chanyeol tertawa lagi. "Apa itu membuatmu sangat terkejut, pendek?"
"Bukan begitu—ah, baiklah. Sedikit." Baekhyun tersenyum malu. "Hanya saja," Baekhyun melanjutkan dengan suara pelan, "ketika di kantor polisi tadi, Chanyeol terdengar begitu marah dan sedih."
"Karena itukah kau menangis tadi?"
"Uh…. Tidak." Baekhyun menunduk malu.
Chanyeol kemudian melakukan sesuatu yang sudah sangat ingin ia lakukan sebelumnya; mencubit pipi Baekhyun. "Ah, this is crazy. You're so cute."
"Aw." Baekhyun mengerutkan hidungnya.
Chanyeol melepaskan cubitannya dan menatap Baekhyun dengan wajah berhias senyum. "Dengar, Baekhyun." Katanya, "aku tidak pernah memikirkan ini sebelumnya, tapi ketika kau bertanya, entah mengapa aku bisa menjawabnya dengan yakin. Aku tidak pernah membenci Ibuku. Kupikir aku hanya sedikit marah."
Baekhyun memutar bola matanya. "Sedikit, huh?"
"Baiklah, baiklah," kata Chanyeol, menyerah. "Aku mungkin memang sangat marah. Kurasa begitu. Aku merindukan Ibuku untuk waktu yang cukup lama sehingga aku sendiri merasa muak. Aku selalu berharap dia akan berhenti sibuk dan pulang, tapi kurasa itu hal mustahil. Setelah Ibu bercerai dengan Ayahku, kupikir kami akan baik-baik saja berdua—Ayahku menyerahkan hak asuh sepenuhnya pada Ibuku," Chanyeol terkekeh, "Ia membuangku, Baekhyun." Meski begitu, suaranya berubah begitu sedih.
Baekhyun merasakan dadanya berat, jadi ia turun dan duduk bersandar pada kasur di lantai bersama Chanyeol. Ia meraih tangan Chanyeol dan menggengamnya. Chanyeol membawa tangan Baekhyun ke bibir.
"Aku melihat Ayahku sebagai seseorang yang sangat hebat. Kami cukup dekat, Baekhyun. Ia panutanku. Jadi ketika perusahaan Ayahku bangkrut dan ia meninggalkan hutang di sana-sini, ia sepertinya tidak tahan dan mengepak kopernya dan pergi begitu saja. Aku merasa hancur. Begitu juga dengan Ibuku. Ibuku memohon pada kakinya, tapi Ayahku tidak menoleh." Chanyeol mengambil napas dalam-dalam dan menunduk, masih menggengam tangan Baekhyun erat.
Ketika ia mendongak, Baekhyun baru saja merasakan jantungnya disayat-sayat belati. Chanyeol tampak kacau. Ia terlihat begitu hancur dan sedih. "Satu kalimat yang ia katakan sebelum pergi adalah," Chanyeol berhenti sebentar, suaranya bergetar, "kau boleh ambil anak sialan itu. Aku tidak butuh. Ia mengatakan hal ini kepada Ibuku, dan Ibuku menangis seperti orang sinting." Chanyeol menatap Baekhyun dan tertawa sedih setelahnya. "Dia pria yang jahat sekali ya, Baekhyun. Bukankah begitu?"
Baekhyun tidak menjawab dan segera memeluk Chanyeol, lalu mengusap punggungnya pelan.
"Aku menyayangimu, Chanyeol." Baekhyun berbisik, berdoa agar kalimat kecil itu membuat Chanyeol setidaknya merasa lebih baik.
Baekhyun dapat merasakan Chanyeol tersenyum. "Aku juga sangat menyayangimu, pendek."
Ketika mereka melepaskan pelukannya, Baekhyun dapat melihat Chanyeol tersenyum. "Jadi begitulah, kadang aku merasa seperti dibuang. Baik oleh Ayahku atau Ibuku sendiri. Aku hanya merasa bahwa, setidaknya, setelah Ayah tidak ada, aku dan Ibuku akan saling menguatkan. Tapi Ibuku mulai bekerja begitu sering untuk melunasi semua hutang Ayahku dan akhirnya membangun perusahaannya sendiri. Ketika ia sibuk dengan dunia kerjanya, aku tidak punya siapa-siapa dirumah."
Baekhyun menangkupkan telapak tangannya pada wajah Chanyeol. "Chanyeol tahu kan, bahwa Nyonya Lee mungkin tidak bermaksud seperti itu."
"Mungkin saja." Kata Chanyeol, menaikkan bahunya. "Tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa ia juga mengabaikanku selama bertahun-tahun."
Baekhyun menatap Chanyeol. "Belum terlambat untuk memulai sesuatu yang baru."
Chanyeol terkekeh. "Kurasa juga begitu. Aku tahu cepat atau lambat aku tetap harus menghadapinya. Lagi pula, dia tetap Ibuku." Chanyeol kemudian membalas tatapan Baekhyun. "Dan yang lebih hebatnya lagi, aku punya kau bersamaku." Ia menyentuh ujung hidung Baekhyun.
Baekhyun tersenyum lembut dan mengangguk.
"Aku akan berbicara padanya sebelum ia kembali ke Hongkong. Mungkin minggu depan?"
Baekhyun menggaruk belakang kepalanya bingung. "Tidakkah itu terlalu lama? Bagaimana kalau besok saja?"
Chanyeol memutar bola matanya. "Terlalu cepat!"
"Tidak baik menunda sesuatu."
Chanyeol mendecih. "Oh ya, astaga. Tentu saja, Tuan Byun. Anda paling benar!"
Baekhyun cemberut.
"Baiklah, baiklah. Aku akan mencoba untuk berbicara padanya besok. Tapi dengan satu syarat, aku ingin kau ikut denganku."
Mata Baekhyun membulat. "Kurasa itu bukan ide bagus, Chanyeol. Kau tahu kan, aku bukan siapa-siapa, dan tidak baik untuk ikut campur masalah keluarga orang—"
Chanyeol mendengus dan menatap Baekhyun sengit. "Apanya yang bukan siapa-siapa?! Kau pacarku! Dan kau yang menyuruhku untuk berbicara padanya besok!"
"Tapi, apakah sungguh tidak apa-apa? Maksudku, bagaimana jika Nyonya Lee—"
"Baiklah. Memang sebaiknya aku tidak usah berbicara pada Ibuku saja. Kurasa itu lebih baik. Kalau begitu—"
"BAIKLAH AKU IKUT!"
Baekhyun terengah setelahnya, wajahnya memerah lagi.
Chanyeol tergelak melihat wajah Baekhyun.
Baekhyun menyipikan matanya. "Chanyeol pasti sangat senang sekali menggodaku seperti itu, ya?"
"Tentu saja!" Jawabnya mantap. "Menggodamu itu hobiku sekarang." Lalu Baekhyun menghadiahinya dengan satu pukulan keras pada lengannya.
Ketika sore menjelang, Baekhyun dan Chanyeol memakan makan malam dari restoran Cina pesan antar, dan makan dengan lahap di meja makan setelahnya. Melihat Baekhyun makan dengan semangat, Chanyeol merasa gembira bukan main. Baekhyun nampak jauh lebih sehat dan tidak ada yang bisa membuat Chanyeol lebih bahagia dibanding melihat pipinya yang berisi dengan lemak itu.
Ketika selesai makan malam, mereka kembali ke kamar masing-masing dan pergi untuk mandi.
Baekhyun dapat mendengar Chanyeol memainkan gitarnya setelah ia membersihkan diri, lalu melihat sekeliling kamarnya dengan ragu. Ia melihat bantal dan selimutnya lama, sebelum akhirnya meraih kedua benda itu dan hendak keluar kamar, tapi terhenti ketika ia melihat ponselnya.
Ia merasa harus menelpon seseorang, jadi kembali meletakkan selimut dan bantalnya di atas kasur lalu meraih ponselnya dan men-dial satu nomor.
"Halo, Nyonya Lee? Selamat malam. Ya. Ini Baekhyun. Apakah anda sibuk?"
"Ooh, Baekhyun?! Tidak, tentu saja tidak, sayang. Apa kau butuh sesuatu?"
Baekhyun berdeham sebentar. "Hanya ingin bertanya, Nyonya Lee. Aku mendengar dari Sekretaris Yoon kalau Anda menginap di hotel. Uh, kenapa tidak pulang ke rumah saja?" Baekhyun menggigit bibirnya. Ia pasti sudah gila. Ia berharap bahwa Lee Youngri tidak tersinggung dan memakinya setelah ini. Pertanyaannya jelas-jelas terdengar lancang.
Tapi kemudian wanita itu tergelak pelan. "Sulit dijelaskan, Baekhyun. Kau tidak akan mengerti."
"Ah, begitu." Baekhyun menghembuskan napasnya lega. "Maafkan pertanyaanku tadi, Nyonya Lee. Hanya saja, uhhh… bisakah Anda mampir ke rumah sebentar besok? Chanyeol tampaknya ingin berbicara dengan Anda." Baekhyun berhenti sebentar. "Oh, atau apakah kami perlu menyusul ke hotel saja?"
"Tidak, tidak." Kata Lee Youngri cepat. "Tentu saja. Jika Baekhyun kecil ingin aku berkunjung kerumah maka aku akan berkunjung ke rumah." Ia kemudian terkekeh setelah itu. "Apa pertemuanmu dengan Ayahmu tadi siang baik-baik saja?"
Baekhyun mengangguk tanpa sadar. "Ya, Nyonya Lee. Ayahku terlihat aneh karena belum bercukur tapi ia terlihat baik-baik saja."
Lee Youngri membuang napas lega. "Syukurlah, kalau begitu, Baekhyun. Berdoalah yang terbaik untuknya, Nak. Ia mungkin akan dilepaskan tak lama lagi dan semua tuduhannya akan dicabut."
"Aku sungguh berharap seperti itu, Nyonya Lee. Terima kasih karena sudah membantu."
Wanita itu tertawa. "Aku tidak membantu apa-apa, sayang. Semua yang kuberi rasanya tidak sepadan dengan semua bantuan Byun Han padaku ketika aku bangkrut dulu. Ayahmu sungguh orang yang baik."
Baekhyun ikut terkekeh. "Ya, dia yang terbaik."
"Baiklah kalau begitu. Maafkan aku karena aku harus menutup teleponnya sekarang. Karena besok pagi aku akan mengahadiri rapat pemegang saham, maka aku akan mampir kerumah siang atau sore hari. Apakah tidak apa-apa?"
"Tentu saja, Nyonya Lee. Kami akan berada di rumah seharian jadi silahkan selesaikan pekerjaan Anda terlebih dahulu."
"Oh astaga, aku suka cara bicaramu. Kau sangat manis." Lee Youngri berhenti sebentar. "Kalau begitu, jika kau butuh sesuatu, kau bisa menelponku atau Sekretaris Yoon. Kau mengerti?"
"Ya, Nyonya Lee. Terima kasih."
"Oh, dan terima kasih karena sudah menemani Chanyeol. Untuk seterusnya aku juga minta bantuan untuk terus memperhatikan si bodoh itu, ya. Maafkan aku jika ini memberatkanmu. Tapi sepertinya Chanyeol benar-benar menyukai kehadiranmu dirumah. Ia terlihat begitu cerah ketika ia berbicara padamu."
"Ah, tidak apa-apa, Nyonya Lee. Chanyeol juga sangat baik dan ia selalu menjagaku. Jadi aku tidak merasa terbebani."
"Nah, lihatlah gaya bicaramu. Kau sadar kalau kau sangat manis, Baekhyun?" Lee Youngri tertawa. "Pantas saja Chanyeol sangat mengagumimu."
Baekhyun tanpa sadar memerah. Ia merasakan wajahnya panas, dan ia tidak bisa menahan senyumnya.
"Kalau begitu aku akan menutup teleponnya. Selamat malam, Baekhyun. Sampai jumpa besok."
"Selamat malam, Nyonya Lee. Semoga rapat Anda berjalan dengan baik."
Lalu telepon dimatikan, dan Baekhyun tersenyum lebar sekali hingga ia yakin ia tidak akan berhenti tersenyum setelah ini.
Tapi kemudian matanya melihat selimut dan bantalnya yang tergeletak di atas kasurnya sendiri, lalu dengan cepat membawanya ke pelukannya sendiri.
Baekhyun berjalan pelan melintasi lorong lantai dua yang tidak terlalu panjang, dan sampai di depan pintu Chanyeol. Baekhyun dapat mendengar pria itu bersenandung pelan sembari memetik gitarnya lembut. Baekhyun menyukai suara Chanyeol. Terdengar berat dan serak, serta sangat merdu ketika ia mulai bernyanyi.
Perlahan, Baekhyun mengetuk pintunya dan memutar kenopnya. Kepalanya muncul terlebih dahulu, lalu Baekhyun meringis. Ia melihat Chanyeol duduk merosot pada bahu kasur sambil memainkan gitar. Ia memakai celana training hitam yang dipadukan dengan kaus hitam berlengan buntung—baju yang sering ia gunakan untuk tidur.
"Baekhyun?" Chanyeol duduk tegap dari bahu kasurnya. "Apa kau butuh sesuatu?"
Baekhyun melangkah masuk dan membuat wajah sedih. "Aku hanya tidak mau tidur sendiri."
Barulah Chanyeol menyadari bahwa si mungil itu menangkup tubuhnya dengan selimut dan memeluk bantalnya. Ia memakai piama berlengan dan celana panjang berwarna lemon dengan garis-garis putih.
Chanyeol meletakkan gitarnya di samping kasurnya. "Tapi tempatku penuh. Kau mau tidur di bawah saja?"
Baekhyun memasang wajah sengit. "Terserah saja." Katanya, lalu berbalik dan menginjak lantai keras-keras untuk menunjukkan kekesalannya. Tapi Chanyeol dengan cepat menyingkirkan gitarnya dari atas kasur dan menarik Baekhyun, lalu mendudukkannya disana.
"Selamat datang di gubuk yang kumuh ini, Yang Mulia." Chanyeol kemudian membuat gestur membungkuk.
Baekhyun terkekeh dan segera menghempaskan dirinya ke atas kasur king size milik Chanyeol, memeluk selimutnya. Ia dapat menghirup aroma khas Chanyeol dari selimut, bantal dan kasur itu sendiri, membuatnya merasa tenang. Setelah beberapa lama bersama Chanyeol di satu ruangan di rumah sakit membuatnya agak tidak terbiasa tidur tanpa kehadiran Chanyeol.
Chanyeol kemudian berjalan menuju pintu. "Tunggu sebentar. Aku akan turun ke dapur."
"Kenapa?" tanya Baekhyun.
Chanyeol tersenyum. "Tunggu saja."
Sambil berbaring dengan nyaman di kasur Chanyeol, Baekhyun kemudian melihat punggung lebar Chanyeol berjalan menjauh dan akhirnya menghilang dari balik pintu.
Ketika telepon ditutup, Lee Youngri memijat kepalanya.
"Baekhyun?" tanya Sekretaris Yoon. Ia berdiri di hadapan Youngri yang sedang duduk dan merokok di balkon hotel.
Youngri mengangguk, menghisap dalam-dalam puntung rokoknya.
"Kurasa sudah sekarang saatnya untuk Anda berhenti merokok, Nyonya Lee. Tidak baik untuk kesehatan, dan kurasa Chanyeol juga tidak akan menyukainya."
Lee Youngri terkekeh pelan. "Tentu saja Chanyeol akan membencinya." Tapi kemudian ia menunduk, menjentik puntung rokoknya dan menginjaknya kesal. "Oh, tapi Chanyeol memang selalu membenciku, bukankah begitu Sekretaris Yoon?"
Pria yang sudah menjadi sekretaris Lee Youngri selama belasan tahun itu mendesah. Ia melepas kacamatanya. "Kurasa tidak begitu, Nyonya. Jika aku boleh memberi saran, Anda sangat buruk dalam mengekspresikan sesuatu. Seperti yang terjadi di kantor polisi tadi." Sekretarin Yoon berdeham.
Youngri berbalik dan menatap Sekretaris Yoon. "Kau mengkritikku?"
Pria itu mundur selangkah sambil menunduk. "Maafkan kelancanganku, Nyonya."
"Tidak apa-apa, Sekretaris Yoon." Kata Lee Youngri akhirnya, membuang napasnya berat. "Kau boleh mengatakannya."
Sekretaris Yoon berdeham lagi. "Anda dan Tuan Muda Chanyeol, sebenarnya cukup mirip. Tidak terlalu bisa mengekspresikan sesuatu." Pria itu terdiam sebentar, mempelajari ekspresi Lee Youngri. "Seharusnya jika Anda ingin mengatakan sesuatu, jangan membuatnya berbelit-belit. Katakan saja langsung. Jangan menambah kalimat yang tidak perlu seperti yang Anda lakukan pada saat—"
"Intinya saja, Yoon Bae Im. Kau baru saja membuat kalimatmu berbelit-belit." Lee Youngri memutar bola matanya kesal.
"Aku merindukanmu, Nak. Senang melihatmu baik-baik saja. Apa kau makan dengan baik? Bagaimana dengan sekolahmu? Apa kau perlu sesuatu? Apa aku bisa membantumu?"
Lee Youngri mengangkat alisnya dan melipat tangan pada dadanya. "Baiklah, aku tidak mengerti."
Sekretaris Yoon tersenyum sedikit. "Kalimat barusan adalah kalimat normal yang seorang Ibu tanyakan kepada anaknya yang jarang ia temui."
"Tapi Chanyeol sudah dewasa. Dia bukan anak lima tahun."
"Anda tidak memperhatikannya untuk waktu yang cukup lama, Nyonya Lee. Chanyeol tertekan secara batin untuk masalah ini. Dan meski agak ceroboh, saya mengakui bahwa membawa Baekhyun kerumah sangat membuat perubahan yang signifikan kepada Tuan Muda. Chanyeol sedikit tidak menyukai Baekhyun ketika mereka pertama kali bertemu. Tapi mereka menjadi akrab dengan cepat setelahnya, karena seperti yang Anda sebutkan tadi, Baekhyun memang sangat manis dan baik hati. Chanyeol sebenarnya cukup terikat kepada Baekhyun, yang membuat saya sedikit khawatir."
"Khawatir?" tanya Lee Youngri, berusaha untuk mengambil kembali satu batang rokok dari meja kerjanya, namun dengan cepat dirampas oleh Sekretaris Yoon.
Lee Youngri menatap Sekretaris Yoon dengan tatapan tajam, namun semua itu sudah tidak mempan untuk pria itu, sementara Sekretaris Yoon sendiri membalas tatapan itu dengan senyuman diplomatisnya.
"Ya, khawatir karena jika ia terlalu terikat kepada Baekhyun, Anda mungkin akan semakin sulit untuk kembali seperti sedia kala dengan anak tunggal Anda sendiri."
"Ah," Lee Youngri mendesah. "Kepalaku sakit."
"Haruskah kubawakan aspirin untuk Anda, Nyonya Lee?"
Wanita paruh baya itu menggeleng. "Baekhyun memintaku pulang kerumah besok."
Yoon Bae Im mengangguk. "Saya sudah dengar. Pilihan bagus bahwa Anda menyetujuinya, Nyonya."
"Dia bilang Chanyeol mau berbicara padaku." Youngri melangkah pelan dan duduk di meja kerjanya, menengadahkan kepala sambil menutup matanya.
"Saya yakin hal tersebut juga insiatif Baekhyun. Baekhyun punya pengaruh cukup besar untuk Chanyeol." Jawab Sekretaris Yoon.
Sambil memejamkan matanya, Lee Youngri tersenyum. "Sungguh melegakan, kalau begitu. Baekhyun tampaknya benar-benar bisa menjaga Chanyeol, bukan begitu, Sekretaris Yoon?"
"Ya, saya setuju." Pria itu berdeham lagi. "Kalau begitu, cobalah untuk berlatih berbicara dengan baik, Nyonya Lee."
Wanita paruh baya itu dengan cepat menoleh kepada Sekretaris Yoon dan menatapnya tidak senang. "Makudmu bicaraku tanpa adat, begitu?"
Sekretaris Yoon tersenyum kecil. "Anda tahu maksud saya bukan begitu." Katanya. "Jika Anda ingin mengatakan sesuatu, katakan saja tanpa memutar-mutar kalimat, atau menambah kalimat lain yang bisa membuat Chanyeol kesal."
Lee Youngri menaikkan alisnya. "Memangnya aku pernah berbicara seperti itu?"
"Ya." Angguk Sekretaris Yoon mantap. "Anda mengatakan hal-hal seperti—" ia tiba-tiba saja membuat suaranya bernada serius seperti nada bicara Lee Youngri, lalu, "'Aku akan sedikit berpikir bahwa tampangmu akan seperti zombie atau gelandangan sinting yang tidak pernah diurus,' yah, Anda mengatakan hal tersebut kepada Chanyeol."
Lee Youngri memijit kepalanya. "Aku pasti sudah gila. Kenapa aku mengatakan hal mengerikan seperti itu?!"
Sekretaris Yoon tergelak sedikit. "Belum terlambat untuk mencobanya, Nyonya Lee. Makanya saya sarankan kepada Anda untuk berbicara sedikit lebih… uh, manis? kepada Chanyeol nanti."
Lee Youngri membuang napasnya lelah. "Baiklah, Sekretaris Yoon. Terima kasih untuk kerja kerasmu hari ini juga, dan yah, saran yang kau berikan. Kau bisa berisirahat hari ini. Jangan lupa pertemuan kita dengan pemegang saham besok pagi."
"Senang bisa membantu, Nyonya Lee. Terima kasih, sampai berjumpa besok pagi." Sekretaris Yoon kemudian membungkuk sedikit lalu keluar dari kamar hotel itu.
Lee Youngri dengan cepat menarik laci lain di meja kerjanya dan meraih sekotak rokok, namun tangannya terhenti.
Ia menatap kotak rokok itu cukup lama sebelum akhirnya meremukkannya dengan tangannya sendiri dan melemparnya pada pojok ruangan.
Ia akan memulai lagi. Ia akan mencobanya sesulit apapun itu.
Baekhyun berbaring telungkup dan memeluk bantalnya dengan kepala menghadap pintu. Matanya terasa berat, dan ia mengerjap pelan.
Namun tak lama setelahnya, Chanyeol kembali ke dalam kamar dengan membawa nampan besi berisikan satu teko besar air putih dan gelas berisi air dengan irisan lemon.
"Apa kau mengantuk?" tanya Chanyeol, ketika ia berjalan mendekat dan meletakkan nampan tersebut di meja samping kasurnya.
Baekhyun duduk dan mengusap matanya, lalu menguap pelan. "Sedikit?"
"Kalau begitu minum ini dulu." Chanyeol menyerahkan gelas berisi irisan lemon. "Dokter Shin berkata kalau air hangat dengan irisan lemon dan madu baik untuk metabolisme tubuhmu, jadi pastikan untuk meminumnya hingga habis, oke? Dan ingat untuk minum pelan-pelan. Masih sedikit panas." Chanyeol meniup sedikit permukaan gelas yang mengepul.
Baekhyun mengangguk dan meraih gelas itu, terasa hangat di tangannya dan masih sedikit mengepul, lalu meneguknya pelan. Ia mendesah senang setelahnya. "Ini sangat enak." Kata Baekhyun.
Chanyeol tersenyum dan menepuk kepalanya. "Aku senang kau menyukainya. Ayo, habiskan."
Baekhyun meniup gelasnya pelan dan sesekali menyeruputnya, hingga akhirnya isi gelas tersebut habis. Ia menyerahkan kembali gelas kosong kepada Chanyeol, dan berniat untuk mengusap bibirnya namun terhenti karena Chanyeol menahan pergelangan tangannya. Baekhyun kemudian menyadari bahwa Chanyeol sedang memperhatikan bibirnya.
"Kenapa, Chany—ummfhhh!"
Sebelum Baekhyun menyelesaikan kalimatnya, Chanyeol sudah terlebih dahulu bergerak maju dan mencium Baekhyun. Tangannya menggapai-gapai gelas yang masih dipegang Baekhyun dan meraihnya, lalu meletakannya di atas meja tanpa menghentikan pagutannya.
Tangannya yang lebar dan hangat kemudian beralih dan menangkup wajah Baekhyun, sebelah tangannya yang lain melingkar di pinggang Baekhyun dan menariknya mendekat. Baekhyun kemudian secara alami melingkarkan lengannya pada leher Chanyeol.
Chanyeol menutup matanya dan memperdalam ciuman mereka. Ia dapat mendegar Baekhyun mendesah sesekali meminta berhenti, tapi ia tidak menghentikan ciumannya. Rasanya manis, dan ia bisa mengecap madu dan sedikit rasa lemon dari bibir Baekhyun—yang segera saja membuat kepalanya pusing. Ia ingin lebih.
Baekhyun tak jauh berbeda. Ia selalu merasa dunianya berputar jika Chanyeol menciumnya seperti ini—sama seperti yang ia lakukan saat mereka kembali dari Busan. Baekhyun berpikir bahwa itu adalah ciuman mereka yang pertama—maksudnya ciuman paling intens yang pertama.
Baekhyun terengah, meminta oksigen. Chanyeol mengerti dan melepaskan ciumannya, membiarkan mereka sama-sama memejamkan mata dan berusaha untuk menjinakkan debaran jantung yang terus menggila, sementara kening mereka saling bersentuhan.
Chanyeol ingin lebih, jadi ia mulai mengecupi rahang Baekhyun dan sesekali menjilati sudut bibirnya. Ia bisa mendengar Baekhyun tercekat sesekali. Chanyeol tersenyum. Ia menyukainya, ia lagi-lagi masih bisa merasakan sedikit rasa madu dan lemon, yang membuatnya makin tidak bisa berhenti. Tekstur kulitnya halus dan lembut, seperti bayi. Jadi ia menunduk untuk menelurusi rahang Baekhyun dengan bibirnya, mengecupinya tanpa henti. Ia turun ke leher, menghirup aroma Baekhyun dalam-dalam. Hidung Chanyeol yang mancung menggelitikinya, sehingga membuat Baekhyun terkikik geli.
Si mungil itu kemudian mendorong Chanyeol kuat-kuat—tidak begitu bekerja, sebenarnya, Chanyeol hanya mundur sedikit.
"Enough." Katanya tersipu malu, menunduk dengan wajah memerah.
Chanyeol tersenyum lalu mengangguk, mengusak rambutnya sayang. "Tidurlah lebih dulu. Aku akan membaca buku sebentar."
Baekhyun mengangguk, lalu masuk dalam selimut dan meringkuk memeluk bantalnya. Air hangat yang diberi Chanyeol kepadanya barusan membuat matanya berat, dan ia ingin segera tidur.
Ketika Baekhyun memejamkan matanya, Chanyeol menunduk untuk mengecupnya lagi, kali ini pada seluruh bagian di wajahnya. Ia mengecup keningnya, matanya, ujung hidunya, dan bibirnya entah berapa kali.
Baekhyun harus memukul kepalanya dan memintanya untuk berhenti, yang kemudian dibalas Chanyeol dengan tawa.
Pria itu kemudian berjalan menuju lemari, memilih salah satu buku favoritnya, kemudian masuk ke dalam selimut bersama Baekhyun. Chanyeol bersandar pada bahu kasur dengan Baekhyun yang sudah meringkuk manis di sampingnya.
Ia menatapinya sebentar. Napasnya sudah teratur dan wajahnya tampak damai. Chanyeol tersenyum, mengusap lembut pipinya. "Selamat tidur, Baekhyun. Aku sayang padamu."
Chanyeol terbangun ketika ia mendengar seseorang merintih. Pandangannya kabur, ia mengusap matanya beberapa kali sebelum akhirnya menghidupkan lampu tidur di atas meja pada samping kasurnya.
Ketika ia menoleh ke samping, ia melihat Baekhyun bergelung dalam selimutnya. Tubuhnya menggigil, rambut dan piyamanya basah oleh keringat dingin.
Chanyeol seakan merasa tersentak. Ia dengan cepat meraih ponsel dan memeluk Baekhyun mendekat. Dalam beberapa kali nada sambung, seseorang dari seberang telepon menjawabnya dengan nada serak.
"Halo? Dokter Shin! Kurasa Baekhyun mulai mengalaminya. Ia menggigil! A-apa yang harus kulakukan?!"
"Tenang, Chanyeol." Suara Dokter Shin berubah serius. "Ini reaksi alamiah yang dialami seseorang yang nyaris overdosis atau pecandu obat-obatan, jadi tidak apa-apa. Pastikan Baekhyun untuk tetap hangat. Cek suhu tubuhnya. Apa ia mengalami demam?"
Chanyeol dengan cepat meletakkan punggung tangannya pada kening, pipi dan leher Baekhyun. "Kurasa suhu tubuhnya baik-baik saja, Dok. Tapi ia berkeringat begitu banyak dan ia menggigil."
"Tidak apa-apa," jawab Dokter Shin, "Kalau ia tidak demam, maka Baekhyun baik-baik saja. Pastikan dia hangat, tambah selimutnya jika perlu. Matikan AC. Lalu beri ia minum air putih yang banyak ketika ia bangun. Kau mengerti?"
Chanyeol meneguk ludahnya kasar. "Baiklah, Dokter. Terima kasih."
"Langsung hubungi aku jika terjadi sesuatu yang aneh. Kau paham?"
"Baiklah Dok. Akan kuingat. Terima kasih."
Chanyeol mematikan teleponnya dan meletakkannya sembarangan, lalu meraih remote AC dan mematikannya. Ia yakin ia berlari seperti orang kesetanan menuju lemari untuk mengambil selimut tambahan—entah berapa tumpuk, lalu menyelimuti Baekhyun dengan semua selimut yang ia ambil. Ia kembali berlari menuju kamar mandi untuk mengambil handuk kecil bersih.
Ia kemudian membuka kausnya dan menyusup ke dalam selimut, memeluk tubuh Baekhyun dan berusaha untuk menghantarkan panas tubuhnya ke tubuh Baekhyun yang menggigil hebal. Giginya bergemeltuk.
Chanyeol mendesah berat dan mengusap keringat Baekhyun perlahan.
"Baekhyun?" bisiknya halus. "Apa kau bisa mendengarku?"
Tidak ada jawaban, tapi tubuhnya berangsur-angsur berhenti menggigil. Chanyeol menyusupkan lengannya ke pinggang Baekhyun dan memeluknya makin erat, sambil sesekali mengelap keringat pada kening dan lehernya.
Matanya tertutup erat dan sekilas ia tampak seperti orang yang tertidur, tapi ia menggigil begitu hebat, Chanyeol merasa bahwa ia baru saja terkena serangan jantung.
Ia dapat merasakan Baekhyun menggeliat dalam pelukannya, dan menenggelamkan diri pada dada Chanyeol.
Ia masih menggigil, tidak separah sebelumnya.
Chanyeol membuang napas berat. Jantungnya berdentam begitu kuat hingga ia merasa dadanya sakit. Ia sedang mengatur napasnya sekarang, melihat Baekhyun kembali tertidur pulas. Si mungil itu nampaknya sudah baik-baik saja, tapi Chanyeol tidak mau ambil risiko. Ia tetap memeluknya erat, mengelap keringatnya dan membetulkan posisi selimutnya agar ia tetap hangat.
Ketika ia yakin dirinya sudah tidak panik, Chanyeol kemudian menanamkan satu ciuman lama pada kening Baekhyun, sambil mengusap pipinya penuh sayang.
Aku akan menjagamu, Baekhyun, selalu.
Baekhyun merenggangkan tubuhnya sambil menguap pelan, entah mengapa merasa bahwa seluruh otot tubuhnya pegal. Tenggorokkannya terasa sedikit perih, dan ia kemudian mengusap-usap matanya karena pandangannya kabur.
Ia dapat melihat sinar matahari menyusup dari balik tirai setelahnya, yang segera saja membuatnya tersenyum.
Ia menggeliat sesekali dan merasakan sikunya menyenggol sesuatu yang keras. Ketika ia menoleh, ia mendapati Chanyeol, sedang berbaring miring sembari menatapinya. Ya, matanya terbuka begitu lebar sehingga membuat Baekhyun terkejut.
Baekhyun berteriak, dan Chanyeol ikut-ikutan terlonjak.
Chanyeol kemudian memekik, suaranya berat dan parau. "KENAPA?! APA KAU MERASA SAKIT?!"
Baekhyun yang siaga segera duduk dalam posisi tegak di atas kasur, Chanyeol juga dalam posisi yang sama. Baekhyun memperhatikan Chanyeol. Pria itu terlihat berantakan dan letih. Rambut hitamnya acak-acakan dan mencuat ke segala arah, matanya merah dan ada bayangan gelap di bawah matanya dan dia—kenapa dia tidak memakai baju? Oh, celana training hitamnya menggantung rendah pada pinggulnya—Baekhyun meneguk ludahnya, sial. Tenggorokkannya makin perih.
Baekhyun mungkin tidak pernah mengatakan ini secara blak-blakan, tapi Chanyeol benar-benar mempunyai tubuh yang bagus. Maksudnya, ya ampun—lihat saja bahunya yang lebar itu, bisepnya yang menonjol, dadanya yang tampak bidang dan kuat, serta perutnya yang membentuk kotak-kotak samar—ouch, jika dibandingkan dengan tubuh Baekhyun yang hanya berisi lemak dan selalu tampak lunglai, Chanyeol jelas bukan tandingannya.
Baekhyun sendiri tanpa sadar menelusuri tubuh Chanyeol dengan matanya, yang kemudian membuatnya menelan ludah dengan perasaan aneh.
"Baekhyun?"
Si mungil itu terlonjak, dengan cepat mengalihkan tatapan dari perut Chanyeol dan kemudian menatapi Chanyeol dengan tampang bodoh. "Huh?"
Chanyeol menatapnya tajam dan waspada. "Apa kau baik-baik saja?"
"Ten-tentu saja!" jawabnya terbata.
"No pain?"
Baekhyun menggeleng. "Tidak."
"Kau yakin?"
Baekhyun memutar bola matanya. "Ya, Park Chanyeol. Aku baik-baik saja." Jawabnya jengah, "kau yang tampaknya tidak baik-baik saja. Kenapa wajah Chanyeol seperti orang tidak tidur semalaman? Dan… kenapa kau tidak memakai baju?"
Chanyeol menghembuskan napas lega. Ia memijat kepalanya sambil mengerang pelan, kemudian berjalan mengitari kasur lebar itu hanya untuk menuangkan teko berisi air putih dan menyerahkannya kepada Baekhyun.
"Oh? Darimana Chanyeol tahu kalau tenggorokkanku perih?" tanya Baekhyun, ia meraih gelasnya dan meneguknya seketika.
"Kalau tenggorokkanmu masih perih, habiskan saja isi tekonya. Kau mengerti?"
Baekhyun mengangguk dan tersenyum, kemudian menuangkan kembali air putih pada gelas dan meminumnya perlahan. Matanya mengikuti Chanyeol yang berjalan lemas, kembali mengitari kasur hanya untuk menghempaskan diri di samping Baekhyun, lalu bergeser dan melingkarkan lengannya pada pinggang pada Baekhyun.
"Chanyeol?" panggil Baekhyun, jelas tak paham.
"Lima belas menit saja, oke?" Kata Chanyeol pelan.
Baekhyun mengangguk, masih sambil meneguk air putih dari gelasnya.
Tak lama setelahnya, Baekhyun mendengar ponsel Chanyeol berdering nyaring, dan Chanyeol menggerutu tak senang. Jadi Baekhyun segera meraih ponsel Chanyeol dan mengangkat teleponnya.
"Halo? Selamat pagi, Chanyeol."
Baekhyun menjauhkan ponsel dari telinganya untuk melihat nama pemanggil yang tertera di layar. "Oh?! Dokter Shin?"
"Baekhyunnie?"
"Ya. Ini aku. Ada apa, Dok? Chanyeol sedang tertidur sekarang."
"Oh, tidak apa-apa." Jawab Dokter Shin. "Apa kau baik-baik saja, Baekhyun?"
Baekhyun tertegun sebentar, bingung kenapa orang-orang sudah bertanya apa dia baik-baik saja di pagi hari seperti ini.
"Baekhyun?"
"Ya, Dokter Shin." Baekhyun tersenyum. "Aku baik-baik saja."
Dokter Shin menghembuskan napas lega. "Baguslah kalau begitu, Baekhyun. Hubungi aku jika kau merasa tidak enak badan, atau merasa nyeri di tubuh. Jangan lupa untuk banyak minum air putih. Kau mengerti?"
"Dokter Shin," panggil Baekhyun ragu-ragu.
"Ya?"
"Apa terjadi sesuatu tadi malam?"
Dokter Shin terdiam sebentar. "Bukan hal serius, Baekhyun. Kau mulai menggalami menggigil, seperti yang sudah kuduga. Tapi tidak perlu khawatir, kau akan baik-baik saja. Kurasa Chanyeol menjagamu dengan baik."
Baekhyun menggigit bibirnya, dadanya terasa berat ketika ia menoleh untuk melihat Chanyeol yang sedang tertidur pulas sambil memeluk pinggulnya. Wajahnya setengah terbenam dalam piayama Baekhyun. Dadanya naik turun dengan ritme teratur.
"Kurasa juga begitu, Dokter Shin." Jawab Baekhyun pelan. "Terima kasih, Dok."
"Tentu, Baekhyun. Kalau begitu aku akan menutup teleponnya."
Baekhyun mengangguk. "Ya."
Ia meletakkan ponsel Chanyeol pada meja di samping nampan, kemudian beralih menatap Chanyeol lama, membelai surai malamnya sayang. Jadi itulah alasan kenapa ia terlihat seperti zombie di pagi hari—karena ia tidak tidur semalaman untuk menjaga Baekhyun. Si mungil itu membuang napasnya berat. Selama ia bersama Chanyeol, ia merasa seperti dirinya hanyalah sebuah beban. Bagaimana mungkin Baekhyun tidak menyayangi pria tinggi yang tengah terlelap ini? Mustahil.
Tapi ia berharap akan segera cepat sembuh dan baik-baik saja, sehingga Chanyeol tidak perlu kelelahan hanya untuk menjaga dirinya yang ceroboh. Baekhyun menghela napas. Ia sungguh ingin mengucapkan beribu kata maaf dan terima kasih kepada Chanyeol.
Ia kemudian menunduk untuk mengecup pipi Chanyeol, menggumamkan terima kasih setelahnya.
Chanyeol terbangun dengan kepala ringan. Ia menggapai-gapai kanan dan kiri kasurnya, tapi tidak menemukan Baekhyun. Kasurnya menjadi agak sedikit dingin. Ia meraih ponselnya dan melihat jam, hampir jam sepuluh pagi—astaga ia tidur selama dua jam!
Panik, Chanyeol duduk tegak dan menoleh ke kanan dan kiri, lalu berteriak kuat sekali. "BAEKHYUN!"
Lalu ia mendengar bunyi berkelontang dari lantai bawah.
Dengan cepat, Chanyeol turun dari kasur dan segera berlari menuju lantai bawah—bahkan tanpa sempat mengenakan baju.
"Baekhyun?!"
Ia melihat si mungil itu tengah berjongkok pada lantai dapur, membersihkan tepung yang sepertinya baru saja tumpah dari mangkuk besi. Baekhyun terlonjak dan mendongak, kemudian meringis.
Chanyeol menghembuskan napas lega, tak lama kemudian tergelak ketika melihat wajah Baekhyun yang penuh oleh tepung.
"Selamat pagi?" kata Baekhyun ragu, ia tersenyum sumringah, masih sambil berjongkok.
Chanyeol berjalan pelan kemudian ikut berjongkok di depan Baekhyun. "Aku pikir kau hilang." Katanya, terkekeh. "Apa yang sedang kau lakukan?"
Baekhyun menggaruk pipinya, menambah tepung yang menempel pada pipinya. "Making pancake for breakfast?"
Chanyeol tertawa. "Kau tidak terdengar begitu yakin." Satu hal yang menurut Chanyeol sangat lucu dari Baekhyun adalah kenyataan bahwa si mungilnya itu tidak begitu ahli dalam hal memasak.
Baekhyun mengangkat bahunya. "Tidak ada salahnya mencoba."
"Kalau kau lapar," kata Chanyeol, mengangkat tangan dan mengusap wajah Baekhyun yang berlepotan tepung dengan punggung tangannya, "kau bisa membangunkanku. Bukankah sudah kubilang padamu untuk membangunkanku setelah lima belas menit?"
Baekhyun menggeleng tidak senang. "No, no. Chanyeol terlihat begitu lelah dan itu semua karena aku."
Sudut bibir Chanyeol terangkat ke atas dengan cepat. "Jadi itu sebabnya kau berusaha membuatkanku sarapan?"
Baekhyun mengangguk, lalu menatap sedih pada tepung yang baru saja ia bunuh, tersebar di penjuru lantai keramik dapur.
"Astaga," kata Chanyeol tak percaya, mendongak ke atas dengan wajah berhias senyum. "Kau lucu sekali, Baekhyun. Aku ingin menggigitmu."
Baekhyun menatap Chanyeol sengit. "Tidak lucu."
"Aku tidak berusaha melucu." ujar Chanyeol ketika tangannya mengusap sebelah pipi Baekhyun yang masih bernoda tepung. "Kau tidak terluka?"
Baekhyun menggeleng. "Tidak."
"Good baby." Kata Chanyeol, tertawa sambil menepuk kepalanya sayang. "Kalau begitu, bagaimana kalau kau naik saja ke atas dan mandi lalu duduk dengan manis di meja makan, dan aku yang akan membersihkan tepungnya. Lalu aku akan membuat sarapan setelah aku mandi. Hmm? Jadilah anak yang baik, ya, Baekhyunnie?"
"Kenapa kau sering sekali berbicara kepadaku seakan aku bocah tiga tahun?" Baekhyun menatap Chanyeol tak senang.
Chanyeol pura-pura membuat ekspresi terkejut. "Memangnya kau bukan?"
"CHANYEOL!"
Chanyeol dengan cepat mengangkat tangannya. "Baekhyun, naik ke atas dan mandi. Oke?" Suaranya terdengar seperti perintah yang membuat Baekhyun jengkel bukan main.
Meski kesal, Baekhyun mengangguk dan berjalan lesu menuju tangga, naik ke kamarnya untuk membersihkan diri, sementara Chanyeol membersihkan segala kerusakan yang dibuat Baekhyun di dapur, kemudian setelahnya juga ikut naik ke atas untuk mandi.
Lee Youngri menepati janjinya dan berkunjung ke rumah sore itu. Ia datang bersama Sekretaris Yoon, dan mereka duduk bersama di ruang tengah. Beberapa menit berlalu tanpa kata-kata, hanya mata yang saling menatap dengan canggung.
Baekhyun sendiri memperhatikan Lee Youngri yang berdandan cukup kasul hari ini. Dia tidak memakai rok pensil atau blazer yang sering ia kenakan saat ia bekerja, namun hanya celana kain yang dipadukan dengan kaus dan jaket—dalam sekali lihat, orang mungkin tidak akan mengira bahwa wanita ini hampir menginjak kepala empat, karena ia jelas terlihat seperti awal 30-an.
Baekhyun menggigit bibirnya gusar. Ia duduk di samping Chanyeol yang hanya menatap lantai tanpa berbicara, sementara Nyonya Lee menatap anak tunggalnya, sama gusarnya dengan Baekhyun.
Baekhyun kemudian tiba-tiba berdiri. "Aku akan mengambil tehnya."
Tapi kemudian Chanyeol meraih pergelangan tangannya, ikut-ikutan berdiri. "Biar aku saja."
Baekhyun dengan cepat melepaskan pergelangan tangannya dari Chanyeol. "Uh, tidak, Chanyeol." Matanya bergantian menatap Sekretaris Yoon dan Lee Youngri dengan panik—ia bisa melihat Sekretaris Yoon yang tengah mengulum senyum dan Lee Youngri yang terlihat bingung. "Biar aku saja. Chanyeol duduk saja disini." Dia berusaha untuk menekan bahu Chanyeol dan membuatnya kembali duduk di sofa, tapi tidak berhasil.
Chanyeol bersikeras dan dia menggeleng. "Bagaimana kalau kau menjatuhkan gelasnya dan membuat tanganmu terluka?"
Baekhyun dapat merasakan keringat dingin mengaliri pelipisnya. Ia tertawa sumbang. "Eh, itu tidak mungkin. Aku bisa melakukannya," suaranya bergetar panik.
Tapi Chanyeol nampaknya tidak berniat untuk mengalah, jadi ia mengangkat Baekhyun dan membuatnya duduk di sofa dalam sekali gerakan kecil—membuat Lee Youngri terperangah dengan tangan di mulut dan Sekretaris Yoon yang mengeluarkan tawa kecil.
"Kau ingin kopi, Sekretaris Yoon?" Tanya Chanyeol.
Pria itu tersenyum. "Tentu, Tuan Muda."
Chanyeol kemudian kembali menoleh kepada Baekhyun, menudingnya kesal. "Diam disitu." Katanya, memberi peringatan, yang kemudian dibalas Baekhyun dengan jelingan tajam.
Tak lama setelah Chanyeol berlalu menuju dapur, Lee Youngri kemudian mulai tertawa.
Baekhyun terlonjak karena ia tidak tahu apa yang membuat Lee Youngri tertawa seperti itu.
"Wah," katanya, mengusap air matanya sedikit. "Kau luar biasa, Baekhyun. Aku tidak pernah melihat Chanyeol seperti itu."
Baekhyun meringis, wajahnya memerah. "Ini tidak seperti yang Anda pikirkan, Nyonya Lee."
Lee Youngri kemudian melipat salah satu kakinya. "Oh, tentu saja. Tidak apa-apa, Baekhyun. Aku paham."
Tapi kemudian Baekhyun mendengar Sekretaris Yoon berdeham, berusaha mengambil perhatian Lee Youngri. Wanita itu dengan cepat menoleh kepada Sekretaris Yoon dan memutar bola matanya jengah. "Baiklah, baiklah, Sekretaris Yoon. Aku akan berusaha berbicara dengan manis."
Sekretaris Yoon mengangguk dan tersenyum setelahnya.
Chanyeol kemudian kembali dengan membawa nampan berisi empat gelas yang berbeda. Satu gelas berisi kopi, dua gelas the hangat dengan irisan lemon, dan satu gelas lain yang Baekhyun kenali dengan air madu dan lemon yang Chanyeol berikan kepadanya tadi malam.
Chanyeol meletakkan gelasnya dan mengedarkannya pada masing-masing ornag yang duduk di ruang tengah.
"Terima kasih, Chanyeollie." Baekhyun berbisik, yang kemudian dibalas dengan senyum oleh Chanyeol dan tepukan di kepalanya.
Lee Youngri mengambil gelas tehnya dan menyeruputnya pelan, kemudian melirik Sekretaris Yoon ragu, namun pria itu entah kenapa tampak seperti sedang memberi kode kepada Nyonya Lee. Jadi wanita itu meletakkan gelas tehnya kembali.
Ia berdeham pelan. "Uh… Ba-bagaimana sekolahmu, Chanyeol-ah?"
Chanyeol yang hendak meraih gelas tehnya mengehentikan tangannya. Ia kemudian menarik kembali tangannya dan meletakkannya di atas lutut.
"Baik-baik saja." Jawab Chanyeol singkat, matanya menatapi lantai.
Baekhyun merasa bahwa dirinya hampir mati sesak.
Suara Lee Youngri bergetar. "Bagaimana kabar temanmu? Mereka baik-baik saja?"
Chanyeol tersenyum geli, senyum yang terlihat begitu meremehkan di mata Baekhyun. "Memangnya kau tahu dengan siapa saja aku berteman?"
Lee Youngri terdiam sebentar. "Aku ingat satu anak. Siapa dia, Sekretaris Yoon? Yang kabarnya meraih nilai tertinggi dalam bidang vokal di SoPA?"
"Do Kyungsoo." Jawab Sekretaris Yoon.
Baekhyun hampir tersedak.
"Ah, ya, Do Kyungsoo. Bagaimana kabarnya?"
Alih-alih melihat Ibunya, Chanyeol malah menoleh Baekhyun yang entah mengapa merasa tidak nyaman. "Tidak tahu." Jawab Chanyeol dingin. "Aku sudah tidak bergaul dengannya."
Baekhyun menunduk dan menghindari tatapan Chanyeol. Wajahnya panas.
Baekhyun merasa sesak bukan main. Ketegangan di dalam ruangan itu membuatnya jengah. Secara naluriah ia ingin berlari dan menghirup udara luar rakus-rakus.
Mereka terdiam beberapa saat lagi setelah itu. Tidak ada satupun yang berbicara, dan Baekhyun mulai memaki dirinya sendiri. Ini semua idenya. Ia seharusnya tahu bahwa mempertemukan Chanyeol dan Ibunya bukanlah hal bagus. Baekhyun bahkan berani bersumpah bahwa wajah Sekretaris Yoon sendiri terlihat sama muaknya dengan dirinya.
Ketika Baekhyun sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri sambil menyeruput minuman yang dibuatkan Chanyeol untuknya, ia mendengar Lee Youngri meletakkan gelas tehnya berkelotak dengan kasar dan kemudian memaki. "Persetan dengan semua ini." Kata wanita itu, dan Baekhyun tersedak minumannya sendiri.
Chanyeol mendongak dan menatap tajam Ibunya sendiri, ekspresinya menunjukkan ketidakpercayaan. Chanyeol dengan cepat meraih kotak tissue di atas meja, mencomot selembar dan memberikan kotaknya kepada Baekhyun. Ia mengelap lembut bibir dan pipi Baekhyun.
Kemudian, mereka semua mendengar Lee Youngri membuang napas berat.
"Dengar, Chanyeol." Katanya, nadanya berubah serius. "Aku tahu aku buruk dalam berkata-kata. Aku sudah tidak paham bagaimana aku harus menghadapimu. Sepertinya, semua usahaku untuk memperbaiki hubungan ini tidak bekerja—dan tidak, ini bukan salahmu. Semuanya salahku. Kau adalah korban disini, dan kurasa aku memang sama munafiknya dengan Ayahmu."
Chanyeol terdiam, kali ini menatap Ibunya.
Wanita itu kemudian tersenyum sinis. "Aku membayar semua hutang yang ia tinggalkan, dan bahkan membangun perusaahan besarku sendiri. Aku yakin bahwa diriku sudah melakukan semua yang harus kulakukan. Aku memberimu segala yang kau butuhkan, yang kau inginkan." Ia kemudian menunduk, menangkupkan kedua telapak tangan pada wajahnya, lalu mulai menangis. "Tapi semuanya membuatku jauh darimu. Membuatku tidak mengenal diriku sendiri dan anak tunggalku. Kau mulai membenciku. Aku tidak bisa hidup seperti itu, Chanyeol-ah. Kenyataan bahwa kau sangat membenciku membuatku ingin mati."
Chanyeol dengan cepat menggengam tangan Baekhyun, dan Baekhyun balas meremas tangannya. Baekhyun yakin, disaat seperti inilah Chanyeol sangat membutuhkannya. "Jangan berbicara seperti itu." ujar Chanyeol, suaranya bergetar. "Aku tidak pernah membencimu. Aku membenci Ayah yang meninggalkanmu bahkan saat kau menangis dan memohon agar ia tidak pergi."
Tangis Lee Youngri makin jadi, dan suaranya menjadi histeris. "Maafkan aku, Chanyeol-ah. Aku berpikir diriku sudah berada diatas segala-galanya, tapi aku melupakan anakku yang terkasih. Aku mengabaikanmu selama bertahun-tahun. Semuanya pasti berat untukmu, melaluinya sendirian. Maafkan aku karena tidak pernah menjadi Ibu yang baik untukmu."
Baekhyun menggigit bibirnya, lalu memberi kode kepada Chanyeol untuk pergi kepada Ibunya. Chanyeol meremas tangan Baekhyun sekali lagi sebelum ia melepaskannya, lalu berjalan menuju ibunya yang sedang menunduk sambil menutup wajahnya.
Chanyeol berdiri dengan lututnya, lalu memeluk Lee Youngri.
Baekhyun yakin ia juga menahan tangisnya saat itu.
Chanyeol menepuk punggung Lee Youngri pelan. "Aku tidak pernah membencimu, Ibu. Kurasa aku hanya marah kepadamu. Tapi karena kita sudah membicarakannya, maka sekarang baik-baik saja. Maafkan aku karena setiap kali kita bertemu, aku selalu berbicara kasar kepadamu. Aku tahu itu melukai hatimu tapi aku tetap melakukannya. Kurasa aku anak yang tidak tahu terima kasih, ya?"
Lee Youngri tertawa di sela-sela tangisnya. Ia melepaskan tangan dari wajahnya dan balas memeluk Chanyeol, wajahnya sembab.
"Terima kasih karena sudah memaafkanku, Chanyeol-ah."
"Kalau begitu, kau akan sering pulang setelah ini, kan?" tanya Chanyeol, melepas pelukannya dan mengusap air mata Ibunya. Chanyeol sendiri melepaskan beberapa butir air mata, tapi ia menahan dirinya untuk tidak membuat tangisnya pecah.
Lee Youngri menangkup wajah Chanyeol. "Tentu, nak. Aku akan sering pulang setelah ini. Tunggulah sebentar lagi."
Chanyeol mengangguk dan tersenyum. "Kalau begitu, sekarang semuanya sudah baik-baik saja."
Lee Youngri tertawa. "Kurasa begitu."
Baekhyun yakin bahwa ia baru saja mendengar desahan lega yang ternyata berasal dari Sekretaris Yoon. Ia tersenyum kecil, juga merasalega ternyata idenya tidak terlalu buruk.
Chanyeol membawa Ibunya ke dalam pelukannya sekali lagi, lalu menoleh kepada Baekhyun yang masih tersenyum. Baekhyun memberinya dua jempol, berkata bahwa ia sudah melakukannya dengan baik, dan Chanyeol membalasnya dengan senyum lembut lalu mengucapkan terima kasih tanpa suara.
Baekhyun kemudian mengangkat bahunya, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya lega. Ia bahagia sekarang karena Chanyeol sudah berbaikan dengan Ibunya. Ia berharap Lee Youngri segera menyelesaikan semua pekerjaannya dan kembali ke rumah lebih cepat. Chanyeol pasti akan sangat menyukainya!
Baekhyun menatap Chanyeol yang sedang duduk bersandar di depan televisi malam itu. "Bagaimana rasanya setelah berbaikan dengan Ibumu?" Baekhyun mencolek pundaknya.
Chanyeol menoleh dan tersenyum sumringah. "Amazeball!" sahutnya, menunjukkan dua jemporlnya kepada Baekhyun. "Thanks to you babe."
Baekhyun tersenyum. "Kapan Nyonya Lee akan pulang, kalau begitu?"
Chanyeol terkekeh pelan dan mengangkat bahunya. "Tidak untuk waktu yang dekat. Dia memiliki project besar untuk musim panas ini, jadi kurasa kita akan menemuinya setelah musim panas berakhir?"
Baekhyun menatap Chanyeol tak percaya. "Musim panas masih dua bulan lagi!"
Chanyeol tersenyum lembut dan menepuk kepalanya. "Tidak apa-apa, pendek. Karena aku sudah berbaikan dengannya, maka sekarang sudah baik-baik saja. I have you here, so nothing to loss." Dia tertawa.
Tak lama setelahnya, ponsel Chanyeol berdering nyaring. "Kau tidak akan mengangkat teleponmu?" Tanya Baekhyun sambil menatap layar televisi.
Chanyeol menggeleng. "Hanya Oh Sehun."
Baekhyun melirik ponsel Chanyeol yang ia letakkan di atas sofa dengan ragu. "Kau yakin? Sepertinya penting."
"Bocah itu mungkin hanya bosan. Dia kadang suka kurang kerjaan kalau Luhan membuangnya."
Baekhyun tertawa kecil. "Tapi, tetap saja…"
Chanyeol mendelik kepada Baekhyun dan meraih ponselnya malas. "Apa?" katanya kesal pada seseorang di seberang telepon.
"HYUNG! HYUNG! HYUNG! BERITA DAEBAK!"
Chanyeol segera saja mematikan ponselnya lalu beralih menatap Baekhyun. "Lihatkan, dia berusaha mengajakku bergosip."
Mata Baekhyun membulat. "Sungguh?"
Chanyeol mengangguk. Tapi tak lama setelahnya, ponselnya kembali berdering dengan pemanggil yang sama.
"Bicaralah dulu kepadanya, Chanyeol-ah." Kata Baekhyun, tersenyum kecil.
Chanyeol kembali meraih ponselnya. "Aku bersumpah, Oh Sehun, jika kau hanya berusaha main-main denganku aku akan—"
"BERIKAN PONSELNYA KEPADA BAEKHYUN HYUNG!"
Chanyeol melepaskan ponselnya dari telinga dan menatap benda persegi itu bingung. Keningnya berkerut. "Si bodoh ini mau berbicara padamu?"
Baekhyun dengan cepat mengalihkan kepalanya yang tadi tengah menonton televisi kepada Chanyeol. "Aku? Kenapa?"
Pria yang lebih tinggi itu menatap Baekhyun dengan tatapan sama bingungnya, lalu mengedikkan bahunya tak paham. Ia menyerahkan ponselnya.
"Halo? Sehun?"
"Hyungggggg!" Sehun berseru, dan Baekhyun tersenyum lebar, sementara Chanyeol menatapnya tak senang. "Aku tidak seharusnya mengatakan ini—"
"Tunggu, Sehun-ah. Tunggu sebentar." Potong Baekhyun cepat, kemudian menekan tombol loudspeaker. "Baiklah, bicara sekarang."
"Mereka menemukan dapur produksinya!" Sehun kemudian berteriak.
Baik Chanyeol maupun Baekhyun saling menatap dengan alis bertaut. Mereka terdiam cukup lama setelahnya.
"Hyung, kau disana?"
"Ya, Sehun. Aku disini." Jawab Baekhyun pelan. "Tapi aku tidak sepenuhnya paham dengan apa yang baru saja kau bicarakan."
Sehun tertawa, suaranya terdengar begitu gembira hingga Chanyeol berpikir bocah ini mungkin sedang sakaw. "Ini masih rahasia, hyung. Aku mencuri dengar omongan ini dari Ayahku. Para interpol baru saja turun. Kalau aku ketahuan membeberkan omongan ini kepada siapapun, aku bisa mati. Mungkin dicekik oleh Ayahku sendiri. Jadi kalau kalian tidak menemukan aku setelah 24 jam atau lebih, sebaiknya segera hubungi—"
Chanyeol memotongnya cepat. "Wait, wait, bocah sinting. Bicaramu membuatku merinding. Ada apa sebenarnya?"
"Oh? Chanyeol hyung? Kau juga mendengarkan? Bagus. Aku punya dua saksi sekarang." Sehun tertawa lagi.
"Sehun, berbicaralah dengan benar. Ada apa sebenarnya?" Baekhyun mulai menggigiti bibirnya gusar.
"Intinya, hyung, cobalah untuk terus memantau berita dari televisi. Setelah ini, kemungkinan kepolisian akan menghubungimu. Tapi tidak usah panik, mereka akan segera melepaskan Ayahmu, hyung! Ah, aku sungguh senang bisa memberitahumu hal ini. Kau berhutang makan siang kepadaku, Baekhyun hyung!"
Baekhyun terkesiap setelahnya, matanya melebar menatap Chanyeol dan ponsel yang berada di tangannya bergantian. "Sungguh? Benarkah begitu, Sehun-ah? Ya Tuhan! Terima kasih banyak! Aku akan mentraktirmu makan siang seumur hidupmu!"
"Tapi, Sehun-ah," Chanyeol memotong cepat, suaranya terdengar khawatir. "Apakah tidak apa-apa kalau kau membocorkan hal seperti ini kepada kami? Maksudku, apakah ini tidak akan menjadi masalah untukmu? Selain itu, apa yang kau maksud dengan dapur produksi?"
Sehun tertawa lagi—Chanyeol benar, dia kedengaran seperti orang sinting. "Kalian akan paham masalah dapur produksi setelah menonton televisi nanti." Jawab Sehun cepat. "Sejujurnya aku juga tidak tahu, hyung. Aku hanya berpikir bahwa aku perlu memberitakan hal ini kepada Baekhyun hyung dengan segera. Itulah kenapa kalau kalian tidak menemukanku setelah ini—"
Baekhyun berteriak. "Jangan berbicara seperti itu! Kau menakutiku!"
Tawa Sehun terdengar makin antusias. "Hanya bercanda. Ingatlah untuk selalu memantau berita di televisi, oke?"
Baekhyun mengangguk. "Sungguh, Sehun. Terima kasih. Kau yang terbaik. Aku akan membelikanmu makanan yang banyak setelah ini. Sekali lagi terima kasih."
"Senang bisa membantumu, hyung. Aku harap masalah ini cepat selesai sehingga Ayahmu bisa dibebaskan."
Chanyeol tersenyum. "Ya, Sehun-ah. Kau yang terbaik. Terima kasih."
"Tentu, hyung. That's what bestfriend for, right?"
Chanyeol menutup teleponnya setelah ia mengucapkan kalimat terima kasih.
Mereka menunggu berita yang mungkin tayang malam itu, tapi tidak ada satupun berita yang mengejutkan yang berhubungan dengan Byun Han.
Berita itu muncul tiga hari setelahnya. Tiga hari pula Baekhyun tidak menghadiri sekolah bahkan dalam keadaan sudah mulai pulih. Chanyeol bersikeras untuk ikut tidak masuk sekolah, menyeret-nyeret Sehun bersamanya. Kris dan Luhan, yang sudah berada di tingkat akhir, syukurlah tidak ikut-ikutan bolos hari itu.
Baekhyun akhirnya paham sepenuhnya setelah ia menonton berita. Dapur produksi yang Sehun maksud adalah tempat mereka membuat bahan mentah opium menjadi sesuatu yang bernilai lebih tinggi. Interpol mendapatkan lokasinya dari Ayah Baekhyun, yang ternyata selama berbulan-bulan melacak sendiri keberadaan markas yang konon sulit untuk ditemukan lantaran lokasinya selalu berpindah-pindah.
Mereka menangkap lima belas orang pekerja secara total, yang omong-omong juga merupakan warga lokal yang dipekerjakan oleh sindikat dari Tiongkok. Tidak ada satupun dari pekerja ini mengetahui siapa bos yang sebenarnya. Mereka mendapatkan pekerjaan dari mulut ke mulut, bahkan tidak tahu bahwa pekerjaan yang mereka lakukan adalah sesuatu yang ilegal.
Hal ini membawa tim penyelidikan ke sebuah jalan buntu.
Meski begitu, Kepala Kepolisian Pusat menyatakan pada konferensi persnya hari ini bahwa Byun Han bebas dari segala tuduhan—karena pada dasarnya ia juga adalah korban, dan kehidupannya selama enam bulan terakhir menjadi buron adalah untuk melacak keberadaan sindikat obat-obatan terlarang ini sendiri.
Ia dilepaskan dari penjara hari ini.
Baekhyun? Ia menangis di depan televisi, sementara Chanyeol memeluknya dan Sehun menatapnya dengan tatapan bangga.
Dalam sela-sela tangisnya, ia tidak berhenti mengatakan terima kasih kepada Sehun, dan Sehun hanya membalasnya dengan anggukan pelan dan senyum.
Lee Youngri bahkan menyempatkan diri mampir sebelum kembali berangkat ke China untuk mengurus perusahaannya. Sore itu, mereka bersama-sama berangkat menuju kantor polisi pusat untuk menjemput Byun Han.
Baekhyun tidak berhenti menangis bahkan ketika ia melihat Ayahnya. Pria itu kini sudah bercukur, dan ia mengenakan celana kain hitam dan kemeja biru tua yang sudah disetrika rapi.
Mereka berdiri di depan kantor polisi, beberapa wartawan banyak berkumpul dan mengambil foto mereka tanpa henti, tapi tidak satu pun yang berani mendekat untuk menanyakan pertanyaan kepad Byun Han.
Baekhyun sendiri tidak peduli. Ia memeluk Ayahnya, menangis sejadi-jadinya. Tidak ada yang lebih penting selain Ayahnya sekarang, bahkan para wartawan menyebalkan pun tidak akan membuatnya terganggu.
"Lihatlah, aku sudah bercukur. Jadi berhentilah menangis." Kata Byun Han, dan Baekhyun tertawa. Pria itu kemudian mengalihkan tatapannya kepada Sehun. "Aku tidak punya baju yang layak setelah aku keluar, jadi Ayahmu memberikanku ini." Katanya, melirik baju yang ia kenakan. "Sampaikan salamku kepada Letnan Oh. Dan terima kasih karena sudah menjaga Baekhyun selama ini."
Sehun menggaruk belakang kepalanya. "Aku tidak membantu banyak," katanya malu.
"Maafkan Ibuku tidak sempat melihatmu, Paman Byun. Ia berangkat lebih dulu karena harus mengejar penerbangan ke China. Tapi dia memintaku untuk menyampaikan selamat kepadamu dan memberikan ini." Ia mengacungkan sekantong penuh tahu putih. "Ibuku bilang ini makanan wajib saat kau keluar dari penjara."
Byun Han tertawa, sementara Baekhyun mengambil satu potong tahu dan menyuapkannya kepada Ayahnya. Pria itu mengunyahnya pelan. "Kurasa Ibumu masih sangat sibuk bekerja, ya?"
Chanyeol mengangkat bahunya. "Yah, aku bisa apa. Dia memang suka bekerja."
"Ayah," panggil Baekhyun kemudian, sementara pria itu mengusap pipinya dengan lengan bajunya. "Bisakah kita pulang sekarang?"
Byun Han mengangguk. "Tentu. Ayo pulang!"
Baekhyun menautkan lengannya pada Ayahnya, tersenyum dengan wajah bengkak. Chanyeol menatapnya lembut. Sepertinya, sekarang semuanya akan benar baik-baik saja, pikirnya.
A/N: ALHAMDULILLAH YA ALLAH.
Iya, aku lagi sujud syukur.
Ini endingnya?
IYA HUHU INI ENDINGNYA.
Pertama-tama, aku mau bilang kalau aku nggak pernah menyelesaikan satu cerita pun. Tapi Accidentally You! adalah pengecualian. Ini satu-satunya cerita yang bener-bener aku tulis sampe tamat. Kenapa? Ya karena aku suka nulis dan selalu dapet dorongan dan energi positif dari kalian.
Endingnya cerita ini agak dipaksain, aku tau. Tapi aku berharap tetap bisa memuaskan kalian. Antisipasi kalo belum puas? Tenang, aku post side story bersamaan dengan chapter ini. Dan side storynya dijamin lucu (maksa) HAHAHAHAH maaf.
Terima kasih yang selalu mantengin, nungguin, memberikan semua komen positif dan kritik membangun. Aku mau nangis. I love you guys waaaay to much that's why it's kinda hard to move on from this story.
Aku kadang nggak tau lagi gimana caranya harus berterima kasih sama kalian-kalian yang udah nyempatin diri buat baca. Untuk pertama kalinya, aku ngerasa tulisanku dihargai dan itu semua karena kalian /sobs/
TERIMA KASIH KARENA SUDAH SETIA MENGIKUTI ACCIDENTALLY YOU! SAMPAI BERJUMPA DI SERIES BERIKUTNYA!;)
