Disclaimer : Tite Kubo

Rate : T

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Family

Pair : Ichigo Kurosaki x Orihime Inoue

(IchiHime)

~ Heart and Soul ~

WARNING : TYPO'S, NO BAKU, CANON, OOC TINGKAT AKUT, OC, EYD BERANTAKAN, ALUR CEPAT, RE-MAKE DARI SOUL OF LOVE, DLL

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X

"Getsuga Tensho!" Teriak Ichigo menebas puluhan Hollow tingkat Adjuchas.

Belakangan ini banyak Adjuchas bahkan Menos Grande datang ke tengah kota bukan hanya di Karakura saja para Hollow sering muncul di berbagai tempat secara bersamaan membuat para Shinigami yang tengah bertugas sedikit kewalahan.

Kali ini Ichigo Kurosaki turun ke lapangan membantu para Shinigami muda yang baru bertugas di dunia manusia, memang tak di ragukan lagi kemampuan dari pemuda bersurai orange ini, pahlawan serta Shinigami terkuat karena mampu mengalahkan Yhawch sang Raja Quincy dan memenangkan perang besar.

Berkat jasa serta kekuatannya dasyat yang dimiliki Ichigo membuat banyak Shinigami wanita diam-diam mengagumi bahkan jatuh hati pada sosok pemiliki iris madu itu namun sayangnya tak ada satu pun dari mereka bisa membuat hatinya bergetar atau merasakan debaran aneh di jantungnya mengingat kini hanya ada satu nama yang sudah mengisi relung hatinya.

"Terima kasih, Ichigo-Senpai," seorang Shinigami muda bersurai cokelat pendek berlari menghampiri dan dibelakangnya dua orang Shinigami wanita mengikuti.

"Sama-sama," sahut Ichigo datar.

Wajah para Shinigami wanita berbinar senang bahkan bisa Ichigo lihat rona merah menghiasi kedua pipi mereka namuan ia bersikap cuek atau bahkan terkesan dingin, "Jika musuh yang kalian hadapi sulit kalian bisa meminta tolong dan jangan bertindak gegabah," ujarnya seraya pergi meninggalkan ketiga Shinigami muda tersebut karena harus bergegas pergi ke kampus.

Setelah lulus SMA dan perang besar melawan Quincy yang sudah membuat banyak korban berjatuhan bahkan mereka harus kehilangan Nemu Kurotsuchi, Juushiro Ukitake, Ketua Komandan Yamamoto Genryusai bahkan sang raja roh dalam perang waktu itu namun sekarang keadaan sudah damai walau Soul Soceity harus berjuang keras membangun kembali kota yang sudah hancur porak-poranda.

Dan usai perang juga kelulusan SMA Ichigo melanjutkan sekolahnya ke universitas karena bercita-cita ingin menjadi seorang dokter agar bisa menolong banyak orang selain seperti sang ayah, Isshin Kurosaki.

Sudah banyak hal terjadi setelah perang besar waktu itu, semua teman-temannya memilih jalan masing-masing. Chad tidak melanjutkan sekolahnya ke universitas dan memutuskan menjadi seorang pentinju profesional mengejar cita-cita sekaligus menyalurkan kekuatan serta bakat besarnya. Ishida sendiri pergi kuliah di luar negeri dan fokus dengan pendidikan untuk menjadi seorang dokter ahli bedah.

Langkah kaki Ichigo terhenti di sebuah halte bus, baru juga ia duduk tak lama sebuah mobil berwarna merah berhenti tepat di depannya dan ketika kaca mobil terbuka seorang gadis cantik bersurai kuning pendek sebahu bermata hijau tersenyum lembut seraya menyapa.

"Naomi?!" seru Ichigo.

"Apa kau pergi ke kampus bersama, Ichigo-kun," ajaknya.

Sesaat Ichigo berpikir sebentar namun melihat hari hampir siang tak ada salahnya menerima tawaran teman satu kampus dan kelasnya ini, "Baiklah, jika tidak merepotkanmu,"

Naomi tersenyum senang, "Tidak. Masuklah," Naomi membukakan pintu mobil untuk Ichigo.

"Terima kasih," ucap Ichigo seraya duduk disamping Naomi, tak lupa ia memakai sabuk pengaman.

Diam-diam iris hijaunya melirik ke arah Ichigo dengan semburat merah menghiasi kedua pipinya dan selama di perjalanan menuju kampus Naomi terus mengajak mengobrol Ichigo walau pemuda bermata madu ini terkadang menjawab dengan singkat tapi baginya bisa duduk dekat dengan Ichigo juga mengobrol adalah suatu kebahagian tersendiri untuknya.

Walau dimata sebagian teman-teman perempuannya sosok Ichigo tidak terlalu menarik namun dirinya tahu sosok Ichigo lain dengan balutan Hakama hitamnya menggenggam kuat pedang panjangnya, walau ia tidak memiliki kekuatan roh seperti Ichigo namun dirinya bisa melihat sosok para roh juga merasakan kehadiran mereka.

Naomi bertemu dengan pemuda bermata itu ketika saat diserang oleh sekelompok roh jahat atau biasanya di sebut sebagai Hollow oleh Ichigo. Sosoknya waktu itu terlihat gagah, tampan juga kuata dan itu dibuktikan hanya dengan sekali serangan gerombolan Hollow hancur menjadi serpihan debu dan masih teringat senyuman lembut diwajah Ichigo yang ditujukan padanya dan mulai saat itu dirinya jatuh hati pada pemuda bermarga Kurosaki tersebut.

Di kampus Ichigo tak banyak memiliki teman itu pun kebanyakan adalah teman-teman sekolah SMAnya dulu seperti Mizuho, Keigo, Tatsuki namun hubungannya dengan gadis bersurai hitam panjang itu renggang karena kepergian Orihime mungkin sampai saat ini Tatsuki masih marah serta membencinya karena kejadian itu.

Ichigo masih mengingat jelas kejadian setengah tahun lalu dimana Tatstuki mendatangi dirinya yang tengah bersantai di atas atap dengan ekspresi wajah marah, kedua mata sembab tanpa berkata apa-apa padanya ia langsung memukulnya hingga jatuh tersungkur.

"Brengsek kau Ichigo!" maki Tatsuki.

"Kenapa kau memukulku?" tanya Ichigo bingung dengan sikap Tatsuki.

"Lihat itu!" Tatsuki melempar sebuah test pack yang sudah dipakai.

Iris madu Ichigo bisa melihat jelas dua garis merah di benda putih panjang yang dilemparkan Tatsuki padanya, perasaannya bercampur bingung dan aneh, "I-ini?"

"Aku menemukannya di apartemen Orihime," Tatsuki mencengkeram kuat kerah seragam Ichigo.

Kedua iris madu milik Ichigo melebar sempurna, "Kau pernah menodai Orihime dan itu pasti anakmu, Ichigo," bentak Tatsuki.

Ichigo diam seribu bahasa tak bisa berkata apa-apa karena memang dirinya pernah meniduri gadis bermata abu-abu itu tapi tak pernah menyangka kalau benih yang ditanamkannya secara tak sengaja membuat Orihime mengandung anaknya.

Tatsuki terus memukulinya habis-habisan, Ichigo tak membalas perbuatan teman kecilnya itu dan menerimanya dengan perasaan lapang karena memang ia merasa pantas menerimanya. Tapi perbuatan gadis bersurai hitam panjang itu langsung dihentikan oleh Keigo serta Mizuho saat melihat keadaan Ichigo sudah babak belur dengan luka lebam diwajahnya tapi raut wajah pemuda bersurai orange itu tak terlihat kesakitan malah diam dengan sorot mata penuh rasa bersalah entah apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka dua.

"Lepaskan aku, jangan menghalangiku menghajar si brengsek itu," Tatsuki berusaha lepas dari cengkeraman Keigo dan Mizuho tapi kalah kuat, biar keduanya terlihat lemah namun kekuatan mereka cukup kuat menahan Tatsuki agar tak mengamuk sekalipun gadis cantik itu adalah atlet nasional Judo.

"Apa yang sebenarnya terjadi Ichigo?" tanya Keigo heran.

"Maaf, aku tak bisa berkata apapun pada kalian," jawabnya seraya melenggang pergi meninggalkan Tatsuki juga kedua temannya.

Ichigo berjalan dengan wajah tertunduk lesu saat ini perasaannya tengah kacau balau.

Syok. Kaget. Bingung sekaligus merasa bersalah itulah gambaran perasaan hati Ichigo saat tahu dirinyalah ayah dari bayi yang dikandung Orihime sekaligus penyebab kepergiannya tapi mengapa gadis bersurai orange kecokelatan itu pergi begitu saja tanpa memberitahukan mengenai kehamilannya apa Orihime mengira kalau ia tidak akan bertanggung jawab dengan menikahinya karena statsus mereka yang masih pelajar. Dirinya bukanlah pria brengsek tak bertanggung jawab, jika saja waktu itu Orihime datang dan mengatakan mengenai kondisinya pasti kini mereka sudah menikah dan Tatsuki tidak akan marah bahkan tak mau berbicara padanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sudah setengah tahun berlalu semenjak Orihime pergi meninggalkan Karakura dan menjalani kehidupannya di Okinawa. Wanita cantik bersurai oranye kecokelatan ini masih ingat jelas saat pertama kali menginjakkan kakinya di sini, tak ada seorang-pun yang dikenal atau sanak saudara yang dimilikinya di kota ini ia datang dengan bermodal nekat dan tekat yang kuat untuk memulai kehidupan barunya bersama sang anak.

Dengan tabungan miliknya hasil bekerja part time juga uang peninggalan mendiang sang kakak, Sora Inoue untuk biaya kuliahnya, Orihime menyewa sebuah apartement kecil ditengah kota dan untuk membiayai kehidupannya ia melamar pekerjaan keberbagai tempat namun karena hanya lulusan SMP membuatnya kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan.

"Maafkan kami karena saat ini, kedai kami tidak sedang membutuhkan pegawai." Ucap seorang wanita tua dengan sopan.

Orihime hanya bisa membungkukkan tubuh lalu pergi setelah mengucapkan terima kasih dan ini sudah ke enam kalinya ia ditolak melamar bekerja dan ia merasa mulai putus asa karena semua tempat yang didatangi menolaknya karena hanya lulusan SMP, andai saja ia mau bersabar menunggu hari kelulusan pasti saat ini dirinya memiliki ijasah SMA-nya dan bisa bekerja disalah satu kedai atau cafe di kota ini.

Akan tetapi jika tak segera pergi ia takut pemuda bersurai orange itu akan mengetahui kehamilannya karena semakin hari janin di dalam rahimnya terus tumbuh dan berkembang. Dirinya memilih pergi tanpa mengatakan mengenai kehamilannya karena ia yakin dan percaya kalau pemuda bermata madu itu pasti akan bertanggung jawab atas perbuatannya dengan menikahinya sekalipun tidak mencintai dirinya dan Orihime tidak pernah mengharapkan pernikahan seperti itu karena sebuah pernikahan adalah membentuk sebuah keluarga dengan dilandasi perasaan saling mencintai dan menyangi satu sama lain bukan keterpaksaan terlebih rasa bersalah.

Dielusnya lembut perut datarnya, "Maafkan ibu, karena mengajakmu berjalan-jalan seharian," lirihnya.

Wanita cantik bermata abu-abu ini duduk disebuah taman kota untuk beristirahat sejenak setelah berjalan-jalan kemana-mana mencari pekerjaan walau harus menelan kekecewaan karena semua tempat yang didatangi menolaknya.

"Haah~~" helanya seraya mengelap keringat diwajah yang menetes, rasa pegal mulai terasa di kedua kakinya karena terus berjalan mendatangi setiap restaurant, minimarket, kedai, cafe dan tempat-tempat yang mungkin bisa memberinya pekerjaan.

Sudah lebih dari lima jam Orihime berjalan kaki mencari pekerjaan akan tetapi hasilnya nihil. Orihime bisa saja tidak merasa kelelahan dan kakinya tidak pegal juga sakit jika menaiki bus atau kereta, namun gadis cantik bermata abu-abu ini harus menekan seminim mungkin pengeluarannya mengingat setiap minggu angka dibuku tabungan terus berkurang bukannya bertambah.

Perut Orihime berbunyi keras, dirinya baru ingat kalau ini sudah waktunya jam makan siang.

"Maafkan ibu karena tidak mempedulikanmu, kau pasti lapar." Orihime mengelus lembut perutnya kembali menyalurkan perasaan sayang pada janin didalam kandungannya.

Orihime membuka bento buatannya, "Selamat makan."

Orihime merasa sedih karena tidak bisa memberikan makanan penuh gizi pada sang buah hati yang masih didalam kandungan. Ingin rasanya Orihime memakan banyak makanan yang sehat penuh gizi juga berprotein tinggi tapi apa daya untuk saat ini dirinya belum mampu memberikannya.

Diusapnya cepat air mata dipipinya dengan salah satu tangan, Orihime menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya dengan cepat, "A-aku ti-tidak boleh seperti ini." Ucapnya pada diri sendiri.

Dipegang lembut perutnya yang masih datar namun bisa ia rasakan sebuah kehidupan kecil didalam rahimnya yang setiap hari terus tumbuh dan berkembang, demi sang buah hati dirinya harus menjadi wanita yang kuat dan tegar, agar kelak ketika anaknya lahir ia bisa melindungi, menjaga juga memberikannya kehidupan yang lebih baik dari saat ini.

Setelah selesai makan siang Orihime melanjutkan kembali mencari pekerjaan hingga matahari terbenam namun untuk hari ini lagi-lagi Orihime tidak mendapatkan pekerjaan dan setitik rasa putus asa hinggap dihati, Orihime merasa sangsi apakah bisa mendapatkan pekerjaan dengan ijasah SMP miliknya.

Orihime memutuskan untuk kembali pulang kerumah dengan berjalan kaki lagi, walaupun merasa kedua kakinya sakit juga pegal.

Hampir satu jam berjalan kaki Orihime tiba di apartemen kecil serta kumuhnya, ketika masuk rumah Orihime langsung menghempaskan diri ke atas kasur, seluruh tubuhnya terasa pegal juga lengket berkeringat terkena sinar matahari.

Orihime melirik kesamping melihat jam dan ternyata sudah pukul tujuh malam pantas saja perutnya terasa lapar bahkan perih, walau malas untuk memasak tapi perutnya harus di isi makanan mengingat ada kehidupan lain di tubuhnya saat ini.

Orihime bangun dari posisinya lalu berjalan ke arah kamar mandi seraya menarik handuk yang tergantung didekat pintu, setelah mandi ia menyiapkan makan malam dan saat membuka kulkas dirinya hanya menemukan sebutir telur, susu kotak juga daun bawang. Orihime mendesah cepat melihat keadaan kulkasnya dan baru ingat kalau persediaan bahan makanan sudah habis dan sepertinya besok ia harus pergi ke supermarket.

Karena hanya ada telur, susu juga daun bawang hal hasil Orihime mencampurkan semuanya menjadi satu entah rasanya seperti apa mengingat gadis cantik ini memiliki selera aneh juga unik dalam hal rasa makanan karena selalu menambahkan tambahan atau bumbu tak lazim kedalam masakannya, seperti malam ini.

"Selamat makan." Ucap Orihime seraya menyantap makanannya.

"Uhm...enak walaupun rasanya agak sedikit aneh." Gumamnya seraya terus mengunyah.

Semoga saja janin didalam kandungan Orihime tidak apa-ap. Setelah usai makan malam Orihime mencuci piring dan kembali kedalam kamar untuk berisirahat karena semenjak mengandung ia selalu tidur cepat walaupun terkadang akan terbangun ditengah malam karena merasa lapar.

Direbahkan tubuhnya dengan posisi terlentang menatap langit-langit kamar yang didominasi warna putih juga sebuah lampu yang menjadi penerang kamar, "Kurosaki-kun," gumamnya dengan nada penuh kerinduan.

Orihime memejamkan kedua matanya membayangkan wajah pemuda bersurai orange itu, sang pahlawan Soul Society sekaligus Shinigami terkuat.

Diletakkan tangan kanannya keatas perut lalu mengusapnya dari atas kebawah secara bergantian menyalurkan perasaan sayang dan itu dilakukan hampir satu menit. Sudah hampir satu bulan Orihime tiba di sini tapi belum juga menemukan pekerjaan, semua tempat sudah ia datangi tapi semuanya menolak hanya karena ijasahnya bukan melihat kemampuan juga keterampilannya. Sempat terbesit didalam hati untuk kembali ke kota Karakura dan menceritakan yang sebenarnya pada Ichigo juga teman-temannya, tapi semua itu tidak dilakukannya karena bagaimana-pun Orihime tidak mau membuat Ichigo menderita terlebih merusak kebahagiannya bersama Rukia, gadis pujaan hatinya.

Baginya cinta itu tak bisa dipaksakan dan datang dari dalam hati karena Orihime menyadari dengan jelas kalau dihati Ichigo tak ada tempat untuknya.

Bulir-bulir air mata menetes membasahi pipi, padahal Orihime sudah berusaha untuk tidak menangis namun usahanya gagal ditambah hormon kehamilan membuatnya mudah menangis dan terbawa suasana.

"Ma-maafkan i-ibu," isaknya tertahan.

Orihime mengusap cepat air matanya menggunakan punggung tangan tapi tetap saja air matanya mengalir deras karena semenjak hamil dirinya sangat cengeng dan mudah mengeluarkan air mata seperti saat ini, setelah makan malam Orihime meringkuk menangis didalam kamar hingga terlelap tidur lalu ke esokkan paginya ia menemukan kedua matanya bengkak, sembab dengan penampilan seperti ini dirinya agak ragu untuk mencari pekerjaan tapi jika bermalas-malasan dirumah tak mungkin pekerjaan yang akan menghampirinya.

Sepertinya hari ini Tuhan tengah berbaik hati, Orihime diterima bekerja di sebuah kedai makanan miliki sepasang suami istri paruh baya dan ia di ijinkan untuk tinggal di rumah mereka mengingat kedai serta rumah mereka menjadi satu.

"Terima kasih atas kebaikan hati paman dan bibi," Orihime membungkuk memberi hormat.

Orihime merasa sangat tertolong dan berterima kasih karena mereka berdua mau menerimanya bekerja dan uang dari hasil bekerja di kedai cukup untuk membiayai kebutuhannya juga persiapan melahirkan sang anak.

"Sepertinya ibu bisa beli banyak buah, susu juga daging untukmu." Orihime menundukkan wajah tersenyum lembut melihat perutnya yang masih datar.

Dan tak terasa setengah tahun berlalu kini usia kandungan Orihime sudah memasuki bulan ke 7 atau perhitungan dokter 28 minggu, ia sudah tak merasa sabar ingin melihat bayi laki-lakinya ini lahir ke dunia karena hasil USG menunjukkan kalau bayinya berjenis kelamin laki-laki namun apapun jenis kelamin sang anak dirinya berharap sang anak lahir dengan selamat tanpa kekurangan satupun.

Setelah selesai memeriksakan kandungannya, Orihime tak langsung pulang kerumah karena ia ingin membeli buah-buahan serta persedian kulkas di rumah sudah habis. Dengan menaiki bus Orihime pergi ke supermarket yang letaknya tak jauh dari rumah sakit walau jalannya saat ini sedikit tertatih-tatih karena perutnya semakin besar namun hal itu tak menyurutkan niatnya untuk berbelanja meskipun saat ini di dalam super market sedang dipenuhi banyak orang karena sedang ada diskon besar-besaran.

Orihime mengambil troly dan mendorongnya, tempat pertama yang di tujunya adalah stand buah-buahan karena ia merasa tertarik melihat warna-warni dari buah-buahan yang menurutnya sangat menggoda, saat sedang asik memilih buah-buahan segar tak jauh dari tempatnya berdiri seorang pemuda dalam balutan Hakama hitam, berparas tampan dengan mata madu serta bersurai orange berdiri mematung menatapnya dengan ekspresi wajah syok, kaget bercampur senang terlebih ketika iris madunya beralih ke perut buncitnya ada sebuah kebahagian tersendiri dan kelegaan karena ternyata Orihime tak menggugurkan kandungannya.

"Orihime." Lirihnya.

Merasa ada yang memanggil Orihime menoleh kebelakang namun ia tak melihat ada orang yang memanggilnya, "Mungkin hanya perasaanku saja," gumamnya dan kembali memilih buah.

Andai Orihime masih memiliki kekuatan roh mungkin ia bisa melihat sosok pemuda bermata madu itu ekspresi wajah Orihime pasti akan sama seperti pemuda tersebut, kaget sekaligus syok.

Sesekali Orihime mengelus lembut perutnya menyalurkan rasa kasih sayang pada sang buah hati, "Malam ini ibu akan membuat salad buah dengan mayones juga keju," ujar Orihime dengan wajah sumeringah.

Selera makan Orihime yang suka mencampurkan bahan makanan aneh ke dalam masakan ternyata belum hilang bahkan semenjak hamil malah semakin ekstrem untung saja bayi didalam kandunganya baik-baik saja serta tumbuh dengan sehat.

Dua kantong belanjaan putih besar di pegangnya kuat-kuat di kanan serta kiri Orihime, "Beratnya," keluh Orihime seraya keluar dari super market dan sosok pemuda bermata madu itu masih setia berdiri dibelakang mengikuti.

Pemuda bermata madu itu ingin sekali membantu membawakan belanjaan Orihime terlebih keadaannya tengah hamil besar, andai saja saat ini dirinya sedang tak bertugas dan dalam wujud Shinigami yang berupa roh pasti dengan sigap ia membantu dan tak membiarkan Orihime kesulitan seperti itu.

"Ichigo," panggil seorang wanita bersurai hitam pendek yang sama-sama mengenakan Hakama hitam ciri khas dari Shinigami.

Pemuda yang dipanggil namanya itu hanya diam tak menyahuti panggilan dari gadis cantik itu dan kedua mata madunya masih memandangi sosok Orihime yang pergi menjauh keluar dari super market hingga kepalanya di pukul oleh seorang pria bersurai merah.

"Matamu kemana, Ichigo. Dari tadi Rukia memanggil kau tak menengok," omel Renji.

"Ma-maaf..." sahut Ichigo pelan.

Renji menatap ke depan melihat apa yang tengah dilihat temannya itu hingga tak meladeni panggilan dari Ruki, "Apa ada gadis cantik dan sexy yang kau lihat," celetuk Renji yang membuat wajah Rukia berubah kesal.

"Jangan bercanda di saat seperti ini, kita harus mencari pecahan roh Yhawch," Rukia berteriak kesal di depan sang suami seraya berkacak pinggang.

Renji tersenyum kiku melihat ekspresi wajah Rukia yang marah, "Ba-baiklah," sahutnya takut.

"Maaf ada hal penting yang harus aku lakukan saat ini," setelahnya Ichigo pergi menghilang menggunakan jurus Shunpo mengejar Orihime yang sudah naik bus.

Renji mendesah kesal sedangkan Rukia memandang aneh sekaligus bingung Ichigo yang gelagatnya sedikit aneh hari ini dan tak seperti biasa, "Biarkan saja dia Renji, kita cari saja berdua," ujar Rukia.

.

.

.

.

.

.

Nyut~

Kepala Orihime terasa berdenyut-denyut bahkan terasa sakit. Tak hanya kepalanya saja yang terasa sakit tubuhnya pun belakangan ini terasa lemas tak bertenaga serasa sang anak menghisap tenaganya namun apa yang dialami Orihime terjadi seminggu belakangan ini semenjak usia kanduangannya memasuki tujuh bulan.

"Orihime-chan, kau tak apa?" tanya seorang pemuda bersurai hitam dengan raut wajah cemas bercampur khawatir.

Orihime berusaha tersenyum, "Aku tak apa Kenzo-kun," jawab Orihime berusaha bersikap bai-baik saja padahal saat ini tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.

"Wajahmu terlihat pucat sekali, duduklah sejenak jangan memaksakan diri bekerja. Aku akan meminta paman serta bibi untuk menyuruhmu beristirahat,"

Tangan Orihime mencengkeram lengan pemuda itu, "Ja-jangan! A-aku tak apa," cegah Orihime.

Kenzo memandang cemas Orihime, "Tapi..."

"Percayalah Kenzo-kun," Orihime meyakinkan temannya itu.

Kenzo menghela nafas dan menyerah dengan sikap keras kepala Orihime, "Baiklah tapi jika kau merasa lelah dan sakit beristirahatlah. Ingat saat ini kau tengah mengandung, pikirkan juga keadaan anakmu," omel Kenzo yang merasa cemas.

"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku,"

"Tentu saja karena kau temanku yang berharga," Kenzo mengusap puncak kepala Orihime lembut.

Orihime memutuskan untuk istirahat sejenak dengan menyendarkan tubuh di dekat dapur, memang benar apa yang dikatakan Kenzo kalau keadaannya saat ini sedang tidak baik padahal ia sudah memeriksakan diri ke rumah sakit tapi dokter mengatakan kalau dirinya baik-baik saja tak ada penyakit aneh dan berbahaya ditubuhnya.

Setelah merasa baikan, Orihime melanjutkan kembali pekerjaannya. Seperti hari-hari biasanya kedai ramai didatangi para pengunjung menikmati makanan tradisional disini. Orihime bekerja sebagai pelayan kedai yang mengantarkan makanan bersama dengan dua orang temannya, Kenzo dan Ayame melayani para pengunjung. Namun sepertinya hari ini kedai tempatnya bekerja kedatangan tamu istimewa yang tak di duga sama sekali.

Dengan tekat kuat serta bulat ia masuk kedalam kedai menemui Orihime, "Aku pasti bisa," ujar pemuda tampan ini seraya masuk kedalam kedai.

Dan sepertinya Tuhan sedang berbaik hati karena Orihimelah yang menyambut kedatangannya bukan Ayame maupun Kenzo seperti biasanya.

Iris abu-abu milik Orihime melebar sempurna melihat sosok pemuda bermata madu dan bersurai orange itu yang selama setengah tahun ini berusaha dilupakannya, "Ku-Kurosaki-kun..." ucapnya tak percaya.

"Halo, Orihime." Sapa Ichigo santai dengan wajah tersenyum lembut.

~(-_-)~

Suasana di ruangan ini terasa sangat canggung mengingat hanya ada Orihime serta Ichigo disini, paman pemilik kedai sengaja meminta keduanya berbicara empat mata menyelesaikan masalah mereka karena bagaimanapun pemuda bermata madu itu bukanlah orang lain untuk Orihime dan meminta orang lain untuk tidak menggangu apalagi ikut campur dalam masalah ini.

Orihime berkali-kali menghela nafas pelan berhadapan dengan Ichigo, karena sejak tadi iris madu milik pemuda itu terus memandangi penuh arti pada perut buncitnya yang kini tertutup Yukata dengan celemek putih berenda yan dikenakannya.

Untuk beberapa saat baik Orihime dan Ichigo keduanya sama-sama diam menutup rapat mulut mereka masing-masing. Keduanya terlihat canggung, malu sekaligus bingung harus berkata apa, Ichigo diam seribu bahasa bahkan lidahnya terasa kelu tak bisa berkata sepatah kata-pun. Padahal sebelum pergi menemui Orihime, pemuda bersurai orange ini sudah mempersiapkan diri serta hatinya dengan menanyakan banyak hal pada Orihime, namun semua rancangan juga persiapannya hilang seketika saat bertemu pandang dengan wanita bersurai orange kecokelatan itu.

Menurut Ichigo lebih mudah melawan gerombolan Menos Grande atau Espada, Quincy dari pada harus berbicara pada wanita bermata abu-abu itu terlebih ia sudah membuatnya menderita juga tak peka dengan keadaannya saat itu. Namun jika terus diam seperti ini masalah tak akan selesai bukankah dari awal niatan Ichigo datang kesini untuk menemui Orihime dan mengajaknya pulang ke Karakura lalu menikahinya.

Tangan lebar Ichigo dengan sedikit gemetar serta ragu menyentuh perut buncit Orihime lalu mengelusnya pelan. Tubuh Orihime menegang kaku bahkan kedua pipinya merona merah saat telapak tangan besar milik Ichigo mengelus lembut perutnya.

"Sudah berapa bulan, Orihime?" tanyanya tak melepaskan pandangan dari perut buncit Orihime.

"Tu-tujuh bulan," jawab Orihime gugup.

Ichigo tersenyum senang karena ternyata sebentar lagi anaknya akan lahir, "Maafkan aku karena sudah membuatmu susah dan menderita," ucap Ichigo penuh sesal dan rasa bersalah.

Orihime menatap sendu wajah Ichigo bisa ia lihat wajah Ichigo terlihat sedih bercampur rasa bersalah mendalam padanya sebuah ekspresi yang tak pernah ingin dilihatnya karena menyayat hati, "Aku mohon padamu Orihime biarkan aku menebus dosa dan kesalahanku padamu. Ijinkan aku bertanggung jawab dan merawat anak ini bersamamu," Ichigo menggenggam erat kedua tangan Orihime.

Jantung Orihime serasa mau copot mendengar permintaan Ichigo namun rasa terkejutnya berubah menjadi sedih tak kala mengingat kalau ada gadis lain di hati pemuda bermata madu tersebut dan itu bukanlah dirinya.

Orihime melepaskan pelan genggaman tangan Ichigo, "Ma-maafkan aku Kurosaki-kun, a-aku..." ucapnya terbata dengan kedua mata berkaca-kaca.

"Kenapa Orihime? Mengapa kau tak memberika kesempatan untuk menebus kesalahanku, apa kau mau menghukum ku dengan perasaan penyesalan seumur hidup,"

Orihime diam seribu bahasa. Ia menggigit bibir bawahnya menahan isak tangisnya agar tak keluar namun sayang air mata sudah mengalir deras membasahi pipi tembabnya, "Apa salah jika aku ingin menikahi wanita yang ku cintai terlebih kini ia tengah mengandung anakku, darah dagingku," ucap Ichigo dengan nada penuh kelembutan serta rasa cinta seraya menghapus jejak air mata di pipi Orihime.

Liquid bening semakin mengalir deras mendengar ucapan cinta serta sayang yang dilontarkan Ichigo padanya sekalipun pemuda itu berbohong namun hatinya luar biasa senang.

Ichigo memegangi kedua pipi Orihime lalu tersenyum lembut menatap penuh cinta pada Orihime, "Sejak dulu hingga saat ini aku hanya mencintai satu gadis dan jika berpikir aku memiliki perasaan khusus pada Rukia kau salah besar karena..." Ichigo menggantungkan ucapannya sejenak seraya tertawa kecil menatap ekspersi wajah Orihime yang kaget bercampur rasa penasaran.

"Aku hanya mencintai Orihime Inoue seorang dan selama-lamanya," sambung Ichigo membuat hati Orihime membucah senang karena ternyata selama ini cintanya tak bertepuk sebelah tangan.

"Hiiiksh..." isak Orihime dengan perasaan senang sekaligus haru.

"Jadi bersediakah kau menikah denganku dan menjadi istri serta ibu dari anakku," tanya Ichigo lembut.

"I-iya..." angguk Orihime.

Ichigo langsung mencium singkat bibir Orihime, "Terima kasih. Aku pasti akan membahagiakanmu dan anak kita," diusapnya lembut perut bunci Orihime.

Dan tak hanya Orihime saja yang merasa senang diam-diam dari luar teman-teman Orihime sekaligus pemilik kedai ini ikut merasa gembira mendengarnya namun kegembiraan mereka berdua tak berlangsung lama karena tiba-tiba Orihime jatuh pingsan.

"Orihime!" teriak Ichigo panik.

Ichigo langsung meraih tubuh Orihime dan bisa ia rasakan kalau roh Orihime melemah seperti sesuatu tengah menghisapnya, "Paman, bibi aku harus segera membawa Orihime pergi sebelum terlambat," ujar Ichigo panik.

"Kemana?" tanya Kenzo tak kalah paniknya.

"Aku akan membawanya ke tempat Urahara," jawab Ichigo dan setelahnya ia sudah berlari cepat menggendong tubuh Orihime.

Ichigo mencari tempat sepi untuk merubah dirinya menjadi Shinigami dan melewati gerbang Senkaimon untuk cepat sampai ke kediaman Urahara. Saat Ichigo datang membawa Orihime yang tengah pingsan membuat semua orang kaget bercampur syok melihat perut wanita bersurai orange kecokelatan itu yang membesar.

"Ada apa ini Ichigo?" tanya Urahara bingung.

"Aku mohon selamatkan Orihime dan bayinya," pinta Ichigo dengan wajah memohon.

"Kalau begitu baringkan ia di sini,"

Ichigo langsung membaringkan Orihime di atas futon yang sudah di sediakan tanpa membuang waktu Urahar langsung memeriksa keadaan Orihime. Semua orang terlihat cemas bercampur bingung dan ingin menanyakan mengenai Orihime tapi melihat wajah Ichigo yang panik

Ichigo duduk disamping Orihime seraya mengenggam tangannya erat, "Orihime,"

Keisuke menatap tak percaya ke arah perut Orihime yang membuncit dan baru menyadari keadaanya, "Apa Orihime sedang hamil,"

"Ya dan itu adalah anakku," ungkap Ichigo membuat semua orang kaget dan syok luar biasa.

"Kapan kau membuatnya?" celetuk Renji.

"Waktu acara pesta perayaan di rumah Urahara," jelas Ichigo tanpa mengalihkan pandangan matanya dari sosok Orihime.

Rukia dan Yoroichi menganguk-anggukkan kepala seperti mengerti dan memahami. Sementara kedua wanita itu sibuk dengan pemikirannya masing-masing Urahara terlihat fokus menatap serius ke arah Orihime lebih tepatnya ke perut Orihime.

"Hawa roh dari anakmu luar biasa kuat pantas saja keadaan Orihime saat ini mengkhwatirkan,"

"Maksudmu?" Ichigo menatap serius Urahara.

"Anak di dalam kandungan Orihime tak hanya mengeluarkan hawa roh yang besar namun perlahan-lahan menghisap jiwa atau roh milik sang ibu dan jika terus dibiarkan Orihime akan mati mengingat kini Orihime sudah tak memiliki kekuatan roh dan hanya wanita biasa sedangkan anak didalam kandungannya adalah anakmu yang merupakan setengah Shinigami, Quincy serta Hollow," jelas Urahara panjang lebar membuat Ichigo kaget sekaligus takut.

"Apa karena bayi yang dikandung Orihime anak si bodoh itu sehingga membuat keadaanya gawat seperti ini,"

"Karena darah Hollow mengalir di dalam tubuh bayi yang dikandung Orihime dan agar bisa tetap hidup serta berkembang tanpa sadar menghisap jiwa sang ibu perlahan-lahan jika hal itu dibiarkan Orihime bisa tewas sebelum atau saat melahirkan," kata Urahara menjelaskan alasan mengapa bayi didalam kandungan Orihime bisa membuatnya terbunuh.

"Apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkannya?" tanya Ichigo panik.

"Menggugurkan kandungannya yang artinya membunuh bayi itu atau membiarkan bayi itu namun nyawa Orihime sebagai taruhannya,"

Kedua iris madu Ichigo melebar sempurna karena ia harus memilih satu diantara mereka berdua yang sama-sama penting serta berharga untuknya dan sangat sulit untuk memutuskannya.

"Tak adakah cara lain, Keisuke?"

"Ada tapi kemungkinannya hanya lima puluh persen dan itu semua tergantung padamu, Ichigo,"

Wajah Ichigo terlihat sedikit lega mendengarnya karena ia tak harus mengorbankan salah satu diantara istri atau anaknya, "Apa itu Urahara?"

"Kau harus mau mengalirkan Reiatsu milikmu pada Orihime agar yang dihisap oleh anakmu,"

"Sebanyak apapun kekuatan roh yang harus aku berikan padanya aku siap asalkan mereka berdua selamat dan baik-baik saja," Ichigo menyanggupinya karena kini baginya mereka berdua adalah segalanya.

Yoroichi memandang penuh selidik pada sang suami, "Lalu dengan cara si bodoh ini menyalurkan kekuatan rohnya?"

"Tentu saja lewat mulut," jawab Keisuke santai seraya tersenyum.

Yoroichi memutar matanya bosan karena ternyata dugaannya tepat kalau ide sang suami tak jauh-jauh dari hal yang berbau mesum, "Kalau begitu kau bisa mempratekannya sekarang karena saat ini bayimu sedang menghisap jiwa Orihime," perintah Urahara dengan wajah tanpa dosa.

"Ekh...tapi..."

"Kau tak mau melihat Orihime mati kan," omel Yoroichi yang mendukung sang suami.

Ichigo menghela nafas berat, "Baiklah tapi jangan melihat ke arah sini," pinta Ichigo dengan wajah memerah.

Yoroichi berkacak pinggang menatap sebal Ichigo, "Kau sudah menghamilinya jadi jangan merona merah hanya karena menciumnya di depan kami,"

"I-itu masalah lain tapi ini..." Ichigo terlihat gugup sekaligus malu.

"Dasar payah," ledek Renji.

"Kau juga payah karena belum bisa membuat Rukia hamil atau kalian berdua belum melakukannya," ujar Yoroichi membela Ichigo.

Wajah Renji langsung cemberut mendengarnya, tak tahukan penderitaan serta perjuangannya untuk bisa meniduri sang istri yang notabennya adalah wanita tomboy, galak serta cuek dan jika sang istri berhasil di rayunya terkadang Byakuya datang mengganggu membuat malam-malamnya terasa sedikit suram padahal mereka berdua adalah pengantin baru.

Mereka semua memilih pergi meninggalkan ruang inap, setelah keadaan sepi Ichigo melakukan apa yang disarankan oleh pria bersurai kuning itu dengan perasaan gugup bercampur cemas Ichigo mencium bibir pucat Orihime seraya menyalurkan Reiatsu dengan berharap kalau sang anak menghisapnya.

"Ayah akan selalu melindungimu juga ibumu." Ujarnya seraya mencium dalam Orihime.

TBC

A/N : Terima kasih yang sudah memfavoritkan, follow dan memberikan Riviewnya. Untuk kelanjutannya sedang dalam pengerjaan.

Inoue mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang sudah mau membaca Fic ini dan jika berkenan Read and Riviewnya.

Inoue Sora