Disclaimer : Tite Kubo
Rate : T
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort, Friendship
Pair : Ichigo Kurosaki x Orihime Inoue
(IchiHime)
~ Heart and Soul ~
WARNING : TYPO'S, NO BAKU, CANON, OOC TINGKAT AKUT, OC, EYD BERANTAKAN, ALUR CEPAT, RE-MAKE DARI SOUL OF LOVE, DLL
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
X0X0X0X0X0X0X0X
Ichigo menghela nafas cepat mencoba menetralisir suara debaran jantungnya yang sejak tadi terus bedebar-debar karena perasaan takut juga gelisah yang melingkup di hati.
"Aku pasti bisa." Gumamnya meyakinkan diri sendiri.
Iris madunya menatap lurus ke depan mencoba meyakinkan hati serta diri kalau mampu mengatakan semuanya pada sang ayah. Sebenarnya saat mendatangi Orihime di Okinawa, pemuda tampan bermata madu ini belum mengatakan apapun pada sang ayah mengenai kondisi wanita bersurai orange kecokelatan itu karena merasa takut dan ragu untuk memberitahukannya.
Sebelum pulang kerumah dan menemui sang ayah, Ichigo berkonsultasi pada Urahara karena tak ada orang yang bisa diajaknya berdiskusi selain pria paruh baya bersurai kuning itu mengenai masalahnya. Dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk Ichigo membicarakan dan memberitahukan pada sang ayah tentang Orihime juga bayi didalam kandungannya karena tak mungkin terus merahasiakan hal ini pada keluarganya terlebih sang ayah karena mereka semua harus tahu.
Ichigo mengetuk pelan pintu kamar sang ayah dengan perasaan sedikit gusar.
"Apa ayah sudah tidur?" tanya Ichigo gugup dari luar kamar.
"Tidak. Masuklah, kamarnya tidak dikunci," sahut Isshin dari atas ranjangnya, saat ini ia tengah membaca sebuah buku tentang pengobatan.
Ichigo masuk kedalam kamar lalu berjalan menghampiri sang ayah yang dilihatnya tengan duduk santai menyandar diatas kasur dengan sebuah buku ditangan. Isshin tersenyum kecil melihat anak sulungnya itu.
"Apa terjadi sesuatu, Ichigo?" tanya Isshin ketika sang anak duduk disamping ranjang.
Iris madu milik Ichigo melebar sesaat karena sang ayah mengetahui suasana hatinya, "Begitulah. Ada yang ingin aku bicarakan padamu,"
Isshin menutup buku yang dibacanya lalu menatap sang anak, "Kalau begitu bicaralah, ayah akan mendengarkan,"
Ichigo diam sesaat dan memejamkan mata sejenak memantapkan hati dengan segala resiko yang akan diterimanya nanti, "A-yah," panggil Ichigo terbata.
"Ya," sahut Isshin menunggu kelanjutan ucapan sang anak.
"Aku meniduri Orihime dan kini ia mengandung ankkku," ucap Ichigo dengan menundukkan wajahnya dalam, malu menatap wajah sang ayah takut-takut kalau pria paruh baya bersurai hitam pendek itu marah juga kecewa padanya.
Kedua mata Isshin melebar sempurna mendengarnya dan cukup syok juga terkejut dengan pengakuan sang anak tapi sebagai orang tua yang baik dan bijaksana, tak adil jika menyalahkan atau memarahi Ichigo untuk menghakiminya, karena tahu dan percaya kalau sang anak adalah orang yang bertanggung jawab dengan semua perbuatannya.
"Sudah berapa bulan?" tanya Isshin antusias.
"Tu-tujuh bulan dan kini ia berada di kediaman Urahara," jawab Ichigo gugup.
"Kenapa kau tak membawanya pulang kerumah bukankah nantinya ia juga akan jadi bagian dari keluarga ini dan ternyata sebentar lagi aku akan menjadi kakek,"
Ichigo mendongakkan wajah menatap kaget sang ayah, awalnya ia mengira kalau sang ayah akanmarah atau bahkan memukulnya tapi ternyata ketakutan dihatinya salah dan tak terjadi.
"Ayah tak marah dan benci padaku?" tanya Ichigo sendu.
Isshin tersenyum kecil menatap sang anak, "Tidak, lagi pula kini kau sudah besar dan bisa mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu. Bawalah Orihime pulang karena bagaimanapun kini ia dan anak didalam kandungannya sudah menjadi tanggung jawabmu,"
"Terima kasih ayah. Aku bangga memiliki ayah sepertimu," ujar Ichigo penuh bangga serta haru.
"Bawa pulang menantu dan calon cucuku dengan selamat. Aku menunggu kedatangan mereka berdua," Isshin seraya mengacak-acak pelan rambut Ichigo.
"Baik." Sahut Ichigo.
Kini sosok Ichigo sudah besar terlebih sebentar lagi akan menjadi seorang ayah diusia yang terbilang masih muda, padahal Ichigo sendiri harus menyelesaikan pendidikannya di universitas lalu lulus menjadi seorang dokter seperti yang dicita-citakannya. Isshin merasa kalau baru kemarin dirinya menggendong tubuh Ichigo kecil lalu kini sang anak sudah tumbuh menjelma menjadi pemuda tangguh dan kuat bahkan akan menjadi seorang ayah, memberinya cucu.
Karena sudah mendapatkan restu dan ijin dari sang ayah, ke esok harinya setelah sarapan pagi Ichigo langsung datang ke kediaman Urahara menjemput dan membawa calon istri sekaligus ibu dari anaknya pulang ke rumah dan memperkenalkan pada sang ayah walaupun keduanya sudah saling mengenal namun kali ini keadaannya berbeda.
Ichigo memapah Orihime karena bagaimana pun keadaan wanita bersurai orange kecokelatan itu masih lemah dan sebenarnya Ichigo ingin menggendongnya masuk kedalam rumah tapi dengan keras wanita pemilik iris abu-abu itu menolaknya dan mengatakan dirinya bisa berjalan karena merasa sudah tak apa-apa walau kenyataannya saat berjalan langkah kaki Orihime masih sedikit tertatih dan tanpa diminta bahkan di larang sekalipun Ichigo tak peduli dan tetap membantu calon istrinya untuk berjalan karena tak mau terjadi apa-apa dengannya juga sang anak.
"Aku pulang," ucap Ichigo seraya masuk kerumah dengan menggandeng tangan Orihime.
"Selamat datang," sahut Yuzu dan Karin bersamaan.
Kedua adik kembar Ichigo berlarian kecil menyambut kedatangan sang kakak yang tak pernah mereka duga sama sekali akan membawa seorang tamu istimewa membuat keduanya kaget bercampur syok lebih tepatnya melihat ke arah perut Orihime yang membucit dan bisa dipastikan kalau itu bukan disebabkan karena kebanyakan makan atapun kembung melainkan ada kehidupan didalam sana tapi siapa yang sudah membuatnya.
Karin menatap tajam sang kakak dan penuh selidik, "Jangan bilang kalau kau..."
"Ya dan mana ayah?" tanya Ichigo santai tak mempedulikan raut wajah sang adik yang terlihat syok tak mempercayai pengakuannya barusan.
"Di kamar, aku akan memanggilkannya," jawab Yuzu seraya berlari ke kamar sang ayah.
Sementara itu Karin masih di posisinya, berdiri diam menatap sang kakak juga Orihime, "Astaga!" seru Karin tak percaya pada sang kakak bisa berbuat diluar kendali seperti itu dan bisa ia simpulkan sendiri mungkin karena alasan itulah Orihime pergi dari kota ini.
Ichigo membawa Orihime ke ruang tamu dan menuntunya untuk duduk diatas sofa panjang berbahan berwarna merah maruh.
"Duduklah disini, aku akan mengambilkan air untukmu," ucap Ichigo seraya membantu Orihime duduk diatas sofa tak lupa sebuah bantal kecil diletakkan dibelakang punggung agar lebih terasa nyaman.
"Te-terima kasih Kurosaki-kun,"
"Sama-sama dan jangan memanggilku Kurosaki lagi karena kau juga akan menjadi Kurosaki juga," kata Ichigo memberitahu.
Tanpa sadar kedua pipi Orihime merona merah dan ucapan dari pemuda bersurai orange itu terdengar seperti sebuah lamaran tak langsung, "I-iya..." sahut Orihime gugup.
Tak lama Ichigo pergi ke dapur mengambilkan air putih untuk Orihime, seorang pria paruh baya bersurai hitam yang merupakan kepala keluarga Kurosaki datang menghampiri, Orihime berusaha untuk bangun memberi salam namun Isshin menahannya dan meminta untuk tetap duduk di sofa.
"Se-selamat siang paman," sapa Orihime gugup.
Isshin tersenyum kecil melihat Orihime. Memang benar apa yang dikatakan Ichigo tadi malam kalau gadis bersurai orange kecokelatan itu memang tengah hamil besar dan sebentar lagi ia akan menjadi seorang kakek.
"Bagaimana kabarmu Orihime?" tanya Isshin mencoba membuka pembicaraan.
"B-baik paman," jawab Orihime terbata karena gugup sekaligus malu.
"Jangan memanggilku paman, panggil saja ayah karena kau juga bagian dari keluarga ini,"
"I-iya...A-ayah..." ucap Orihime susah payah mencoba memanggil Isshi dengan sebutan ayah sebuah hal yang tak pernah ia lakukan selama hidupnya karena sejak kecil dirinya tak pernah mengenal sama sekali kedua orang tuanya hanya ada sang kakak yang merawat serta menjaganya namun sudah tiada.
"Ayah?!" seru Ichigo ketika melihat sang ayah tengah duduk di ruang tamu bersama Orihime.
Ichigo duduk disamping Orihime seraya memberikan gelas berisikan air putih, "Minumlah kau pasti haus,"
"Te-terima kasih," Orihime langsung meminumnya.
Karena terus di pandangi Ichigo membuat Orihime sedikit salah tingkah, "Uhuk..." Orihime tersedak minumannya.
"Pelan-pelan, Orihime," ujarnya cemas seraya mengusap pelan punggung Orihime mencoba membantu.
"Ma-maaf..."
"Kau tak apa?"
"I-iya..."
Keduanya sedikit melupakan sosok Isshin yang duduk didepan mereka berdua tengah menonton adegan romantis keduanya secara gratis dan Isshin tak pernah menyangka kalau anaknya bisa bersikap penuh perhatian seperti itu.
"Ehem..." dehem Isshin membuat keduanya kaget dan sedikit salah tingkah.
Wajah Orihime menunduk dalam dengan rona merah menghiasi kedua pipinya karena sejak tadi melupakan keberadaan pria paruh baya itu.
"Ma-maaf..." cicit Orihime.
Isshin tersenyum, "Tak apa jangan kau pikirkan Orihime,"
Isshin menatap serius wajah Ichigo seraya mengambil sesuatu dibelakang tubuhnya, "Setelah kalian berdua mengisinya Ayah akan menyerahkannya ke catatan sipil, setelah anak kalian lahir Ayah akan membuat pesta pernikahan besar," ujar Isshin seraya memberikan selembar surat pada Ichigo.
"Me-menikah?" tanya Orihime bingung.
"Ya, karena tak mungkin kau membesarkan anak itu seorang diri dan Ichigo harus ikut bertanggung jawab,"
"Tapi Pa-Ayah aku..."
Isshin menatap serius wajah Orihime, "Pikirkanlah baik-baik Orihime, semuanya demi masa depan anak itu juga kebahagian kalian berdua,"
Orihime terdiam dan memikirkan perkataan Isshin yang memang ada benarnya kalau anaknya membutuhkan ayahnya dan ia tak boleh bersikap egois apalagi pemuda bersurai orange itu rela datang jauh-jauh mencari dan datang ke Okinawa untuk membawanya pulang ke Karakura bahkan dengan tegas mengatakan kalau sejak dulu mencintainya bukan Shinigami cantik bersurai hitam itu.
"Jadi, apa kau mau menikah dengan Ichigo dan menjadi bagian dari keluarga ini?" tanya Isshin memastikan.
Orihime memeluk perut buncitnya, "Jika Ayah tak keberatan memiliki menantu sepertiku,"
Isshin tersenyum senang, "Tentu saja tidak, aku malah merasa kau sedikit mirip dengan Masaki dan kalian berdua terlihat sangat cocok,"
"Terima kasih Ayah," ucap Orihime penuh haru.
Diam-diam kedua adik kembar Ichigo menguping dari jauh dan ikut merasa senang karena sang kakan akan menikah bahkan sebentar lagi mereka akan menjadi seorang bibi dan memiliki keponakan.
"Aku harap yang lahir perempuan dan pasti nanti sangat cantik, imut dan menggemaskan," ucap Yuzu antusias seraya berharap penuh kalau bayi yang dikandung calon kakak iparnya itu bayi perempuan karena dengan begitu ia bisa mendadani sang keponakan dengan baju-baju lucu.
Sedangkan Karin tidak peduli kalau keponakannya itu laki-laki atau perempuan asalkan lahir dengan selamat. Keduanya berencana ingin memberikan hadiah pernikahan untuk Orihime dan sang kakak karena bagaimana pun mereka harus ikut merayakan dan berbahagia dengan pernikahan keduanya walau tak ada upacara dan pesta pernikahan megah yang digelar karena kedaan Orihime yang tengah hamil besar.
Setelah berbicara panjang lebar dan mengisi surat pemberian sang ayah dengan berakhir Isshin menangis haru memeluk keduanya karena sudah resmi menikah walau baru secara hukum tak ada upacara pernikahan di Gereja dan pesta mewah tapi setelah pergi ke catatan sipil dan megurus surat ini keduanya resmi menjadi suami istri secara hukum.
"Aku ucapkan selamat datang di keluarga ini," ucap Isshin menyambutkan kedatangan sang menantu.
Setelah memberikan ucapan selamat Isshin langsung pergi ke kantor catatan sipil membawa surat registrasi nikah dan mengurusnya ke kantor catatan sipil karena menurutnya lebih cepat lebih baik dari pada menunda-nunda. Sementara itu Ichigo membawa Orihime ke dalam kamar untuk beristirahat mengingat kondisi istrinya itu belum sepenuhnya pulih dan harus banyak beristirahat.
Iris abu-abu milik Orihime menatap nanar pintu kamar Ichigo dan saat pintu terbuka ia berdiri mematung di ambang pintu.
Ichigo menyadari kalau Orihime tak ikut masuk ke dalam kamar dan berdiri diambang pintu, "Kenapa diam disitu, masuklah,"
"Ya," Orihime melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar.
Saat masuk kedalam kamar Ichigo kedua iris abu-abu milik Orihime menatap ke seluruh ruangan kamar dan ternyata belum banyak yang berubah dari dalam kamar Ichigo ketika terakhir datang, senyum kecil menghiasi wajah cantiknya mengingat kejadian satu tahun lalu dimana untuk pertama kali Ichigo mengajaknya masuk kedalam kamar dan menyuguhkan minuman serta camilan kecil padanya.
Saat itu dirinya sangat gugup dan salah tingkah karena hanya ada mereka berdua didalam kamar bahkan dalam imajinasinya sendiri sosok Ichigo terlihat sangat tampan nan menawan saat membuka pintu lalu menyapa dirinya padahal kenyataan kalau wajah Ichigo biasa saja bahkan terlihat datar tak ada ekspresi sama sekali. Jantungnya berdebar cepat saat duduk bersebelahan dengan Ichigo walau mereka duduk berjauhan dan sampai saat ini ia masih mengingatnya serta menyimpan kenangan itu didalam hati.
Orihime berjalan pelan ke arah ranjang lalu duduk diatas lantai mencoba mengingat kejadian waktu itu, "Kenapa kau duduk dibawah tanpa alas duduk," omel Ichigo cemas.
Ichigo langsung mengambil bantal kecil yang merupakan alas duduk untuk Orihime karena lantai dikamarnya tidak menggunakan karpet pasti akan terasa dingin ketika duduk dibawah, "Pakailah ini,"
"Iya, terima kasih Ichigo-kun,"
Sesaat keduanya diam dan hanya ada keheningan yang tercipta diruangan ini karena baik Orihime maupun Ichigo sama-sama canggung juga bingung mau berkata apa dan hal ini membuat Orihime teringat kejadian waktu itu sama seperti saat ini.
"Ichigo-kun,"
"Ya?"
"Apa kau tahu kejadian satu tahun lalu dimana kau mengajakku mengobrol di kamar ini,"
Ichigo berusaha mengingat, "Ah, aku ingat waktu itu kau datang menawarkan roti dari tempat kerja paruh waktumu,"
"Kau benar dan apa kau tahu saat ini aku merasa senang sekaligus canggung karena di ijinkan masuk ke dalam kamarmu terlebih waktu itu hanya ada kita berdua membuat jantung serta hatiku berdebar," Orihime mulai menceritakan kenangannya dan Ichigo diam mendengarkan lebih tepatnya memperhatikan ekspresi wajah sang istri.
"Walaupun kau hanya menyuguhkan teh dan hanya ada obrolan riangan serta singkat darimu tapi bagiku terasa istimewa dan berkesan dihati karena di ijinkan masuk ke kamarmu walau sebenarnya aku pernah sekali menyelinap masuk kedalam kamarmu," Aku Orihime dengan senyuman kecil menghias wajah.
Mendengar pengakuan Orihime barusan membuatnya penasaran dan mengingatkannya tentang kejadian dimana Orihime tiba-tiba pergi ke Hueco Mundo dan saat terbangun dari tidurnya seluruh luka ditubuhnya akibat pertarungannya dengan Grimmjow salah satu Espada sembuh namun masih bisa ia rasakan sedikit Reiatsu milik Orihime.
"Jadi dugaanku benar kalau sebelum pergi kau mengobati luka ditubuhku,"
"Ya. Saat itu Ulquiorra memberikan satu kesempatan untukku mengucapkan kata perpisahan tapi hanya pada satu orang, padahal banyak yang ingin aku datangi tapi aku memilih pergi ke tempatmu untuk mengucapkan selamat tinggal dan..." Orihime menggantungkan ucapannya menatap Ichigo penuh arti.
Dirinya sedikit ragu menceritakan rahasia kecilnya pada pemuda bersurai orange kecokelatan itu yang kini sudah menjadi suami sekaligus ayah dari anak yang sedang dikandungnya. Tapi sebagai suami istri alangkah baiknya jika tak ada satu pun rahasia diantara mereka berdua padahal Orihime ingin menyimpannya rapat-rapat sebagi kenangan.
"Dan apa, Hime?" Ichigo mulai penasaran ingin mendengarkan kelanjutan cerita Orihime.
Orihime tersenyum sekilas menatap Ichigo lalu wajahnya menatap lurus kedepan, "Saat itu aku berkata banyak hal yang ingin aku lakukan, menjadi seorang guru disekolah, Astronot, tukang kue. Pergi ke Mister Donut dan Baskin Robbins lalu berkata 'Minta semuanya.' dan jika saja aku bisa hidup lima kali, aku akan lahir di kota berbeda-beda, makan makanan yang berbeda-beda juga melakukan pekerjaan yang berbeda-beda dan akan menyukai orang yang sama lima kali," ucap Orihime tanpa keraguan serta beban menceritakannya sedangkan Ichigo membelakkan kedua mata tak percaya mendengarnya.
Orihime tertawa kecil mengingat dirinya hendak mencium Ichigo namun tak bisa karena merasa malu juga tak pantas, "Saat itu sebelum pergi aku menggenggam erat tanganmu untuk pertama kalinya yang terbalut kain perban juga..." Orihime menoleh ke samping kemudian tersenyum lembut dengan wajah merona merah, "Berusaha menciummu tapi tak bisa dan hanya menangis padahal tinggal sedikit lagi,"
Orihime tertawa kecil lebih tepatnya menertawaka dirinya karena waktu itu tidak berani mencium pemuda bersurai orange tersebut, "Aku memang payah sekali," kekehnya pelan.
Jika Orihime menanggapi ceritnya dengan tawa menghiasi wajahnya lain hal dengan Ichigo yang merasa kaget dan tak mengetahui kalau ada kejadian seperti itu. Tangan Ichigo terulur ke depan menyenutuh pipi Orihime, "Maaf..." ucapnya dan seditik kemudian bibirnya sudah menempel di bibir mungil Orihime.
Kedua mata Orihime membelakak sempurna namun perlahan tertutup menikmati kecupan lembut Ichigo walau hanya beberapa detik namun terasa hangat hingga menjalar dihati, "Terima kasih sudah mencintai pria sepertiku dan maaf aku tak pernah bisa peka atau menyadari perasaanmu selama ini," Ichigo menyatukan keningnya dengan Orihime menatap wajah sang istri penuh kasih.
Orihime menggeleng pelan seraya menggengam erat kedua tangan Ichigo di samping kepalanya, "Aku mencintaimu dan anak kita," ucap Ichigo membuat Orihime menangis bahagia dan terharu.
Dikecupnya secara bergantian kedua mata Orihime mencoba menghapus dan menghentikan air mata yang menetes, "Mulai saat ini kita adalah keluarga dan bersama-sama menjaga, merawatnya," Ichigo mengelus pelan dan penuh kasih perut buncit Orihime menyalurkan perasaan sayang pada sang buah hati.
Orihime menyandarkan kepalanya di pundak Ichigo dan dengan senang hati pemuda bermata madu ini membiarkannya bahkan merengkuhnya dalam pelukkan hangat, keduanya diam menikmati suasana hening serta romantis tapi sepertinya ada sedikit ganggungan kecil dari Yuzu yang masuk kedalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena lupa ada Orihime didalam kamar sang kakak membuatnya tanpa sengaja melihat adegan romantis keduanya.
"Ups~Maaf..." kekeh Yuzu.
"Ada apa Yuzu?" tanya Ichigo tanpa melepaskan dekapannya dari sang istri sementara orang yang berada dalam pelukannya merona merah karena ketahuan tengan bermesraan.
"Maaf aku lupa mengetuk dan menggangu tapi aku datang membawakan sup hangat untuk kak Orihime," ujar Yuzu seraya mengangkat nampan ditangannya.
"Terima kasih, kau bisa menaruhnya di atas meja," ujar Ichigo seraya melepaskan dekapannya dan membantu Orihime berdiri lalu menuntunya duduk diatas ranjang.
Sebelum pergi Yuzu memberi salam dan ucapan selamat pada Orihime karena sudah menjadi istri kakaknya yang bodoh juga tak peka pada perasaan perempuan padahal memiliki dua adik perempuan yang manis dan cantik.
Orihime merasa senang karena kedatangannya disambut baik serta hangat oleh anggota keluarga ini, dirinya merasa seperti memiliki sebuah keluarga baru ditambah sebentar lagi ia akan memiliki anak dari pria yang dicintainya itu semua menambah kebahagian dalam hidupnya bahkan bermimpi bisa seperti ini pun tak pernah berani.
~(-)(-)~
Berita kepulangan Orihime ke Karakura serta pernikahannya dengan Ichigo disambut gembira oleh teman-teman mereka berdua tapi banyak dari mereka tak menyangka ataupun mengira kalau Orihime akan menikah dengan Ichigo terlebih saat ini wanita bersurai orange kecokelatan itu sudah berbadan dua dan sebentar lagi akan melahirkan. Untuk merayakan pernikahan anak sulungnya, Isshi dibantu dengan Urahara, Yoroichi dan kedua putri kembarnya yang cantik membuat pesta perayaan di rumah dan hanya mengundang orang-orang terdekat seperti teman-teman Ichigo dan Orihime termasuk para Shinigami turut diundang.
Pesta dimulai jam delapan malam namun sebelum jam delapan orang-orang sudah berdatangan karena ingin bertemu dan melihat Orihime terlebih dari kabar yang mereka dengar kalau kini Orihime tengah hamil besar. Disaat semua orang sudah datang berkumpul di ruang tengah menunggu pasangan pengantin tersebut tapi sang tokoh utama, Orihime masih setia duduk di pinggir kasur enggan keluar kamar menampakkan diri karena merasa malu pada teman-temannya.
"Ayo kita keluar, pasti semua orang sudah menunggu," Ichigo menggengam lembut kedua tangan sang istri yang terkepal kuat diatas paha.
Orihime menggeleng pelan, "Kenapa, Hime?" tanya Ichigo lembut.
"A-aku...malu," jawab Orihime gugup.
"Apa kau malu menjadi istriku?" tanya Ichigo sendu.
Orihime menggeleng cepat, "Bukan itu...a-aku hanya takut,"
"Takut apa?"
"Aku takut melihat mereka marah padaku karena pergi tanpa pamit," Orihime mendundukkan wajah dalam.
Ichigo tersenyum kecil, dibelainya lembut pipi gembil sang istri lalu diangkatnya dagu Orihime untuk menatap kedua mata madu miliknya, "Rasa rindu mereka lebih besar dari pada rasa marah mereka, terlebih Tatsuki, dia begitu mengkhawatirkan dan mencemaskanmu selama ini. Apa kau tak ingin melihat dan bertemu dengannnya?"
"Tapi apakah Tatsuki-chan akan memaafkanku,"
"Tentu saja. Percayalah padaku, Hime,"
Orihime mengangguk pelan dan setelahnya Ichigo menggandeng tangannya keluar kamar menuju ruang tengah dimana teman-temannya sudah menunggu.
Malam ini Orihime mengenakan dress panjang selutut berwarna peach dengan sebuah pita besar di pinggang dan renda-renda kecil di ujung lengannya pemberian dari Karin serta Yuzu sebagai ucapan selamat dari keduanya. Kaki Orihime terasa sedikit berat saat melangkah mungkin karena ia merasa gugup sekaligus takut bertemu dengan teman-temannya setelah setengah tahun ini pergi dari kota ini tanpa pamit sama sekali.
"I-Ichigo-kun..." lirih Orihime memandang wajah sang suami.
"Tenanglah Hime, jangan gugup ataupun takut," Ichigo mencoba menenangkan sang istri yang hatinya tengah bergejolak saat ini.
Saat keduanya datang ke ruang tengah semua orang yang tadinya tengah sibuk berbincang satu sama lain langsung mengalihkan pandangan mereka pada Orihime, suasana terdengar hening sesaat namun tak lama mereka langsung menghampiri keduanya dan memberi ucapan selamat.
Tatsuki sendiri sudah menangis memeluk Orihime, "Kau kemana saja selama ini,"
"Maaf sudah membuatmu khawatir," ucap Orihime penuh sesal.
"Dasar gadis bodoh dan keras kepala," Tatsuki mencubit gemas kedua pipi Orihime.
Orihime terkekeh kecil melihat reaksi Tatsuki padahal dirinya sempat mengira kalau gadis bersurai hitam itu akan marah dan membencinya tapi dugaannya salah besar.
Tatsuki mengelus pelan perut buncit Orihime, "Sudah berapa bulan?"
"Tujuh bulan,"
"Aku harap yang lahir adalah anak perempuan pasti akan cantik dan manis sepertimu," ujarnya penuh harap seraya memuji Orihime.
"Terima kasih, Tatsuki-chan tapi apapun jenis kelaminnya aku berharap ia lahir dengan selamat tanpa kekurangan satupun," Orihime tersenyum menatap perut buncitnya.
Ditengah-tengah pesta Renji, Rukia dan teman-teman Shinigaminya datang menghadiri undangan pesta dari Isshin sekaligus ingin bertemu dengan Orihime dan memberi ucapan selamat pernikahan pada mereka berdua.
Tubuh Orihime menegang kaku melihat sosok Rukia dalam balutan Kimono putih bermotif bunga rambutnya pun sudah sedikit memanjang dan sosok gadis Shinigami itu terlihat begitu cantik serta elegan malam ini.
Rukia terlihat tengah tertawa riang bersama Ichigo entah apa yang tengah mereka berdua bicarakan tapi raut wajah sang suami terlihat begitu senang dan ceria, entah mengapa ada sebuah perasaan aneh mengganjal dihati Orihime ketika melihatnya padahal kini pemuda bermata madu itu adalah suami sekaligus ayah dari anaknya tapi tetap saja perasaan ini muncul dan menyelimuti hatinya.
"Engh~" rintih Orihime ketika merasakan tendangan yang cukup keras dari sang anak.
Diusapnya lembut perutnya menyalurkan perasaan sayang pada sang buah hati dan tendangan dari sang anak sudah tak dirasakan lagi.
Nyut~
Kepala Orihime terasa berdenyut-denyut bahkan tubuhnya terasa lemas padahal tadi siang ia sudah makan banyak serta meminum susu tapi mengapa ia merasa lemas dan tak bertenaga seperti ini. Mungkin memakan beberapa potong kue yang mengandung banyak gula serta kalori bisa menghilangkan sedikit pusingnya dan memberikan tenaga namun saat hendak ke meja mengambil kue tanpa sengaja dirinya bertemu pandang dengan Rukia.
"Halo, Orihime," Rukia mulai menyapa.
"A-apa kabarmu Rukia-chan?" tanya Orihime gugup.
"Baik dan aku ucapkan selamat atas pernikahan kalian berdua,"
"Te-terima kasih,"
Wajah Rukia tersenyum menatap perut buncit Orihime yang didalamnya terdapat seorang bayi, "Bolehkan aku bertanya sesuatu pada Orihime?"
"Ya,"
Rukia merona merah membuat Orihime bingung, "Hmmm..." Rukia terlihat bingung mengatakannnya.
"Ada apa Rukia-chan?"
"Bisakah kau mendekatakan telingamu padaku," pinta Rukia.
Orihime pun menurutinya dan wanita cantik bersurai hitam ini langsung membisikkan sesuatu ke telinga Orihime, "Beritahu aku bagaimana caranya bisa hamil?"
Wajah Orihime ikut merona merah karena pertanyaan itu sulit untuk dijawab apalagi dijelaskan olehnya mengingat hanya sekali mereka melakukan hubungan intim itupun karena ketidak sengajaan serta dorongan alkohol.
"I-itu..." Orihime gugup bercampur mengatakannya.
Rukia menunggu jawabannya, "Itu apa Orihime?"
"Ka-kau tanyakan saja pada Ichigo-kun karena dia yang membuatku hamil," ucap Orihime dengan wajah merah padam bak kepiting matang.
Rukia mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti, "Kalau begitu aku menyuruh Renji belajar pada Ichigo," gumam Rukia.
"Ekh!" Orihime memandang kaget Rukia.
"Untuk apa A-Abarai-san belajar hal seperti itu pada Ichigo-kun?"
"Tentu saja membuatku hamil, aku juga ingin memiliki seorang anak yang manis dan cantik,"
Sesaat Orihime terdiam lebih tepatnya terkejut mendengar penuturan Rukia, "Ja-jadi kau sudah menikah dengan Abarai-san?"
"Ya, tak lama setelah kepergianmu,"
Ekspresi wajah Orihime terlihat kaget dan sebuah pikiran buruk mengenai Ichigo muncul dibenaknya. Andai saja Rukia tak menikah dengan Renji apakah pemuda bermata madu tersebut akan mencari dan menikahinya?
Pertanyaan itu terus berputar diotak Orihime membuat perasaanya sakit dan sedih mendapati fakta kalau dirinya hanyalah pelarian serta pelampiasan rasa kesepian serta terluka Ichigo. Baru saja Orihime merasa menjadi gadis paling bahagia karena menikah dengan pemuda yang dicintai tapi kebahagiannya seketika langsung hancur mendapati fakta kalau kebahagiannya saat ini terasa semu dan palsu semata.
TBC
A/N : Mohon maaf baru bisa mempublishnya dan jalan ceritanya jadi sedikit aneh atau memang terasa aneh#Bungkuk badan dalam-dalam.
Terima kasih yang sudah memberikan Riview maaf saya tidak bisa membalasnya.
Saya mau mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang sudah membaca Fic ini.
Inoue Sora
