Disclaimer : Tite Kubo

Rate : T

Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort, Friendship

Pair : Ichigo Kurosaki x Orihime Inoue

(IchiHime)

~ Heart and Soul ~

WARNING : TYPO'S, NO BAKU, CANON, OOC TINGKAT AKUT, OC, EYD BERANTAKAN, ALUR CEPAT, RE-MAKE DARI SOUL OF LOVE, DLL

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X

Gelak tawa riang terdengar dari ruang tengah kediaman Kurosaki, semua orang tengah terlarut dalam pesta perayaan pernikahan Ichigo dan Orihime tapi disaat semua orang menikmati pesta lain hal dengan sang tokoh utama, Orihime yang memilih duduk di sudut ruangan dengan segelas orange jus dingin ditangan, iris abu-abunya menatap sendu bercampur sedih teman-temannya yang tengah tertawa lebar menggoda sang suami, Ichigo.

Kejadian saat ini sama seperti waktu itu dimana Orihime hanya duduk diam di pojokkan sendirian tak ikut serta berkumpul karena merasa tak tahu harus berkata apa dan kini kejadian waktu itu terulang kembali, namun dengan alasan berbeda. Walau pesta yang dibuat sang ayah mertua sebagai perayaan pernikahan mereka berdua tapi hal itu tak membuat hati dan perasaan Orihime merasa bahagia ataupun senang terlebih ia menemukan satu fakta kalau ternyata Rukia sudah menikah dengan Renji tak lama setelah kepergiannya secara diam-diam ke Okinawa beberapa bulan lalu.

Segala macam pertanyaan terus berputar di benak Orihime membuat perasaannya bercampur aduk menjadi satu.

Andai saja Rukia tak menikah dengan Renji lalu mengatakan pada Ichigo kalau memiliki perasaan khusus apakah nantinya Ichigo tetap mencarinya ke Okinawa untuk memintanya pulang.

Orihime tersenyum miris memandang lurus ke arah sang suami.

Jika saja Rukia benar melakukannya tentu saja saat ini keduanya sudah menjadi pasangan yang bahagia sedangkan dirinya akan hidup seorang diri membesarkan sang buah hati.

"Hiiks..." Orihime mengusap kasar lelehan air mata dipipi padahal sudah sejak tadi ditahan.

Kedua mata Orihime tak sanggup lagi membendung luapan air mata kesedihannya terlebih melihat sang suami tertawa lebar disamping Rukia membuatnya tersadar kalau memang keduanya cocok dan serasi jika bersanding, mungkin jika Orihime dan teman-temannya hidup didalam sebuah drama telivisi ataupun buku pasti banyak orang berpikir, berharap serta setuju kalau keduanya begitu cocok jika dipasangkan mengingat sosok Rukia begitu kuat, ceria, tangguh dan mengubah kehidupan Ichigo dari seorang pemuda biasa menjadi luar biasa yang memiliki kekuatan hebat bahkan Rukia sanggup menghilangkan hujan dihati Ichigo tidak seperti dirinya yang keberadaannya hanya selalu menyusahkan Ichigo tak banyak membantu bahkan tak pernah ada disaat pemuda bermata madu itu jatuh terpuruk berbeda dengan Rukia yang selalu ada untuk Ichigo dan pastilah pernikahannya dengan Ichigo saat ini membuat banyak orang kecewa, marah, kesal, benci karena pemuda bermata madu itu memilih dirinya sebagai pasangan serta pendamping hidup bukan Rukia.

Memang dirinya bukanlah gadis kuat, tangguh dan hebat berbeda jauh dari Rukia yang baginya sendiri adalah sosok wanita luar biasa hebat tapi apakah salah jika memiliki sebuah perasaan khusus untuk Ichigo? Bukankah semua orang berhak menyukai siapapun karena Tuhan menganugrahkan perasaan cinta kepada siapapun termasuk Orihime.

Dulu Orihime tak pernah berani berpikir ataupun berkhayal sekalipun jika perasaan bisa terbalas ataupun menjadi pendamping Ichigo walau dirinya sesaat pernah berharap tapi semua di kubur dalam-dalam ketika mengingat dengan jelas kalau keberadaannya pastilah hanya sosok penganggu bagi hubungan Ichigo dan Rukia.

Andai saja waktu itu Orihime tak datang menghadiri pesta di kediaman Urahara mungkin ia tak perlu hamil pasti dirinya tak perlu terjebak dalam situasi rumit dan menyakitkan seperti ini.

"Apa yang harus ibu lakukan, sayang." Lirih Orihime dalam hati.

Diusapnya penuh sayang perut buncitnya, hanya anak didalam kandungannya saat inilah sumber kebahagiaan serta penyemangat hidup bagi Orihime kini ia tak akan memikirkan pemuda itu membalas perasaannya dan pernyataan cinta dari Ichigo waktu itu bisa saja bohong karena ia sadar kalau dihati Ichigo tak ada tempat untuknya.

Semenjak hamil perasaan Orihime menjadi lebih sensitif, dengan melihat mimik serta raut wajah Ichigo dari jauh dirinya sadar tanpa perlu diberitahu kalau keberadaan Rukia membuat hati dan perasaan Ichigo menjadi senang berbeda jauh ketika didekat Orihime walau kata-kata manis selalu diucapkan Ichigo namun kini ia merasa kalau semua itu tak berasal dari hati hanya sebuah kepalsuan semata sama seperti pernikahan mereka.

Orihime menaruh gelas berisikan orange jus ke atas meja, secara perlahan Orihime bangun dari posisi duduknya lalu diam-diam berjalan meninggalkan ruang tengah tanpa sepengetahuan Ichigo karena saat ini pemuda bersurai orange itu tengah asik mengobrol dengan Rukia yang wajahnya merona merah entah apa yang sedang mereka bicarakan tapi Orihime memilih tak mempedulikannya.

Kedua kaki Orihime terasa lemas tak bertenaga saat berjalan padahal hanya ingin pergi ke dapur membuat susu tapi mengapa rasanya jarak antara dapur dan ruang tengah terasa begitu jauh seperti berkilo-kilo meter.

Bruugh~

Tubuh Orihime limbung menabrak meja makan, perlahan-lahan tubuhnya merosot jatuh di bawah meja dengan nafas tak beraturan juga terengah-engah seperti habis berlari puluhan kilo padahal nyatanya hanya berjalan dari ruang tengah ke dapur.

"Akhh~" rintih Orihime kesakitan karena merasa tubuhnya seperti dicabik-cabik sesuatu.

Orihime lemas dan tak memiliki tenaga sama sekali bahkan untuk sekedar merangkak pun tak bisa.

Lagi-lagi Orihime merutuki dirinya sendiri karena lemah tak berguna, "Ma-maafkan ibu..."

Orihime jatuh pingsan tak sadarkan diri di bawah meja makan.

Sementar itu menyadari keberadaan sang istri yang menghilang, Ichigo berlari panik mencari dan saat ke dapur mendapati wanita bersurai orange kecokelatan itu terkulai lemas dibawah meja.

"Orihime!" Ichigo berlari panik.

Hangat dan nyaman itulah yang dirasakan Orihime saat ini.

Saat kedua matanya terbuka ia sudah berada didalam kamar dan membuatnya lebih kaget lagi adalah Ichigo tengah memeluknya dari belakang mengurung tubuhnya dalam pelukkan hangat dan posesif.

Tubuh Orihime menggeliyat pelan berusaha lepas dari kungkungan kedua tangan sang suami namun pergerakkannya dirasa oleh pemuda bersurai orange ini, membuatnya terbangun dari tidur lelapnya setelah hampir semalaman menjaga Orihime, memastikan kalau keadaan wanita bermata abu-abu tersebut baik-baik saja.

"Kau sudah bangun," ujar Ichigo dengan suara serak ciri khas orang bangun tidur.

"Ma-maaf aku membangunkanmu," wajah Orihime terlihat sedikit murung karena merasa mengganggu waktu tidur sang suami.

"Tidak apa-apa," tangan Ichigo menyentuh kening Orihime memastikan apakah tubuhnya hangat atau tidak karena semalam tubuh Orihime sangat dingin hampir seperti mayat.

Wajah Orihime sedikit merona, "A-aku tak apa Ichigo-kun,"

"Syukurlah kalau begitu, aku sangat mencemaskan keadaanmu juga anak kita," diusapnya pelan perut buncit Orihime menyalurkan perasaan kasih sayang pada sang buah hati.

"Kenapa aku disini dan bagaimana pestanya?" tanya Orihime panik.

"Aku menemukanmu pingsan di dapur dan pestanya sudah usai tiga jam yang lalu," jelas Ichigo.

Wajah Orihime tampak sedih dan kecewa mendengarnya lagi-lagi dirinya mengacaukan pesta membuat semua orang harus pulang lebih cepat karena dirinya.

"Ma-maaf..." Orihime menundukkan wajah menunjukkan rasa bersalah dan perasaan menyesal pada sang suami.

"Untuk apa?"

"Karena aku mengacaukan pesta," lirih Orihime penuh sesal.

Ichigo tersenyum sesaat lalu di angkatnya wajah sang istri untuk menatap kedua mata bulan miliknya, "Dirimu jauh lebih penting dari pada pesta, jadi jangan berwajah sedih dan bersalah seperti itu,"

"Tapi, Rukia-chan dan yang lainnya..."

"Aku sudah menjelaskan kondisimu dan mereka semua mengerti malah Rangiku dan Yoroichi memarahiku agar selalu mengawasimu dan memberikan perhatian lebih," kekeh Ichigo disertai senyuman kecil.

"Kau tak perlu melakukannya, aku tadi hanya kelelahan dan kurang makan saja lagi pula aku tak mau membuatmu repot dan susah,"

Ichigo membalikkan tubuh Orihime membuatnya saling berhadapan satu sama lain, iris madu miliknya memandang teduh wajah Orihime yang membuat wanita bersurai orange kecokelatan itu sedikit tersipu malu, "Aku tak merasa repot ataupun kesusahan untuk menjaga dan memberikan perhatian untukmu, akan kupertaruhkan nyawa untuk melindungimu dan anak kita,"

Orihime terdiam sesaat, jantungnya berdetak begitu cepat dan serasa ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan diatas perut perasaannya begitu senang dan bahagia tapi semuanya seketika sirna saat wajah seorang wanita bersurai hitam bertubuh mungil melintas didalam otak Orihime serta senyuman sang suami yang terlihat begitu bahagia berada didekat Rukia.

"I-Ichigo-kun, bo-bolehkah aku bertanya sesuatu padamu," kata Orihime ragu.

"Ya,"

"Dan apakah kau menjawabnya dengan jujur tanpa kebohongan sama sekali,"

"Tentu. Apa yang kau ingin tanyakan padaku,"

Orihime memandang lurus wajah sang suami, kedua mata abu-abunya berkaca-kaca, "Ji-jika saja..." Orihime menggantungkan ucapannya.

Ichigo menunggu dengan perasaan penasaran bercampur bingung, "Jika saja apa, Hime?"

"Rukia-chan mengatakan mencintaimu dan ingin bersamamu, apakah...apakah kau akan tetap mencariku dan menikahiku?" tanya Orihime lirih.

Ichigo terdiam sesaat dan begitu kaget dengan pertanyaan yang keluar dari mulut sang istri yang tak pernah diduganya sama sekali, namun ia memiliki jawaban untuk pertanyaan Orihime.

"Apa yang kau lakukan jika itu memang terjadi?" Ichigo balik bertanya.

"A-aku akan melupakan perasaanku dan membiarkan kalian berdua bersatu karena aku sadar cinta itu tak bisa dipaksakan," Orihime menundukkan wajah dalam.

"Kau egois dan jahat sekali, Hime. Lalu bagaimana dengan perasaanku padamu," ujar Ichigo dengan wajah dibuat sedih seraya mencubit hidung mancung Orihime.

"Ma-maksudmu?"

"Sudah aku katakan kalau sejak dulu aku mencintaimu bukan Rukia, lagi pula aku hanya menganggap Rukia sebagai sahabat tak lebih jika pun kami terlihat dekat dan akrab itu karena aku merasa bebas bersikap didekatnya tidak harus menjaga sikap didepanmu agar tidak terlihat aneh karena berada didekatmu selalu membuat hati dan jantungku berdebar," Ichigo meraih tangan Orihime kemudian diletakannya tepat didada kirinya, "Apakah kau bisa merasakannya,"

Orihime hanya bisa menangis bahagia karena dugaan dan pemikiran buruknya selama ini mengenai Ichigo salah besar, ia merasa sangat bersalah karena meragukan perasaan Ichigo dan sempat tak mempercayainya.

"Maafkan aku karena membuatmu sedih dan menangis,"

Orihime menggelengkan kepala, "Ini tangis bahagia dan maafkan aku sudah meragukanmu," ucap Orihime penuh sesal.

Ichigo meraih tangan kiri Orihime seraya memakaikan sebuah cincin di jari manisnya, "Ini adalah bukti kalau kau adalah milikku sekaligus istri dan ibu dari anak-anakku,"

Tangis Orihime semakin pecah menerima hadiah tak terduga dari sang suami membuat perasaan hatinya membuncah bahagia, "Aku berjanji akan selalu setia dan menjagamu. Aku mencintaimu dan anak kita," Ichigo mencium dalam sang istri sebagai bukti janji pernikahannya dengan Orihime.

Keduanya terlarut dalam suasana bahagia mereka setelah sempat terjadi kesalah pahaman di hati Orihime karena meragukan perasaan Ichigo padanya dan mengaggap apa yang terjadi saat ini adalah sebuah kepalsuan semata tapi nyata tidak. Pemuda bermata madu itu memang benar mencintainya juga buah hati mereka yang sebentar lagi akan lahir, Orihime merasa bersyukur dan bertima kasih kepada Tuhan karena penantian serta pengorbanan untuk Ichigo berbuah manis juga indah.

"Akh~" rintih Orihime pelan merasakan tendangan sang anak.

"Ada apa Hime?" Ichigo memandang cemas Orihime.

Senyuman tipis menghiasi wajah cantik wanita bersurai orange kecokelatan ini, "Dia hanya menendang terlalu keras," gumamnya.

Ichigo meletakan telapak tangannya lalu mengelus perut buncit Orihime, "Hey, anak ayah jangan nakal di dalam perut ibumu,"

"Iya ayah," sahut Orihime dengan suara dibuat seperti anak kecil membalas perkataan sang suami.

Salah satu tangan Ichigo melingkari tubuh Orihime dan membawa tubuh wanita bermata abu-abu itu untuk semakin mendekat padanya, ini pertama kalinya mereka berdua sedekat serta intim seperti ini walau ada perasaan canggung sekaligus malu dihati keduanya.

Orihime memejamkan kedua matanya menikmati aroma tubuh sang suami serta suara detak jantungnya yang sedikit cepat mungkin karena berdebar-debar karena merasa nyaman sekaligus hangat Orihime perlahan-lahan tertidur dalam dekapan sang suami dan tak lama di susul oleh Ichigo, keduanya tertidur saling memeluk satu sama lain berbagi kehangatan.

Pagi ini Naomi teman satu kampus Ichigo sengaja datang ke rumah Ichigo ingin menjemputnya agar bisa berangkat bersama. Sebelum datang Naomi mempersiapkan dirinya selama hampir satu jam agar penampilannya terlihat cantik juga menarik perhatian Ichigo.

"Permisi," Naomi memencet bel pintu rumah.

Gadis cantik bersurai kuning pendek ini berdiri gelisah di depan pintu rumah menunggu sekaligus berharap kalau Ichigo akan membukakan pintu untuknya.

Tak ada jawaban, Naomi memutuskan memencet bel kembali dan dalam hitungan detik pintu terbuka.

"Siapa?" tanya ramah wanita cantik bersurai orange kecokelatan dalam balutan dress panjang selutut.

Keduanya saling memandang satu sama lain termasuk Naomi yang merasa bingung sekaligus penasaran dengan wanita hamil didepannya saat ini.

"Kau siapa?" tanya Naomi penasaran.

Dahi Orihime menyeringit bingung, "Orihime Kurosaki dan dirimu?" Orihime balik bertanya.

Naomi sangat terkejut mendengar nama belakang Orihime yang menggunakan marga Kurosaki, apakah wanita ini masih berhubungan dengan keluarga Ichigo tapi siapa? Karena sepengetahuannya Ichigo tidak memiliki kakak perempuan hanya memiliki dua orang adik perempuan kembar Yuzu dan Karin, sedangkan ibunya sudah lama tiada dan sang ayah tidak menikah lagi.

"Kau mencari siapa?" tanya Orihime yang membuyarkan lamunan Naomi.

"Ichi..."

"Siapa yang datang Orihime," teriak Ichigo seraya berjalan ke pintu depan karena sang istri lama membuka pintu.

"Oh, kau Naomi,"

"Dia temanmu?" tanya Orihime.

"Ya dan Yuzu mencarimu," ujar Ichigo memberitahu.

Buru-buru Orihime pergi ke dapur menghampiri adik iparnya yang manis itu, meninggalkan Ichigo berdua dengan Naomi yang kini wajahnya tengah sumeringah senang.

"Ichigo-kun, Selamat pagi," sapa Naomi dengan senyuman lebar menghias wajah.

"Ada apa kau datang pagi-pagi begini?" tanya Ichigo bingung karena menemukan teman satu kampusnya datang ke rumah sepagi ini.

"Aku ingin mengajakmu berangkat kampus bersama," jawab Naomi ramah.

"Ini masih terlalu pagi,"

"Oh, maaf kalau aku datang terlalu pagi,"

"Tak apa dan ngomong-ngomong kau sudah sarapan?"

Naomi menggelengkan kepala, "Kalau begitu sarapan saja disini," ajak Ichigo.

"Apa boleh dan tak merepotkan," Naomi berpura-pura tak enak hati padahal dalam hati begitu senang diajak sarapan bersama.

"Tentu saja tidak, ayo masuk," Ichigo mempersilahkan Naomi masuk kedalam rumah.

"Terima kasih,"

Naomi berjalan mengekor dibelakang Ichigo, mengikuti sampai ke ruang makan ini memang bukan pertama kalinya ia datang kerumah Ichigo dan diajak sarapan bersama tapi tetap saja bagi Naomi ini membuatnya senang karena bisa makan bersama orang yang disukai.

Ketika datang ke ruang makan, Naomi melihat wanita hamil tadi tengah menata makanan diatas meja bersama Yuzu.

Sementar itu wajah Karin terlihat bete sekaligus malas melihat Naomi datang pagi-pagi ini dan pasti sang kakak mengajaknya untuk sarapan bersama. Walau gadis bersurai kuning pendek itu begitu lihai menutupi perasaannya serta siasatnya mendekati sang kakak tapi tidak bagi Karin yang sudah lama mengetahui, sifat sok manis, polos dan baik Naomi didepan sang kakak membuat gadis bersurai hitam panjang ini.

"Ah, Naomi, lama tidak bertemu," ujar Isshin menyapa.

"Selamat pagi paman, apa kabar paman hari ini?"

"Sehat dan tumben kau datang sepagi ini,"

"Maaf kalau menggangu tapi aku datang ingin berangkat ke kampus bersama,"

"Oh!" seru Isshin.

Suara benda jatuh terdengar dari arah dapur disertai suara pekikkan kaget dari Orihime mendengar suara teriakkan sang istri Ichigo berlari cepat menghampiri sang istri yang tengah berdiri menyender didekat rak piring dengan posisi hampir terjatuh.

"Kau tak apa, Hime?" Ichigo memandang cemas sang istri.

"Hm," angguk Orihime.

Ichigo menuntun Orihime berjalan ke meja makan dan pemandangan itu membuat mata serta hati Naomi sakit sekligus kesal terlebih sikap Ichigo begitu perhatian sekali dan kekesalah Naomi bertambah kali lipat karena wanita itu duduk disamping Ichigo padahal tadinya ia berniat duduk disana.

Sesaat Orihime tersenyum menatap kearah Naomi yang wajahnya terlihat kaget sekaligus bingung harus balas tersenyum atau tidak hal hasil ia hanya dapat tersenyum kaku.

"Orihime, perkenalkan dia adalah Naomi Sato teman satu kampus Ichigo," ujar Isshin memperkenalkan gadis bersurai kuning pendek itu yang membuatnya terlihat senang sekaligus bangga.

"Dan Naomi perkenalkan dia adalah Orihime, istri Ichigo,"

Naomi hampir tersedak minumannya, "A-apa? I-istri?" tanya Naomi kaget sekaligus bingung.

"Ya, Orihime adalah istriku," sahut Ichigo membenarkan perkataan sang ayah.

Naomi diam terpaku kaget, "Maaf aku lupa mengundangmu ke pestaku dan sebentar lagi juga aku akan menjadi ayah," kata Ichigo memperkenalkan Orihime pada teman kampusnya itu.

Bagai disambar petir disiang bolong mendengar penuturan Ichigo tadi mengenai wanita hamil bersurai orange kecokelatan itu dan ia tak bisa menerimanya sama sekali kalau pemuda dambaan hatinya menjadi milik orang lain bahkan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.

"Naomi kau kenapa?" tanya Ichigo cemas karena wajah gadis bersurai kuning pendek itu terlihat kaget juga pucat pasi seperti habis mendengar berita kematian saja.

"A-ah ya aku tak apa Ichigo-kun, hanya merasa kaget saja,"

"Itu bukan hal aneh jika kau merasa kaget," Ichigo mamaklumi reaksi teman teman satu kampusnya.

Selama sarapan Naomi hanya diam dan terus menatap ke arah Ichigo dan Orihime yang terlihat begitu mesar terlebih sikap pemuda bermata itu terlihat sangat perhatian juga romantis membuatnya iri sekaligus sedih dan ingin rasanya Naomi berteriak menangisi kenyataan pahit ini. Padahal dirinya berencana mengungkapkan perasaannya setelah acara festifal kampus bulan depan tapi semuanya harus batal dan tak akan pernah terjadi karena kini Ichigo sudah menjadi milik gadis lain bahkan sebentar lagi menjadi seorang ayah.

Dan diam-diam Karin tersenyum senang melihat ekspresi wajah Naomi yang terlihat sedih memandangi sang kakak juga Orihime.

"Rasakan kau gadis ular." Batin Karin senang.

Karin memang tak suka pada Naomi sejak awal terlebih dengan sifat pura-pura baik serta manis padahal sifat aslinya sangat jahat juga culas, pernah sekali Karin memergoki Naomi tengah memukuli seorang gadis di dekat taman sepi awalnya Karin berusaha tak mempedulikannya dan menjalankan tugasnya sebagai Shinigami mencari para Hollow yang berkeliaran tapi tanpa sengaja ia mendengar nama sang kakak disebut-sebut membuatnya penasaran.

"Jangan mendekati Ichigo-kun, gadis jelek," makinya dengan menjambak kasar rambut gadis didepannnya yang kini terduduk pasrah dengan rambut acak-acakan.

"Hiiiksh...ampun..." isak gadis ini lirih.

"Baik aku akan mengampuni kali ini tapi jangan berani lagi mendekati Ichigo-kun karena dia adalah milikku,"

"I-iya..."

Naomi menarik paksa kerah baju gadis itu, "Jika berani kau mendekati Ichigo-kun, aku tak segan-segan merusak wajah manismu itu," ancamnya dingin.

"B-baik...a-aku tak akan mendekati Ichigo lagi,"

Naomi tersenyum puas, "Bagus. Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran."

Gadis malang itu langsung lari ketakutan meninggalkan Naomi sementara itu Karin berdiri tak jauh melihat serta mendengar semuanya dan menurut Karin apa yang dilakukan Naomi sudah kelewat batas, juga tak pantas karena gadis bersurai kuning itu tak pantas melarang siapapun untuk mendekati sang kakak.

Dan semenjak kejadian itu Karin membenci gadis bernama Naomi itu, bahkan secara terang-terangan Karin mengungkapkan ketidak sukaannya sampai sekarang Naomi sendiri tidak mengetahui kalau Karin pernah melihat kejadian waktu itu ditaman.

"Ugh~" Orihime memegangi mulutnya dengan satu tangan menahan sesuatu yang hendak keluar dari mulutnya.

"Kenapa, Hime? Apa masakannya tidak enak,"

Orihime menggeleng pelan, "Ma-masakan Yuzu-chan sangat enak, a-aku hanya merasa mual saja mencium bau kuning telur,"

Ichigo langsung menyingkirkan potongan telur di piring Orihime dan memberikannya pada sang ayah untuk dimakan, "Minumlah, teh lemon ini bisa mengurangi rasa mualmu,"

"Terima kasih, Ichigo-kun," Orihime meminum teh pemberian sang suami dan meminumnya beberapa teguk dan rasa mualnya perlahan hilang.

Dan lagi-lagi Naomi menatap keduanya dengan ekspresi wajah terluka. Orihime pun menyadari raut wajah Naomi yang ditujukkan pada dirinya, sebuah ekspresi wajah penuh luka sama seperti dirinya waktu itu ketika menatap kebersamaan Rukia dan sang suami.

"Kenapa kau bengong, Hime,"

"Akh, maaf..."

"Kenapa malah meminta maaf, apa kau ingin makan yang lain?" tawar Ichigo pada sang istri.

"Tidak, aku sudah merasa kenyang Ichigo-kun,"

"Kau hanya makan beberapa suap saja,Hime. Ingat saat ini kau sedang hamil dan butuh banyak asupan makanan," Ichigo mengingatkan sang istri.

"Aku tahu tapi aku benar-benar sudah kenyang Ichigo-kun,"

"Apa kau ingin aku suapi?"

Orihime menggeleng cepat dengan rona merah di pipi, "J-jika lapar aku akan makan, jadi kau jangan khawatirkan aku,"

"Baiklah, tapi jika kau ingin makan sesuatu yang tak ada dirumah beritahu aku,"

"Hmm..." angguk Orihime.

Acara makan pagi bersama dengan Ichigo yang awalnya dibayangkan Naomi akan terasa indah dan romantis berubah menyedihkan bahkan hancur berantakan karena pemuda bermata madu itu tak mempedulikannya hanya fokus mengurusi wanita bernama Orihime itu. Ingin rasanya ia mecakar wajah Orihime dan menjambak rambut oranye kecokelatannya meluapkan kekesalan serta amarah dihati.

Orihime mengantar kepergian sang suami dan sesaat sebelum pergi Ichigo mencium kening serta perut Orihime, "Jangan nakal didalam perut ibumu selama ayah tak ada," ucapnya.

"Baik, ayah," sahut Orihime dengan suara dibuat seperti anak kecil.

Ichigo tersenyum kecil menanggapinya, "Aku pergi."

"Hati-hati dijalan." Orihime melambaikan tangan mengantar kerpergian sang kekasih.

Tak lama Ichigo pergi ke kampur, Yuzu dan Karin juga pergi ke sekolah begitu pula dengan sang ayah mertua Isshin yang harus pergi ke klinik mengingat pasti saat ini orang-orang sudah menunggu untuk diperiksa dan setelahnya suasana rumah terasa begitu sepi hanya Orihime seorang disini andai saja waktu itu ia tidak pergi dan tetap bersekolah pasti saat ini ia sudah lulus SMA sama seperti Ichigo juga yang lain bahkan bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Untuk mengisi kekosongan waktu Orihime berencana untuk membersihkan rumah walau tidak bisa bergerak terlalu bebas tapi setidaknya ia tidak duduk diam atau berbaring saja di kamar seperti orang sakit, masih ada hal yang dilakukannya dirumah padahal biasanya jam segini Orihime akan sibuk melayani para tamu dikedai dan rasanya Orihime merasa rindu pada paman, bibi pemilik kedai serta teman-temannya di kedai yang sudah diangap sebagai keluarga.

.

.

.

.

.

Langit begitu cerah bahkan matahari bersinar dengan terik. Suasana kota juga terlihat damai juga ramai dengan dipadati orang-orang yang berlalu lalang di jalan menjalani aktifitas.

Orang-orang sibuk dengan urusan dan pekerjaan mereka masing-masing tanpa menyadari kalau bahaya datang mengancam keselamatan kota.

Seorang pria berkulit putih pucat mengenakan Hakama berwarna putih dengan tali hitam melingkar dipinggang berdiri menjulang diatas tower menatap seluruh kota Karakura dari atas dan iris merahnya menatap lurus kedepan lebih tepatnya ke kediaman Ichigo yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya berdiri, "Akhirnya aku temukan bibit unggul untuk wadah kebangkitan kembali Yhawch-sama." Seringainya.

Pria ini mengangkat tinggi tangannya ke atas, "Berikan pertunjukkan indah padaku, anak-anak."

KRAAAAAAK~

Langit tiba-tiba terbelah membuat sebuah lubang hitam raksasa muncul di atas langit, tak lama kuku-kuku tajam dan panjang keluar dari lubang misterius itu para Hollow tingkat rendah serta roh gentayangan yang berada di sekitar kota Karakura menatap ke atas langit dengan perasaan takut bercampur gelisah karena sebuah kekuatan besar serta jahat muncul. Para Shinigami yang bertugas di kota langsung berlari ke arah robekan langit karena dari Reiatsu yang mereka rasakan ada bahaya besar tengah mengancam kota dan dugaan mereka benar adanya karena mahkluk yang keluar dari robekan langit adalah Menos Grande, Hollow tingkat Gillian.

Hollow raksasa bertubuh hitam dengan hidung runcing dan kedua mata merah, walau berbadan besar mereka lambat dan memiliki kecerdasan seperti binatang tapi kekuatan mereka tak boleh diremehkan sama sekali mengingat hanya Shinigami tingkat kapten yang bisa mengalahkan. Jika hanya satu Menos yang datang menyerang itu bukan hal sulit untuk di kalahkan tapi bagaimana jika puluhan Menos Grande keluar dari robekan langit membentuk barisan bersiap memporak-porandakan kota Karakura, tentu saja ini menjadi masalah gawat karena mengancam banyak keselamatan orang.

"GWHOAAAA!" para Menos berteriak bersamaan dan mulai menyerang.

Tak butuh waktu lama rumah dan gedung-gedung tinggi disekitar mereka hancur terkena serangan.

Pria misterius ini duduk santai di atap gedung tinggi menyaksiskan para Menos mengamuk dan memporak-porandakan Kota membuat suasan damai tadi berubah mencekam jug kacau.

"Pemandangan yang sangat indah."

Tak butuh waktu lama para Shinigami datan berkumpul berusaha menghentikan bahkan beberapa Komandan dari Gotei tiga belas sampai datang termasuk Ichigo yang terlihat tengah sibuk menebas para Menos.

Pria misterius ini merasa rencananya berhasil.

Ctik~

Pria ini menjetikkan tangannya tak lama seorang pria bersurai hijau pendek dengan sayap hitam dipunggung keluar memberi hormat, "Apa ada perintah untk hamba,"

"Aku ingin kau menculik wanita bernama Orihime dan membawanya ke istana," perintahnya.

"Baik."

Pria tampan ini tertawa senang karena dengan begini rencananya untuk membangkitkan kembali sang Raja Quicy sekaligus membuat para Quincy menguasai dunia roh satu langkah lebih dekat.

"Aku pasti akan membangkitkanmu kembali dan membalas pemuda bernama Ichigo Kurosaki itu." Desisnya penuh kebencian mendalam.

Disaat Ichigo dan teman-temannya tengah sibuk melawan para Menos, mereka tak tahu kalau bahaya yang sebenarnya tengah mengancam Orihime dan sang buah hati.

TBC

A/N : Pertama-tama saya meminta maaf karena baru bisa update dan alur cerita kali ini sangat cepat atau terkesan lompat-lompat#Bungkuk badan dalam-dalam.

Saya mengucapkan terima kasih banyak yang sudah memberikan Riview bahkan PM untuk mengingatkan saya dengan kelanjutan Fic ini. Mohon maaf Inoue tidak bisa membalas Riview dari kalian semua.

Big Thank's to : ,Naruhina Sri Alwas,INOcent Cassiopeia,ana,new reader,sasuhina always,Guest, ,Embun pagi,Nana481,memoryru,soya.

Mohon maaf jika ada kesalahan pengetikan nama.

Sebenarnya Fic ini awalnya berjudul Soul Of Love Request dari Mell Hinaga Kuran dan sempat mandek alias macet karena mentok ide dan akun yang lama tak bisa dibuka tapi mengingat Fic itu sendiri sebentar lagi akan tamat, saya memutuskan untuk Me-remakenya dengan judul berbeda dan alurnya juga berbeda mengingat kini pair IchiHime sudah CANON bahkan sudah memiliki anak yang manis nan tampan bernama Kazui.

Saya memakai kembali Pen Name yang sama dengan akun yang tak bisa dibuka, Ogami Benjiro tapi karena ini aku ke dua jadi memakai II dibelakang nama*Malah curcol ga jelas#Abaikan.

Fic ini jauh sekali dari kata bagus apalagi sempurna tapi saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada siapapun yang sudah mau menyempatkan waktunya membaca Fic ini dan jika berkenan memberikan saran atau Riviewnya.

Untuk kelanjutannya sedang dalam pengetikan tapi tidak bisa janji cepat mengingat saya masih punya banyak hutang Fic dan harus menyelesaikannya.