Disclaimer : Tite Kubo
Rate : T
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort, Friendship
Pair : Ichigo Kurosaki x Orihime Inoue
(IchiHime)
~ Heart and Soul ~
WARNING : TYPO'S, NO BAKU, CANON, OOC TINGKAT AKUT, OC, EYD BERANTAKAN, ALUR CEPAT, RE-MAKE DARI SOUL OF LOVE, DLL
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
X0X0X0X0X0X0X0X
Langit yang tadinya cerah berubah menjadi mendung dan gelap padahal beberapa saat lalu matahari masih bersinar terik udara pun terasa panas namun perubahan cuaca yang mendadak ini membuat sebagian orang menatap ke atas langit, mencoba melihat apa yang tengah terjadi mengapa matahari tertutup.
"Apakah akan turun hujan?" gumam seorang pria paruh baya dalam balutan kemeja abu-abu dari penampilannya terlihat seperti pekerja kantoran.
Hawa dingin pun begitu terasa hingga menusuk tulang padahal tak ada angin yang berhembus membuat sebagian orang gemetar hanya para manusia saja yang merasa aneh tapi roh gentayangan juga Hollow tingkah rendah terlihat ketakutan bersembunyi dari mahkluk tinggi besar dan hitam itu yang tengah mengacau ditengah kota kedatangan satu Hollow tingkat Gillian itu saja membuat banyak para Hollow berlarian pontang panting juga bersembunyi tapi kini ditengah kota terdapat puluhan Menos Grande siap menghancurkan segala apapun didepan mereka tanpa terkecuali. Mendatangkan satu Menos ke kota manusia membutuhkan setidaknya ratusan Hollow tingkat rendah untuk memancingnya keluar dari lembah Menos tapi saat ini tidak ada Reiatsu besar yang menumpuk dari para Hollow melainkan mereka semua datang karena perintah seorang pria dan pastinya memiliki kekuatan besar karena sanggup mendatangkan bahkan mengontrol para Menos karena mereka tidak bisa diperintah siapapun.
Mobil Naomi melaju kencang melewati jalanan kota Karakura yang padat, sejak masuk mobil Ichigo lebih banyak diam pandangan matanya menatap lurus kedepan ke arah jalan mengamati setiap kendaraan yang lewat atau para pejalan kaki yang menyeberang namun ketenanagannya terusik ketika merasakan hawa dingin menyesakkan dada juga sangat besar bertumpuk menjadi satu ditengah kota tak jauh dari mereka saat ini.
"Naomi berhenti!" teriak Ichigo tiba-tiba.
CKIIIIIIET!
Naomi mengerem mendadak karena Ichigo tiba-tiba berteriak meminta berhenti, "Ada apa Ichigo-kun?" gadis bersurai kuning pendek ini menatap bingung.
"Maaf, tapi aku harus pergi," Ichigo melepas sabuk pengamannya kemudian keluar dari mobil di ikuti Naomi yang merasa bingung dan penasaran dengan sikapnya yang aneh.
"Kau mau kemana, Ichigo-kun?!" teriak Naomi saat melihat Ichigo sudah berubah menjadi Shinigami meninggalkan tubuh manusianya yang sudah terisi dengan jiwa Kon.
"Halo Naomi-chan," sapa Kon ramah.
Naomi diam tak menanggapi salam dari Kon, walau tubuhnya adalah Ichigo namun dalamnya bukan terlebih sifat Kon sangat genit dan suka merayu.
Para Shinigami yang bertugas di kota terlihat kesulitan menghadapi para Menos bahkan ada yang terluka cukup parah terkena serangan. Tapi setelah Ichigo datang mereka semua terlihat senang sekaligus lega karena sang pahlawan datang disaat yang tepat.
Tak sulit bagi Ichigo mengalahkan gerombolan para Menos karena menurutnya kekuatan mereka dibawahnya dan kedatangan pemuda bersurai orange itu disambut senang juga antusia oleh para Shinigami lainnya karena berpikir kalau mereka pasti menang mengingat Ichigo adalah Shinigami terkuat di Soul Society dan kumpulan para Menos Grande bukanlah tandingannya.
Tapi tak hanya Ichigo saja yang datang Renji dan beberapa Komandan Gotei tiga belas lainnya juga ikut datang setelah mendengar alaram peringatan bahaya dari kupu-kupu hitam pembawa pesan.
"Getsuga Tensho!" Ichigo menebas Menos terakhir.
"Kenapa bisa ada banyak Menos Grande disini? Siapa yang mengundang dan membawa mereka?" tanya Renji penasaran.
"Entahlah tapi kita harus mencari tahu karena bisa aku rasakan Reiatsu besar dari atas gedung itu," tunjuk Ichigo ke arah depan.
"Kau benar, aku juga merasakannya," timpal Reiji.
Tapi sepertinya mereka tak perlu mencari dan mendatangi pria itu karena pria asing bersurai putih panjang dengan iris semerah darah itu datang kehadapan mereka semua.
Ichigo mengacungkan pedang tepat ke arah pria asing itu, "Siapa kau?" tanyanya geram.
Pria misterius ini tersenyum kecil lalu berdiri menatap Ichigo penuh arti, "Perkenalkan namaku adalah Maboroshi," ujarnya memperkenalkan diri seraya membungkuk badan dihadapan Ichigo.
Satu alis Renji terangkat, "Maboroshi?! Aku baru mendengar nama itu,"
Maboroshi tersenyum kecil, "Itu tak heran dan aneh karena ini pertama kalinya kalian bertemu dan melihatku tapi tidak bagiku yang sudah pernah melihat kalian semua,"
"Kapan? Aku tak ingat pernah bertemu denganmu selama ini," sahut Rangiku.
"Aku adalah bayangan dari Yhawch atau bisa disebut salah satu kekuatan Reiatsu dari Yhwach yang terpecah belah akibat pertarungan dengan Ichigo beberapa waktu lalu," jelasnya.
Semua orang kaget mendengar penuturan Maboroshi karena tak pernah mengira kalau pria bersurai putih dengan kedua mata merah darah itu adalah bagian dari tubuh Yhwach, sang raja Quincy.
"Jika benar apa yang dikatakan olehmu, apa kau datang ke kota ini untuk balas dendam pada Ichigo dan mencari pecahan Reiatsu Yhwach lalu menyatukannya kembali," tebak Toushiro.
"Ucapanmu hampir benar Komandan Hitsugaya," ujar Maboroshi membuat semua orang semakin penasaran dan bertanya-tanya.
Maboroshi menunjukkan sebuah kubus kecil transparan, dimana didalam kubus itu terdapat pecahan kekuatan Yhawch yang terpencar dan dikumpulkannya selama ini.
"Kubus ini sudah tak sanggup menampung kekuatan besar milik Yhawch-sama dan aku butuh wadah baru yang kuat sekaligus memiliki kekuata besar," seringainya.
Renji mengerti kemana arah pembicaraan Maboroshi yang sejak tadi membingungkan, "Apa kau mencari tubuh seseorang untuk kau masukkan kubus itu agar Yhawch bisa dibangkitkan kembali," tebak Renji dengan analisanya.
Rukia menoleh memandangi sang suami karena ucapan Renji benar dan ia setuju dengan pendapatnya.
Maboroshi tersenyum lebar, "Kau sangat pintar Renji tak heran jika kau mampu menikahi Rukia, adik dari Byakuya," puji Maboroshi.
"Aku tak butuh pujianmu, cepat katakan siapa yang menjadi targetmu jangan membuat kami semua menebak-nebak," teriak Renji kesal.
"Siapa orang itu?" timpal Rukia.
"Anak buahku sedang menjemputnya," Maboroshi tersenyum penuh arti ke arah Ichigo.
Perasaa Ichigo langsung tak enak, apa orang yang dimaksud oleh Maboroshi adalah Orihime, istrinya sendiri.
"Akan kuperjelas agar kalian semua tidak merasa penasaran dan terus bertanya-tanya. Orang yang kumaksud adalah bayi didalam kandungan Orihime karena menurutku dia adalah bibit unggul dan mampu menjadi wadah kekuatan serta tempat baru untuk Yhwach-sama sedangkan Orihime adalah pemilik kekuatan roh murni yang besar, kemampuannya pun tak dimiliki Shinigami ataupun Quincy manapun jadi aku tertarik padanya dan ingin menjadikannya salah satu anak buahku atau mungkin mejadi Ratu di istanaku," jelas Maboroshi yang langsung membuat Ichigo mengepalkan tangan.
"Tidak akan kubiarkan kau menyentuh istri dan anakku," desis Ichigo penuh amarah.
"Brengsek! Jadi para Menos itu adalah pengalih," racau Renji.
Rangiku melirik ke arah Ichigo yang masih berdiri diam dengan wajah marah bercampur panik, "Cepatlah pergi ke tempat Orihime, lindungi dia. Jangan sampai jatuh ketangan mereka,"
Maboroshi tersenyum kecil, "Tidak semudah itu,"
Ctik~
Maboroshi menjetikan jarinya tak lama sebuah lubang hitam terbentuk dan beberapa anak buahnya keluar.
Raut Ichigo dan teman-temannya terlihat kaget atau bisa dibilang syok karena sosok yang keluar adalah para Espada yang sudah pernah dikalahkan bahkan ada sosok Ulquiorra yang kini tak mengenakan topeng sama sekali namun garis hijau di bawah matanya masih tetap ada dan pandangan dingin serta dalam itu masih melekat di wajahnya tak berubah sama sekali.
"Ulquiorra!" seru Ichigo tak percaya pada pria bermata Emerald didepannya saat ini.
"Bukankah mereka para Espada yang sudah kami kalahkan,"
"Benar tapi kini mereka bukanlah Espada lagi karena aku membangkitkan mereka dengan membagi sedikit energi roh Quincy milikku, kekuatan mereka pun lebih kuat dari kalian semua. Jadi jika ingin menyelamatkan Orihime, kalahkan mereka terlebih dahulu,"
"Biar kami saja yang melakukannya, karena dulu kami yang membunuh mereka,"
"Sombong sekali," desis Maboroshi.
Maboroshi mengangkat salah satu tangannya dan mengelurkan sebuah kubus transparan kosong lalu melemparnya ke atas langit tak lama tubuh mereka semua terkurung didalam kubus transparan yang tadi dilemparkan Maboroshi.
"Ini adalah perisai terkuat, tak ada satupun yang bisa menembusnya apalagi menghancurkannya termasuk Tenshoga milikmu, Ichigo."
Rahang Ichigo mengeras karena keinginannya untuk menyelamatkan sang istri terhalangi saat ini satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah berdoa pada Kami-sama agar ada orang yang menjaga serta melindungi Orihime.
.
.
.
.
.
Jam di ruang tamu baru menunjukkan pukul sembilan pagi dan hampir satu jam lalu suami serta kedua adik iparnya pergi ke sekolah dan suasana rumah juga terlihat sepi karena sang ayah mertua, Isshin pergi keluar sebentar untuk membeli sesuatu meninggalkannya sendirian dirumah. Orihime yang merasa sedikit bosan dirumah mencoba mencari-cari resep kue di internet menggunakan ponsel canggih pemberian Ichigo dan setelah mencari ke beberapa situs, Orihime memutuskan membuat pancake, hal ini dilakukannya untuk mengisi waktu luang mengingat tak ada hal yang bisa dilakukan ditambah Ichigo dan orang rumah lainnya melarangnya untuk melakukan pekerjaan berat karena semua pekerjaan dirumah sudah dikerjakan Yuzu, Karin dan Ichigo itu karena mereka tak mau melihat Orihime bekerja ataupun kelelahan mengurus rumah.
"Tepung, telur, gula,susu," Orihime mengecek bahan-bahan untuk membuat pancake.
Iris abu-abunya fokus melihat kelayar ponsel mengecek kembali bahan apa saja yang dibutuhkan membuat pancake dan bagaimana caranya. Disaat Orihime sibuk dengan kegiatannya, ia tak menyadari kalau seorang pria berjalan mengendap-ngendap dibelakangnya lalu memukul lehernya cepat membuat Orihime jatuh tak sadarkan diri.
Alat pengocok telur yang dipegangnya tadi jatuh kelantai menimbulkan suara walau tak keras, dengan secepat angin pria ini langsung membawa tubuh Orihime yang tak sadarkan diri pada sang Tuan.
Sementara itu dari kejauhan Ichigo yang tengah sibuk bertarung berusaha mengalahkan para Quincy Inferno demi bisa keluar dari kubus dan menyelamatkan Orihime beserta sang anak merasakan firasat buru, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang dan dadanya terasa sakit hal pertama yang diingat Ichigo adalah sang istri.
Dan perasaan cemasnya bertambah menjadi takut sekaligus sedih tak kala mendapati sosok Orihime yang tak sadarkan diri berada dalam gendongan Maboroshi.
"Orihime!" teriak Ichigo seraya menggedor-gedor perisai berharap sang istri akan tersadar dan mendengar panggilannya.
"Orihimeeeeee!" panggil Ichigo sekali lagi dengan pandangan nanar menatap tubuh sang istri yang kini dibawa masuk kedalam lubang hitam bersama Maboroshi serta pria yang sudah berhasil menculiknya.
Sesaat sebelum Maboroshi masuk ia menoleh ke arah Ichigo lalu menyeringai penuh kemenangan karena berhasil menculik Orihime dan selangkah lebih dekat untuk membangkitkan kembali Yhwach.
Lubang hitam tersebut hilang bersama dengan perisai kubus yang sejak tadi menghalangi mereka semua termasuk Ulquiorra dan beberapa temannya menghilang bagaikan angin.
"Brengsek!" racau Renji kesal karena tak berhasil mengalahkan mereka.
Rukia berjalan menghampiri Ichigo yang berdiri sendu, wanita bersurai hitam ini tahu pasti saat ini hati dari temannya itu tengah sedih sekaligus khawatir karena bagaimanapun yang mereka culik adalah wanita yang sangat berarti dan paling dicintai Ichigo.
Diusapnya lembut pundak kiri Ichigo mencoba memberikan ketenangn dan menghibur hatinya walau apa yang dilakukan wanita bersurai hitam ini tidak berpengaruh banyak tak bisa menghilangkan kesedihan hatinya, tapi setidaknya ia berusaha meringkan kesedihan hati teman baiknya itu walau hanya sedikit.
"Kita pasti menolong dan membawa pulang Orihime, sama seperti beberapa tahun lalu ketika Orihime diculik oleh Ulquiorra ke Hueco Mundo," kata Rukia memecah kehinangan.
Semua orang diam melihat, menjadi penonton keduanya karena tak bisa berbuat apapun selain menguatkan hati Ichigo dan berada disampingnya memastikan kalau pemuda bermata madu itu tidak melakukan hal nekat ataupun gila dengan mencari Orihime seorang diri, karena masih ada mereka disampingnya sebagai sahabat yang akan selalu ada, untuk membantunya dalam keadaan sulit seperti ini.
"Terima kasih, Rukia." Ucap Ichigo pelan.
Wajah Ichigo tertunduk sendu, dicengkeramnya kuat pegangan pedang ditangannya melampiaskan kekesalan hati serta amarahnya karena merasa menjadi pria lemah, tak bisa melindungi dan menjaga istri serta calon anaknya. Andai saja ia lebih kuat dan tidak lengah mungkin kejadian seperti ini tak perlu terjadi.
"Orihime," panggil Ichigo lirih.
"Kuatkanlah dirimu kawan," ujar Renji seraya menepuk pelan pundak Ichigo.
Ichigo hanya tersenyum lemah membalas perkataan, wakil Komandan tiga belas itu.
.
.
.
.
.
.
Istana megah nan luas berdiri kokoh ditengah-tengah Hueco Mundo, disekitar istana dipasang Kekkai khusus yang membuat siapapun tidak bisa masuk kecuali para penghuni Hueco Mundo atau mengalahkan penjaga gerbang empat penjuru dimana setiap arah penjuru mata angin dijaga satu atau dua Espada Inferno sekelas Komandan Gotei tiga belas, membuktikan kalau memasuki istana Hueco Mundo yang baru tidaklah mudah karena banyak tembok penghalang yang harus dijebol.
Maboroshi menempatkan Orihime di kamar khusus dimana hanya ia dan pelayan pilihan yang bisa masuk ke kamar dimana disekitarnya diberikan Kekkai pelindung khusus. Orihime sudah berganti pakaian mengenakan gaun putih panjang dengan garis hitam di pinggang, Maboroshi juga memberikan sedikit kekuatan Yhwach untuk Orihime mengingat saat datang ke Hueco Mundo hawa kehidupannya semakin melemah jika terus dibiarkan tak butuh waktu lama hanya beberapa hari bisa dipastikan wanita pemilik mahkota oranye kecokelatan itu kehabisan energi kehidupan mengingat kini Orihime manusia biasa tak memiliki kekuatan roh ditambah bayi didalam kandungannya terus menghisap ernergi kehidupannya pengganti energi roh.
Sudah dua hari Orihime tak sadarkan diri dan selama itu juga Maboroshi selalu duduk kursi sofa putih menikmati teh aroma mawar menunggunya siuman, untuk melihat apa reaksi dari Orihime saat melihat dirinya.
"Ngh~" lenguh Orihime pelan.
Perlahan-lahan kedua mata Orihime terbuka, reaksi Orihime sudah diduga oleh Maboroshi yaitu kaget sekaligus takut karena berada ditempat asing bukan dirumahnya terlebih kini berada didalam kamar hanya berdua dengan seorang pria asing.
"Siapa kau? Dan aku dimana?" tanya Orihime panik memandang sekeliling kamar.
Maboroshi menaruh cangkir tehnya lalu bangun dari posisi duduknya, berjalan menghampiri Orihime kemudian duduk disamping ranjang menatap wanita bermata abu-abu tersebut penuh arti, "Namaku adalah Maboroshi, pemilik istana megah ini dan mulai kini, ini adalah rumahmu,"
"Ti-tidak...aku tidak mau disini, aku ingin pulang bertemu Ichigo-kun," ujar Orihime panik.
Orihime langsung beranjak turun dari ranjang walau dengan sedikit tertatih-tatih karena tubuhnya terasa lemas tak bertenaga tapi ia harus segera pergi dari tempat ini dan bertemu dengan keluarganya juga sang suami yang entah mengapa begitu dirindukannya.
Maboroshi duduk diam dipinggir ranjang memandang malas Orihime yang sibuk berlari berusaha keluar dari kamar tanpa menyadari kalau salah satu kakinya terikat rantai hitam panjang dengan sebuah bola besi hitam sebagai pemberat dan ketika beberapa langkah lagi Orihime sampai di pintu ia tidak bisa bergerak, iris abu-abunya menunduka kebawah dan baru sadar kalau kakinya terikat rantai membuatnya tak bisa pergi kemanapun bahkan keluar dari kamar.
"Kau tak akan bisa lari atau kabur dari sini, Orihime," ujar Maboroshi seraya berjalan mendekat pada Orihime.
Reflek Orihime mundur kebelakang mencari tempat aman sampai punggungnya menubruk tembok membuatnya terpojok tak bisa pergi kemanapun, iris abu-abunya menatap nyalang namun sarat akan rasa takut itu terlihat jelas dari bahunya yang gemetaran, "Kenapa kau menculiku? Aku sudah tak memiliki kekuatan roh lagi, tak ada gunanya kau mengurungku disini,"
"Memang tapi aku sudah memberikan sedikit kekuatan rohku padamu, jika kau tak percaya gunakan kekuatan Shun Shun Rikka milikmu untuk memanggil kelima penjaga bunga Hibiscus,"
Reflek tangan Orihime menyentuh kepalanya mencari jepit rambut miliknya yang merupakan perwujudan kekuatan rohnya dan ternyata ada, jadi orang asing itu tak berbohong ataupun bercanda dengannya tapi bagaimana bisa?
Kejadian yang dialami Orihime saat ini sama seperti waktu itu dimana Ulquiorra membawanya ke Hueco Mundo karena Aizen menginginkan kekuatannya tapi alasan pria asing ini menculiknya untuk apa? Orihime sudah tidak memiliki kekuatan roh lagi dan jika kekuatannya kembali itupun berkat bantuan pria asing bermata merah tersebut.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Kekuatanku jauh dibawahmu bahkan dengan mudah kau bisa membunuhku,"
"Anak didalam kandunganmu juga dirimu," kata Maboroshi menatap Orihime dalam.
Kedua mata Orihime membelalak sempurna, rasanya jantungnya copot dari rongga mendengar keinginan Maboroshi, menginginkan anaknya yang masih didalam kandungan. Memang ada apa dengan anaknya? Dan mengapa pria itu menginginkannya, apa karena anak ini adalah darah daging Ichigo pemilik kekuatan Shinigami terkuat.
Reflek Orihime memeluk perutnyanya berusaha melindungi sang buah hati, "Tidak akan kubiarkan kau melukai anakku, akan kulindungi ia sekalipun harus mengorbankan nyawaku," kata Orihime penuh keberanian menatap tajam Maboroshi tak ada rasa takut sama sekali.
Maboroshi tertawa kecil melihat ekspresi dan sikap Orihime yang sangat diluar dugaan, ternyata wanita bermata abu-abu ini sangat menarik dan membuatnya semakin ingin memiliki bukan hanya parasnya yang jelita dan menawan melainkan memiliki keberanian serta semangat tinggi untuk bertahan juga melawan.
"Aku suka sikapmu, Orihime tapi seberapa kuat kau melawan dan bertahan, bayi itu akan tetap menjadi milikku karena dia adalah wadah baru untuk kebangkitan Yhwach-sama," Maboroshi memegangi dagu Orihime memaksanya untuk memandang wajahnya.
"Dan persiapkan dirimu untuk menjadi Ratu di istana ini." Maboroshi mencium dalam Orihime membuat wanita dalam balutan gaun putih panjang itu meronta bahkan menggigit bibir Maboroshi hingga berdarah.
Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Orihime karena berani berbuat lancang dengan menggigit bibirnya, padahal banyak wanita cantik rela mengantri dan melakukan apapun demi bisa mendapatkan satu kecupan atau pelukan sayang darinya. Jarang-jarang Maboroshi memberikan perlakukan istimewa ini secara gratis dan cuma-cuma untuk seorang wanita.
Maboroshi mencengkeram kuat pipi Orihime, "Beberapa hari lagi, kita akan melakukan upacara pernikahan dan kau tak bisa menolak atau melarikan diri,"
Orihime menggelengkan kepala, "Ti-tidak...a-aku sudah menikah,"
"Tapi kalian belum melakukan upacara pernikahan dan mengucapkan janji suci dikuil maupun gereja, hanya diatas selembar kertas yang dengan mudah bisa aku robek dan bakar menjadi sepihan debu." Ujar Maboroshi dengan seringai diwajah.
"Kenapa? Kau melakukan ini padaku? Banyak gadis diluar sana yang cantik dan lebih kuat dariku, tapi mengapa kau memilihku," isak Orihime.
Maboroshi mengelus lembu pipi Orihime yang sudah basah oleh air mata, "Karena kau sangat istimewa dimataku dan aku jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu,"
Orihime menepis kasar tangan Maboroshi lalu membuang muka enggan menatap pria bermata merah tersebut, "Aku hanya mencintai Ichi..."
BUGH!
Maboroshi meninju tembok disamping wajah Orihime hingga retak, "Jangan sebut nama pria itu didepanku, mulai kini kau harus melupakannya," ujarnya dingin.
Tubuh Orihime gemetar ketakutan melihat ekspresi Maboroshi, walau bibirnya terkatup rapat tak mengeluarkan sepatah kata pun namun liquid bening terus mengalir dari iris abu-abunya.
Maboroshi pergi meninggalkan kamar, suara debaman pintu yang dibanting terdengar jelas ditelinga Orihime. Tak lama Maboroshi pergi Orihime jatuh terduduk menyandar ditembok, liquid bening mengalir deras dari iris abu-abunya membashi pipi serta gaun putih miliknya.
"Hiiiks...Ichigo-kun..." isak Orihime memanggil nama sang suami.
Saat ini Orihime benar sangat takut dan butuh Ichigo, tempatnya bersandar juga berlindung.
.
.
.
.
.
Rukia, Renji dan yang lainnya berkumpul dikediaman Kurosaki, menunggu pemuda bersurai orange itu siuman setelah tadi berubah menjadi Hollow sempurna dan mengamuk ditengah kota memaksa Renji dan para Komandan Gotei tiga belas lainnya menghentikannya sebelum kota menjadi hancur dan jatuh korban bahkan Urahara berserta sang istri Yoruichi datang membantu karena merasakan Reiatsu yang dikeluarkan Ichigo lebih besar dari gerombolan Menos Grande tadi.
"Bagaimana keadaannya Yuzu?" tanya Isshin pada putrinya saat keluar dari kamar Ichigo.
"Kak Ichigo masih demam tinggi ayah, bahkan terus mengiggau memanggil nama kak Orihime," jawab Yuzu sendu.
Isshin menghela nafas berat, ia tak mengira kalau Ichigo akan hilang kendali mengamuk di tengah kota bahkan sampai harus membuatnya dan para Komandan Gotei tiga belas kewalahan menanganinya.
"ORIHIME!" teriak Ichigo saat terbangun dari tidurnya memanggil nama sang istri.
Semua orang yang berada diruang tamu langsung berlari panik sekaligus kaget kedalam kamar mendengar teriakkan Ichigo.
BRAK!
Isshin membuka cepat pintu kamar dan berlari masuk menghampiri sang putra, "Ada apa Ichigo?" tanyanya panik bercampur cemas.
"Orihime, ayah!"
"Ya, ayah tahu itu Ichigo, sekarang tenangkan dirimu dulu kita akan pikirkan jalan serta rencana menyelamatkan istri dan anakmu,"
"Tidak. Aku akan menyelamatkan istri dan anakku," Ichigo berusaha turun dari ranjang namun ditahan oleh Isshin.
"Kau mau mencarinya kemana? Jika pun kau mengetahui markas mereka, apa kau akan pergi sendirian dengan mengorbankan nyawamu?" bentak Isshin.
"Aku akan mencari, jika perlu akan aku jelajahi seluruh dunia roh bahkan ke Neraka sekalipun," ronta Ichigo.
"Lepaskan aku ayah, aku harus menyelamatkan istri dan anakku...mereka sedang dalam bahaya," lirih Ichigo.
Liquid bening mengalir dari iris madunya, ditundukkan dalam wajahnya menutupi jejak air matanya. Malu pada sang ayah juga teman-temannya karena menangis dihadapan mereka semua, menunjukkan kelemahan serta kesedihan hatinya.
Semua orang diam membisu melihat Ichigo karena tak ada yang bisa mereka perbuat selain memberikan ucapan semangat untuk membuatnya lebih tenang.
"Orihime-ku, sedang menangis ketakutan ayah, Orihime-ku...dia..." isak Ichigo.
Tubuh Ichigo gemetar ketakutan, memikirkan nasib serta keadaan istri dan calon buah hatinya. Sosok Ichigo yang gagah, kuat dan penuh keberanian terlihat rapuh dan lemah karena kehilangan sang istri dan calon buah hatinya, sekuat apapun dan sehebat apapun Ichigo tetap saja pemuda bermata madu itu memiliki kelemahan dan perasaan sedih kehilangan sesuatu yang paling berharga dihidupnya.
"Ayah mengerti perasaanmu, Ichigo tapi untuk saat ini tenangkanlah dirimu kita semua pasti akan menyelamatkannya."
Ichigo memeluk tubuh sang ayah dan baru pertama kali dalam hidupnya Ichigo memeluk sang ayah, saat ini ia butuh sandaran juga orang yang menguatkan hatinya.
Yuzu menangis sedih melihat sang kakak, bahkan Karin pun ikut merasakan kesedihan sang kakak dan menangis walau tidak secara terang-terangan seperti Karin karena merasa gengsi mengingat ada Toushiro didekatnya, bisa-bisa nantinya bocah (menurut pendapat Karin karena bertubuh lebih pendek darinya) bersurai putih jabrik itu akan meledeknya habis-habisan.
Rukia memandang nanar sosok Ichigo, ia tak pernah menyangka kehilangan Orihime bisa membuat Ichigo jadi selemah itu dan baru pertama kalinya selama mengenal Ichigo melihat sosoknya yang begitu rapuh. Kini Rukia tak ragu dan percaya sekaligus senang kalau memang pemuda bersurai orange itu sangat mencintai Orihime sepenuh hatinya.
"Kita pasti menemukan Orihime dan membawanya pulang kerumah Ichigo, sama seperti waktu itu, saat Ulquiorra menculiknya ke Hueco Mundo,"
"Ya, Rukia benar. Aku akan ikut bersamamu menolong Orihime," sambung Renji penuh semangat.
"Aku juga begitu dam bagaiman denganmu Matsumoto," lirik Toushiro pada wakil Komandannya itu.
"Tentu saja aku ikut, akan aku hajar pria yang sudah berani menculik Orihime," sahut Rangiku dengan mata berapi-api.
Karin tersenyum kecil, dihapusnya cepat bekas jejak air mata dipipinya, "Aku juga ikut," ujar Karin.
"Jangan. Sebaiknya kau disini saja menjaga kedamaian Karakura," ujar Toushiro.
"Tidak mau, aku juga mau menyelamatkan kak Orihime,"
"Kau itu lemah, kami saja sekelas para Komandan harus bertarung mati-matian melawan mereka. Apalagi kau hanya seorang Shinigami pengganti," kata Toushiro ketus.
Wajah Karin memberengut kesal, "Jangan remehkan kekuatan dan kemampuanku, bocah pendek,"
Empat buah sudut siku muncul didahi Toushiro saat gadis bersurai hitam dengan rambut dikuncir satu keatas itu memanggilnya bocah apalagi dengan tambahan kata pendek dibelakangnya, membuatnya darahnya mendidih panas.
"Apa perlu aku membekukan tubuhmu agar mulutmu itu bisa diam dan tak memanggilku bocah dan pendek lagi," ujar Toushiro kesal terpancing marah karena perkataan Karin.
Rangiku tertawa kecil melihat tingkah mereka berdua yang seperti kucing dan tikus itu, "Sudah, sudah jangan bertengkar nanti dari benci menjadi cinta," kata Rangiku dengan setengah menggoda.
"TIDAK MUNGKIN!" sahut keduanya bersamaan seraya menatap tajam ke arah Rangiku.
Wanita bersurai orange bergelombang ini tersenyum kikuk karena wajah keduanya terlihat menakutkan dan seakan-akan dirinya akan dimakan. Pertengkaran keduanya mencairkan suasana yang tadinya sedih dan tegang menjadi acara saling goda menggoda Karin dan Toushiro karena dulu juga Renji dan Rukia saat kecil sering bertengkar sampai mereka dewasa pun masih sering bertengkar karena berbeda pendapat.
~(-_-)~
Langit di Hueco Mundo bersinar terang, bahkan berbentuk bulat sempurna juga besar dan dari balik jendela kamarnya sekaligus penjara bagi Orihime, ia berdiri didekat jendela memandangi bulan memikirkan sang suami yang jauh darinya. Diusapnya lembut perut buncitnya, menyalurkan kasih sayang pada sang buah yang tengah bergelut nyaman didalam rahimnya tak mengetahui tentang dunia luar juga keadaan sang ibu yang terpenjara.
"Apakah kau baik-baik saja disana, Ichigo-kun?" tanyanya pada diri sendiri.
Hanya hembusan angin yang membalas pertanyaan Orihime, wanita bersurai oranye kecokelatan ini berharap jika perasaan rindunya bisa tersampaikan oleh hembusan angin pada sang suami. Terus menangis dan meratapi keadaannya itu tak akan mengubah apapun terlebih kini dirinya tengah berbadan jika terus bersikap egois dan menyakiti diri sendiri itu sama saja menyakiti sang anak walau dengan berat hati Orihime bersikap menurut, memakan semua makanan yang dihidangkan pelayan tanpa menolak.
Sudah dua hari Orihime berada di istana Maboroshi menjalani hari-harinya yang begitu menyiksa dan tinggal menunggu saja upacara pernikahannya akan dilaksanakan, semua pelayan juga sudah terlihat sibuk menghias istana agar tampak indah bahkan gaun pengantin putih panjang sudah dipersiapan Maboroshi untuknya dan terpajang indah ditengah kamar, setiap melihat gaun itu hatinya selalu merasa sedih mengingatkannya dengan pria bermata merah itu yang memaksa ia untuk menikah dengannya.
Namun jauh didalam lubuk hatinya yang terdalam Orihime percaya kalau sang suami pasti akan datang menolongnya dan sang buah hati. Orihime akan bersabar menunggu Ichigo untuk menjemputnya pulang kerumah.
"Ichigo-kun." Batin Orihime penuh harap.
TBC
A/N : Maafkan saya karena baru bisa melanjutkan Fic ini padahal sebenarnya Fic ini sudah selesai di ketik minggu lalu tapi karena terkendala waktu juga pekerjaan membuat saya tidak bisa mempublishnya#Bungkuk badan dalam-dalam.
Big Thank's to :
Kimkimhyuga,sasuhina always,Embun pagi,guest,memoryru,INOcent Cassiopeia, ,Mell Hinaga Kuran,soya,Los malaventurados,NN
Untuk kelanjutannya saya tidak bisa janji cepat tapi akan saya usahakan agar tidak menelantarkannya terlalu lama.
Fic ini jauh dari kata sempurna apalagi bagus tapi saya ingin mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang sudah mau membaca Fic ini.
Selamat tahun baru walau masih dua hari menunju tahun 2017 dan semoga ditahun depan lebih baik lagi ^^
Ogami Benjiro II
