Disclaimer : Tite Kubo
Rate : T
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort, Friendship
Pair : Ichigo Kurosaki x Orihime Inoue
(IchiHime)
~ Heart and Soul ~
WARNING : TYPO'S, NO BAKU, CANON, OOC TINGKAT AKUT, OC, EYD BERANTAKAN, ALUR CEPAT, RE-MAKE DARI SOUL OF LOVE, DLL
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
X0X0X0X0X0X0X0X
Seperti malam-malam sebelumnya, kegiatan Orihime saat didalam kamar adalah berdiri dibawah jendela menatap bulan dari balik jendela kamar yang tinggi sama seperti yang dilakukannya ketika Ulquiorra menculiknya atau lebih tepatnya membawa paksa ia menggunakan ancaman agar mau ikut ke Hueco Mundo, menemui Aizen karena tertarik pada kekuatan Shun Shun Rikka miliknya. Dan kejadian itu terulang kembali, Orihime diculik kembali oleh anak buah Maboroshi lalu mengurungnya didalam kamar tak menginjikannya keluar satu langkahpun dari kamar terlebih diluar kamar dua orang penjaga selalu ada membuat Orihime tak bisa keluar ataupun kabur dari sangkar emas yang mengurungnya.
Alasan mengapa Orihime diculik karena pria bermata merah itu menginginkan anaknya yang masih didalam kandungan sebagai wadah baru kebangkitan Yhwach sang Raja Quicny dan tak hanya itu saja Maboroshi berniat menikahinya, menjadikan ia sebagai Ratu di istana ini padahal sudah jelas kalau Orihime sudah menikah walau ia dan Ichigo belum menggelar upara pernikahan dan mengucapkan janji suci namun pernikahan mereka sah dimata hukum juga negara.
"Ichigo-kun." Lirihnya pelan hampir terdengar seperti bisikan.
Kedua tangannya melingkar erat diatas perut buncitnya, mencoba menyalurkan perasaan sayang serta berusaha melindunginya dari apapun, setetes air mata meluncur deras dari iris abu-abunya membasahi pipi gembil miliknya.
Saat ini yang bisa dilakukan Orihime hanya menunggu, berhap serta berdoa pada Kami-sama kalau sang Ichigo segera datang menyelamatkannya sebelum Maboroshi menggelar upacara pernikahan, menjadikan ia miliknya selamanya memutuskan ikatan suci yang sudah terjalin.
Disaat Orihime tengah menikmati kesendirian serta kesedihannya, tiba-tiba seseorang datang dan berdiri tepat dibelakangnya menatapnya dalam dan penuh arti.
"Onna," panggil pria ini datar.
Kedua mata Orihime melebar sesaat, mengenali suara bariton yang memanggil namanya dengan sebutan itu, ketika berbalik ia mendapati seorang pria bersurai hitam legam dengan iris Emerald menatapnya dingin dan kulit putih pucatnya tak pernah bisa dilupakan sama sekali terlebih wajah datar tanpa ekspresi.
"U-Ulquiorra!" serunya tak percaya.
Wajah Orihime terlihat masih syok karena ia sangat tahu kalau sosok yang ada dihadapannya saat ini sudah lenyap menjadi serpihan debu setelah kalah bertarung dengan Ichigo beberapa tahun lalu.
"Kau masih mengingatku, Onna?"
"Ba-bagaimana bisa, kau...kau..." Orihime menatapnya tak percaya.
"Maboroshi-sama membangkitkanku kembali dan kini aku bukanlah Espada," Ulquiorra membuka Hakama putihnya memperlihatkan dadanya yang tak ada lubang seperti waktu itu dimana dulu ia masih berwujud Hollow.
Orihime menutup mulutnya, pandangan matanya kaget dan syok, "Ti-tidak mungkin..."
Ulquiorra berjalan mendekati Orihime, iris Emeraldnya menatap penuh arti pada Orihime, "Aku datang kesini bukan untuk memberi salam atau membantumu keluar dari istana,"
"La-lalu,"
"Aku hanya ingin melihatmu saja,"
Orihime melempar senyum sendu pada Ulquiorra, kedua tangannya melingkar diperut buncitnya menyalurkan rasa sayang sang buah hati, "Aku senang bisa bertemu denganmu lagi, walau bukan dalam keadaan seperti ini yang aku harapkan,"
Ulquiorra terdiam, iris Emeraldnya melirik sekilas perut buncit Orihime yang didalamnya ada sebuah kehidupan, buah cintanya dengan pemuda bersurai orange itu, "Pertemuan seperti apa yang kau harapakan dari mahkluk sepertiku, Onna?"
"Aku berpikir seandainya kita bisa menjadi teman bukan musuh," ucapnya dengan penuh harap.
Sesaat kedua mata Ulquiorra melebar sempurna, tak pernah ia sangka kalau kata-kata seperti itu akan keluar dari mulut Orihime, padahal dulu sewaktu menjadi Espada salah satu anak buah terkuat hasil ciptaan Aizen, ia pernah menculiknya ke Hueco Mundo menggunakan siasat dengan cara mengancam tapi apa yang sudah diperbuatnya dulu tak membuat wanita bersurai oranye kecokelatan itu membencinya malah ingin menjadi teman. Hal ini sungguh lucu dan aneh, bagaima bisa Orihime memiliki hati serta perasaan seperti itu membuatnya semakin penasaran dan tertarik pada sosoknya yang sangat berbeda dengan manusia lainnya.
Tangan Ulquiorra terangkat seolah-olah ingin meraih sesuatu, "Apa kau takut padaku, Onna?"
Orihime terdiam sesaat, pertanyaan itu sama seperti yang ditanyakan Ulquiorra dulu sesaat sebelum menghilang menjadi serpihan debu. Jika dulu Orihime tak sempat mengatakannya karena Ulquiorra keburu musnah kini akan ia ucapkan kembali dengan suara lantang.
"Tidak. Aku tidak takut padamu, Ulquiorra,"
Senyuman kecil menghiasi wajah tampan Ulquiorra dan ini pertama kalinya pria berwajah dingin dan datar bagaikan papan itu tersenyum terlebih untuk seseorang, sebuah ekspresi yang sangat langka terjadi. Ulquiorra merasa senang mendengar pengakuan Orihime yang tak takut padanya, entah mengapa hatinya yang dulu tak merasakan apapun saat ini tiba-tiba terasa hangat seakan-akan ada getaran aneh didalam hatinya, apa karena kini dirinya bukan lagi seorang Hollow maka ia memiliki perasaan seperti ini.
"Apa yang membawamu kemari, Ulquiorra. Apakah Maboroshi yang memerintahkanmu?"
"Tidak. Aku datang diam-diam,"
"Untuk apa kau melakukan itu,"
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu,"
"Memastikan apa?"
"Hal itu tak perlu aku jelaskan padamu cukup hanya saja aku yang tahu dan satu hal lagi lusa adalah upacara pernikahanmu dengan Maboroshi,"
Wajah Orihime tertunduka sendu, "Dari pada menjadi istri dari pria itu lebih baik aku mati bersama anakku tapi jika hal itu aku lakukan, Ichigo-kun pasti akan merasa sedih dan bersalah," ucapnya lirih.
Orihime benar-benar merasa putus asa tak tahu apa yang harus dilakukannya, ingin rasanya ia pergi berlari dari sini kembali pulang kerumahnya dimana suami, keluarga dan teman-temannya tengah menunggunya tidak terpenjara seperti ini dengan kaki terikat rantai besi seperti seorang kriminal.
"Maafkan aku, Onna,"
"Kau tak perlu meminta maaf, Ulquiorra, ini bukan salahmu,"
"Aku memang tak bisa membebaskanmu dari tempat ini tapi masih ada satu hal yang bisa aku lakukan untukmu,"
"Untukku?"
"Anggap saja ini sebagai permintaan maafku padamu," ujar Ulquiorra kemudian pergi menghilang dengan cepat bagaikan angin meninggalkan Orihime yang berdiri mematung dengan ekspresi wajah syok bercampur bingung.
"Ulquiorra."
~(-_-)~
Suasana makan malam terasa canggung bahkan terdengar sepi tak ada percakapan atau kata-kata yang keluar dari keduanya, hanya suara garpu serta sendok yang saling beradu menjadi irama tersendiri dimeja makan terlebih Orihime hanya mengaduk-aduk sup kentang miliknya tak berselera makan sama sekali karena sudah merasa kenyang duluan.
"Kenapa kau tak memakannya?" tanya Maboroshi dari kursinya tak jauh dari tempat Orihime duduk.
"A-aku sudah kenyang,"
"Apa kau tak suka dengan masakan dari koki di istanaku, atau perlu aku menghabisi mereka karena tak bisa memasak dengan baik," ujar Maboroshi dengan nada mengancam.
Sementara para koki yang memasak makanan diatas meja serta pelayan yang menghidangkan masakan itu berdiri dengan wajah pucat pasi, bahkan berkeringat dingin.
"Ja-jangan lakukan itu,"
"Kalau begitu, habiskan makananmu karena nyawa mereka ada ditangamu," Maboroshi menatap dingin Orihime.
Wajah Orihime menunduk dalam, perlahan-lahan ia memasukkan sup kentang yang sejak tadi diaduk-aduknya itu kedalam mulut, walau merasa enek dan ingin muntah Orihime berusaha menghabiskan sup dimangkuknya.
Maboroshi tersenyum senang karena Orihime begitu patuh dan menuruti semua perkataannya walau harus mengancamnya, tapi itu dilakukannya untuk kebaikan Orihime sendiri, ia tak mau kalau wanita bersurai oranye kecokelatan itu jatuh sakit karena jarang makan terlebih besok lusa adalah upacara pernikahan mereka berdua dimana akan ia buat wanita didepannya saat ini menjadi miliknya untuk selamanya, tak akan pernah ia lepaskan atau biarkan siapapun orang yang mengambilnya termasuk Ichigo.
Setelah acara makan bersama Maboroshi, Orihime diajak berjalan-jalan di istana oleh pria bermata merah itu kedua kakinya juga tidak terikat rantai dengan bola besi sebagai pemberat, kini Orihime bisa berjalan bebas didalam istana walau harus dikawal para pengawal juga Maboroshi takut jika dirinya kabur dari istana.
Maboroshi mengajaknya ke balkon istana, pemadangan bulan besar dengan gurun pasir yang terhampar luas yang dilihat Orihime dan apa yang dilihat serta dialaminya sama seperti beberapa tahun lalu saat Aizen menculiknya.
Iris abu-abu Orihime memandang sendu bulan purnama yang merupakan satu-satunya penerang di Hueco Mundo.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, Orihime,"
Orihime diam tak menanggapi sampai iris abu-abu miliknya melebar sempurna melihat pria bersurai hitam dengan iris Emerald yang tubuhnya diseret oleh dua orang Quincy dan ia sangat mengenali siapa sosok pria itu.
"U-Ulqiorra!" serunya dengan berlinang air mata.
Anak buah Maboroshi melemparkan tubuh Ulquiorra yang tak berdaya dan penuh luka ke hadapan Orihime.
Ingin rasanya Orihime berlari menghampiri Ulquiorra dan menyembuhkan semua luka di tubuhnya, padahal beberapa waktu lalu Ulquiorra berkata akan melakukan sesuatu untuk Orihime tapi sepertinya Maboroshi mengetahui rencana dari mantan Espada itu. Tubuh Orihime sama sekali tak bisa digerakkan karena terkunci oleh Maboroshi yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Kau kejam sekali, Maboroshi!" teriak Orihime dengan berlinang air mata.
"Apapun akan aku lakukan untuk bisa memilikimu sekalipun harus membunuh dia atau pria yang kau panggil suami itu," desis Maboroshi.
Tubuh Ulquiorra yang tak berdaya di injak-injak oleh kedua pria berpakaian Quincy membuat pria bermata Emerald itu merintih kesakitan, "Hentikan! Jangan lakukan itu, aku mohon...jangan lukai Ulquiorra lagi," isak Orihime.
Maboroshi menjilat pipi Orihime yang basah oleh air mata, "Kenapa kau harus menangis dan merasa sedih untuk orang seperti itu,"
"Ka-karena dia adalah temanku..." lirih Orihime menatap sendu wajah Ulquiorra.
Kedua mata Ulquiorra melebar sempurna mendengar pengakuan Orihime yang menggapnya sebagai teman bukan musuh, "O-Onna..."
Ulquiorra melemparkan senyuman tipis pada Orihime, "Terima kasih." Ucapnya sesaat sebelum menghilang.
"ULQUIORRA!" jerit Orihime histeris karena menggap kalau pria itu mati menghilang seperti waktu itu padahal nyatanya Ulquiorra pergi melarikan diri menggunakan jurus pemindah tubuh seperti Shunpo tapi lebih cepat dari jurus itu.
Dengan sisa kekuatannya Ulquiorra berusaha melakukan sesuatu untuk Orihime dan jika dirinya harus mati kembali karena menolong Orihime, ia rela malah merasa senang karena ada hal yang bisa ia lakukan disaat terakhirnya.
.
.
.
.
.
Suasana makan malam keluarga Kurosaki yang biasanya terdengar ramai dengan pertengkaran kecil dari para anggota keluarga kini terlihat sepi bahkan Ichigo tidak ada ditempat duduknya, pria bersurai orange itu mengatakan tidak lapar dan ingin beristirahat didalam kamar setelah pergi ke Soul Society memantau perkembangan pencarian jejak Maboroshi dan anak buahnya walau sampai saat ini hasilnya nihil, Komandan Mayuri Kurotsuchi bersama anak buahnya dari bagian teknologi belum bisa menemukan tanda-tanda keberadaan pria bermata merah tersebut membuat pusing semua orang bahkan membuat Ichigo hampir gila, cemas memikirkan sang istri serta sang buah hati. Apa yang sedang menimpa Ichigo bisa mereka semua pahami mengingat yang diculik Maboroshi adalah istri sekaligus calon sang buah hati, orang terpenting dalam kehidupan Ichigo jadi tak heran jika pemuda yang dijuluki Shinigami terkuat itu terlihat berusaha keras mencari markas Maboroshi.
"Yuzu, dimana Ichigo?" tanya Isshin seraya menarik bangku kemudian duduk.
"Ichi-Nii, tidak mau makan ayah,"
Isshin menghela nafas pelan, "Dasar anak itu," serunya.
Wajah Karin dan Yuzu terlihat sedih memikirkan kondisi sang kakak yang selama beberapa hari ini tak mau makan, terus pergi bolak-balik ke Soul Society mencari tahu perkembangan pencarian Orihime serta markas dari Maboroshi. Tubuh Ichigo sendiri terlihat sedikit kurus bahkan kedua kantong matanya menghitam menandakan kurang tidur atau beristirahat membuat semua orang takut jika nantinya Ichigo jatuh sakit.
"Biarkan saja Ichigo sendirian di kamar jangan ada yang mengganggunya,"
"Baik, Ayah." Sahut Yuzu sendu.
Bulan bersinar dengan terang ditemani bintang-bintang membuat pemandangan malam terlihat indah nan mempesona namun keindahan alam yang tengah tersaji serta terhampar luas didepan mata tak membuat pemuda bersurai orange dengan iris madu yang tengah berdiri di depan jendela kamarnya terlihat senang atau menikmati pemandangan malam, iris madu miliknya menerawang jauh menatap penuh arti pada kelamnya langit malam seraya membayangkan wajah seorang wanita cantik bersurai oranye kecokelatan dengan penuh rasa cemas bercampur rindu.
Pria tampan ini merasa cemas dan resah, tak bisa lagi melihat wajah wanitanya yang selalu tersenyum cerah, mendengar suaranya yang memanggil dengan penuh cinta, menyentuh dan memeluk erat tubuhnya dalam dekapan hangat demi bisa merasakan setiap detak jantungnya yang selalu berdebar kencang serta menghirup dalam aroma tubuhnya yang wangi serta manis seperti madu.
Pria bermata madu ini sangat begitu merindukan wanitanya. Istri, calon ibu dari anaknya dan wanita yang paling dicintainya, hanya wanita itu yang selalu ada didalam relung hati, tersimpan dalam dan akan selalu ia puja, damba, karena istrinya adalah wanita tercantik yang pernah ditemui walau banyak gadis cantik yang dikenal serta dilihatnya selama ini namun apa yang ada didalam hati wanitanya membuat ia terlihat sangat cantik dan menawan, berbeda dari wanita cantik lainnya. Apa yang dimiliki wanita bersurai oranye kecokelatan itu tak dilihat dan ditemukan pada wanita yang dikenalnya selama ini, walau dulu dirinya sangat dekat dan banyak menghabiskan waktu bersama, bahkan tinggal satu kamar dengan wanita Shinigami bersurai hitam dari keluarga bangsawan Kuchiki yang kini telah menikah dengan teman masa kecilnya, wakil Komandan sang kakak, Renji Abarai, tapi tetap saja baginya sosok wanita bermata abu-abu itu terlihat begitu istimewa dan tak tergantikan.
"Orihime." Ucapnya penuh nada kerinduan.
Betapa Ichigo sangat merindukan sosok wanita bermahkota oranye kecokelatan itu, walau ini baru beberapa hari Orihime diculik namun rasanya seperti ratusan tahun. Hari-harinya begitu sepi dan hampa karena tak bisa melihat, mendengar dan memeluk tubuh indah sang istri.
Jika dulu saat disinggung masalah cinta dan ditanya siapa gadis yang begitu berarti untuknya, tentu saja jawabanya tidak ada karena Ichigo semua teman-teman serta keluarganya adalah orang paling berati dan ia sayangi tak akan ada satu nama gadis disebutkan. Tapi kali ini, jika ditanya kembali siapa wanita yang dicintainya selain sang ibu pasti Ichigo akan menjawab dengan lantang dan sepenuh hati kalau wanita itu adalah Orihime Inoue.
Banyak hal yang sudah dilakukan wanita bersurai oranye kecokelatan itu untuk Ichigo, walau tak bisa menghilangkan hujan dihati pria bermata madu tersebut tapi Orihime sudah bayak memberikan pengorbanan yang begitu besar, dari rela menukar nyawanya sendiri bahkan sampai harus kehilangan kekuatan roh demi bisa menyelamatka Ichigo dari kematian, pergi dari kota Karakura agar tidak menjadi penghalang hubungan antara Ichigo dengan Rukia padahal waktu itu Orihime tengah mengandung dan lebih memilih pergi tanpa memberitahukan tentang keadaannya, menghilang tanpa jejak membuat semua orang panik termasuk dirinya. Orihime memilih mengala, mengabaikan perasaan serta keadaannya demi kebahagian Ichigo.
Padahal waktu itu Orihime bisa saja mendatangi Ichigo, mengatakan mengenai kehamilannya dan meminta pertanggung jawaban tapi wanita bermata abu-abu itu memilih diam dan pergi menghilang karena tak mau menjadi pengganggu. Orihime berhak marah atau membenci Ichigo karena dirinyalah masa depan Orihime hancur, tak bisa lulus SMA melanjutkan ke jenjang universitas, cita-citanya untuk menjadi seorang guru harus sirna karena kehamilannya, sempat terpikir dalam hati kalau Orihime akan menggurkan kandungannya tapi pemikiran Ichigo salah.
Orihime tetap menjaga janin didalam perutnya bahkan dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri karena sang buah hati ternyata tanpa disadari oleh Orihime sedikit demi sedikit menghisap energi kehidupan milik Orihime sebagai Reiatsu atau kekuatan roh mengingat saat ini Orihime hanyalan manusia biasa tak memiliki kekuatan roh. Sudah begitu banyak pengorbanan yang dilakukan Orihime untuk Ichigo, betapa besar rasa cintanya untuk dirinya yang mungkin tak bisa Ichigo dapatkan dari gadis manapun. Seorang gadis yatim piatu yang hidup, berjuang seorang diri menjalani kehidupan tanpa pernah sekalipun menunjukkan rasa sedih ataupun kesepiannya karena selalu merasa senang, gembira memiliki teman-teman disekolah, Soul Society dan selalu bisa melihat sosok pemuda yang selalu dicintai, kagumi olehnya, Ichigo Kurosaki.
Iris madunya menatap lurus ke arah bulan berharap sang istri akan melihat bulan sama seperti yang dilakukannya saat ini. Hanya pada hembusan angin Ichigo titipkan pesan rindu pada sang kekasih hati berharap dirinya yang entah berada dimana akan baik-baik saja bersama sang anak, bagaimanapun caranya sekalipun harus menerjang pintu Neraka akan Ichigo lakukan demi menyelamatkan dan membawa kembali istri sekaligus sang buah hati yang masih berada didalam kandungan Orihime.
"Aku pasti menyelamatkan, kalian. Tunggu aku, Hime." Ucapnya penuh dengan keteguhan hati yang kuat.
Suara pintu kamar terbuka, Isshin menyembul masuk dengan membawa nampan berisikan makan malam buatan Yuzu serta segelas air putih takut-takut nantinya Ichigo tersedak saat makan.
Ichigo membalikkan tubuh, menatap sang ayah datar, "Aku tak lapar, Ayah,"
"Kau tetap harus makan, walaupun hanya satu suap Ichigo. Perhatikan kesehatanmu juga," Isshin menaruh piring berisikan kare diatas meja belajar.
"Tapi aku..."
"Ayah tahu perasaanmu, tapi jika kau jatuh sakit bagaimana caranya menyelamatkan Orihime-chan, bukankah kau ingin membawanya pulang,"
Bibir Ichigo terkunci rapat, kedua tangannya mengepal kuat disamping tubuh,wajahnya tertunduk sendu menatap lantai kamar, "Bagaimana bisa aku makan dan tidur dengan tenang disaat istri serta anakku tengah dalam bahaya, entah disana Orihime diperlakukan dengan baik atau tidak mengingat ia adalah tahanan. Dan jika memikirkan itu aku..." kedua mata Ichigo berkaca-kaca, bibirnya bergetar tak sanggup berkata.
Ditepuknya kedua bahu Ichigo, "Orihime-chan adalah wanita yang kuat. Dia pasti menunggumu untuk menjemputnya percayalah, Ichigo,"
"Terima kasih, Ayah."
Isshin tersenyum lebar, didalam hatinya ia percaya kalau sang anak adalah pria yang kuat dan mampu menyelamatkan Orihime, membawa menantunya pulang kerumah sama seperti waktu itu dimana Ichigo menyelamatkannya dari cengkeraman tangan Aizen beberapa tahun lalu.
Isshin pun memutuskan kembali ke kamarnya untuk beristirahat, ia merasa cukup lelah karena ikut mencari bersama Keisuke dimana keberadaan istana Maboroshi dan sementara waktu tidak menjalankan tugasnya sebagai dokter di kliniknya.
Saat Ichigo hendak merebahkan tubuhnya ke atas kasur, tiba-tiba saja ia merasakan hawa Reiatsu yang begitu besar dan tak terasa asing, tak lama pintu gerbang Senkaimon terbuka lalu menutup kembali dengan cepat tak lama setelah mendengar suara ledakan dari dalam gerbang. Seseorang terlihat keluar dari dalam gerbang dengan tubuh penuh luka dan pakaian putihnya sudah kotor dengan noda darah.
"I-Ichigo..." panggilnya lirih.
Kedua mata madu milik Ichigo melebar sempurna mendapati mantan Espada bernomor empat itu berada di kamarnya terlebih dengan tubuh penuh luka bahkan lengan kirinya sudah tak ada, entah apa yang terjadi padanya dan siapa yang melukainya tapi hal itu tak penting saat ini karena bagaimanapun ia tetap harus ditolong sekalipun musuh.
Tubuh Ulquiorra jatuh terduduk didepan Ichigo, "Bertahanlah, Ulquiorra! Siapa yang melakukannya?" tanya Ichigo panik.
"A-aku sudah tak bisa bertahan lebih lama lagi," Ulquiorra meraih sesuatu dari balik Hakama putihnya, "A-ambilah ini," diberikannya sebuah benda putih berbentuk bulat transparan pada Ichigo.
Ulquiorra memandangi Ichigo dengan wajah dipenuhi peluh, menahan rasa sakit yang begitu luar biasa jika harus mati saat ini karena memberikan benda itu ia tak akan menyesal sama sekali, anggap saja ini adalah balasan atas semua perbuatannya dahulu semasa menjadi Espada pada Orihime, "Berikan itu pada Keisuke, kalian pasti bisa menemukan letak istana Maboroshi yang berada di Hueco Mundo..." Ulquiorra muntah darah dan kesadarannya sudah mulai menipis.
"Jangan banyak bicara lagi, aku akan membawamu ke tempat..."
"Kita tak ada waktu, Ichigo," sela Ulquiorra dingin.
Walau dalam keadaan sekarat ekspresi wajahnya masih dingin dan datar, "Selamatkanlah dia, sebelum Maboroshi menikahi Orihime,"
Kedua mata Ichigo membulat sempurna mendengar berita mengejutkan dari bibir Ulquiorra, bagaimana mungkin pria itu hendak menikahi Orihime yang sudah resmi menjadi istrinya, "Ja-jangan bercanda denganku, Ulquiorra,"
"Tidak. Maboroshi jatuh hati pada Orihime dan menginginkan dia menjadi ratu, segala cara pasti dilakukan agar bisa memilikinya,"
Tangan Ichigo mengepal erat, rahangnya mengeras kuat, "Pria bresengek itu!" desisnya penuh kebencian.
"Uagh..." Ulquiorra mengeluarkan darah kembali dari mulutnya kali ini pandangannya sudah mulai memudar dan waktunya sudah hampir tiba.
Ulquiorra mencengkeram kuat lengan Ichigo, menatap dalam padanya, "Selamatkan dia, dan jaga dia baik-baik, karena bagiku dia adalah Onna-ku yang paling berharga." Setelah mengucapkannya perlahan-lahan tubuh Ulquiorra menghilang menjadi serpihan debu seperti waktu itu namun kali ini ia pergi dengan sebuah perasaan lega sekaligus senang karena pertanyaannya yang dulu selalu mengganjal dihati sudah terjawab dan ia bisa pergi dengan tenang tanpa adanya beban apapun, Ulquiorra percaya kalau Ichigo adalah pria hebat, kuat dan mampu melindungi, menjaga juga mencintai Orihime satu-satunya gadis manusia yang paling berarti dihatinya dan kini ia sudah tahu apa itu hati serta perasaan yang selalu ia pertanyakan juga bingungkan.
Jika memang kehidupan lain atau renkarnasi itu ada, dirinya berharap suatu hari nanti akan terlahir kembali dan bertemu dengan Orihime, berteman dengannya bukan menjadi musuh.
"Teruslah tersenyum, Onna, karena aku menyukai senyumanmu yang hangat bagaikan mentari." Batin Ulquiorra dalam hati.
Ichigo hanya bisa diam, berdiri mematung dengan ekspresi wajah syok bercampur sedih melihat tubuh pria bermata Emerald itu menghilang setelah memberikan benda yang akan membertahukan ia dimana letak istana Maboroshi.
"Terima kasih, aku tak akan melupakan kebaikanmu." Gumam Ichigo lirih.
Tak membuang waktu lagi, Ichigo langsung mendatangi kediaman Keisuke dan memberikan benda dari Ulquiorra. Pria paruh baya bersurai kuning itu langsung memasukkan kedalam sebuah mesin dimana layar besar seperti telivisi berada tepat didepannya.
Setelah benda mirip kepingan cd itu dimasukkan, tak lama muncul sebuah gambar layaknya peta dimana terdapat sebuah titik merah berukuran cukup besar yang seperti dilapisi sesuatu terlihat didalam layar. Wajah Keisuke sumeringah senang karena akhirnya pencariannya berhasil dan ia bisa menemukan markas Maboroshi yang ternyata selama ini berada di Hueco Mundo. Ichigo langsung merubah wujudnya menjadi Shinigami meninggalkan tubuh manusianya yang sudah terisi roh pengganti dikediaman Keisuke, tanpa ditemani siapapun Ichigo berencana akan menyelamatkan sang istri tapi tanpa diduganya sama sekali kalau Renji, Toushiro, Rangiku, Byakuya, Karin ikut bersamanya namu keberadaan dari Shinigami cantik bersurai hitam istri dari Renji nampak tak kelihatan dan saat ditanya Rukia tengah berada di kediaman utama keluarga Kuchiki untuk beristirahat mengingat saat ini tengah hamil sepuluh minggu dan tentunya ditengah keadaan genting seperti ini ada berita bahagaia terdengar, Ichigo ikut merasa senang juga mengucapkan selamat atas kehamilan Rukia dan sebentar lagi Renji akan menjadi seorang ayah sama seperti dirinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
~(-_-)~
"Onna."
Orihime langsung terbangun dari tidurnya karena merasa mendengar Ulquiorra memanggilnya namun nyatanya ia hanya seorang diri didalam kamar, setelah pertemuannya dengan pria bermata Emerald beberapa jam lalu dimana dengan kedua matanya sendiri ia melihat Ulquiorra menghilang.
Liquid bening mengalir derasa membasahi pipi, ia tahu kalau kini Ulquiorra sudah tiada lagi keberadaannya baik di dunia manusia maupun dunia roh, walaupun Ulquiorra adalah musuh, salah satu anak buah dari Maboroshi tapi Orihime tetap peduli padanya karena menganggapnya sebagai seorang teman.
Orihime beranjak turun dari ranjang, kemudian duduk seraya melipat kedua tangan didepan dada, ia berdoa demi kedamanian jiwa Ulquiorra dan suatu hari nanti pria bermata Emerald itu bisa terlahir kembali.
"Apa kau sedang berdoa, Orihime,"
Kedua Orihime melebar sempurna, tubuhnya menegang kaku mendengar suara bariton itu memanggil namanya. Orihime bangun dari posisinya, kedua matanya memandang tajam dan dingin pada pria itu yang tak lain adalah Maboroshi.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Maboroshi seraya berjalan mendekat.
"Pergi! Jangan dekati aku," bentak Orihime seraya memasang perisai pelindung pada dirinya sendiri.
"Hilangkan perisaimu," Maboroshi memperingati.
"Tidak. Aku benci padamu, jangan dekati aku," teriak Orihime dengan berlinang air mata.
Maboroshi tersenyum pilu mendengar pengakuan Orihime yang membenci dirinya tapi hal itu tak masalah karena ia bisa dengan mudah membuat wanita bermahkota oranya kecokelatan itu jatuh hati padanya.
"Aku tak ingin menyakitimu,"
"Tapi kau sudah melukai hatiku, kenapa...kenapa kau membunuh Ulquiorra," isak Orihime lirih.
Maboroshi terdiam, ia memejamkan kedua matanya sesaat lalu menatap Orihime penuh arti, "Maafkan aku." Maboroshi berlari menerjang Orihime seraya menghunuskan pedang.
Kedua mata Orihime melebar sempurna saat pedang yang dihunsukan Maboroshi berhasil memecahkan perisai dan menusuk tepat ditengah-tengah dadanya. Tubuh Orihime langsung jatuh ambruk tak sadarkan diri dan Maboroshi menangkapnya, walau yang terlihat tadi Maboroshi menusuk tubuh Orihime nyatanya tak ada darah yang keluar dari Orihime, pedang yang ditusukkan tadi sama seperti milik Kirishima.
Kini Orihime berada dalam pengaruh jurus pedang milik Maboroshi, ternyata ada gunanya juga mengambil pedang serta jurus dari pria bersurai hitam panjang itu karena dengan begini Orihime bisa sepenuhnya menjadi miliknya.
TBC
A/N : Mohon maaf jika kelanjutannya tidak sesuai harapan dan keinginan. Untuk kelanjutannya sedang dalam proses pengetikan.
