Remake

disc Masashi kishimoto

author :roxelyn

chapter 2 -10

.

.

.

Suasana rumah sakit menegang saat mendapati salah satu pasien yang datang dalam keadaan shock karena kehabisan darah, tentu mereka dengan sigap mendorong ranjang dan memindahkan tubuh pasien mereka dari dalam mobil ambulance keranjang, tanpa pikir panjang mereka berlari sambil mendorong ranjang tersebut kedalam ruang U.G.D untuk melakukan perawatan serius. Hinata didalam ambulance hanya bisa mengigil ketakutan meskipun selimut sudah disematkan padanya dan Kurenai disebelahnya mengelus bahu gadis itu akan tenang. Sementara Asuma berdiri didepan ruangan operasi sambil berharap agar temannya dapat diselamatkan.

Memang suasana rumah sakit selalu tegang tapi bagi Asuma saat pintu ruangan operasi terbuka oleh salah seorang perawat yang berteriak kepada rekannya. Apa Tobi kehabisan darah sehingga membutuhkan kantung darah, kalau iya dia berharap mereka memiliki stoc darah tersebut karena golongan darah Tobi itu sendiri AB dan itu golongan darah langka.

Perawat tersebut kembali berlari, membawa empat kantong darah kemudian membanting pintu agar tertutup. Asuma spot jantung ditempat. Selang beberapa menit pintu kembali terbuka, dokter berjalan keluar ruangan sambil menghapus jejak keringat dengan selembar sapu tangan. Sarung tangan karetnya ia lepas dan dibuang ketong sampah terdekat. "Ahh, anda siapa pasien?" iris berwarna ruby itu menatap Asuma intens. "Aku temannya."hanya anggukan kepala yang didapat oleh Asuma dan dokter tersebut tersenyum lembut kearahnya. "tenang saja temanmu selamat dam sekarang tertidur karena pengaruh obat bius." Menepuk pundak Asuma dan berjalan meninggalkannya sendiri.

Ranjang didorong dari dalam dengan selang dan cairan infus tergeletak manis disebelah Tobi, kedua matanya terpejam rapat dan wajahnya seputih kertas, tentu dengan selang oksigen mini tersemat pada hidungnya untuk membantunya bernafas dengan normal. Asuma otomatis mengikuti langkah para perawat tersebut menunju ruang inap bagi Tobi kelak, yang jelas kamar tersebut hanya akan berlaku dua hari mengingat temannya lebih sering diujung maut karena pekerjaanya sendiri. Mau tak mau Asuma mengigit bibirnya saat melihat luka yang menghiasi tiap inchi dari tubuh Tobi.

Hinata berdiri didepan ruangan bersama ayahnya, gadis itu masih gemetaran dalam pelukan ayahnya dan ayahnya mencoba menenangkan putri sulungnya yang baru mengalami pengalaman mengerikan dalam hidupnya. "Hiashi-sama." Asuma membungkuk hormat dan Hiashi hanya menganggukan kepalanya. "bagaimana keadaan muridmu?" Asuma menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "dia hanya butuh istirahat yang cukup."

"Ayah." Suara Hinata terdengar parau, manik amethyst bertemu kembarannya. "boleh aku melihatnya?" Hiashi mengusap helai indigo tersebut dengan lembut. "tentu sayang." Hinata segera memasuki ruangan bernuansa putih tersebut dan nyaris berteriak saat mendapati temannya sudah sadar dari pengaruh obat bius. Tobi sedang duduk manis sambil memandang keluar jendela seakan-akan kejadian barusan sangat sering menimpa dirinya. "Nakamura-san." Merasa namanya dipanggil, Tobi menoleh keasal suara, menemukan gadis yang berada dibawah perlindungannya berlinang air mata lagi?.

"Hahh..." Tobi menghela nafas, bagaimana juga siapapun akan ketakutan bila melihat temanmu pingsan dengan genangan darah dihadapanmu. Senyuman yang biasa dia tampilkan kini terlihat lemah karena tubuhnya kekurangan darah. "kau baik-baik saja?" Hinata mengangguk dan berjalan mendekat kearah Tobi. Manik amethystnya melihat kearah perban yang melingkar manis dilengan Tobi. Tanpa sadar ia mengigit bibirnya, perasaan bersalah langsung menghinggapi hatinya.

Mengetahui kemana arah pandangan gadis tersebut Tobi menggeleng pelan dan tangan kanannya menepuk kursi disebelahnya. "duduklah disini, ini bukan salahmu." Tidak mungkinTobi menimpakan hal ini terhadap gadis rapuh dihadapannya. "aku serius, besok aku memang sudah boleh pulang." Dia sudah terbiasa diujung maut jadi mau tidak mau tubuhnya bisa memulihkan diri dengan cepat.

"Hei..." kali ini nada suara Tobi terdengar lembut. "aku tidak akan mati kok, ini janji." Hinata menggeleng, kalau saja Tobi tahu kalau kejadian tadi membuat Kisame diskors dan murkanya Pain karena anak buahnya diskors tanpa izinnya. Nyawa Tobi bisa saja melayang kalau kejadian yang serupa terulang lagi. Selang infus tercabut dari tangan Tobi, dia melakukannya sendiri dan mengabaikan rasa perih yang menyengat tubuhnya. Satu yang ada didaam benak Tobi, ia kini sedang bertugas dan tidak boleh absen sehari saja. Hinata memekik kaget saat merasa tubuhnya terangkat dan digendong seperti karung beras, lagi. Wajahnya merona saat menghirup aroma tubuh temannya, dia dapat melihat otot tubuh yang tercetak jelas dan sempurna tersebut.

"Nakamura-san!" teriak Asuma horor, mendapati temannya baru saja menculik putri tunggal Hyuuga tersebut. Tapi yang dilihat Hiashi adalah surai hitam tersebut berganti kesurai putih dan tanpa sadar ia memanggil nama sahabatnya yang sudah lama tiada. "Saizo!" Tobi menoleh saat mendengar nama ayahnya, tapi kembali berjalan dengan Hinata yang meronta dari gendongannya. "turunkn aku! Turunkan!"

"hoyy! Sakit!" Tobi menurunkan gadis tersebut dibangku halaman dan menatap tajam kearahnya seakan-akan ingin menelannya bulat-bulat. Sedetik kemudian suara tawa terdengar dari Tobi membuat gadis tersebut merengut kesal. Tapi saat matanya melihat perban yang melingkar manis dilengan Tobi membuatnya mengingat kondisi Kisame yang memiliki dua buah tulang rusuk yang patah serta tulang baru yang bergeser membuat Hinata tanpa sadar meringis. Tobi tadi bisa saja membunuh Kisame tanpa ampun. "langitnya indah ya. " Tobi berbaring diatas rerumputan, menikmati langit malam yang menyuguhkan jutaan bintang yang berkerlap-kerlip mempesona. Tanpa sadar Hinata mengangguk menyetujui ucapan Tobi barusan.

Tangan kanan Tobi terulur keatas seakan-akan ingin menggapai bintang diatasnya, pandangan matanya melembut menikmati keindahan alam yang tersajikan dihadapannya saat ini. Hinata sudah duduk disebelahnya, ikut menikmati pemandangan tersebut, entah mengapa perasaan takutnya berkurang dan membuat Tobi yang meliriknya dari ujung mata tersenyum puas karena berhasil membuat gadis tersebut lupa akan kejadian barusan.

Hinata ikut membaringkan tubuhnya, berbantalkan perut Tobi dia dapat merasakan gerak diafragma saat Tobi mengambil nafas. Toh yang bersangkutan tidak protes akan apa yang dilakukannya. Tangan kanan Tobi tanpa sadar mengelus lembut surai indigo seperti warna langit malam saat ini, menghirup aroma lavender yang menyebar luas, mengisi indra penciumannya membuat dirinya mengantuk.

Hinata mulai memainkan tubuh Tobi , mengikuti tiap lekuk tubuh yang tertutupi pakaian rumah sakit yang tipis membuat yang mempunyai tubuh kegelian, menepis tangan gadis tersebut pelan. "tubuhmu bagus sekali." wajah Hinata terlihat mengantuk karena hembusan angin malam yang seakan-akan menyanyikan lagu tidur sadar ia memeluk Tobi seakan-akan ia adalah bantal raksasa yang sangat pas untuk dipeluk dan sukses membuat rona merah kembali tercipta diwajah Tobi.

Dia ingin protes tetapi suara dengkuran halus membuatnya mengurungkan niatnya. Gadis tersebut sudah terlelap, dimanjakan angin malam yang meniup tubuhnya dengan lembut. Tobi mengambil posisi duduk perlahan dan menggendong tubuh gadis tersebut dengan sebelah tangannya. Tubuh Hinata tergolong sangat ringan bagaikan kapas. Membuatnya menghela nafas dan berjalan kembali kekamarnya.

Hal pertama yang didapatnya adalahraut murka Asuma dan tatapan tajam Hiashi. Anak gadisnya tertidur dengan nyenyak digendongan pria asing dalam hidupnya. "Tobi..." nada suara Asuma terdengar mengancam dan berbahaya tapi dia langsung panik saat Tobi memberikan Hinata yang tertidur kedalam gendongannya dan berjalan menuju kamarnya sendiri.

'blamm!

Pintu kamar tertutup rapat dan suara pintu terkunci terdengar. Hiashi berdehem sebentar, mengabaikan aura membunuh yang menguar dari Asuma. "muridmu tampaknya butuh istirahat." Asuma menatap tajam pintu tersebut berharap pintu tersebut akan meledak karena tatapan matanya dan dia dapat membinasahkan orang yang tengah bersantai didalamnya. "aku akan membunuhmu besok...lihat saja." Desisnya penuh amarah yang membara.

.

.

Tobi menguap lebar selama perjalananya kesekolah, jujur saja dia masih mencintai kasurnya dan enggan berpisah dengannya walau hanya enam menit. Kasurnya amat empuk dan nyaman berbeda dibarak, kasurnya sekeras batu dan membuatnya sakit pinggang saat membaringkan tubuhnya, terkadang dia menyadari usianya hampir kepala tiga. Ditambah tumpukan berkas yang sering dikirim kekamar asramanya secara diam-diam membut jam tidurnya hancur, jangan lupakan curhatan anggota timnya yang mewek gaje karena ketidak adaan sang kapten dalam misi karena ini. Dia rela menghabiskan enam cangkir kopi sambil mendengarkan curhatan mereka dengan tekun.

Mulutnya terbuka lebar, menguap dan mengusap matanya yang lelah. Mengabaikan pakaiannya yang jauh dari kata rapi dan perbannya yang basah tidak diganti olehnya saat selesai mandi. Membuatnya seperti preman pasar yang nyasar kesekolahan. Manik merahnya menatap lurus kearah kotak yang tergeletak dijalanan, ada suara permintaan tolong kecil yang membuat dirinya tak tega untuk tidak menolong seekor hewan mungil tersebut yang menatapnya dengan sepasang mata bulat berkaca-kaca. "ughhh."kedua telinga mahluk mungil tersebut tertekuk lesu dan tangan mungilnya terangkat keatas berusaha menggapai manusia yang akan menjadi penolongnya.

Tangannya terulur secara otomatis, mengelus kepala hewan mungil tersebut dan mengangkat tubuh mungilnya. "kau tahu kamarku sangat berantakan." Kucing mungil tersebut mengeong lemah dan mencoba mencari kehangatan pada penolongnya. "kau tidak masalah aka n itu?" ngeongan lembut menandakan bahwa dia setuju-setuju saja. Mahluk mungil tersebut masuk kedalam kotak yang menjadi rumahnya saat dibuang oleh pemiliknya, memisahkannya dari induknya. Helaan nafas terdengar dari majikannya yang baru. "sialan, kebiasaan burukku di Afganistan kambuh." Kebiasaan buruknya memungut kucing liar dinegara penuh pertempuran dan isak tangis penduduknya.

Kucing mungil tersebut memiringkan kepalanya dan menatap pria dewasa tersebut polos, kemudian memutuskan untuk terlelap karena hawa hangat yang didapatnya dari kotak tersebut. "Nakamura-san!" teriakan riang membuatnya menghentikan langkahnya. Naruto dan Hinata berlari mengejarnya, jelas raut wajah Hinata cemas saat melihat perban yang masih basah, dan apa itu?. "kucing!" manik saphire Naruto bekilauan dan segera menyambar kotak tersebut. "hey!" tapi Tobi kembali merebut kotak tersebut, memastikan mahluk mungil didalamnya dalam keadaan baik-baik saja.

"Ano..."Hinata memainkan kedua jari telunjuknya gugup. "kita tidak boleh membawa hewan kesekolah."gumanya nyaris menyerupai bisikan, nasib baik pendengaran Tobi cukup tajam sehingga ia dapat mendengar apa yang dikatakan gadis tersebut. "aku ..." mahluk mungil tersebut menatapnya lagi, "haahh—'' menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. "akan menitipnya kepenjaga gerbang." Entah mengapa ia melihat tanduk setan dikepala kucing mungil tersebut.

Hinata berjalan diseelah Tobi, menyamai langkahnya sambil tersenyum manis. "Nakamura-san ternyata lembut juga ya." Tobi mengangguk dan melirik gadis disebelahnya. "kau benar." Mungkin bagi Hinata dan Naruto melihat teman baru mereka tersenyum merupakan hal yang langka, entah mengapa senyumannya selembut hembusan angin dimusim semi. "cobalah untuk sering-sering tersenyum." Naruto tersenyum lebar. "itu membuat hidupmu berwarna." Kekehan halus terdengar . "ada-ada saja." Kemudian kedua remaja tersebut harus mengimbangi langkah temannya dengan riang.

"Nakamura-san." Panggil Naruto dengan nafas satu-satu, berhasil mengejar manusia seperti ini merupakan keajaiban. "hmm?"

"Maaf lancang bertanya, apa kau anak Mitsuki-sensei?" pertanyaan polos Naruto membuatnya terdiam. "soalnya sifat dan warna rambut kalian sama!"

"ibuku sudah lama meninggal." Naruto terdiam dan menundukan kepalanya, merasa bersalah karena menyinggung hal tabu tersebut. "Maaf—" "itu bukan salahmu jadi buat apa minta maaf." Tobi mengusap pelan kepala Naruto, tapi Naruto yakin dapat melihat sepasang manik merah tersebut memancarkan kesedihan dan kerinduan yang amat dalam. "aku ada urusan sebentar." Kotak berisi anak kucing tersebut telah berpindah tangan. "tolong bawa dia kepenjaga gerbang." Mengelus mahluk mungil didalamnya—"aku ada urusan ." dan Naruto menyesali pertanyaanya barusan saat menatap puggung temannya perlahan-lahan menjauhinya sebelum menghilang diantara kerumunan siswa yang lain.

D.I.S.A.S.T.E.R

.

.

.

Angin bertiup kencang menerbangkan beberapa helai dedaunan yang sudah kering membawa hawa dingin bagi siapapun. Seorang pria dewasa tengah menikmati sebatang racun yang mengeluarkan asap disela-sela jarinya. Dihalaman berbatang-batang rokok tergeletak berserakan, tangan kanannya menggenggam sekaleng minuman keras. Beberapa pejalan kaki melihatnya sambil menggeleng-gelengkan kepala, beruntung pakaian seragamnya sudah dilepas. Hanya kaus tanktop berwarna hijau lumut dan celana training berwarna hitam. "hah..." menghela nafas sambil menatap datar. Percakapan tadi membuat traumanya kembali kambuh, sialannya obatnya tidak menemaninya lagi.

"Nakamura-san!" teriakan tersebut membuatnya menoleh, menemukan keturunan Hyuuga tersebut tengah berlari kearahnya diikuti beberapa teman sekelasnya. "mau apa..." matanya menyipit, memandang tak suka pada mereka. "kami hah..." Naruto berjongkok, berusaha mendapatkan menyadari kalau Tobi menaap mereka dengan garang, entah mengapa Sasuke merasakan bulu kuduknya merinding. Raut wajah Tobi mengeras, giginya saling beradu terbawa emosi. Membuatnya mengingat saat anggota timnya melawan perintahnya.

"Mencemaskanmu." Sambung Naruto, merasakan keringat dingin membanjiri tubuhnya.

'Bukhhh!

Burung-burung berterbangan saat Tobi meninju pohon disebelahnya. " APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI!" bentaknya murka, membuatnya menjadi pusat perhatian. Tangannya segera menarik tangan Hinata, menggeretnya keluar dari taman tersebut. "lepaskan!" teriak Hinata tapi diabaikan yang bersangkutan, bahkan teriakan Naruto dan yang lain dia abaikan begitu saja. Dia tidak mabuk, Tobi bahkan bisa meneguk satu galon minuman keras tanpa mabuk.

"Kau mabuk! Lepaskan aku!" teriak Hinata histeris, meronta-ronta dari cengkraman Tobi. "brengsek!" bentak Kiba geram, mengejar mereka tapi manik coklatnya meangkap hal lain. "ehh..." kenapa pengunjung taman pakaiannya compang-camping?. Bahkan ada beberapa yang memakai seragam sekolah menatap mereka dengan pandangan mengejek.

"lepaskan kataku!" Hinata memukul tangan Tobi kasar dan Tobi berhenti menariknya saat memastikan mereka benar-benar keluar dari kawasan taman tersebut. "aku membencimu!" teriak Hinata saat Tobi melepaskan cengkraman pada tangannya, warna merah menghiasi pergelangan tangan gadis itu. "kalian tidak perlu mencemaskanku." Gumamnya sambil menggaruk kepalanya. "dan jangan memasuki taman tersebut tanpa pengawasan orang dewasa." Sambungnya sambil menunjuk taman yang didatangi para preman yang tersenyum hina, ada beberapa yang mabuk karena minuman keras dan obat-obatan terlarang. Bahkan Hinata yakin telinganya menangkap suara desahan dari balik mobil yang terparkir disana.

"yahhh, itu sih terserah kalian." Ucapnya, mengabaikan tatapan heran sekumpulan remaja tersebut. "lagi pula orang tua mereka tidak begitu mengawasi anak-anak mereka." Gumaman Tobi membuat Hinata sadar, sadar akan dimana mereka tadi saat mencari teman sekelas mereka. "j-jadi."

"Aku marah karena kalian tidak mendengarkan apa yang kukatakan." Kalian bukan anak buahku, batin Tobi miris dan mengacak rambut Hinata pelan. "Hyuuga." Hinata mendongakan kepalanya, menatap polos kearah sosok pemuda yang menjulang tinggi dan tegap dihadapannya. "maaf—" Hinata memegang tangan yang mengelus kepalanya dengan lembut tersebut. "Nakamura...-san?"

"bisa tinggalkan aku sendirian disini, aku hanya—" mengigit bibir bawahnya sebelum tersenyum paksa kearah mereka semua. "hanya perlu menjernihkan pikiranku."

Ada saatnya isi otaknya mempermainkan dirinya, membawanya kembali kepada ingatannya dimasa lalu. Saat sang ibu tergeletak bersimbah darah dihadapannya, membuatnya trauma akan darah selama bertahun-tahun. Ayahnya mengabaikannya selama tiga tahun, mencampakannya keasrama militer yang terus-terusan berhadapan dengan darah. Sering kali ia ingin mengakhiri hidupnya dan bertemu ibunda disurga sana.

Tapi dia menyadari satu hal, ayahnya melakukan semua itu agar traumanya terhadap darah hilang, tentu dengan cara yang kejam. Perlahan-lahan pula rasa traumanya terobati seiring dengan waktu meskipun tersisa sedikit dia hanya bergantung pada obat penenang dan juga dokter.

Tobi memainkan makanan yang tersaji dihadapannya. Tadi setelah meminta teman-temannya untuk pulang dan membiarkannya sendiri kini ia berapa pada sebuah caffe, tak jauh dari asrama. Hiruk pikuk kota menjadi melodi bagi dirinya sendiri. Cake red velvet dan secangkir cappucino matcha menjadi menu makan malamnya, meskipun berakhir dengan menjadi mainan untuknya. Kue tersebut sudah tak terbentuk karena ditusuk dengan garpu secara liar dan cappucino yang seharusnya menghangatkan hati bagi peminumnya sudah mendingin tanpa berkurang sedikitpun.

Jujur saja , memainkan makanan tersebut membuatnya kenyang sendiri meskipun dia tahu pegawai di caffe akan merasa tersindir karena makanan yang mereka sajikan menjadi mainan untuknya. Mau bagaimana lagi? Pikirannya tengah kacau saat mendengar nama yang terlontar dari mulut Naruto.

Mitsuki...

Nama yang pernah mengisi lembar-lembar kehidupannya sebelum mereka memilih mengakhirinya karena pekerjaan Tobi yang sering menjual nyawa pada malaikat maut. Mitsuki tidak dapat menahan perasaan cemasnya selama sang pujaan hati berperang, mempertaruhkan nyawanya dan kembali kehadapannya dengan luka baru. Ada yang nyaris menembus jantungnya dan ada yang nyaris membuatnya lumpuh. Mitsuki tidak mau jantungnya berdegup kencang, menunggu telepon dari kekasih hatinya untuk mengabari kondisinya. Dan sekarang? Tobi mengabaikan tugasnya, membiarkan sang pewaris Hyuuga sendirian dan nyaman dikelilingi teman-temannya tanpa pengawasan dan keamanan.

Menghela nafas yang untuk kesekian kalinya, manik merahnya menatap sendu langit-labgit kota yang memperlihatkan gemerlapnya cahaya kota, menyembunyikan sinar sang ratu malam yang selalu bersinar lembut. Tanpa menyadari keberadaan seseorang yang kini tengah duduk dihadapannya, menatapnya dengan perasaan menyesal dan terluka.

"Tobi-kun."suara lembut tersebut membuat Tobi tersentak dari lamunanya, melihat kepada seorang wanita yang memandangnya dengan cemas. "kau tidak apa-apa?"

"Mitsuki..." Tobi menggeleng dan tersenyum kecil, tapi tangan Mitsuki menggenggam kedua tangannya lembut. Manik senada dengan warna madu tersebut menatapnya dengan cemas. "kau terlihat—" Mitsuki melirik penampilan Tobi sekilas. "—berantakan."

"hehh..." Tobi melepaskan genggaman pada tangannya, mata Mitsuki melebar saat melihat perban yang melingkar pada tangan Tobi. "kau terluka lagi." Gumamnya lirih. "apa karena tugas?"

"yahh, dan mungkin aku akan memanggilmu sensei bila kita bertemu disekolah."

"ehh?!" Mitsuki terkejut, tangan kanannya menutup mulutnya agar tidak tampak menggelikan karena mulutnya ternganga. "kau menjadi muridku?" memiringkan kepalanya kesamping dan menatap pria yang pernah mengisi hatinya dengan penuh tanya.

Mengibaskan tangannya diudara, Tobi terkekeh kecil dan menyeruput minumannya yang sudah dingin. "kemarilah, aku ingin membisikkan sesuatu."patuh akan permintaan pria dihadapannya, Mitsuki mencondongkan tubuhnya kedepan agar Tobi dapat membisikan maksud dari pernyataanya barusan. Dan seuntai kalimat tersebut membuatnya sadar kalau kehidupannya yang damai bersama anak muridnya tidak akan pernah sama lagi.

"Danzou berencana menghabisi kepala sekolah besok pukul sebelas." Iris madu tersebut melebar sempurna, mulutnya terbuka lebar. "ya,Jiraya akan menjumpai ajalnya besok."

"Darimana kau—" "—aku punya informan disana, dia menjadi agen ganda."

"kita harus melakukan sesuatu!" Tobi menyodorkan ponselnya kepada Mitsuki. " tekan tombol sembilan bila hal buruk terjadi disekolah."

"apa?" Tobi tersenyum kikuk. "nomor tersebut terhubung langsung kekantor J-SAT."

''kau tidak membantu?!" Tobi menggeleng, memainkan sendok ditangannya. "prioritasku adalah keselamatan pewaris Hyuuga." Mitsuki tahu kalau pria dihadapannya ini brengsek. " jendral besar tidak menurunkan perintah untuk melindungi keponakannya."

"Kalau Jiraya tewas!"

"kalau Jiraya tewas, peredaran obat-obatan terlarang akan semakin mudah dinegri ini dan juga negara ini akan semakin busuk seiring dengan waktu."senyuman yang entah mengapa terlihat menjengkelkan dimata Mitsuki membuatnya berusaha menahan tangannya agar tidak menampar pria dihadapannya saat ini.

"Kau berubah." Matanya memicing tajam. "semua orang berubah." Tobi memainkan minumannya lagi. "termasuk aku, dear."

"Kalau kau tidak mau menolong maka—"

"Maka apa?! Melaporkanku pada Jendral Sarutobi? Atau kepada mentri pertahanan?!" pertanyaan Tobi membuat wanita tersebut terdiam. "aku sudah lelah dengan kebusukan manusia dibumi ini."

"Jiraya yang mendonorkan darahnya saat kau sekarat satu tahun lalu!" Mitsuki mengebrak meja tersebut, membuat beberapa pengunjung menatapnya dengan takut. "aku sekarat karena melindungi istri dan sahabatnya, kau pikir menyenangkan sekali rasanya saat tubuhmu ditembus AK-47?"

"Turunkan tanganmu sensei, kau tidak mau murid lain melihatmu menamparku kan?" Tobi menunjuk tangan Mitsuki yang terangkat dan terasa gatal untuk menampar bedebah dihadapannya. "aku membencimu." Desis Mitsuki tak suka kemudian menyambar tasnya, berjalan meninggalkan Tobi disana sendirian. Tapi Tobi melambai dengan senyuman lebar yang seakan-akan mengejek wanita dihadapannya. "sampai jumpa lagi,sensei."

C.H.O.I.C.E

Hinata memainkan pulpennya dengan malas, Naruto sudah tergeletak mengenaskandisebelahnya dengan wajahnya yang tertutupi buku dan Sasuke mengerjakan tugasnya sambil mendengarkan musik ditambah keadaan Kiba yang sama mengenaskannya dengan Naruto.

Tobi berjalan masuk kedalam kamar pewaris Hyuuga tersebut, gadis tersebut mengirim pesan kepadanya. Memintanya untuk belajar dilantai dan memperhatikan keadaan yang cukup memprihatikan dihadapannya saat ini, "Nakamura-san? Kau tidak mengerjakan tugasmu?.'' Tobi menggeleng, tugas sekolah selalu menjadi mainan untuknya, mengerjakannya sebelum bel berbunyi memberinya tantangan. "pemalas."cibir Sasuke sinis tanpa mengalihkan perhatiannya pada tugasnya.

"Nakamura-san aku—" pewaris Hyuuga tersebut duduk bersimpuh dihadapannya. Menatap intens iris merah dihadapannya. "tolong bantu aku." Eh! "Aku tahu ayahku mengirim pengawal lagi dan aku tak suka itu." Tobi mengendikan bahunya, pernah dikirim sebagai intel membuatnya pandai menyembunyikan ekspresi wajahnya. "Nakamura-san sebenarnya aku." Iris amethyst itu melirik kearah lengan yang terbalut perban, matanya mendadak terasa panas mengingat kejadian semalam. "percayalah." Gumaman dari pria disebelahnya membuatnya terdiam. "aku pernah mendapat yang lebih buruk dari ini, jadi jangan merasa bersalah."

"Tapi, Nakamura-san." Tobi melirik gadis itu sekilas dan kembali pada buku pelajaran yang tergeletak diatas kepala Naruto tadi, mengerjakan soal algoritma yang yang membat remaja bersurai pirang tersebut memilih terbuai dunia mimpi dari pada mengerjakan soal yang membuatnya sakit kepala. Tangannkanannya meraih pensil, merasa gatal untuk menjawab soal dihadapannya. "Namikaze." Ujung pensilnya mencolek pipi Naruto. "eungghhh..." erangan malas membalasnya. "kau harus berterima kasih padaku besok." Dia terdiam, memikirkan apa yang akan terjadi besok. "dan usahakan kalian tidak sembarangan berkeliaran besok..."

.

.

.

.

.

Tbc

Replay for libra : yap *.* kenapa para guru tidak peduli akan kekesaran bakalan ada penjelasannya nanti...

Author: maaf kalau membingungkan sama jalan cerita ini, oke chapter selanjutnya akhir bulan atau minggu depan karena author harus ngerjain ff author yang mampet sebagian, berhubungan ditagih lewat inbox, kenapa serem ya :v

Akhir kata lop yu gayyysss!

Roxelyn sign-out