Remake
Disc :Masashi Kishimoto
Pair: Tobi x Hinata
Author: Roxelyn
Chapter 3 of== ?
.
.
.
.
Suasana sekolah sangat ramai dipagi hari, pasalnya beberapa mobil yang mengangkut polisi dan tentara berjaga-jaga saat mendengar ancaman teror yang diberikan kepada kepala sekolah. Jiraya sendiri keponakan dari jendral besar jepang, keamanan langsung meningkat saat menerima ancaman tersebut. Tobi sendiri hanya menatap datar selembar surat dengan amplop pink didalam lokernya, dia dapat mendengar suara menggoda dari teman-temannya. Tangannya membuka surat itu sedikit dan langsung memasukannya kedalam tas saat melihat stempel khusus disurat tersebut.
"surat cinta? Kapten kau tidak pedo kan..." goda salah satu anak buahnya dengan suara berbisik membuat Tobi langsung menyikut perut anak buahnya sadis, membuat anak buahnya berguling-guling dilantai karena kesakitan sementara rekannya menatap temannya dengan datar. Tobi ingin berkumpul mereka tapi apa daya?, penyamarannya tidak boleh terbongkar.
"Nakamura-san." Naruto menghampiri temannya dengan mata berbinar senang. "banyak tentara! Lihat itu kakakku!" serunya senang sambil menunjuk kearah Kurama yang memakai seragam polisi, pria berambut merah tersebut tersenyum lembut saat adiknya melambai penuh semangat kearahnya. "ehh!" manik saphire Naruto melebar. "dia kenapa?" tanyanya sambil menunjuk kearah prajurit yang masih berguling-guling tadi. "abaikan dia, dia bukan manusia ..." sahut Tobi datar begitu juga dengan tentara disebelahnya mengangguk setuju.
"Kau kenal dengannya?" tanya Naruto dan entah mengapa Naruto menyukai cara Tobi menatap kedua tentara tersebut sambil tersenyum. "sangat..." apa pendengarannya terganggu karena ia mendengar suara Tobi terdengar amat lembut. "pak tentara." Kedua tentara berpangkat copral tersebut mendengar seksama. "jangan buat kapten kalian malu." Kemudian menggeret bocah pirang disebelahnya disusul jawaban serentak mereka. "yes,sir!".
Naruto melirik surat yang digenggam Tobi sedari tadi, rasa penasarannya menyelimutinya saat melihat stempel yang tertutupi. Tanpa sadar Tobi meremas surat tersebut tanpa ampun, meninggalkan Naruto dan langsung berjalan kearah toilet pria.
Tobi memilih mengunci pintu kamar mandi, membuka surat tersebut dan membacanya sekilas. Sebait tulisan membuatnya menahan nafas. Ada kemungkinan Hanzo akan ikut dalam kasus ini, persiapkan dirimu. Detik selanjutnya surat tersebut sudah tersiram kedalam toilet setelah menjadi selembaran kecil. Nafasnya mendadak diambil paksa darinya, manik merahnya bergerak liar. "kacau..."gumamnya sambil menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangannya. "kalau sibrengsek itu turut campur berarti ancamannya tidak main-main." Menghela nafas lelah, Tobi mengigit bibirnya hingga berdarah. "dia selalu menganggap semuanya adalah game."
R
O
X
E
L
Y
N
Tobi melipat kedua tangannya didepan dadanya, otaknya terus berpikir akan rencana yang kemungkinan besar akan membunuh mereka semua. Hanzo, salah satu pemimpin teroris yang ditakuti seluruh dunia, sudah berapa banyak nyawa yang menghilang ketika ia melancarkan serangan. Harga untuk kepalanya saja mencapai satu miliar dolar Amerika. Harga yang fantastis menurut semua orang. Tapi tidak sebanding dengan ribuan nyawa yang melayang karena aksinya.
"Nakamura-san." Suara lembut milik pewaris Hyuuga tersebut memecahkan lamunannya. Iris amethystnya memandang cemas kearah Tobi yang sedari tadi diam tidak bergerak dari posisinya. Bagaimana juga pria dihadapannya sudah menyelamatkan hidupnya. Tobi memlih duduk diatas lantai dan membenamkan wajahnya ditelapak tangannya, mengacak rambutnya dan bertingkah seperti orang gila membuat Hinata cemas bukan main, ada apa dengan teman sekelasnya. Apa karena kedatangan tentara atau ancaman teror yang dikatakan hanyalah ulah orang iseng?. Jujur saja Hinata takut akan keberadaan pria berseragam disekitarnya.
Hening, hanya keheningan yang mengisi kondisi mereka berdua hingga suara letusan senjata api membuat mereka terkejut. "Kyaa!" Hinata langsung berjongkok dan menutup kedua telinganya, takut. Bagaimana juga gadis itu ketakutan saat mendengar suara letusan senjata. Tobi menyambar tangan Hinata dan menggendongnya seperti karung beras. Yang bersangkutan pasrah dan seakan-akan sudah biasa diperlakukan seperti itu.
Beberapa tentara dan polisi berlari keasal suara tembakan. Tobi dan Hinata berpapasan dengan salah satu dari mereka. "Nakamura-san..." Tobi tahu pasukannya kocar-kacir karena suara tembakan tadi, membuat mereka was-was akan siapa yang menjadi korban tembakan tadi. "tenanglah..." desis Tobi sambil mencengkram kerah pakaian salah satu tentara tersebut. "tenanglah dan berpikirlah dengan jernih! Yang kalian lawan adalah 'dia'!"
"tapi! Istri mentri kelautan ditembak! Komandan menyuruh kami untuk bersiap bila terjadi hal yang tidak diinginkan." Nafas prajurit itu terengah dan Tobi langsung merasa dunianya berputar dengan cepat. "si brengsek itu serius kali ini."desisnya tak suka, melirik kearah Hinata yang berada digendongannya. "maaf Hyuuga." Tobi memberikan Hinata kepada bawahanya yang sigap mengangkat gadis tersebut. "kap—"
"aku ada urusan dengan bedebah tersebut." Gumam Tobi, berlari menuju ruang aula, dimana sumber tembakan terjadi. Dia membuka pintu ruangan itu kasar, melihat kearah wanita berambut merah yang bersimbah darah dan dihadapannya sendiri beberapa teroris menyeringai senag. "ibu!" Naruto berteriak histeris dan berlari kearah ibunya. Tiap nafas yang diambil Kushina seperti pisau, membuatnya kesakitan. Niatnya tadi baik, mengantar bekal untuk kedua anaknya tapi dia tidak menyangka saat berkeliling disekolah para teroris menunjukan taring mereka.
Kurama berlutut disebelah ibunya, mencoba menghentikan pendarahan pada ibunya. Tanpa sadar gigi Tobi saling beradu dan menimbulkan suara gemerelutuk yang mengerika. Manik semerah darah itu melihat beberapa tubuh pasukannya yang terlentang menahan sakit akibat saling adu hantam tadi. "DIMANA MASAMUNE! SURUH DIA KEMARI DALAM TIGA MENIT ATAU AKU AKAN MEREMUKAN TIAP TULANGNYA!" suara Tobi menggelegar, mengabaikan tatapan heran Naruto dan Kurama. Bagaimana seorang pelajar beraninya membentak para tentara.
Salah satu tentara bernama Kyoshiro mendekati atasannya. "k-kapten, Masamune akan sampai sebentar lagi." Sambil menyodorkan walkie-talkie kepada Tobi. "lebih baik dia mempercepat langkah kakinya sebelum aku memotongnya." Mengambil walkie-talkie itu dengan kasar dan berjalan kearah kumpulan teroris yang langsung mengancungkan senjata mereka kearah Tobi. "mundur..." salah satu penjahat tersebut mendesis tak suka. "aku ingin melakukan negosiasi." Kali ini Tobi berusaha mengatur emosinya. "Nakamura!" Kurama berteriak panik, berusaha menghentikan aksi nekad anak tersebut. "apa yang kau lakukan!" bentak Kurama sambil menahan bahu Tobi. Senyuman miring tercetak diwajah Tobi. "negosiasi, apa kau mau ibumu meninggal?" Kurama tersentak kaget, Tobi menepis tangan Kurama kasar.
"Abaikan dia."Tobi kembali mendekati para teroris, seakan-akan menantang maut. "turunkan senjata kalian kumohon."pintanya dengan nada manis dibuat-buat. Tapi kumpulan penjahat itu menggeleng dan tetap mengacungkan senjata mereka kearah siswa yang menurut mereka nekat tersebut. Senyuman diwajah Tobi lenyap, aura yang dipancarkannya pun tidak bersahabat. "negosiasi batal." Detik selanjutnya salah satu penjahat tergeletak tak bernyawa dengan darah mengucur deras dari urat nadinya. Manik saphire Naruto dan Kurama mebelalak lebar. "jangan remehkan aku karena wajah..." Tobi segera menghantam pria disebelahnya dengan kepalan tangan, kemudian menusuk ubun-ubun kepalanya dengan pisau. Sontak pria tersebut tewas ditempat.
"Kapten!"
"Tembak bodoh!" seru Tobi kesal sambil menahan senjata yang nyaris menghantam kepalanya, kakinya langsung menendang pinggang lawannya dan merampas senjata tersebut, dia tertawa miris saat menyadari senjata ditangannya hanyalah mainan. "Pastikan kalian menghantui atasan kalian." Sisa dari teroris tersebut mengigil ngeri saat Tobi mengangkat tangannya keudara, seakan memberikan aba-aba pada bawahannya. "bye-bye." Dan suara senjata api yang memekakan telinga adalah hal yang terakhir mereka dengar sebelum timah panas tersebut menembus tubuh mereka tanpa ampun. Tobi mengacak helai ravennya, menatap datar kearah kumpulan maya tersebut. Kapten, kau hebat seperti biasa." Puji bawahannya kagum. "bagaimana dengan Nyonya Namikaze?"
"Masamune sedang menanganinya."Jawab Kyoshiro sambil menunjuk kearah Masamune yang tengah berdada ria kepadanya. Tobi melotot horor kearahnya. "Nakamura." Kurama menatap intens pria tersebut. Naruto berdiri disebelahnya dengan pandangan tak percaya, dia menampar dirinya saat melihat seragam putih tersebut sudah dipenuhi noda darah. " rahasiakan statusku Namikaze Naruto." Entah mengapa Naruto merasa sedang disapa malaikat kematian. "paham..."
''H-hai!"
"dan kalian jangan bersantai."tegurnya kepada bawahannya yang ingin bersorak kesenangan. "ini baru stage satu masih ada enam stage sebelum melawan bosnya tahu." Senyuman miring bak psikopat tercetak jelas diwajah Tobi. "ingat kejadian di Lebanon, pria brengsek tersebut menjadikan enam puluh nyawa seperti pion-pion catur." Tobi menerima sebuah earpiece dari Danny, tentara berpangkat Letnan tersebut mengangguk saat Tobi menerima alat komunikasi tersebut dan memakainya ditelinganya. Naruto mendekati temannya, mata birunya menatap tak percaya kepada sosok yang baru saja menghabisi nyawa para teroris tersebut dengan mudah. "Masamune, bagaimana nyonya Namikaze." Masamune langsung menghampiri kaptenya. "lukanya tembakan tidak mengenai lambung, tapi itu tetap berbahaya." Tobi mengangguk dan menyalakan walkie-talkie tersebut, hanya ada bunyi statis hingga terdengar suara seseorang disana. "Kaito, kirimkan helikopter sekarang." Ucap Tobi kepada Kaito setelah itu Kaito menjawab 'siap' sebelum sambungan terputus. "Namikase, hubungi rumah sakit karena ibumu akan diantar dengan helikopter." Kurama mengangguk, manik merah Tobi melirik Naruto. "pertanyaanmu akan terjawab nanti dari ayahmu, Gaki."
"Kapten, Ryunosuke melaporkan ada beberapa orang yang mencurigakan mendekati gerbang." Tobi menghela nafas. "suruh dia awasi, bila mereka semakin ane." Jeda sesaat sebelum Tobi melakukan gerakan potong leher. Kyoshiro segera mengangguk saat melihat isyarat dari sang kapten. Tobi melihat keluar jendela, menerima teropong untuk memantau ketiga orang tersebut. Awalnya dia tidak curiga kepada mereka tapi seketika jantungnya berdetak kuat saat melihat apa yang dikeluarkan mereka.
Naruto menghampirinya. "To—" Wajahnya pucat pasi sebelum ia mendorong Naruto hingga jatuh dan berteriak panik.
"MERUNDUK!"
'BLAAAR!
.
.
.
.
.
Tbc (tekanan batin cinta)
Reader: author sehat?
Pke author dahh updated buat minggu ini, sabtu minggu author sibuk ama kerjaan makin banyak noh kerjaan bukannya makin dikit :v pengen pindah kerjaan sumpah x.x
Libra: oke thanks da tunggu Xda, berhubung Author mood ngelanjutnya chap lainnya kayaknya agak lambat dahhh lagi mampet ni otak kkkkk...
.
.
.
.
Chapter 3 stage one finish...
Stage two...
Progress...
