Remake

Disclaimer Masashi Kishimoto

author Roxelyn

.

.

.

.

Rudal tersebut mengenai tembok aula dari depan, Tobi dengan sigap menjadikan tubuhnya sebagai tameng bagi Namikaze muda, begitu juga dengan para anak buahnya. Ada yang segera tiarap dan ada yang menjadikan tubuh mereka sebagai tameng bagi para Namikaze diruangan itu. "KAPTEN!" teriakan horor Masamune terdengar nyaring saat melihat tembok aula mulai rubuh, begitu juga lantainya dimana Naruto dan Tobi berada. "Shit!" Tobi segera melempar tubuh Naruto menjauh dan menyusulnya, nafas Naruto tercekat saat lantai ruangan tersebut jatuh kebawah dan pecah menjadi berkeping-keping.

... mungkin nasibnya akan sama bila Tobi tidak segera melemparnya tadi dan lamunannya buyar saat suara deru mesin mobil terdengar menjauh dari sekolahan, begitu juga dengan beberapa kelompok teroris yang mendadak mundur tanpa alasan yang jelas. Naruto menoleh kearah Tobi dan menemukan raut wajah yang tidak menyenangkan seperti tiga hari terakhir ini. Suara gemeretuk gigi juga menandakan bahwa kapten tersebut tengah menahan emosinya dan segera merampas alat komunikasi salah satu anak buahnya.

"Kerahkan seluruh pasukan dan kejar para berengsek itu hidup atau mati!"

"T-tapi kapten..." Masamune mendekati kaptennya yang masih larut dalam emosi. "mereka sudah menjauh mungkin tidak dapat kita kejar la—" dan ucapan Masamune segera ia telan mentah-mentah saat atasanya menatapnya dengan tatapan tajam, tatapan yang hanya ditunjukan bila dalam medan perang. "kirim tim Akashi untuk mengejar mereka sekarang!"

" Baik!"

"Nakamura." Kurama perlahan-lahan mendekati kearah Tobi yang tenggah mengigiti jari jempolnya, kebiasaan buruknya bila terjadi hal diluar dugaanya. Dia sangat membenci rencana yang selalu dikeluarkan para petinggi yamg membuatnya ingin menembakan senjatanya kekepala mereka dan mengeluarkan isi tubuh mereka dengan sadis. Dia menggeleng dan menemukan salah satu bawahannya tengah berlari kearahnya dengan raut wajah serius. "ada apa?" dam hal yang paling tidak diingin didengarnya adalah dari bawahannya tersebut.

"Target meledakan diri saat mendekati pusat perbelanjaan!"

"APA YANG KALIAN TUNGGU! SEGERA KELOKASI KEJADIAN!" teriaknya emosi tak tertahankan, kejadian seperti ini memang sering dialaminya dan pasukannya tapi nyaris setengah dari pasukannya terluka parah akibat serangan tadi dan tanpa sadar dia berdesis kesakitan saat kain pakaiannya menggesek perut dan juga nyeri yang tidak dirasakannya mendadak membangunkannya dari dunianya sendiri.

"Tobi." Naruto mendekat kearahnya dengan wajah horor saat menyadari nyaris seragam yang seharusnya berwarna putih tersebut kini didominasi warna merah ditambah sampai menetes dilantai. "kau terlu—" "—abaikan aku dan lihat kondisi ibumu, Kaito seharusnya sudah ada di helipad, Masamune kau temani nyonya Namikaze dan David tolong bantu aku menangani kekacauan disini." Keudanya mengannguk patuh saat menerima perintah tersebut. "Kyoshiro kau tahu aku tidak bisa seenak jidat memperkenalkan diriku sebagai tentara jadi tolong gantikan posisiku." Kyoshiro mengangguk. "kau ingin aku melakukan apa kapten?"

"kumpulkan semua murid dan staf pengajar dilapangan dan pastikan tidak ada satupun yang menghilang." Sekali lagi ia mengangguk dan berlari keruangan evakuasi para siswa. Tobi mengusap keningnya kasar sambil menghela nafas lelah, matanya memperhatikan sekeliling ruangan yang kacau balau dan mengumpat saat rasa sakit yang diabaikannya kembali meminta perhatian khusus darinya.

Jujur saja dia tidak sanggup lagi untuk berdiri, lukanya masih mengalami pendarahan hebat yang membuatnya pusing bukan main, tapi dia tidak boleh ambruk disaat seperti ini. Sampai Tatsumi datang dan dapat menggantikan posisinya saat ini, dia harus bisa tetap sadar meskipun kedua matanya sudah amat susah untuk dibuka. "Kapten." Masamune mendekatinya dan mengecek kondisi atasannya yang jauh dari kata baik. "biar aku mengobati lukamu." Tobi mengangguk dan duduk dilantai, membiarkan Masamune melakukan pertolongan pertama padanya. Raut waah berubah saat melihat luka menganga diperut atasannya. "kap—" dan jantungnya serasa berhenti saat kedua mata tersebut kini terpejam rapat.

"KAPTEN!"

.

.

.

Sarutobi berlari dilorong rumah sakit bersama bawahannya, kabar akan penyerangan disekolah dan tumbangannya salah satu bawahannya. "jendral, kapten Nakamura berada diruangan 145." Sarutobi mengangguk dan membuka ruangan tersebut. Hal pertama yang dilihatnya adalah Tobi yang terbaring lemah diatas kasur dengan masker oksigen serta selang infus yang mengalirkan darah.

"Bagaimana kondisinya Masamune ? "

"Kondisinya sudah stabil,sekarang dia dalam pengaruh obat bius." Sarutobi mengangguk dan berjalan kearah tempat tidur Tobi, dia memperhatikan kondisi bawahannya. Bocah yang dulunya terlalu aktif dibarak militer, berlarian dengan riang berubah menjadi remaja pendiam dan tumbuh menjadi pria yang dingin dan tak berperasaan. Mementingkan tugas daripada tubuhnya sendiri, seakan-akan nyawanya tidaklah berarti lagi. Wajahnya pucat bagaikan kertas dan nafasnya tidak teratur bahkan Sarutobi dapat melihat perban yang membabat sekujur tubuhnya. "Masamune."

"Ha'i!"

"Terus kabarkan kondisinya kepadaku."

"Baik jendral."

.

.

.

Sudah enam hari Tobi berada dirumah sakit dan terkadang teman-teman disekolah datang menjenguknya dan mengantarkan buah-buahan dan makanan. Jujur saja dia merasa aneh saat dijenguk oleh mereka. Hinata, gadis yang seharusnya dia lindungi datang menjengguknya setiap hari, menemaninya sampai petang dan pulang diantar supirnya. "krgh!" dan dia mendesis saat merasakan luka bekas jahitannya terasa nyeri, membuat Masamune sigap mendekatinya. "Kapten, apa lukamu terasa sakit?" pertanyaan bodoh.

"aku bosan hanya berbaring, Masamune temani aku diluar." Masamune mengangguk, mengambil kursi roda dan membantu atasanya agar dapat duduk diatas kursi dan memegang cairan infus. "kapten."

"Kapan aku boleh pulang?" Tobi menghela nafas lelah dan menikmati semilir angin malam yang menerpanya dengan lembut. "naa Masamune, bagaimana kondisi istrimu?" Masamune segera menghentikan langkah kakinya. "err kapten..." dan sang kapten tertawa lembut, menemani suara jangkrik dan gemerlap bintang yang berkerlap-kerlip indah menghiasi langit malam.

"Maaf ahaha." Menghapus air matanya akibat terlalu banyak tertawa, Tobi menatap Masamune yang wajahnya merona hebat. "itu sudah lama sekali." Masamune tersenyum lebar. "ya, terakhir kali kapten tertawa saat kita di Iraq kan?"

"yap, menghilangkan stress akibat pekerjaan itu menyenangkan." Tobi tersenyum sekilas. "kurasa besok aku akan keluar dari rumah sakit." Masamune melotot horor. "Kapten, kau berbicara seakan kau ada berada dihotel." Tobi mengendikan bahunya."sama kan." Dan teriakan Masamune memenuhi halaman rumah sakit.

"BEDA KAPTEN!"

"Kau merusak gendang telingaku Masamune" Tobi melepas selang ifus miliknya, mengabaikan nyeri ditangannya saat jarum tersebut lepas dari urat nadinya. "aku mau pulang, kucingku pasti merindukanku." Masamune menatap datar kaptennya yang mulai dianggapnya mengigau.

"Kapten cari pacar sana."

"Ohh maksudmu para tantara wanita atau siswi disekolahan yang memenuhi lokerku dengan surat cinta." Dan Masamune mengutuk kepikunannya mengenai seberapa popular kaptenya dikalangan wanita. "Kapten."

"Masamune kau terdengar seperti seorang ibu yang meminta anaknya agar cepat menikah."

"Bolehkan aku membunuhmu kapten." Ucap Masamune datar dan mengacak helai jabriknya kasar dan stress. "Maksudmu?" Tobi ikut menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Maksudku, cari pacar yang mencintaimu seutuhnya bukan Karena tampangmu!" Tobi mengangguk dan entah mengapa sangat menyenangkan mengerjai anak buahnya ini. " Maksudmu seperti istrimu." Masamune nyaris terjungkan kebelakang karenanya. "jangan bawa-bawa istriku kapten, kumohon."

"Bercanda." Tobi perlahan-lahan berdiri dan berjalan dengan pelan. "kekasih?" gumamnya pelan sambal memperhatikan lorong rumah sakit yang ramai. Tertawa hambar ia memutar tubuhnya agar bias berhadapan langsung dengan Masamune yang menatapnya dengan bingung. "mungkin itu tidak kubutuhkan."

"Kapten tidak membutuhkannya sekarang tapi suatu saat nanti pasti kapten membutuhkan seseorang kan? Masamune tersenyum menggoda dan mendapatkan tatapan maut dari atasannya. "aku belum siap, aku tidak mau dikecewakan lagi untuk kedua kalinya." Tobi melihat keatas langit yang bertaburan bintang yang indah. "bagiku hubungan itu bagaikan bintang yang berkerlap-kerlip, ada yang terang dan ada yang redup." Masamune menghela nafas, memaklumi kenapa kaptennya memilih tidak menjalini hubungan apapun saat ini.

Pekerjaan mereka beresiko, dia menyadarinya saat mereka bertugas di Suriah dulu. Dia hanya anak bau kencur yang tidak mengetahui seberapa susahnya hidup di tempat penuh konflik. Tangisan dan juga kematian, darah dan suara ledakan serta rentetan peluru selalu menjadi aktifitas sehari-hari bagi penduduk local. Air mata mereka sudah kering saat menangisi keluarga mereka yang tewas saat menjadi korban perang dan Masamune harus mengalami hal yang sama saat kakak kembarnya tewas Karena salah satu pasukan musuh memasang bom di mobil zip yang dikendarai kakaknya dan juga petugas medis. Masih jelas diingatan Masamune saat mobil tersebut meledak dan hal terakhir yang diingatnya hanyalah teriakan kesakitan dan minta tolong para korban yang terbakar hidup-hidup.

Masamune mengurung dirinya dan memutus kontak dari siapapun sampai Tobi menggeretnya keluar dan menyegarkan pikirannya. "apa yang kau lamunkan." Lamunannya buyar saat Tobi mencolek tangannya. "tidak kapten." Dan Tobi tahu bahwa senyuman yang diberikan bawahannya hanyalah sekedar topeng belaka.

"Tidak." Kali ini nada suara Tobi terdengar datar. "kau tidak baik-baik saja Masamune, jangan mencoba menipuku."

"Kapten." Gumam Masamune lirih. "aku Lelah, ayo kembali." Masamune mengangguk dan mendorong kursi roda Tobi. Hanya keheningan yang mengisi suasana mereka saat ini.

"Ne, Masamune…" Tobi melempar senyuman yang ramah kepada Masamune. "Bagaimana kalau kita bangun sampai matahari terbit? , seperti Di Nigeria dulu…" dan Masamune mengangguk penuh semangat.

"Ayo."

.

.

.

.

Tbc

Chapter 5 bulan dua belas ye.. author mau lanjutin karangan author yang lainnya dulu..

Bye bye