Remake

Disclaimer Masahi Kishimoto

Author Roxelyn...

.

.

.

.

.

.

"Kau terlihat baikan." ini untuk kesekian kalinya Sarutobi mengunjungi anak buahnya yang masih mendekam dirumah sakit, seminggu lagi Tobi baru boleh keluar dan tidak boleh beraktivitas terlalu berat atau luka jahitan operasinya akan terbuka. 'aku serasa akan mati." gumam Tobi, kini sedang duduk diatas rajangnya, bajunya berantakan dan wajahnya masih terlihat pucat. Dia memang memiliki riwayat anemia parah. "Kau hampir mati karena kehilangan darahmu."

"ahh jangan ingatkan lagi, aku akan rajin meminum obat penambah darah." Tobi mengusap wajahnya frustasi. "jadi pak jendral." manik merahnya melirik Sarutobi sekilas. "Kau bukan keluargaku dan kenapa terus mengunjungiku?" Sarutobi tertawa renyah. Tobi menatapnya tajam. "Kau lari tugas laporanmu kan." kali ini pria tua itu terkekeh garing. Kedoknya terbongkar.

"Masamune, aku tahu kau ada diluar." dari balik pintu, Masamune muncul sambil cengengesan dan mengusap belakang kepalanya dengan gugup "Bawa jendral besar Sarutobi kembali kekantornya dengan pengawalan ketat."

"Aku naik bus kesini."

"Aku juga tidak akan sadar kalau kau jendral besar, pakaianmu seperti gelandangan. " Tobi da mulut tajamnya memang sudah terkenal dikalangan militer, kata-katanya setajam pisau yang menusuk jantungmu. "bawa dia sekarang."

"Baik, pak!" Masamune memberi hormat dan nyari tersenyum saat melihat raut wajah murung jendralnya. Sarutobi menghela nafas dan melirik prajurit terbaiknya yang kini tengah menatapnya dengan tajam dan penuh nafsu membunuh. "bergerak atau kutendang bokongmu pak tua."

"kurang ajar seperti ibumu." Tobi mendengus dan berbaring, menutupi tubuhnya dengan selimut. "kalau begitu selamat beristirahat." Sarutobi berbalik. "Ahh, Asuma bilang anak didiknya akan datang menjengukmu."

"Aku berharap Namikaze muda itu bisa menutup mulutnya." Tobi mengacak rambutnya frustasi. Saruto dan Masamune tertawa dan terdiam saat Tobi melirik kearah mereka. "Tunggu apa lagi, cepat pergi jangan kelamaan disini, aku rasa saja mau membusuk karena terlalu lama disini."

"Baik-baik, kami pergi dulu dan cepatlah sembuh."

"Supaya kau bisa memberikanku tugas setumpuk lagi?"

"Hahahaah!"

"sialan." Saruto tertawa dan berjalan keluar dari kamar Tobi yang memijit kepalanya, mendadak sakit kepala karena rencana kejam. Lebih kejam dari serangan teroris diseluruh dunia. "Kawal pak tua itu, dia suka membeli majalah porno."

"Jangan rusak citraku anak muda."

"Maafkan aku, kakek tua."

'blamm!

Dan pintu itu ditutup dengan kasar oleh Masamune, mengakhiri sesi mengejek mereka berdua yang akan memakan waktu seharian penuh. Tobi membaringkan tubuhnya dikasur, membaca maajalah yang dibawakan Kurenai.

Membalikan halaman majalah itu dengan asal-asalan tanpa ada niat membaca sedikitpun. Setidaknya dengan kedatangan Sarutobi tadi itu sedikit menghibur dirinya. Lukanya tergolong ringan, tapi dokter rumah sakit terlalu membesar-besarkannya. Dia pernah mengalami hal yang lebih parah dari ini

Yang jelas semakin cepat dia sembuh, semakin cepat pula ia akan kembali bertugas dan semakin sigap pula dia akan menyusun rencana untuk kedepannya. Jaga-jaga kalau ada serangan mendadak seperti kemarin. Dia sama sekali tidak siap akan serangan itu, memaksanya untuk memutar otak dan mengingat serangan yang dilancarkan kemarin.

Tobi mengambil buku gambar kosong dan pensilnya, menuliskan ntah apa itu dan menggambar. Skill menggambarnya seperti anak kecil. Dia tidak pernah pandai menggambar dan semua anak buahnya tahu itu tapi bila disuruh membaca peta buta dia mengetahuinya secara detail. Kalau tidak membawa gps, panggil saja Tobi dan dia akan menunjukan arah yang ingin kau tuju secara detail tanpa kesalahan.

"Nyonya Namikaze diserang oleh pihak bersenjata." dia bergumam pelan, mencerna situasi kemarin. Kushina mengatakan pada saat itu dia melihat seorang siswa yang mengikutinya dari belakang dan bertanya kepadanya. Merasa kalau hal itu wajar Kushina menjawabnya dan anak tersebut menuntunya diruangan aula, membuatnya tidak sadar dengan stungun dana saat dia sadar kekacauan sudah terjadi. Hal pertama yang dibenaknya adalah nasib anaknya yang membuat jantungnya berdegup kencang.

Nalurinya sebagai seorang ibu mengatakan kalau anak bungsunya dalam bahaya dan dia harus segera mencari anaknya. Akan tetapi beberapa pria bersenjata menembaknya dan Kyuubi masuk kedalam ruangan itu, menolongnya dan melakukan tembakan balasan. Menarik ibunya menjauh dan meminta bala bantuan dan disaat itu Tobi tengan bersama Hinata yang kebingungan karena suara tembakan yang memecah keheningan sekolah saat itu.

Sakit kepala, dia tidak dapat berpikir jernih saat ini. Terakhir kali bermain petak umpet dengan Hanzou dia menang dan menghancurkan markas miliknya di Amegakure saat itu. Tapi itu tidak membawakan kemenangan sepenuhnya. Tiga minggu setelah itu Hanzou kembali merebut Amegakure dan menembak mati warga sipil. Mengirim pesan ancaman agar Jepang tidak menyentuh daerah kekuasaannya atau akan ada banyak lagi warga sipil yang akan mereka bunuh.

"Membuatku banyak pekerjaan saja." Tobi menutup bukunya dan menyalakan televisi, emlihat berita dan acara tv lainnya untuk membunuh rasa suntuk yang dimilikinya...

Satu minggu disini dan ia akan mati...

"membosankan." Tobi berdiri, memegang tiang infusnya dan mulai berjalan-jalan agar tidak merasa kebosanan. Hal pertama yang ingin dia lakukanya hanyalah berjalan dilorong rumah sakit, menyapa keluarga pasien yang lain dan entah mengapa dia mendadak terkenal dikalangan para lansia yang merasa nyaman berada didekatnya.

Nenek Nanami misalnya, wanita tua itu mendapatkan perawatan karena sakit pada kakinya tidak dapat ditahan lagi dan memilih melakukan operasi. "Ahh nak Tobi." wanita tua itu tersenyum melihat kedatangannya. Tobi mendekatinya. "bagaimana keadaan nenek? Apa sudah baikan?" Nanami tersenyum, wajah keriputnya masih ceraha dan bersih, tanpa ada seikit nodapun disana dan aura yang dipancarkannya amat ramah. "Masih sedikit sakit, tapi dokter mengatakan nenek boleh pulang dua hari lagi."

"Baguslah nek."

"nenek tidak sabar bermain dengan Hanako dan Yui." raut wajahnya melembut saat menyebutnya kedua nama cucunya yang masih kecil tersebut. "Bagaimana denganmu?"

"aku satu minggu lagi." ahh, dia tidak suka saat wanita tua itu menatapnya dengan cemas. "pengendara motor itu pasti menabrakmu dengan keras ya?" dia berbohong dan mengatakan kepada nenek itu kalau dia ditabrak pengendara motor saat ingin berbelaja.

"Apa kau akan kesepian kalau nenek tinggal?"

Tobi menggeleng dan duduk disamping wanita tua itu. "tidak, karena aku akan mengunjungi nenek nanti."

"ahh, tapi anak nenek dari kesatuan kepolisian. " Nanami mengelus tangan Tobi lembut, "Kalau mau berkunjung teleponlah dan nenek akan menjemputmu, ya."

"tidak usah repot-repot nek, aku akan datang sendiri kok."

"baiklah, bila kau menolak."Nanami tersenyum lembut kearah anak muda dihadapannya. "ahh, lihat siapa yang datang." dia menunjuk kearah sekumpulan anak sekolahan yang tengah berjalan kearah mereka, dibelakangnya ada Asuma dan Naruto yang tanpak gugup.

"ahh, tamuku sudah datang, nenek mau ikut bersamaku?" dia menggeleng. "bermainlah dengan teman-temanmu ok."

"baiklah kalau begitu nenek kutinggal ya." Nanmi tersenyum kearahnya dan memperhatikan saat Tobi menghampiri teman-temannya, meringgis saat Asuma mempelototinya dengan tajam. "Kau boleh jalan-jalan keluar kamarmu." Tobi mengangguk, memperhatikan teman-temannya yang memelototinya seakan-akan menyerukan suara protes yang sama dengan Asuma.

"Ahh, dokter sudah memberikan izin kok" Asuma tetap menatapnya dengan tajam, tidak percaya akan pernyataan yang dibuat dengan wajah tanpa dosa oleh temannya itu. "kau bisa bertanya pada dokter Shizune nanti."

"wajahmu penuh kebohongan."

"Sensei, sekali-sekali percayalah kepadaku." mengacak rambutnya, Tobi menghela nafas dan melirik Hinata yang menatapnya dengan cemas. "hei, aku benar-benar kok." kali ini Naruto yang memberikan tatapan yang sama. Ada perasaan menyesal yang tersirat dari kilau mata birunya.

"Bagaimana kalau kekamatku." Tobi berbalik dan berjalan menuju kamarnya, "ayolah apa kalian mau seperti keluarga pasien yang terlantar?" Asuma menghela nafas dan menyusul temannya itu, melirik kearah anak muridnya yang mulai mengekor secara perlahan-lahan dari belakang.

Saat dia masin hanyalah siswa sma ingusan, dia bertemu dengan Tobi yang pendiam. Tidak banyak bicara dan memilih menghindari anak-anak sekelasnya. Meskipun banyak penggemar yang menyukasi sikapnya yang cuek dan tidak peduli pada sekitarnya, Asuma tetap mencoba untuk mendekatinya dan berteman dengannya.

Dia keras kepala dan dia tahu sudah mengganggu Tobi yang tidak menyukainya. Dan lihatlah sekarang, hasil kerja keras Asuma berbuah manis dan dia menjadi teman baik dari salah satu prajurit terbaik yang dimiliki Jepang.

"Asuma-sensei, kau melamun." Kiba menyikut gurunya pelan. "Nakamura sudah berada dikamarnya dengan yang lain." dan Asuma tidak sadar dia melamun dan ditinggal oleh murid-muridnya.

Mempercepat langkahnya ia memasuki kamar bernuansa putih dan bau obat-obatan itu. Ada sekeranjang buah dan beberapa botol minuman dingin didalam kulkas.. "apa ada yang bertamu sebelumnya?" Hinata meletakan karangan bunga divas dan melihat bagaiamana interaksi teman-temannya.

Yang dijenguk duduk diatas kasurnya, skali-kali tertawa saat mendengar pertengkaran antara Ino dan Chouji. Chouji yang memakan buah-buahan untuk Tobi yang tanpak tidak begitu memperdulikannya.

Hinata dapat melihat betapa berbedanya Tobi, setiap ekspresi wajahnya hanyalah seperti topeng, senyuman dengan mata yang tidak memancarkan kegembiraan. Wajahnya berekspresi tapi matanya beku. Tanpa perasaan dan emosi didalamnya.

"Duduk disini." Tobi menarik tangan Hinata pelan, namun cukup membuat gadis itu kehilangan keseimbangnya dan nyaris jatuh Kalau Tobi tidak sigap menahannya. "ahh maaf." raut wajahnya merona dan senyuman lembut itu membuat jantungnya berdegup kencang sesaat. "aku seharusnya yang minta maaf."

"Hinata wajahmu seperti kepiting." Ino dan Sakura terkekeh geli dan wajah Hinata semakin merona, bisa untuk memasak air. "wajahnya menggemaskan sekali kalau digoda." wajahnya kian merona, seperti kepiting rebus saat mendengar pernyataan sepihak dari teman sekolahnya itu.

Tobi hanya memperhatikan, tadinya kamarnya amat sepi tanpa tamu yang berkunjung dan sekarang. Tadinya dia merasa bosan, membunuh waktu dengan berjalan kesana dan kesini tanpa arah tujuan. Tanpa orang yang dapat dianggap bercanda, tapi dia tahu.

Gadis Hyuuga yang berada dalam pengawasannya ini mengetahui kalau dia tidak berekspresi seutuhnya. Hatinya mati saat wanita yang dicintainya menghianati dirinya, rekan seperjuangnya banyak yang tewas dan terluka parah. Banyak yang mati akibat perang dan sebagian hal dia ikut serta. Sudah berapa banyak nyawa yang dia ambil dan sudah berapa banyak air mata yang mengalir seiring dengan letusan pistolnya.

Hatinya membeku seiring dengan waktu, jiwanya mati dan dia seperti boneka yang berada dietalase toko. Tanpa sadar ia tersenyum kearah Hinata dengan lembut, dengan ekspresi yang sesungguhnya. Jantung Hinata berdegup kencang, bola mata berwarna merah darah itu seperti kaca. Hinata mencatat sesuatu dalam catatannya.

.

.

.

Senyum yang paling indah adalah senyum yang penuh perasaan dan kasih sayang...

Hinata...

...menyukai senyuman itu

.

.

.

.

.

Tbc

maaf kalau tampilannya aneh dan maaf bila lama updated author agi sibuk kayak orang tua dan lagi berusaha buat buka usaha sendiri, capek kerja ama orang. bosnya baik tapi pegawainya kayak setan... *malah curhat

hontou ni gomenasai