Asuma nyaris menelan es batu saat tengah meminum minuman miliknya. Iris hitamnya melihat kearah segerombalan pria yang masuk kedalam bar dengan raut wajah horor. Mereka semua mencolok karena bukan warga asli Jepang, dilihat dari wajah mereka Asuma sudah tahu kalau mereka berkebangsaan asing. Tapi yang nyaris membuat Asuma menelan es batunya tadi karena menangkap sosok temannya yang tengah bercengkrama dengan ramah, salah satu pria yang memiliki mata berwarna abu-abu berambut coklat. Dengan bahasa yang Asuma yakini sebagai bahaa inggris, temannya tertawa dan merangkul pundak pria itu yang ikut tertawa, seperti dua orang sahabat yang sudah lama tidak bertemu selama belasan tahun. "well Daniel, how about we are drink something" pria yang dipanggil Daniel itu tersenyum lebar saat mendengar ajakan temannya. "You will pay it right?" temannya terkekeh.

"i will pay it for tonight." Daniel tersenyum lebar. "captain Nakamura, you are the best!" ujarnya senang dan orang yang dipanggil kapten itu hanya tersenyum menaggapinya.

"Tobi! Nakamura Tobi!" seru seseorang dan membuat Tobi menoleh, melihat kearah Asuma yang tengah menahan Ebisu yang menatapnya berang. Bagaimana bisa pikirnya sambil melangkahkan kakinya kearah anak muridnya itu berada.

"Apa yang kau lakukan disini!" Tobi berdecih dan melirik Asuma yang masih pucat, ada beberapa orang guru dibelakangnya yang tengah melihat kearah Tobi dengan heran dan marah. Daniel yang paham kejadian ini langsung menyusun skenario terbaiknya. Tapi lidahnya mendadak kelu saat mendengar penuturan halus dari temannya.

"Kenapa kalian memanggil nama adikku?"

.

.

.

Remake

Disclaimer Masashi Kishimoto

Author Roxelyn

.

.

.

.

Diamn hanya itu yang bisa Asuma lakukan dengan mulut menganga lebar karenanya. Bagaimana cara temannya ini bergantir sifat begitu cepat pikirnya. Dia yakin seratus persen kalau didepannya bukanlah teman sekolahnya dulu, senyum yang ramah dan tatapan mata yang lembut sangat amat bertolak belakang dengan Tobi yang dia kenal dengan sifanya yang dingin dan kejam. Dia tidak segan0segan mengutarakan niatnya untuk mmenggal kepala guru mereka dulu. Asuma merinding dan Tobi menikmati ekspresinya saat ini. "Daniel dapat berbahasa Jepang." Ujar Tobi halus, menepuk pundak rekannya yang mengangguk ramah. "kami dari pasukan perdamaian kalau bisa mempelajari bahasa asing walaupun sedikit." Ujarnya halus. Guy mengangguk senang "adikmu membuat masalah."

"Dia masih belum menerima kematian ayah kami." Ujar pria itu halus sambil menatap lurus kedepan dengan pandangan nanar, dia menggeleng dan tersenyum kecil. "masa lalu hanyalah masa lalu." Ucapnya sambil mengusap keningnya dan melirik bartender yang meracik minuman. "apa disini ada Grappa?" tanyanya dan bartender itu mengangguk kecil Daniel tersenyum senang sambil membayangkan manisnya minuman tersebut saat menyentuh lidahnya. "aku akan membayarnya, pesan semau kalian." Ujarnya tenang sambil meminum Grappa yang baru dituang bartender itu. Guy yang penasaran membuat Daniel tak tahan untuk tidak tersenyum kecil. "itu bahasa italia yang berarti grape stalk aku tidak menyarankanya bagi yang mudah mabuk." Asuma menaikan salah satu alisnya heran. "kadar alkoholnya terlalu tinggi." Ujar Daniel tenang dan memperhatikan bagaimana Tobi menegak minuman itu untuk kedua kalinya. "well" dia menyeringai saat Guy masi penasaran. "satu gelas kecil tidak akan membunuh kalian."

"kami tidak akan mati karena mabuk." Tobi tersedak, Daniel menepuk punggungnya pelan. "kalian tidak akan mati karena mabuk tapi mati karena mengendarai mobil dalam keadaan mabuk." Daniel tertawa dan Tobi mendengus kecil. "bagaimana dengan wine, itu lebih ringan dan manis." Ebisu mendengus dan Tobi sudah menduganya. Teman sekolahnya yang satu ini memang susah bergaul sejak dulu dan dia bersyukur karena mereka semua sudah tidak terlalu mengingat dirinya.. "aku akan membayarkan minuman mereka kapten, mereka terlalu meremehkan minuman." Tobi memucat, Daniel tergolong anak kaya raya, uangnya sekana-akan tidak memiliki nilai bila berada dinegara orang lain dan hal itu yang membuat ayahnya melempar putra bungsunya kedunia militer yang kejam agar tidak dapat berfoya-foya sepuasnya. "bawakan aku wine, err." Meletakan jarinya didagu dan memasang pose berpikir. 'ahh! Henri Jayer Cros Parantoux" ujarnya senang, membuat Tobi kembali tersedak dan lebih hebat dari sebelumnya. "aku akan melaporkanmu pada ayahmu. "

"ayolah, biarkan aku mencicipi minuman yang kusukai itu. " rengeknya pelan sambil menarik lengan baju Tobi. " itu wine biasa kan?" Tobi menghela nafas dan menepuk pundak Asuma pelan. "terlalu murah?" Tobi menatapnya tajam dan memucat saat melihat seringaian lebar diwajah Daniel. " pak anda menyediakan wine terbaikkan?" tanya Daniel pada bartender itu dan pria itu mengangguk kecil. "apa kau memiliki Screaming Eagel Cabernet Sauvignon 1992?"

"itu untuk tamu VIP." Daniel mengeluarkan kartu identitasnya dan kertas cek. "bagaimana dengan cek untuk membayar minuman itu? " Tobi meletakan kepalanya diatas meja dan menghela nafas kasar. "ayahmu akan membunuhku dan mencincangku." Daniel merangkul pundaknya. "ayolah, mereka juga mau." Daniel menunjuk kearah Asuma dan Guy yang masih penasaran serta Ebisu yang terdiam dan Hayate yang pucat. " satu botol tidak akan membunuh kan?"

"Aku lebih memilih membawamu ke kolam renang anak-anak." Daniel merengut. "sungguh lucu kapten, waktuku dijepang hanyalah dua belas jam lagi." Tobi meneuk kepala Daniel dengan lembut. "bagaimana jika aku membantumu mempelajari tugasmu dari pada kau menghamburkan uangmu?"

"tentu." Tobi tersenyum dan senyumnya luntur saat Daniel melanjutkan kata-katanya lagi.

"setelah aku meminum Screaming eagelku." Ujarnya senang dan Tobi hampir membantingnya bila tidak menyadari dimana mereka saat ini berada. "ingin sekali aku mematahkan tulang leher milikmu saat ini.

"wahh, kau kejam." Asuma mendenggus interaksi mereka berdua cukuplah menarik. Bagaimana kedua orang tersebut mengabaikan keberadaan yang lainnya disekitar mereka berdua. "kap, sepertinya Screaming eagel harus kutunda." Daniel menatap layar ponselnya dan tersenyum lebar. "kau sudah memesannya." Ujar Asuma halus dan Daniel tertawa kaku. " mayor sudah memanggilku." Tobi bersiul, terdengar mengejek ditelinga Daniel yang menatapnya sinis. "semoga bersenang-senang dengan pamanmu."

"Aku benci kau tahu!" Daniel berdiri dan melempar tatapan sinisnya kearah Tobi untuk kesekian kalianya dan Tobi hanya melambainya dengan raut wajah yang menjengkelkan dimata Daniel. "Aku tahu dan aku juga menyayangimu." Dan akhirnya Daniel tertawa dan melambai, berjalan pergi meninggalkan segerombolan orang tersebut. Asuma menepuk pundak Tobi , Tobi pun pada akhirnya berdiri, merapikan pakaiannya. Cukup sederhana, hanya kaos oblong berwarna abu-abu dan juga celana olahraga berwarna hitam polos dan sepatu kets berwarna hitam.

"Kau juga mau pergi." Merenggangkan tubuhnya Tobi mengangguk dan tersenyum simpul. "ya, aku ada patroli malam hari ini."

"besok minggu." Ujar Guy pelan dan Tobi terkekeh kecil. "Kalau kami mengenal hari minggu, makan negara akan diserang secara besar-besaran." Diam dan Guy menggaruk belakang kepalanya yang mendadak gatal dengan kikuk saat teman-temannya yang lain menertawainya. Tobi melirik Asuma sekilas dan mengangguk sebelum meninggalkan mereka semua dan Asuma tanpak menyesal tidak menghentikan aksi kepo teman-temannya. Dia tahu kalau Tobi memerlukan waktu untuk menikmati akhir pekannya dan disini mereka sekarang, menganggunya dan membuatnya pergi meninggalkan mereka semua.

.

.

.

.

.

"Kapten!" Masamune berdiri dari kursi dan langsung memberi hormat saat Tobi menepuk kepalanya pelan. Salah satu alis Tobi terangkat, "kau tertidur?" wajah Masamune pucat pasi dan Tobi terkekeh geli. "pulanglah, aku akan menggantikanmu."

"Tapi kapten, besokkan hari minggu." Tobi menatapnya malas. "lalu apa masalahnya, besok tidak kiamat kan?" Masamune terdiam dan menundukan kepalanya, menyembunyikan rona merah diwajahnya. "aku akan berganti pakaian, jadi panggil ana-anak yang lain. "

'Tapi laporanku!" protesnya dan diam saat Tobi menatapnya dengan tajam. "kau membantah perintahku?' Masamun langsung menggeleng. "Aku tidak berani."

"Bagus dan laksanakan perintahku."

"Baik!" seru Masamune dan langsung menjalankan perintah yang diperintahkan kepadanya barusan. Tobi menghela nafas dan memasuki ruang ganti pakaian, melepas pakaian santainya dan mengenakan pakaian dinas miliknya, kemudian memakai Topi miliknya. Mengambil kopi yang tidak diketahui pemiliknya dan meminumnya pelan, jujur saja dia sudah meminta kepada Sarutobi akan membatalkan tugas khususnya, negara sedang terancam dan dia tidak mau menonton saja dan berpura-pura bodoh akan semuanya. Meskioun akan dibenci oleh anak-anak itu tidaklah masalah untuknya.

Asalkan negara ini aman, maka mereka semua akan selamat. Selama ini terjadi beberapa penyerangan yang menyerang kediaman para mentri. Tidak diberitakan karena akan takut menyebabkan kepanikan masal, para mentri yang memintanya dan pasukan khusus diterjunkan semalam. Mengawal kediaman Uchiha Fugaku—mentri pertahanan yang diserang secara membabi buta.

Satuorang mereggang nyawa akibat seranga, Uchiha Obito— adik dari Uchiha Mikoto harus mereggang nyawa saat menjadikan tubuhnya sebagai tameng agar anak dan keluarganya yang lain dapat melarikan diri. Pria tangguh itu masih bertahan dan menghembuskan nafasnya saat musuh berhasil dikalahkan.

"Kapten, yang lain sudah disini" Masamune membuyarkan lamunanya dan Tobi mengangguk singkat, :katakan kepada mereka kita akan mengelilingi kota Konoha." Masamune mengangguk dan dia dapat menangkap raut wajah lelah dari atasannya itu. "Siapkan jeep agar tidak menarik perhatian warga sekitar."

" ya, pak!" sekali lagi Masamune menghilang dari pandangannya. Memasukan pistol dessert eagle magnum miliknya kedalam tas paha serta belati miliknya. Setelah memastikan amunisi miliknya akan mencukupi ia kemudian berjalan kearah lapangan dimana anank buahnya sudah ada yang menunggu dengan perlengkapan mereka masing-masing.

"mobil sudah kami sediakan kapten,." Hanzo menatap kaptenya yang jelas-jelas terlihat lelah dimatanya saat ini. " bagi kelompok menjadi tiga, ada surat ancaman di kediam Namikaze dan Nara dan Uchiha. " Hanzo terdiam.

"Ada kemungkinan mereka akan menyerang Uchiha, kelompok Hanzo jaga daerah Nara." Hanzo mengangguk singat dan Tobi melirik kearah kelompok Masamune— yang masih keras kepala dan mengatakan dia akan ikut patroli. "Kelompok Masamune awasi kediaman Namikaze."

"Dan kapten sendiri." Tobi diam dan membaca kertas laporan ditangannya. "Ada laporan kalau putra sulung fugaku anggota akatsuki, aku takut dia diincar."

"kenapa?" tanya Masamune binggung dn Tobi menghela nafas lelah. "Anak itu yang meretas situs keamanan kita satu bulan yang lalu. " Hanzo menahan nafasmya dan nyaris berdecak kagum, anak ingusan yang meretas situs keamanan mereka dan membuat atasan mereka turun tangan untuk menendang anak itu agar tidak melihat lebih jauh lagi. " Ada kemungkinan mereka menginginkan Itachi untuk informasi yang dia dapatkan." Jeda sesaat dan entah mengapa aura disekitar mereka mendadak terasa berat. "dalam keadaan hidup atau mati, makanya Daniel." Merasa namanya disebut Daniel melambai dari atas mobil jip. "serta David, dua anggota Khusus milik Amerika akan membantu kita. "

"aku harap kita dapat pulang dengan selamat."

/

/

/

/

/

Tbc

I hate battle scene.

Cerita ini akan author hiatuskan supaya author dapat fokus ke blue sky, butuh beberapa data lagi soal senjata ama strategi militer. Jenis bom dan juga pistol ama kendaraanya.

Semuanya uda author tulis tapi dimaninin kucing dan hilanglah catatan author. Chapter ini juga author buat karena terinspirasi dari anime Hataraku Saibo, well -a intinya author bakalan fokus ke blue sky sampe chapter 10 baru lanjut ini.

Jadi bhbye :*