Remake

Disclaimer Masashi kishimoto

Author

Roxelyn

.

.

.

.

Seminggu, sudah ada satu minggu satu pasukan khusus dikerahkan untuk melindungi kediaman para penjabat negara yang diteror oleh teroris, salah satunya kediaman Hyuuga yang diawasi ketat oleh prajurit khusus tersebut sampai status siaga dihentikan dan mereka dapat kembali dengan kehidupan normal mereka lagi.

Tobi menghela nafas, Hiashi meminta untuk menemani putri sulungnya yang gelisah akan pasukan tersebut. Memakai kaus oblong berwarna hitam dan celana training putih serta sepasang sendal yang senada dengan warna bajunya. Mengabaikan senyuman menjijikan dari Toneri, dokter militer yang berasal dari keluarga Hyuuga tersebut tersenyum lembut bak malaikat saat menyapanya.

"aku tidak menyangka kau disuruh menjaga adik sepupuku." ujar Toneri ,melirik rekan yang disebelahnya yang berjalan dengan diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Memamng benar apa yang dikatakan atasan mereka. Toneri tersenyum geli saat mengingat betapa frustasinya kapten mereka yang dulu untuk mengajak Tobi berbicara, pria itu lebih cenderung melakukan aksi daripada berinteraksi. Menunjukan keahlianya dalam menggunakan senjata daripada berbicara dengan yang lain. Membuang waktu, itu yang dikatakanya saat menjawab pertanyaan kapten mereka dulu.

"apa yang kau tertawakan, bodoh." dia dan mulut kasarnya saat berbicara, Toneri menggelengkan kepalanya. "tidak ada, bagaimana kalau minum teh."

"Aku kesini untuk menemani adik sepupumu bodoh." Toneri menghela nafas lelah, sangat langka bila kata-kata bodoh tidak keuar dari mulutnya sehari saja. "Hinata ada dikamarnya dan Hanabi bersamanya."

"Pasukanmu membuatnya tidak nyaman." Toneri berhenti berjalan, menatap temannya tidak percaya. "kau mencemaskan anak itu?" Tobi meliriknya sekilas, mengabaikan nada berbicara bernada tinggi milik Toneri yang entah mengapa terdengar seperti tidak percaya kepadanya. 'anggap saja kau tidak mengenaliku." ujarnya pelan sebelum mengetuk pintuk berwarna gading tersebut. "baiklah, kau dalam misi begitu juga aku."

Tobi mengabaikanya dan kembali mengetuk pintu tersebut. "Hinata!" Toneri berteriak, memanggil adik sepupunya tersebut. "temanmu datang mencarimu." kemudian pintu tersebut terbuka, memperlihatkan Hinata yang tengah memakai kacamata, kaus oblong dan hotpants ditambah rambutnya yang dia ikat sanggul tinggi. "uhh Nakamura-san." ujarnya, belum mencerna apa yang terjadi.

"pakaianmu nona." ucap Toneri dengan nada menegur dan Hinata langsug berteriak histeris saat menyadari, betapa tidak pantasnya pakaian yang dikenakannya saat ini. "kau membuatnya masuk kedalam kamar lagi." Tobi menghela nafas dan mencubit pinggang pria disebelahnya. "aku paling tidak suka menunggu wanita berdandan." Toneri mengaduh kesakitan dan terkekeh.

"Tenang saja, dia tidak akan lama kok."

Tobi mencubit Toneri lagi. "ingin sekali aku menikammu saat ini." Toneri tertawa keras. "aku bersyukur kau tidak membawa pisau." Tobi berdecih sebal dan berjalan meninggalkan Toneri. "apa tawaran akan minum tehmu masih berlaku?" Toneri menggeleng pelan dan menyusul rekannya. "tentu saja, lagi pula wanita berdandan itu akan sangat lama kan?" ujarnya dengan nada mengejek yang kentara.

Detik berikutnya Toneri tergeletak pingsan dilantai , perutnya dipukul keras oleh Tobi dengan sadis...

...

...

...

HInata membawa nampan berisi teh dan kue dengan gugup. Kakak sepupunya amat pucat sambil memegang perutnya dan teman sekelasnya menatap sadis kearah kakak sepupunya. Apa kakak sepupunya berbuat uil lagi? Batinnya heran dan meletakan nampan tersebut diatas meja, menyuguhkan teh dan kue tersebut kepada tamunya. Kali ini pakaianya rapi dan pantas.

Dress selutut berwarna putih dan rambut yang terikat rapi. Hinata terkisap saat menyadari pakaian yang dikenakan temannya kelewat santai. Tapi amat cocok ditubuhnya yang dasarnya bagus, tegap dan kekar, mungkin ini alasan kenapa pelayan wanita dirumahnya bersemu merah saat menatap temannya terlewat lama. "Nakamura-san ada urusan apa kesini?" tanyanya pelan, menunggu jawaban dari yang bersangkutan. "mengajakmu jalan- apa kau tidak bosan dirumah?" Hinata menggeleng.

"Tidak bisa, tugas sekolahku banyak. " Tobi melirik tajam kearah Toneri yang terkekeh pelan. "aku bisa meminjamkan tugasku." Tobi berdiri dan merapikan pakaiannya. "cepatlah." ia melirik Toneri sekilas. "aku akan menunggumu diluar." dan berjalan meninggalkan kedua sepupu itu dalam kebingungan.

"dia dan otak brengseknya." gumam Toneri geram, mengingat betapa pnitarnya pria itu membuat Toneri menyesal. Seharusnya dia menjadi ilmuwan dan bukan tentara, pasti penghargaan akan jatuh ketangannya. "aniki mengenalnya?"

"Anak itu?" Toneri mengerjapkan matanya polos. "tidak sama sekali."

.

.

.

.

.

.

Hinata tahu dia paling lama kalau soal berdandan, semua wanita begitu dan semua pria benci menunggu. Sekali lagi ia memastikan dirinya dicermin. Pakaiannya tetap sama, hanya saja dia memakai make-up diwajahnya, sepatu boot heels berwarna hitam dia kenakann sepatu flat shoesnya dipinjam adiknya seenak jidat dan tanpa izin darinya. "Maaf lama menunggu, Nakamura-san." menghampiri pria tersebut yang tengah menikmati permen yang entah dari mana ia dapatkan. "tidak apa-apa kok."

"kita mau kemana?"

"rumah sakit, aku dengar Inuzuka terluka." Hinata terdiam. "maksudmu KIba-kun?" Tobi mengangguk , dia tahu kalau gadis itu sedang cemas akan kondisi temanya. Tobi tidak mau terlalu memikirkan apa isi pikiran gadis tersebut, dikediaman Uchiha sudah membuatnya sakit kepala. Dahinya mengkerut saat memikirkan sikap yang diperlihatkan keluarga bangsawan tersebut, bangsawan tapi hatinya menjijikan.

"Kita ke minimarket dulu." ucapan Hinata membuyarkan lamunannya, matanya menatap Hinata dengan heran, seakan-akan dia baru saja mengatakan hal yang aneh. "maksudku, tidak enak menjenguk orang tanpa buah tangan." menghela nafas, Tobi mengangguk singkat, mengikuti langkah ringan Hinata yang mekangkah dengan senandung riang dimulutnya.

.

.

.

"semuanya seratus ribu." Hinata mengangguk singkat, mengeluarkan isi dompetnya untuk membayar belanjaanya dan menjemput temannya yang tengah membaca buku yang dibelinya dari toko buku sebelah. Kalau diperhatikan teman barunya ini tergolong memiliki paras yang rupawan, namun sikapnya ini membuat dirinya tidak begitu bersinar seperti kakak sepupunya. Setiap hari Hinata harus menjadi kurir antar barang untuk kakak sepupunya dulu. Kakak sepupunya memiliki senyum yang paling ramah dan sangat indah menurut Hinata, sementara teman barunya adalah kebalikan kakak sepupunya. Dia pendiam, jarang berbicara dan memiliki latar belakang yang tidak jelas.

"Kiba-kun ada dilantai berapa?" tanya Hinata singkat dan membiarkan Tobi yang membaa belanjaan gadis tersebut. "lantai dua, apa kau lelah?" Hinata menggeleng singkat, dibandingkan lelah sebenranya Hinata cemas akan kondisi temannya itu. Kiba jarang terluka dan bukan pembuat onar sperti Akatsuki. Dia sudah sering menolong Hinata dulu dan kini Hinata cemas akan kondisi temannya.

Tepukan pelan dikepalanya membuat ia membuyarkan lamunan miliknya. Iris amethystnya mengerjap lucu saat sebuah topi mendarat dikepalanya dengan sempurna. Melindunginya dari terik matahari yang menyengat. "nanti kulitmu terbakar."

"Nakamura-san bagaimana? Apa tidak kepanasan?" Tobi menggeleng, menjawab pertanyaan Hinata sebelumnya dan mencari ruangan dimana Kiba dirawat, kediaman Inuzuka diserang mendadak dan kakak Kiba menjadi sandra saat itu, Kiba yang panik berusaha menolong kakaknya tetapi dia justru terluka saat melawan penjahat tersebut. Alhasil disinilah dia, kamar 206. salah satu kakinya retak dan kepalanya cedera akibat hantaman balok kayu.

"wahh kalian datang menjengukku!" serunya riang kemudian mengaduh kesakitan karena nyeri dikakinya. "jangan bergerak dulu." ucap Tobi sambil melepas topi yang dikenakan Hinata, gadis tersebut mulai terbiasa akan perilaku pria disebelahnya. Tersenyum lebar dan melirik temannya dengan sengaja.

"Kalian pacaran?" godanya pelan kemudian mengaduh saat kakknya mencubit tangannya karena menggoda kedua temannya. Yang satu bersikap biasa dan yang satunya lagi menundukan kepalanya secara otomatis, malu.

"aku baru mengenalnya dua minggu lalu dan kau berpikir kami pacaran?" Tobi menghela nafas dan menatap iba Kiba. "apa kau piir kita hidup didunia komik?" Kiba menggaruk kepalanya dan kakaknya tertawa geli karenanya.

Tobi memperhatikan sekelilingnya, ada beberapa polisi yang mengawasi kamar Kiba, mereka bersiaga akan adanya ancaman yang baru diterima mereka beberapa jam yang lalu. Dan Tobi dengan nekat membawa Hinata ikut serta ketempat yang akan menjadi arena perang sebentar lagi. "polisi itu ditugaskan ayah untuk menjaga kami." Ucap kakaknya sambil tersenyum lembut, Hinata menyibukan dirinya Dengan merapikan meja Kiba yang berantakan dan Tobi memperhatikan para polisi itu dengan seksama.

.

.

.

Ponselnya berdering dan Tobi segera mengangkatnya, meminta izin kepada Kiba dan yang lain dia berjalan keluar, menjawab panggilan dari atasannya. "Ada apa?" ucapnya tanpa basa-basi , mengabaikan sikap waspada anggota kepolisian tersebut. Dibalik telepon dia dapat mendengar suara atasannya yang terdengar lelah, mereka semua lelah. Tida tidur secara normal membuat mereka cepat emosi.

"Mereka menyerang kediaman Uchiha." Tobi nyaris meremukan ponselnya saat mendengar berita tersebut. "tenang saja, tidak ada yang terluka. Kau jangan memaksa dirimu." Tobi menghela nafas lelah, mungkin dia sudah seperti mayat bila tidak mendapatkan jam istirahatnya, tetapi matanya enggan tertutup. Tubuhnya tidak kelelahan, malah kelebihan tenaga meskpun otaknya berteriak untuk istirahat dan sekujur tubuhnya serasa akan hancur, tapi tidak dengan kedua matanya yang tetap terbuka lebar. "apa aku hars kesana?" tanya dengan perasaan rag-ragu, pasalnya inu bukan Sarutobi, melainkan A, kolonel dari angkatan darat, sekaligus atasannya yang terkenal akan ketegasannya selama ini.

"Istirahatlah, tubuhmu akan lama pulih bila kau terus memaksakannya." memang iya, dia sempat pingsan saat mengawal kediaman Uchiha dengan demam tinggi yang menyerang tubuhnya. "baiklah, kalau ada apa-apa Masamune akan membantu anda, kolonel." dan sambungan telepon berakhir sepihak, meninggalkan Tobi yang kelelahan akan kabar penyerangan yang silih berganti.

"Nakamura-san" Hinata berjalan kearahnya dengan segelas teh hijau yang masih mengepul panas ditangannya. "ini untukmu." ucapnya sambil menyerahan teh tersebut, raut wajahnya terlihat khawatir. "Nakamura-san terlihat lelah, kalau lelah seharusnya beristirahatkan?"

"Aku tidak bisa tidur." gumam Tobi pelan, menyeruput teh hijau tersebut dengan nikmat. "sudah hampir lima hari, otakku terlalu aktif." ujarnya sambil tertawa hambar.

Hinata dapat menangkap betapa tebal kantung mata yang menggantung dibawah mata tersebut, kulit wajah yang terlihat pucat dan tatapan mata yang tidak fokus. Mengambil nafas dalam dan menghembuskannya, Hinata menatap temannya dengan tajam. "Nakamurasan ayo pulang" ujarnya singkat dan Tobi menatapnya dengan heran. "pulang kerumah Nakamura-san sehingga kamu dapat istirahat."

"Rumahku berantakan." Hinata menggeleng tegas dan menarik tangan Tobi.
Tidak masalah, aku akan membersihkannya."

"Haaah..."

'

'

'

'

'

'

'

Tbc

sorry roxelyn error Q.Q