Remake
Disclaimer Masashi Kishimoto
Author roxeln
.
.
.
Hinata tahu kalau mereka menjadi pusat perhatian dari tadi, teman sekelasnya ini memiliki tubuh yang berbeda dengan anak sekolah yang lain, postur tubuh yang tegap dan otot tangan yang besar membuatnya tampak berbeda dari anak seumuran mereka, mugkin saja temannya suka berolah raga pikirnya sekilas, bagaimana juga Tobi sendiri menganggap orang-orang disekitarnya hanyalah patung pajangan. Pandangan matanya fokus kedepan dan sesekali melirik gadis disebelahnya. Jantungnya berdegup kencang begitu pandangan mata mereka bertemu. "Hinata." ini pertama kalinya namanya disebut secara langsung oleh pria disebelahnya. Hanya ada kesunyian yang menemani mereka berdua dan suasana canggung.
"kita sudah sampai dirumahku." Hinata terdiam, mengangkat kepala yang sedari tadi dia tundukan karena malu. Yang terpampang dihadapannya adalah rumah yang sederhana namun cantik. Lengkap dengan perkarangan bunga dan burung-burung yang berkicau riang dihalamannya. "Nakamura-san tinggal disini?" tanyanya heran, pasalnya ia sering melewati rumah ini dulu saat mau membeli perlengkapan rumah, namun rumah itu selalu kosong seakan-akan tidak ada pemiliknya sama sekali.
"Kau bisa memanggil namaku kok." Tobi mengusap kepala Hinata sekilas dan tersenyum kecil, namun dihadapan Hinata hanyalah ada sebuah senyuman kosong yang tidak menampilkan peraaan apapun. Ia mengikuti pria dihadapannya dan saat pintu rumah tersebut terbuka gadis itu terdiam.
Hanya ada sofa dan televisi, peralatan masak yang sedikit. Terlihat kosong dan hampa. "ano, orang tua Nakamura-san ada dimana?" tanyanya singkat dan Tobi yang tengah membuka kulkas menunjuk dua buah bingkai foto di dinding. Foto pertama memperlihatkan seorang pria yang amat mirip dengan temannya, bersurai perak dan juga memiliki mata yang berwarna merah darah, sama percis dengan temannya. Bentuk ajah yang kokoh dan juga tegas , semuanya menurun kepada temannya. Sementara foto yang satu lagi adalah seorang wanita berparas lembut dan sangat cantik untuk Hinata. Iris mata yang berwarna biru laut tersebut amat enak dipandang. Rambut sehitam malam ia wariskan kepada anaknya itu.
Hati Hinata berdenyut sakit saat Tobi menjawab pertanyaan yang akan dia lontarkan. "mereka sudah tiada, hanya aku yang ada disini." ujarnya sekilas sambil meneguk miuman dingin dan menuangkan jus untuk gadis tersebut. "Duduklah, apakah kau lapar?" Hinata menggeleng, memperhatikan bagaimana temannya dengan santai memasak makanan untuknya, meskipun ia menolak dan Hinata yakin kalau pria tersebut mengabaikannya. Hatinya terlalu sakit saat membayangkan Tobi hidup sendiri selama ini, bagaimana ia dapat hidup dengan kesunyian yang mencekam ini.
Niatnya hanyalah mengantarkan Tobi sampai dirumah dan membiarkannya beristirahat, Namun dia malah disuguhkan makanan dan minuman yang biasa dia temukan di caffe tempat ia berkumpul dengan yang lain. "Ini enak." gumamnya pelan saat mengigit potongan daging yang disajikan untuknya, Tobi tersenyum kecil. "syukurlah kau suka." Tobi sendiri duduk dihadapan Hinata sambil meminum susu yang diambilnya dari lemari pendingin dan memakan roti bakar yang dia masak barusan.
Tobi jarang ada dirumah dan isi dapur selalu dia beli untuk beberapa hari saja, karena ia lebih sering berada diasrama dan memakan makanan kantin. "Maaf." Hinata menundukan kepalanya, menghentikan kegiatan makannya tadi. Tobi yang tengah meminum minumanya hanya mengangkat salah satu alisnya bingung. "Karena apa?" tanyanya, berjalan kearah gadis itu dan mengusap kepalanya lembut.
"Karena menayakan hal yang bodoh." jawabnya sekilas dan dia dapat merasakan helaan nafas pria tersebut. "Orang yang sudah meninggal tidak dapat hidup kembali dan kau tahu itu." Hinata mengangguk sekilas. " meskipun aku merindukan mereka, tapi itu sudah lama sekali, aku ingin ayah dan ibuku tenang." Tobi berjongkok dihadapan gadis tersebut menaikan. "hinata..."ucapnya lembut, mengelus pipi Hinata dengan lembut. "terima kasih sudah mencemaskanku." ujarnya sambil ersenyum lebar dan Hinata dapat melihatnya dengan jelas, senyum yang dihadapannya amat percis dengan mendiang wanita difoto tersebut.
"Jadi jangan menangis lagi oke?" ujarnya lembut seraya menghapus air mata gadis tersebut. Hinata mengangguk kecil dan meremas ujung pakaian yang ia kenakan, menatap nanar kearah lantai yang terlihat lebih menarik dari pada wajah Tobi yang menampilkan raut wajah prihatin kepadanya, seharusnya ia yang mencemaskan pria itu dan bukan sebaliknya. Seharusnya dia dapat memberi dukungan moral dan bukan menangis dengan tanpa alasan yang jelas tadi.
Berjongkok dihadapanya dan memegang tangan gadis tersebut dengan lembut, mungkin orang-orang sering melihatnya sebagai atasan yang tegas dan kasar. Namun bila dihadapan gadis ini dia rela melepas imej yang melekat erat kepadanya selama ini, mungkin gadis dihadapannya ini merupakan orang kedua yang dapat menariknya keluar dari tembok besi yang mengeilinginya.
"Apa kau mau memakan sesuatu?" HInata menggeleng dan meremas tangan yang menggengam kedua tanganya dengan lembut, tangan yang besar dan hangat. Meskipun kasar tapi Hinata menyukai rasa hangat yang ada. Tobi menghela nafas, membiarkan gadis itu memaikan telapak tangannya dengan jari- jari mungilnya.
Telepon berdering dan mereka melepaskan tautan tangan mereka masing-masing, wajah Hinata merona dan Tobi terkekeh geli melihatnya. "Maaf." ujarnya sambil mengoyangkan ponsel miliknya, "boleh aku menjawab teleponnya?" Hinata mengangguk kecil dan membiarkan pria tersebut pergi keruangan lain untuk menjawab telepon. Tanpaknya pembicaraan tersebut cukup serius karena sesekali Hinata dapat mendengar nada membentak yang dilontarkan oleh Tobi. Mungkin ada urusan dengan keluarganya, batinya sekilas sambil memperhatikan sekeliling ruangan dirumah ini. Tidak ada yang menarik, hanya rumah sederhana yang terkesan minimalis. Mengingat nyonya besar dirumah ini sudah tiada dan hanya meninggalkan putra semata wayangnya.
"Ahh maaf." Tobi muncul dari balik pintu yang menghubungkan mereka kehalaman belakang. Hinata mengangguk kecil dan Tobi mengelus kepala gadis itu singkat. "cuaca diluar kurang bagus, apa kau mau pulang atau minta izin kepada ayahmu?" tanyanya dan Hinata langsung berdiri dari kursi, berjalan kearah jendela yang memperlihatkan langit yang cukup hitam dan tidak bersehabat, sesekali ia mendengar suara gemuruh dari langit dan angin kencang yang berhembus.
"padahal tadi cuacanya bagus sekali." gumamnya ringan dan Tobi mengangguk. Menyetujui ucapan gadis tersebut barusan. Perubahan cuaca yang cukup aneh ni sudah menjadi hal biasa bagi mereka berdua, Tobi melirik kearah gadis tersebut yang tengah memegang ponsel miliknya dan mencari nomor kontak milik keluarganya.
"Toneri-nii..." ucapnya singkat dan dia mengangguk saat mendapat jawaban yang akan dia tanyakan kepada kakak sepupunya. "Toneri-nii memintaku untuk menginap karena semuanya sedang sibuk." Tobi menghela nafas, Toneri tidak pernah berubah karena dia selalu membuat keputusan sepihak tanpa menanyai pendapat dari yang bersangkutan, apakah mereka keberatan atau tidak. Ini sama saja kau menanyakan kepada pasienmu apa kau ingin suntik mati atau tidak?. tanpa sadar ia menggeleng dan menghela nafas lelah membayangkan tingkah temannya itu tidak berubah sama sekali padahal umur mereka hampir menginjak kepala tiga.
Itupun kalau tuhan memberikan mereka umur sepanjang itu...
Tobi melihat kearah gadis tersebut yang tanpak kesal akan keputusan sepihak Toneri barusan, jujur saja diapun akan kesal bila ada kakak sepupunya melakukan hal yang sama kepadanya, sayangnya dia hanya mengenal kedua orang tuanya tidak dengan saudara-saudara ayah atau ibunya.
"Bagaimana dengan eskrim untuk membuat perasaanmu membaik? Tanya Tobi setengah tersenyum saat wajah masam Hinata masih tercetak jelas disana. "kau tidak mau?" tanyanya dan seketika perasaan bersalah menghampiri Hinata saat itu. "bukan." ucapnya dan menggenggam erat tangan pria tersebut, kemudian melepaskannya saat menyadari apa saja yang baru dia lakukan. "Kau ini, menggemaskan ya." wajah Hinata merona hebat, bagaimana bisa seseorang mengucapkan kalimat terkutu itu dengan wajah kelewat ramah, padahal mereka bukanlah pasangan sama sekali dan juga mereka tidak hidup didunia komik dimana kau dapat jatuh cinta dalam dua hari saja.
"lihat wajahmu." jantung Hinata berdegup kencang saat wajahnya berhadapan dengan wajah Tobi secara dekat, dia dapat merasakan hembusan nafas drai pria tersebut dan wajahnya kian merona saat menemukan senyuman menawan tercetak disana. "aku jadi ingin menciummmu."
Ehh..
Hoiiii..
.
.
.
.
Apa Hinata salah dengan barusan?
.
.
.
.
.
.
Tbc
Sorrry pendenk amat, roxelyn dikejer kerjaan dan berhubung libur lyn engen nyelesain beberapa dosa yang ketinggalan... maaf bila gaje dan banyak typo ya...
