Part 1
Menenggelamkan kepala di atas meja seraya menutup mata, bel istirahat sudah berbunyi lima belas menit yang lalu tapi [Name] memilih untuk tidur sejenak didalam kelas, beruntung karena kelas sudah sepi berhubung hampir semuanya pergi ke kantin atau perpustakaan jadi suasana menjadi tenang dan waktu yang bagus untuk tidur, hanya beberapa murid saja yang tersisa termasuk Midorima Shintarou yang tiba-tiba mendatangi [Name].
"Kenapa kau tidak keatap untuk menemui Aomine, nanodayo? Bu-Bukannya aku peduli, tapi tidak biasanya kau tidak makan siang dengannya." Dasar Tsun.
"Aku mengantuk dan malas keluar Tsun-chan." Wajah Middorima memerah karena panggilan dari [Name, tentu saja ini bentuk dari perhatian [Name] untuknya, seperti pada orang lain, dia hanya akan bersikap manja dan hangat pada beberapa orang termasuk Midorima dan juga Aomine sendiri.
"Hen-hentikan panggilan menjijikan itu, nodayo. Aku tidak Tsundere , ya sudah aku akan kekantin dulu, kau juga jangan lupa makan siang. Bu-bukannya aku peduli, hanya saja jika kau sakit nanti aku yang repot." Midorima bangkit dari duduknya menuju pintu keluar.
"Terima kasih tsun-chan, aku menyayangimu!!" [Name] terkikik geli melihat Midorima membuang muka dengan wajah yang memerah padam, dia menggelengkan kepalanya pelan, mempunyai teman Tsun macam Midorima itu menyenangkan pikirnya, lalu kembali menenggelamkan wajahnya untuk melanjutkan tidurnya yang sedikit terganggu.
"A-Ano [Last Name]-san. Seseorang mencarimu dia ada diluar." Suara halus kembali mengusik tidurnya, dia mendongak sebentar.
"Suruh saja dia masuk, aku terlalu mengantuk untuk keluar." Ucapnya lalu kembali menenggelamkan kepalanya, tidak lama setelah itu [Name] mendengar langkah kaki yang mendekat kearahnya, tapi dia tidak berniat mengangkat kepalanya untuk memastikan siapa yang datang, toh paling kalau bukan Aomine pasti Midorima, karena hanya itulah orang yang cukup dekat dengannya.
"Bento-mu kuletakkan di lokermu Dai—" kalimat [Name] terhenti ketika merasakan benda dingin dan keras yang menyentuh pipinya yang diyakini adalah sebuah gunting, terbih dengan suara baritone dan nada datar mengisi ruang dengarnya.
"Tidak sopan bicara tanpa menatap lawan bicaramu [Full Name]". [Name] mendongakkan kepalanya menatap si empunya gunting merah yang tadi menyentuh pipinya, menatap datar Akashi yang tengah menyeringai dihadapannya.
"Oh kau, ada perlu apa??" [Name] menatap malas lawan bicara yang telah, menganggu tidurnya, dia sedikit menyesal karena tidak menemui Aomine di atap, walaupun Aomine itu mesum setidaknya dia bisa tidur dengan tenang bersamanya, bukannya terjebak dengan iblis merah satu ini.
"Tentu saja mengawasimu." Jawab Akashi menyeringai lebar melihat raut kesal di wajah [Name] dibanding melihat wajah meremehkan dan wajah malasnya [Name] dia lebih suka melihat wajah kesalnya.
"Apa kau tidak punya kesibukan lain? Kupikir lebih baik kau berkencan dengan Kuroko dibanding membuang waktumu untuk mengawasiku Akashi Seijuurou-sama , aku sudah bilang kan aku tidak peduli karena itu bukan urusanku." Masih dengan wajah kesal [Name] menatap Akashi yang melebarkan seringainya tajam.
"Kau memerintahku eh?" [Name] hanya mendengus pasrah, tak ada gunanya berdebat dengan maniak gunting ini, biarkan saja toh nantinya dia akan lelah sendiri dan melpaskan [Name] tanpa ada korban, pikirnya.
"Terserah kau saja, dan jangan ganggu tidurku, aku mengantuk. Bisa kau pergi sekarang?" Akashi mengernyit kesal, sifat alami [Name] yang acuh kembali dan Akashi tidak menyukai itu.
"Tidak ada waktu untuk tidur nona, sekarang juga kau ikut aku ke Gym, aku akan mengenalkan asisten manager baru pada anggota tim basket." [Name] mendelik kala mengerti maksud Akashi, itu artinya dia akan bekerja dengan Momoi Satsuki, jujur saja walaupun [Name] dekat dengan Aomine bahkan menjadi kekasihnya, hubungannya dengan Momoi tidaklah dekat, [Name] kurang menyukai sifat Momoi yang cerewet dan juga terlalu menempel dengan Aomine singkatnya [Name] cemburu dengan kedekatan Aomine dan Momoi yaahh walaupun [Name] selalu menyangkal hal itu.
Suasana Gymnasium cukup ramai karena tiba-tiba kapten merah mereka memerintahkan untuk berkumpul, terdengar gerutuan dari mahkluk pelangi min- Kuroko karena dia sudah tau apa maksud kapten yang merangkap jadi kekasihnya itu, Kuroko menatap Aomine datar—karena tatapannya memang selalu datar sih—mengantisipasi terjadinya perang antara Aomine dan Akashi karena ini menyangkut kekasihnya, aahh kau melupakan seseorang yang akan ikut murka Kuroko, kau melupakan Midorima yang sedang sibuk dengan boneka Barbie di tangannya yang diyakini adalah lucky item miliknya hari ini.
Semua gerutuan itu lenyap kala orang yang mereka tunggu muncul menyeret seoarang gadis, Aomine dan Midorima menatap bingung kenapa tiba-tiba Akashi membawa [Name] ke Gym juga dengan pergelangan tangan [Name] yang memerah karena dicengkram terlalu keras oleh Akashi. Mereka langsung menghampiri [Name] berniat menjauhakan [Name] dari si iblis merah maniak gunting, tapi gagal karena Akashi buru-buru menjauhkan [Name] dari mereka berdua.
"[Name] apa yang terjadi?? Kenapa kau bisa bersama Akashi nanodayo??" Midorima sedikit panic karena tiba-tiba [Name] bersama kaptennya, setahunya [Name] tidak pernah dekat dengan Akasi, dia juga tidak pernah berbicara barang satu kata pun, Midorima bahkan meragukan kalau [Name] mengenal Akashi.
"Ceritanya panjang Shin." Midorima tampak tidak puas dengan jawaban [Name] juga sepertinya Aomine sedikit kesal dengan Akashi yang tiba-tiba menyeret [Name, bagaimanapun juga [Name] itu kekasihnya, jadi hal yang wajar jika dia kesal.
"Eh, Aominecchi dan Midorimacchi mengenal gadis itu ssu??" Takao menoleh pada Kise yang tampaknya lebih penasaran dengan hubungan Aomine dan Midorima dengan [Name] dibanding maksud Akashi hanya menghela nafas.
"Kau tidak tau?? [Name] itu pacarnya Aomine dan tetangga sekaligus sahabatnya Shin-chan." Kise terkesiap mendengar penuturan dari Takao, tentu saja hampir semua anggota klub basket inti tau bahwa Aomine itu Gay dan berpacaran dengan Akashi beberapa bulan lalu tentu saja sebelum Aomine memutuskan hubungan mereka sepihak.
"Heeehh??? Kau tidak bercanda kan?? Bukannya Aominecchi itu… Errm kau tau kan?? Atau jangan-jangan dia memutuskan hubungan dengan Akashicchi karena gadis itu ssu??" Kise mengusap dagunya seolah berfikir, Takao mengedikkan bahu, lalu berkumpul dengan yang lain sesuai dengan isyarat dari Akashi.
"Seperti yang sudah ku katakana sebelumnya, kita kedatangan anggota baru di klub basket, dan dia akan membantu Satsuki." Semua anggota klub hanya mengangguk mengiyakan perintah sang kapten, kecuali dua orang yang siap melakukan protes tapi bungkam melihat gunting kesayangan Akashi yang menari di tangannya.
Tidak ada pilihan lain selain bertanya pada [Name] sendiri nanti, untuk sekarang lebih baik menerima keputusan Akashi dari pada kehilangan nyawa.
Semua anggota minus Aomine— yang mengejar Akashi keluar dari Gym—segera mengerubungi [Name] selaku anggota baru yaah sedikit modus buat mendekati [Name, walaupun [Name] itu cuek dan antisocial dia cukup manis loh, karena selama ini [Name] sulit didekati karena sifatnya jadi ini kesempatan besar untuk pedekate, dan pada nggak nyadar kalo [Name] itu milik Aomine karena untuk mereka selama [Last Name] belum berganti menjadi Aomine, [Name] bukan milik siapa-siapa. (teman ga tau diri ya gini, poor Aomine Daiki).
Sementara itu di belakang Gym terjadi ketegangan diantara Akashi dan Aomine, entah Aomine yang terlalu mencintai [Name] atau memang dia yang bodoh – eh Aomine memang Aho sih—karena nekat mencegat Akashi di belakang dengan tangan kosong. Aomine menatap Akashi yang sedang menyeringai lebar.
"Ternyata memang cukup mudah memancingmu ya Daiki." Akashi bersandar pada dinding masih dengan seringainya. Aomine hanya mendecih.
"Apa maksud dari semua ini Akashi, jangan pernah menyentuhnya atau kau akan menyesal." Jawab Aomine dingin, eh ni orang beneran ga takut mati ya?? Cinta memang bisa membuat gila ternyata.
"Kau berani menantangku eh?? Tak kukira kau bisa melupakan perasaanmu padaku secepat ini Daiki. Dan sepertinya dia sangat berharga untukmu ya" Akashi terkekeh pelan sambil menyentuh pipi Aomine tapi ditepis kasar olehnya.
"Sayang sekali, tapi sepertinya aku akan selalu dekat dengannya setelah ini, karena aku tidak akan pernah melepaskan orang yang menarik perhatianku dalam artian baik ataupun buruk." Jawabnya lalu bergegas meninggalkan Aomine yang masih mencerna kata-kata Akashi.
"Apa maksudmu Akashi?? Jangan pernah membawanya kedalam masalah kita." Akashi menoleh sedikit lalu menyeringai.
"Ini tidak ada hubungannya dengan kita Daiki, ehmm ada sih sedikit." Lalu menghilang di belokan, sekarang Aomine hanya bisa berharap yang terbaik dan berusaha untuk menjaga [Name] dari cengkraman si Iblis merah maniak gunting.
[Name] uring-uringan di apartmentnya, kejadian di sekolah benar-benar membuat moodnya buruk, biasanya di jam ini dia akan ke apartment Midorima atau kencan dengan Aomine, atau juga mengajak Aomine ke apartment Midorima untuk menjahili si tsundere akut ini. Tapi moodnya benar-benar buruk jadi di putuskan untuk tidur.
Belum lime menit dia memejamkan matanya, suara bel apartementnya berbunyi sekali dengar [Name] tau orang itu sangat menyebalkan karena tidak sabaran, menghela nafas pelan [Name] melangkah menuju pintu.
Membuka pintu pelan [Name] mendapati orang yang tidak ingin dilihatnya berdiri angkuh di depan pintu.
"Apa yang kau lakukan disini??" yang ditanya hanya menyeringai lebar.
TBC
